Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia saat ini mengalami banyak permasalahan – permasalahan yang
terjadi, mulai dari sikap KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) pejabatnya,
pelanggaran HAM, anarkisme, hingga perilaku sehari – hari masyarakat kita
seperti tidak mau antre dan kurang peduli terhadap hak orang lain dan lingkungan.
Hasil-hasil survei internasional juga sering menunjukkan bahwa dalam hal yang
baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal yang buruk
cenderung tinggi. Contoh, data Tranparency International menunjukkan persepsi
tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor,
Indonesia berada di rangking 114 dengan skor 32. Ini di bawah Ethiopia yang
berada pada posisi 111[1]. Dari data tersebut maka Indonesia saat ini sedang
mengalami krisis mental.
Revolusi mental berasal dari dua kata revolusi dan mental, revolusi adalah
perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut
dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat, sementara mental digunakan
untuk menyebut kapasitas psikologis orang dalam merespond problem-problem
kehidupan. Jadi revolusi mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia bersama
Pemerintah untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi Indonesia yang lebih
baik. Dari permasalahan - permasalahan di atas maka revolusi mental dibutuhkan
sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Di dalam islam kata revolusi mental lebih cenderung berubah makna
menjadi kata akhlak, karena di dalam islam akhlak menjadi bagian penting untuk
membangun karakter manusia yang baik.
Ahlak berasal dari bahasa Arab, dan jika diartikan ke dalam bahasa
Indonesia bisa berarti perangai, tabiat . Sedang arti akhlak secara istilah sebagai
berikut : Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) mengatakan bahwa akhlak adalah
sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali
(1015-1111 M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang

1|Page
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Al-Qur’an menurut Imam Ali Ashobuni dalam kitab Attibyan Fii Ululumil
Qur’an adalah kalam Allah S.W.T yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
S.A.W sebagai mukjizat melalui perantara malaikat Jibril sebagai pedoman umat,
hidayah untuk makhluk, dan sebagai dalil kenabian Muhammad S.A.W[2]. Al-
Qur’an sebagai firman Allah S.W.T menjelaskan segala aspek kehidupan, dari
aspek hubungan manusia dengan Allah S.W.T hingga aspek hubungan manusia
dengan manusia. Al-Qur’an bukanlah kitab sciense, hukum, dan teknologi tetapi
di dalam Al – Qur’an terdapat segalanya termasuk untuk meningkatkan dan
memperbaiki mental dan akhlak. Seperti dalam firman Allah S.W.T :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka
mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Q.S Ar-ra’d ayat 11). Dalam ayat
tersebut mengandung arti bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa
dari susah menjadi bahagia, atau dari kuat menjadi lemah, sebelum mereka sendiri
mengubah apa yang ada pada diri mereka sesuai dengan keadaan yang akan
mereka jalani[3]. Untuk mengubah hal tersebut maka dibutuhkan revolusi mental
sebagai bagian dari pendidikan akhlak dalam mengatasi permasalahan –
permasalahan bangsa.
Selain itu tujuan utama Rosulullah S.A.W diutus dimuka bumi yang
ditunjukkan dalam HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul
Adabil Mufrad no. 207), Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613), dari Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul
Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 45) bahwa Rosulullah S.A.W bersabda :
“Sesungguhnya aku diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak”[4]
dalam hadits tersebut sudah sangat jelas bahwa akhlak menjadi bagian penting
untuk mengubah keadaan suatu kaum/bangsa.
Bagaimana mental dapat melahirkan keputusan yang baik tentunya tidak
terlepas dari didikan mental yang baik dan hal itu melalui usaha pendidikan yang
baik pula. Pendidikan dengan segala komponennya tentu pula harus difokuskan
pada pendidikan seperti apa yang mampu membentuk mental yang terdidik.

2|Page
Karena pendidikan yang dilakukan khususnya dinegeri ini tentunya sudah
berlangsung lama yang justru memunculkan tanda tanya, apa yang salah dengan
pendidikan kita sehingga belum mampu menjadikan mental-mental yang terdidik.
Apakah selama ini mental tidak menjadi sasaran dan tersentuh dalam proses
pendidikan. Lalu, apa orientasi pendidikan yang selama ini berlaku di negeri ini.
Melalui pendidikan, bagaimana kita menjadi orang-orang yang bermental
baik, sehingga keputusan dan perbuatan-perbuatan kita sesuai dengan yang
diharapkan dapat menjadi manfaat. Pendidikan dengan memusatkan perhatian
pada perubahan kebiasaan sehari-hari yang punyai dampak kebaikan publik.
Proses pendidikan mesti bermuara ke corak kebiasaan bertindak. Artinya,
pendidikan diarahkan ke transformasi dari pengetahuan diskursif (discursive
knowledge) ke pengetahuan praktis (practical knowledge).
Menjadi guru yang melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan
sungguh-sungguh. Dokter yang beorientasi pada kewajiban sosial untuk
menyembuhkan pasien. Pejabat Negara yang mengutamakan pelayanan prima
terhadap publik. Polisi yang benar-benar bertugas untuk mengayomi dan
melindungi masyarakat. Tentara yang berjiwa patriot dalam menjaga keutuhan
dan keamanan nasional. Pedagang dan pelaku ekonomi yang jujur dan
mengembangkan perekonomian bangsa. Artinya segenap komponen bangsa
menjalankan tugas dan fungsinya untuk kebaikan dan kemajuan nasional dengan
melaksanakan transformasi secara berkelanjutan bagi pemberadaban hidup
bersama yang bernama Indonesia.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai revolusi mental
sebagai pendidikan jiwa dalam Al-Qur’an.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui revolusi mental
2. Membangun revolusi mental sebagai pendidikan jiwa dalam Al-Qur’an

