Anda di halaman 1dari 19

Judul Buku : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

OHSAS 18001
Penulis : Soehatman Ramli
Penerbit : Dian Rakyat-Jakarta
Tahun terbit : Desember 2009
BAB 4
SISTEM MANAJEMEN K3 OHSAS 18001 : 2007

1. Persyaratan Umum
Setiap organisasi harus memiliki suatu kesisteman K3 yang baik. Karena itu
OHSAS 18001 mensyaratkan organisasi untuk membuat pernyataan umum
mengenai penetapan dan pengembangan SMK3 dalam organisasi. OHSAS 18001,
menggunkan pendekatan kesisteman mulai daari perencanaan, penerapan,
pemantauan dan tindakan perbaikan yang mengikuti siklus PDCA (Plan-Do-
Check-Action) yang merupakan proses peningkatan berkelanjutan.
Sebagai suatu kesisteman, semua elemen pada gambar diatas saling terkait
dan berhubungan sehingga harus dijalankan secara terpadu agar kinerja K3 yang
diinginkan dapat tercapai.

2. Lingkup SMK3
Lingkup penerapan sistem manajemen K3 berbeda antara suatu organisasi
dengan lainnya yang ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:
 Ukuran organisasi
 Lokasi kegiatan
 Kondisi budaya organisasi
 Jenis aktivitas organisasi
 Kewajiban hukum yang berlaku bagi organisasi
 Lingkup dan bentuk SMK3 yang telah dijalankan
 Kebijakan K3 organisasi
 Bentuk dan jenis risiko atau bahaya yang dihadapi
OHSAS 18001 tidak mensyaratkan bagaimana lingkup penerpaan K3,
tergantung kondisi dan kebijakan masing-masing organisasi. Karena itu, lingkup
SMK3 harus ditetapkan oleh manajemen sebagai acuan bagi semua pihak terkait.

3. Kebijakan K3
Kebijakan merupakan persyaratan utama dalam semua sistem manajemen
seperti Manajemen Lingkungan, Manajemen Mutu dan lainnya. Karena itu OHSAS
18001 mensyaratkan ditetapkannya kebijakan K3 dalam organisasi oleh
manajemen puncak. Kebijakan K3 (OH&S Policy ) merupakan perwujudan dari
komitmen pucuk pimpinan yang memuat visi dan tujuan organisasi, komitmen dan
tekad untuk melaksanakan keselematan dan kesehatan kerja, kerangka dan program
kerja.
Frank Bird dalam bukunya “Commitment”, menyebutkan bahwa komitmen
adalah niat atau tekad untuk melaksankan sesuatu yang menjadi daya dorong yang
sangat kuat untuk mencapai tujuan. Tanpa komitmen dari semua unsur dalam
organisasi, khususnya para pimpinan, pelaksanaan K3 tidak akan berjalan dengan
baik.
A. Kriteria Kebijakan K3
Suatu kebijakan K3 yang baik disyaratkan memenuhi kriteria sebagai
berikut:
 Sesuai dengan sifat dan skala risiko K3 organisasi
 Mencakup komitmen untuk peningkatan berkelanjutan
 Adanya komitmen untuk sekurangnya memenuhi perundangan K3
yang berlaku dan persyaratan lainnya yang diacu organisasi
 Didokumentasikan, diimplementasikan dan dipelihara
 Dikomunikasikan kepada seluruh pekerja
 Tersedia bagi pihak lain yang terkait
 Ditanjau ulang secara berkala
B. Proses Pengembangan Kebijakan K3
Pengembangan kebijakan K3 harus mempertimbangkan faktor berikut ini:
 Kebijakan dan objektif organisasi secara korporat
 Risiko dan potensi bahaya yang ada dalam organisasi
 Peraturan dan standart K3 yang berlaku
 Kinerja K3
 Persyaratan pihak luar
 Peningkatan berkelanjutan
 Ketersediaan sumber daya
 Peran pekerja
 Partisipasi semua pihak

4. Perencanaan SMK3
Proses berikutnya dalam sistem manajemen K3 menurut OHSAS 18001
adalah perencanaan (planning). OHSAS 18001 mewajibkan organisasi untuk
membuat prosedur perencanaan yang baik.
Perencanaan K3 yang baik, dimulai dengan melakukan identifikasi bahaya,
penilaian risiko dan penentuan pengendaliannya. Dalam melakukan hal tersebut,
harus dipertimbangkan berbagai persyaratan perundangan K3 yang berlaku bagi
organisasi.
4.1 Manajemen Risiko

