Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

“SELUK-BELUK PENGAUDITAN DAN PERAN


SPKN DALAM AUDIT SEKTOR PUBLIK”

Dosen Pengampu : Muhammad Ahyaruddin. SE.,M.Sc.,AK

NAMA KELOMPOK :

BELLA FARISSA (150301100)

DENI SAPUTRA (150301080)

QONITA (150301099)

RAHMAT SALEH (150301107)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang mana telah

memberikan banyak nikmat serta karunia-Nya kepada kami semua, sehingga kami

berhasil menuntaskan Makalah ini dengan tepat pada waktunya.

Makalah“SELUK-BELUK PENGAUDITAN DAN PERAN SPKN

DALAM AUDIT SEKTOR PUBLIK” yang kami buat, Kami pun menyadari

bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata

sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi

perbaikan makalah yang akan kami buat di masa yang akan datang, mengingat

tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut

turut membantu menyukseskan pembuatan Makalah ini. Semoga Allah S.W.T

senantiasa selalu meridhai segala upaya dan usaha kita. Amin.

Pekanbaru, 07 Januari 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. 2

DAFTAR ISI ............................................................................................................. 3

BAB I PEMBAHASAN
1.1 Perbedaan Pengawasan dan Pemeriksaan (Pengauditan) .......................... 5
2.1 Jenis – Jenis Audit Sektor Publik .............................................................. 5
3.1 Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara ......... 9
4.1 Pendekatan – Pendekatan Audit Sektor Publik ......................................... 10
5.1 Proses Audit dalam Sektor Publik ............................................................. 11
6.1 Peran dan Fungsi Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) ......... 12
7.1 Perbandingan Kerangka Standar Pemeriksaan Keuangan Negara SPKN
2007 dengan Kerangka SPKN 2017 ................................................................ 13
8.1 Isu dan Tantangan dalam Audit di Pemerintahan Indonesia ..................... 14

BAB II PENUTUP
Kesimpulan ...................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 17

3
BAB I

PENDAHULUAN

Pemerintah yang bersih atau tata cara kelola yang baik ditandai dengan
tiga pilar utama yang merupakan elemen dasar yang saling berkaitan. Ketiga
elemen dasar tersebut adalah partisipasi, transparasi, dan akuntabilitas. Fungsi
yang harus ada dalam proses akuntabilitas public adalah fungsi pemeriksaan atau
auditing. Mekanisme audit merupakan sebuah mekanisme yang dapat
menggerakkan makna akuntabilitas didalam pengelolaan sector public, BUMN,
atau instansi pengelola asset negara lainnya (Bastian, 2003).Perbedaan fungsi
pemeriksaan dengan fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan lebih bertujuan
untuk menjamin pencapaian tujuan tertentu secara optimal dan menjamin laporan
pertanggungjawaban yang disusun sesuai dengan ketentuan yang berlaku . Fungsi
pengawasan dilakukan pada setiap tahap evaluasi.
Terdapat empat pihak yang terlibat dalam proses pertanggung jawaban
publik,yaitu:
1. Pihak pertama berperan sebagai audit
2. Pihak kedua adalah DPR/DPRD sebagai perantara public yang
berkepentingan meminta pertanggung jawaban pihak pertama
3. Pihak ketiga adalah public atau masyarakat yang berhak meminta
pertanggung jawaban pihak pertama dan pihak kedua
4. Pihak keempat adalah auditor yang menjalankan fungsi pengauditan atau
atestasi.
Sesuai dengan Pasal 9 (1c) UU Nomor 15 tahun 2006 tentag BPK, BPK-RI
memiliki kewenangan untuk menetapkan standar pemeriksaan keuangan negara
setelah konsultasi dengan pemerintahan pusat atau daerah yang wajib digunakan
dalam pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

4
1.1 PERBEDAAN PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN
(PENGAUDITAN)

.Istilah pemeriksaan (auditing) adalah sebuah istilah teknis professional.


