Anda di halaman 1dari 14

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

CIPTO SEMBODO Dosen FAI-UCY c.sembodo@gmail.com

abstract This article explores the theme of fiqh of worship (Fiqh al-‘Ibadah) in a frame of modernity, examining a practicable and visible ritual that could motivate as well as forming a network of religious worship for those who performed. With special reference to the movement of the night prayer in the community of tahajjud call (KITA Call) Indonesia in Yogyakarta, the authors concluded that a common vision of Tahajjud prayer, spirit and religious motivation made basis of this community into to the making. More importantly, however, is the establishment of a solid network for performing the night prayer. With the use of modern ways of communication, equipments, and good understanding of social network the present community of KITA Call examines the network for massive performing of the tahajjud prayer and interestingly brings the network into their social relevancy.

Keywords: worship, tahajjud call, motivation, network.

A. Latar Belakang Masalah

Shalat malam atau shalat tahajjud adalah ritual Islam yang dipercaya dapat meningkatkan religiusitas pengamalnya. Shalat ini juga diyakini dapat meningkatkan spirit dan daya juang pengamalnya dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang dijalani pengamalnya, sebagaimana tarikh tasyri‘ shalat ini adalah ritual untuk menguatkan mental kepribadian Nabi 1 . Mengamalkan shalat tahajjud ini juga dipercaya menjadi sugesti yang akan meningkatkan derajat kesehatan seseorang secara medis jika dilakukan dengan benar dan penuh ikhlas 2 . Akhirnya, shalat tahajjud memang dijanjikan oleh Alloh SWT. akan meningkatkan derajat kemuliaan pengamalnya di sisi-Nya, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 89.

Berbagai keutamaan shalat tahajjud malam tersebut mendorong orang-orang dari latar belakang profesi, pendidikan dan sosial yang berbeda-beda namun memiliki keinginan, keyakinan dan visi yang sama untuk bergabung dalam satu wadah para pengamal shalat tahajjud. Belakangan, sebagaimana dijelaskan pada bagian lain tulisan ini, para pengamal shalat malam ini menamai wadah mereka beraktifitas dengan nama Komunitas Tahajjud Call (KITA Call) Indonesia.

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

Jika praktek tradisional shalat tahajjud --sebagaimana dapat dijumpai dalam kajian fiqh Ibadah—biasanya dilakukan secara individual yang “tersembunyi” dalam ruang-ruang private di tengah malam, maka tidak demikian halnya pada Komunitas shalat tahajjud ini. Aktifitas utama pelaksanaan shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir itu dilakukan menjadi semacam “gerakan yang bersifat massal” dan terus-menerus.

Selanjutnya, fenomena shalat malam komunitas ini juga menarik diteliti karena “kebaruannya”. Di samping itu, pemahaman dan motivasi religius yang mendasari pelaksanaannya kemudian melahirkan “jaringan ibadah” yang dibangun secara modern. Pada kenyataannya, sistem kerja jaringan ibadah ini lain dari pada yang lain. Sebagaimana dijelaskan pada bagian lain makalah ini, cara dan sistem kerja komunitas ini unik, yaitu menerapkan sistem “multilevel marketing”. Media komunikasi yang dipergunakan komunitas ini memanfaatkan sarana dan mengikuti sistem komunikasi modern melalui jaringan radio, mobile phone, dan internet.

Kelahiran komunitas ini pun tergolong mutakhir. Ia mewakili booming euforia religious yang terjadi akhir-akhir ini sejak era reformasi politik Indonesia Pasca Orde Baru. Hal ini ditandai antara lain dengan lahirnya da’i-da’i-selebriti, terbitnya buku-buku pintar keagamaan, dan munculnya dakwah melalui media baru (Internet, seluler dll). Dan, sebagaimana fokus penelitian ini, dari segi aktifitasnya, selain kegiatan sosial, komunitas ini menekankan kegiatan ritual keagamaan tertentu, yaitu gerakan shalat tahajjud untuk para anggotanya.

Hingga berakhir penelitian ini dan sejauh penelusuran penulis, hanya ditemukan pembahasan akademis ritual shalat sebagai bagian perilaku keagamaan dan budaya dari John R. Bowen 3 dan Muhaimin. 4 Keduanya membahas dan mempelajari shalat dari perspektif antropologi. Karya Frederick M. Denny 5 membahas ritual secara umum. Namun, tulisan Denny ini lebih bersifat teoretik dan membahas pendekatan peng- kajian ritual Islam dari pada hasil amatan langsung praktek ritual shalat. Satu-satunya penelitian shalat tahajjud dilakukan oleh Moh. Sholeh. 6 Sayangnya, karya Moh. Sholeh ini bukan penelitian sosial ataupun penelitian agama, meski objek penelitiannya tentang shalat tahajjud. Apa yang dilakukan oleh Moh. Sholeh adalah penelitian klinis-medis untuk membuktikan manfaat medis shalat tahajjud bagi sistem kekebalan tubuh.