A. Hubungan manajemen risiko dan manajemen K3


Sebelum mengembangkan program K3 terlebih dahulu harus diketahui apa
saja risiko dari potensi bahaya yang terdapat dalam kegiatan organisasi. Selanjutnya
dikembangkan program pengendalian risiko yang tepat melalui pendekatan sebagai
berikut:
 Manusia (human approach)
 Teknis (engineering) seperti sarana mesin peralatan atau material dan
lingkungan kerja
 Sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengoperasian, cara kerja
aman atau sistem manajemen K3
 Proses misalnya proses secara kimia atau fisis

B. Proses Manajemen Risiko


Mengelola resiko harus dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan
manajemen risiko sebagaimana terlihat dalam risk management standard AS/NZS
4360 yang meliputi:
 Penentuan konteks
 Identifikasi risiko
 Analisa risiko
 Evaluasi risiko
 Pengendalian risiko
 Komunikasi
 Pemantauan dan tinjau ulang

C. Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi
bahaya yang ada dilingkungan kerja. Dengan mengetahui sifat dan karakteristik
bahaya kita dapat lebih berhati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah
pengamanan agar tidak terjadi kecelakaan.
Prosedur identifikasi bahaya dan penilaian risiko harus mempertimbangkan:

 Aktivitas rutin dan non rutin


 Aktivitas dari semua individu yang memiliki akses ke tempat kerja
termasuk kontraktor
 Perilaku manusia, kemampuan dan faktor manusia lainnya
 Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang
menimbulkan efek terhadap kesehatan dan keselamatan manusia yang
berada dibawah perlindungan organisasi didalam tempat kerja
 Infrastruktur, peralatan dan material ditempat kerja apakah yang
disediakan organisasi atau pihak lain
 Perubahan atau rencana perubahan dalam organisasi, kegiatannya atau
material
 Modifikasi pada sistem manajemen K3 termasuk perubahan sementara
dan dampaknya terhadap operasi, proses dan aktivitas

D. Metode Identifikasi Dan Penilaian Risiko


Organisasi harus menetapkan metoda identifikasi bahaya yang akan
dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek antara lain:

 Lingkup identifikasi bahaya yang dilakukan misalnya meliputi seluruh


bagian, proses atau peralatan kerja atau aspek K3 seperti bahaya
kebakaran, penyakit akibat kerja, kesehatan, ergonomi dan lainnya
 Bentuk identifikasi bahaya, misalnya bersifat kualitatif atau kuantitatif
 Waktu pelaksanaan identifikasi bahaya, misalnya diawal proyek, pada
saat operasi, pemeliharaan atau modifikasi sesuai dengan siklus atau
daur hidup organisasi

Metoda identifiaksi bahaya harus bersifat proaktif atau prediktif sehingga


diharapkan dapat menjangkau seluruh bahaya baik yang nyata maupun yang
bersifat potensial. Teknik identifikasi bahaya ada berbagai macam yang dapat di
klasifikasikan atas:

 Teknik/metoda pasif
 Teknik/metoda semiproaktif
 Teknik/metoda proaktif
E. Pemilihan teknik identifikasi bahaya
Pemilihan teknik yang sesuai bagi perusahaan sangat menentukan
efektifitas identifikasi bahaya yang dilakukan. Ada beberapa pertimbangan dalam
menentukan teknik identifikasi bahaya antara lain:
 Sistematis dan terstruktur
 Mendorong pemikiran kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum
pernah dikenal sebelumnya
 Harus sesuai dengan sifat dan skala kegiatan perusahaan
 Mempertimbangkan ketersediaan informasi yang diperlukan
F. Penilaian risiko
Setelah melakukan identifikasi bahaya dilanjutkan dengan penialian risiko
yang bertujuan untuk mengevaluasi besarnya risiko serta skenario dampak yang
akan ditimbulkannya. Penilaian risiko digunakan sebagai langkah saringan untuk
menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan kejadian dan keparahan yang
ditimbulkan.
Contoh kategori kemungkinan terjadinya risiko secara kualitatif sebagai
berikut:

Contoh keparahan atau konsekuensi suatu kejadian secara kualitatf sebagai


berikut:

Tingkat Uraian Contoh rinci


Tidak Kejadian tidak menimbulkan kerugian atau cedera pada
1
signifikan manusia
Menimbulkan cedera ringan, kerugian kecil dan tidak
2 Kecil menimbulkan dampak serius terhadap kelangsungan
bisnis
Cedera berat dan dirawat dirumah sakit, tidak
3 Sedang
menimbulkan cacat tetap, kerugian finansial sedang
Menimbulkan cedera parah dan cacat tetap dan
4 Berat kerugian finasial besar serta menimbulkan dampak
serius terhadap kelangsungan usaha
Mengakibatkan korban meninggal dan kerugian parah
5 Bencana
bahkan dapat menghentikan kegiatan usaha selamanya

Selanjutnya hasil kemungkinan dan konsekuensi yang diperoleh dimasukan


kedalam tabel matriks risiko yang akan menghasilkan peringkat risiko.

