Anda di halaman 1dari 69

ANALISIS KADAR BEBERAPA LOGAM (Au, Ag, DAN Cu) PADA

LOKASI PERTAMBANGAN RAKYAT DI GOGOREA DAN


GUNUNG BOTAK KABUPATEN BURU

SKRIPSI

ARJUDIN

2009-78-025

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2017
ANALISIS KADAR BEBERAPA LOGAM (Au, Ag, DAN Cu) PADA
LOKASI PERTAMBANGAN RAKYAT DI GOGOREA DAN
GUNUNG BOTAK KABUPATEN BURU

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Sains

ARJUDIN

2009-78-025

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas

rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Analisis Kadar Beberapa Logam (Au, Ag, dan Cu) pada Lokasi Pertambangan

Rakyat di Gogorea dan Gunung Botak Kabupaten Buru”, sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura Ambon.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan bukan karena

kemampuan penulis sendiri namun berkat bimbingan, dukungan, dan bantuan dari

berbagai pihak. Pada kesempatan ini, dengan kerendahan hati penulis ingin

menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Pattimura beserta staf.

2. Bapak Dr. Y. T. Male, S.Si, M.Si selaku Ketua Jurusan Kimia FMIPA

Unpatti sekaligus sebagai Pembimbing I yang telah mengarahkan,

membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan studi..

3. Bapak Dr. Ir. R. Hutagalung, M.Si selaku Pembimbing II yang telah

membantu dalam melakukan penelitian serta telah meluangkan waktu dan

pikiran dalam membimbing penulis sejak penulisan proposal penelitian

sampai penulisan skripsi ini selesai.


4. Pimpinan beserta seluruh staf Laboratorium Kimia Anorganik FMIPA

Unpatti yang telah memberikan banyak bantuan dalam kelancaran

pelaksanaan penelitian ini.

5. Bapak/Ibu dosen Kimia FMIPA Unpatti yang telah membantu dan mendidik

penulis selama menuntut ilmu pada FMIPA Unpatti.

6. Ayahanda dan Ibunda tercinta, atas dukungan kasih sayang, semangat, dan

doa kehadirat Allah SWT selama proses perkuliahan, penelitian sampai

penulisan skripsi ini serta saudara-saudariku tercinta yang selalu

memberikan semangat, perhatian, dan selalu mendukung dalam setiap

langkah penulis.

7. Teman-teman angkatan 2009, kakak-kakak tingkat, adik-adik tingkat, dan

teman-teman PMII, GMKI, GMNI, PEMKRI, HMI, dan KAMMI yang

selalu ada untuk membantu dan memberikan semangat kepada penulis.

8. Sahabat-sahabatku Sidik, Rama, Leo, Amad, Lendi, Yaya, Ipul, Firman,

Yono, Adhi, Kiki, dan kepada semua pihak yang tak dapat penulis sebutkan

yang telah memberikan semangat dan membantu penulis selama ini.

Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan

dan masyarakat pada umumnya, walaupun masih banyak kekurangan dan jauh

dari kesempurnaan. Semoga segala kebaikan dan dukungan yang diberikan

kepada penulis akan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Ambon, November 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………... i

LEMBARAN PENGESAHAN …………………………………………….. ii

KATA PENGANTAR ……………………………………………………... iii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. v

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. viii

DAFTAR TABEL ………………………………………………………….. ix

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………….. x

ABSTRAK ………………………………………………………………….. xi

ABSTRACT ………………………………………………………………… xii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang ………………………………………………...... 1

I.2 Perumusan Masalah ……………………………………………... 4

I.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………...... 5

I.4 Manfaat Penelitian …………………………………………….... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Sumber Daya Mineral …………………………………………... 6

II.2 Logam Emas (Au) …………………...…………………………. 7

II.2.1 Persenyawaan logam emas ………………...…………….. 8

II.2.2 Pengolahan bijih emas ………………...…………….…… 8

II.2.3 Kegunaan logam emas ………………...…………………. 11

II.3 Logam Perak (Ag) ………..…………………………………….. 12

II.3.1 Ekstraksi logam perak ………………...……………..…... 13


II.3.2 Kegunaan logam perak ………………...……………..….. 14

II.3.3 Kekurangan logam perak ………………...……………..... 15

II.4 Logam Tembaga (Cu) ………………….……………………...... 15

II.4.1 Ekstraksi logam tembaga ………………...…………….... 19

II.4.2 Kegunaan logam tembaga ………………...……………... 22

II.4.3 Kekurangan logam tembaga ………………...…………… 23

II.5 Kegiatan Penambangan Emas Tradisional ……………………... 24

II.6 Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) ……………………… 24

II.7 X-Ray Fluorosence (XRF) ……………………………………... 26

BAB III METODE PENELITIAN

III.1 Waktu dan Tempat Penelitian ……..……..….……………….. 28

III.2 Alat dan Bahan ……………….……………………………… 28

III.2.1 Alat-alat ….…………….………………………………. 28

III.2.2 Bahan-bahan ………………..………………………….. 28

III.3. Prosedur Penelitian ………………………………………...… 29

III.3.1 Pengambilan sampel ………...……………………….. 29

III.3.2 Penelitian laboratorium …………………………..…... 30

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Waktu dan Lokasi Pengambilan Sampel ………………………. 33

IV.2 Kondisi Lokasi Pertambangan ………………….…………….... 34

IV.3 Analisis Kadar Logam dengan AAS ………………….………... 36

IV.3.1 Logam emas (Au) ………………….....……………….. 36

IV.3.2 Logam perak (Ag) ……………………………………... 38

IV.3.3 Logam tembaga (Cu) …..……………………………... 40


IV.4 Analisis Logam dengan XRF ………………….……………….. 43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan …………………………………………………….... 45

V.2 Saran …………………………………………………………...... 46

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………... 47
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di Gunung Gogorea dan


Gunung Botak ………………………………………………... 33

Gambar 2. Lubang penggalian emas …………………………….……….. 34

Gambar 3. Material dari Gogorea (a) dan material dari Gunung


Botak (b) ……………………………………………………... 35
Gambar 4. Histogram kadar logam emas (Au) pada sampel (material) … 37

Gambar 5. Histogram kadar logam perak (Ag) pada sampel (material) … 39

Gambar 6. Histogram kadar logam tembaga (Cu) pada sampel


(material) ……………………………………………………... 41
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Lokasi dan titik koordinat pengambilan sampel …………………. 29

Tabel 2. Kadar logam emas (Au) …………………………………………. 36

Tabel 3. Kadar logam perak (Ag) ………………..……………………….. 38

Tabel 4. Kadar logam tembaga (Cu) ……………………………………… 40

Tabel 5. Hasil analisis dengan XRF ………………………………………. 43


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Perbandingan Kadar Logam Au, Ag, dan Cu pada


Kedua Lokasi Pertambagan Gunung Gogorea dan Gunung
Botak ………………………………...….….….….….….…. 49
Lampiran 2. Dokumentasi Proses Pengambilan dan Preparasi Sampel
Logam Au, Ag, dan Cu ………………………………...…... 50

Lampiran 3. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik
Sampel Satu di Lokasi Gunung Botak (BM1) …………...… 51

Lampiran 4. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik
Sampel Dua di Lokasi Gunung Botak (BM2) …………...… 52

Lampiran 5. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik
Sampel Satu di Lokasi Gunung Gogorea (GM1) …………... 53

Lampiran 6. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik
Sampel Dua di Lokasi Gunung Gogorea (GM2) ….……….. 54

Lampiran 7. Hasil Analisis Material dengan XRF …………...………...... 55


ANALISIS KADAR BEBERAPA LOGAM (Au, Ag, DAN Cu) PADA
LOKASI PERTAMBANGAN RAKYAT DI GOGOREA DAN
GUNUNG BOTAK KABUPATEN BURU

ABSTRAK

Arjudin
2009-78-025

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kadar logam Au, Ag, dan Cu
dengan menggunakan AAS dan XRF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kadar logam Au, Ag, dan Cu yang berada di lokasi pertambangan Gunung
Gogorea dan Gunung Botak Kabupaten Buru. Metode penelitian yang digunakan
adalah survei dan analisis. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan,
pengambilan sampel di lapangan dan analisis laboratorium. Hasil penelitian
dengan metode AAS menunjukkan bahwa kadar logam Au pada masing-masing
titik pengambilan sampel GM1 dan GM2 di Gunung Gogorea, BM1 dan BM2 di
Gunung Botak berturut-turut sebesar 180; 52 ppm dan 9,23; 4,21 ppm. Kadar
logam Ag di Gunung Gogorea pada masing-masing titik pengambilan sampel
GM1 sebesar 37,10 ppm dan GM2 tidak terdeteksi, begitu juga untuk Gunung
Botak BM1 dan BM2 tidak terdeteksi. Kadar logam Cu pada masing-masing titik
pengambilan sampel GM1 dan GM2 di Gunung Gogorea, BM1 dan BM2 di
Gunung Botak berturut-turut sebesar 27; 26 ppm dan 24; 27 ppm. Hasil penelitian
dengan menggunakan metode XRF menunjukkan bahwa konsentrasi logam Cu
dari salah satu titik pengambilan sampel yang diperoleh yaitu 0,0026 %.

Kata kunci : penambangan tradisional, sumberdaya mineral, Au, Ag, Cu, AAS,
XRF
ANALYSIS OF SOME MINERALS CONCENTRATIONS (Au, Ag, AND
Cu) IN THE TRADITIONAL MINING AREA ON GOGOREA AND
BOTAK MOUNTAIN OF BURU DISTRICT

ABSTRACT

Arjudin
2009-78-025

The research on analysis metal concentrations of Au, Ag, and Cu has been done
using AAS and XRF. These study aim to determine the concentrations of Au, Ag,
and Cu at the mining area of Gogorea Mountain and Botak Mountain of Buru
District. The research used survey and analysis methods. This research was
conducted based on observation, field sampling and laboratory analysis. The
results showed that the metal concentrations of Au at each sampling point GM1
and GM2 on Gogorea Mountain, BM1 and BM2 on Botak Mountain respectively
of 180; 52 ppm and 9.23; 4.21 ppm. Ag metal concentrations at Gogorea
Mountain at each GM1 sampling point of 37.10 ppm and GM2 undetected, as
well as for Botak Mountain BM1 and BM2 undetected. Cu metal concentrations
at each sampling point GM1 and GM2 on Gogorea Mountain, BM1 and BM2 on
Botak Mountain respectively of 27; 26 ppm and 24; 27 ppm. The result with using
XRF method showed that the concentration of Cu metal from one of sampling
point is 0.0026%.