1.3 Rumusan masalah


1. Apa yang dimaksud dengan revolusi mental ?

3|Page
2. Bagaimana mewujudkan pendidikan jiwa sesuai Al-qur’an dalam membangun
revolusi mental?
1.4 Manfaat penulisan
Karya tulis ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk
perkembangan lebih lanjut, diantaranya untuk:
1. Secara teoritis, dapat memberikan wacana pemikiran bagi dunia pendidikan,
khususnya bagi dunia Pendidikan Islam.
2. Secara praktis, dapat mengamalkan prinsip revolusi mental dan akhlak menurut
Al-qur’an untuk pembentukan akhlak mulia.

4|Page
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Revolusi mental


Istilah "Revolusi Mental" berasal dari dua suku kata, yakni 'revolusi' dan
'mental'. Arti dari 'Revolusi' adalah sebuah perubahan yang dilakukan dengan
cepat dan biasanya menuju kearah lebih baik. Beda dengan evolusi, yang mana
perubahannya berlangsung lambat. 'Mental' memiliki arti yang berhubungan
dengan watak dan batin manusia. Adapun istilah mentalitas menurut KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna aktivitas jiwa, cara berpikir, dan
berperasaan. Maka, istilah "Revolusi Mental" dapat ditafsirkan sebagai aktivitas
mengubah kualitas manusia kearah yang lebih bermutu dan bermental kuat dalam
berbagai aspek dengan jangka waktu yang cepat.[5]
Istilah mental bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan
bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang diperhatikan
melainkan juga pembangunan.[6] Mental akan mengarahkan cara manusia dalam
memahami diri dan dunia, bagaimana mereka menampilkan diri dan kepercayaan
yang mereka yakini, cara berpakaian, bertutur, berperilaku, cara mengambil
keputusan dan bertindak. Kendati untuk membentuk mental, jelas memerlukan
proses.
Dalam pemahaman umum selama ini, revolusi sering dimaknai sebagai
perubahan cepat dalam ranah sosial-politik dengan konotasi kekerasan radikal
menyertainya. Jarang orang menyadari bahwa sebelum digunakan dalam wacana
dan gerakan sosial-politik, istilah revolusi sesungguhnya lebih dahulu muncul
sebagai istilah teknis dalam sains.[6]
Secara denotatif, revolusi berarti "kembali lagi" atau "berulang kembali";
ibarat musim yang terus berganti secara siklikal untuk kembali ke musim semula.
Maka, dalam sains, istilah revolusi mengimplikasikan suatu ketetapan (konstanta)
dalam perubahan; pengulangan secara terus-menerus yang menjadikan akhir
sekaligus awal. Pengertian seperti inilah yang terkandung dalam frase ”revolusi
planet dalam orbit”.[6]