Pengawasan dapat dilakukan dari pihak internal dan pihak eksternal. Pengawasan
dari internal dilakukan langsung oleh pimpinan, sedangkan pengawasan dari
eksternal dilakukan oleh lembaga legislative dan masyarakat. Pengawasan
merupakan tindakan untuk membandingkan antara yang seharusnya terjadi
dengan yang sebenarnya terjadi atau untuk menjamin pencapaian tujuan tertentu
secara optimal. Menurut Tarigan (2007) membagi pemeriksaan keuangan menjadi
dua jenis,yaitu pemeriksaan keuangan yang dilakukan internal dan eksternal.
Pemeriksaan keuangan secara internal lembaga atau instansi tertentu yang
berfungsi untuk melakukan pemeriksaan sebagai bentuk fungsi pengawasan.
Pelaksanaan pemeriksaan keuangan secara eksternal dijalankan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menjalankan amanat konstitusi untuk
memeriksa pertanggung jawaban keuangan pemerintah terhadap DPR/DPRD dan
masyarakat. Sebagai bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan dari pimpinan,
pemeriksaaan keuangan secara internal,tidak bisa lepas dari keharusan untuk
melakukan pengawasan, yaitu membandingkan hasil yang seharusnya terjadi
dengan yang benar-benar terjadi.

2.1 JENIS-JENIS AUDIT SEKTOR PUBLIK


Auditing merupakan proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti terkait
informasi yang dapat di ukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan oleh
seorang atau lebih yang berkompeten dan independen untuk dapat menentukan
dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria-kriteria
yang telah ditetapkan(arens dan lobbecke,19910).Secara umum,ada tiga jenis
audit dalam audit sektor publik,yaitu audit keuangan(financial audit),audit
kinerja(performance audit),dan audit investigasi (investigation audit).

5
Audit keuangan
Audit keuangan adalah audit yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan
pengendalian keuangan berjalan secara efisien dan tepat dan serta transaksi
keuangan diotorisasi serta dicatat secara benar.Audit atas hal yang berkaitan
dengan keuangan mencakup sebagai berikut:
1. Penentuan apakah informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria
yang telah di tetapkan.
2. Pengendalian internal mengenai ketaatan terhadap peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan dugaan kecurangan.
3. Sistem pengendalian atau pengawasan internal atas penyusunan laporan
keuangan maupun terhadap pengamanan kekayaan.

Audit kinerja
Audit kinerja atau sering dikenal dengan performance audit atau value for
money audit merupakan jenis audit yang relatif baru dalam organisasi sektor
publik.Audit kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan,dalam hal tujuan
dan prosedur nya.audit kinerja pada sebuah program pemerintah meliputi juga
audit atas kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan serta pengujian
terhadap pengendalian internal. Audit kepatuhan adalah audit yang
memverifikasi/memeriksa bahwa pengeluaran-pengeluaran untuk pelayanan
masyarakat telah di setujui dan telah sesuai dengan undang-undang peraturan.

Tabel 23.1 perbandingan audit keuangan dengan audit kinerja


Audit keuangan audit kinerja
Objek audit:laporan keuangan Objek
audit:organisasi,program,aktivitas/kegiatan
atau fungsi
Menguji kewajaran laporan Menguji tingkat ekonomi,efisiensi,dan
keuangan dari salah saji yang efektivitas dalam penggunaan sumber daya

6
material dan kesesuaian nya untuk mencapai tujuan
dengan prinsip akuntansi
berterima umum
Lebih bersifat kuantitatif- Lebih bersifat kualitatif
keuangan
Tidak terlalu analitis Sangat analitis
Tidak menggunakan indikator Membutuhkan indikator kinerja,standar dan
kinerja,standar,dan target target kinerja untuk mengukur kinerja
kinerja
Biasanya tidak Biasanya mempertimbangkan cost benefit
mempertimbangkan analisis analysis
biaya-manfaat
Waktu pelaksanaan audit Audit bisa di lakukan sewaktu-waktu
tertentu(biasanya pada akhir
periode tertentu)
Audit dilakukan untuk Mempertimbangkan kinerja masa
peristiwa keuangan masa lalu lalu,sekarang dan masa mendatang
Tidak dimaksudkan untuk Dimaksudkan untuk memperbaiki alokasi
membantu melakukan alokasi sumber daya secara optimal dan
sumber daya secara optimal memperbaiki kinerja
Tidak terdapat rekomendasi Terdapat rekomendasi audit dan follow-up
audit dan follow-up audit audit

Kinerja yang baik bagi suatu suatu organisasi dicapai ketika administrasi
dan penyediaan jasa oleh organisasi yang bersangkutan dilakukan pada tingkat
yang ekonomis,efisien,dan efektif.Audit ekonomi dan efisiensi disebut
management audit atau operational audit,sedangkan audit efektivitas disebut
program audit.