Keywords: Traditional mining, mineral resources, Au, Ag, Cu, AAS, XRF
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber

daya alam yang melimpah, baik itu sumber daya alam hayati maupun sumber daya

alam non-hayati. Sumber daya mineral merupakan salah satu jenis sumber daya

non-hayati. Sumber daya mineral yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam

baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Sumber daya mineral tersebut antara

lain minyak bumi, emas, batu bara, perak, timah, dan lain-lain. Sumber daya itu

diambil dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, modal

dasar dalam pembangunan nasional, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesar-

besarnya untuk kepentingan rakyat dengan memperhatikan kelestarian hidup

sekitar. Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumber daya alam adalah

kegiatan penambangan bahan galian, tetapi kegiatan-kegiatan penambangan selain

menimbulkan dampak positif juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap

lingkungan hidup terutama perusahaannya, bentang alam, berubahnya estetika

lingkungan, habitat flora dan fauna menjadi rusak, penurunan kualitas tanah,

penurunan kualitas air atau penurunan permukaan air tanah, timbulnya, debu, dan

kebisingan.

Sumber daya mineral yang berupa endapan bahan galian memiliki sifat

khusus dibandingkan dengan sumber daya lain yaitu biasanya disebut wasting

assets atau diusahakan ditambang, maka bahan galian tersebut tidak akan

“tumbuh” atau tidak dapat diperbaharui kembali. Dengan kata lain industri

pertambangan merupakan industri dasar tanpa daur, oleh karena itu di dalam
mengusahakan industri pertambangan akan selalu berhadapan dengan sesuatu

yang serba terbatas, baik lokasi, jenis, jumlah maupun mutu materialnya.

Keterbatasan tersebut ditambah lagi dengan usaha meningkatkan keselamatan

kerja serta menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan demikian dalam

mengelola sumberdaya mineral diperlukan penerapan sistem penambangan yang

sesuai dan tepat, baik ditinjau dari segi teknik maupun ekonomis, agar

perolehannya dapat optimal (Prodjosoemanto, 2006 dalam Ahyani, 2011).

Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang diandalkan

pemerintah Indonesia untuk mendatangkan devisa. Selain mendatangkan devisa

industri pertambangan juga menyedot lapangan kerja dan bagi Kabupaten dan

Kota merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kegiatan pertambangan

merupakan suatu kegiatan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, pengolahan

pemurnian, pengangkutan mineral atau bahan tambang. Industri pertambangan

selain mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja juga rawan terhadap

pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan penambangan yang mengundang

sorotan masyarakat sekitarnya karena pengrusakan lingkungan, apalagi

penambangan emas tanpa izin yang selain merusak lingkungan juga

membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan penambang

dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait (Yudhistira,

2008 dalam Ahyani 2011).

Dewasa ini dirasakan tantangan investasi di sektor pertambangan semakin

berat. Sejak tahun 1999 tidak ada lagi investor yang melakukan investasi di

bidang pertambangan. Di lain pihak perusahaan pertambangan yang ada telah

mulai mengurangi aktivitasnya dengan berbagai sebab, di antaranya berkurangnya


jumlah cadangan (deplesi) dan munculnya permasalahan lingkungan dan sosial,

misalnya penjarahan daerah tambang oleh penambang ilegal (PETI =

Penambangan Tanpa Izin).

Selain di daerah Gunung Botak terdapat juga logam emas di daerah

Gunung Gogorea di mana hasil logam emasnya juga sangat berkualitas dan

mempunyai daya saing dengan yang ada di Gunung Botak. Secara harfiah,

tambang di gunung Gogorea dan Gunung Botak mempunyai potensi logam emas

yang menjanjikan untuk hajat hidup orang banyak. Pada lokasi pertambangan di

gunung Gogorea dan Gunung botak selain logam emas terdapat juga logam

transisi lain seperti Perak (Ag), Tembaga (Cu), Besi (Fe), dan lain-lain. Logam-

logam ini biasa menempel pada logam emas. Untuk itu perlu pengkajian lebih

mendalam untuk mengetahui kadar dari logam-logam tersebut dengan metode

kimia yang terpercaya dan akurat agar informasi terkait logam-logam yang ada di

tambang Gunung Gogorea dan Gunung Botak dapat dikonsumsi dengan baik dan

diketahui berapa besar kadar dari logam-logam tersebut.

Metode analisis Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) adalah suatu alat

yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan

metalloid yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang

gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog, 2000). Metode

ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai

beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode Spektroskopi Emisi

Konvensional. Memang selain dengan metode serapan atom, unsur-unsur dengan

energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala, akan tetapi

fotometri nyala tidak cocok untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi.
Fotometri nyala memiliki range ukur optimum pada panjang gelombang 400-800

nm,sedangkan AAS memiliki range ukur optimum pada panjang gelombang 200-

300 nm (Skoog, 2000).

Metode XRF (X-ray fluorescence spectrometry) merupakan teknik analisa

non-destruktif yang digunakan untuk identifikasi serta penentuan konsentrasi

elemen yang ada pada padatan, bubuk ataupun sample cair. XRF mampu

mengukur elemen dari berilium (Be) hingga Uranium pada level trace element,

bahkan dibawah level ppm. Secara umum, XRF spektrometer mengukur panjang

gelombang komponen material secara individu dari emisi flourosensi yang

dihasilkan sampel saat diradiasi dengan sinar-X (PANalytical, 2009).

Metode XRF secara luas digunakan untuk menentukan komposisi unsur

suatu material. Karena metode ini cepat dan tidak merusak sampel, metode ini

dipilih untuk aplikasi di lapangan dan industri untuk kontrol material. Tergantung

pada penggunaannya, XRF dapat dihasilkan tidak hanya oleh sinar-X tetapi juga

sumber eksitasi primer yang lain seperti partikel alfa, proton atau sumber elektron

dengan energi yang tinggi (Viklund, 2008).

I.2 Perumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut, maka permasalahan dapat dirumuskan

sebagai berikut:

1. Berapa kadar logam emas (Au), perak (Ag), dan logam tembaga (Cu) yang

ada pada area pertambangan di Gunung Gogorea dan Gunung Botak

Kabupaten Buru.
2. Berapa perbandingan kadar logam emas (Au), perak (Ag), dan tembaga (Cu)

yang ada pada area pertambangan di Gunung Gogorea dan Gunung Botak

Kabupaten Buru.

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menentukan kadar emas (Au), perak (Ag), dan tembaga (Cu) di area

pertambangan Gunung Gogorea dan Gunung Botak Kabupaten Buru dengan

metode AAS dan metode XRF.

2. Menentukan perbandingan kadar logam emas (Au), perak (Ag), dan tembaga

(Cu) yang ada pada area pertambangan di Gunung Gogorea dan Gunung

Botak Kabupaten Buru.

I.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan terkait kadar emas

(Au), perak (Ag), dan tembaga (Cu) di pertambangan Gunung Gogorea dan

Gunung Botak Kabupaten Buru. Selain itu dapat memberikan informasi secara

umum dan menyeluruh kepada masyarakat tentang kadar emas yang ada di

Kabupaten Buru serta dapat dijadikan sebagai acuan penelitian bagi penulis

dan orang lain.

2. Sebagai referensi dan sumber informasi kepada pemerintah daerah terkait

pertambangan rakyat yang ada di Gunung Gogorea dan Gunung Botak

Kabupaten Buru tentang mineral-mineral yang ada di pertambangan tersebut.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Sumber Daya Mineral

Kulit bumi bagian luar atau kerak bumi disusun oleh zat padat yang sehari-

hari kita sebut batuan. Batuan meliputi segala macam materi yang menyusun

kerak bumi, baik padat maupun lepas seperti pasir dan debu. Umumnya batuan

merupakan ramuan beberapa jenis mineral. Mineral adalah suatu zat (fasa) padat

dari unsur (kimia) atau persenyawaan (kimia) yang dibentuk oleh proses-proses

anorganik, dan mempunyai susunan kimiawi tertentu dan suatu penempatan

atom–atom secara beraturan di dalamnya, atau dikenal sebagai struktur kristal

(Graha, 1987).

Bentuk kelimpahan logam yang terdapat di alam (kerak bumi) sangat

bergantung terutama pada reaktivitas logam yang bersangkutan, kelarutan

garamnya, dan kemudahan garamnya bereaksi dengan air atau terhadap proses

oksidasi. Logam-logam yang tidak reaktif seperti emas, perak, dan platina,

biasanya terdapat dialam sebagai unsurnya, sedangkan logam-logam yang agak

reaktif biasanya terdapat sebagai sulfida, oksida, karbonat, sulfat, dan silikat

(Sugiyarto dan Suyanti, 2010).

Kebanyakan logam diperoleh dari deposit yang bersumber dari alam yang

disebut bijih logam. Bijih logam adalah bahan yang mengandung logam tertentu

dalam konsentrasi yang cukup banyak yang apabilah diekstraksi logamnya dari

bijih tersebut secara ekonomis cukup bermakna (Brady, 2002).


II.2 Logam Emas (Au)

Di alam, logam emas terdapat secara alamiah mulai dari ukuran yang

relatif besar dengan berat bisa mencapai beberapa kilogram, sampai ukuran yang

relatif sangat halus yang bisa terdapat sebagi larutan padat di dalam butiran

mineral sulfida. Emas native (gold native) biasanya mengandung emas antara 90-

95%, sisanya terutama terdiri dari perak, tembaga, dan logam-logam lain dalam

jumlah sangat sedikit (trace). Logam emas dan perak biasanya terjadi saling

berikatan, dan apabila jumlah perak dalam paduannya relatif tinggi maka disebut

elektrum (Sudarsono, 2003).

Emas selain terdapat sebagai native juga terdapat secara alamiah di dalam

mineral-mineral pembawa emas yaitu telluride dan selenide. Butiran emas di

dalam bijih emas biasanya mengandung telluride dan selenide dalam jumlah yang

bervariasi tergantung pada kondisi pembentukannya. Selain bijih emas native,

telluride, dan selenide ada juga bijih emas yang lain yaitu bijih alluvial, giling

bebas (free milling ore), dan refraktori (refractory) (Sudarsono, 2003).

Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol

Au dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang

lembek, mengkilap, kuning, berat, malleable, dan "ductile". Emas tidak bereaksi

dengan zat kimia lainnya tapi bisa terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia.

Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit

alluvial dan salah satu logam coinage.


II.2.1 Persenyawaan logam emas

Salah satu senyawa emas yang paling umum dikenal yaitu emas (III)

klorida, AuCl3 yang dapat dibuat dengan mereaksikan secara langsung kedua

unsur bersama menurut persamaan reaksi berikut:

2Au (s) + 3Cl2 (g) → 2AuCl3 (s)

Senyawa ini dapat larut dalam asam hidroklorida pekat menghasilkan ion

tetrakloroaurat (III) [AuCl4]- suatu ion yang merupakan salah satu komponen dalam

“emas cair”, yaitu suatu campuran spesies emas dalam larutan yang akan

mengendapkan suatu film logam emas jika dipanaskan (Sugiyarto, 2003).

Permukaan logam yang halus dan bersih akan memberikan kilau tertentu.

Kilau dari logam adalah tampak sama meskipun dilihat dari berbagai sudut sinar

pantul. Hal ini memungkinkan untuk dapatnya sebagian logam digunakan sebagai

pemantul sinar tampak, misalnya logam perak pada cermin perak. Logam natrium

dan kalium juga dapat berkilau, akan tetapi kilaunya cepat sekali memudar karena

terbentuknya oksida pada permukaan logam akibat reaksinya dengan oksigen dari

udara. Kilau logam berbeda dengan kilau dari nonlogam seperti kilau dari belerang

dan iodin.