5|Page
Jika dikaitkan dengan usaha untuk “kembali lagi” menjadi bangsa yang
memiliki mental yang terdidik, maka hal ini bukanlah hal yang mustahil. Kenapa?
Jelas karena pada dasarnya masyarakat kita sudah memiliki potensi mental yang
baik. Jiwa kebersamaan, santun, gotong royong, kerja keras, musyawarah dan
semua nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam di dalam diri masyarakat
Indonesia yang kesemuanya menjadi jiwa dan kepribadian dan dituangkan dalam
nilai-nilai dasar Negara kita yaitu pancasila. Namun karena faktor-faktor eksternal
yang menyebabkan nilai-nilai itu luntur secara perlahan-lahan. Maka disinilah
orientasi tujuan gerakan revolusi mental itu, yaitu mengembalikan lagi jiwa dan
kepribadian bangsa yang mulai luntur tersebut dengan sebuah gerakan nasional
yang digaungkan secara masif dan diprakarsai dan didukung oleh pemerintah
sebagai otoritas tertinggi di Negara ini.
Oleh karena itu, kekerasan dan perubahan cepat bukanlah elemen esensial
dari suatu revolusi. Revolusi tidak mesti dengan jalan kekerasan. Pada 1986, Peter
L Berger memublikasikan buku The Capitalist Revolution yang menunjukkan
suatu bentuk revolusi nirkekerasan. Revolusi pun bisa ditempuh secara cepat atau
lambat. Revolusi industri di Eropa ditempuh dalam puluhan, bahkan ratusan
tahun. Yang esensial dalam suatu revolusi adalah ”kebaruan”. Revolusi
mengimplikasikan suatu kisah baru, revolusi menjadi jembatan yang
mentransformasikan dunia lama jadi dunia baru.[6]
"Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia
Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja,
bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala."
Itulah adalah gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh
Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956.
Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal
tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum
tercapai.
Revolusi di jaman kemerdekaan adalah sebuah perjuangan fisik, perang
melawan penjajah dan sekutunya, untuk mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kini, 70 tahun setelah bangsa kita merdeka, sesungguhnya

6|Page
perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir. Kita semua masih harus
melakukan revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Bukan lagi mengangkat
senjata, tapi membangun jiwa bangsa.
Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap,
dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga
Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-
bangsa lain di dunia.
Membangun jalan, irigasi, pelabuhan, bandara, atau pembangkit energi
juga penting. Namun seperti kata Bung Karno, membangun suatu negara, tidak
hanya sekadar pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya
membangun jiwa bangsa sebagai modal utama membangun suatu negara.[7]
Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat
(pemerintah & rakyat) dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai‐
nilai strategis yang diperlukan oleh Bangsa dan Negara untuk mampu
menciptakan ketertiban dan kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan
persaingan di era globalisasi[8].
Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat
ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya wibawa
negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi
perekonomian nasional[7]. Tiga nilai revolusi mental yang dibangun adalah :
Integritas, etos kerja dan gotong royong
2.2 Hakikat pendidikan jiwa
Sadar atau tidak, tahu atau tidak dan percaya atau tidak, bahwa visi
Revolusi Mental ini "meniru" cara apa yang telah dilakukan Rasulullah Nabi
Muhammad SAW pada jaman jahiliyah dahulu di negeri Arab. Tentu kita masih
ingat bagaimana keadaan bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad
SAW, kondisi kehidupan bangsa Arab dikenal dengan sebutan zaman jahiliyah.
Hal ini disebabkan oleh kebiasaan bangsa Arab yang berperilaku buruk dan
berakhlak tercela. Mereka suka mencuri, minum khamr, berzina, merampok,
bertengkar, berperang dan bahkan terbiasa membunuh bayi-bayi perempuan yang
baru dilahirkan. Kemudian Allah SWT mengutus seorang Rasul akhir zaman

7|Page
(Nabi Muhammad SAW) untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak
manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab
adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim). Beliau lah yang merubah
moral atau akhlak bangsa Arab yang tidak beradab menjadi lebih beradab[9].
Kata jiwa berasal dari bahasa arab nafs’ yang secara harfiah bisa
diterjemahkan sebagai diri atau secara lebih sederhana bisa diterjemahkan dengan
jiwa,[10] dalam bahasa Inggris disebut soul atau spirit.[11].
Menurut Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Ibnu Qayyim, jiwa adalah
makna yang ditinggikan dari kejadian yang tunduk kepada pengaturan,
perkembangan dan pengujian. Ia merupakan substansi yang sederhana dan
menyebar ke seluruh alam, seperti halnya binatang yang tercermin dalam
perbuatan dan pengaturannya, tidak boleh ada sifat banyak atau sedikit yang
menguasainya. Dengan sifat kesederhanaannya di alam ini, maka dzat dan
bangunannya tidak bisa dibagi-bagi. [12]
Dalam karyanya Ahwal an-Nafs, Ibnu Sina mengatakan bahwa jiwa
adalah substansi ruhani yang memancar kepada raga dan menghidupkannya lalu
menjadikannya alat untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu, sehingga dengan
keduanya ia bisa menyempurnakan dirinya dan mengenal Tuhannya.[13]
Banyak pernyataan yang mengindikasikan bahwa anak Adam memiliki
tiga jiwa, yaitu : nafs muthmainnah, nafs lawwamah, nafs ammarah (jiwa yang
tenang, jiwa yang menyesali diri sendiri, jiwa yang selalu menyuruh pada
kejahatan). Diantara manusia ada yang didominasi salah satu dari tiga jiwa ini,
sebagian yang lain ada yang didominasi jiwa yang lainnya.[14]
Pertama, jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah) adalah jiwa yang
sempurna yang tersinari oleh cahaya hati sehingga ia tersterilkan dari karakter-
karakternya yang buruk, berakhlak dengan akhlak terpuji, menghadap ke arah hati
total, melangkah terus menuju ke arah yang benar, menjauh dari posisi yang
kotor, terus menerus melakukan ketaatan, berjalan menuju tempat yang luhur.
Hujjah mengenai nafs muthmainnah ini berdasarkan firman Allah QS Al-Fajr : 28
– 30)