Penelitian ini mengisi celah kekosongan akademik di atas, hadir mengetengahkan tema fiqh ibadah dalam bingkai modernitas. Suatu ibadah ritual yang mampu memberi makna sosial berupa motivasi religius sekaligus membentuk sebuah jaringan ibadah bagi para pengamalnya. Penelitian ini merujuk secara khusus pada gerakan secara bersama-sama untuk melakukan shalat malam pada komunitas tahajjud call (KITA Call) Indonesia yang ada di Yogyakarta. 7 Tentu saja masih banyak soal dapat

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

25

Cipto Sembodo

dikaitkan dan dibahas dari komunitas yang unik ini mulai dari identitas, ideologi hingga soal politik.

B. FIQH IBADAH SHALAT TAHAJJUD

Dalam studi agama (religious studies), shalat dan shalat tahajjud dalam Islam berada di dalam pembahasan mengenai ritual (islamic ritual). 8 Istilah yang dapat menampung pengertian ritual ini dalam Islam secara umum menurut Denny, adalah ibadah; suatu bentuk pemujaan dari seorang hamba kepada Tuhan sang Mahaagung. 9 Masih menurut Denny, ritual berarti menghidupkan kembali kebenaran terdalam bagi pengamalnya. 10 Ini berarti, ritual selalu mengandaikan partisipan individual maupun kelompok. 11 Tapi di sinilah bagi para pengamalnya, ritual Islam, dapat dipahami berfungsi sebagai komunikasi antara dirinya dengan realitas absolut, Tuhan. Sebagai proses komunikasi inilah, ritual mengungkapkan banyak makna, seperti religiusitas, kesalehan dan sebagainya. Apalagi jika dipahami bahwa ritual dalam Islam tidak selalu bersifat komunal atau harus dilakukan bersama-sama dengan masyarakat. 12

Ritual juga senantiasa terkait dengan ruang dan atau waktu. 13 Atas dasar ini kita mengenal adanya waktu-waktu istimewa dan juga tempat- tempat suci. Hal ini merupakan sesuatu yang universal, ada di semua agama dan peradaban, tak terkecuali dalam ritual-ritual Islam. Hal ini pasti demikian, karena memang manusia tidak akan terlepas dari ruang dan waktu. Namun, inilah pula yang menghubungkan ritual itu lingkungannya. Pada gilirannya, ini membentuk dan selalu terkait dengan sistem sosial dan budaya. 14

Shalat, begitu juga shalat tahajjud, seperti dijelaskan di bawah nanti, adalah ritual yang dapat dilakukan secara individual dan personal. Keadaannya demikian tentu akan memberi banyak makna yang bersifat individual dan personal, selain juga secara komunal jika dilakukan secara bersama-sama. Makna religious inilah yang pada gilirannya akan membentuk perilaku dan identitas pada level komunitas.

Religiusitas di sini dimaknai secara psikologis sebagai kualitas keberagamaan seseorang (the quality of being religious) atau kesalehan (piety) serta semangat/ketaatan menjalankan agama yang dianut seseorang 15 . Berdasarkan pengertian ini, maka yang dimaksud religiusitas adalah semangat ketaatan orang-orang Islam dalam menjalankan agamanya. Atau secara lebih luas, kualitas dan perilaku keberagamaan Muslim dalam menjalankan perintah agama yang dianutnya.

Secara bahasa Tahajjud (دﺟﮭﺗﻟا) adalah bentuk mashdar dariدﺟﮭﺗﻟا

-دﺟﮭﺗﯾ -دﺟﮭﺗ. Kata ini diambil dari kata

malam. 16 Tambahan dua huruf yaitu huruf ta dan ja pada kata tersebut

ﺪ ﺠ ﻫ , artinya tidur di waktu

ادوﺟھ-دﺟﮭﯾ

َ

َ

َ

-

26

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

(pada لﻌﻔﻟا ءﺎﻓ -nya), memberi makna menafikan (ﺔﻟازﻹا و ﻲﻔﻧﻟا). 17 Dengan demikian, Tahajjud (دﺟﮭﺗﻟا) secara bahasa dapat diartikan bangun tidur

(Shalat) di malam hari. 18 Hajada ar rajulu (لﺟرﻟا ﺪ ﺠ ﻫ) artinya laki-laki itu

tidur. Tahajjada ( ﺪ ﺠ ـﺗ), artinya dia keluar dari hujud, yaitu tidur, menuju

shalat. 19

( ﺪ ﺠ ـﺗ), juga berarti bangun (tidur) untuk shalat dan lainnya 20 . Sedangkan

orang yang melaksanakan shalat tahajjud ini disebut mutahajjid. 21 Dari pengertian bahasa ini maka secara sederhana “Tahajjud, dapat diartikan shalat pada waktu malam hari setelah tidur.

Pengertian secara kebahasaan di atas sesuai dengan pengertian terminologis sebagaimana diperoleh dari al-Qur’an. Menurut al-Qur’an, Tahajjud (دﺟﮭﺗﻟا) adalah ibadah tambahan (nafilah) yang dilakukan pada malam hari tanpa ditentukan apakah di awal malam, tengah malam atau akhir malam. 22

Tahajjada ( ﺪ ﺠ ـﺗ), sama dengan ( ﺪ ﺠ ﻫ), artinya tidur. Tahajjada

َ

َ

َ

َ ﱠ

َ

َ

َ ﱠ ﻬ َ

َ

َ

َ

َ

َ ﱠ

َ

َ

Firman Allah SWT. Dalam surat al-Isra ayat 89:

ادوﻣﺣﻣ ﺎﻣﺎﻘﻣ كﺑر كﺛﻌﺑﯾ نأ ﻰﺳﻋ كﻟ ﺔﻠﻓﺎﻧ ﮫﺑ دﺟﮭﺗﻓ لﯾﻠﻟا نﻣو

Artinya: “Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan- mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Al-Isra: ayat 79). Terhadap shalat-shalat yang lain, shalat tahajjud ini merupakan shalat sunnah yang dikerjakan sebagai tambahan (nafilah) baik terhadap shalat fardhu yang lima maupun sebagai tambahan bagi shalat sunnah rawatib yang mengikuti shalat fardhu. 23

Penting dikemukakan tentang makna shalat malam itu sendiri. Dari tarikh tasyri’-nya, dapat dipahami bahwa shalat ini sangat dianjurkan dan banyak manfaatnya. Keutamaan atau makna shalat tahajjud ini merentang dari makna ketaatan kepada sang Khalik, pengharapan dan do’a, hingga keinsyafan dan pencerahan. Kesemuanya sesungguhnya membentuk satu konsep makna dan perilaku kesalehan religious dan identitas Islam. Makna religius dan perilaku sosial ini secara simultan bersifat teologis dan psikologis.

Pertama, tahajjud sebagai media penguatan iman dan kepribadian. Dari tarikh tasyri’ shalat tahajjud di atas, dapat dipahami bahwa shalat tahajjud pada awalnya memang dimaksudkan oleh Allah SWT sebagai media penguatan mental dan kepribadian Nabi saw. Ini seolah bertujuan agar Nabi tidak patah semangat dalam berdakwah. Shalat Tahajjud dengan demikian dijadikan sebagai media dan jalan ritual dalam rangka penguatan ruhani Nabi dan kaum Muslimin dalam menghadapi beban dakwah yang berat.

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

27

Cipto Sembodo

Rangkaian ayat-ayat dalam surat al-Muzammil kiranya dapat menggambarkan hal itu. Nabi yang diilustrasikan dalam keadaan tertekan, kemudian diperintahkan untuk bangun di tengah malam. Meningkatkan keyakinan dan keimanan kepada Alloh. Memohon kekuatan untuk menghadapi berbagai kesulitan yang menghadang, dan hanya menjadikan Alloh sebagai Pelindung. ﻼﯾﻛو هذﺧﺗﺎﻓ وھ ﻻإ ﮫﻟإ ﻻ برﻐﻣﻟاو قرﺷﻣﻟا بر . Artinya:

(Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.

Berkaitan erat dengan makna shalat tahajjud sebagai media penguatan mental dan kepribadian, makna kedua, adalah tahajjud sebagai sugesti. Seperti diketahui, perintah tahajjud dalam al-Qur’an juga dikaitkan dengan janji suatu tempat/posisi yang baik ,“kesuksesan“ dari Allah swt . Hal ini terdapat dalam al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 79.

قدﺻ لﺧدﻣ ﻲﻧﻠﺧدأ بر لﻗو (*)ادوﻣﺣﻣ ﺎﻣﺎﻘﻣ كﺑر كﺛﻌﺑﯾ نأ ﻰﺳﻋ كﻟ ﺔﻠﻓﺎﻧ ﮫﺑ دﺟﮭﺗﻓ لﯾﻠﻟا نﻣو ارﯾﺻﻧ ﺎﻧﺎطﻠﺳ كﻧدﻟ نﻣ ﻲﻟ لﻌﺟاو قدﺻ جرﺧﻣ ﻲﻧﺟرﺧأو

Artinya: Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.Dan katakanlah: "Ya Tuhan- ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.

Rangkain ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama RI, ditafsiri sebagai ayat-ayat petunjuk Allah SWT dalam menghadapi tantangan. 24 Satu yang menarik adalah anjuran shalat tahajjud ini disambungkan dengan janji Allah swt. mengenai kemuliaan atau kesuksesan (maqaama mahmuuda). Bahkan berikutnya, ayat ini diteruskan dengan do’a dan harapan akan datangnya kekuasaan. Hemat penulis, seluruh rangkaian ayat tersebut dapat dijelaskan sebagai sebuah sugesti. Suatu motivasi spiritual untuk meraih kesuksesan dan posisi yang baik di hadapan Tuhan melalui suatu media ritual yang shalat tahajjud. Dua makna keutamaan shalat tahajjud yang dikemukakan di atas dapat dipahami sebagai makna religious mental kepribadian.

Manfaat medis shalat tahajjud. 25 Praktek yang benar dan pelaksanaan shalat tahajjud secara kontinue ternyata juga mampu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara imunologik. Makna keutamaan yang bersifat religius di atas saat ini tampaknya dikembangkan pada bukti-bukti saintifik yang berkaitan dengan kesehatan fisik. Jika dirunut, maka paling tidak hal ini terdapat dalam Sabda Nabi SAW: Shalat tahajjud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit. (H.R. Tirmidzi)

28

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

Tentang manfaat medis ini, shalat tahajjud banyak dikaitkan dengan hormon kortisol (hormon stress) dan irama sirkadian. 26 Dari segi medis, dua hal ini menentukan proses metabolisme dan ketahanan manusia. Hal ini kebetulan atau tidak berkaitan dengan waktu malam hari, waktu disyariatkannya shalat tahajjud.