II.2.2 Pengolahan bijih emas

Pengolahan bijih emas umumnya harus dilakukan secara bertahap, yaitu

dari bijih yang baru digali dari tambang dengan kadar sangat rendah sekitar

beberapa gram/ton saja masih perlu ditingkatkan menjadi bijih emas berkadar

tinggi mencapai kadar diatas sepuluh gram/ton dengan cara pengayaan atau
konsentrasi sehingga menjadi layak untuk diekstraksi emasnya secara kimia

misalnya dengan metode sianidasi dan lain-lainnya. Terkecuali untuk bijih emas

berkadar tinggi atau bijih emas yang secara alami berukuran butir besar,

sehingga butirannya dapat dilihat dengan kasat mata atau tanpa mikroskop, bijih

jenis ini dengan mudah dapat dipisahkan dengan cara pendulangan/palong

berkarpet dan atau dilanjutkan dengan amalgamasi air raksa, sehingga membentuk

amalgam emas dan setelah itu cukup melalui penggarangan bisa didapat

emas bullion yang mengandung perak (Sudarsono, 2003).

Bijih emas yang ditambang, terdapat berbagai jenis bijih yang sifat-sifatnya

tergantung dari lingkungan keterdapatannya, misalnya emas alluvial terdapat

sebagai butiran emas kasar ataupun halus sebagai hasil pelapukan, tranportasi dan

pengendapan dari aliran sungai; bijih emas sulfida adalah emas yang terdapat di

lingkungan bijih yang mengandung belerang tinggi atau bersama bijih sulfida

lainnya seperti sulfida tembaga, sulfida besi, sulfida timah hitam dan lain-lain;

bijih emas manganis adalah emas yang terdapat bersama bijih yang mengandung

unsur mangan dan tersebut. Oleh karenanya, jalur proses pengolahannya tidak

sama bagi masing-masing jenis bijih emas tersebut; ada yang dapat langsung

dipisahkan dari mineral pengotor lainnya berdasarkan perbedaan berat jenisnya,

ada yang harus digiling halus agar bisa memisahkan bagian mineral yang

berkadar emas tinggi dari bagian lainnya yang bersifat mengotori bijih atau

ukuran halus itu diperlukan agar kontak dengan bahan pelarut dapat berlangsung

efektif, ada pula yang harus dipanggang dahulu karena mengandung unsur logam

lain yang mengurangi efektifitas kerja bahan pelarut emas. Untuk bisa

memahami penggolongan jenis bijih tersebut, diperlukan kajian mineralogi dan


analisis unsur total dari bijih tersebut; sedangkan untuk menguji sifat kelarutannya

dapat diawali dengan pengujian standar sianidasi. Hasil pengujian sianidasi

tersebut akan mengungkapkan mudah atau sulitnya kelarutan emas dalan larutan

sianid, sehingga dapat dilanjutkan dengan pengujian lainnya, misalnya dengan

melakukan penambahan reagen dsb. Bijih emas yang terdapat bersama bijih logam

lainnya, seperti tembaga, seng, timah hitam dan sebagainya, biasanya tidak

langsung dilakukan pemisahan terhadap emasnya, tetapi digabungkan dalam

konsentrat tembaga, seng, galena dan seterusnya; jadi emas akan diperoleh setelah

proses peleburan masing-masing konsentrat tersebut, yaitu di peleburan bijih

tembaga, seng, atau galena (Sudarsono, 2003).

a. Metode amalgamasi

Amalgamasi adalah proses penyelaputan partikel emas oleh air raksa dan

membentuk amalgam (Au – Hg). Amalgam masih merupakan proses ekstraksi

emas yang paling sederhana dan murah, akan tetapi proses efektif untuk bijih emas

yang berkadar tinggi dan mempunyai ukuran butir kasar (> 74 mikron) dan dalam

membentuk emas murni yang bebas (free native gold) (Widodo, 2008).

Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya

dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion

emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air

raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa

tersebut. Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort sebagai logam.


b. Sianidasi

Ekstraksi emas dan perak dari mineralnya dilakukan melalui pembentukan

senyawa kompleks. Ekstraksi emas dari bijihnya tidak dilakukan dengan

menggunakan asam karena dapat berlangsung secara tidak spontan.

4Au(s) + O2(g) + 4H+ → 4Au+(aq) + 2H2O(l) ∆G° = +194 kj/mol

Ekstraksi emas dari bijihnya dapat dilakukan dengan menggunakan ion sianida

karena prosesnya berlangsung secara tidak spontan.

4Au(s) + 8CN (aq) + 2H2O (l) → 4[Au(CN)2]- (aq) + 4OH-(aq) ∆G° = -407 kJ/mol

Emas murni diperoleh dari elektrolisis larutan ion [Au(CN)2] dalam air.

[Au(CN)2]- (aq) + e- → Au(s) + 2CN- (aq)

Ekstraksi perak dari mineralnya juga menggunakan ion sianida. Perak

murni diperoleh dari elektrolisis larutan ion [Ag(CN)2]- dalam air.

II.2.3 Kegunaan logam emas

Pada umumnya emas biasa digunakan sebagai perhiasan dikarenakan kilau

logamnya yang tampak menarik. Emas juga banyak digunakan untuk membuat

koin dan dijadikan sebagai standar moneter di banyak negara. Elemen ini juga

banyak digunakan untuk perhiasan dan gigi buatan.

Senyawa-senyawa kompleks sepit dengan ligan difosfina dan diarsina

dengan atom pusat perak (I) atau emas (I) memiliki sifat anti kanker, anti jamur
dan anti bakteri. Senyawa kompleks ini dapat merupakan kompleks ionik dengan

dua sepit atau kompleks netral dengan satu sepit.

II.3 Logam Perak (Ag)

Berasal dari beberapa bahasa Latin argentum. Perak telah dikenal sejak

jaman purba kala. Beberapa tempat buangan mineral di Asia Minor dan di

pulau-pulau di Laut Aegean mengindikasikan bahwa manusia telah timah sejak

3000 SM (Mohsin, 2006).

Perak muncul secara alami dan dalam bijih-bijih argentite (Ag2S) dan horn

silver (AgCl). Bijih-bijih timah, timbal-timah, tembaga, emas dan perunggu-nikel

merupakan sumber-sumber penting untuk menambang perak. Di dunia belahan

barat Meksiko, Kanada, Peru dan Amerika Serikat merupakan negara-negara

penghasil perak (Mohsin, 2006).

a) Sifat fisika dan kimia logam perak

Perak murni memiliki warna putih yang terang. Unsur ini sedikit lebih keras

dibanding emas dan sangat lunak dan mudah dibentuk, terkalahkan hanya

oleh emas dan mungkin palladium. Perak murni memiliki konduktivitas kalor dan

listrik yang sangat tinggi diantara semua logam dan memiliki resistansi

kontak yang sangat kecil.

b) Persenyawaan logam perak

Dalam hampir semua senyawaan perak sederhana (non kompleks),

logam ini mempunyai tingkat oksidasi +1 dan ion Ag+ adalah satu-satunya ion

perak yang stabil dalam larutan air. Senyawa yang penting yaitu perak nitrat,
satu-satunya garam perak yang sangat mudah larut dalam air dan tak berwarna

(Sugiyarto, 2003).

Sifat sukar larut AgCl, AgBr, dan AgI dijelaskan berdasarkan karakter

kovalensi, tetapi AgF padatan putih yang telah larut dalam air dipertimbangkan

mempunyai karakter ionik baik padatan maupun dalam larutan. Perak klorida,

Perak bromida dan perak iodida sangat sensitif terhadap cahaya, dan sifat mudah

tereduksi ion Ag+ menjadi logam Ag mengakibatkan padatan menjadi berwarna

gelap. Itulah sebabnya senyawaan perak disimpan dan larutannya disimpan dalam

botol gelap (Sugiyarto, 2003).

Pembentukan senyawa kompleks perak dimana perak (Ag) sebagai atom

pusat dan CN- sebagai ligan [Ag (CN)2]- didasarkan atas asas energetika, tingkat

energi dari kompleks tersebut adalah paling rendah apabila tolakan antara dua ligan

CN- minimal. Hal ini terjadi apabila dua ligan CN posisinya berlawanan sehingga

kompleks [Ag (CN)2]- memiliki struktur linier. Fakta secara eksperimen

membuktikan bahwa [Ag (CN)2]- bersifat diamagnetik oleh karena itu hibridisasi

kompleks ini melibatkan hibridisasi sp (Effendy, 2007)

II.3.1 Ekstraksi logam perak

Perak terdapat sebagian besar sebagai unsur bebas dan perak (I)

sulfida, Ag2S. Jumlah perak yang cukup signifikan diperoleh pada ekstraksi timbel

dari bijihnya, dan pada pemurnian tembaga secara elektrolisis. Salah satu metode

ekstraksi logam melibatkan permukaan Ag2S dengan larutan natrium sianida dan
teraerasi, yaitu proses yang mengekstrak perak sebagai ion kompleks

disianorgentat (I), [Ag(CN)2]- :

2 Ag2S (s) + 8CN (aq) + O2 (g) + H2O (l) → 4[Zn(CN)4]- (aq) + 2S (s) + 4OH (aq)

Penambahan logam zink mengakibatkan terjadinya reaksi pendesakan, tunggal

ion Ag+ oleh zink, membentuk ion kompleks yang sangat stabil [Zn(CN)4]2-

2[Ag(CN)2]- (aq) + Zn (s) → [Zn(CN)4]2- (aq) + 2Ag (s)

Selanjutnya, pemurnian perak dapat dilakukan secara elektrolisis dengan

elektrolit perak nitrat yang diasamkan, perak tak murni dipasang sebagai anode

dan perak tak murni dipasang sebagai katode.

II.3.2 Kegunaan logam perak

Perak sterling digunakan untuk perhiasan, perabotan perak. dimana

penampakan sangat penting, Campuran logam ini biasanya mengandung 92.5%

perak, dengan sisanya tembaga atau logam lainnya. Perak juga merupakan unsur

penting dalam fotografi, dimana sekitar 30% konsumsi industri perak digunakan

untuk bidang ini. Pada fotografi konvensional digunakan film. Film ini

mengandung senyawa perak, biasanya berupa butiran-butiran atau Kristal-kristal

AgBr yang ukurannya sangat kecil, yang disuspensikan dalam gelatin. Berkas

cahaya yang mengenai film akan mengaktifkan AgBr yang ada sehingga sebagian

dari AgBr yang aktif akan terurai menurut persamaan reaksi berikut:

2AgBr(s) 2Ag(s) + Br2(g)


Perak juga digunakan sebagai campuran logam pengganti gigi, solder,

kotak listrik, dan baterai perak-timah dan perak-cadmium. Cat perak digunakan

untuk membuat sirkuit cetak. Perak juga digunakan untuk produksi kaca dan dapat

didepositkan sebagai lapisan pada gelas atau logam lainnya dengan metoda

chemical deposition, electrode position atau dengan cara penguapan. Ketika perak

baru saja didepositkan, lapisan ini merupakan reflektor cahaya paling baik. Tapi

lapisan ini juga cepat rusak dan ternoda dan kehilangan reflektivitasnya.