Audit ekonomi dan efisiensi

7
Konsep yang pertama dalam pengelolaan organisasi sektor publik adalah
ekonomi,yang berarti pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu
pada harga yang terendah.Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input
value yang dinyatakan dalam satuan moneter.Efisiensi merupakan perbandingan
output atau input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah di
tetapkan.dapat diartikan bahwa ekonomi mempunyai arti biaya
terendah,sedangkan efisiensi mengacu pada rasio terbaik antara output dengan
biaya(input).Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan bahwa
suatu entitas telah memperoleh,melindungi,menggunakan sumber dayanya
(karyawan,gedung,ruang,dan peralatan kantor )secara ekonomis dan
efisien.Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam audit ekonomi dan
efisiensi,yaitu dengan mempertimbangkan apakah entitas yang di audit telah :
1. Mengikuti ketentuan pelaksanaan pengadaan yang sehat
2. Melakukan pengadaan sumber daya(jenis,mutu,dan jumlah) sesuai dengan
kebutuhan pada biaya terendah
3. Melindungi dan memelihara semua sumber daya yang ada secara memadai
4. Menghindari duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang tanpa tujuan atau kurang
jelas tujuannya.
5. Menghindari adanya pengangguran sumber daya atau jumlah pegawai yang
berlebihan
6. Menggunakan prosedur kerja yang efisien.
7. Menggunakan sumber daya(staf,peralatan,dan fasilitas)yang minimun dalam
menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa dengan kuantitas dan
kualitas yang tepat
8. Mematuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
perolehan,pemeliharaan dan penggunaan sumber daya negara
9. Melaporkan ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai
kehematan dan efisiensi.

Audit Efektivitas

8
Tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan.
Efektivitas merupakan perbandingan antara outcome dengan output. Outcome
sering kali dikaitkan dengan tujuan atau target yang hendak dicapai. jadi, dapat
dikatakan bahwa efektivitas berkaitan dengan pencapaian tujuan.

Audit Investigasi
Audit investigasi yaitu Kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu ,
periodenya tidak dibatasi, lebih spesifik pada area-area pertanggung jawaban yang
diduga mengandung inefiensi atau indikasi peyalahgunaan wewenang, dengan
hasil audit berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bergantung pada derajat
penyimpangan wewenang yang ditemukan.

3.1 PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB


KEUANGAN NEGARA
Sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, selain berpedoman pada IAR, dalam pelaksanaan
pemeriksaan BPK juga berpedoman pada Indische Comptabilite its wet atau
ICW (Staatsblad1925 Nomor 448 Jo. Lembaran Negara 1968 Nomor53). Agar
BPK dapat mewujudkan fungsinya secara efektif, dalam Undang-undang ini
diatur hal -hal pokok yang berkaitan dengan pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan Negara sebagai berikut:

1. Pengertian pemeriksaan danpemeriksa;

2. Lingkup pemeriksaan;

3. Standarpemeriksaan;

4. Kebebasan dan kemandirian dalam pelaksanaanpemeriksaan;

5. Akses pemeriksa terhadapinformasi;

6. Kewenangan untuk mengevaluasi pengendalian intern;

7. Hasil pemeriksaan dan tindaklanjut;

9
8. Pengenaan ganti kerugian negara;

9. Sanksi pidana.

BPK diberi kewenangan untuk melakukan 3 (tiga) jenis pemeriksaan, yakni:

1. Pemeriksaan keuangan, adalah pemeriksaan atas laporan keuangan


pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemeriksaan keuangan ini
dilakukan oleh BPK dalam rangka memberikan pernyataan opini tentang
tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
pemerintah.

