Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pendidikan adalah pilar yang sangat menentukan bagi kemajuan suatu
bangsa.Tanpa pendidikan yang memadai suatu bangsa sulit berkembang dan
bahkan akan terus terpuruk dalam percaturan perkembangan global maupun
internasional[1]. Pendidikan adalah satu usaha yang dengan sengaja diambil
untuk memengaruhi serta menunjang anak yang mempunyai tujuan untuk
meningkatkan ilmu dan pengetahuan, jasmani serta akhlak hingga perlahan-
lahan dapat mengantarkan anak pada tujuan serta cita-citanya yang tertinggi
(Mahmud Yunus). Dalam QS Al-Alaq : 1 – 5 Allah berfirman :

Artinya :”Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan,


Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan tuhanmu lah
yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui.
Dalam surat Al-alaq : 1-5 tersebut islam sebagai agama yang sempurna
dalam wahyu pertamanya menjelaskan tentang pentingnya membaca, dalam
pendidikan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan adalah membaca.
Revolusi mental ditafsirkan sebagai aktivitas mengubah kualitas manusia
kearah yang lebih bermutu dan bermental kuat dalam berbagai aspek dengan
jangka waktu yang cepat.[2] Tiga nilai revolusi mental menurut Joko widodo
(presiden RI ke-6) meliputi : Integritas, Etos kerja dan gotong royong. Revolusi
mental dapat diwujudkan melalui pendidikan, bagaimana kita menjadi orang-
orang yang bermental baik, sehingga keputusan dan perbuatan-perbuatan kita
sesuai dengan yang diharapkan dapat menjadi manfaat. Seperti hadits Nabi

1|Page
S.A.W : “Sebaik – baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia (HR Ahmad).
Pendidikan seyogyanya yang menjadi gerbang untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa kenyataanya potret pendidikan di Indonesia saat ini
mengalami penurunan seperti yang dikatakan Anies Baswedan (mantan menteri
pendidikan dan budaya) "Berita buruknya, 75 persen sekolah Indonesia memiliki
standar minimal pendidikan tidak layak," kata Anies, dalam pidato di hadapan
Kepala Dinas se-Indonesia, Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/12/2014).
Penurunan tersebut diantaranya meliputi beberapa aspek diantaranya nilai rata-
rata guru yang belum maksimal, kinerja rendah, mutu pendidikan, persoalan
kekerasan serta minat baca yang rendah. Permasalahan seperti tawuran antar
pelajar, kekerasan antara guru dan murid, pergaulan bebas dan hal negatif
lainnya disebabkan pendidikan terutama pendidikan moral dan agamanya.
Pondok pesantren menurut Geertz diturunkan dari bahasa India Shastri
yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis, maksudnya pesantren adalah
tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Dia menganggap
bahwa pesantren dimodifikasi dari para Hindu (Wahjoetomo, 1997: 70).
Untuk mengatasi permasalahan pendidikan di atas, pesantren tampil
sebagai institusi / lembaga pendidikan non formal yang mampu mengatasi
permasalahan moral serta mental sehingga dalam karya tulis ini kami mencoba
menjelaskan peran pondok pesantren sebagai pendidikan yang mewujudkan
revolusi mental, karena dalam pesantren agama menjadi prioritas utama dalam
pendidikannya, selain itu membangun karakter serta mental peserta didik yang
sesuai dengan nilai – nilai yang terwujud dalam revolusi mental.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peran pesantren sebagai lembaga pendidikan islam dalam
mewujudkan revolusi mental
2. Membangun nilai – nilai revolusi mental melalui pesantren

2|Page
1.3 Rumusan masalah
1. Bagaimana peran pesantren sebagai lembaga pendidikan islam dalam
mewujudkan revolusi mental?
2. Bagaimana membangun nilai – nilai revolusi mental melalui pesantren?
1.4 Manfaat penulisan
Karya tulis ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk
perkembangan lebih lanjut, diantaranya untuk:
1. Secara teoritis, dapat memberikan wacana pemikiran bagi dunia pendidikan,
khususnya bagi dunia Pendidikan Islam.
2. Secara praktis, dapat mengamalkan prinsip revolusi mental dan akhlak menurut
Al-qur’an untuk pembentukan akhlak mulia melalui pesantren.