8|Page
Artinya : ” Wahai jiwa yang tenang (muthmainnah), kembalilah engkau kepada
Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridhai, masuklah engkau ke dalam jajaran
hamba-hamba-Ku dan masuklah engkau ke surga-Ku”.
Kedua, jiwa yang sadar (nafs al-lawwamah) adalah jiwa yang tersinari oleh
cahaya hati –sesuai dengan kadarnya sadarnya ia dari kelalaian- lalu ia sadar. Dia
memulai dengan memperbaiki kondisinya dalam keadaan ragu diantara posisi
ketuhanan dan posisi makhluknya. Jiwa ini berada di sanubari. Ia ibarat
pertahanan yang menghalau setiap dosa yang menyerang dan memperkukuh
kekuatan kebaikan. Jika seseorang melakukan sebagian dosa, maka kekuatan
spiritual atau sanubari (nafs al-lawwamah) segera memperingatkannya, mencela
dirinya sendiri, lalu bertobat dan kembali kepada Allah memohon keampunan
dariNya, Sebagaimana Allah menyebutnya dalam Al-Qur’an QS Al-qiyamah : 1-
2 |yang artinya : “ Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah
dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”
Ketiga, jiwa amarah (nafs al-amarah bi su’) –menurut al-Jurjani- adalah jiwa yang
cenderung kepada tabiat fisik (thabi’ah badaniyyah) dan memaksa hati untuk
menuju posisi kerendahan. Jiwa amarah merupakan tempat keburukan dan sumber
akhlak tercela dan perbuatan-perbuatan buruk. Allah Swt. Berfirman dalam QS
Yusuf : 53 yang artinya : “ Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada
kejahatan.”
Karakter ketiga jiwa tersebut –menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah- berada dalam
satu jiwa dan menyebar dalam sifat jiwa manusia.[15] Namun sebagian
menganggap bahwa kecenderungan kepada keburukan itu adalah tabiatnya jiwa,
sedang kecenderungan kepada kebaikan itu adalah tabiatnya ruh. Terkadang
dalam hal ini terjadi benturan antar kecenderungan. Jika kecenderungan kepada
kebaikan menang, maka ruh berada dalam kemenangan, serta taufiq dan dukungan
Allah teraih oleh manusia. sebaliknya jika kecenderungan keburukan menang,
maka jiwa dalam kemenangan, serta setan dan penghinaan Allah mengena pada
orang yang dikehendaki oleh-Nya untuk hina.
Sebenarnya supaya tipuan jiwa dapat dihindari, maka keharusan kita untuk
mengetahui ilmu tentangnya. Karena ketidaktahuan kita tentang persoalan jiwa

9|Page
akan mempersulit langkah kita menuju Allah. Al-Kalabadzi mengatakan bahwa
semestinya bekal utama yang harus diketahui oleh setiap orang yang ingin menuju
Tuhannya yaitu ia harus memiliki pengetahuan tentang bahaya hawa nafsunya
(jiwa), mengenalnya, melatihnya dan mendidik akhlaknya.[16] Karena itu,
perhatian sufi terhadap jiwa tersebut (ma’rifatun nafs) -dengan mengetahui tabiat,
karakter, jenis jiwa dan aktivitasnya- merupakan salah satu tangga mengenal
Allah.
Firman Allah dalam QS Assyams : 7 – 10
Artinya: “ Dan jiwa serta penyempurnaannya. Maka Dia (Allah) mengilhamkan
kepadanya kedurhakaan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang
mensucikannya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Al-Qur’an dalam surat Asy-Syams ayat 8 menyampaikan bahwa setiap
jiwa manusia sudah diilhami potensi ketakwaan dan kejahatan (fujur). Fujur
adalah penyakit jiwa (seperti: sombong, pamer, dengki, riya’, terlena oleh dunia
dll) yang akan memenjarakan jiwa dan membuat hati gelisah dan jauh dari
ketenangan. Hal ini karena penyakit tersebut sangatlah cerdik dan cerdas untuk
melakukan tipu daya. Karena itu dalam dua ayat berikutnya ditekankan bahwa
kebahagiaan hanya bagi yang mensucikan jiwanya, sedang kesengsaraan hanya
bagi yang mengotorinya. Melalui pendidikan jiwa akan mengantarkan kepada
pemahaman esensi kehidupan.
Maka sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, ada dua metode yang
bisa dilakukan sebagai pendidikan jiwa, yaitu :
Pertama, pendidikan jiwa dengan metode ikhtila’ (menyendiri). Ikhtila’ adalah
metode awal yang dilakukan Nabi untuk memahami esensi kehidupan.
Pemahaman mengenai esensi kehidupan ini merupakan modal awal untuk
menerima dan mengemban tugas besar, yaitu risalah kenabian. Karena itu ikhtila’
mempunyai posisi penting dalam permulaan keberagamaan umat Islam secara
umum.
Kedua, pendidikan jiwa dengan metode muhasabah. Ikhtila’ tidak akan mencapai
hasil maksimal jika tidak disertai dengan introspeksi mendalam (muhasabah).
Salah satu pesan berharga sayyidina Umar bin Khattab r.a., sebagai penggagas