Walau lapisan perak bagus untuk cahaya, ia sangat buruk untuk

memantulkan sinar ultraviolet.

II.3.3 Kekurangan logam perak

Walau unsur perak itu sendiri tidak beracun, banyak senyawa garamnya

sangat berbahaya. Exposisi pada perak (baik logam maupun senyawa-senyawanya

yang dapat larut) di udara jangan sampai melebihi 0,01 g/m3 (berdasarkan 8 jam

berat rata-rata, selama 40 jam per minggu). Senyawa-senyawa perak dapat diserap

dalam sistim sirkulasi tubuh dan hasil reduksi perak dapat terdepositkan

pada banyak jaringan tubuh. Perak memiliki sifat- sifat yang dapat membunuh

bakteri tanpa membahayakan binatang-binatang besar.

II.4 Logam Tembaga (Cu)

Tembaga merupakan salah satu unsur logam transisi yang berwarna

cokelat kemerahan dan merupakan konduktor panas dan listrik yang sangat

baik. Di alam, tembaga terdapat dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk

senyawa-senyawa, dan terdapat dalam bentuk biji tembaga seperti (CuFeS2),

cuprite (Cu2O), chalcosite (Cu2S), dan malasite (Cu2(OH)2CO3). Tembaga dengan


nama kimia Cupprum dilambangkan dengan Cu, unsur logam ini berbentuk

kristal dengan warna kemerahan. Dalam tabel periodik unsur-unsur kimia tembaga

menempati posisi dengan nomor atom (NA) 29 dan mempunyai bobot atom (BA)

63,546 g/mol. Potensial elektroda standarnya positif (+0,34 V), logam ini tidak

larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer (Vogel, 1994). Logam ini banyak

digunakan pada pabrik yang memproduksi alat-alat listrik, gelas dan zat warna

yang biasanya bercampur dengan logam lain seperti alloi dengan perak, kadnium

timah putih, dan seng (Merian, 1994).

Tembaga (Cu) mempunyai sistem kristal kubik, secara fisik berwarna

kuning dan apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop bijih akan berwarna

pink kecoklatan sampai keabuan. Unsur tembaga terdapat pada hampir 250

mineral, tetapi hanya sedikit saja yang komersial. Pada endapan sulfida primer,

kalkopirit (CuFeS2) adalah yang terbesar, diikuti oleh kalkosit (Cu2S), bornit

(Cu5FeS4), kovelit (CuS), dan enargit (Cu3AsS4). Mineral tembaga utama

dalam bentuk deposit oksida adalah krisokola (CuSiO3.2HO), malasit

(Cu2(OH)2CO3), dan azurit (Cu3(OH)2(CO3)2).

Menurut data tahun 2005, Chili merupakan penghasil tembaga terbesar di

dunia, disusul oleh AS dan Indonesia. Tembaga dapat ditambang dengan metode

tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Kandungan tembaga dinyatakan

dalam % (persen). Jadi jika satu tambang berkadar 2,3%, berarti dari 100

kg bijih akan dihasilkan 2,3 kg tembaga. Selain sebagai penghasil nomor satu,

tambang tembaga terbesar juga dipunyai Chili. Tambang itu terdapat di

Chuquicamata, terletak sekitar 1.240 km sebelah utara ibukota Santiago. Sedang

tambang tembaga terbesar di Indonesia adalah yang diusahakan PT Freeport


Indonesia di area Grasberg, Papua. Freeport juga mengoperasikan beberapa

tambang bawah tanah besar, meski dengan kemampuan produksi yang masih

berada di bawah Grasberg.

Tembaga di alam tidak begitu melimpah dan ditemukan dalam bentuk

bebas maupun dalam bentuk senyawaan. Bijih tembaga yang terpenting yaitu pirit

atau chalcopyrite (CuFeS2), copper glance atau chalcolite (Cu2S), cuprite (Cu2O),

malaconite (CuO) dan malachite (Cu2(OH)2CO3) sedangkan dalam unsur bebas

ditemukan di Northern Michigan Amerika Serikat. Tembaga kadang-kadang

ditemukan secara alami, seperti yang ditemukan dalam mineral-mineral seperti

cuprite, malachite, azurite, chalcopyrite, dan bornite. Deposit bijih tembaga yang

banyak ditemukan di AS, Chile, Zambia, Zaire, Peru, dan Kanada. Bijih-bijih

tembaga yang penting adalah sulfida, oxida-oxidanya, dan karbonat. Dari mereka,

tembaga diambil dengan cara smelting, leaching, dan elektrolisis.

a) Sifat fisika dan kimia logam tembaga

1. Tembaga merupakan logam yang berwarna kuning kemerahan seperti

emas kuning dan keras bila tidak murni.

2. Mudah ditempa (liat) dan bersifat mulur sehingga mudah dibentuk

menjadi pipa, lembaran tipis dan kawat.

3. Konduktor panas dan listrik yang baik, kedua setelah perak.

4. Tembaga merupakan unsur yang relatif tidak reaktif sehingga tahan

terhadap korosi. Pada udara yang lembab permukaan tembaga ditutupi

oleh suatu lapisan yang berwarna hijau yang menarik dari tembaga

karbonat basa, Cu(OH)2CO3.


5. Tembaga panas dapat bereaksi dengan uap belerang dan halogen.

Bereaksi dengan belerang membentuk tembaga(I) sulfida dan tembaga(II)

sulfida dan untuk reaksi dengan halogen membentuk tembaga(I) klorida,

khusus klor yang menghasilkan tembaga (II) klorida.

b) Persenyawaan logam tembaga

1. Tembaga (II)

Tembaga membentuk senyawa dengan tingkat oksidasi +1 dan +2, namun

hanya tembaga (II) yang stabil dan mendominasi dalam larutan air. Dalam

larutan air, hampir semua garam tembaga (II) berwana biru, yang karakteristik dari

warna ion kompleks koordinasi 6, [Cu(H2O)6)]2+. Kekecualian yang terkenal yaitu

tembaga (II) klorida yang berwarna kehijauan oleh karena ion kompleks [CuCl4]2-

yang mempunyai bangun geometri dasar tetrahedral atau bujursangkar bergantung

pada kation pasangannya (Sugiyarto, 2003).

Dalam larutan encer ia menjadi berwarna biru oleh karena

pendesakan logam Cl- oleh ligan H2O. Oleh karena itu, jika warna hijau ingin

dipertahankan, kedalam larutan pekat CuCl2 dalam air tambahkan ion senama Cl-

dengan menambahkan padatan NaCl pekat atau gas.

[CuCl4]2-(aq) + 6H2O (l) [Cu(H20)6]2+ (aq) + 4 Cl (aq)

2. Tembaga (I)

Pada dasarnya tembaga bukanlah logam reaktif, namun logam ini dapat

diserang oleh asam-asam pekat, secara khusus, asam bereaksi dengan asam

hidroklorida pekat mendidih dan menghasilkan larutan tak berwarna dan gas

hidrogen. Ion tembaga (I) yang terjadi, dengan ion klorida segera membentuk ion
kompleks tak berwarna diklorokuprat (I), [CuCl2]-. Tahap reaksi kedua inilah yang

diduga berlangsung sangat cepat sehingga memicu tahap reaksi pertama seperti

berikut ini:

Cu (s) + H3O+ (aq) Cu+ (aq) + H2 +(g) + 2H2O (l) + Cu (aq) + 2Cl- (aq) [CuCl2]-

Jika larutan ini dituangkan ke dalam air suling bebas udara, diperoleh endapan

putih tembaga (I) klorida menurut persamaan reaksi (Sugiyarto, 2003):

[CuCl2]- (aq) → CuCl (s) + Cl- (aq)

Tembaga klorida harus segera dipisahkan, dicuci dan disimpan bebas

udara, sebab interaksi dengan udara uap air akan menghasikan tembaga (II). Dalam

kimia organik, diklorokuprat (I) digunakan untuk mengubah benzena

dianzonium klorida menjadi klorobenzena menurut reaksi sandmayer :

[C6H5N2]+ Cl- (aq) C6H5Cl (l) + N2 (g)

Pada umumnya, senyawa tembaga (I) tidak berwarna atau putih, karena

ion ini mempunyai konfigurasi elektronik penuh, 3d10. Dalam larutan air,

ion tembaga (I) terhidrat tidak stabil dan mengalami disproporsional menjadi ion

tembaga (II) sesuai dengan ramalan diagram potensial reduksi frost.

2 Cu+ (aq) Cu2+ (aq) + Cu (s).

II.4.1 Ekstraksi logam tembaga

Ekstrasi ini dari bijih sulfida dapat dilakukan dengan proses termal yaitu

pirometalurgi atau dengan proses pelarutan air yaitu hidrometalurgi. Pada proses

pirometalurgi, bijih pekat dipanaskan (proses roasting) dalam kondisi udara


terbatas. Proses ini menguraikan ikatan rangkap sulfida menjadi besi (III) oksida

dan tembaga (I) sulfida menurut persamaan reaksi :

4 CuFeS2 (s) + 9 O2 (g) → 2 Cu2S (l) + 2 Fe2O3 (s)

Pasir ditambahkan ke dalam lelehan campuran untuk mengubah besi (III)

oksida untuk menjadi ampas atau terak besi (III) silikat menurut pesamaan reaksi :

2 Fe2O3 (s) + 3 SiO2 (s) → Fe2(SiO3)3 (l)

Cairan ini mengapung pada permukaan dan dapat dituang terpisah. Udara

kemudian ditambahkan lagi untuk mengubah tembaga (I) sulfida menjadi tembaga

(I) oksida :

2 Cu2S (l) + 3 O2 (g) → 2 Cu2O (s) + 2 SO2

Penambahan udara dihentikan kira-kira dua pertiga tembaga (I) sulfide

telah teroksidasi. Campuran tembaga (I) oksida dan tembaga (I) sulfida kemudian

mengalami reaksi redoks khusus dan menghasilkan logam tembaga tak murni :

Cu2S (l) + 2 Cu2O (s) → 6 Cu (l) + SO2 (g)

Proses pirometalurgi mempunyai sejumlah keuntungan. Proses kimia dan

teknologinya sangat terkenal dipahami, banyak dijumpai pada peleburan-peleburan

tembaga, dan merupakan proses yang relatif cepat. Kelemahan proses ini bahwa

biji harus dapat dipekatkan cukup tinggi, proses peleburannya membutuhkan

banyak energi. Dan proses ini membebaskan energi bebas SO2 dalam jumlah besar

sebagai polutan yang mencemari udara atau lingkungan.


