Anda di halaman 1dari 30

TEORI INVESTASI DALAM EKONOMI MAKRO

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Makro I


(XPD101)

Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Mugi Rahardjo, M.Si

Disusun Oleh :
KELOMPOK 2
Agus Hermawan F1115002
Erwinda Agnesia V A F1115012
Marsha Diptha I F1115022
Retno Ayu K F1115032
Ila Asmara F1115042

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Para pemula dalam ilmu makroekonomi kadang-kadang dibingungkan oleh bagaimana
para ahli makroekonomi menggunakan kata-kata biasa dengan cara baru dan spesifik. Contohnya
adalah istilah “investasi”. Kebingungan muncul karena apa yang tampak seperti investasi untuk
seorang individu bukanlah investasi bagi perekonomian secara keseluruhan. Kaidah umumnya
adalah investasi perekonomian tidak mencakup pembelian yang hanya merealokasi aset-aset
yang ada di antara individu-individu yang berbeda. Investasi, dalam pandangan para ahli
makroekonomi, menciptakan modal baru.
Investasi adalah kata kunci penentu laju pertumbuhan ekonomi, karena investasi dapat
mendorong kenaikan output secara signifikan, selain itu juga secara otomatis akan meningkatkan
permintaan input, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan kerja dan
kesejahteraan masyarakat sebagai konsekuensi dari meningkatnya pendapatan yang diterima
masyarakat (Makmum & Yasin, 2003 : 63).
Menurut Rostow (dalam Todaro, 2000) menjelaskan bahwa setiap upaya untuk “tinggal
landas” dalam konsep pembangunan nasional suatu negara, mengharuskan adanya mobilisasi
tabungan dalam dan luar negeri dengan maksud untuk menciptakan investasi yang cukup, untuk
mempercepat pertumbuhan ekonomi, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sebagai konsekuensi dari meningkatnya pendapatan yang diterima masyarakat.
Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan
dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu
harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai
penanaman modal.
Saat ini banyak negara-negara yang melakukan kebijaksanaan yang bertujuan untuk
meningkatkan investasi baik domestik ataupun modal asing. Hal ini dilakukan oleh pemerintah
sebab kegiatan investasi akan mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan
tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan penambahan
devisa.
Melihat realita yang ada, investasi merupakan faktor dominan dalam pembangunan
ekonomi suatu negara. Hal tersebut dapat dilihat dari statistik yang menunjukkan bahwa semakin
tinggi nilai investasi suatu negara maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekonomi negara
tersebut.
Uraian di atas menunjukkan bahwa perlunya peningkatan nilai investasi bagi setiap
negara khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Pentingnya investasi dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan menjadikan pemerintah dari setiap negara berlomba-
lomba untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dalam negaranya. Hal tersebut
dilakukan dengan berbagai upaya antara lain seperti : memulihkan situasi politik, keamanan dan
ketertiban, memberikan insentif kepada para investor, memberikan kemudahan dalam birokrasi,
menjamin kepastian hukum, serta menjalin hubungan diplomasi baik secara bilateral maupun
multilateral dengan negara lain. Semua upaya tersebut berorientasi pada peningkatan nilai
investasi yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga
cita-cita negara untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya dapat tercapai.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan investasi?
2. Jenis investasi
3. Apa saja jenis-jenis pengeluaran investasi?
4. Apa saja kriteria investasi?
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi laju investasi?
6. Darimana saja sumber-sumber dana investasi?
7. Resiko investasi

1.3 Tujuan dan Sasaran


13.1 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui definisi investasi, jenis-jenis
pengeluaran investasi, kriteria investasi, faktor-faktor yang mempengaruhi laju investasi serta
mengetahui sumber-sumber dana investasi.
13.2 Sasaran
Adapun sasaran untuk mencapai tujuan diatas sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi definisi investasi
2. Jenis investasi
3. Mengidentifikasi jenis-jenis pengeluaran investasi
4. Mengidentifikasi kriteria investasi
5. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi laju investasi
6. Mengidentifikasi sumber-sumber dana investasi
7. Resiko investasi

1.4 Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
Pada Bab I Pendahuluan berisi mengenai latar belakang pembuatan makalah, rumusan
masalah dari ulasan latar belakang, tujuan dari penyusunan makalah, sasaran yang akan dicapai
dalam penyusunan makalah, dan sistematika penulisan dalam penyusunan makalah.
BAB II PEMBAHASAN
Pada Bab II berisi mengenai definisi investasi, jenis-jenis pengeluaran investasi, kriteria
investasi, faktor-faktor yang mempengaruhi laju investasi dan sumber-sumber dana investasi.
BAB III PENUTUP
Pada Bab III berisi kesimpulan dari pembahasan mengenai investasi, jenis pengeluaran
investasi, faktor-faktor yang mempengaruhi laju investasi serta sumber-sumber dana investasi
seperti Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Investasi