10 | P a g e
penanggalan Hijriyah, “Hisablah Diri, Sebelum Di Hisab Nanti” menekankan
betapa pentingnya mengevaluasi setiap amal yang telah dijalankan. evaluasi ini
akan mengantarkan seseorang menuju kesadaran total untuk menegaskan
perannya di dunia. Seorang mukmin seharusnya tidak jatuh dua kali dalam satu
lubang. Muhasabah yang di dalamnya memuat rasa pengawasan Allah
(Muraqabah Allah) dan memikirkan (al-Tafakkur) keagungan Allah akan
berujung kepada kesadaran yang membangkitkan.

2.3 Revolusi mental sebagai pendidikan jiwa


Reformasi yang dilaksanakan di Indonesia sejak tumbangnya rezim Orde
Baru Soeharto tahun 1998 baru sebatas melakukan perombakan yang sifatnya
institusional. Ia belum menyentuh paradigma, mindset, atau budaya politik kita
dalam rangka pembangunan bangsa (nation building). Agar perubahan benar-
benar bermakna dan berkesinambungan, dan sesuai dengan cita-cita Proklamasi
Indonesia yang merdeka, adil, dan makmur, kita perlu melakukan revolusi mental.
Nation building tidak mungkin maju kalau sekadar mengandalkan
perombakan institusional tanpa melakukan perombakan manusianya atau sifat
mereka yang menjalankan sistem ini. Sehebat apa pun kelembagaan yang kita
ciptakan, selama ia ditangani oleh manusia dengan salah kaprah tidak akan
membawa kesejahteraan. Kita melakukan amandemen atas UUD 1945. Kita
membentuk sejumlah komisi independen (termasuk KPK). Kita melaksanakan
otonomi daerah. Dan, kita telah banyak memperbaiki sejumlah undang-undang
nasional dan daerah. Kita juga sudah melaksanakan pemilu secara berkala di
tingkat nasional/daerah. Kesemuanya ditujukan dalam rangka perbaikan
pengelolaan negara yang demokratis dan akuntabel.
Korupsi menjadi faktor utama yang membawa bangsa ini ke ambang
kebangkrutan ekonomi di tahun 1998 sehingga Indonesia harus menerima
suntikan dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang harus ditebus oleh bangsa
ini dengan harga diri kita. Terlepas dari sepak terjang dan kerja keras KPK
mengejar koruptor, praktik korupsi sekarang masih berlangsung, malah ada gejala
semakin luas.

11 | P a g e
Demikian juga sifat intoleransi yang tumbuh subur di tengah kebebasan
yang dinikmati masyarakat. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi yang pesat
malah memacu sifat kerakusan dan keinginan sebagian masyarakat untuk cepat
kaya sehingga menghalalkan segala cara, termasuk pelanggaran hukum.
Namun, di saat yang sama, sejumlah tradisi atau budaya yang tumbuh
subur dan berkembang di alam represif Orde Baru masih berlangsung sampai
sekarang, mulai dari korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerakusan,
sampai sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan dalam
memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis. Kesemuanya ini
masih berlangsung, dan beberapa di antaranya bahkan semakin merajalela, di
alam Indonesia yang katanya lebih reformis.
Banyak indikasi yang menunjukkan semakin hilangnya jati diri sebagai
sebuah bangsa yang beradab. Sehingga budaya kekerasan begitu kentara dalam
kehidupan sehari-hari. Mulai dari kekerasan rumah tangga, kekerasan di sekolah
hingga budaya menghakimi dengan . Sehingga yang tampak hanyalah berita-
berita yang menampilkan kekerasan dan tontonan yang menayangkan kekerasan.
Ditambah lagi dengan sikap para pemimpin bangsa mulai dari pusat hingga daerah
yang tidak bisa dijadikan tuntunan dan teladan. Kebiasaan-kebiasaan yang
bernuansa kekerasan ini semakin tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang
tidak mustahil akan menyebabkan perubahan mindset di masyarakat bahwa segala
masalah akan terselesaikan dengan kekerasan. Mendidik anak dengan kekerasan,
mengajar dengan kekerasan, pemaksaan kehendak dan pendapat, meraih sesuatu
dengan kekerasan dan sebagainya. Maka akan terjadi pergeseran dalam
lingkungan sosial kemasyarakatan dan hal ini menjadi bayangan yang mengerikan
bagi masa depan bangsa ini.
Perubahan sosial adalah perubahan sisi dalam manusia. Karena sisi dalam
manusia itulah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun negatif. Maka
perubahan yang cenderung ke arah negatif tentunya harus diselesaikan dengan
mengedepankan nilai-nilai pendidikan yang menekankan pada perbaikan jiwa
yang selam ini dikotori oleh unsur-unsur negatif. Pendidikan Islam adalah
aktivitas bimbingan yang disengaja untuk mencapai kepribadian muslim, baik