3|Page
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Revolusi mental


Istilah "Revolusi Mental" berasal dari dua suku kata, yakni 'revolusi' dan
'mental'. Arti dari 'Revolusi' adalah sebuah perubahan yang dilakukan dengan
cepat dan biasanya menuju kearah lebih baik. Beda dengan evolusi, yang mana
perubahannya berlangsung lambat. 'Mental' memiliki arti yang berhubungan
dengan watak dan batin manusia. Adapun istilah mentalitas menurut KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna aktivitas jiwa, cara berpikir, dan
berperasaan. Maka, istilah "Revolusi Mental" dapat ditafsirkan sebagai aktivitas
mengubah kualitas manusia kearah yang lebih bermutu dan bermental kuat
dalam berbagai aspek dengan jangka waktu yang cepat.[2]
Istilah mental bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang
bukan bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang
diperhatikan melainkan juga pembangunan.[3] Mental akan mengarahkan cara
manusia dalam memahami diri dan dunia, bagaimana mereka menampilkan diri
dan kepercayaan yang mereka yakini, cara berpakaian, bertutur, berperilaku,
cara mengambil keputusan dan bertindak. Kendati untuk membentuk mental,
jelas memerlukan proses.
Dalam pemahaman umum selama ini, revolusi sering dimaknai sebagai
perubahan cepat dalam ranah sosial-politik dengan konotasi kekerasan radikal
menyertainya. Jarang orang menyadari bahwa sebelum digunakan dalam wacana
dan gerakan sosial-politik, istilah revolusi sesungguhnya lebih dahulu muncul
sebagai istilah teknis dalam sains.[3]
Secara denotatif, revolusi berarti "kembali lagi" atau "berulang kembali";
ibarat musim yang terus berganti secara siklikal untuk kembali ke musim
semula. Maka, dalam sains, istilah revolusi mengimplikasikan suatu ketetapan
(konstanta) dalam perubahan; pengulangan secara terus-menerus yang
menjadikan akhir sekaligus awal. Pengertian seperti inilah yang terkandung
dalam frase ”revolusi planet dalam orbit”.[3]

4|Page
Jika dikaitkan dengan usaha untuk “kembali lagi” menjadi bangsa yang
memiliki mental yang terdidik, maka hal ini bukanlah hal yang mustahil.
Kenapa? Jelas karena pada dasarnya masyarakat kita sudah memiliki potensi
mental yang baik. Jiwa kebersamaan, santun, gotong royong, kerja keras,
musyawarah dan semua nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam di dalam diri
masyarakat Indonesia yang kesemuanya menjadi jiwa dan kepribadian dan
dituangkan dalam nilai-nilai dasar Negara kita yaitu pancasila. Namun karena
faktor-faktor eksternal yang menyebabkan nilai-nilai itu luntur secara perlahan-
lahan. Maka disinilah orientasi tujuan gerakan revolusi mental itu, yaitu
mengembalikan lagi jiwa dan kepribadian bangsa yang mulai luntur tersebut
dengan sebuah gerakan nasional yang digaungkan secara masif dan diprakarsai
dan didukung oleh pemerintah sebagai otoritas tertinggi di Negara ini.
Oleh karena itu, kekerasan dan perubahan cepat bukanlah elemen
esensial dari suatu revolusi. Revolusi tidak mesti dengan jalan kekerasan. Pada
1986, Peter L Berger memublikasikan buku The Capitalist Revolution yang
menunjukkan suatu bentuk revolusi nirkekerasan. Revolusi pun bisa ditempuh
secara cepat atau lambat. Revolusi industri di Eropa ditempuh dalam puluhan,
bahkan ratusan tahun. Yang esensial dalam suatu revolusi adalah ”kebaruan”.
Revolusi mengimplikasikan suatu kisah baru, revolusi menjadi jembatan yang
mentransformasikan dunia lama jadi dunia baru.[6]
"Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia
Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja,
bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala."
Itulah adalah gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh
Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956.
Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal
tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum
tercapai.
Revolusi di jaman kemerdekaan adalah sebuah perjuangan fisik, perang
melawan penjajah dan sekutunya, untuk mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kini, 70 tahun setelah bangsa kita merdeka, sesungguhnya