Konsekuensi
Kemungkinan Tidak
Kecil Sedang Berat Bencana
Signifikan
A T T E E E
B S T T E E
C R S T E E
D R R S T E
E R R S T T

E-Risiko Ekstrim Kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan sampai


risiko telah direduksi. Jika tidak menguntungkan untuk
mereduksi risiko dengan sumber daya yang terbatas, maka
pekerjaan tidak dapat dilaksanakan.
T-Risiko Tinggi Kegiatan tidak boleh dilaksanakan sampai risiko telah
direduksi. Perlu dipertimbangkan sumber daya yang akan
dialokasiakan untuk mereduksi risiko. Apabila risiko
terdapat dalam pelaksanaan pekerjaan yang mase
berlangsung, maka tindakan harus segera dilakukan.
S-Risiko sedang Perlu tindakan untuk mengurangi risiko, tetapi biaya
pencegahan yang diperlukan harus diperhitungkan dengan
teliti dan dibatasi. Pengukuran pengurangan risiko harus
diterapkan dalam jangka waktu yang ditentukan.
R-Risiko Rendah Risiko dapat diterima. Pengedalian tambahan tidak
diperlukan. Pemantauan diperlukan untuk memastikan
bahwa pengendalian telah dipelihara dan diterapkan
dengan baik dan benar.

G. Pengendalian Risiko
Sejalan dengan konsep manajemen risiko, OHSAS 18001 mensyaratkan
organisasi melakukan pengendalian risiko sesuai hasil identifikasi bahaya dan
penilaian risiko yang telah dilakukan. Pengendalian risiko meruapkan langkah
menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko. Berdasarkan hasil analisa dan
evaluasi risiko dapat ditentukan apakah suatu risiko dapat diterima atau tidak. Jika
risiko dapat diterima, tentunya tidak diperlukan langkah pengendalian lebih lanjut.
Misalnya perusahaan telah memilih menerima risiko penggunaan suatu peralatan
mekanis dalam produksinya. Hasil menunjukkan tingkat kebisingan sebesar 85 dB.
Sebaliknya jika tingkat kebisingan mencapai 100-110 dB, maka risiko tidak
dapat diterima karena berbahaya terhadap pendengaran dan kesehatan pekerja.
Karena itu harus dilakukan tindakan pengendalian yang dapat dilakukan dengan
beberapa pilihan yaitu:
 Mengurangi kemungkinan
 Mengurangi keparahan
 Pengalihan risiko sebagian atau seluruhnya
 Menghindar dari risiko
Berkaitan dengan risiko K3, pengendalian risiko dengan mengurangi
kemungkinan atau keparahan dengan mengikuti hirarki sebagai berikut.
H. Proses Pengembangan Manajemen Risiko
Sesuai dengan prinsip manajemen K3, hasil manajemen risiko akan
menentukan arah dan bentuk manajemen K3 yang akan dikembangkan dalam
organisasi sehingga penerapannya tidak salah arah atau virtual. Oleh karena itu
proses pengembangan manajemen risiko sangat menentukan efektifitas
pelaksanaan K3 dalam organisasi, sehingga harus dilakukan secara terencana dan
efektif dengan langkah-langkah sebagai berikut.
Tahap Aktivitas Hasil/Penjelasan
Langkah 1 1. Tentukan konteks 1. Evaluasi berdasarkan visi
Menetapkan manajemen risiko dan misi organisasi,
Konteks organisasi tuntutan pemangku
2. Tetapkan risk criteria bagi kepentingan dan strategi
organisasi bisnis
3. Identifikasi dan petakan 2. Buat kriteria risiko
risiko korporat yang berdasarkan kondisi dan
dihadapi organisasi kemampuan organisasi
(gunakan pendekatan 3. Susun peta risiko secara
masukan-proses-keluaran) korporat
Langkah 2 1. Identifikasi risiko K3 1. Pemetaan dapat dilakukan
Identifikasi (OHS Risk) untuk setiap menurut proses, aktivitas
Bahaya tingkat organisasi atau struktur organisasi
2. Buat registrasi resiko yang 2. Risk Register mencatat
ada semua sumber bahaya,
loaksi, tingkat risiko dan
rencana pengendaliannya
Langkah 3 1. Lakukan penilaian risiko 1. Gunakan kriteria risiko
Penilaian unutk setiap bahaya yang yang telah ditetapkan
Risiko ada 2. Gunakan matrik risiko
2. Tentukan risiko dan buat yang telah ditetapkan
risk matrix
3. Buat risk profile atau risk
mapping
Langkah 4 1. Saring semua risiko Gunakan kriteria risiko yang
Analisa menggunakan peringkat telah ditetapkan
Risiko risiko yang telah
ditetapkan
2. Lakukan analisa secara
kualitatif dan kuantitatif
jika diperlukan
Langkah 5 Tentukan langkah pengendalian Gunakan kriteria ALARP yang
Pengendalian sampai risiko mencapai batas telah ditetapkan
Risiko yang dapat diterima
Langkah 6 1. Komunikasikan semua Gunakan semua media yang ada
Komunikasi risiko kepada pihak terkait seperti pendidikan, buletin dan
Risiko 2. Sebarkan hasilnya manual K3
keseluruhan pihak terkait
dengan kegiatan
Langkah 7 1. Dokumentasikan semua Potensi bahaya diketahui oleh
Dokumentasi program manajemen risiko semua pihak dalam organisasi
Manajemen 2. Dokumentasikan hasil sehingga kepedulian meningkat
Risiko identifikasi bahaya,
penilaian dan pengendalian
yang dilakukan
Langkah 8 1. Implementasikan semua Upaya pengendalian risiko
Implementasi hasil pengedalian risiko berjalan dengan baik dan
Manajemen dalam setiap tahapan terarah sehingga angka
risiko aktivitas kecelakaan dapat ditekan
2. Masukkan program
pengendalian risiko dalam
rencana kerja