C. Terbentuknya Komunitas dan Motivasi Ibadah Tahajjud

Sementara itu secara sosiologis, aktivitas yang sama dapat menyatukan para pengamalnya untuk membentuk sebuah komunitas religius kecil. Secara teoretis, komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan kepentingan (interest) atau nilai (values). Proses pembentukannya bersifat horisontal karena dilakukan oleh individu-individu yang kedudukannya setara. Menggunakan istilah lain, komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Lebih jauh dijelaskan dalam Webster Dictionary bahwa kesamaan interest atau fungsional ini bisa bersifat religius, professional, sosial, politik dan sebagainya. 27 Termasuk sebagai kesamaan interest atau fungsional di sini adalah keyakinan dan bahkan hoby.

Berdasarkan argumen ini maka kekuatan pengikat suatu komunitas yang utama adalah kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sosialnya yang biasanya didasarkan atas kesamaan latar belakang budaya, ideologi, sosial-ekonomi, agama, keyakinan dan kesukaan tertentu. Disamping itu secara fisik suatu komunitas biasanya diikat oleh batas lokasi atau wilayah geografis. Masing-masing komunitas, karenanya akan memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam menanggapi dan menyikapi keterbatasan yang dihadapainya serta mengembangkan kemampuan kelompoknya. Maka mengikuti Talcot Parson, tindakan social itu diarahkan pada tujuannya atau memiliki suatu tujuan. 28

Lalu mengapa seseorang bergabung dalam kelompok? Ada dua alasan seseorang bergabung dalam kelompok. Pertama, untuk mencapai tujuan yang bila dilakukan sendiri tujuan itu tidak tercapai. Kedua, dalam kelompok seseorang dapat tepuaskan kebutuhannya dan mendapatkan reward sosial seperti rasa bangga, rasa dimiliki, cinta, pertemanan, dsb.

Perilaku kelompok merupakan respon-respon anggota kelompok terhadap struktur sosial kelompok dan norma yang diadopsinya. Perilaku kolektif merupakan tindakan seseorang oleh karena pada saat yang sama berada pada tempat dan berperilaku yang sama pula.

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

29

Cipto Sembodo

Sementara itu, hubungan sosialnya adalah hubungan sosial sekunder yaitu hubungan sosial yang bersifat formal (resmi) impersonal (tidak bersifat pribadi), dan segmental (terpisah-pisah) yang didasarkan pada asas manfaat. Hubungan sosial sekunder terbentuk atas kehendak karena adanya tujuan-tujuan tertentu. Hubungan masyarakat sosial seperti ini disebut patembayan (gasellschaft). Patembayan yaitu suatu system sosial yang terbentuk atas kehendak yag didasarkan adanya persamaan kepentingan tujuan.

Salah satu bentuk hubungan patembayan adalah interaksi sosial komunitas yang dijalankan oleh komunitas untuk memotivasi anggota dan jama’ah segera bangun tidur malam untuk melaksanakan salat tahajjud. Komunitas KITA CALL bermula dari satu program acara di radio MQFM. Maka, jaringan radio MQFM menjadi media utama komunitas tahajjud call untuk berinteraksi antara satu anggota dengan anggota lainnya. Interaksi sosial komunitas ini juga dapat dilihat di forum ini dan berpusat di program radio ini. Melalui dan berpusat di acara radio MQFM inilah interaksi sosial komunitas ini terjalin dan terbentuk.

Komunitas tajahajjud call ini, semula hanyalah salah satu program acara di radio MQFM dengan tujuan –dalam bahasa mereka sendiri-- “untuk menghidupkan sepertiga malam yang penuh keutamaan” dengan “amalan utama” yaitu “shalat tahajjud”. 29 Audiens atau anggotanya pada awalnya juga terbatas pada para pendengar dan penggemar radio MQFM, sebuah radio dakwah yang berada di bawah group manajemen qalbu dari kondang Abdullah Gimnastiar.

Radio MQ FM yang kini memiliki jaringan luas hampir ke seluruh Nusantara berawal dari Radio MQFM 102,7 FM Bandung yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 2001 oleh K.H. Abdullah Gymnastiar –saat itu menjabat sebagai pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid sekaligus sebagai Presiden Direktur PT. Manajemen Qolbu Cooporation. Sebelum berada pada jalur FM (Frequence Module), awalnya, MQFM mengudara dengan jalur AM (Amplitudo Module). Di bawah PT. Radio Madinatussalam, pada tanggal 9 Desember 1999 dibuat sebuah Radio jalur AM (Amplitudo Module), dikenal dengan Radio Ummat 1026 AM atau MQ AM. Radio yang mengkhususkan diri di jalur Dakwah Islam inilah yang kelak menjadi inspirasi lahirnya Radio MQ 102,7 FM. Karena populasi pendengar di jalur FM lebih banyak, maka K.H.Abdullah Gymnastiar, selaku pendiri dan pemilik MQFM, berinisiatif membuat Radio Islam di jalur FM. 30

Seiring dengan perkembangannya dan meningkatnya minat masyarakat akan program MQFM, pada tahun 2004 MQFM membuka cabang di kota Solo, Lampung, serta Yogyakarta pada tahun 2006. Tahajjud call merupakan salah satu program MQFM. Program ini

30

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

merupakan acara interaktif bagi semua pendengar MQFM untuk membahas, bertanya maupun sekedar share mengenai shalat tahajjud. Bisa dikatakan, ini merupakan bagian dari Manajemen Qolbu praktis yang diusung oleh dan menjadi trade mark Aa Gim.

