Anda di halaman 1dari 7

IDENTIFICATION OF DRUG-DRUG INTERACTIONS IN PRESCRIPTION

OF KIMIA FARMA PHARMACY NO. 43 BANDUNG

Reafy Anjani*, Dr. Keri Lestari Dandan, M.Si., Apt.


Faculty Of Pharmacy, Padjadjaran University, Bandung, Indonesia

Abstract
Today, patients with chronic desease use drugs not only one but more than one or even
polypharmacy with more than 4 types of drugs. These condition is very possible for interactions
between drugs. Drug interaction defines as a reaction that arises when two or more drugs are
consumed and then change the effectiveness or toxicity and potentially harmful. Identification of
drug-drug interaction should be known for prevent the occurrence of DRPs (Drug Related Problems),
and for minimize the possibility of the occurrence of unwanted effects. The method used to identify
interactions are through the www.drugs.com and then grouped according to its severity. Identification
of 60 recipes there were interactions by 12.50% identified minor, 72.22% moderate, and 15.28%
major interaction.

Keywords: Drug, Interaction, Major , Minor, Moderate, Patient, Prescription

IDENTIFIKASI INTERAKSI OBAT-OBAT


PADA RESEP DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 43 BANDUNG

Abstrak
Saat ini, pasien dengan penyakit kronis menggunakan obat tidak hanya satu jenis melainkan lebih
dari satu atau bahkan polifarmasi dengan penggunaan obat lebih dari 4 jenis. Keadaan ini dapat
menimbulkan interaksi diantara obat-obat tersebut. Interaksi obat didefinisikan sebagai reaksi yang
timbul saat dua atau lebih obat dikonsumsi secara bersamaan yang dapat mengakibatkan keefektifan
atau toksisitas satu obat atau lebih berubah dan bisa berpotensi membahayakan pasien. Identifikasi
terhadap interaksi obat-obat harus diketahui untuk mencegah terjadinya DRPs (Drug Related
Problems), dan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya efek yang tidak dikehendaki pada pasien.
Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi interaksi adalah melalui situs www.drugs.com yang
kemudian dikelompokkkan menurut keparahannya. Hasil identifikasi terhadap 60 resep terdapat
interaksi dengan 12,50% teridentifikasi interaksi minor, 72,22% moderate, dan 15,28% interaksi
major.

Kata kunci : Interaksi, Major, Minor, Moderate, Obat, Pasien, Resep


1. PENDAHULUAN Tidak semua interaksi obat akan
bermakna secara signifikan. Beberapa
Meningkatnya kompleksitas obat-
interaksi obat yang kemungkinan besar
obat yang digunakan dalam pengobatan
berbahaya terjadi hanya pada sejumlah
dan berkembangnya polifarmasi maka
kecil pasien. Namun demikian seorang
kemungkinan terjadinya interaksi obat juga
farmasis perlu selalu waspada terhadap
semakin besar. Interaksi obat perlu
kemungkinan timbulnya efek merugikan
diperhatikan karena dapat mempengaruhi
akibat interaksi obat sebagai pencegahan
kondisi tubuh terhadap pengobatan.
risiko merugikan bagi pasien.
Interaksi oabat didefinisikan sebagai
modifikasi efek suatu obat akibat obat lain 2. METODE
yang diberikan pada awalnya atau Identifikasi interaksi obat-obat
diberikan bersamaan, sehingga keefektifan dalam resep dilakukan di Apotek Kimia
atau toksisitas satu obat atau lebih dapat Farma No. 43 Bandung. Resep diambil
berubah (Fradgley, 2003). dari apotek tersebut pada bulan Januari
Obat dapat berinteraksi dengan obat dengan memilih secara random 2 resep
lain maupun dengan makanan/minuman setiap harinya dengan lembar resep yang
yang dikonsumsi oleh pasien. Hal ini dapat mengandung dua jumlah obat (R/) atau
terjadi karena pasien mendapat lebih dari lebih yang selanjutnya diidentifikasi
satu macam obat atau pasien menggunakan melalui situs www.drugs.com. Data
obat bebas tertentu selain yang diresepkan kemudian dikelompokkan berdasarkan
oleh dokter. Perubahan efek obat akibat tingkat atau level keparahan terjadinya
interaksi obat dapat bersifat interaksi.
membahayakan karena meningkatnya
3. HASIL
toksisitas obat, atau berkurangnya khasiat
Pengambilan data dilakukan secara
obat. Perubahan efek obat akibat interaksi
prospektif terhadap 60 resep BPJS yang
sangat bervariasi diantara individu karena
masuk ke Apotek Kimia Farma 43
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
Bandung selama bulan Januari. Pemilihan
dosis, kadar obat dalam darah, rute
resep BPJS dikarenakan pada resep BPJS
pemberian obat, metabolisme obat, durasi
sering kali terjadi polifarmasi dan pasien
terapi, dan karakteristik pasien seperti
BPJS umumnya merupakan pasien dengan
umur, jenis kelamin, faktor genetik, dan
penyakit kronis. Untuk itu perlu dilakukan
kondisi kesehatan pasien (Fradgley, 2003).
identifikasi terhadap resep BPJS dan
menemukan solusi untuk mencegah
terjadinya interaksi obat yang dapat 100