5|Page
perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir. Kita semua masih harus
melakukan revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Bukan lagi mengangkat
senjata, tapi membangun jiwa bangsa.
Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap,
dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern,
sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan
bangsa-bangsa lain di dunia.
Membangun jalan, irigasi, pelabuhan, bandara, atau pembangkit energi
juga penting. Namun seperti kata Bung Karno, membangun suatu negara, tidak
hanya sekadar pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya
membangun jiwa bangsa sebagai modal utama membangun suatu negara.[4]
Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat
(pemerintah & rakyat) dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai‐
nilai strategis yang diperlukan oleh Bangsa dan Negara untuk mampu
menciptakan ketertiban dan kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan
persaingan di era globalisasi[5].
Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang
saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya
wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi
perekonomian nasional[4]. Tiga nilai revolusi mental yang dibangun adalah :
Integritas, etos kerja dan gotong royong
2.2 Definisi pendidikan
Menurut KBBI kata pendidikan datang dari kata “didik” dengan
memperoleh imbuhan “pe” serta akhiran “an”, yang artinya langkah, sistem atau
perbuatan mendidik.
Kata pendidikan secara bhs datang dari kata “pedagogi” yaitu “paid”
yang artinya anak serta “agogos” yang artinya menuntun, jadi pedagogi yaitu
pengetahuan dalam menuntun anak. Sedang secara istilah pengertian pendidikan
adalah satu sistem pengubahan sikap serta perilaku seorang atau kelompok
dalam usaha mendewasakan manusia atau peserta didik lewat usaha pengajaran
serta kursus.[6]

6|Page
2.3 Definisi Pesantren
Kata pondok berasal dari funduq (bahasa Arab) yang artinya ruang tidur,
asrama atau wisma sederhana, karena pondok memang sebagai tempat
penampungan sederhana dari para pelajar/santri yang jauh dari tempat asalnya
(Zamahsyari Dhofir, 1982: 18). Menurut Manfred dalam Ziemek (1986) kata
pesantren berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan pe- dan akhiran -an yang
berarti menunjukkan tempat, maka artinya adalah tempat para santri. Terkadang
juga dianggap sebagai gabungan kata sant (manusia baik) dengan suku kata tra
(suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan
manusia baik-baik. Sedangkan menurut Geertz pengertian pesantren diturunkan
dari bahasa India Shastri yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis,
maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca
dan menulis. Dia menganggap bahwa pesantren dimodifikasi dari para Hindu
(Wahjoetomo, 1997: 70).
Dalam istilah lain dikatakan pesantren berasal dari kata pe-santri-an,
dimana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal
dari Bahasa Arab funduuq (‫ )فندوق‬yang berarti penginapan. Khusus di Aceh,
pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh
seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk
seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya
disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga
mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat
meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.
Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan
tempat santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau
mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian
dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut
Pawiyatan. Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru
mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari
istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci

7|Page
agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Terkadang juga
dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka
menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia
baik-baik.
Dalam kamus besar bahas Indonesia, pesantren diartikan sebagai asrama,
tempat santri, atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara
istilah pesantren adalah lembaga pendidikan Islam, dimana para santri biasanya
tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik dan
kitab-kitab umum, bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara detail,
serta mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan
pentingnya moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun Pondok pesantren secara definitif tidak dapat diberikan batasan
yang tegas, melainkan terkandung fleksibilitas pengertian yang memenuhi ciri-
ciri yang memberikan pengertian pondok pesantren.
2.4 Sejarah Pesaantren
Pesantren di Indonesia memang dan tumbuh berkembang sangat pesat.
Berdasarkan laporan pemerintah kolonial belanda, pada abad ke 19 untuk di
jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah, dengan jumlah santri tidak
kurang 16.500 orang. Dari jumlah tersebut belum masuk pesantren-pesantren
yang berkembang diluar jawa terutama Sumatra dan Kalimantan yang suasana
kegiatan keagamaanya terkenal sangat kuat.
Dalam mekanisme kerjanya, sistem yang ditampilkan pondok pesantren
mempunyai keunikan dibandingkan dengan system yang diterapkan dalam
pendidikan pada umumnya, yaitu :
a. Memakai system tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan
dengan sekolah moderen, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan
kiai
b. Kehidupan di pesantren menampakan semangat demokrasi karena mereka
praktis berkerja sama mengatasi problem nonkurikuler mereka.
c. Para santri tidak mengidap penyakit simbolis, yaitu perolehan gelar atau
ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengelurkan ijazah.