MQFM kini telah di relay oleh lebih dari 100 radio di Indonesia berkat kerjasama MQ FM dengan RRI Pro 2 Jakarta. Saat ini MQ FM juga telah bekerjasama dengan JDFI (Jaringan Delta Female Indonesia) sehingga siaran MQ Pagi bisa dinikmati oleh pendengar Delta, Female dan Prambors di seluruh nusantara. Siaran MQFM juga direlay melalui internet radio streaming dan line telephon hingga ke manca negara.

MQFM senantiasa berupaya memberikan yang terbaik bagi “sahabat MQ”, -- sapaan akrab bagi pendengar setia radio ini. MQFM juga menyadari bahwa sebagai sebuah stasiun radio, suara merupakan modal utama. Suara yang dapat menyapa sahabatnya dimana saja mereka berada, yakni suara yang mampu memberikan kebeningan hati. Untuk itu, dengan segmentasi pendengar radio ini yang heterogen, meliputi segala tingkat usia dan dengan latar belakang tingkat pendidikan dan status sosial yang berbeda-beda mulai dari pelajar, mahasiswa/i, karyawan, ibu rumah tangga, pengangguran, dan lain sebagainya, radio ini dominan diwarnai konsep manajemen Qolbu. Acara-acara siaran yang disajikan meliputi informasi, pendidikan, dan hiburan dengan format siaran MQFM disajikan se-Islami mungkin. Radio MQFM mengudara mulai dari pukul 05.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB setiap harinya.

Seiring dengan tenarnya sang da’i (AA Gim) pada saat itu, radio MQFM pun semakin mendapat perhatian masyarakat. Pendengarnya makin banyak dan meluas. Bersama itu pula, program tahajjud call juga makin tersebar dan makin banyak anggotanya. Pada akhir tahun 2006 dan mulai awal tahun 2007 secara “resmi” dibuatlah Komunitas Tahajjud Call (Kita Call). Setelah munculnya facebook, komunitas tahajjud ini makin tersebar dalam skala yang lebih luas dengan jumlah anggota yang cukup besar. 31

Seperti populasi pendengar MQFM yang beragam, maka demikian juga anggota komunitas tahajjud call ini juga beragam. Dari pengamatan penulis, anggota-anggota tahajjud call terdiri dari kategori usia remaja (pelajar SMU dan mahasiswa) dan dewasa (orang yang sudah bekerja, ibu rumah tangga dan orang tua). 32 Hingga saat ditulisnya makalah ini di hampir seluruh kota besar di Indonesia, ada komunitas Tahajjud Call, di dunia cyber dan dunia nyata.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tujuan atau program dari komunitas ini adalah mengajak orang lain untuk bergabung dalam jaringan atau komunitas untuk saling mengingatkan agar dapat

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

31

Cipto Sembodo

melaksanakan shalat tahajjud secara sukarela. Dalam bahasa yang mereka ungkapkan sendiri, tahajjud call merupakan;

“Program yang dirancang untuk membangun spirit menghidupkan sepertiga malam yang penuh keutamaan, keindahan hidup dalam naungan Illahi, yang menggerakan hati setiap insan untuk berubah kearah kebaikan.

Dengan semangat kebersamaan, Tahajjud Call menawarkan program Multilevel Ibadah, bebas biaya dan full pahala, yang mengajak masyarakat untuk saling berbagi, saling memotivasi, dalam meraih ridha Allah SWT, Bersama Menuju Kebaikan.

Tahajjud Call tidak hanya sebuah sistem saling mengingatkan untuk menghidupkan sepertiga malam, tapi juga menjadi forum silaturahmi dan ukhuwah, meyatukan hati dalam mecapai kebahagian dunia dan akhirat”. 33

D. Interaksi Sosial Komunitas Tahajjud Call

Model interaksi sosial komunitas ini tampaknya menarik untuk dikemukakan. Seperti dijelaskan di atas, komunitas ini bermula dari satu program acara di radio MQFM. Maka, jaringan radio MQFM menjadi media utama komunitas tahajjud call untuk berinteraksi antara satu anggota dengan anggota lainnya. Interaksi sosial komunitas ini juga dapat dilihat di forum ini dan berpusat di program radio ini. Melalui dan berpusat di acara radio MQFM inilah interaksi sosial komunitas ini terjalin dan terbentuk.

Interaksi terjadi secara horizontal diantara para pendengar setia MQFM. Melalui radio ini, mereka saling menyapa satu sama lain. Misalnya, diantara mereka saling berkirim salam dan pesan, berkirim “kado” ulang tahun, saling berkomentar dan request “nasyid” kesayangan mereka di radio untuk dipersembahkan kepada anggota yang lain. Interaksi seperti ini dapat dijumpai setiap hari pada setiap siaran radio MQFM.

Selain melalui radio, interaksi sosial horizontal ini juga berlangsung ramai di media jejaring sosial, facebook. Seperti interaksi melalui radio, di media jejaring sosial, komunitas ini berinteraksi, membangun “kebersamaan” dan menjalin “silaturahim”. Informasi, tag, dan share tentang tahajjud tampaknya menjadi warna tersendiri di sini, khususnya tentang keutamaan shalat malam ini dan anjuran-anjuran agama untuk menjalankannya.