Persentase %
dilakukan oleh apoteker. Evaluasi interaksi 80
60
obat dilakukan secara teoritik berdasarkan 40
studi literatur. 20
-
Berdasarkan analisis yang Mayor Moderate Minor
dilakukan bahwa dari 60 resep tersebut Klasifikasi Keparahan Interaksi

terdapat 21 interaksi dengan total jumlah


Gambar 1. Klasifikasi Keparahan Interaksi
kasus 72 yang terbagi dalam kelompok
mayor (15,28%), moderate (72,22%),
minor (12,50).
No. Jenis Obat Mekanisme Interaksi Mayor/ Jumlah
yang Moderate/ Kasus
Berinteraksi Minor
1. Amlodipin + Meningkatkan kadar simvastatin Mayor 4
Simvastatin dalam darah. Sehingga dapat secara
signifikan meningkatkan risiko efek
samping seperti kerusakan hati dan
rhabdomyolysis.
2. Diltiazem + Dapat meningktkan efek samping Mayor 1
Propanolol seperti kelelahan, sakit kepala,
pingsan, pembengkakan pada
ekstremitas, kenaikan berat badan,
sesak napas, nyeri dada, detak jantung
meningkat/menurun, detak jantung
tidak teratur.
3. Candesartan + Penggunaan spironolactone bersama Mayor 5
Spironolactone dengan candesartan dapat
meningkatkan kadar kalium dalam
darah. Kadar kalium yang tinggi dapat
berkembang menjadi kondisi yang
dikenal sebagai hiperkalemia, yang
dalam kasus parah dapat menyebabkan
gagal ginjal, kelumpuhan otot, irama
jantung yang tidak teratur, dan henti
jantung.
4. Spironolactone Menggunakan ramipril bersama Mayor 1
+ Ramipril dengan spironolactone dapat
meningkatkan kadar kalium dalam
darah (hiperkalemia), terutama jika
pasien mengalami dehidrasi atau
memiliki penyakit ginjal, diabetes,
gagal jantung.
5. Bisoprolol + Mungkin memiliki efek tambahan Moderate 13
Amlodipin dalam menurunkan tekanan darah dan
detak jantung. Kemungkinan pasien
yang menggunakan kombinasi obat ini
akan mengalami sakit kepala, pusing,
sakit kepala ringan, pingsan, dan/atau
perubahan detak jantung.
6. Bisoprolol + Menggunakan kedua obat ini bersama- Moderate 12
Furosemide sama dapat menurunkan tekanan darah
dan memperlambat detak jantung
7. Bisoprolol + Menggunakan spironolactone dan Moderate 7
Spironolactone bisoprolol bersama-sama dapat
menurunkan tekanan darah dan
memperlambat detak jantung.
8. Candesartan + Menggabungkan dua obat ini dapat Moderate 4
Aspirin dosis mengurangi efek candesartan dalam
rendah menurunkan tekanan darah. Selain itu,
obat-obatan ini dapat mempengaruhi
fungsi ginjal terutama jika digunakan
bersama atau dalam jangka panjang.
9. Captopril + Terapi dengan kombinasi obat ini Moderate 1
Aspirin dosis harus diserati dengan pemeriksaan
rendah tekanan darah dan mungkin perlu
memonitor fungsi ginjal.
10. Furosemide + Meskipun furosemide dan lisinopril Moderate 2
Lisinopril sering dikombinasikan, efeknya
mungin aditif pada penurunan tekanan
darah. Mungkin diperlukan
penyesuaian dosis atau tes khusus
untuk menggunakan kedua obat ini
dengan aman.
11. Furosemide + Meskipun furosemide dan lisinopril Moderate 3
Ramipril sering dikombinasikan, efeknya
mungin aditif pada penurunan tekanan
darah. Mungkin diperlukan
penyesuaian dosis atau tes khusus
untuk menggunakan kedua obat ini
dengan aman.
12. Glimepiride + Ramipril dapat meningkatkan efek Moderate 1
Ramipril glimepiride dan menyebabkan kadar
gula darah terlalu rendah
13. HCT + Menggunakan HCT dan bisoprolol Moderate 1
Bisoprolol bersama dapat menurunkan tekanan
darah dan memperlambat detak
jantung. Sehingga menyebabkan
pusing, atau perasaan seperti ingin
pingsan, lemah, detak jantung
cepat/tidak teratur, kehilangan kontrol
glukosa darah.
14. Lisinopril + Mungkin diperlukan penyesuaian Moderate 1
Aspirin dosis dosis atau tes khusus untuk
rendah menggunakan kedua obat secara aman.
15. Ramipril + Menggunakan ramipril bersama Moderate 2
Metformin metformin dapat meningkatkan efek
metformin dalam menurunkan gula
darah. Ini dapat menyebabkan kadar
gula darah terlalu rendah.
16. Nifedipine + Bisoprolol dan nifedipine mungkin Moderate 1
Bisoprolol memiliki efek tambahan dalam
menurunkan tekanan darah dan detak
jantung.
17. Furosemide + Menggunakan furosemide bersama Moderate 1
Metformin dengan metformin dapat
