Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Glukosa
Glukosa adalah salah satu monosakarida sederhana yang
mempunyai rumus molekul C6H12O6. Kata glukosa diambil dari
bahasa Yunani yaitu glukus (γλυκύς) yang berarti manis, karena
memang nyata bahwa glukosa mempunyai rasa manis. Nama lain
dari glukosa antara lain dekstrosa, D-glukosa, atau gula buah
karena glukosa banyak terdapat pada buah-buahan. Glukosa
merupakan suatu aldoheksosa yang mempunyai sifat dapat
memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan (Jing Qi, 2008).

Gambar II.1 Struktur tiga dan dua dimensi glukosa

Di alam, glukosa dihasilkan dari reaksi antara


karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan
klorofil dalam daun. Proses ini disebut fotosintesis dan glukosa
yng terbentuk terus digunakan utuk pembentukan amilum atau
selulosa.

3
6 CO2 + 6 H2O → C6H12O6 + 6 O2
Amilum terbentuk dari glukosa dengan jalan penggabungan
molekul-molekul glukosa yang membentuk rantai lurus maupun
bercabang dengan melepaskan molekul air.
nC6H12O6→(C6H10O5)n+nH2O
Glukosa rantai terbuka mempunyai enam rantai karbon,
dari C1 sampai C6. Pada C1 terdapat gugus fungsi aldehida,
sedangkan C yang lain mengikat gugus hidroksi dan atom
hidrogen. Gugus hidroksi pada C2, C4, dan C5 harus berada di
sebelah kanan, sedangkan gugus hidroksi pada C3 harus di
sebelah kiri. Penyusunan struktur glukosa yang demikian
dinamakan proyeksi Fischer.

Gambar II.2 Bentuk rantai D-glukosa

Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-


mana dalam biologi. Kita dapat menduga alasan mengapa
glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti fruktosa, begitu
banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida
pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem
biokimia primitif. Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat
atas adalah kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula
heksosa lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara nonspesifik
dengan gugus amino suatu protein.

4
Gambar II.3 Proyeksi Haworth struktur glukosa

Berdasarkan bentuknya, molekul glukosa dapat dibedakan


menjadi 2 jenis yaitu molekul D-Glukosa dan L-Glukosa. Faktor
yang menjadi penentu dari bentuk glukosa ini adalah posisi gugus
hidrogen (-H) dan alkohol (–OH) dalam struktur molekulnya.
Glukosa yang berada dalam bentuk molekul D & L-Glukosa
dapat dimanfaatkan oleh sistim tumbuh-tumbuhan, sedangkan
sistim tubuh manusia hanya dapat memanfaatkan DGlukosa.
Glukosa juga akan berperan sebagai sumber energi utama bagi
kerja otak. Melalui proses oksidasi yang terjadi di dalam sel-sel
tubuh, glukosa kemudian akan digunakan untuk mensintesis
molekul ATP (adenosine triphosphate) yang merupakan molukel
molekul dasar penghasil energi di dalam tubuh. , proses
metabolisme glukosa akan berlangsung melalui 2 mekanisme
utama yaitu melalui proses anaerobik dan proses aerobic.

II.2 HMF (Hydroxymethylfurfural)


Glukosa dapat terbentuk melalui proses hidrolisis sellulosa,
kemudian glukosa mengalami dehidrasi lebih lanjut dan
membentuk HMF (Hydroxymethylfurfural). HMF
(Hydroxymethylfurfural) senyawa organik yang berasal dari
dehidrasi gula tertentu. HMF, yang berasal dari heksosa ,
merupakan potensi "karbon netral" bahan baku untuk bahan bakar
dan bahan kimia. Molekul HMF terdiri dari cincin furan yang
memiliki gugus fungsi aldehid dan alkohol. HMF atau yang
memiliki nama IUPAC 5-HydroxyMethyl-2-Furaldehyde juga
dapat diperoleh dari selulosa tanpa proses fermentasi, yang

5
merupakan bahan baku untuk bahan bakar dan bahan kimia
lainnya (Nathan, 2002).

Gambar II.4 Struktur Molekul HMF

II.2.1 Produksi HMF


Terkait dengan produksi furfural , HMF diproduksi
dari gula . Hal ini muncul melalui dehidrasi fruktosa .
Perlakuan fruktosa dengan asam diikuti dengan ekstraksi
cair-cair dalam pelarut organik seperti metil isobutil keton .
Konversi dipengaruhi oleh berbagai aditif seperti DMSO ,
2-butanol , dan polivinil pirolidon , yang meminimalkan
pembentukan produk samping . Cairan ionik memfasilitasi
konversi fruktosa ke HMF (Samuel,1962).