Berdasarkan kepentingannya, maka bentuk interaksi dan komunikasi sosial diantara mereka tampaknya dapat disebut sebagai interaksi primer. Di sini interaksi sosial dan bersifat pribadi. Hubungan

32

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

pribadi tersebut melekat pada kepribadian seseorang, dan tidak dapat diganti oleh orang lain. Hubungan sesama komunitas merupakan kesatuan setiap individu yang saling kenal satu dengan yang lain secara baik. Bentuk hubungan seperti Ini dikenal dengan istilah paguyuban (gemainscaft), yaitu satu kesatuan sosial yang diikat oleh hubungan batin yang murni dari setiap anggotanya.

E. Bangunan Jaringan komunitas KITA Call

Mengapa diistilahkan “multilevel Ibadah?”. Jawabnya, karena mekanisme jaringan yang dibentuk untuk merekrut anggota komunitas meniru cara kerja multilever marketing. Ada level berjenjang yang berfungsi untuk menampung anggota-anggota komunitas baru dan membentuk kelompok-kelompok baru di bawah bimbingannya. Demikian pula interaksi dan komunikasi komunitas ini untuk mencapai tujuannya, yaitu menggerakkan shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir digunakan mekanisme atau cara kerja metode “multilevel”. Ada Up line dan downline yang masing-masing bertanggung jawab membangungkan orang atau anggota yang ada di bawah kontrolnya.

Selanjutnya, sistem jaringan dan keanggotaan komunitas ini terbentuk melalui beberapa tahap. Pertama, titik utama (nol) jaringan di awali dari Radio MQFM. Kedua, jaringan dibangun oleh group-group besar, group-group besar ini di beri nama sahabat Rasulullah SAW, untuk tahap awal nama-group besar ini akan menggunakan nama-nama Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar As Sidik, Ummar bin Khatab, Utsman binAffan dan Ali bin Abi Tholib, dan seterusnya akan bertambah sesuai dengan peningkatan jumlah anggota. Ketiga, tiap group besar dibangun oleh 10 kelompok utama (level 1). Setiap kelompok utama memiliki anggota 10 orang (level 2) yang wajib dibangunkan dengan misscall di sepertiga malam, dan setiap anggota di level 2 kembali memiliki anggota 10 orang (level 3) yang wajib di bangunkan pula. Sehingga total seluruhnya setiap group memiliki 1010 anggota.Terakhir, semua jaringan mulai dari titik nol (radio) terus akan beruntun membangunkan melalui dering telp/HP kepada anggotanya sesuai dengan daftar anggotanya (downline). Sehingga dalam 15 menit secara massal seluruh anggota dalam tiap group bangun dan memiliki spirit untuk beribadah meraih ridho Allah SWT di sepertiga malam.

Dengan jumlah anggota komunitas yang banyak, bagaimanakah komunitas ini melakukan aksinya menggerakkan shalat tahajjud? Di sini tampak pentingnya sebuah mekanisme dan cara kerja yang sistematis. Mekanisme dan sistem jaringan “multilevel” sebegaimana disebutkan di atas sangat diperlukan untuk menggerakan orang banyak dalam waktu singkat untuk bangun malam shalat tahajjud pada sepertiga malam terakhir. Karena itu, selain multilevel ibadah, komunitas inipun

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

33

Cipto Sembodo

menyebutkan istilah lain untuk tahajjud call ini. Bagi mereka, “tahajjud call adalah multilevel spirit untuk bergerak bersama memelihara ruhiah dengan menghidupkan sepertiga malam dengan melaksanakan sunnat utama yaitu sholat Tahajjud. 34

Bagaimanakah secara teknis mekanisme multilevel itu berjalan, berikut ini dipaparkan aturan dan tata kerja mekanisme tersebut:

1. Teknik membangunkan di awali dari titik nol, yang membangunkan dengan misscall lewat HP/tlp ketua kelompok utama (level1).

2. Setiap ketua dilevel utama kemudian membangunkan melalui misscall tlp/HP, ke 10 anggota (downline-nya di level 2) dalam jaringannya. Dan setiap anggota dilevel 2 kembali membangunkan atau me-misscall 10 anggotanya livel 3 (downline-nya)

3. Membangunkan anggota mulai dari titik nol minimal pukul 02. 45 WIB

4. Teknik membangunkan anggota dengan menghubungi anggotanya lewat line telepon hanya dengan misscall.

5. Membangunkan anggota sebagai tanda tahajjud Call ditandai dengan deringan pesawat HP/Tlp sebanyak 4 kali deringan.

6. Setiap Anggota yang dibangunkan dengan dering telp/HP (misscall) tidak perlu mengangkatnya.

7. Setiap ketua kelompok (up line) membangunkan anggotanya (downline) setiap malam. Apabila ada satu dan hal kemudian tidak bisa membangkan (misccall) anngotanya, harus minta bantuan salah satu anggotanya. Maka disarankan untuk bersilaturahmi antara upline dengan downline nya untuk kompromi saling membangunkan. 35

F. Penutup

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan sementara bahwa komunitas ini disatukan dalam makna religiusitas-ketundukan dan ketaatan kepada Alloh swt. Kesamaan visi dan keyakinan inilah alasan yang mendorong para pengamal shalam malam ini membentuk komunitas, dan mengkristalkan motivasi menjalankan ibadah di sepertiga malam terakhir.