Sebagian besar logam dapat diekstrak dengan proses pirometalurgi, dalam

temperatur tinggi dan menggunakan agen pereduksi karbon monoksida. Tetapi

proses ini membutuhkan proses energi input tinggi dan membebaskan limbah

polutan pada udara dan tanah. Sedangkan proses hidrometalurgi, yaitu ekstraksi

logam dengan proses pelarutan. Proses ini digunakan hingga abad ke-20, dan

hanya logam khusus perak dan emas. Secara umum proses hidrometalurgi terdiri

dari tiga tahapan utama yaitu pelumeran (leaching), pemekatan (concentration),

dan pemulihan (recovery). Tahap pelumeran merupakan tahap peremukan bijih

dengan pengguyuran dengan reaksi tertentu seperti asam sulfat encer untuk

ekstraksi tembaga atau ion sianida untuk ekstrasi perak dan emas, persamaan

reaksinya yaitu (Sugiyarto, 2003):

2CuFeS2 (s) + H2SO4 (aq) + 4O2 (g) → 2CuSO4 (aq) + Fe2O3 (s) + 3S (s) + H2O (l)

Bijih tembaga larutan peluluh

4Au (s) + 8CN- (aq) + O2 (g) + H2O (l) → 4 [Au(CN)2]- (aq) + 4OH- (aq)

Bijih emas larutan peluluh

Jadi, dalam proses hidrometalurgi, belerang dibebaskan dalam bentuk ion sulfat

dalam larutan dan belerang padatan, bukan sebagai gas belerang dioksida

sebagaimana dihasilkan pada proses pirometalurgi (Sugiyarto, 2003).

Pada tahap pelumeran dipakai larutan bakterium thiobacillus ferrooxidan

hingga dikenal sebagai proses biohidrometalurgi. Fungsi bakteri adalah

mengoksidasi sulfida dalam metal sulfida tidak larut menjadi sulfat terlarut.

Larutan encer ion metal ini dipisahkan, kemudian dipekatkan. Akhirnya metal

dapat diperoleh melalui proses pengendapan kimiawi yaitu reaksi mendesak


misalnya dengan logam besi untuk ekstraksi tembaga dan zink untuk ekstrasi emas

menurut reaksi (Sugiyarto, 2003):

CuSO4 (aq) + Fe (s) → FeSO4 (aq) + Cu (s)

2[Au(CN)2]- + Zn (s) → 2Au (s) → 2Au (s) + [Zn(CN)4]- (aq)

Pada tahap akhir, logam dapat pula diperoleh secara elektrokimia, dan gas

oksigen hasil dapat digunakan untuk oksidasi pada tahap awal menurut persamaan

reaksi (Sugiyarto, 2003):

Anode : 2H2O (l) → O2 (g) + H+ (aq) + 4e

Katode : 2Cu2+ (aq) + 4e → 2Cu (s).

II.4.2 Kegunaan logam tembaga

Kegunaan logam tembaga sebai berikut :

1. Tembaga adalah suatu komponen dari berbagai enzim yang diperlukan

untuk menghasilkan energi, anti oksidasi dan sintesa hormon adrenalin serta

untuk pembentukan jaringan ikat.

2. Tembaga mempunyai beberapa fungsi dalam pembentukan klorofil, walau

unsur ini tidak terkandung dalam klorofil.

3. Tembaga merupakan suatu unsur yang sangat penting dan berguna untuk

metabolisme. Batas konsentrasi dari unsur ini yang mempengaruhi pada air

berkisar antara 1-5 mg/l merupakan konsentrasi tertinggi. Dalam industri,

tembaga banyak digunakan dalam industri cat, industri fungisida serta dapat

digunakan sebagai katalis, baterai elektroda, sebagai pencegah pertumbuhan


lumut, turunan senyawa-senyawa karbonat banyak digunakan sebagai pigmen

dan pewarna kuningan.

II.4.3 Kekurangan logam tembaga

Tembaga bersifat racun dan dapat terjadi ketika tembaga menumpuk dalam

tubuh akibat penggunaan alat masak tembaga. Unsur Cu yang berlebih dapat

merusak hati dan memacu sirosis. Bahaya logam tembaga ini, apabila dalam

keadaan serbuk menimbulkan bahaya api. Pada kepekatan lebih daripada 1 mg/L,

tembaga masih diperbolehkan mencemari pakaian dan benda-benda yang dicuci

dalam air.

II.5 Kegiatan Penambangan Emas Tradisional

Kegiatan penambangan emas secara tradisional dicirikan oleh penggunaan

teknik eksplorasi dan eksploitasi yang sederhana dan murah. Usaha pertambangan

emas bermula oleh penemuan urat-urat kuarsa mengandung emas oleh

penambang. Penambangan emas dilakukan dengan sistem tambang bawah tanah

dengan cara membuat terowongan. Teknik penambangan dilakukan tanpa

perencanaan yang baik dan dengan cara penggalian mengikuti arah urat kuarsa

yang diperkirakan mengandung kadar emas yang cukup tinggi.

Untuk pekerjaan penambangan dipakai peralatan cangkul, linggis, ganco,

palu, dan beberapa alat sederhana lainnya. Batuan dan urat kuarsa mengandung

emas atau bijih yang diperoleh dari terowongan ditumbuk sampai berukuran 1-2

cm, selanjutnya digiling dengan alat gelundung (tromol, berukuran panjang 55-60

cm dan diameter 30 cm dengan alat penggiling 3-5 batang besi). Proses

pengolahan emas biasanya menggunakan metode amalgamasi yaitu dengan


mencampurkan bijih emas dengan merkuri untuk membentuk amalgam dengan

media air. Selanjutnya emas dipisahkan dengan proses pemurnian sampai

didapatkan logam paduan emas dan perak (bullion). Produk akhir dijual dalam

bentuk bullion dengan memperkirakan kandungan emas (Faddhila dkk, 2007).

II.6 Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)

Spektrometri atomik adalah metode pengukuran spektrum yang berkaitan

dengan serapan dan emisi atom. Bila suatu molekul mempunyai bentuk spektra

pita, maka suatu atom mempunyai spektra garis. Atom-atom yang terlibat dalam

metode pengukuran spektrometri atomik haruslah atom-atom bebas yang garis

spektranya dapat diamati. Pengamatan garis spektra yang spesifik ini dapat

digunakan untuk analisis unsur baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Absorbsi (serapan) atom adalah suatu proses penyerapan bagian sinar oleh

atom atom bebas pada panjang gelombang (а) tertentu dari atom itu sendiri

sehingga konsentrasi suatu logam dapat ditentukan. Karena absorbansi sebanding

dengan konsentrasi suatu analit, maka metode ini dapat digunakan untuk system

pengukuran atau analisis kuantitatif.

Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) adalah suatu alat yang digunakan

pada metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metalloid yang

pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang

tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog, 2000). Metode ini sangat

tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa

kelebihan dibandingkan dengan metode spektroskopi emisi konvensional.

Memang selain dengan metode serapan atom, unsur-unsur dengan energi eksitasi

rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala, akan tetapi fotometri nyala
tidak cocok untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi. Fotometri nyala

memiliki range ukur optimum pada panjang gelombang 400-800 nm, sedangkan

AAS memiliki range ukur optimum pada panjang gelombang 200-300 nm (Skoog,

2000).

Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom, atom-atom

menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat

unsurnya. Dengan absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu

atom pada keadaan dasar dinaikan tingkat energinya ke tingkat eksitasi.

Keberhasilan analisis ini tergantung pada proses eksitasi dan memperoleh garis

resonansi yang tepat. Hukum absorpsi sinar (Lambert-Beer) yang berlaku pada

spektrofotometer absorpsi sinar ultraviolet (UV), sinar tampak maupun infra

merah, juga berlaku pada AAS. Perbedaan analisis AAS dengan spektrofotometri

molekul adalah peralatan dan bentuk spektrum absorpsinya.

Hubungan antara penyerapan sinar dan kosentrasi dinyatakan oleh Hukum

Lambert-Bert.

P = Poe-abc

A = Log Po / P = a b c

Dimana : A = Absorbans

Po = Intensitas sinar dari sumber sinar

P = Intensitas sinar yang sampai pada detektor

a = Konstanta absortivitas

b = Panjang medium absorbsis

c = Kosentrasi.
II.7 X-Ray Fluorosence (XRF)

XRF (X-ray fluorescence spectrometry) merupakan teknik analisa non-

destruktif yang digunakan untuk identifikasi serta penentuan konsentrasi elemen

yang ada pada padatan, bubuk ataupun sample cair. XRF mampu mengukur

elemen dari berilium (Be) hingga Uranium pada level trace element, bahkan

dibawah level ppm. Secara umum, XRF spektrometer mengukur panjang

gelombang komponen material secara individu dari emisi flourosensi yang

dihasilkan sampel saat diradiasi dengan sinar-X (PANalytical, 2009).

Metode XRF secara luas digunakan untuk menentukan komposisi unsur

suatu material. Karena metode ini cepat dan tidak merusak sampel, metode ini

dipilih untuk aplikasi di lapangan dan industri untuk kontrol material. Tergantung

pada penggunaannya, XRF dapat dihasilkan tidak hanya oleh sinar-X tetapi juga

sumber eksitasi primer yang lain seperti partikel alfa, proton atau sumber elektron

dengan energi yang tinggi (Viklund, 2008).

Jenis XRF yang pertama adalah WDXRF (Wavelength-dispersive X-ray

Fluorescence) dimana dispersi sinar-X didapat dari difraksi dengan menggunakan

analyzer yang berupa cristal yang berperan sebagai grid. Kisi kristal yang spesifik

memilih panjang gelombang yang sesuai dengan hukum bragg (PANalytical,

2009). Dengan menggunakan WDXRF spektrometer (PANalytical, 2009):

 Aplikasinya luas dan beragam.

 Kondisi pengukuran yang optimal dari tiap – tiap elemen dapat diprogram.

 Analisa yang sangat bagus untuk elemen berat.

 Sensitivitas yang sangat tinggi dan limit deteksi yang sangat rendah
Jenis XRF yang kedua adalah EDXRF. EDXRF (Energy-dispersive X-ray

Fluorescence) spektrometri bekerja tanpa menggunakan kristal, namun

menggunakan software yang mengatur seluruh radiasi dari sampel kedetektor

(PANalytical, 2009). Radiasi Emisi dari sample yang dikenai sinar-X akan

langsung ditangkap oleh detektor. Detektor menangkap foton – foton tersebut dan

dikonversikan menjadi impuls elektrik. Amplitudo dari impuls elektrik tersebut

bersesuaian dengan energi dari foton – foton yang diterima detektor. Impuls

kemudian menuju sebuah perangkat yang dinamakan MCA (Multi-Channel

Analyzer) yang akan memproses impuls tersebut. Sehingga akan terbaca dalam

memori komputer sebagai channel. Channel tersebut yang akan memberikan nilai

spesifik terhadap sampel yang dianalisa. Pada XRF jenis ini, membutuhkan biaya

yang relatif rendah, namun keakuratan berkurang. (Gosseau,2009).