Gambar II.5 Pembentukan HMF

Pada gambar di atas ditampilkan dalam serangkaian


kesetimbangan kimia : fructopyranose 1, fructofuranose 2,
dua tahap menengah dehidrasi (tidak terisolasi) 3,4 dan
akhirnya HMF 5. Chromous klorida mengkatalisis konversi
dari fruktosa (yield 90% ) dan glukosa (yield 70%) menjadi

6
HMF. Selulosa juga dapat dikonversi menjadi HMF (yield
55% pada kemurnian 96%), dalam proses yang keluar
melalui intermediasi glukosa dan fruktosa (Samuel,1962).
HMF yang dibentuk dari dehidrasi heksosa, pertama
kali muncul pada abad-19. HMF sangat berguna tidak
hanya dalam pembentukan dimetilfuran (DMF) dan
molekul lainnya tetapi juga untuk molekul lain seperti asam
levulenat, asam 2,5-furandikarboksilat (FDA), 2,5-
diformilfuran (DFF), dihidroksilmetilfurat dan asam 5-
hidroksi-4-keto-2-pentonat (Samuel,1962).

Gambar II.6 Berbagai Senyawa Kimia Lain dari HMF

II.2.2 Penggunaan HMF (Hydroxymethylulfural)


HMF dapat dikonversi ke 2,5-dimethylfuran (DMF),
yang merupakan biofuel cair yang dengan cara tertentu
lebih unggul daripada etanol. Oksidasi dari HMF juga
memberikan asam 2,5-furandicarboxylic , yang telah
diusulkan sebagai pengganti asam tereftalat dalam produksi
poliester.
HMF akan menjadi kunci utama dalam
pengembangan bahan bakar berbasis biomassa atau
biorefineris (Lanzafame et al, 2011). Karena HMF dan
7
derivatnya telah dikenal sebagai pengganti senyawa kimia
berbasis minyak bumi yang sangat menjanjikan (Román-
Leshkov et al, 2007). HMF dapat dianggap sebagai
molekul platform yang sangat baik yang dapat dikonversi
menjadi senyawa peningkat nilai oktan, yakni 2,5-
dimethylfuran (DMF), menjadi monomer pembetuk
polimer yang sangat berharga, yakni 2,5-carboxyfuran dan
2,5-hydroxymethylfuran, juga menjadi intermediet untuk
senyawa-senyawa kimia yang lain. HMF telah berhasil
diproduksi dari heksosa seperti glukosa dan fruktosa, dan
bahkan dari selulosa dan lignoselulosa langsung (Nathan,
2002).

II.3 Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi
kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau
terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam
reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis
memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau
memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan
yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu
jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis
mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi
(Herres, 2006).
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama:
katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis heterogen adalah
katalis yang ada dalam fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi
yang dikatalisinya, sedangkan katalis homogen berada dalam fase
yang sama. Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau
lebih pereaksi untuk membentuk suatu perantara kimia yang
selanjutnya bereaksi membentuk produk akhir reaksi, dalam suatu
proses yang memulihkan katalisnya (Herres, 2006).

8
II.3.1 Asam Sulfat (H2SO4) sebagai Katalis
Asam sulfat, H2SO4 merupakan asam mineral
(anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua
perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan
dan merupakan salah satu produk utama industri kimia.
Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat,
dan apabila dididihkan ia akan melepaskan SO3 pada titik
didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98%
lebih stabil untuk disimpan, dan merupakan bentuk asam
sulfat yang paling umum kita jumpai. Asam sulfat 98% pada
umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Asam sulfat
juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai
contoh, asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya
digunakan untuk mengubah sikloheksanonoksim menjadi
kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga
digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui
proses Mannheim. Banyak H2SO4 digunakan dalam
pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai katalis untuk
reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan
isooktana.
Dalam hal ini, asam sulfat merupakan katalis yang
digunakan untuk degradasi monosakarida di dalam
hidroksilat. Asam sulfat digunakan karena menghasilkan
presentasi HMF yang lebih besar dari asam yang lainnya.
Konsentrasi katalis yang tinggi dapat meningkatkan
konsentrasi (H+) dalam larutan sehingga semakin banyak
glukosa yang terkonversi menjadi HMF (Philip, 1981).