12 | P a g e
yang berkenaan dengan dimensi jasmani, rohani, akal, maupun moral. Pendidikan
Islam adalah proses bimbingan secara sadar seorang pendidik sehingga aspek
jasmani, rohani, dan akal anak didik tumbuh dan berkembang menuju
terbentuknya pribadi, keluarga, dan masyarakat yang Islami. Pendidikan jiwa
menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan dalam pendidikan Islam, karena
pendidikan jiwa dalam Islam termasuk pendidikan yang mendasar sebagai bagian
dari usaha untuk membentuk muslim yang sejati.
Revolusi mental adalah upaya membangun manusia, membangun jiwa
manusia, dan upaya ini tentunya melalui pendidikan. Pertanyaannya, pendidikan
seperti apa yang bisa menjadikan manusia Indonesia menjadi manusia yang
berkualitas? Maka harus dipahami bahwa pendidikan bukanlah urusan sektoral,
Pendidikan menjadi tangggung jawab kepemimpian nasional, seluruh komponen
bangsa harus bertanggung jawab terhadap masalah pendidikan bangsa ini. Karena
pendidikan bukan sekedar sekolah, bukan sekedar untuk memperoleh gelar dan
sebagainya. Karena kualitas pendidikan akan menjadi cerminan kualitas
manusianya dan tentu saja menjadi kualitas bangsa.
Menurut Joko Widodo untuk mencapai pendidikan yang berorientasi pada
perbaikan mental maka istem pendidikan harus diarahkan untuk membantu
membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab, yang
menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama yang hidup di negara ini. Akses ke
pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat yang terprogram, terarah, dan tepat
sasaran oleh negara dapat membantu kita membangun kepribadian sosial dan
budaya Indonesia. Kalau bisa disepakati bahwa Indonesia perlu melakukan
revolusi mental, pertanyaan berikutnya adalah dari mana kita harus memulainya.
Jawabannya dari masing- masing kita sendiri, dimulai dengan lingkungan
keluarga dan lingkungan tempat tinggal serta lingkungan kerja dan kemudian
meluas menjadi lingkungan kota dan lingkungan negara
Tidak ada perubahan besar dalam sejarah tanpa perubahan mental. Demi
mewujudkan cita-cita nasional yang terbengkalai, setiap orang harus ambil bagian
dalam gelombang revolusi mental. Ini berarti bahwa kita sebagai individupun
turut andil dalam gerakan nasional ini. Dengan memperbaiki mental kita dan

13 | P a g e
menyadari bahawa tidak akan ada perubahan besar tanpa niat dari diri dan bukti
nyata mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai dari sekarang.
Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita
bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar
merdeka, adil, dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa
kita sendiri dengan restu Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah
nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Alhasil, revolusi sejati yang berdampak besar dalam transformasi
kehidupan harus mengandung kebaruan dalam struktur mental dan keyakinan.
Dengan kata lain, revolusi sejati meniscayakan perubahan mentalitas (pola pikir
dan sikap kejiwaan) yang lebih kondusif bagi perbaikan kehidupan.
Pendidikan menjadi sandaran terakhir bagi perubahan mental dan
memberi harapan bagi perubahan itu sendiri. Sesuai dengan lagu kebangsaan
Indonesia raya, maka perubahan itu dapat dicapai dengan pendidikan jiwa. Karena
jiwa didahulukan dalam pembangunan manusia dibandingkan raga atau badan.
Suatu usaha national healing perlu dilakukan dengan melakukan gerakan revolusi
mental, yang wahana utamanya melalui proses persemaian dan pembudayaan
dalam dunia pendidikan. Proses pendidikan yang menekankan pada pendidikan
jiwa sejak dini, baik secara formal, dan nonformal menjadi tumpuan untuk
melahirkan manusia baru Indonesia dengan mental-karakter yang sehat dan kuat.
Adapun pendidikan sebagai proses belajar memanusiakan manusia
berfungsi untuk memfasilitasi pengembangan karakter personal dan kebudayaan
yang baik, benar, dan indah, sebagai wahana pembentukan bangsa beradab. Itulah
landasan gagasan nation and character building. Revolusi mental itu artinya
membangun manusianya dulu, membangun jiwanya. Pendidikan mulai dari SD
persentasenya 70-30 persen pembangunan karakter, sikap, perilaku dan budi
pekerti. Menginjak ke tingkatan SMP, 60-40 karakter juga masih ada. SMA/SMK
80-20 persen, karakter.
Dengan demikian Revolusi mental yang menjadi salah satu senjata
Pemimpin bangsa ini untuk membangun negeri merupakan suatu usaha yang tepat
yang tentunya harus disadari seluruh lapisan masyarakat Indonesia, bahwasanya