Kelebihan dari XRF antara lain adalah cukup mudah, murah dan

analisanya cepat; jangkauan elemen hasil analisa akurat; dan membutuhkan

sedikit sampel pada tahap preparasinya (untuk Trace elemen) serta dapat

digunakan untuk analisa elemen mayor (Si, Ti, Al, Fe, Mn, Mg, Ca, Na, K, P)

maupun trace elemen (>1 ppm; Ba, Ce, Co, Cr, Cu, Ga, La, Nb, Ni, Rb, Sc, Sr,

Rh, U, V, Y, Zr, Zn). Sedangkan beberapa kekurangan dari XRF yaitu tidak cocok

untuk analisa elemen yang ringan seperti H dan He; analisa sampel cair

membutuhkan volume gas helium yang cukup besar; dan preparasi sampel

biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan perlakuan

yang banyak.
BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan. Pengambilan sampel

dilakukan pada dua lokasi yang berada di Kabupaten Buru yaitu Gunung Gogorea

dan Gunung Botak. Proses pengambilan sampel berlangsung selama tiga hari.

Selanjutnya sampel yang telah dikumpulkan kemudiann dibawa menuju

Laboratorium Kimia Anorganik, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas

Pattimura untuk dilakukan perlakuan awal sampel dan analisis lebih lanjut

dilakukan di Laboratorium Pusat Survey Geologi Bandung.

III.2 Alat dan Bahan

III.2.1 Alat–alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah

1. Global Positioning Sistem (GPS)

2. Timbangan Analitik

3. Mortal dan Alu

4. AAS

5. XRF

III.2.2 Bahan–bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Batuan mineral

2. HNO3

3. HCl
4. Larutan induk Au

5. Larutan induk Ag

6. Larutan induk Cu

III.3 Prosedur Penelitian

III.3.1 Pengambilan sampel

Penelitian lapangan bertujuan untuk mengumpulkan data sumber objek,

kolam galian melalui pengamatan karakteristik tanah pada setiap lokasi. Untuk

menetapkan koordinat titik di peta atau lokasi pengamatan di lapangan secara

akurat, digunakan alat GPS untuk keperluan analisis di laboratorium. Sampel

batuan diambil pada dua lokasi yaitu Gunung Gogorea dan Gunung Botak dengan

jumlah 2 titik untuk tiap lokasi pengambilan sampel.

Metode pengambilan sampel batuan pada kolam galian dengan kedalaman

yang berbeda-beda. Masing-masing titik pengambilan sampel dapat dilihat pada

Tabel 1.

Tabel 1. Lokasi dan titik koordinat pengambilan sampel


No Lokasi Kode sampel Titik koordinat
GM1 S 03°18'33.5" E126°59'57.8"
1 Gogorea
GM2 S 03°18'33.6" E 126°59'56.5"
BM1 S 03°25'0.21" E 127°0.3'25.8"
2 Gunung Botak
BM2 S 03°25'0.22" E 127°0.3'26.9"
Keterangan: GM1 = Material Gunung Gogorea
GM2 = Material Gunung Gogorea
BM1 = Material Gunung Botak
BM2 = Material Gunung Botak
III.3.2 Analisis laboratorium

Analisis sampel batuan di laboratorium dimaksudkan untuk mengetahui

sifat-sifat fisika dan kimia yang tidak dapat ditentukan secara kuantitatif di

lapangan.

1) Persiapan sampel batuan

Sampel yang telah diambil dari lokasi dikeringkan selama 7 hari, kemudian

sampel batuan yang telah kering dihaluskan menggunakan mortal dan palu sampai

halus setelah itu sampel disaring menggunakan Mesh 100. Sampel halus yang

selesai disaring diambil dan ditimbang sebanyak 10 g dengan timbangan analitik,

kemudian sampel dimasukkan dalam kantong plastik yang telah diberi label dan

siap untuk dianalisis lebih lanjut. Prosedur ini dilakukan untuk semua sampel.

2) Pembuatan larutan standar 1000 ppm

Larutan standar Au 1000 ppm

Dari larutan siap pakai yang mengandung Au (dibuat sesuai petunjuk dari

pabrik) ditimbang dengan teliti 1,0 g logam Au dimasukkan ke dalam gelas piala

250 mL dan dilarutkan dengan kurang lebih 10 mL HNO3. Selanjutnya

dipanaskan sampai larut dan diencerkan dengan akuades sampai volume kurang

lebih 100 mL, dipanaskan lagi dan didinginkan. Kemudian dimasukkan larutan ke

dalam labu ukur 1000 mL, diencerkan dan larutan ditambahkan dengan akuades

sampai tanda batas, dikocok sampai homogen, dan disimpan dalam botol pereaksi

polietilena.

Larutan standar Ag 1000 ppm

Dari larutan siap pakai yang mengandung Ag (dibuat sesuai petunjuk dari

pabrik) ditimbang dengan teliti 1,0 g logam Au dimasukkan ke dalam gelas piala
250 mL, dan dilarutkan dengan kurang lebih 10 mL HNO3. Selanjutnya

dipanaskan sampai larut, diencerkan dengan akuades sampai volume kurang lebih

100 mL, dipanaskan lagi, dan didinginkan. Kemudian dimasukkan larutan ke

dalam labu ukur 1000 mL, diencerkan dan larutan ditambahkan dengan akuades

sampai tanda batas, dikocok sampai homogen, dan disimpan dalam botol pereaksi

polietilena.

Larutan standar Cu 1000 ppm

Dari larutan siap pakai yang mengandung Cu (dibuat sesuai petunjuk dari

pabrik) ditimbang dengan teliti 1,0 g logam Cu dimasukkan ke dalam gelas piala

250 mL, dan dilarutkan dengan kurang lebih 10 mL HNO3. Selanjutnya

dipanaskan sampai larut, diencerkan dengan akuades sampai volume kurang lebih

100 mL, dipanaskan lagi, dan didinginkan. Kemudian larutan dimasukkan ke

dalam labu ukur 1000 mL, diencerkan dan larutan ditambahkan dengan akuades

sampai tanda batas, dikocok sampai homogen, dan disimpan dalam botol pereaksi

polietilena.

3) Pembuatan seri larutan standar kalibrasi Emas (Au), Perak (Ag) dan
Tembaga (Cu)

Dibuat seri larutan standar yang terdiri dari 0 ppm, 1,0 ppm 2,0 ppm 3,0

ppm 4,0 ppm 5,0 ppm 6,0 ppm dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL

ditambahkan 3 mL HNO3, diencerkan dan larutan ditambahkan dengan akuades

sampai tanda batas dan dikocok sampai homogen.


4) Pelarutan dengan air raja (aqua regia)

Ditimbang 1,0 g sampel dalam gelas piala 250 mL, dibasahkan dengan

sedikit akuades dan ditutup dengan kaca arloji. Selanjutnya ditambahkan 10 mL

HCl, dipanaskan di atas pelat pemanas beberapa saat sampai gas H2S yang

terbentuk menguap semua, dan didinginkan. Kemudian ditambahkan 8 mL HNO3

pekat, dipanaskan kembali di atas pelat pemanas sampai hampir kering dan

didinginkan. Ditambahkan kembali 5 mL HNO3 dan akuades secukupnya,

dipanaskan dan dididihkan di atas pelat pemanas sampai garam-garam yang

terbentuk larut kembali dan didinginkan. Dimasukkan larutan ke dalam labu ukur

100 mL dan ditambahkan dengan akuades sampai tanda batas dan dikocok sampai

homogen, biarkan beberapa saat.

5) Pengukuran larutan dengan AAS

Diukur serapan dari larutan standar, blangko dan contoh pada panjang

gelombang masing-masing unsur dengan AAS. Digunakan nyala (flame) dari

campuran udara-asetilena (udara-C2H2) sesuai dengan unsur yang akan diperiksa.

Membandingkan serapan larutan contoh dari masing-masing unsur dengan

serapan larutan standar, dihitung kadar masing-masing.

6) Analisa Sampel dengan Metode XRF

Dimasukkan sampel ke dalam P1 (tempat sampel pada XRF) hingga tinggi

sampel 1/3 dari tinggi P1. Kemudian sampel dipress menggunakan hydraulic

press. Sampel dimasukkan yang sudah dipress ke dalam alat XRF. Selanjunya

dianalisa dengan XRF.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Waktu dan Lokasi Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan pada akhir bulan Mei 2013 pada dua lokasi

pertambangan rakyat yang terletak di Kabupaten Buru, yakni Gunung Gogorea

dan Gunung Botak. Pada masing-masing lokasi, pengambilan sampel dilakukan

pada dua titik yang ditentukan dengan menggunakan GPS.

Pengambilan sampel (material) pada lokasi pertambangan di Gunung

Gogorea dengan titik pertama (GM1) berada pada titik koordinat (S : 03°18'33.5"

E : 126°59'57.8") dan titik kedua (GM2) pengambilan sampel berada pada titik

koordinat (S : 03°18'33.6" E : 126°59'56.5"). Sedangkan pada lokasi

pertambangan di Gunung Botak dengan titik pertama (BM1) berada pada titik

koordinat (S : 03°25'0.21" E : 127°0.3'25.8") dan titik kedua (BM2) pengambilan

sampel berada pada titik koordinat (S : 03°25'0.22" E : 127°0.3'26.9"). Lokasi

pengambilan sampel diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di Gunung Gogorea dan


Gunung Botak
IV.2 Kondisi Lokasi Pertambangan

Penambangan emas di Kabupaten Buru dilakukan di kawasan

pertambangan emas Gunung Gogorea dan Gunung Botak dengan sistem

penambangan bawah tanah dengan cara membuat terowongan seperti sumur yang

mempunyai diameter sekitar 1 m dan mempunyai kedalaman yang berbeda-beda.

Penambangan dilakukan secara tradisional yang bersifat ilegal, karena tidak

memiliki izin penambangan dari pemerintah setempat. Penggalian lubang atau gua

biasanya dilakukan pada musim kemarau. Hal ini dikarenakan pada musim hujan

bisa menyebabkan tanah basah, sehingga rentan terjadinya longsor pada bagian

dinding lubang atau gua hasil dari penggalian. Hal ini pula dapat mengakibatkan

bentangan alam rusak dan mengancam para penambang. Lubang atau gua

penambangan emas dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Lubang penggalian emas

Kondisi daerah pertambangan di lokasi penelitian di Gunung Gogorea dan

Gunung Botak seperti lahan gambut yang kosong dan kering, struktur tanah yang

keras, berwarna kuning kecoklatan seperti pada Gambar 3.