8|Page
d. Sitem pondok pesanten mengutamakan kesederhanaan,idealisme,
persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian hidup.
e. Alumni pondok pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan,
sehingga mereka hampir tidak dapa dikuasi oleh pemerintah.[7]
Sementara itu yang menjadi cirri khas pesantreen dan sekaligus
menujukan unsure-unsur pokoknya, yang memebedakannya dengan
lembagapendidikan lainnya, yaitu :
a. Pondok
Merupakan tempat tinggal kiai bersama para santrinya,. Adanya pondok sebagai
tempat tingggal bersama anatara kiai dengan para santrinya dan bekerjas sama
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehaari-hari, merupakan pembe da dengan
lembaga pendidikan yang belangsung di mesjid atau langgar.
b. Adanya Mesjid
Sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Mesjid yang merupakan
unsure pokok kedua dari pesantren, disamping berfungsi sebagai tempat unuk
melakukan sholat berjama’ah setiap waktu shalat, juga berfungsi sebagia tempat
belajar- mengajaar.
c. Santri
Merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, biasanya terdiri dari dua
kelompok, yaitu :
1. Santri Mukim
Ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok
pesantren.
2. Santri Kalong
Ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan
biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang kerumah
masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di peantren.
d. Kiai
Merupakan tokoh sentral dalam pesantren yang memberikan pengajaran. Karena
itu kiai adalah salah satu unsur yang paling dominant dalam kehidupan suatu
pesantren. Kemasyuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu

9|Page
pesantren banyajk bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, kharismatis
dan wibawa, serta keterampilan kiai yang bersangbkutan dalam mengelola
pesantrennya.
e. Kitab-kitab islam klasik
Unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan lembaga
pendidikan lainnya adalah bahwa pada pesaantren diajarkan kitab-kitab klasik
yang dikarang para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu
pengetahuan agama islam dan bahasa arab.
Sejarah perkembangan pondok pesantren memiliki model-model
pengajaran yang bersifat nonklasikal, yaitu model sistem pendidikan dengan
menggunakan metode pengajaran sorongan dan wetonan atau bendungan
(Menurut Istilah Dari Jawa Barat).
Sorongan, disbut juga sebagai cara mengajar perkepala yaitu setiap santri
mendapat kesempatan tersendiri untuk memperoleh pembelajaran seara
langsung dari Kiai. Dengan cara sorongan ini, pelajaran diberikan oleh
pembantu Kiai yang disebut “Badal”. Mula-mula Badal tersebut membacakan
matan kitab yang tertulis dalam bahasa arab, kemudian menerjemahkan kata
demi kata kedalam bahasa daerah, dan menerangkan maksudnya, setelah itu
santri disuruh membaca dan mengulangi pelajaran tersebut satu persatu,
sehingga setiap santri menguasinya.
Metode Bendungan atau Halqah dan sering juga disebut Wetonan, para santri
duduk disekitar kiai dengan membentuk lingkaran, dengan cara bendungan ini
kiai mangajarkan kitab tertentu pada sekelompok santri. Karena itu metode ini
biasa juga dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif. Dimana baik
kiai maupun santri dalam halaqah tersebut memegang kitab masing-masing. Kiai
membacakan teks kitab, kemudian menerjemahkannya kata demi kata, dan
menerangkan maksudnya. Santri menyimak kitabnya amasing-masing dac
mendengarkan dengan seksama terjemahan dan penjelasan-penjelasan kiai.
Kemudian santri mengulang dan mempelajari kembali secar sendiri-sendiri.
Perkembagan berikutnya, disamping teap mempertahankan sistem
ketradisionalannya, pesantren juga mengembangkan dan mengelola sistem