Pelaksanaan shalat tahajjud itu sendiri memang sangat diwarnai oleh kentalnya semangat dan motivasi religius. Slogan “multilevel spirit” dan “multilevel ibadah” tegas menunjukkan kentalnya semangat dan motivasi religius tersebut. Kedua slogan tersebut tidak berhenti semata- mata merujuk kepada perintah shalat tahajjud di sepertiga akhir malam

34

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

yang merupakan waktu terbaik untuk membangun dasar-dasar motivasi diri secara religius.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dalam timbangan Fiqh Ibadah. Tetap prakteknya secara kolosal dan massive dengan melibatkan seluruh anggota komunitas pada waktu yang hampir bersamaan di setiap akhir malam menjadikan praktek shalat tahajjud ini lebih hidup dan bermakna. Pun demikin jaringan ibadah yang dibangun dengan sangat sistematis melalui sebuah jaringan sosial yang bersifat multilevel. Dengan memanfaatkan perangkat komunikasi modern, baik elektronik maupun digital, sistem jaringan multilevel ini dapat menggerakkan orang banyak yang telah mengadopsi motivasi ibadah yang sama untuk melaksanakan shalat tahajjud di berbagai tempat yang berbeda pada waktu yang hampir bersamaan di sepertiga akhir malam.

Kegiatan sosial komunitas ini dapat dikategorisasi ke dalam tiga hal. Pertama, ibadah, yakni pelaksanaan shalat malam itu sendiri. Kedua, silaturahim/silaturrahmi, yaitu interaksi sosial komunitas tahajjud call. Interaksi komunitas ini bersifat horizontal dan primer dalam sebuah komunitas paguyuban. Terakhir adalah kerja islami. Pada kategori inilah pengamalan shalat tahajjud ini ternyata beragam dari satu pengamal kepada pengamal lainnya sebagaimana terejawantah secara sosiologis. Makna pencerahan dan makna ideologis terejawantah dalam “kerja-kerja islami” sebagai identitas sosial dan religiositas.

Pada akhirnya, spirit shalat tahajjud dalam komunitas ini menunjukkan sebuah keterkaitan yang kuat antara motivasi religius shalat tahajjud dan jaringan ibadah yang terbangun di sekitarnya. Lebih dari itu, jaringan tersebut bermetamorfosis ke dalam bentuk-bentuk relasi yang memiliki relevansi sosial di dalamnya.

Wa al-Hamdulillahi Rabbi al-‘Alamiin. Wa Allahu A‘lam.

Catatan Akhir

1 Lihat Moh. Sholeh, Terapi Shalat Tahajjud Menyembuhkan Berbagai Penyakit, (Jakarta: Hikmah, 2006), h. 98.

2 Ibid., h. 1-10. Lihat juga Egha Zainur Ramadhani, Super Health Gaya Hidup Sehat Rasulullah, (Yogyakarta: ProU Media, 2008), h. 47.

3 John R. Bowen, “Shalat in Indonesia: The Social Meanings of an Islamic Ritual”, Man (NS), 24 (1989), no. 4, p.600-619. 4 Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon, Ibadat and Adat Among Javanese Muslims, (Jakarta: Religious Research, development and In-service Training, Ministry of Religious Affais Republik Indonesia, 2004), p. 125-143.

5 Frederick M. Denny, ”Ritual Islam: Perspektif dan Teori”, Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, UMS, 2001), h. 85-108. Bandingkan Jarich Oosten “Cultural Anthropologycal Approaches”, Frank Whaling (ed.), Contemporary Approaches to the Studyof ReligionVolume II: The Social Sciences, (Berlin: Mouton Publishers, 1985),h. 238,239,

257-261.

6 Moh. Sholeh, Terapi Shalat Tahajjud.

7 Selanjutnya disebut KITA Call (Komunitas Tahajjud Call)

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

35

Cipto Sembodo

8 Denny, ”Ritual …”

9 Ibid.

10 Ibid.

11 Oosten “Cultural …”, h. 259.

12 Ibid.,h. 258.

13 Denny, ”Ritual …”; Ibid.

14 Oosten “Cultural …”, h

15 Lihat Random House Webste’r Dictionary, entry “Religiousity”; Lihat juga Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama, h. 23-25; Jalaluddin, Psikologi Agama, h. 15-25.

16 Lihat Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, edisi kedua, hal. 1488.

17 Saiful Islam Mubarak, Risalah & Mabit Shalat Malam Panduan Shalat Tahajjud, Qiyamul Lail, Witir, Tarawih, (Bandung: Syaamil, 2005), h.18.

18 Ibid.

19 Lihat Syarah Muslim, jilid 2, Cet. 4, (Kairo: Darul Hadits, 1422 H / 2001 M.),

hal 147

20 Lihat kamus Mu’jamul Wasith, hal.

21 Munawwir, Kamus …, h. 1489.

22 Mubarak, Risalah …, h. 18.

23 Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari, Rahasia Shalat Sunnat, Bimbingan Lengkap dan Praktis, (Jakarta: Pustaka Hidayah), h.39.