2. Pemeriksaan kinerja, adalah pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi,


serta pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi
kepentingan manajemen oleh aparat pengawasan internpemerintah.Tujuan
pemeriksaan ini adalah untuk mengidentifikasikan hal-hal yang perlu
menjadi perhatian lembaga perwakilan. Adapun untuk pemerintah,
pemeriksaan kinerja dimaksudkan agar kegiatan yang dibiayai dengan
keuangan negara/daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien serta
memenuhi sasarannya secaraefektif.
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu, adalah pemeriksaan yang dilakukan
dengan tujuan khusus, di luar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan
kinerja. Termasuk dalam pemeriksaan tujuan tertentu ini adalah pemeriksaan
atas hal-hal lain yang berkaitan dengan keuangan dan
pemeriksaaninvestigatif.

4.1 PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM AUDIT SEKTOR PUBLIK


Pendekatan audit ada 3:
1. Audit Transaksi (vouching)
Pendekatan ini meliputi vouchng atau pembuktian seluruh transaksi yang
terjadi setelah melihat dokumen-dokumen atau bukti-bukti yang ada.
2. Audit Neraca
Pendekatan ini meliputi verifikasi seluruh aset dan kewajiban yang disajikan
dalam neraca.

10
3. Audit Sistem
Dalam pendekatan ini, auditor melakukan pengujian sistem akuntansi dan
sistem pengendlian internal untuk melihat apakah terdapat suatu dasar yang
dapat diandalkan sehingga sitem tersebut dapat digunakan.

5.1 PROSES AUDIT DALAM SEKTOR PUBLIK


Perkembangan terbaru dari auditing di sektor publik adalah adanya audit
kinerja atau juga ada yang menyebutnya value for money (VFM audit). Audit
kinerja sendiri merupakan perluasan dari audit keuangan dan audit kepatuhan.
Sebelum melakukan audit, auditor terlebih dahulu harus memperoleh informasi
umum organisasi guna mendapatkan pemahaman yang memadai tentang
lingkungan organisasi yang diaudit, struktur organisasi, misi organisasi, proses
kerja, serta sistem informasi dan pelaporan.
Berdasarkan hasil analisis terhadap kelemahan dan kekuatan sistem
pengendalian dan pemahaman mengenai keluasan (scope), validitas, dan
reliabilitas informasi kinerja yang dihasilkan oleh entitas atau organisasi, auditor
kemudian menetapkan kriteria audit dan mengembangkan ukuran-ukuran kinerja
yang tepat. Berdasarkan rencana kerja yang telah dibuat, auditor melakukan
pengauditan, mengembangkan hasil-hasil temuan audit dan membandingkan
antara kinerja yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Proses audit keuangan secara umum dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap
utama, yaitu :
1. Perencanaan audit
2. Pekerjaan lapangan (pelaksanaan audit)
3. Pelaporan
Sedangkan, pada proses audit kinerja tidak berbeda untuk tahap ke -1
sampai dengan tahap ke-3, namun ditambah dengan tahap ke-4 yaitu tahap
tindaklanjut (follow up) audit. Sama halnya dengan Mardiasmo yang menyatakan
bahwa struktur audit kinerja terdiri atas tahap pengenalan dan perencanaan, tahap
pengauditan, tahap pelaporan dan tahap penindaklanjutan.

11
1. Pada tahap pengenalan dilakukan survei pendahuluan dan sistem
pengendalian manajemen
2. Tahap pengauditan dalam audit kinerja terdiri atas tiga elemen, yaitu :
a. Review hasil-hasil program, akan membantu auditor untuk mengetahui
apakah entitas telah melakukan sesuatu yang benar.
b. Review ekonomi dan efisiensi, akan mengarahkan auditor untuk
mengetahui apakah entitas telah melakukan sesuatu yang benar secara
ekonomis dan efisien.
c. Review kepatuhan, akan membantu auditor untuk menentukan apakah
entitas telah melakukan segala sesuatu dengan cara-cara yang benar,
sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku.
Tahapan-tahapan dalam audit kinerja disusun untuk membantu auditor dalam
mencapai tujuan audit kinerja.
3. Tahap pelaporan, merupakan tahapan yang harus dilaksanakan karena adanya
tuntutan yang tinggi dari masyarakat atas pengelolaan sumber daya publik.
4. Tahap penindaklanjutan, tahap ini didesain untuk memastikan atau
memberikan pendapat apakah rekomendasi yang diusulkan oleh auditor sudah
diimplementasikan.