10 | P a g e
pendidikan madrasah. Begitu pula, untuk mencapai tujuan bahwa nantinya para
santri mampu hidup mandiri, kebanyakan sekarang ini pesantren juga
memasukan pelajaran keterampilan dan pengetahuan umum.
Pada sebagian pondok, sistem penyelenggaraan pendidikan dan
pengajaran makin lama makin berubah karena dipengaruhi oleh perkembangan
pendidikan ditanah air serta tututan dari masyarakat dilingkungan pondok
pesantren itu sendiri. Dan sebagian pondok Lagi tetap mempertahankan sistem
pendidikan yang lama.
2.5 Peran pesantren dalam membangun revolusi mental
K.H. Miscbach, tokoh dari kalangan ulama, mengatakan dalam Mubes I
Ittihad al-Ma’ahid Islamiyah pada tanggal 2-3 Agustus 1969 bahwa pesantren
merupakan kubu pertahanan mental masa-masa kolonial Belanda. Artinya,
pesantren tidak hanya sebagai lembaga pertahanan fisik terhadap intimidasi dan
senjata penjajah, namun pesantren juga menjadi kubu pertahanan yang bersifat
mental ataupun moral. Pemikiran Snouck Hurgronje yang berupaya
mengasimilasikan kebudayaan Indonesia dengan Belanda tidak mencapai
keberhasilan karena sistem pertahanan masyarakat Indonesia saat itu dominan
dipengaruhi pesantren. Tentu, ini dikarenakan tradisi dan corak santri yang tidak
mudah berasimilasi dengan budaya Barat, dalam hal ini Belanda sebagai
penjajah.
Pesantren juga sukses dalam memberantas buta huruf pada masyarakat
akar rumput masa penjajahan dengan sistem mengenalkan bahasa Arab Melayu.
Di lain hal, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis masyarakat
muslim Indonesia yang pertama membuka isolasi kultural dengan dunia luar.
Hal ini adalah bentuk kemampuan pesantren dalam mengaktualkan bahasa Arab.
Turunannya adalah membuka wacana bangsa hingga dapat berinteraksi dengan
dunia dan keilmuan yang lebih luas.

Dengan demikian, sistem pendidikan pesantren berhasil melahirkan


tokoh-tokoh ulama, zuama’, bahkan politikus, bahkan sampai saat ini pun dapat
dibuktikan. Banyak tokoh-tokoh nasional sekarang pernah mengeyam

11 | P a g e
pendidikan pesantren secara baik. K.H. Hasan Basri, tokoh dan ulama nasional
mengatakan beberapa titik keberhasilan pesantren , antara lain:
1. Berhasil menanamkan iman yang kokoh dalam jiwa para santri sehingga
mereka memiliki daya dan semangat juang yang tinggi untuk Islam.
2. Bersikap tegas menentang kekafiran dan kebatilan secara konsekuen dan
menyatukan diri dengan golongan pergerakan yang mempunyai pandangan yang
sama.
3. Mampu membentuk kecerdasan (intelektualitas) dan kesholehan (moralitas)
pada diri para santri, menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan, dan membina diri
untuk memiliki akhlak terpuji.
4. Mampu membentuk masyarakat yang bermoral dan beradab berdasarkan
ajaran Islam (masyarakat santri) sehingga menjadi kekuatan sosial dengan
pengaruhnya yang besar dalam masyarakat bangsa Indonesia.
5. Menjadikan dirinya bagaikan benteng terakhir pertahanan terakhir ummat
Islam dari serangan Kebudayaan Barat yang dilancarkan pemerintah kolonial
Belanda. Dengan kata lain, pesantren berhasil menyelamatkan kebudayaan Islam
di Indonesia.
6. Pesantren dan masyarakat santrinya adalah satu-satunya lembaga pendidikan
di Indonesia yang tidak mengenal kompromi atau bekerja sama dengan
pemerintah kolonial Belanda.
7. Dalam menghadapi arus perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan
yang melanda bangsa Indonesia, ternyata masih tetap menunjukkan vitalitasnya
untuk tetap berperan sebagai salah satu kekuatan sosial yang penting bagi
peradaban Islam di Indonesia, baik masa kini maupun masa mendatang.
Pesantren juga ternyata tidak tergilas oleh arus perkembangan lembaga-lembaga
pendidikan modern yang berkiblat ke Barat.
Penjelasan-penjelasan di atas memperlihatkan bahwa pesantren, dulu
ataupun sekarang, merupakan lembaga yang berhasil membentuk karakter-
karakter pribadi muslim (santri) dan memiliki peranan besar dalam membina
ummat dan bangsa hingga ke pelosok pedesaan[8].