4.2 Perundangan dan Persyaratan Lainnya


Di Indonesia banyak dikeluarkan perundangan berkaitan dengan K3.
Sebagai payung hukum adalah Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja. Untuk OHSAS 18001 mensyaratkan adanya prosedur
manajemen untuk mengidentifikasi semua perundangan, peraturan atau standar
yang terkait dengan risiko yang terdapat dalam organisasi. Prosedur ini memuat
antara lain prosedur mendapatkan akses ke sumber perundangan, proses kajian serta
dampak hukum sekaligus menentukan penanggung jawab pemenuhannya.
Masukan yang dapat digunakan untuk menentukan perundangan dan
persyaratan yang dapat diperlukan antara lain:
 Rincian aktivitas organisasi termasuk produk dan jasa yang dihasilkan.
 Hasil identifikasi bahaya yang dapat dilakukan
 Best Practices, yang dapat diperoleh dari institusi atau organisasi
sejenis
 Persyaratan hukum yang berlaku untuk kegiatan sejenis dengan
aktivitas organisasi

Organisasi harus memiliki akses sumber perundangan dan persyaratan K3


lainnya misalnya melalui:

 Internet,
 Perpustakaan,
 Sosiasi industri,
 Instansi/lembaga pemerintah,
 Asosiasi K3,
 Konsultan,
 Produsen alat dan bahan kimia,
 Kontraktor,
 Dan lainnya.

4.3 Objektif dan Program K3

A. Objektif
Objektif K3 harus memiliki kaitan dengan hasil identifikasi bahaya yang
telah dilakukan dan selaras dengan kebijakan organisasi serta strategi bisnis yang
dijalankan. Tanpa objektif K3 yang jelas dan terarah, implementasi SMK3 tidak
akan berhasil dengan baik.
Oleh karena itu, dalam mengembangkan objektif K3 harus
dipertimbngankan hal sebagai berikut:
 Kebijakan organisasi secara menyeluruh
 Hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko
 Ketersediaan sumber daya
 Ketentuan perundangan
 Adanya partisipasi semua pihak dalam organisasi

Objektif K3 harus memenuhi kriteria sebagai berikut:


 Sederhana
 Terukur
 Dapat dicapai
 Realistis
 Jangka waktu

Selanjutnya OHSAS 18001 mensyaratkan agar objektif K3 tersebut


dikomunikasikan kepada semua pihak, baik pekerja, manajemen maupun pihak
lainnya dan didokumentasi dengan baik.