14 | P a g e
dengan revolusi mental dengan jiwa individu, jiwa perorangan manusia Indonesia
untuk membangun dan membentuk mental individu pada segala bidang yang ada
mampu mengembalikan jati diri bangsa menjadi bangsa yang berkarakter, bangsa
yang bermartabat dan bangsa yang jaya.
Terdapat nilai formal yang ada dalam pendidikan jiwa, yaitu nilai
pembentukan, yang bersangkutan dengan daya serap siswa atas segala bahan yang
telah diterimanya. Hal ini berarti sejauh manakah daya serap siswa, sehingga ia
mampu dengan tenaganya sendiri membentuk kepribadian yang utuh, kokoh dan
tahan uji. Semuanya itu merupakan kerja mental sebagai reaksi atas pengaruh
yang diterimanya melalui pengalaman kejiwaan terjadi pembentukan berbagai
daya rohani yang menjadi ciri kepribadian seseorang
Tujuan pendidikan jiwa ini untuk mencapai derajat muslim yang baik, yaitu
memiliki Akhlaqul-Karimah dalam interaksinya dengan sesama manusia, bahkan
kepada hewan (termasuk adab tidak menyiksa dan cara menyembelih dengan
pisau sangat tajam) dan juga kepada alam. Banyak sekali ayat al_Qur’an dan
hadits Nabi yang memberi tuntunan nilai moral menuju akhlak terpuji (Akhlaaqul
Karimah). Menjadikan Islam kaya dengan sumber referensi yang sangat2 terjaga
authentitasnya dalam pendidikan jiwa umat Islam seluruh dunia.
Selain pembentukan daya-daya rohani, termasuk kedalamnya pembentukan
kebiasaan. Peranan pemahaman saja sukar untuk menembus pandangan dan
tingkah yang salah dalam rangka membentuk kebiasaan yang diharapkan, karena
itu unsur keteladanan dan suasana lingkungan memegang peranan utama dalam
pembentukan kebiasaan ini. Melalui keteladanan dan lingkungan yang selaras
maka seseorang akan terdorong untuk membentuk dirinya menjadi individu yang
berkarakter baik. Potensi pembentukan karakter ini terkandung dalam seluruh
aspek yang diajarkan dan dicontohkan. Demikianpula perlu adanya sinergi antara
pemerintah, sekolah, masyarakat dan orang tua sebagai teladan.
Terdapat tiga jenis pembentukan dari diri siswa, yaitu :
a. Pembentukan hati, meliputi :
1. Pembentukan “kata hati” atau nurani
2. Pembentukan niat dalam melakukan setiap pekerjaan

15 | P a g e
3. Pembentukan kebersihan hati untuk menerima petunjuk.
b. Pembentukan kebiasaan, meliputi :
1. Kebiasaan untuk berbuat ihsan terhadap Allah Swt
2. Kebiasaan untuk berbuat ihsan terhadap sesama manusia.
3. Kebiasaan berbuat ihsan terhadap makhluk Allah lainnya.
c. Pembentukan daya-daya jiwa, yaitu cipta, rasa dan karsa dan dipandang
sebagai suatu keseluruhan yang menjadi sumber kegiatan mental dan tampak
dalam tingkah laku manusia, meliputi :
1.Pembentukan filsafat atau pandangan hidup yang akan mempengaruhi
perbuatan siswa sehari-hari.
2. Pembentukan daya-daya yang mendorong anak untuk memenuhi kebutuhannya
secara wajar, halal dan bersih.
3.Pembentukan daya-daya yang mendorong siswa untuk memiliki harapan dan
cita-cita luhur untuk membangun hari esok yang lebih baik, membina situasi dan
lingkungan yang selaras, menciptakan bentuk-bentuk pengalaman pribadi dan
sosial yang terbebas dari segala pencemaran rohani dan jasmani, dan membangun
suatu latar belakang kehidupan yang sehat.[6]
Jika jiwa-jiwa yang sesuai dengan harapan seperti diutarakan diatas, maka
akan terwujudlah mental-mental generasi muda yang terdidik dan melahirkan
manusia yang baik jiwanya. Memiliki hati nurani yang baik sehingga memiliki
niat yang baik yang pada akhirnya akan menghasilkan keputusan yang baik dalam
berbuat dan mengambil keputusan. Karena kebaikan ini sudah tertanam dalam
hati maka akan tindakan-tindakan terpuji akan yang lahir secara spontanitas dan
bukan kemunafikan atau tujuan tertentu. Mental yang terdidik melalui pendidikan
jiwa akan menyebarkan kebaikan kepada seluruh isi alam ini. Dengan membina
hubungan yang baik dengan Allah sebagai sang Khalik, kepada sesama manusia
dan kepada lingkungan. Maka akan terwujud jugalah tujuan pendidikan Islam
yaitu untuk menjadikan manusia sebagai hamba dan sebagai khalifah. Inilah yang
dimaksud dengan melalui pendidikan jiwa akan mengantarkan kepada
pemahaman esensi kehidupan.