(a) (b)
Gambar 3. Material dari Gogorea (a) dan material dari Gunung Botak (b)

Aktivitas penambangan di Kabupaten Buru dilakukan secara berkelompok

dengan menggunakan alat yang sederhana. Kegiatan tersebut menghasilkan

material hasil tambang yang kemudian dimasukkan pada setiap karung. Material

yang mengandung bijih emas hasil penambangan tersebut diangkut dan dibawa ke

desa untuk dilakukan pengolahan. Pengolahan emas yang terdapat di Kabupaten

Buru diketahui berdasarkan observasi. Untuk mengekstraksi emas dari bijihnya,

penambang umumnya menggunakan teknik amalgamasi. Teknik ini merupakan

teknik pengolahan emas dengan menggunakan bahan kimia merkuri dan alat

tromol. Adapun proses pengolahannya terdiri dari tahap penumbukan,

penggilingan, pencucian, dan pembakaran. Mineral yang mengandung bijih emas

dari hasil penambangan ditumbuk sampai hancur sehingga mempunyai ukuran

yang lebih kecil untuk dimasukkan ke tromol. Amalgam yang dihasilkan dari

proses amalgamasi, kemudian dicuci dan diperas menggunakan kain parasut.

Tahap selanjutnya dilakukan pemurnian atau pemisahan merkuri dari amalgam

dengan cara dibakar.


IV.3 Analisis Kadar Logam dengan AAS

IV.3.1 Logam emas (Au)

Emas merupakan logam transisi dalam tabel periodik yang memiliki

simbol Au berasal dari bahasa Latin aurum (Arora, 2005). Logam ini tidak reaktif

dan tidak diserang oleh oksigen atau sulfur namun mudah bereaksi dengan

halogen atau larutan yang mengandung atau melepaskan klor seperti aqua regia,

konduktivitas listrik yang baik, mampu ditempa dan ulet (Cotton dan Wilkinson,

1989). Sampel yang telah dipreparasi kemudian dianalisis untuk mengetahui

kadarnya yang berada pada dua lokasi pertambangan. Hasil analisis kadar logam

Au pada lokasi Gogorea (GM) dan lokasi Gunung Botak (BM) dapat dilihat pada

Tabel 2 (Lampiran 3, 4, 5, dan 6).

Tabel 2. Kadar logam emas (Au)


No. Kode sampel Kadar (ppm)
GM1 180
1
GM2 52
BM1 9,23
2
BM2 4,21

Dari Tabel di atas, hasil penelitian menunjukkan bahwa logam emas (Au)

di lokasi pertambangan Gunung Gogorea pada titik pertama (GM1) yaitu sebesar

180 ppm dan pada titik kedua (GM2) yaitu sebesar 52 ppm. Sedangkan pada

lokasi Gunung Botak pada titik pertama (BM1) yaitu sebesar 9,23 ppm dan pada

titik kedua (BM2) yaitu sebesar 4,21 ppm. Berikut histogram hasil analisis kadar

logam emas (Au) pada sampel (material) dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Histogram kadar logam emas (Au) pada sampel (material)

Pada Gambar 4 di atas, dapat dilihat bahwa kadar logam emas (Au)

tertinggi terdapat di lokasi pertambangan Gunung Gogorea pada titik pertama

(GM1) yaitu sebesar 180 ppm. Sedangkan kadar emas terendah terdapat di lokasi

pertambangan Gunung Botak pada titik pengambilan sampel kedua (BM2) yaitu

sebesar 4,21 ppm. Dari gambar di atas juga dapat dilihat perbandingan kadar

logam tertinggi antara kedua lokasi dengan jelas bahwa pada lokasi Gunung

Gogorea lebih tinggi dari pada lokasi Gunung Botak untuk setiap titik

pengambilan sampelnya. Akan tetapi, jika dilihat yang terjadi di lapangan

berbanding terbalik dengan hasil yang diperoleh dari hasil uji laboratorium yaitu,

jumlah logam Au (%) yang diperoleh dari hasil penambangan para penambang

Gunung Botak mempunyai hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil

yang didapat oleh penambang dari Gunung Gogorea. Perbedaan kadar logam Au

antara hasil uji laboratorium dengan hasil yang diperoleh para penambang di

kedua lokasi (GM dan BM) dapat disebabkan karena proses pengambilan sampel

untuk pengujian laboratorium hanya berada pada satu titik kedalaman, sehingga
tidak diketahui dengan pasti pola sebaran dari cebakan logam Au yang

mengakibatkan perbedaan kadar logam dari kedua lokasi yang diperoleh tidak

begitu efisien.

IV.3.2 Logam perak (Ag)

Perak murni memiliki warna putih yang terang. Unsur ini sedikit lebih keras

dibanding emas dan sangat lunak serta mudah dibentuk. Perak murni memiliki

konduktivitas kalor dan listrik yang sangat tinggi diantara semua logam dan

memiliki resistansi kontak yang sangat kecil. Logam perak (Ag) juga merupakan

salah satu jenis logam di alam bebas yang dapat ditemukan bersamaan dengan

logam-logam lain, misalnya tembaga dan emas. Perak dapat dipadukan dengan

atom-atom dalam golongannya dan diperoleh berbagai jenis logam paduan dengan

berbagai sifat (Widarto 2006). Dari penelitian ini dapat dilihat perbandingan

logam perak (Ag) di lokasi Gunung Gogorea dan Gunung Botak pada Tabel 3

(Lampiran 3, 4, 5, dan 6).

Tabel 3. Kadar logam perak (Ag)


No. Kode sampel Kadar (ppm)
GM1 37,1
1
GM2 -
BM1 -
2
BM2 -

Hasil penelitian kadar logam perak (Ag) di pertambangan rakyat pulau

Buru di dua lokasi yaitu Gunung Gogorea dan Gunung Botak dapat dilihat dari

Tabel di atas, menunjukkan bahwa pada lokasi Gunung Gogorea di titik pertama

(GM1) yaitu sebesar 37,1 ppm dan titik kedua logam perak (Ag) (GM2) tidak
terdeteksi. Begitu juga dengan lokasi gunung Botak pada titik pertama (BM1) dan

titik kedua (BM2) kadar logam perak (Ag) sama-sama tidak terdeteksi. Berikut

histogram hasil analisis kadar logam perak (Ag) pada sampel (material) dapat

dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Histogram kadar logam perak (Ag) pada sampel (material)

Pada Gambar 5, dapat dilihat secara langsung perbandingan kadar dari dua

lokasi tersebut (Gunung Gogorea dan Gunung Botak) yang dapat teridentifikasi

adanya logam perak (Ag) hanya pada lokasi Gunung Gogorea pada titik pertama

(GM1) yaitu sebesar 37,1 ppm. Kadar logam Ag yang tidak teridentifikasi AAS

disebabkan karena kadar yang diperoleh berada di bawah 5 ppm. Seperti halnya

pada perbandingan kadar logam Au antara kedua lokasi, perbandingan kadar

logam Ag yang teridentifikasi hanya pada satu titik pun dapat disebabkan karena

proses pengambilan sampel hanya berada pada satu titik kedalaman (lokasi

Gunung Gogorea berkisar antara 30-40 meter sedangkan lokasi Gunung Botak

berkisar antara 20-30 meter) tanpa diketahui dengan pasti pola sebaran dari logam
Ag yang mengakibatkan perbedaan kadar logam dari kedua lokasi yang diperoleh

tidak begitu efisien.

IV.3.3 Logam tembaga (Cu)

Tembaga merupakan salah satu unsur logam transisi dengan nama

kimia Cupprum yang dilambangkan dengan Cu dan berwarna cokelat

kemerahan dalam bentuk kristal serta merupakan konduktor panas dan listrik

yang sangat baik. Di alam, tembaga terdapat dalam bentuk bebas maupun dalam

bentuk senyawa-senyawa, dan terdapat dalam bentuk biji tembaga seperti

(CuFeS2), cuprite (Cu2O), chalcosite (Cu2S), dan malasite (Cu2(OH)2CO3). Pada

pertambangan logam mulia seperti emas terdapat residu Cu yang dihasilkan dan

mencemari lingkungan (Manggara dkk., 2007). Dalam penelitian ini dapat dilihat

perbandingan antara kadar logam tembaga (Cu) yang ada pada lokasi tambang

Gogorea dan Gunung Botak pada Tabel 4 (Lampiran 3, 4, 5, dan 6).

Tabel 4. Kadar logam tembaga (Cu)


No. Kode sampel Kadar (ppm)
GM1 27
1
GM2 26
BM1 24
2
BM2 27

Hasil penelitian kadar logam tembaga (Cu) di pertambangan rakyat pulau

Buru di dua lokasi yaitu Gogorea dan gunung Botak dapat dilihat dari Tabel di

atas menunjukkan bahwa pada lokasi Gunung Gogorea di titik pertama (GMI)

yaitu sebesar 27 ppm dan titik kedua (GM2) yaitu sebesar 26 ppm. Sedangkan

pada lokasi gunung Botak titik pertama (BM1) yaitu sebesar 24 ppm dan titik

kedua (BM2) yaitu sebesar 27 ppm. Dari hasil yang diperoleh, maka dapat dilihat

bahwa perbandingan kadar logam tembaga (Cu) dari dua lokasi yang berbeda
yaitu pada Gunung Gogorea titik pertama (GM1) dan Gunung Botak titik kedua

(BM2) memiliki kadar yang sama dan merupakan kadar tembaga tertinggi yaitu

sebesar 27 ppm. Sedangkan kadar tembaga terendah berada pada lokasi Gunung

Botak titik pertama (BM1) yaitu sebesar 24 ppm. Berikut histogram hasil analisis

kadar logam tembaga (Cu) pada sampel (material) dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Histogram kadar logam tembaga (Cu) pada sampel (material)

Pada Gambar 6 di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa hasil yang

diperoleh menunjukkan kadar tembaga (Cu) keseluruhan dari dua lokasi dan titik

pengambilan sampel yang berbeda menunjukkan hasil yang tidak terlalu jauh

berbeda yaitu berkisar di antara 24-27 ppm. Hal ini disebabkan karena

pengambilan sampel hanya berada pada lokasi penggalian yang berada pada

pengunungan, sehingga kadar logam yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh faktor

lain. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kadar dari logam yang diambil

adalah mengalami pengenceran atau terbawa oleh arus air yang menyebabkan

kadar logam Cu dapat berkurang atau bertambah ketika terakumulasi pada satu

titik. Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilaporkan oleh Maslukah (2006)
tentang Logam Cu dan Pola Sebarannya di Muara Banjir Kanal Semarang,

memperoleh hasil perbandingan yang terbilang cukup jauh berbeda selisihnya

antara kadar logam Cu tertinggi dan terendah di beberapa stasiun yaitu kadar

logam Cu tertinggi sebesar ppm dan kadar logam Cu terendah yaitu

sebesar ppm. Hal ini disebabkan karena faktor pengambilan sampel yang

dipengaruhi oleh kondisi air (arus air).

Perbandingan kadar logam emas (Au), logam perak (Ag), dan logam

tembaga (Cu) yang teridentifikasi menggunakan AAS pada kedua lokasi

pengambilan sampel (Gunung Gogorea dan Gunung Botak) dapat dilihat bahwa

kadar logam tertinggi terdapat di lokasi pertambangan Gunung Gogorea pada titik

pertama (GM1) yaitu sebesar 180 ppm. Sedangkan kadar emas terendah terdapat

di lokasi pertambangan Gunung Botak pada titik pengambilan sampel kedua

(BM2) yaitu sebesar 4,21 ppm; perbandingan kadar logam perak (Ag) hanya pada

lokasi Gunung Gogorea pada titik pertama (GM1) yang dapat teridentifikasi yaitu

sebesar 37,1 ppm; dan perbandingan kadar logam tembaga (Cu) pada Gunung

Gogorea titik pertama (GM1) dan Gunung Botak titik kedua (BM2) memiliki

kadar yang sama dan merupakan kadar tembaga tertinggi yaitu sebesar 27 ppm.