Pengertian investasi menurut Sadono Sukirno: Investasi dapat diartikan sebagai
pengeluaran atau pembelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli
barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan
memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. (Sadono
Sukirno, 1997: 107).
Investasi merupakan kegiatan dalam menanamkan modal dana dalam suatu bidang
tertentu. Investasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya yaitu investasi dalam
bentuk saham. Investor dapat menanamkan kelebihan dananya dalam bentuk saham di pasar
bursa. Tujuan utama investor dalam menanamkan dananya ke bursa efek yaitu untuk mencari
pendapatan atau tingkat pengembalian investasi (return) baik berupa pendapatan dividen maupun
pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya (capital gain).
Taswan dan Soliha (2002:168) mendefinisikan investasi dapat dilakukan oleh individu
maupun badan usaha (termasuk lembaga perbankan) yang memiliki kelebihan dana. Investasi
dapat dilakukan baik di pasar uang maupun di pasar modal ataupun ditempatkan sebagai kredit
pada masyarakat yang membutuhkan.
Sedangkan definisi investasi menurut Sunariyah (2003:4) Investasi adalah suatu
penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama
dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang”.
Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa investasi merupakan suatu komitmen atas
sejumlah dana dan penundaan konsumsi selama periode waktu tertentu untuk mendapatkan
sejumlah keuntungan di masa yang akan datang.
Investasi adalah pengeluaran atau perbelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk
membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan untuk menambah kemampuan
memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Investasi merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli/memperoleh faktor-faktor
produksi yang akan digunakanoleh perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa/ pengeluaran
untuk membeli faktor produksi untuk membangun usaha dan mempertahankan kelangsungan
hidup perusahaan.
Jogiyanto (2008) mengartikan investasi sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk
digunakan di dalam produksi yang efisien selama periode waktu tertentu. Sedangkan menurut
Tandellin (2001) investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber dana yang
dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan
dating. Tujuan seseorang berinvestasi yaitu untuk meningkatkan nilai utility total dari suatu
produk.
Pengertian investasi menurut Husnan (1996: 5) menyatakan bahwa: “Proyek investasi
merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa
ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.” Pada umumnya
manfaat ini dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya
tanah, mesin, bangunan dan lain-lain.
Pengertian investasi menurut Kasmir dan Jakfar (2012), investasi dapat diartikan
sebagai penanaman modal dalam suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu relatif panjang
dalam berbagai bidang usaha. Penanaman modal yang ditanamkan dalam arti sempit berupa
proyek tertentu baik bersifat fisik atau pun non fisik, seperti proyek pendirian pabrik, jalan,
jembatan, pembangunan gedung dan proyek penelitian, dan pengembangan.
Pengertian investasi menurut Downes dan Goodman, investasi adalah investasi
keuangan dimana seorang investor menanamkan uangnya dalam bentuk usaha dalam waktu
tertentu dari setiap orang yang ingin memperoleh laba dari keberhasilan pekerjaannya.
Pengertian investasi menurut M. Suparmoko: Investasi adalah pengeluaran yang
ditujukan untuk menambah atau mempertahankan persediaan kapital (capital stock). Persediaan
kapital ini terdiri dari pabrik-pabrik, mesin-mesin kantor, barang tahan lama lainnya yang
dipakai dalam proses produksi. Termasuk dalam persediaan kapital adalah rumah-rumah dan
persediaan barang-barang yang belum dijual atau dipakai pada tahun yang bersangkutan
(inventory). Jadi investasi adalah pengeluaran yang menambah persediaan kapital. (M.
Suparmoko, 1994: 79-80).
Pengertian investasi menurut Martono dan D. Agus Marjito (2002: 138) menyatakan
bahwa: “Investasi merupakan penanaman dana yang dilakukan oleh suatu perusahaan kedalam
suatu asset (aktiva) dengan harapan memperoleh pendapatan dimasa yang akan datang”.
Pengertian investasi menurut Deliarnov (1995, 123): Investasi merupakan pengeluaran
perusahaan secara keseluruhan yang mencakup pengeluaran untuk membeli bahan baku atau
material, mesin-mesin dan peralatan pabrik serta semua modal lain yang diperlukan dalam proses
produksi, pengeluaran untuk keperluan bangunan kantor, bangunan tempat tinggal karyawan dan
bangunan konstruksi lainnya, juga perubahan nilai stok atau barang cadangan sebagai akibat dari
perubahan jumlah dan harga.
Pengertian investasi menurut Sutojo (1993), investasi adalah usaha menanamkan faktor-
faktor produksi langka dalam proyek tertentu, baik yang bersifat baru sama sekali atau perluasan
proyek atau pabrik yang sudah ada untuk memperoleh manfaat keuangan dan-atau non keuangan
yang layak dikemudian hari.
Pengertian investasi menurut Haming dan Basalamah investasi merupakan pengeluaran
pada saat sekarang untuk membeli aktiva riil (tanah, rumah, mobil, dsb) atau aktiva keuangan
dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dimasa yang akan datang,
selanjutnya dikatakan investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-
sumber (dana) yang dipakai untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang, dengan barang
modal itu akan dihasilkan aliran produk baru di masa yang akan datang.
Pengertian investasi menurut Mulyadi (2001: 284) menyatakan bahwa: “Investasi adalah
pengaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang akan
dating”.
Berdasarkan teori ekonomi, investasi memiliki arti bahwa pembelian (produksi) dari
modal barang yang tidak di konsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang
produksi). Investasi adalah suatu komponen dari Produk Domestik Bruto atau GDP (Gross
Domestic Product), dengan rumus sebagai berikut :
GDP = C + I + G + (X-M)
Keterangan :
I : Investasi C : Konsumsi G : Pengeluaran Pemerintah
X : Ekspor M : Impor GDP : Produk Domestik Bruto

Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, sebagai berikut :
I = f(Y,i)
Keterangan :
Y : Pendapatan i : Tingkat Bunga

A. Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB)


Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan jumlah produk
berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu
negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi
barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara
yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum
diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat
bruto/kotor
karena PDB merupakan salah satu instrumen penting untuk dapat menghitung pendapatan
nasional. PDB merupakan nilai dari akhir keseluruhan barang/jasa yang dihasilkan oleh semua
unit ekonomi dalam suatu negara, termasuk barang dan jasa yang dihasilkan warga negara lain
yang tinggal di negara tersebut.

Penghitungan nilai PDB dapat dilakukan atas dua macam dasar harga yaitu :
1. PDB atas dasar harga berlaku, merupakan PDB yang dihitung dengan dasar harga yang
berlaku pada tahun tersebut. PDB atas dasar harga berlaku berfungsi untuk melihat
dinamika/perkembangan struktur ekonomi yang riil pada tahun tersebut.
2. PDB atas dasar harga konstan, merupakan PDB yang dihitung dengan dasar harga yang
berlaku pada tahun tertentu. PDB atas dasar harga konstan berfungsi untuk melihat pertumbuhan
ekonomi dari tahun ke tahun. Contohnya jika kita ingin mengetahui berapa persen kenaikan PDB
dari tahun 2010, 2011 dan tahun 2012, karena nilai/harga suatu produk tiap tahun berubah-ubah
maka kita harus mengubah nilai PDB tahun 2010 dan 2011 dengan dasar harga tahun 2012
sehingga akan terlihat dengan jelas besaran kenaikan dari tiap tahunnya.
GDP dapat dihitung dengan 3 cara metode pendekatan:
• Metode pendekatan pengeluaran
Y = C + G + I + (X-M)
atau
Konsumsi + Pengeluaran Pemerintah + Investasi + (ekspor-impor)

• Metode pendekatan pendapatan


Y=r+i+w+p
atau
sewa + upah + bunga + laba
• Metode pendekatan produksi
Y = jumlah P.Q
Contoh perhitungan Gross Domestic Product (GNP) :

Keterangan Biaya (dalam milliar)

Keterangan 100

Pengeluaran Pemerintah 50

Investasi 30

Ekspor 30

Impor 15

Maka :
Y = C + G + I + (X-M)
Y = 100 + 50 + 30 + (30 – 15)
Y = 195 (dalam Milliar)
B. Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)
Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB) adalah jumlah barang dan jasa
yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara baik yang tinggal di dalam
negeri maupun di luar negeri, tetapi tidak termasuk warga negara asing yang tinggal di negara
tersebut, atau dengan kata lain PNB/GNP adalah jumlah Produk Domestik Bruto ditambah
dengan pendapatan neto dari luar negeri (penghasilan neto) adalah penghasilan dari warga negara
yang bekerja di luar negeri dikurangi penghasilan warga negara lain yang bekerja di dalam
negeri.

Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut :


PNB = PDB + Pendapatan Neto dari luar negeri (Net Factor Income from Abrood)
Atau
PDB - Pendapatan Neto dari luar negeri (Net Factor Income from Abrood)
= PNB

Dengan cara lain, persamaan diatas dapat dinyatakan sebagai berikut.


1. Jika Pendapatan Neto dari luar negeri (Net Factor Income from Abrood) < 0, maka PDB
> PNB
2. Jika Pendapatan Neto dari luar negeri (Net Factor Income from Abrood) > 0, maka PDB
< PNB

Keterangan :
o PNB = Produk Nasional Bruto/Gross National Product (GNP)
o PDB = Produk Domestic Bruto/Gross Domestic Product (GDP)
o Pendapatan Neto = Pendapatan dari warga negara yang tinggal di luar negeri dikurangi
pendapatan warga negara asing yang bekerja di dalam negeri

Contoh :
Krisna warga negara Indonesia, bekerja di Indonesia dengan pendapatan Rp2.000.000,00 Jhon
warga negara Amerika Serikat dan bekerja di Indonesia, pendapatan Rp3.000.000,00 Juna warga
negara Indonesia tinggal dan bekerja di Inggris dengan pendapatan Rp1.000.000,00.

Maka PDB (GDP) = pendapatan Krisna + pendapatan Jhon = Rp2.000.000,00 + Rp3.000.000,00


= Rp5.000.000,00.

Penghasilan Neto = pendapatan Juna − pendapatan Jhon = Rp1.000.000,00 − Rp3.000.000,00 =


-Rp2.000.000,00
dengan menerapkan rumus di atas dapat kita ketahui PNB adalah:
PNB (GNP) = PDB + Penghasilan Neto
= Rp5.000.000,00 + (- Rp2.000.000,00)
= Rp3.000.000,00

C. Perbedaan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) dengan
Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)

Kedua istilah itu merujuk kepada output suatu negara. Perbedaannya adalah kalau GNP (Gross
National Produst) mengacu kepada barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara/penduduk
suatu negara selama satu tahun, baik yang tinggal di dalam negeri maupun luar negeri,
sedangkan GDP (Gross Domestic Product) mengacu kepada barang dan jasa yang dihasilkan
dalam suatu wilayah (dalam negeri) negara tertentu baik oleh warga negaranya sendiri ataupun
oleh pihak asing.

Misalnya:
Barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah negara X adalah 4000 yang terdiri dari 3000 oleh
warga negaranya sendiri dan 1000 oleh asing. Selain di negara X, warga negara Z juga ada yang
bekerja di luar negeri yang menghasilkan_total_output_sebesar_500.

Maka GNP nya sebesar 3500 sedangkan GDP nya sebesar 4000

Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana
tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut
akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain
memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu
biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga.
Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama. Analisis rencana investasi pada
dasarmya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (baik besar atau kecil) dapat
dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode penjajakan dari suatu gagasan usaha/bisnis
tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan, sehingga
investasi tidak gagal dan dapat menghasilkan rate of return sesuai dengan yang diharapkan.

1.2.2 Jenis Investasi


Keputusan investasi dapat di lakukan oleh individu atau suatu entitas yang mempunyai
kelebihan dana. Menurut Sunariyah (2004:4) investasi dalam arti luas terdiri dari dua
bagian utama yaitu:
1. Investasi dalam bentuk aktiva rill (real asset) berupa aktiva berwujud seperti emas, perak,
intan, barang-barang seni dan real estate.
2. Investasi dalam bentuk surat-surat berharga (financial asset) berupa surat-surat Berharga
yang pada dasarnya merupakan klaim atas aktiva rill yang di kuasai oleh entitas. Pilihan
aktiva financial dalam rangka invetasi pada sebuah entitas dapat di lakukan dengan du
acara:
a. Investasi langsung (direct investment)
investasi langsung dapat di artikan sebagai suatu pemilikan surat-surat berharga secara
langsung dalam suatu entitas yang secara resmi telah go public dengan harapan akan
mendapatkan keuntungan berupa penghasilan dividend an capital gains.
b. Investasi tidak langsung (indirect investment)
investasi tidak langsung terjadi bilamana surat-surat berharga yang di miliki di
perdagangkan kembali oleh perusahaan investasi yang berfungsi sebagai perantara.

2.2 Jenis-Jenis Pengeluaran Investasi


Ada tiga jenis pengeluaran dalam investasi, yaitu :
1. Investasi Tetap Bisnis (Business Fixed Investment)
Mencakup peralatan dan struktur yang dibeli perusahaan untuk proses produksi.
Bagian terbesar dari pengeluaran investasi, yaitu kira-kira tiga perempat dari totalnya, adalah
investasi bisnis. Investasi tetap bisnis mencakup segala sesuatu dari mesin faks sampai pabrik,
dari komputer sampai mobil perusahaan. Model investasi tetap bisnis standar disebut model
investasi neoklasik (neoclassical model of investment). Model neoklasik mengkaji manfaat dan
biaya bagi perusahaan untuk memiliki barang-barang modal. Model ini menunjukkan bagaimana
tingkat investasi –tambahan persediaan modal- dikaitkan dengan produk marjinal modal, tingkat
bunga, dan aturan perpajakan yang mempengaruhi perusahaan.
Untuk mengembangkan model ini, ada dua jenis perusahaan dalam perekonomian
(sebagai contoh). Perusahaan produksi (production firms) menghasilkan barang dan jasa dengan
menggunakan modal yang disewa. Perusahaan penyewaan (rental firms) membuat seluruh
investasi dalam perekonomian; perusahaan ini membeli modal dan menyewakannya kepada
perusahaan-perusahaan produksi. Kebanyakan perusahaan dalam perekonomian aktual
melaksanakan kedua fungsi itu: mereka memproduksi barang dan jasa, dan menginvestasikan
modal untuk produksi masa depan. Namun, analisa ini akan lebih sederhana jika memisahkan
kedua aktivitas ini dengan membayakan aktivitas tersebut dilakukan dalam perusahaan yang
berbeda.
2. Investasi Residensial (Residential Investment)
Mencakup rumah baru yang orang beli untuk tempat tinggal dan yang dibeli tuan
tanah untuk disewakan.
a. Ekuilibrium Saham dan Penawaran Aliran Investasi
Model ini terdiri dari dua bagian. Pertama, pasar untuk stok rumah yang telah ada
yang menentukan harga rumah ekuilibrium. Kedua, harga rumah yang menentukan aliran
investasi residensial.
Salah satu determinan permintaan rumah yang penting adalah tingkat bunga riil.
Banyak orang membuat pinjaman hipotek untuk membeli rumah mereka; tingkat bunga adalah
biaya pinjaman. Bahkan beberapa orang yang tidak harus meminjam untuk membeli rumah akan
merespon tingkat bunga tersebut, karena tingkat bunga adalah biaya oportunitas dari memegang
kekayaan dalam bentuk rumah dibanding menaruhnya di bank. Karena itu, penurunan dalam
tingkat bunga meningkatkan permintaan ruma, harga rumah, dan investasi residensial.
Harga
PH/P
Relatif Penawaran
Rumah, Penawaran
PH/P