6.1 PERAN DAN FUNGSI STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN


NEGARA (SPKN)
Keberadaan sebuah standar pemeriksaan sangat penting karena menjadi
patokan dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan. Patokan-patokan inilah yang akan
mengarahkan pemeriksa di dalam setiap tahapan pemeriksaan, dan menjadi
penilai apakah sebuah pemeriksaan telah dijalankan dengan baik atau tidak.
Sesuai dengan peraturan BPK-RI Nomor 1 Tahun 2007 bahwa SPKN atau
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara adalah patokan untuk melakukan
pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. SPKN ini berlaku
untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan
serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab

12
keuangan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SPKN ini berlaku
bagi :

a. Badan Pemeriksaan Keuangan


b. Akuntan publik atau pihak lainnya yang melakukan pemriksaan atas
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, untuk dan atas nama
Badan Pemeriksaan Negara
Sesuai dengan UU Nomor 15 Tahun 2004 standar pemeriksaan (SPKN) memiliki
kedudukan sebagai dasar untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan
keandalan informasi mengenai pengelolaan tanggung jawab keuangan negara.
Adapun peran SPKN adalah memberikan patokan atau arahan per tahapan
pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara bagi pemeriksa.

7.1 PERBANDINGAN KERANGKA STANDAR PEMERIKSAAN


KEUANGAN NEGARA SPKN 2007 DENGAN KERANGKA SPKN 2017
Baik SPKN 2007 maupun 2017 diawali dengan kata sambutan dan
daftar isi pada awalnya, kemudian diikuti dengan Peraturan Badan
Pemeriksa Keuangan tentang standar pemeriksaan keuangan negara yang
mengikatnya. Peraturan untuk SPKN 2007 adalah Peraturan BPK RI Nomor 01
tahun 2007, dan Peraturan BPK RI Nomor 01 tahun 2017 untuk SPKN 2017.
SPKN 2007 memiliki delapan lampiran, sedangkan SPKN 2017
hanya terdapat empat lampiran yan g tercantum di dalam SPKN 2017.
Rincian detail lampiran SPKN 2007 adalah sebagai berikut :
 Lampiran I Pendahuluan Standar Pemeriksaan
 Lampiran II Pernyataan Standar Pemeriksaan 01 Standar Umum
 Lampiran III Pernyataan Standar Pemeriksaan 02 Standar Pelaksanaan
Pemeriksaan Keuangan
 Lampiran IV Pernyataan Standar Pemeriksaan 03 Standar Pelaporan
Pemeriksaan Keuangan
 Lampiran V Pernyataan Standar Pemeriksaan 04 Standar Pelaksanaan

13
Pemeriksaan Kinerja
 Lampiran VI Pernyataan Standar Pemeriksaan 05 Standar Pelaporan
Pemeriksaan Kinerja
 Lampiran VII
PernyataanStandarPemeriksaan06StandarPelaksanaanPemeriksaanDenganTuj
uanTertentu
 Lampiran VIII Pernyataan Standar Pemeriksaan 07 Standar Pelaporan
Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Untuk SPKN 2017, Memiliki Lampiran, Seperti :
 LAMPIRAN I KerangkaKonseptualPemeriksaan
 LAMPIRAN II PSP 100 -STANDARUMUM
 LAMPIRAN III PSP 200-STANDAR Pelaksanaan Pemeriksaan
 LAMPIRAN IV PSP 300 - STANDAR Pelaporan Pemeriksaan
SPKN 2017 melakukan simplifikasi terhadap
lampiran-lampirannya yang sebelumnya pada SPKN 2007
terjadi pemisahaan standar pelaksanaan dan standar pelaporan untuk
pemeriksaan keuangan, kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu,
SPKN 2017 tidak melakukan pemisahaan secara langsung terkait hal tersebut.

8.1 ISU DAN TANTANGAN DALAM AUDIT DI PEMERINTAHAN


INDONESIA
Audit sektor publik tidak hanya memeriksa serta menilai kewajaran laporan
keuangan sektor publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur pemerintahan
terhadap undang-undang dan peraturan yang berlaku. Disamping itu, auditor
sektor publik juga memeriksa dan menilai tingkat ekonomis, efisiensi, serta
efektivitas dari semua entitas, program, kegiatan, serta fungsi yang dilakukan
pemerintah.
Media sederhana yang dapat dilakukan untuk memulai suatu pemahaman
terhadap SPKN adalah melalui sosialisasi. Sosialisasi diperuntukkan bagi :
a. Auditor BPK, yang bertujuan agar SPKN dapat diaplikasikan dalam
pemeriksaan sehingga outputnya sesuai SPKN

14
b. Auditee (pemerintah dan lembaga negara), bertujuan untuk membantu auditee
agar dapat membantu dalam memahami hasil pemeriksaan auditor BPK
c. Akademisi/profesi/pemerhati, yang bertujuan untuk mendapat masukan dalam
pengembangan baik bersifat koreksi maupun pengembangan dengan kondisi
terkini
Pemeriksaan bernilai tambah ditentukan oleh tiga faktor simultan dari baiknya
kualitas :
a. Hasil pemeriksaan
b. Kemampuan untuk memahami hasil pemeriksaan
c. Tindak lanjut atas hasil pemeriksaan setelah diadaptasikan dengan kondisi
Selain itu, penerapan atas SPKN kadang memungkinkan terjadi perbedaan
interpretasi dalam memahami SPKN. Dari semua perbedaan yang terjadi maka
pendapat atau interpretasi pihak penyusunlah yang harus diunggulkan.
Selain itu, tantangan dimasa mendatang bagi auditor atau pemeriksa,
sebagaimana dijelaskan oleh Ritonga adalah adanya amanat UU Nomor 17 Tahun
2003 untuk menerapkan akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Salah satu
kondisi yang menjadi syarat untuk dapat menerapkan akuntansi berbasis akrual
pada pemerintah daerah adalah adanya dukungan dari pemeriksa laporan
keuangan. Adapun motivasi maupun argumentasi pemerintah dalam menerapkan
akuntansi pemerintahan berbasis akrual, namun kenyataan sampai sampai dengan
saat ini amanat undang-undang tersebut belum dicabut. Oleh karena itu, akuntansi
berbasis akrual menjadi kewajiban yang harus segera diterapkan.

15
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pemerintah yang bersih atau tata cara kelola yang baik ditandai dengan
tiga pilar utama yang merupakan elemen dasar yang saling berkaitan. Ketiga
elemen dasar tersebut adalah partisipasi, transparasi, dan akuntabilitas. Fungsi
yang harus ada dalam proses akuntabilitas public adalah fungsi pemeriksaan atau
auditing.Mekanisme audit merupakan sebuah mekanisme yang dapat
menggerakkan makna akuntabilitas didalam pengelolaan sector public, BUMN,
atau instansi pengelola asset negara lainnya (Bastian, 2003).Perbedaan fungsi
pemeriksaan dengan fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan lebih bertujuan
untuk menjamin pencapaian tujuan tertentu secara optimal dan menjamin laporan
pertanggungjawaban yang disusun sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

JENIS-JENIS AUDIT SEKTOR PUBLIK


Audit keuangan, Audit kinerja, Audit ekonomi dan efisiensi, Audit
Efektivitas, dan Audit Investigasi.

PERAN DAN FUNGSI STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN


NEGARA (SPKN)
Keberadaan sebuah standar pemeriksaan sangat penting karena menjadi patokan
dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan. Patokan-patokan inilah yang akan
mengarahkan pemeriksa di dalam setiap tahapan pemeriksaan, dan menjadi
penilai apakah sebuah pemeriksaan telah dijalankan dengan baik atau tidak.

16
DAFTAR PUSTAKA

Halim Abdul dan Muhammad Syam Kusufi. Teori, Konsep, dan Aplikasi
Akuntansi Sektor Publik, Edisi 2, Salemba Empat.

Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan


Negara (SPKN)

Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan


Negara (SPKN)

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan


Tanggung Jawab Keuangan Negara

17

Anda mungkin juga menyukai