Anda di halaman 1dari 5

A.

Konsep dan Urgensi Pancasila sebagai Sistem Filsafat

1. Konsep Pancasila sebagai Sistem Filsafat


a. Pengertian Filsafat
Dari segi bahasa/etmologis atau asal usul bahasa, perkataan filsafat merupakan
bentuk kata “falsafat”, yang bermula dari bahasa yunani Philosophia.
Philos/philein yang berarti suka,cinta,mencintai. Dan Sophia yang berarti
kebijaksanaan, hikmah, kepandaian, ilmu. Jadi “filsafat” mengandung arti
mencintai hal-hal yang sifatnya bijaksana. Beberapa pengertian filsafat menurut
para ahli :
 Plato (427 – 348 SM). Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang bersifat untuk
mencapai kebenaran yang asli
 Aristoteles (382 – 322 SM). Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi
kebenaran yang terkandung di dalamnta ilmu-ilmu metafisika, logika,
retrorika, etika, ekonomi, politik, dan sostetika.
 Beberapa pengertian filsafat berdasarkan watak dan fungsinya sebagaimana
yang dikemukakan Titus, Smith & Nolan sebagai berikut:
1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan
dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. (arti informal)
2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan
dan sikap yang sangat dijunjung tinggi. (arti formal)
3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. (arti
komprehensif).
4) Filsafat adalah analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata
dan konsep. (arti analisis linguistik).
5) Filsafat adalah sekumpulan problematik yang langsung mendapat
perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. (arti
aktual-fundamental).

Ada beberapa alasan yang dapat ditunjukkan untuk menjawab pertanyaan


tersebut. Pertama; dalam sidang BPUPKI, 1 Juni 1945, Soekarno memberi judul
pidatonya dengan nama Philosofische Grondslag daripada Indonesia Merdeka.
 Noor Bakry menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sistem filsafat
merupakan hasil perenungan yang mendalam dari para tokoh kenegaraan
Indonesia.
 Sastrapratedja menegaskan bahwa fungsi utama Pancasila menjadi dasar
negara dan dapat disebut dasar filsafat adalah dasar filsafat hidup
kenegaraan atau ideologi negara. Pancasila adalah dasar politik yang
mengatur dan mengarahkan segala kegiatan yang berkaitan dengan hidup
kenegaraan. Oleh karena itu, Pancasila harus menjadi operasional dalam
penentuan kebijakan-kebijakan dalam bidang-bidang tersebut di atas dan
dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan
negara.
 Istilah Philosphische Grondslag dan Weltanschauung merupakan dua
istilah yang sarat dengan nilai-nilai filosofis. Filsafat berada dalam
lingkup ilmu, sedangkan weltanshauung berada di dalam lingkungan
hidup manusia, bahkan banyak pula bagian dari filsafat (seperti: sejarah
filsafat, teori-teori tentang alam) yang tidak langsung terkait dengan sikap
hidup.
 Pancasila sebagai dasar filsafat negara (Philosophische Grondslag) nilai-
nilai filosofis yang terkandung dalam sila-sila Pancasila mendasari seluruh
peraturan hukum yang berlaku di Indonesia.
Kedua, Pancasila sebagai Weltanschauung, artinya nilai-nilai Pancasila itu
merupakan sesuatu yang telah ada dan berkembang di dalam masyarakat
Indonesia, yang kemudian disepakati sebagai dasar filsafat negara
Weltanschauung
(Philosophische Grondslag). merupakan sebuah pandangan dunia
(world-view).