Permintaa
n

Stok rumah, KH Aliran Investasi Residensial, IH


Gambar 2.1 Gambar 2.2
Pasar Rumah Penawaran Rumah Baru

Pada bagian (a) menunjukkan bagaimana harga relative rumah PH/P ditentukan
oleh penawaran dan permintaan terhadap stok rumah yang telah ada. Pada setiap titik waktu,
penawaran rumah adalah tetap. Stok ini ditunjukkan dengan kurva penawaran vertikal. Kurva
permintaan rumah miring ke bawah, karena harga yang tinggi menyebabkan orang-orang tinggal
di rumah yang lebih kecil, menumpang, atau bahkan kadang-kadang menjadi tunawisma. Harga
rumah disesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan.
Pada bagian (b) menunjukkan bagaimana harga relatif rumah menentukan
penawaran rumah baru. Perusahaan konstruksi membeli bahan dan mempekerjakan karyawan
untuk membangun rumah, lalu menjual rumah tersebut pada harga pasar. Biayanya bergantung
pada tingkat harga keseluruhan P (yang mencerminkan biaya kayu, batu bata, semen, dan lain-
lain), dan penerimaan mereka bergantung pada harga rumah PH. semakin tinggi harga relatif
rumah, semakin besar insentif untuk membangun rumah dan semakin banyak rumah dibangun.
Karena itu, aliran rumah baru – investasi residensial – bergantung pada harga ekuilibrium yang
ditetapkan di pasar rumah yang ada.
b. Perubahan Permintaan Rumah
Bila permintaan akan rumah bergeser, harga ekuilibrium rumah berubah, dan
perubahan ini akan mempengaruhi investasi residensial. Kurva permintaan akan rumah dapat
bergeser karena berbagai sebab seperti, booming ekonomi meningkatkan pendapatan nasional
dan juga permintaan terhadap rumah. Tingginya kenaikan populasi, bisa jadi diakibatkan
karena imigrasi, juga meningkatkan permintaan rumah.
c. Investasi Persediaan (Inventory Investment)
Investsai persediaan (mencakup barang-barang yang disimpan perusahaan di
gudang) pada saat yang sama dapat tidak bernilai apa-apa dan bisa memiliki signifikasi yang
besar. Investasi persediaan merupakan salah satu komponen pengeluaran terkecil, rata-rata
sekitar 1 persen dari GDP. Pada masa resesi, perusahaan berhenti mengganti kembali persediaan
mereka begitu barang dijual, dan investasi persediaan menjadi negatif. Pada resesi tipikal, lebih
separuh penurunan pengeluaran berasal dari penurunan investasi persediaan.
1. Alasan Menyimpan Persediaan
a. Pemerataan Produksi (Production Smoothing)
Salah satu kegunaan persediaan adalah untuk meratakan tingkat produksi
sepanjang waktu. Seperti, perusahaan yang mengalami booming dan penurunan penjualan secara
temporer. Selain menyesuaikan produksi barang pada kondisi mapan. Ketika penjualan rendah,
perusahaan memproduksi lebih banyak dari yang dijual dan menyimpan kelebihan barang itu
sebagai persediaan. Ketika penjualan tinggi, perusahaan memproduksi lebih sedikit dari yang
dijual dan menjual persediaannya.
b. Persediaan Sebagai Faktor Produksi (inventories as a Factor of Production)
Alasan menyimpan persediaan adalah persediaan membuat perusahaan
beroperasi secara efisien. Seperti, toko-toko eceran, dapat menjual barang-barang dagangan lebih
efektif jika mereka memiliki barang untuk ditunjukkan kepada pelanggan. Perusahaan
manufaktur menyimpan persediaan suku cadang untuk mengurangi waktu pada saat terhentinya
lini perakitan ketika mesin-mesin rusak. Dalam beberapa cara, hal ini dapat dipandang
persediaan sebagai factor produksi (inventories as a factor of production): Semakin besar
persediaan yang disimpan perusahaan, semakin besar output yang diproduksi.
c. Pencegahan kehabisan Barang (Stock-out Avoidance)
Menyimpan persediaan dapat menghindari kehabisan barang ketika penjualan
tiba-tiba melonjak. Perusahaan seringkali harus membuat keputusan produksi sebelum
mengetahui tingkat permintaan pelanggan. Contoh: penerbit harus memutuskan berapa banyak
buku baru yang harus dicetak sebelum mengetahui apakah buku itu akan popular. Jika
permintaan melebihi produksi dan tidak ada persediaan, barang akan habis selama satu periode,
serta perusahaan akan kehilangan penjualan dan laba.
d. Barang dalam Proses (Work in Process)
Beberapa barang mungkin membutuhkan beberapa tahap dalam produksi dan
karena itu, membutuhkan waktu. Ketika barang baru selesai sebagian, komponen-komponennya
dihitung sebagai bagian dari persediaan perusahaan.
2. Model Percepatan Persediaan
Model percepatan persediaan mengasumsikan bahwa perusahaan menyimpan
persediaan yang proposional terhadap tingkat output perusahaan. Alasannya, ketika output
tinggi, perusahaan-perusahaan manufaktur memerlukan lebih banyak bahan serta persediaan
yang disimpan, dan mereka memiliki lebih banyak barang dalam proses. Ketika perekonomian
mengalami masa booming, perusahaan-perusahaan eceran ingin memiliki lebih banyak barang
dagangan yang akan ditunjukkan kepada pelanggan. Jadi, jika N adalah persediaan
perekonomian dan Y adalah output, maka
N = Y,
Dimana  adalah parameter yang menunjukkan berapa banyak persediaan yang akan
disimpan perusahaan sebagai proporsi output. Investasi persediaan I adalah perubahan dalam
persediaan N. karena itu,
I = N = Y.
Model percepatan memprediksi bahwa investasi persediaan adalah proporsional
terhadap perusahaan output. Ketika output naik, perusahaan ingin menyimpan lebih banyak
persediaan, sehingga investasi persediaan tinggi. Ketika output turun, perusahaan ingin
menyimpan lebih sedikit persediaan, sehingga mereka membiarkan persediaan turun, dan
investasi persediaan negatif.
Model ini disebut model percepatan karena variable Y adalah tingkat di mana
perusahaan memproduksi barang, maka Y merupakan “percepatan” produksi. Model ini
menyatakan bahw investasi persediaan bergantung pada apakah perekonomian tumbuh dengan
cepat atau melambat.
3. Investasi Persediaan (Inventory Investment)
Mencakup barang-barang yang disimpan perusahaan di gudang, termasuk bahan-
bahan dan persediaan, barang dalam proses, dan barang jadi. Merupakan komponen terkecil dari
pengeluaran yakni sekitar 1 persen.