II.4. Degradasi Glukosa menjadi HMF


(Hydroxymethylfurfural)
Selulosa sebagai komponen terbesar dalam lignoselulosa
dapat diisolasi dengan cara delignifikasi. Delignifikasi merupakan
suatu proses pembebasan lignin dari suatu senyawa kompleks.
Delignifikasi bertujuan untuk memudahkan pelepasan
hemiselulosa dan mengurangi kandungan lignin. Setelah

9
didapatkannya selulosa yang murni, tahapan selanjutnya adalah
hidrolisis selulosa menjadi monomer-monomernya, yakni
glukosa. glukosa mengalami dehidrasi lebih lanjut menjadi HMF
(Hydroxymethylfurfural). Di dalam reaksi hidrolisa untuk
mengkonversi hexosans (polisakarisa) menjadi hexoses
(monosakarida), sejumlah besar monosakarida bereaksi untuk
membentuk HMF (Hydroxymethylfurfural) (Nathan, 2002).

Gambar II.7 Degradasi Glucose menjadi Hydroxymethylfurfural

Glukosa terdegradasi menjadi HMF


(Hydroxymethylfurfural) melalui bantuan katalis asam yaitu asam
sulfat. Ion (H+) pada asam sulfat akan membantu decomposisi
glukosa menjadi HMF dengan konsentrasi asam sulfat yang
tinggi. Glukosa lebih cepat terdegradasi di temperature
tinggi.Degradasi glukosa pada waktu tinggal yang singkat
mengikuti kinetika orde pertama, tapi untuk waktu tinggal yang
lama kinetika reaksi orde pertama tidak dapat di aplikasikan (Jing
Qi, 2008).

II.5 Kinetika Reaksi Degradasi Glukosa menjadi HMF


(Hydroxymethylfurfural)
II.5.1 Kinetika Reaksi
Kinetika Reaksi adalah cabang ilmu yang
mempelajari reaksi kimia secara kuantitatif dan juga
mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Laju
reaksi kimia adalah jumlah mol reaktan per satuan volume
yang bereaksi dalam satuan waktu tertentu (Philip. 1981).
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu
menghasilkan antar perubahan senyawa kimia. Senyawa

10
ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat dalam reaksi
disebut sebagai reaktan. Reaksi kimia biasanya
dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi, dan akan
menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki
ciri-ciri yang berbeda dari reaktan.
Pada dekomposisi glukosa menjadi HMF reaksinya
secara stoichiometri dapat digambarkan sebagai :

C6H12O6 C6H3O3 + H2O

II.5.2 Kecepatan Reaksi


Factor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi
1. Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh ukuran
partikel/zat.
Semakin luas permukaan maka semakin banyak
tempat bersentuhan untuk berlangsungnya reaksi.
Luas permukaan zat dapat dicapai dengan cara
memperkecil ukuran zat tersebut
2. Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh suhu.
Semakin tinggi suhu reaksi, kecepatan reaksi juga
akan makin meningkat sesuai dengan teori
Arhenius.
3. Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh katalis.
Adanya katalisator dalam reaksi dapat
mempercepat jalannya suatu reaksi. Kereakifan
dari katalis bergantung dari jenis dan konsentrasi
yang digunakan.
4. Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh tekanan
Jika tekanan semakin besar, maka laju reaksi
semakin besar.

II.5.3 Kinetika Degradasi Glukosa menjadi HMF


(Hydroxymethylfurfural)
II.5.3.1 Pembentukan HMF dari Glukosa

11
Glukosa lebih cepat terdegradasi di temperature
tinggi.degradasi glukosa pada waktu tinggal yang singkat
mengikuti kinetika orde pertama, tapi untuk waktu tinggal
yang lama kinetika reaksi orde pertama tidak dapat di
aplikasikan. Reaksi decomposisi glukosa menjadi HMF
dapat di tunjukkan seperti model di bawah ini :
Glukosa HMF + 3 H2O
Persamaan kecepatan reaksinya dapat di tulis sebagai
berikut :

Bila persamaan diatas mengikuti orde 1 maka :

Dengan membuat grafik t (waktu) vs maka akan di


dapatkan harga n (orde) dan k (konstanta kecepatan reaksi).

II.5.3.2 Energi Aktivasi


Energi aktivasi adalah suatu energi minimum yang
dibutuhkan agar reaksi kimia tertentu dapat terjadi. Energi
aktivasi berpengaruh pada rate reaksi (cepat atau lambat
reaksi berlangsung).

12
Contoh yang sederhana adalah reaksi exothermal yang
digambarkan seperti di bawah ini :

Gambar II.8 Grafik Profil Energi Aktivasi

Jika partikel-partikel bertumbukan dengan energi yang


lebih rendah dari energi aktivasi, tidak akan terjadi reaksi
dan akan kembali ke keadaan semula. Hanya tumbukan
yang memiliki energi sama atau lebih besar dari aktivasi
energi yang dapat menghasilkan terjadinya reaksi.
Energi aktivasi dihitung dengan persamaan Arrhenius :

Dimana:
k = konstanta laju reaksi (mol/m3)1-n s-1
k0 = konstanta Arrhenius (mol/m3) s-1
Ea = Energi Aktivasi Reaksi (J/mol)
R = Konstanta gas ideal
= 8.314 J/mol.K
= 1.987 cal/mol.K
sebagai slope dan ln k0 sebagai intercept.