b. Kesatuan Sila-Sila Pancasila


Pancasila merupakan suatu kesatuan yang utuh, sistem lazimnya memiliki ciri-
ciri suatu kesatuan bagian-bagian, bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi
sendiri-sendiri, saling berhubungan dan ketergantungan, keseluruhannya
dimaksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu (tujuan sistem), dan terjadi dalam
suatu lingkungan yang kompleks. Pancasila menjadi landasan dan falsafah
dasar negara telah membuktikan dirinya sebagai wadah yang dapat menyatukan
bangsa. Dengan Pancasila bangsa Indonesia diikat oleh kesadaran sebagai satu
bangsa dan satu negara. Pancasila memberikan ciri khas dalam kehidupan bangsa
dan negara Indonesia.
 Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila Bersifat Organis.
Secara filosofis inti dan isi sila-sila Pancasila bersumber pada hakikat dasar
ontologis manusia yaitu sebagai monopluralis yang memiliki unsur-unsur
susunan kodrat yaitu jasmani dan rohani, sifat kodrat sebagai mahluk
individu sosial serta memiliki kedudukan kodrat sebagai pribadi yang berdiri
sendiri dan sebagai mahluk ciptaan Tuhan YME. Hal ini terjadi karena
manusia (Rakyat Indonesia) sebagai pendukung utama inti dari isi
pancasila.Unsur hakikat manusia merupakan kesatuan yang bersifat organis
dan harmonis.
Sila-sila Pancasila merupakan penjelasan dari hakikat manusia monopluralis
yang merupakan kesatuan organis maka memiliki kesatuan yang organis
pula.
 Susunan sila-sila Pancasila yang bersifat Hierarkhis dan berbentuk
Piramidal.
Pengertian matematis piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan
hierarkis sila-sila Pancasila merupakan rangkaian tingkat dalam urutan luas
(kuantitas) dan juga dalam isi sifatnya (kualitas). Sedangkan makna
hierarkhis adalah susunan pancasila sudah dikemas sedemikian rupa sehingga
urutannya tidak akan berubah.Pancasila merupakan suatu keseluruhan yang
bulat dan memenuhi sebagian sistem filsafat.
Kesatuan sila-sila pancasila memiliki susunan hierarkhis piramidal maka sila
Ketuhanan yang Maha Esa adalah ketuhan yang berkemanusiaan,
berpersatuan, berkerakyatan serta berkeadilan sosial sehingga di dalam setiap
sila senantiasa terkandung sila-sila lainnya.
Rumusan Pancasila yang Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramidal :
 Sila pertama : Meliputi dan menjiwai sila-sila kedua, ketiga,
keempat dan kelima.
 Sila kedua : Diliputi dan dijiwai sila pertama, meliputi dan
menjiwai sila ketiga, keempat dan kelima.
 Sila ketiga : Diliputi dan dijiwai sila pertama dan kedua,
meliputi dan menjiwai sila keempat dan kelima.
 Sila keempat : Diliputi dan dijiwai sila pertama, kedua dan
ketiga, meliputi dan menjiwai sila kelima.
 Sila kelima : Diliputi dan dijiwai sila pertama, kedua, ketiga,
dan keempat.
 Susunan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
Hakikatnya sila-sila Pancasila tidak berdiri sendiri, akan tetapi pada setiap
sila terkandung keempat sila lainya. Dengan kata lain setiap sila senantiasa
dikualifikasi oleh keempat sila lainnya.
Rumusan kesatuan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan
mengkualifikasi :
 Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah berkemanusiaan yang adil dan
beradab, berperisatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah ber-Ketuhanan yang
Maha Esa,berperisatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Sila Persatuan Indonesia, adalah ber-Ketuhanan yang Maha
Esa,berkemanusiaan yang adil dan beradab,berkerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, adalah ber-Ketuhanan yang Maha Esa,
berkemanusiaan yang adil dan beradab, berperisatuan Indonesia dan
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah ber-Ketuhanan
yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berperisatuan
Indonesia dan berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan.
Ini merupakan bukti bahwa sila-sila Pancasila merupakan kesatuan atau
sebagai Sistem Filsafat.
2. Urgensi Pancasila sebagai Sistem Filsafat
Tidak hanya di zaman Yunani yang telah melahirkan peradaban besar melalui
pemikiran para filsuf, di zaman modern sekarang ini pun, manusia memerlukan
filsafat karena beberapa alasan. Pertama, manusia telah memperoleh kekuatan baru
yang besar dalam sains dan teknologi, telah mengembangkan bermacam-macam
teknik untuk memperoleh ketenteraman (security) dan kenikmatan (comfort).
Akan tetapi, pada waktu yang sama manusia merasa tidak tenteram dan
gelisah karena mereka tidak tahu dengan pasti makna hidup mereka dan arah
harus tempuh dalam kehidupan mereka. Kedua, filsafat melalui kerjasama
dengan disiplin ilmu lain memainkan peran yang sangat penting untuk
membimbing manusia kepada keinginan-keinginan dan aspirasi mereka.
(Titus, 1984: 24). Dengan demikian, manusia dapat memahami pentingnya
peran filsafat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Urgensi Pancasila sebagai sistem filsafat atau yang dinamakan filsafat Pancasila,
artinya refleksi filosofis mengenai Pancasila sebagai dasar negara. Sastrapratedja
menjelaskan makna filsafat Pancasila sebagai berikut:
 Pertama, agar dapat diberikan pertanggungjawaban rasional dan mendasar
mengenai sila-sila dalam Pancasila sebagai prinsip-prinsip politik.
 Kedua, agar dapat dijabarkan lebih lanjut sehingga menjadi operasional dalam
bidang-bidang yang menyangkut hidup bernegara.
 Ketiga, agar dapat membuka dialog dengan berbagai perspektif baru dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
 Keempat, agar dapat menjadi kerangka evaluasi terhadap segala kegiatan yang
bersangkut paut dengan kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, serta
memberikan perspektif pemecahan terhadap permasalahan nasional.

Anda mungkin juga menyukai