Sedangkan kadar tembaga terendah berada pada lokasi Gunung Botak titik

pertama (BM1) yaitu sebesar 24 ppm (Lampiran 1). Secara keseluruhan

perbandingan kadar logam emas (Au), logam perak (Ag), dan logam tembaga

(Cu) pada kedua lokasi pengambilan sampel dipengaruhi oleh pola sebaran

cebakan dan urat-urat pembentukan logam (vein) tidak diketahui dengan pasti,

karena pegambilan sampel dilakukan tanpa adanya variasi kedalaman dari tiap

titik.
IV.4 Analisis Logam dengan XRF

Pengujian X-Ray Fluorescence pada sampel yang diambil dari salah satu

titik pengambilan sampel yaitu Gunung Botak (BM) berupa hasil analisis

kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis kualitatif yaitu mengidentifikasi jenis

unsur yang terkandung dalam sampel, sedangkan analisis kuantitatif yaitu

mengidentifikasi jumlah unsur yang terkandung dalam sampel berupa konsentrasi

unsur dalam bilangan perseratus (%) dari sampel yang diuji. Hasil analisis dengan

motede XRF dapat dilihat pada Tabel 5 (Lampiran 7).

Tabel 5. Hasil analisis dengan XRF


No. Logam Konsentrasi (%)
1 Si 27,8900
2 Ti 0,4660
3 Al 11,3300
4 Fe 5,8100
5 Mn 0,0039
6 Ca 0,0087
7 Mg 0,3740
8 Na 0,0866
9 K 2,1700
10 P 0,0124
11 S 0,0240
12 Zr 0,0182
13 Cu 0,0026
14 V 0,0106
15 Cr 0,0084
16 Ba 0,0279
17 Rb 0,0059
18 Ga 0,0025
19 Y 0,0028
20 Sb 0,0129

Tabel 5 di atas, menunjukkan bahwa jumlah logam yang terindentifikasi

adalah 20 logam dengan konsentrasi logam Cu yang diperoleh yaitu sebesar

0,0026 % dan terbentuk dalam persenyawaan oksidanya yaitu CuO (Lampiran 7).

Kandungan logam ini dipengaruhi oleh struktur geologi. Struktur geologi yang
penting adalah rekahan (Joint) dan patahan (Fault). Adanya rekahan dan patahan

ini akan mempengaruhi dan mempermudah rembesan air ke dalam tanah dan akan

mempercepat proses pelapukan terhadap batuan induk. Selain itu, kandungan

logam juga dipengaruhi oleh topografi. Secara teoritis, daerah yang baik untuk

tempat pengendapan bijih logam adalah punggung bukit yang landai dengan

kemiringan antara 10-30% dimana pada tempat ini pelapukan secara mekanis dan

kimia memungkinkan terbentuknya endapan bijih logam pada batuan ultrabasa

(Alam, 2011).
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan

bahwa :

1. Kadar logam Emas (Au) di lokasi pertambangan Gunung Gogorea pada titik

pertama (GM1) yaitu sebesar 180 ppm dan pada titik kedua (GM2) yaitu

sebesar 52 ppm. Sedangkan pada lokasi Gunung Botak pada titik pertama

(BM1) yaitu sebesar 9,23 ppm dan pada titik kedua (BM2) yaitu sebesar 4,21

ppm; Kadar logam Perak (Ag) di lokasi Gogorea titik pertama (GM1) yaitu

sebesar 37,1 ppm dan titik kedua (GM2) tidak terdeteksi. Begitu juga dengan

lokasi gunung Botak pada titik pertama (BM1) dan titik kedua (BM2) kadar

logam Perak (Ag) sama-sama tidak terdeteksi; dan kadar logam Tembaga

(Cu) di lokasi Gunung Gogorea titik pertama (GMI) yaitu sebesar 27 ppm dan

titik kedua (GM2) yaitu sebesar 26 ppm. Sedangkan pada lokasi gunung

Botak titik pertama (BM1) yaitu sebesar 24 ppm dan titik kedua (BM2) yaitu

sebesar 27 ppm.

2. Perbandingan kadar logam Emas (Au) tertinggi terdapat di lokasi

pertambangan Gunung Gogorea pada titik pertama (GM1) yaitu sebesar 180

ppm. Sedangkan kadar emas terendah terdapat di lokasi pertambangan

Gunung Botak pada titik pengambilan sampel kedua (BM2) yaitu sebesar

4,21 ppm; perbandingan kadar logam Perak (Ag) hanya pada lokasi Gunung

Gogorea pada titik pertama (GM1) yang dapat teridentifikasi yaitu sebesar

37,1 ppm; dan perbandingan kadar logam tembaga (Cu) pada Gunung
Gogorea titik pertama (GM1) dan Gunung Botak titik kedua (BM2) memiliki

kadar yang sama dan merupakan kadar tembaga tertinggi yaitu sebesar 27

ppm. Sedangkan kadar tembaga terendah berada pada lokasi Gunung Botak

titik pertama (BM1) yaitu sebesar 24 ppm.

V.2 Saran

Yang menjadi saran dari hasil penelitian ini adalah :

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait perbandingan kadar logam Au,

Ag, dan Cu berdasarkan kedalaman penggalian pada lokasi pertambangan

sehingga dapat diketahui pola sebarannya yang mengacu pada perolehan

kadar logam secara maksimal.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai analisis kadar logam pengikut

logam Emas yang lain seperti Pb, Cd dan logam lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abrar Saleng, 2004, Hukum Pertambangan, UII Pres Jogyakarta.

Ahyani, M. 2011. Pengaruh Kegiatan Penambangan Emas Terhadap Kondisi


Kerusakan Tanah Pada Wilayah Pertambangan Rakyat Di Bombana
Provinsi Sulawesi Tenggara. Tesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

Alam, A.F, 2011, Analisis Perubahan Kadar Nikel Saprolit dari Kegiatan
Eksplorasi Sampai Kegiatan Penambangan pada PT. Gane Permai Sentosa
(GPS) Kecamatan Obi Utara Kabupaten Halmahera Selatan Propinsi
Maluku Utara, Skripsi S-1, http://wikipedia. Com, 25 Agustus 2017.

Arora, A. (2005). Text Book of Inorganic Chemistry. New Delhi, India: Arora
Offset Press.

Brady, J. E., 2002. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jilid II, Penerbit
Binarupa Aksara, Jakarta.

Cotton, F. A. dan Wilknson, G. (1989). Kimia Anorganik Dasar. (Alih bahasa:


Sahati Suharto). Jakarta: UI-Press.

Effendy, 2007, perspektif baru kimia koordinasi, jilid satu, bayu media
publishing, Malang.

Faddhila, U. N., Wijaya, N. F. D., dan Rahman, F., 2007. Pertambangan Emas di
Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Propinsi D.I. Yokyakarta di
Tinjau dari Aspek Ekonomis dan Ekologi serta Alternatif Pemecahannya.
Sagasitas Scientific Journal. (1): 84-101.

Google Eart, 2017. Peta Pulau Buru. http://Googleearth.com [31 Juli 2017, 04:30
WIT].

Manggara PP, Denni W, Sabtanto JS, Asep A. 2007. Penyelidikan potensi bahan
pada tailing PT. Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika. Prosiding
Pemaparan Hasil Kegiatan Lapangan dan Non Lapangan Tahun 2007.
Pusat Sumber Daya Geologi. hlm 1-9.

Merian, E 1994 Toxic Metal In The Environment. VCH Verlagsgeselischatt mbH.


Weinheim.

Maslukah, L., 2006. Konsentrasi Logam Berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Pola
Sebarannya di Muara Banjir Kanal, Semarang, Tesis, Program Studi Ilmu
Kelautan Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor. Hal : 30-31.
Mohsin, Yulianto, 2006, “Perak”, http://Chem-is-Try.Org/, diakses tanggal 20
Agustus 2013 jam 13.10 WIB

PANalytical, B.V., 2009, X-ray Fluorescence Spectrometry, (Online),


http://www.panalytical.com/index.cfm?pid=130, diakses tanggal 28
Agustus 2013

Skoog, West, Holler, Crouch. 2000. Fundamental of Analytical chemistry


Thomson Brook/Cole

Sudarsono, A. S., 2003. Pengantar Pengolahan dan Ekstraksi Bijih Emas.


Departemen Ternik Pertambangan Institut Teknologi Bandung.

Sugiyarto, K. H., dan Suyanti, R. D., 2010. Kimia Anorganik Logam. Edisi
Pertama. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta

Sugiyarto, Kristian, H., (2003), Kimia Anorganik III, FMIPA UNY, Yogyakarta,
h. 264-271.

Viklund, A., 2008, Teknik Pemeriksaan Material Menggunakan XRF, XRD dan
SEM-EDS, (Online), http://labinfo.wordpress.com/, diakses tanggal 20
Februari 2014.

Vogel. 1994. Qualitative Inorganik Analysis. Departement of Chemistry queens


University. Belfast, N. Ireland.

Widarto, K. Z. 2006. Penentuan Kemurnian Perak Sebagai Industri Kerajinan


Perak Dengan Metode Aktivasi Neutron.[Prosiding] SDM Teknologi Nuklir
BATAN ISSN 1978-0176

Widodo.2008. Pengaruh Perlakuan Amalgamasi terhadap Tingkat Perolehan


Emas dan Kehilangan Merkuri.Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan :
18(1): 47-53.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabel Perbandingan Kadar Logam Au, Ag, dan Cu pada Kedua
Lokasi Pertambagan Gunung Gogorea dan Gunung Botak

Kadar Logam (ppm)


No Lokasi
Au Ag Cu

GM1 180 37,1 27


Gunung
1
Gogorea
GM2 52 - 26

BM1 9,23 - 24
Gunung
2
Botak
BM2 4,21 - 27
Lampiran 2. Dokumentasi Proses Pengambilan dan Preparasi Sampel
Logam Au, Ag, dan Cu

a. Survey lapangan b. Pengambilan data


kedalaman pengambilan sampel

c. Persiapan pengambilan sampel d. Sampel yang telah diambil

e. Penimbangan sampel f. Pelabelan sampel


Lampiran 3. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik Sampel
Satu di Lokasi Gunung Gogorea (GM1)
Lampiran 4. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik Sampel
Dua di Lokasi Gunung Gogorea (GM2)
Lampiran 5. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik Sampel
Satu di Lokasi Gunung Botak (BM1)
Lampiran 6. Hasil Analisis AAS Logam Au, Ag, dan Cu pada Titik Sampel
Dua di Lokasi Gunung Botak (BM2)
Lampiran 7. Hasil Analisis Material dengan XRF