B. Program K3
Untuk mencapai objrktif yang telah ditetapkan, organisasi harus menyusun
program kerja yang merefleksikan kebijakan organisasi. Rencana kerja ini disusun
untuk setiap tingkat manajemen sebagai landasan operasional dengan
mempertimbangkan:

 Penentuan tanggungjawab dan wewenang untuk pencapainnya di setiap


tingkatan, fungsi atau departemen.
 Sarana atau sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai program
kerja yang telah ditetapkan misalnya pendanaan, tenaga, peralatan dan
lainnya.
 Jangka waktu atau jadwal pelaksanaan dan penyelesaian program kerja.

Sebagaiamana halnya dengan objektif K3, program kerja K3 harus


didokumentasikan dan dikomunikasikan kepada semua pihak terkait, terutama
mereka yang terlibat dalam pelaksanaanya.

4.4 Implementasi dan Operasional

A. Peran dan tanggung jawab dalam K3


Peran dan tanggung jawab mengenai K3 harus ditetapkan secara tertulis dan
menjadi bagian integral dari uraian tugas dan jabatan masing-masing. Sebagai
contoh, seorang pengawas pabrik bertanggung jawab menjaga dan menjamin
kelancaran operasi dari unit pabrik yang berada dibawah wewenangnya. Dalam hal
ini termasuk atau melekat tanggung jawab tentang K3 seperti menjalankan tentang
norma-norma K3 yang berlaku dan melakukan pembinaan K3 bagi pekerja yang
berada dibawah pengawasannya. Tanggung jawab mengenai K3 tidak sepenuhnya
dibebankan kepada fungsi K3 yang ada karena mereka memiliki keterbatasan.
Peran utama dari fungsi K3 secara garis besar adalah sebagai berikut:
 Sebagai alat manajemen
 Sebagai agen pemenuhan persyaratan
 Sebagai konsultan keselamatan
 Sebagai pengendali rugi

B. Komitmen Manajemen
Komitmen merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan K3. Menurut Frank
Bird dalam bukunya, “commitment”, komitmen adalah tekad yang kuat untuk
melaksanakan sesuatu, dalam hal ini K3 dalam organisasinya. Tanpa komitmen,
kebijakan K3 yang telah disusun dengan baik tidak akan bermakna. Untuk itu,
manajemen harus memperlihatkan komitmennya agar dapat terlihat dan dirasakan
setiap unsur dalam organisasi misalnya:
 Memberikan teladan atau contoh dalam tindakan sehari-hari seperti
penggunaan alat keselamatan.
 Menempatkan isu K3 sebagai prioritas dalam pertemuan atau rapat
manajemen
 Meluangkan waktu untuk terlibat atau hadir dalam forum atau kegiatan
K3 yang diadakan di lingkungan organisasi
 Menempatkan isu dan pertimbangan K3 dalam proses pengambilan
keputusan, khususnya yang bersifat strategis
 Mendorong pekerja dan semua unsur untuk memberikan dukungan atau
konstribusi dalam K3
 Mendukung penyediaan sumberdaya-waktu, dana, sarana-untuk
menunjang program K3
C. Sumberdaya
Tanpa sumberdaya yang memadai, program K3 tidak akan berjalan dengan
baik dan efektif. Sumberdaya yang diperlukan untuk kelangsungan program K3
mencakup sumberdaya manusia, infra struktur organisasi, teknologi dan finansial.
Sumberdaya manusia yang diperlukan meliputi tenaga ahli K3, koordinator
K3, Management Representative dan manajemen lini yang memahami dan mampu
menjalankan K3 dilingkungannya masing-masing.
Kebutuhan sumberdaya finansial sangat tergantung kepada kemampuan
masing-masing organisasi. Banyak yang menanyakan berapa besar anggaran yang
harus disiapkan untuk keperluan K3. Pertanyaan ini sulit dijawab, karena sangat
tergantung kepada hasil identifikasi dan penialian risiko.
Sumberdaya lain yang diperlukan adalah infra struktur untuk menjamin
keselamatan misalnya peralatan pemadam kebakaran, sistem proteksi petir, alat
pengaman mesin dan lainnya.

D. Peran Pekerja
Pada akhirnya, pelaksanaan K3 terletak di tangan masing-masing individu
dalam organisasi. Mereka harus memahami ketentuan dan persyaratan K3 yang
berlaku untuk tempat kerja seperti penggunaan alat pengaman, sumber bahaya, alat
keselamatan yang diwajibkan, prosedur kerja aman dan lainnya dan selanjutnya
melaksanakannya. Tanggung jawab terhadap K3 ini harus dicantumkan dengan
jelas dalam uraian tugas dan jabatan setiap individu dalam organisasi.