13
II.6 Penelitian Terdahulu
1. Samuel W. Mckibbins, John F. Harris, Jerome F.
Saeman, Wayne K. Neill (1962). Kinetics of the acid
catalyzed conversion of glucose to 5-Hydroxymethyl-2-
Furadehyde and Levulinic acid. Penelitian ini dilakukan
dalam dua studi utama. Pada bagian pertama, hilangnya
glukosa dan pembentukan simultan dari HMF dan asam
levulinic. Pengukuran juga dilakukan pada pembentukan
total asam organik dan bahan padat tidak larut. Yang
kedua, hilangnya HMF dan pembentukan simultan asam
levulinic. Variabel untuk studi ini 140 ° C - 250 ° C,
dengan konsentrasi katalis asam dari 0,025 N - 0,8 N.
Data eksperimen diperoleh dengan menggunakan reaktor
batch dengan pemanasan yang suhunya di jaga konstan
untuk berbagai interval waktu. Hasil yang didapat yaitu
dengan meningkatnya HMF, maka konsentrasi glukosa
awal menurun. Hal ini akan menunjukkan bahwa HMF
menghilang dengan orde reaksi yang lebih tinggi.
Tampaknya kemungkinan besar bahwa hal itu bereaksi
dengan salah satu prekursor dalam reaksi ini dan bukan
dengan dirinya sendiri atau dengan salah satu produk
reaksinya. Yield dari HMF akan meningkat apabila
konsentrasi glukosa menurun, dari hasil penelitian di
dapatkan orde satu dan energi aktivasi sebesar 32.690
gram-kalori/ gram-molekul
2. Phili C. Smith, Hans E. Grethlein, Alvin O. Converse
(1962). Glucose decomposition at high temperature, mild
acid and short residence times. Dari penelitian ini produk
utama dari dekomposisi glukosa yaitu HMF, LA, Humic
matter dengan kandungan HMF paling besar. Glukosa
merupakan produk antara dalam konversi biomassa untuk
bahan bakar cair dan bahan kimia melalui hidrolisis asam
H2SO4 dan fermentasi selanjutnya. Dari uji HPLC
Chromatograph, pada suhu 200°C dan 120 menit
(dekomposisi glukosa) menghasilkan kandungan HMF

14
yang paling besar. Dan pada suhu 220°C dan 180 menit
(dekomposisi HMF) menghasilkan kandungan LA yang
paling besar.
3. Shabnam Haghighat, Yukitaka Kimura, Toshinobu
Oomori, Ryuichi Matsumo, Shuji Adachi (2005).
Degradation kinetics of monosaccharides in subcritical
water. Pada penelitian ini difokuskan untuk laju konversi
dari monosakarida menjadi 5-HMF. HMF adalah produk
utama dari degradasi produk hexosa. Variabel yang
digunakan adalah 180°C - 260°C dan tekanan konstan
10Mpa. Kuantitas konsentrasi HMF diukur dengan
PLC(LC-10Advp,Shimadzu). Dari hasil yang didapat
dekomposisi galaktosa, glukosa dan mannosa bertururt-
turut dengan suhu 170-230°C dan pH 2-4. Kinetika
degradai dari monosakarida berdasarkan persamaan
Weibull. Kinetika tidak berdasarkan tipe dari
monosakarida. Produksi HMF hampir sama untuk
sorbose, glukosa dan mannose. Fruktosa memproduksi
lebih banyak HMF dibandingkan dengan monosakarida
yang lainnya.
4. B. Girisuta, L. P. B. M. Janssen dan H. J. Heeres(1962).
Akinetic Study on the Conversion of Glucose to
Levulinic Acid. Katalis asam mendekomposisi glukosa
menjadi HMF sebagai produk intermediate, yang
kemudian mengalami proses rehydrate yang
menghasilkan LA dan FA sebagai produk akhir dari studi
kinetika dalam dekomposisi glukosa. Variabel yang
digunakan yaitu 140-220°C dan konsentrasi katalis
H2SO4 0,05-1 M dengan glukosa awal 0,1-1 M. HMF
diamati sebagai produk intermediate disemua experimen,
konsentrasi HMF menunjukkan respon yang maximum
pada waktu reaksi. Pengamatan ini mengindikasikan
bahwa konversi HMF ke LA lebih cepat daripada
konversi glukosa ke HMF.

15
Halaman ini sengaja dikosongkan

16