meningkatkan efek metformin yang
dapat menyebabkan asidosis laktat.
Gejala yang dapat muncul seperti
kelemahan, meningkatkan kantuk,
detak jantung lambat, nyeri otot, sesak
napas, sakit perut, perasaan pusing,
dan pingsan.
18. Glimepiride + Aspirin dapat meningkatkan efek Moderate 3
Aspirin dosis glimepiride dan menyebabkan kadar
rendah gula darah terlalu rendah. Gejala gula
darah rendah seperti sakit kepala,
pusing, kantuk, mual, lapar, tremor,
lemah, berkeringat, dan detak jantung
yang cepat atau berdebar.
19. Bisoprolol + Interaksi minor biasanya tidak Minor 5
Aspirin dosis memerlukan perubahan dalam terapi.
rendah
20. Furosemide + Interaksi minor biasanya tidak Minor 3
Aspirin dosis memerlukan perubahan dalam terapi.
rendah
21. Sipronolactone Interaksi minor biasanya tidak Minor 1
+ Aspirin dosis memerlukan perubahan dalam terapi.
rendah
TOTAL 72
pengobatan pasien merupakan salah satu
tugas utama seorang apoteker. Interaksi
4. PEMBAHASAN
mayor terbanyak adalah candesartan
Kejadian interaksi obat yang tinggi
dengan spironolactone sebanyak 5 kasus.
(>50%) perlu mendapat perhatian
Penggunaan candesartan bersama dengan
apoteker. Apabila mengacu pada tujuan
spironolactone dapat meningkatkan kadar
utama pelayanan kefarmasian
kalium dalam darah. Kadar kalium yang
(pharmaceutical care) untuk
tinggi dapat berkembang menjadi kondisi
meminimalkan risiko pada pasien maka
yang dikenal sebagai hiperkalemia, yang
memeriksa adanya interaksi obat pada
dalam kasus parah dapat menyebabkan metoprolol, tetapi mekanisme pasti untuk
gagal ginjal, kelumpuhan otot, irama ini belum jelas. Penggunaan bersama
jantung yang tidak teratur, dan henti kedua obat ini memiliki makna yang
jantung. Masing-masing dari obat ini bernilai, tetapi efek samping yang parah
memiliki efek peningkatan kadar kalium. dapat terjadi. Untuk itu, penggunaan
Perlu peningkatan pemantauan kalium bersama harus dipantau dengan baik untuk
serum pada pasien yang menggunakan memantau efek samping dari penggunaan
kombinasi kedua obat ini. Hati-hati pada bersama obat-obat golongan beta-blocker
pasien dengan gangguan ginjal untuk dengan calcium-channel blocker
menggunakan kombinasi antagonis (Stockley’s, 2008).
reseptor angiotensin II dengan diuretik Bisoprolol dan amlodipin memiliki
hemat kalium (Stockley’s, 2008). interaksi moderate dengan jumlah kasus
Beberapa obat golongan calcium- tertinggi sebanyak 13 kasus. Kedua obat
channel blocker menghambat CYP 450 ini apabila diminum bersama mungkin
yang bertanggung jawab dalam memiliki efek tambahan dalam
metabolisme obat-obat golongan statin. menurunkan tekanan darah dan detak
Penggunaan bersamaan kedua obat ini jantung (Drugs.com, 2000). Kemungkinan
dapat meningkatkan kadar statin dalam pasien yang menggunakan kombinasi obat
darah. Namun penggunaan kombinasi ini akan mengalami sakit kepala, pusing,
kedua obat ini tidak perlu dihindari namun sakit kepala ringan, pingsan, dan/atau
disarankan bahwa pasien yang perubahan detak jantung (Drugs.com,
mendapatkan pengobatan dengan statin 2000). Perubahan farmakokinetik beta-
dan calcium-channel blocker dimulai blocker dan calcium-channel blocker juga
dengan dosis rendah atau jika calcium- dapat terjadi pada penggunaan bersama,
channel blocker dimulai maka dosis statin tetapi interaksi kedua obat ini tidak penting
diturunkan. Pemberian statin yang secara klinis (Stockley’s, 2008).
disarankan jika digunakan bersama Sedangkan untuk interaksi minor terjadi
calcium-channel blocker adalah maksimal paling banyak antara bisoprolol dengan
40 mg perhari (Stockley’s, 2008). aspirin dosis rendah dengan jumlah kasus
Interaksi obat-obat golongan beta- sebanyak 5. Data interaksi obat yang
blocker dengan calcium-channel blocker terjadi di Apotek Kimia Farma 43
yakni efek bradikardi beta-blocker dapat Bandung pada bulan Januari dapat dilihat
menjadi aditif. Diltiazem juga pada Tabel 1 dan Gambar 2.
menghambat metabolisme propanolol dan
DAFTAR PUSTAKA
Furosemide +…
Furosemide +… Baxter, K. 2008. Stockley’s Drug
Interaction. London. UK.
Interaksi Obat

Ramipril +…
HCT + Bisoprolol Pharmaceutical Press.
Furosemide +…
Departemen Kesehatan Republik
Candesartan +…
Indonesia. 2009. Undang-undang
Bisoprolol +…
Republik Indonesia No.36 Tahun 2009
Candesartan +… Tentang Kesehatan. Jakarta :
Amlodipin +… Departemen Kesehatan Republik
0 5 10 15 Indonesia.
Jumlah Kasus
Drugs.com. 2000. Drugs.com Interactions
Checker. https://www.drugs.com/
5. KESIMPULAN (diakses pada tanggal 25 Januari
2019)
Interaksi obat yang paling banyak Kimia Farma. 2015. Kimia Farma.
terjadi di Apotek Kimia Farma 43 pada Tersedia online di
https://www.kimiafarma.co.id/
bulan Januari adalah candesartan dan (diakses pada tanggal 20 Januari
spironolactone dengan jumlah kasus 5 2019).
(interaksi mayor), bisoprolol dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. 2016. Peraturan Menteri
amlodipin dengan jumlah kasus 13
Kesehatan Republik Indonesia Nomor
(interaksi moderate), bisoprolol dan aspirin 73 tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
dosis rendah dengan jumlah kasus 5
Jakarta : Menteri Kesehatan Republik
(interaksi minor). Indonesia.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia.
Peran Apoteker dalam mencegah
2009. Peraturan Pemerintah Republik
terjadinya interaksi obat di Apotek Kimia Indonesia Nomor 51 Tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian.
Farma 43 adalah dengan melakukan
Jakarta : Presiden Republik Indonesia.
pengkajian resep yang masuk ke apotek.
Apabila interaksi yang terjadi berupa
interaksi mayor dengan mekanisme
farmakokinetik maka dapat dilakukan
pemberian jeda waktu antar obat.
Sedangkan untuk interaksi yang terjadi
secara farmakodinamik di cegah dengan
melakukan penggantian golongan obat
dengan persetujuan dokter.