16 | P a g e
17 | P a g e
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Simpulan

Dari uraian tinjauan pustaka di atas maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Revolusi mental adalah suatu gerakan seluruh masyarakat (pemerintah & rakyat)
dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai‐nilai strategis yang
diperlukan oleh Bangsa dan Negara untuk mampu menciptakan ketertiban dan
kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi
2. Di dalam Al-qur’an revolusi mental telah banyak disinggung, dalam konteks
sejarah Rosulullah S.A.W telah melakukan revolusi mental dengan melakukannya
terhadap bangsa arab saat itu
3. Melalui pendidikan jiwa akan mengantarkan kepada pemahaman esensi
kehidupan. Maka sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, ada dua metode
yang bisa dilakukan sebagai pendidikan jiwa, yaitu : Pertama, pendidikan jiwa
dengan metode ikhtila’ (menyendiri). Kedua, pendidikan jiwa dengan metode
muhasabah.

18 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

[1] Al-Asyhar, Thobib. Kementerian Agama dan Kepeloporan Revolusi Jiwa. Informasi
dari http://bimasislam.kemenag.gi.id-informasi-opini (diakses pada tanggal 7 November
11:00 WIB)

[2] GRM. 2014. Gerakan Revolusi Mental informasi dari


dppka.jogjaprov.go.id/upload/files/revolusi_mental.pdf

[3] Shihab, Quraish. Tafsir almisbah

[4] Anonim. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mengajak Manusia Kepada Akhlak Yang Mulia
Dan Amal-Amal Yang Baik. Informasi dari https://almanhaj.or.id/1299-ahlus-sunnah-
wal-jamaah-mengajak-manusia-kepada-akhlak-yang-mulia-dan-amal-amal-yang-
baik.html (diakses pada 7 November 2016 pkl 21:00 WIB)

[5] Anonim. Pengertian revolusi mental. Informasi dari


http://www.maknaistilah.ga/2015/12/pengertian-revolusi-mental.html (diakses
pada 7 November 2016 Pkl 21:00 WIB)

[6] Jansen Sinamo, ed, Revolusi Mental Dalam Institusi, Birokrasi dan Korporasi,
Jakarta: Institut Darma Mahardika, 2014.

[7]https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/5932/Revolusi+Mental%3A+Me
mbangun+Jiwa+Merdeka+Menuju+Bangsa+Besar/0/artikel_gpr

[8,9] Ivan. 2014. Revolusi mental dalam Islam. Informasi dari


http://www.kompasiana.com/ivangp/revolusi-mental-revolusi-moral-revolusi-akhlak-
dalam-pandangan-islam_54f705a2a33311ad0c8b4796 (diakses pada 7 November 20:00
WIB)

[10] . A.W. Munawwir dan Muhammad Fairuz, Kamus Al-Munawwir versi Indonesia-
Arab, cet. I, (Surabaya, Pustaka Progressif, 2007), h. 366.

[11] . John M. Echols, Kamus Indonesia-Inggris, cet. III, (Jakarta, Gramedia, 1997), h.
245.

19 | P a g e
[12] . Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Kitab ar-Ruh (terj.) Roh , (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2010), hal. 302.

[13] . Ibn Sina, Ahwal an-Nafs: Risalah fi Nafs wa Baqa’iha wa Ma’adiha (terj.)
Psikologi Ibn Sina, (Bandung, Pustaka Hidayah, 2009), h. 182.

[14] . Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Op.Cit., hal. 357.

[15] . Ibid.

[16] . At-Taftazani, Madklah li ‘Ilmi at-Tasawwuf (terj.) Tasawuf Islam: Telaah Histrois
dan Perkembangannya, (Jakarta, Gaya Media Pratama, 2008), h. 123.

20 | P a g e