4.5 Kompetensi, Pelatihan dan Kepedulian

A. Kompetensi
Kompetensi merupakan persyaratan penting untuk menjamin agar
pekerjaan dilakukan dengan baik, mengikuti standar kerja yang berlaku serta
memenuhi persyaratan keselamatan. Kompetensi dapat diperoleh melalui
pendidikan, pelatihan serta pengalaman yang memadai dalam melakukan sesuatu
tugas atau aktivitas.
Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan harus memiliki standar
kompetensi untuk setiap job atau pekerjaan, misalnya standar kompetensi untuk
tukang las, operator mesin, operator bejana uap termasuk ahli keselamatan dan
kesehatan kerja.
B. Pelatihan
Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan Knowledge, Skill, dan Attitude
(KSA) sehingga harus dirancang sesuai atau spesifik dengan kebutuhan masing-
masing pekerja. Pengembangan pelatihan K3 yanag baik dan efektif setidaknya
melalui tahapan berikut.

Pelatihan K3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

 Induksi K3 yaitu pelatihan yang diberikan sebelum seseorang mulai


bekerja atau memasuki suatu tempat kerja
 Pelatihan Khusus K3 berkaitan dengan tugas dan pekerjaannya
masing-masing.
 Pelatihan K3 Umum yaitu program pelatihan yang bersifat umum
dan diberikan kepada semua pekerja mulai level terbawah sampai
manajemen puncak.

C. Kepedulian
Kompetensi dan pengetahuan saja belum mencukupi jika tidak didukung
oleh kepedulian atau perilaku aman dalam bekerja. Kepedulian mengenai aspek
keselamatan dalam pekerjaan atau perilaku sehari-hari merupakan landasan
pembentukan budaya keselamatan.
OHSAS 18001 mensyaratkan agar organisasi membangun dan
mengembangkan kepedulian mengenai K3 di lingkungan organisasi. Membangun
kepedulian tidak mudah karena menyangkut perilaku manusia. Sebagian para ahli
K3 menilai bahwa tanpa membangun perilaku aman atau budaya K3, maka program
K3 dalam perusahaan tidak akan berhasil dengan baik.

4.6 Tanggap Darurat


Tanggap darurat merupakan elemen penting dalam SMK3, untuk
menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Untuk itu diperlukan sistem
tanggap darurat guna mengantisipasi berbagai kemungkinan seperti kecelakaan,
kebakaran, peledakan, bocoran bahan kimia atau pencemaran.

OHSAS 18001 mensyaratkan agar organisasi mngembangkan prosedur


tanggap darurat untuk mengidentifikasi kemungkinan keadaan darurat dan
penanggulangannya.

Pengembangan suatu sistem tanggap darurat sekurangnya meliputi elemen


pokok sebagai berikut:

 Kebijakan
 Identifikasi keadaan darurat
 Perencanaan awal
 Prosedur keadaan darurat
 Organisasi keadaan darurat
 Prasarana keadaan darurat
 Pembinaan dan pelatihan
 Komunikasi
 Investigasi dan sistem pelaporan
 Inspeksi dan audit

5. Tinjauan Manajemen
OHSAS 18001 mensyaratkan untuk melakukan tinjauan manajemen secara
berkala oleh manajemen puncak. Tinjauan manajemen dilakukan secara
menyeluruh dan tidak bersifat detail untuk isu tertentu. Aspek yg di bahas dalam
tinjauan manajemen anatar lain:
 Kesesuaian kebijakan K3 yang sedang berjalan
 Penyempurnaan objektif K3 untuk peningkatan berkelanjutan
 Kecukupan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan proses
pengendalian bahaya
 Tingkat risiko saat ini dan efektifitas dari sistem pengendalian
 Kecukupan sumberdaya yang disediakan
 Evaluasi kecelakaan dalam kurun waktu tertentu
 Evaluasi penerapan prosedur K3
 Hasil dari audit K3 baik internal maupun eksternal dan lainnya

Dari hasil tinjauan manajemen ini dapat dirumuskan langkah-langkah


perbaikan dan peningkatan kinerja K3 periode berikutnya. Langkah perbaikan ini
harus konsisten dengan hasil kinerja K3, potensi bahaya, kebijakan K3,
ketersediaan sumberdaya manusia dan prioritas yang diinginkan.