2.3 Kriteria Investasi


Kriteria investasi bermanfaat dalam melakukan pengukuran manfaat atau keuntungan
yang akan diperoleh jika melakukan investasi terhadap suatu usaha. Banyak orang yang
menanggung rugi karena tidak melakukan perhitungan atau tidak mengukur terlebih dahulu
tingkat visibilitas dan share profit serta management risk-nya ketika melakukan investasi.
Ada banyak kriteria investasi yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat investasi,
dimana kriteria tersebut dapat membantu untuk melihat apakah investasi tersebut dapat
memungkinkan dan menguntungkan atau tidak. Kriteria investasi merupakan sebuah metode
analisis yang dipakai untuk memperhitungkan antara biaya yang dikeluarkan dengan
kemanfaatan yang akan diperoleh selama investasi tersebut dilakukan.

Dalam mengukur atau menilai investasi yang akan atau telah terjadi terdapat beberapa
kriteria yang digunakan antara lain, yaitu :
1. Payback Period
Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan
dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang
dibutuhkan makin pendek, maka proposal investasi dianggap makin baik. Namun, harus berhati-
hati menafsirkan kriteria payback period. Karena, ada investasi yang baru menguntukkan dalam
jangka panjang (> 5 tahun).
2. Net Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)
Net B/C adalah perbandingan antara jumlah NPV positif dengan NPV negativf.Net
B/C mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan hasil
(output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan sebagai C (cost). Output yang
dihasilkan dinotasikan sebagai B (benefit). Jika nilai B/C sama dengan 1, maka B = C, output
yang dihasilkan sama dengan biaya yang dikeluarkan. Bila nilai B/C < 1 maka B < C berarti
output yang dihasilkan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan, begitu pula sebaliknya.
Proposal investasi akan diterima jika B/C > 1, berarti ouput yang dihasilkan lebih besar daripada
biaya yang dikeluarkan.
3. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV)sering diterjemahkan sebagai nilai bersih sekarang. NPV
dari suatu proyek atau gagasan usaha merupakan nilai sekarang (Present Value) dari selisih
antara benefit (manfaat) dengan cost (biaya) pada discount rate tertentu. NPV merupakan
kelebihan benefit (manfaat) dibandingkan dengan cost (biaya).
Menurut A. Choliq dkk, (1994), NPV merupakan manfaat yang diperoleh pada suatu
masa proyek yang diukur pada tingkat suku bunga saat ini yang relevan. Selain itu, NPV juga
dapat diartikan sebagai nilai saat ini dari suatu investasi yang dilakukan.
Indikator NPV :
- Jika NPV > 0 ( positif ), maka proyek layak untuk dilaksanakan
- Jika NPV < 0 ( negatif ), maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan

4. Internal Rate of Return (IRR)


Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat
NPV sama dengan nol. Keputusan untuk menerima/menolak rencana investasi dilakukan
berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).

2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Investasi


Laju investasi yang ditanam disuatu negara atau daerah, dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:
1. Tingkat keuntungan yang diramalkan
Ramalan mengenai keuntungan-keuntungan masa depan akan memberikan gambaran
kepada pengusaha mengenai jenis-jenis usaha yang prospektif dan dapat dilaksanakan dimasa
depan, dan besarnya investasi yang harus dilakukan untuk memenuhi tambahan barang-barang
modal yang di perlukan.
2. Tingkat bunga (interest rate)
Tingkat bunga menentukan jenis-jenis investasi yang akan memberikan keuntungan
kepada para pengusaha, dan para investor hanya akan menanamkan modalnya apabila tingkat
pengembalian modal dari modal yang di tanam, berupa persentase keuntungan netto (belum
dikurangi dengan tingkat bunga yang di bayar), modal yang di peroleh lebih besar dari tingkat
bunga. Seorang investor mempunyai dua pilihan di dalam menggunakan modal yang dimilikinya
yaitu : pertama, adalah dengan meminjamkan atau membungakan uang tersebut (deposito);
kedua, dengan menggunakannya untuk investasi. Dalam hal dimana pendapatan yang diperoleh
adalah lebih dari tingkat bunga, maka pilihan terbaik adalah mendepositkan uang tersebut, dan
akan menggunakannya untuk investasi apabila tingkat keuntungan yang di peroleh adalah lebih
besar dari tingkat bunga yang akan dibayar.
3. Ramalan mengenai ekonomi di masa depan
Dengan adanya ramalan tentang kondisi masa depan akan dapat menentukan tingkat
investasi yang akan tercipta dalam perekonomian. Apabila ramalan di masa depan adalah baik
maka investasi akan naik. Sebaliknya, apabila ramalan kondisi ekonomi di masa akan datang
adalah buruk, maka tingkat investasi akan rendah.