12 | P a g e
Kemampuan pesantren untuk mempertahankan fungsi dasar inilah yang
menajadikan pesantren memiliki ciri khas dan memiliki prinsip yang melekat
pada pendidikan pesantren. Nurcholis Madjid menjelaskan setidaknya ada dua
belas prinsip yang melekat pada pendidikan pesantren yaitu:

a) Teosentrik;

b) Ikhlas dalam pengabdian;

c) Kearifan;

d) Kesederhanaan;

e) Kolektifitas (Barakat al-jama>’ah);

f) Mengatur kegiatan bersama;

g) Kebebasan terpimpin;

h) Kemandirian;

i) Tempat menuntut ilmu dan mengabdi

j) Mengajarkan ajaran agama;

k) Belajar di pesantren bukan untuk mencari sertifikat/ijazah

saja; dan

l) Kepatuhan terhadap kiai.[9]

Revolusi mental dapat terwujud di dalam pesantren, nilai – nilai seperti integritas
(berlaku jujur, adil), etos kerja dan gotong royong terdapat dalam keseharian santri,
karena santri dalam menuntut ilmu terinspirasi dari hadits Nabi S.A.W yang
berbunyi”Barang siapa yang menginginkan dunia, hendaklah ia berilmu, Barang siapa
yang menginginkan akhirat hendaklah ia berilmu, Barang siapa yang menginginkan
kedua-duanya sekaligus, ia pun harus berilmu.” Lalu hadits nabi ”Pelajarilah ilmu
karena sesungguhnya belajar semata-mata bagi Alloh itu merupakan kebaikan, dan
mempelajari ilmu merupakan tasbih, dan membahasnya merupakan jihad, dan
mencarinya merupakan ibadah, dan mengajarkannya merupakan sedekah sedangkan

13 | P a g e
menggunakannya bagi orang yang membutuhkannya merupakan Qurbah(pedekatan diri
kepada alloh). Serta Hadist Nabi yang artinya :”sesungguhnya para malaikat itu
merendahkan sayapnya kepada penuntut ilmu karena senangnya atas apa yang
dilakukan para penuntut ilmu.”

14 | P a g e
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Simpulan

Dari uraian tinjauan pustaka di atas maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Revolusi mental adalah suatu gerakan seluruh masyarakat (pemerintah & rakyat)
dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai‐nilai strategis yang
diperlukan oleh Bangsa dan Negara untuk mampu menciptakan ketertiban dan
kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi
2. Perwujudan revolusi mental dapat terjadi melalui pendidikan, dan pendidikan
yang mengajarkan nilai – nilai revolusi mental secara menyeluruh adalah
pesantren
3. Pesantren merupakan lembaga yang berhasil membentuk karakter-karakter
pribadi muslim (santri) dan memiliki peranan besar dalam membina ummat dan
bangsa hingga ke pelosok pedesaan

15 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
[1] Zanwir, widyaiswari. 2009. POTRET PENDIDIKAN INDONESIA MASA LALU,
KINI DAN HARI ESOK. Informasi dari
http://bdkpadang.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=577
:drszanwirspd&catid=41:top-headlines (diakses pada 8 November 10:00 WIB)
[2] Anonim. Pengertian revolusi mental. Informasi dari
http://www.maknaistilah.ga/2015/12/pengertian-revolusi-mental.html (diakses pada 7
November 2016 Pkl 21:00 WIB)
[3] Jansen Sinamo, ed, Revolusi Mental Dalam Institusi, Birokrasi dan Korporasi,
Jakarta: Institut Darma Mahardika, 2014.

[4]https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/5932/Revolusi+Mental%3A+Memban
gun+Jiwa+Merdeka+Menuju+Bangsa+Besar/0/artikel_gpr

[5] Ivan. 2014. Revolusi mental dalam Islam. Informasi dari


http://www.kompasiana.com/ivangp/revolusi-mental-revolusi-moral-revolusi-akhlak-
dalam-pandangan-islam_54f705a2a33311ad0c8b4796 (diakses pada 7 November 20:00
WIB)

[6] Lahiya. Penjelasan Lengkap Pengertian Pendidikan dan Tujuannya. Informasi dari
http://www.lahiya.com/pengertian-pendidikan-dan-tujuan-menurut-ahli/ (diakses pada 7
November 2016 )

16 | P a g e