24 Lihat Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 436.

25 Sholeh, Terapi …, h. 1

26 Ibid., hl. 172-183; Ramadhani, Super …, h.51-53.

27 Randoms House Webster Colledge, entri “Community”.

28 Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern alih bahasa Robert MZ Lawang, (Jakarta: Gramedia, 1990), h. 106.

29 Ibid.

30 Mardisa, Laporan ….

31 Hingga tahun 2010, telah ada tiga (3) groups komunitas tahajjud call di face book. Pertama, Tahajjud Call Community. Kedua, Indahnya malam dalam bingkai tahajjud. Dan Ketiga, tahajjud call Indonesia. Ke tiga group face book tersebut masing- masing memiliki anggota di atas 5000 orang. Lihat http://masjierinbox.blogspot.com/ 2011/06/menggetarkan-denyut-13-malam-melalui.html, diakses pada 2 November 2010.

32 Pengamatan penulis terhadap anggota tahajjud call, baik yang terdaftar dalam group-groupp tahajjud call di face book, dalam daftar (list) kelompok-kelompok dalam sistem jaringan multilevel maupun dalam program interaktif di radio MQFM. Lihat misalnya Tahajjud Call MQFM Solo, www.tcmqfmsolo.blogspot.com.

33 “Peta Program KITa”, http://kitacall.org/peta-program-kita, ibid.

34 Ibid.

35 Ibid. Dengan sistem dan mekanisme kerja seperti ini, komunitas ini mengklaim hingga juni 2011 dapat membangunkan 8000 ORANG untuk melaksanakan shalat Tahajud dengan bantuan banyak koordinator di masing- masing kota, mulai dari Bali, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, bahkan ada yang dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan Kairo yang saling membangunkan di negara mereka masing- masing. Group tersebut kami bentuk agar bisa menghidupkan malam demi malam dengan untian doa dan dzikir kepada Allah dalam tahajud. Lihat http://masjierinbox.blogspot.com/ 2011/06/

menggetarkan-denyut-13-malam-melalui.html.

Daftar Pustaka

Sobari,

Abdul

Manan

bin

H.

Muhammad.

Rahasia

Shalat

Sunnat,

Bimbingan Lengkap dan Praktis. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1999

Munawwir,

Ahmad

Warson.

Kamus

Terlengkap. edisi kedua, 1989

Al-Munawwir

Arab-Indonesia

36

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

SHALAT TAHAJJUD, MEMBANGUN MOTIVASI DAN JARINGAN IBADAH: REFERENSI KHUSUS KOMUNITAS TAHAJJUD CALL INDONESIA

Wulff, David M. “Psychological Approaches”. Frank Whaling (ed.). Contemporary Approaches to the Studyof ReligionVolume II: The Social Sciences. Berlin: Mouton Publishers, 1985

Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. alihbahasa Robert MZ Lawang. Jakarta: Gramedia, 1990 Ramadhani, Egha Zainur. Super Health Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: ProU Media, 2008

Aneka

Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LkiS,2002 Denny, Frederick M. ”Ritual Islam: Perspektif dan Teori”. Richard C. Martin. Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama. Surakarta:

Muhammadiyah University Press, UMS, 2001 Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Press, 2005. Oosten, Jarich. “Cultural Anthropologycal Approaches”. Frank Whaling (ed.), Contemporary Approaches to the Studyof ReligionVolume II:

The Social Sciences, Berlin: Mouton Publishers, 1985. Bowen, John R. “Shalat in Indonesia: The Social Meanings of an Islamic Ritual”. Man (NS), 24 (1989),no. 4 Mubarak, Saiful Islam. Risalah & Mabit Shalat Malam Panduan Shalat Tahajjud, Qiyamul Lail, Witir, Tarawih. Bandung: Syaamil, 2005.

Nikmah, Riatun. Laporan Praktek Kerja Lapangan. Bandung: Institut Ilmu Sosial, 2000 Sholeh, Moh. Terapi Shalat Tahajjud Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Jakarta: Hikmah, 2006 Muhaimin. The Islamic Tradition of Cirebon, Ibadat and Adat Among Javanese Muslims. Jakarta: Religious Research, development and In-service Training, Ministry of Religious Affais Republik Indonesia, 2004. Random House Webste’r Dictionary, entry “Religiousity” Thouless, Robert H. Pengantar Psikologi Agama, Machnun Husein (pen). Jakarta: Rajawali Press, 2000

Syarah Muslim, jilid 2. Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 4, Th. 1422 H /

Whaling,

Frank.

“Pendekatan

Teologis”.

Peter

Connolly

(ed.).

2001

http://masjierinbox.blogspot.com/2011/06/menggetarkan-denyut-13-

malam-melalui.html, diakses pada 2 November 2010. www.tcmqfmsolo.blogspot.com. diakses pada 2 November 2010.

http://kitacall.org/peta-program-kita, diakses pada 2 November 2010.

http://masjierinbox.blogspot.com/2011/06/menggetarkan-denyut-13-

malam-melalui.html. diakses pada 2 November 2010. http://miftakhurriza.blogspot.com diakses pada 2 November 2010. www.facebook.tahajjudcallyogyakarta diakses pada 2 November 2010.

Jurnal Ulumuddin Volume 5, Nomor 2, Desember 2015

37