4. Kemajuan teknologi
Dengan adanya temuan-temuan teknologi (inovasi), maka akan semakin banyak
kegiatan pembaharuan yang akan di lakukan oleh pengusaha, sehingga makin tinggi tingkat
investasi yang dicapai.
5. Tingkat pendapatan nasional dan perubahannya
Dengan bertambahnya pendapatan nasional maka tingkat pendapatan masyarakat
akan meningkat, daya beli masyarakat juga meningkat, total agregat demand yang pada akhirnya
akan mendorongtumbuhnya investasi lain (Induced Invesment).
6. Keuntungan yang diperoleh perusahaan
Semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka akan mendorong para
pengusaha untuk menyediakan sebahagian keuntunngan yang diperoleh untuk investasi-investasi
baru.
7. Situasi politik
Kestabilan politik suatu negara akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi para
investor terutama para investor asing, untuk menanamkan modalnya. Mengingat bahwa investasi
memerlukan suatu jangka waktu yang relatif lama untuk memperoleh kembali modal yang
ditanam dan memperoleh keuntungan. Sehingga stabilitas politik jangka panjang akan
diharapkan oleh investor.
8. Pengeluaran yang dilakukan pemerintah.
Pengeluaran-pengeluaran yang di lakukan oleh pemerintah dapat berupa pengeluaran
pembangunan dan rutin baik itu dalam penyediaan sarana dan prasarana atau fasilitas publik
dalam menunjang kegiatan investasi dan juga prekonomian secara keseluruhan baik itu skala
nasional maupun daerah. Sehingga menarik para investor dalam negeri maupun asing untuk
berinvestasi di suatu negara ataupun daerah.
9. Kemudahan yang diberikan oleh pemerintah setempat.
Tersedianya kemudahan-kemudahan dalam birokrasi, dalam perpajakan (tax holiday),
yaitu suatu keringanan di dalam pajak apabila suatu perusahaan mau menanamkan keuntungan
yang diperolehnya ke dalam investasi baru, ataupun apabila perusahaan yang bersangkutan mau
dan bersedia menanamkan investasinya di suatu daerah dalam kurun waktu tertentu sehingga
mendorong para investor untuk menanamkan modalnya.

10. Pengaruh nilai tukar (kurs)


Secara teoritis dampak perubahan tingkat/nilai tukar dengan investasi bersifat tidak
pasti(uncertainty). Shikawa (1994), mengatakan pengaruh tingkat kurs yang berubah pada
investasi dapat langsung lewat beberapa saluran, perubahan kurs tersebut akan berpengaruh pada
dua saluran, sisi permintaan dan sisi penawaran domestik. Dalam jangka pendek, penurunan
tingkat nilai tukar akan mengurangi investasi melalui pengaruh negatifnya pada absorbsi
domestik atau yang dikenal dengan expenditure reducing effect. Karena penurunan tingkat kurs
ini akan menyebabkan nilai riil aset masyarakat yang disebabkan kenaikan tingkat harga-harga
secara umum dan selanjutnya akan menurunkan permintaan domestik masyarakat. Gejala diatas
pada tingkat perusahaan akan direspon dengan penurunan pada pengeluaran/alokasi modal pada
investasi.Pada sisi penawaran, pengaruh aspek pengalihan pengeluaran (expenditure switching)
akan perubahan tingkat kurs pada investasi relatif tidak menentu. Penurunan nilai tukar mata
uang domestik akan menaikkan produk-produk impor yang diukur dengan mata uang domestik
dan dengan demikian akan meningkatkan harga barang-barang yang diperdagangkan/barang-
barang ekspor (traded goods) relatif terhadap barang-barang yang tidak diperdagangkan (non
traded goods), sehingga didapatkan kenyataan nilai tukar mata uang domestik akan mendorong
ekspansi investasi pada barang-barang perdagangan tersebut.

2.5 Sumber-Sumber Dana Investasi


Kendati banyak sumber-sumber pendanaan investasi, namun pada umumnya sumber dana
investasi hanya di lihat melalui:
1. Investasi oleh masyarakat swasta nasional/Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
2. Investasi oleh pihak Asing/Penanaman Modal Asing (PMA)

2.5.1 Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)


Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) adalah kegiatan menanam modal untuk
melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal
dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.Ketentuan mengenai Penanaman Modal
diatur didalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Penanam modal
Negeri dapat dilakukan oleh perseorangan warga negara Negeri, Badan Usaha Negeri, dan/atau
Pemerintah Negeri yang melakukan penanaman modal; di wilayah negara Republik Indonesia.
Perusahaan penanaman modal negeri mendapatkan fasilitas dalam bentuk:
1. Pajak penghasilan melalui netto sampai tingkat tertentu terhadap jumlah penanaman
modal yang dilakukan dalam waktu tertentu.
2. Pembebasan atau keringanan bea masuk atas impor barang modal, mesin, atau
peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.
3. Pembebasan atau keringanan bea masuk bahan baku dan bahan penolong untuk
keperluan produksi untuk jangka waktu tertentu dan persyaratan tertentu.
4. Pembebasan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai atas impor barang modal
atau mesin atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di
dalam negeri selama jangka waktu tertentu.
Kriteria perusahaan PMDN Negeri yang mendapatkan fasilitas antara lain:
1. Menyerap banyak tenaga kerja
2. Termasuk skala prioritas tertinggi
3. Melakukan alih teknologi
4. Melakukan industri pionir
5. Menjaga kelestarian lingkungan hidup

Faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN):


1. Potensi dan karakteristik suatu daerah
2. Budaya masyarakat
3. Pemanfaatan era otonomi daerah secara proposional
4. Peta politik daerah dan nasional
5. Kecermatan pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan lokal dan peraturan
daerah yang menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia bisnis dan investasi

Syarat-syarat Penanaman Modal Dalam Negeri:


a. Permodalan: menggunakan modal yang merupakan kekayaan masyarakat Indonesia
(Pasal 1, Ayat 1, UU No. 6 Tahun 1968) baik langsung maupun tidak langsung
b. Pelaku Investasi: negara dan swasta. Pihak swasta dapat terdiri dari orang dan atau
badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum di Indonesia
c. Bidang usaha: semua bidang yang terbuka bagi swasta, yang dibina, dipelopori atau
dirintis oleh pemerintah
d. Perizinan dan perpajakan: memenuhi perizinan yang ditetapkan oleh pemerintah
daerah. Antara lain: izin usaha, lokasi, pertanahan, perairan, eksplorasi, hak-hak
khusus, dll
e. Batas waktu berusaha: merujuk kepada peraturan dan kebijakan masing-masing
daerah
f. Tenaga kerja: wajib menggunakan tenaga ahli bangsa Indonesia, kecuali apabila
jabatan-jabatan tertentu belum dapat diisi dengan tenaga bangsa Indonesia.
g. Mematuhi ketentuan UU ketenagakerjaan (merupakan hak dari karyawan)
Penanaman modal dalam negeri memberikan peranan dalam pembangunan ekonomi di
negara-negara sedang berkembang, hal ini terjadi dalam berbagai bentuk. Modal Investasi
mampu mengurangi kekurangan tabungan dan melalui pemasukan peralatan modal dan bahan
mentah, dengan demikian menaikkan laju pemasukan modal. Selain itu tabungan dan investasi
yang rendah mencerminkan kurangnya modal di negara keterbelakangan teknologi. Bersamaan
dengan modal uang dan modal fisik, modal investasi yang membawa serta keterampilan teknik,
tenaga ahli, pengalaman organisasi, informasi pasar, teknik-tekink produksi maju, pembaharuan
produk dan lain-lain. Selain itu juga melatih tenaga kerja setempat pada keahlian baru. Semua ini
pada akhirnya akan mempercepat pembangunan ekonomi negara terbelakang.
2.5.2 Penanaman Modal Asing (PMA)
Dalam literatur ekonomi makro, investasi asing dapat dilakukan dalam dua bentuk, yaitu
investasi portofolio dan investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Investasi
portofolio ini dilakukan melalui pasar modal dengan instrumen surat berharga seperti saham dan
obligasi. Sedangkan investasi langsung yang dikenal dengan Penanaman Modal Asing (PMA)
merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi
perusahaan.
Penanaman Modal di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007
tentang Penanaman Modal. Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan Penanaman
Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Republik
Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik menggunakan modal asing
sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri (Pasal 1 Undang-
Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal).
Perusahaan Penanaman Modal Asing mendapatkan fasilitas dalam bentuk:
1. Pajak penghasilan melalui pengurangan penghasilan netto sampai tingkat tertentu
terhadap jumlah penanaman modal yang dilakukan dalam waktu tertentu;
2. Pembebasan atau keringanan bea masuk atas impor barang modal, mesin, atau
peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri;
3. Pembebasan atau keringanan bea masuk bahan baku atau bahan penolong untuk
keperluan produksi untuk jangka waktu tertentu dan persyaratan tertentu;
4. Pembebasan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai atas impor barang modal
atau mesin atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di
dalam negeri selama jangka waktu tertentu;
5. Penyusutan atau amortisasi yang dipercepat; dan
6. Keringanan Pajak Bumi dan Bangunan, khususnya untuk bidang usaha tertentu, pada
wilayah atau daerah atau kawasan tertentu.
Kriteria Perusahaan Penanaman Modal Asing yang mendapatkan fasilitas antara lain
sebagai berikut:
1. Menyerap banyak tenaga kerja
2. Termasuk skala prioritas tinggi
3. Termasuk pembangunan infrastruktur
4. Melakukan alih teknologi
5. Melakukan industri pionir
6. Berada di daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah perbatasan, atau daerah lain yang
dianggap perlu
7. Menjaga kelestarian lingkungan hidup
8. Melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan, dan inovasi
9. Bermitra dengan usaha mikro, kecil, menengah atau koperasi
10. Industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi
didalam negeri.
Dibanding dengan investasi portofolio, Penanaman Modal Asing (PMA) lebih banyak
mempunyai kelebihan, diantaranya sifatnya permanen (jangka panjang), banyak memberikan
andil dalam alih teknologi, alih keterampilan manajemen, dan membuka lapangan kerja baru.
Lapangan kerja ini, sangat penting bagi negara sedang berkembang mengingat terbatasnya
kemampuan pemerintah untuk penyediaan lapangan kerja. Sedangkan, dalam investasi
portofolio, dana yang masuk ke perusahaan yang menerbitkan surat berharga (emiten), belum
tentu membuka lapangan kerja baru.
Sekalipun ada emiten yang setelah mendapat dana dari pasar modal untuk memperluas
usahanya atau membuka usaha baru yang hal ini berarti membuka lapangan kerja. Tidak sedikit
pula dana yang masuk ke emiten hanya untuk memperkuat struktur modal atau mungkin malah
untuk membayar utang bank. Selain itu proses ini tidak terjadi alih teknologi atau alih
keterampilan manajemen.Secara garis besar, manfaat penanaman modal asing terhadap
pembangunan bagi negara sedang berkembang dapat diperinci menjadi lima, yaitu:
Sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang
sebagai dasar untuk mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi
yang meningkat, diikuti dengan perpindahan struktur produksi dan perdagangan.
Modal asing dapat berperan penting dalam memobilisasi dana maupun transformasi
struktural. Kebutuhan akan modal asing menjadi menurun segera setelah perubahan struktural
benar-benar terjadi meskipun modal asing di masa selanjutnya lebih produktif. Bagi negara-
negara sedang berkembang yang tidak mampu memulai membangun industri-industri berat dan
industri strategis, adanya modal asing akan sangat membantu untuk dapat mendirikan pabrik-
pabik baja, alat-alat mesin, pabrik elektronik, industri kimia dasar dan sebagainya.
Selama ini investor domestik di negara yang sedang berkembang enggan melakukan
usaha yang beresiko tinggi seperti eksploitasi sumber-sumber daya alam yang belum
dimanfaatkan dan membuka lahan-lahan baru, maka hadirnya investor asing akan sangat
mendukung merintis usaha dibidang-bidang tersebut. Adanya pengadaan prasarana negara,
pendirian industri-industri baru, pemanfaatan sumber-sumber baru, pembukaan daerah-daerah
baru, akan membuka kecenderungan baru yaitu meningkatkan lapangan kerja. Sehingga tekanan
pendudukan pada tanah pertanian berkurang dan pengangguran dapat diatasi. Inilah keuntungan
sosial yang diperoleh dari kehadiran investor asing. Adanya transfer teknologi mengakibatkan
tenaga kerja setempat menjadi terampil, sehingga meningkatkan marginal produktifitasnya,
akhirnya akan meningkatkan keseluruhan upah riil. Semua ini menunjukkan bahwa modal asing
cenderung menaikkan tingkat produktifitas, kinerja dan pendapatan nasional.Dengan demikian,
kehadiran PMA bagi negara sedang berkembang sangat diperlukan untuk mempercepat
pembangunan ekonomi. Modal asing membantu dalam industrialisasi, pembangunan modal dan
menciptakan kesempatan kerja, serta keterampilan teknik. Melalui modal asing terbuka daerah-
daerah dan tergarap sumber-sumber baru. Resiko dan kerugian pada tahap perintisan juga
tertanggung, selanjutnya modal asing mendorong pengusaha setempat untuk bekerjasama. Modal
asing juga membantu mengurangi problem neraca pembayaran dan tingkat inflasi, sehingga akan
memperkuat sektor usaha negara dan swasta domestik negara tuan rumah.
Dalam jangka pendek atau menengah, investasi asing sangat menguntungkan dalam
pertumbuhan ekonomi. Investasi ini, dalam jangka pendek dapat mempengaruhi kesejahteraan
ekonomi suatu bangsa. Investasi asing ini dapat membantu memenuhi segala sesuatu yang
diperlukan oleh penduduknya dalam jangka pendek. PMA dalam jangka panjang dapat
mengurangi tingkat tabungan yang tercipta pada masa yang akan datang apabila kegiatan PMA
justru mempertinggi tingkat konsumsi masyarakat. Adanya perusahaan-perusahaan asing juga
dapat menghambat perkembangan perusahaan-perusahaan nasional yang sejenis dengannya.
Apabila perkembangan perusahaan-perusahaan asing tersebut mematikan perusahaan-
perusahaan nasional yang sudah ada, maka hal ini akan menimbulkan pengangguran dan
menghapuskan mata pencaharian golongan masyarakat tertentu (Mudrajad, 2000). Dengan
demikian, dalam jangka panjang keuntungan tidak lagi diperoleh negara yang bersangkutan,
namun investasi lebih memberikan keuntungan bagi negara yang mengeluarkan investasi.
(2.xx) Risiko Investasi
Dalam berinvestasi seseorang di hadapkan pada suatu risiko yang dinamakan risiko
investasi, sehingga dalam melakukan investasi seseorang harus selalu mempertimbangkan
tingkat risiko yang di jabarkan oleh Tandelilin (2001:46), sebagai berikut:

“Risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return actual dengan return yang di
harapkan. Semakin besar perbedaannya, berarti semakin besar risiko investasi tersebut”.

Pengertian lain dari Risiko yang di kemukakan oleh Gitman (2003:214), sebagai berikut:
“ Risk is the change of financial loss or more formally, the variability of return associated
with a given asset”.

Artinya bahwa risiko pada dasarnya adalah perubahan dari kerugian financial atau bisa di
definisikan sebgai variasi dari pengembalian asset.
Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulakan bahwa risiko adalah kemungkinan
dari investasi yang di lakukan oleh investor mengalami kegagalan dalam memenuhi tingkat
pengembalian yang investor harapkan.
Adapun jenis-jenis resiko yang mungkin di hadapi oleh para investor dalam melakukan
kegiatan investasi di kemukakan oleh Reilly (2003:15), di antaranya:
1. Bussiness Risk
Kemungkinan kerugian yang di derita perusahaan karena keuntungan yang di peroleh
lebih kecil dari keuntungan yang di harapkan.

2. Financial Risk
Risiko yang di timbulkan dari cara perusahaan membiayai kegiatannya misalnya:
Penggunaan utang dalam membiayai asset perusahaan.
3. Liquidity Risk
Adanya ketidak pastian yang timbul pada saat sekuritas berada di pasar
sekunder.
4. Exchange Risk
Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang domestic dengan nilai
mata uang negaranya.
5. Country Risk
Risiko ini berkaitan dengan kestabilan politik serta kondisi lingkungan
perekonomian di suatu Negara.

Tandelilin (2001:50), menyebutkan beberapa sumber risiko yang dapat mempengaruhi


besarnya risiko atas surat investasi, antara lain adalah:

1. Risiko Suku Bunga


2. Risiko Pasar
3. Risiko Inflasi
4. Risiko Bisnin
5. Risiko Financial
6. Risiko likuiditas
7. Risiko nilai tukar mata uang
8. Risiko negara

Adapun resiko yang harus dihadapi dalam setiap keputusan investasi


mengharuskan investor untuk berhati-hati dan melakukan analisa serta pertimbangan
yang matang. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup akan membantu investor
dalam mempertimbangkan suatu alternative investasi. Karena itu seorang investor atau
pelaku investasi yang akan berinvestasi dalam sekuritas saham sebaiknya memiliki
pemahaman mengenai pasar modal bagaimana proses berinvestasi pada sekuritas
serta karakteristik saham itu sendiri.
BAB III
PENUTUP

Investasi adalah suatu kegiatan dimana investor menanamkan kekayaannya untuk


dijadikan modal usaha dengan maksud agar mendapatkan keuntungan yang besar.Dengan adanya
investasi tersebut, bisa memberikan andil bagi perkembangan negara.Dapat disimpulkan bahwa
investasi merupakan salah satu indikator penentu tingkat pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi suatu negara. Dengan kata lain, semakin tinggi nilai investasi dalam suatu negara maka
akan semakin tinggi pula pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dari negara yang
bersangkutan.
Didalam penanaman modal dalam negeri, penekanannya lebih kepada aspek
perseorangan warga negara Indonesia, badan usaha milik negara, dan/atau pemerintah Negara
Indonesia yang melakukan penanaman modal di wilayah negara Republik Indonesia.
Sedangkan dalam penanaman modal asing penekanannya lebih kepada perseorangan warga
negara asing, badan usaha asing, dan/atau pemerintah asing yang melakukan penanaman modal
di wilayah negara Republik Indonesia, dengan kegiatan usaha-usaha atau jenis usaha terbuka
bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup
dan terbuka dengan persyaratan dan batasan kepemilikan modal asing atas bidang usaha
perusahaan diatur didalam Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2010.
Dengan beberapa pertimbangan, maka dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia adalah
sebuah negara yang sedang berkembang, dan tentunya masih banyak dana-dana yang diperlukan
untuk melangsungkan hidupnya, salah satunya melalui Penanaman Modal Dalam Negeri dan
Penanaman Modal Asing. Dengan tersedianya modal yang mencukupi, diharapkan dapat menjadi
faktor utama yang berperan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga
tujuan pembangunan nasional: masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, dapat tercapai.
Ada tiga jenis pengeluaran dalam investasi, yaitu : 1).Investasi Tetap Bisnis (Business
Fixed Investment) Mencakup peralatan dan struktur yang dibeli perusahaan untuk proses
produksi. 2).Investasi Residensial (Residential Investment) Mencakup rumah baru yang orang
beli untuk tempat tinggal dan yang dibeli tuan tanah untuk disewakan. 3). Investasi Persediaan
(Inventory Investment) Mencakup barang-barang yang disimpan perusahaan di gudang, termasuk
bahan-bahan dan persediaan, barang dalam proses, dan barang jadi.
Kriteria investasi bermanfaat dalam melakukan pengukuran manfaat atau keuntungan
yang akan diperoleh jika melakukan investasi terhadap suatu usaha. Dalam mengukur atau
menilai investasi yang akan atau telah terjadi terdapat beberapa kriteria yang digunakan antara
lain, yaitu : 1).Payback Period waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat
dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. 2).Net Benefit/Cost Ratio
(B/C Ratio) perbandingan antara jumlah NPV positif dengan NPV negatif. 3).Net Present Value
(NPV sering diterjemahkan sebagai nilai bersih sekarang. 4).Internal Rate of Return (IRR) nilai
tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol.