Anda di halaman 1dari 27

TERMODINAMIKA II

PENDINGINAN KOMPRESI UAP

DISUSUN OLEH:

DONY ANGGA SAPUTRA ( 122017011 )

WILDA ARDANELA ( 122017024 )

ECI DWI SEPTIARANISA ( 122017029 )

DOSEN PEMBIMBING : IR. HJ. DEWI FERNIANTI, M.T

KELAS : IV A

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah
menolong penulis dalam menyelesaikan tugas ini dengan penuh kemudahan.
Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dengan baik..
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah termodinamika dan
untuk pembaca dapat memperluas ilmu mengenai Pendinginan Kompresi Uap
yang digunakan untuk bergelut dalam dunia industri. Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin

Palembang, 30 april 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1


1.2. Tujuan ............................................................................................... 1
1.3. Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.4. Manfaat ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendinginan Kompresi Uap .............................................................. 3

2.1.1 Proses Kompresi Uap ............................................................... 6


2.2 Mesin Pendingin ............................................................................... 10
2.2.1. Siklus Pendinginan ................................................................... 11
2.2.2. Bahan Pendingin ...................................................................... 12
2.2.3. Katup Ekspansi Otomatik ........................................................ 13
2.2.4. Katup Ekspansi Termostatik .................................................... 13
2.3 Macam-Macam Siklus Kompresi Uap .............................................. 14
2.3.1. Daur Refrigrasi Carnot ............................................................. 14
2.3.2. Daur Kompresi Uap Standar .................................................... 14
2.3.3. Daur Kompresi Uap Nyata ....................................................... 15
2.4 Sistem Refrigrasi Kompesi Uap ........................................................ 15
2.4.1. Siklus Refrigrasi Kompresi Uap .............................................. 15
2.4.2. Komponen Sistem Refrigrasi Kompresi Uap ........................... 18
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 23


3.2 Saran ................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 24
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem refrigerasi telah memainkan peranan yang sangat penting saat ini.
Hal ini terlihat dari semakin banyaknya penggunaan sistem ini baik di industri
maupun rumah tangga. Sebagai contoh adalah pada pemrosesan maupun
pengawetan makanan, penyerapan kalor dari bahan-bahan kimia, pengkondisian
udara dan sebagainya. Sistem refrigerasi sangat menunjang peningkatan kualitas
hidup manusia. Kemajuan dalam bidang refrigerasi akhir-akhir ini adalah akibat
dari perkembangan sistem kontrol yang menunjang kinerja dari sistem refrigerasi.
Apalikasi dari sistem refrigerasi tidak terbatas, tetapi yang paling banyak
digunakan adalah untuk pengawetan makanan dan pendingin suhu, misalnya
lemasi es gambar 1 freezer, cold strorage, air conditioner/AC Window, AC split
dan AC mobil. Dengan perkembangan teknologi saat ini, refrigeran (bahan
pendingin) yang di pasarkan dituntut untuk ramah lingkungan, disamping aspek
teknis lainnya yang diperlukan. Apapun refrigeran yang dipakai, semua memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing oleh karena itu, diperlukan kebijakan
dalam memilih refrigerant yang paling aman berdasarkan kepentingan saat ini dan
masa yang akan datang. Pada sistem refrigerasi terdapat beberapa komponen
utama yaitu kompresor untuk menaikkan tekanan refrigeran, kondenser untuk
membuang panas dari refrigeran, alat ekspansi untuk menurunkan tekanan
refrigeran, dan evaporator untuk menyerap panas dari luar kedalam refrigeran.
Pada makalah ini akan dibahas lebih dalam mengenai sistem refrigerasi, baik itu
siklus– siklus pada refrigerasi, macam – macam refrigerant yang digunakan dalam
proses refrigerasi, dll.
1.2 Tujuan
a. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Termodinamika
b. Memahami prinsip kerja dari berbagai jenis siklus refrigerasi
c. Memahami konsep dasar perubahan bentuk energi di siklus–siklus
refrigerasi
d. Mengetahui jenis – jenis dari refrigeran serta memilih refrigeran yang
sesuai.
1.3 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan pendinginan kompresi uap?
b. Apakah yang dimaksud dengan mesin pendingin ?
c. Apa sajakah macam – macam dari siklus Refrigerasi ?
1.4 Manfaat
a. Mahasiswa dapat memahami prinsip kerja dari berbagai jenis siklus
refrigerasi.
b. Mahasiswa dapat memahami konsep dasar perubahan bentuk energi di
siklus refrigerasi.
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pendinginan Kompresi Uap
Pendinginan kompresi uap adalah salah satu dari banyak siklus pendingin
tersedia yang banyak digunakan. Metode ini merupakan yang paling banyak
digunakan untuk AC bangunan umum yang besar, rumah-rumah pribadi, hotel,
rumah sakit, bioskop, restoran dan mobil. Metode ini juga digunakan dalam
kulkas domestik dan komersial, gudang skala besar untuk penyimpanan makanan
dan daging, truk dan mobil pendingin, dan sejumlah layanan komersial dan
industri lainnya. kilang minyak , petrokimia, pabrik pengolahan kimia, dan
pemrosesan gas alam adalah salah satu dari banyak jenis industri yang sering
memanfaatkan sistem yang besar-pendingin kompresi uap. Pendinginan dapat
didefinisikan sebagai menurunkan suhu ruang tertutup dengan membuang panas
dari ruang itu dan memindahkannya di tempat lain. Sebuah perangkat yang
melakukan fungsi ini juga bisa disebut sebagai heat pump .
Deskripsi sistem
Sistem pendingin kompresi-uap menggunakan cairan sirkulasi refrigerant
sebagai media yang menyerap dan menghilangkan panas dari ruang yang akan
didinginkan dan kemudian menolak panas di tempat lain. Gambar 1
menggambarkan, sistem satu-tahap-kompresi uap. Semua sistem tersebut
memiliki empat komponen: kompresor , sebuah kondensor , katup ekspansi (juga
disebut expansion valve), dan sebuah evaporator. Sirkulasi refrigerant memasuki
kompresor di kondisi termodinamika dikenal sebagai uap jenuh dan dikompresi
dengan tekanan yang lebih tinggi, menghasilkan temperatur yang lebih tinggi
juga. Uap panas yang dikompresi ini kemudian di kondisi termodinamika dikenal
sebagai uap superheated dan berada pada suhu dan tekanan di mana dapat
terkondensasi oleh air pendingin air atau udara pendingin. Uap panas yang
disalurkan melalui kondensor di mana didinginkan dan terkondensasi menjadi cair
dengan mengalir melalui koil atau tabung dengan air dingin atau udara dingin
yang mengalir di kumparan atau tabung. Di sinilah beredar refrigerant menolak
panas dari sistem dan menolak panas yang terbawa oleh salah satu air atau udara.
Refrigerant cair kental, dalam keadaan termodinamik yang dikenal sebagai
cair jenuh , yang selanjutnya disalurkan melalui sebuah katup ekspansi di mana
tiba-tiba mengalami pengurangan tekanan. Pengurangan tekanan itu hasil
penguapan flash adiabatik dari bagian refrigeran cair. Efek dari penguapan flash
adiabatik adalah menurunkan suhu pendingin campuran uap dan cair ke tempat itu
lebih dingin dari suhu ruang tertutup untuk didinginkan.
Campuran dingin ini kemudian disalurkan melalui koil atau tabung dalam
evaporator. Kipas bersirkulasi udara hangat dalam ruang tertutup di koil atau
tabung membawa cairan refrigerant dingin dan campuran uap. Udara hangat itu
menguapkan bagian cair dari campuran refrigeran dingin. Pada saat yang sama,
udara bersirkulasi didinginkan dan dengan demikian menurunkan suhu ruang
tertutup dengan suhu yang diinginkan. evaporator menyerap refrigerant
bersirkulasi dan menghilangkan panas yang kemudian ditolak di kondensor dan
dialihkan di tempat lain oleh air atau udara yang digunakan dalam kondensor.
Untuk melengkapi siklus pendinginan , uap refrigerant dari evaporator adalah lagi
sebuah uap jenuh dan diarahkan kembali ke kompresor.

Gambar 1. Pendinginan kompresi uap


Termodinamika siklus kompresi uap dapat dianalisis pada suhu versus
entropi diagram seperti digambarkan pada Gambar 2. Pada titik 1 dalam diagram,
refrigerant beredar memasuki kompresor sebagai uap jenuh. Dari titik 1 ke titik 2,
uap adalah isentropically dikompresi (yaitu, dikompresi pada entropi konstan) dan
keluar kompresor sebagai superheated uap.
Dari titik 2 ke titik 3, uap superheated berjalan melalui bagian dari
kondensor yang menghilangkan superheated dengan pendingin uap. Antara titik 3
dan titik 4, uap berjalan melalui sisa kondensor dan terkondensasi menjadi cair
jenuh. Proses kondensasi terjadi pada tekanan pada dasarnya konstan.

Gambar 2. Diagram temperature-entropi

Antara poin 4, dan 5 refrigeran cair jenuh melewati katup ekspansi dan tiba-
tiba mengalami penurunan tekanan. Proses itu menghasilkan penguapan flash
adiabatik dan auto-refrigerasi dari sebagian cairan (biasanya, kurang dari
setengah). Proses penguapan Flash adiabatik adalah isenthalpic (yaitu, terjadi
pada konstan entalpi ).
Antara poin 5, dan 1, perjalanan refrigerant dingin dan sebagian menguap
melalui koil atau tabung dalam evaporator di mana ia benar-benar menguap oleh
udara hangat dari sebuah kipas yang bersirkulasi di koil atau tabung dalam
evaporator. Evaporator ini beroperasi pada tekanan dasarnya konstan. Refrigerant
uap jenuh yang dihasilkan kembali ke inlet kompresor pada titik 1 untuk kembali
ke siklus termodinamika.
Perlu dicatat bahwa pembahasan di atas didasarkan pada siklus refrigerasi
kompresi uap-ideal yang tidak memperhitungkan item dunia real account seperti
penurunan tekanan geser pada sistem, ireversibilitas internal sedikit selama
kompresi uap refrigeran, atau non-ideal gas perilaku (jika ada).
Keuntungan sistem kompresi uap
1. Sangat matang teknologi
2. Relatif murah
3. Efisiensi hingga 60% dari batas teoritis carnot
Kekurangan
Penggunaan refrigerant yaitu freon yang dapat menyebabkan kerusakan
lapisan ozon.
2.1.1 Proses Kompresi Uap
Proses Kompres Kompresor mesin pendingin dengan rpm yang tinggi
mengkompresi uap refrigerant dengan sangat cepat. Refrigerant bersinggungan
dengan dinding silinder kompresor dalam waktu sangat singkat. Karena waktu
kompresi dan singgungan dengan dinding silinder yang sangat singkat maka
perbedaan suhu antara uap refrigerant dengan dinding silinder sangat kecil, bisa
diasumsikan bahwa perpindahan dari refrigerant atau ke dinding silinder bisa
diabaikan. Oleh karena itu proses kompresi pada sistem kompresi uap terjadi
dengan proses adiabatik (tidak ada panas yang masuk atau keluar). Walaupun
tidak terjadi perpindahan panas diantara keduanya selama proses kompresi, suhu
dan enthalpy uap refrigerant bertambah karena mendapat energi mekanik dari
piston. Walaupun uap yang dikompresi didinginkan, energi kinetik
dari refrigerantakan bertambah sebanding dengan besarnya energi mekanik yang
dihasilkan oleh piston. Energi yang dihasilkan disebut dengan panas kompresi.
Energi yang dihasilkan oleh kerja mekanik piston ditransfer ke
uap refrigerant selama proses kompresi.
a. Suhu Pengeluaran
Hati-hati dengan suhu pengeluaran. Suhu pengeluaran dari kompresor tidak
sama dengan suhu kondensasi. Suhu pengeluaran adalah suhu uap refrigerant saat
keluar dari kompresor, sedangkan suhu kondensasi adalah suhu saat
uap refrigerant diembunkan (dicairkan) dalam kondensor sesuai dengan tekannya.
Karena uap yang masuk kedalam kompresor adalah uap panas lanjut serta
ditambahkan dengan panas yang dihasilkan saat kompresi, maka uap yang keluar
dari kompresor adalah uap dengan kandungan panas yang sangat banyak dan
temperaturnya diatas titik jenuhnya sesuai dengan tekanannya. Uap dari
kompresor didinginkan pada suhu kondensasi didalam kondensor untuk
membuang kandungan panasnya sehingga terkondensasi.

b. Suhu Kondensasi
Agar proses pendinginan terus berlangsung maka uap refrigerant harus
diembunkan dalam kondensor dengan cara membuang jumlah panas sebesar
panas yang diserap dalam evaporator, pipa hisap kompresor dan panas yang
dihasilkan karena proses kompresi. Sehingga peningkatan jumlah transfer panas
pada saat penguapan berpengaruh terhadap transfer panas di kondensor.
Laju perpindahan panas dari uap refrigerant ke media pendingin di
kondensor dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : (1) luas permukaan kondensasi (2)
koefisien daya hantar panas bahan kondensor (3) perbedaan suhu antara
uap refrigerantdengan suhu media pendingin kondensor. Untuk beberapa
kondensor faktor 1 dan 2 biasanya tetap (tidak dapat dirubah) sehingga laju
perpindahan panas di kondensor hanya tergantung dari perbedaan suhu antara
uap refrigerantdengan media pendingin kondensor. Besarnya suhu kondensasi
adalah sama dengan suhu media pendingin ditambah jumlah perbedaan antara
suhu kondensasi refrigerant dengan suhu media pendingin kondensor.

c. Tekanan Pengembunan
Tekanan pengembunan adalah tekanan jenuh sesuai dengan suhu campuran
uap dan cairan didalam kondensor. Ketika kompresor tidak bekerja,
suhu refrigerant dalam kondensor akan sama dengan suhu udara sekitar dan
tekanan jenuhnya akan rendah. Sehingga pada saat kompresor dijalankan,
uap refrigerant yang dialirkan ke kondensor tidak akan segera mengembun karena
tidak ada perbedaan suhu antara refrigerant dengan media pendingin kondensor
oleh karena itu tidak ada perpindahan panas antara keduanya. Karena pengaturan
aliran refrigerant oleh keran dan diibaratkan kondensor adalah suatu tabung
tertutup, uap refrigerant dialirkan terus-menerus ke kondensor tanpa diembunkan
maka tekanan di kondensor akan naik sampai pada titik jenuh dimana terjadi
kondisi yang cukup untuk terjadi perpindahan panas dari refrigerant ke media
pendingin kondensor. Ketika panas yang dibutuhkan tercapai maka
uap refrigerant akan mengembun sesuai dengan uap yang dipompakan ke
kondensor. Sampai pada saat tekanan kondensor stabil dan konstan selama siklus
pendinginan berlangsung.

d. Efek Refrigerasi
Jumlah panas yang mampu diserap oleh 1 pound refrigerant terhadap suatu
benda atau ruangan disebut dengan efek refrigerasi. Contoh, 1 lb es pada suhu
32oF mencair mampu menyerap panas sebesar 144 BTU, sehingga efek refrigerasi
1 lb es adalah sebesar 144 BTU.
Ketika cairan refrigerant diuapkan melalui evaporator, refrigerant akan
menyerap sejumlah panas yang dibutuhkan oleh refrigerant untuk menguap. Jadi
efek refrigerasi 1 lb cairan refrigerant sama dengan panas laten penguapannya.
Jika suhu cairan yang masuk ke keran pengatur dari pipa yang berisi cairan sama
dengan suhu penguapan dalam evaporator, seluruh cairan akan menguap dalam
evaporator dan mengahasilkan pendinginan yang sempurna. Tetapi kenyataannya
suhu cairan refrigerant yang masuk melalui keran pengatur selalu lebih tinggi dari
pada suhu penguapan di evaporator dan harus diturunkan sampai ke suhu
penguapan sebelum menguap di evaporator dan menyerap panas benda yang
didinginkan. Karena alasan tersebut hanya sebagian dari cairan refrigerant yang
menguap dan mampu menyerap panas. oleh karena itu efek refrigerasi
perpound refrigerant selalu lebih rendah dari total panas penguapan
cairan refrigerant yangdialirkan.
Seperti terlihat pada gambar tekanan kondensasi uap refrigerant R 12 di
kondensor adalah 120,6 psig dan suhu kondensasi sesuai dengan tekanannya
adalah 102oF. Jadi kondensasi terjadi pada suhu yang konstan, suhu kondensasi
yang terjadi pada cairan adalah 102oF. Setelah mengembun cairan mengalir ke
bagian terbawah dari kondensor dan terus menyerahkan panasnya ke media
pendingin kondensor sehingga sebelum cairan tersebut meninggalkan kondensor
suhunya sedikit lebih rendah dibandingkan saat mengembun. Cairan ini disebut
dengan subcooled. Suhu cairan saat meninggalkan kondensor sangat tergantung
dengan suhu media pendingin kondensor serta lama waktu
kontak refrigerant setelah mengembun dengan media pendingin kondensor.
Cairan yang dihasilkan dapat terus didinginkan (melepaskan panasnya) di tangki
penampung dan pipa saluran yang berisi cairan ke udara disekitarnya. Pada
beberapa kejadian, karena terjadi pertukaran panas antara refrigerantdengan udara
di sekitar liquid line, suhu cairan yang mendekati keran pengatur hampir sama
dengan suhu udara disekitar liquid line. Seperti terlihat pada gambar, suhu cairan
R 12 yang mendekati keran pengatur adalah 86oF dengan tekanan yang tetap yaitu
120,6 psig. Karena suhu refrigerant pada tekanan 120,6 psig adalah 102oF maka
terdapat selisih 16oF cairan subcooled (102 – 86) dibawah titik jenuhnya. Karena
tekanan jenuh pada suhu 86oF adalah 93,2 psig, R 12 dalam keadaan cairan
asalkan tekanannya tidak kurang dari 93,2 psig. Karena cairan yang melewati
keran pengatur tekanannya diturunkan dari 120,6 psig menjadi 28,46 psig maka
suhu penguapan sesuai dengan tekannya adalah 30oF. Karena R 12 tidak dapat
berujud cairan pada suhu diatas 30oF ketika tekanannya 28,46 psig maka
cairan refrigerant harus menyerahkan panasnya untuk mendinginkan dirinya
sendiri dari 86oF ke 30oF. Simpelnya refrigerant diturunkan tekanannya saat
melewati keran pengatur. Dari daftar entalpi cairan pada suhu 86oF dan 30oF
adalah 27,73 BTU dan 14,76 BTU, jadi per pound refrigerant harus menyerahkan
panasnya sebesar 12,97 BTU (27,73 – 14,76). Karena refrigerant mengembang
dengan cepat saat melewati keran pengatur maka tidak ada kesempatan yang
cukup untuk menyerahkan panas refrigerant ke keran pengatur. Oleh karena itu
hanya sedikit bagian dari cairan refrigerant yang menguap saat melewati keran
pengatur dan panas laten penguapan yang digunakan untuk menguap diambil dari
cairan refrigerant tersebut sehingga suhu refrigerant akan turun ke suhu
penguapan. Simpelnya refrigerant harus menyerahkan panasnya sebesar sebesar
12,97 BTU saat melewati keran pengatur untuk menurunkan suhunya dari 86oF
menjadi 30oF dan refrigerant keluar dari keran pengatur dalam bentuk campuran
cairan dan uap. Jadi hanya refrigerant yang berbentuk cairan yang menguap di
evaporator dan mampu menghasilkan pendinginan. Bagian dari refrigerant yang
menguap saat melewati keran pengatur tidak digunakan untuk pendinginan dan
disebut dengan kehilangan efek refrigerasi. Jadi efek refriegrasi dari cairan yang
disirkulasikan adalah total panas laten penguapan dikurangi dengan panas yang
dienyahkan oleh sebagian cairan refrigerant saat melewati keran pengatur untuk
menurunkan suhunya ke suhu penguapan. Pada tabel panas laten penguapan R 12
pada suhu 30oF adalah 66,85 BTU. Karena ada kehilangan efek refrigerasi sebesar
12,97 BTU maka efek refrigerasinya adalah 53,88 BTU (66,85 – 12, 97). Dari
perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat 19,4% (12,97/66,85 x
100%) kehilangan efek refrigerasi atau hanya 80,6% cairan refrigerant yang
menguap di evaporator dapat digunakan untuk pendinginan. Simpelnya efek
refrigerasi adalah selisih entalpi cairan refrigerant yang masuk ke keran pengatur
dengan entalpi uap refrigerant yang meninggalkan evaporator.
Demikian artikel mengenai proses kompresi uap kami buat semoga bermanfaat
dan menambah pengetahuan kita tentang refrigerasi. Kritik dan saran untuk
kesempurnaan artikel kami berikutnya dapat disampaikan melalui web kami.

2.2 Mesin Pendingin


Mesin Pendingin adalah suatu peralatan yang digunakan untuk
mendinginkan air, atau peralatan yang berfungsi untuk memindahkan panas dari
suatu tempat yang temperaturnya lebih tinggi. Di dalam sistem pendinginan dalam
menjaga temperatur rendah memerlukan pembuangan kalor dari produk pada
temperatur rendah ke tempat pembuangan kalor yang lebih tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa
fluida yang bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin
jika dibiarkan mengembang. Jika perubahan tekanan cukup tinggi, maka gas yang
ditekan akan menjadi lebih panas daripada sumber dingin di luar (contoh udara
diluar) dan gas yang mengembang akan menjadi lebih dingin daripada suhu
dingin yang dikehendaki. Dalam kasus ini, fluida digunakan untuk mendinginkan
lingkungan bersuhu rendah dan membuang panas ke lingkungan yang bersuhu
tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi uap memiliki dua keuntungan. Pertama,
sejumlah besar energi panas diperlukan untuk merubah cairan menjadi uap, dan
oleh karena itu banyak panas yang dapat dibuang dari ruang yang disejukkan.
Kedua, sifat-sifat isothermal penguapan membolehkan pengambilan panas tanpa
menaikan suhu fluida kerja ke suhu berapapun didinginkan. Hal ini berarti bahwa
laju perpindahan panas menjadi tinggi, sebab semakin dekat suhu fluida kerja
mendekati suhu sekitarnya akan semakin rendah laju perpindahan panasnya.
Prinsip kerja mesin pendingin adalah jika motor penggerak berputar maka
akan memutar kompresor. Dengan berputar kompresor, refrigeran akan naik suhu
maupun tekanannya. Hal ini disebabkan molekul-molekul dari refrigeran bergerak
lebih cepat akibat proses kompresi. Gas dari refrigeran akan merambat pada pipa–
pipa kondensor dan media pendinginan.
Pada bagian kondensor diusahakan adanya media pendinginan yang baik,
sebab dengan adanya pendinginan yang baik pada bagian kondensor akan
membantu memperlancar terjadinya proses kondensasi. Temperatur dan tekanan
gas refrigeran akan naik sampai keseimbangan dicapai. Setelah terjadi
keseimbangan proses kondensasi (pengembunan) gas refrigeran mengalir
menerusi saluran cairan tekanan tinggi menuju refrigeran control setelah melewati
drier strainer (saringan).
Siklus (daur) kompresi uap merupakan daur yang terbanyak digunakan
dalam sistem refrigerasi. Pada daur ini ditekan dan kemudian diembunkan
menjadi cairan, lalu tekanannya diturunkan agar cairan tersebut dapat menguap
kembali.
2.2.1. Siklus Pendinginan
Waktu kompresor sedang bekerja suhu dan tekanan refrigeran yang mengalir
ke kondensor, pipa kapiler, dryer, evaporator akan menjadi tinggi. Klep tekan
(discharge valve) menjadi terbuka dan klep hisap (sunction tube) menutup,
dengan terbukanya klep tekan uap yang dipompa oleh kompresor keluar melalui
celah-celah klep tersebut dan masuk kedalam saluran tekan. Refrigeran yang
masuk kedalam pipa kondensor panasnya akan diserap oleh udara yang mengalir
melalui sela-sela pipa. Kondensor akan melepaskan panas dan mengubah
refrigeran yang bersuhu tinggi menjadi cairan bertekanan tinggi. Uap yang berada
dalam kondensor akan turun suhunya dengan tekanan yang tinggi dan menjadi
cairan. Cairan tersebut mengalir kedalam dryer dan capillary tube yang
mempunyai lubang diameter yang kecil sehingga tekanan diturunkan menjadi
rendah sesuai temperatur pada evaporator.
2.2.2. Bahan Pendingin
Bahan pendingin atau refrigeran adalah suatu zat yang mudah diubah
wujudnya dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Untuk dapat terjadinya suatu
proses pendinginan diperlukan suatu bahan pendingin atau refrigeran yang
digunakan untuk mengambil panas dari evaporator dan membuangnya dalam
kondensor.Terdapat berbagai jenis refrigeran yang digunakan dalam sistim
kompresi uap. Suhu refrigerasi yang dibutuhkan sangat menentukan dalam
pemilihan fluida. Refrigeran yang umum digunakan adalah yang termasuk
kedalam keluarga chlorinated fluorocarbons.
Bahan pendingin (refrigeran) banyak sekali macamnya, tetapi tidak
satupun yang dapat dipakai untuk semua keperluan pendinginan. Suatu bahan
pendingin mempunyai syarat–syarat untuk keperluan proses pendinginan antara
lain :
1. Tidak beracun dan tidak berbau dalam semua keadaan.
2. Tidak dapat terbakar atau meledak bila bercampur dengan udara, minyak
pelumas dan sebagainya
3. Tidak menyebabkan korosi terhadap bahan logam yang dipakai pada
sistem pendingin.
4. Bila terjadi kebocoran mudah diketahui dengan alat–alat yang sederhana
maupun dengan alat detector kobocoran.
5. Mempunyai titik didih dan tekanan kondensasi yang rendah.
6. Mempunyai kalor laten penguapan yang besar, agar panas yang diserap
evaporator sebesar–besarnya.
7. Viskositas dalam fase cair maupun fase gas rendah agar aliran refrigeran
dalam pipa sekecil mungkin.
8. Harganya tidak mahal dan mudah diperoleh.
9. Konduktifitas thermal yang tinggi.
10. Konstanta dieletrika dari refrigeran yang kecil, tahanan lisrtrik yang
besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik.
11. Tidak merusak tubuh manusia.

2.2.3. Katup Ekspansi Otomatik


Katup ekspansi otomatik digunakan untuk mengatur jumlah refrigeran yang
masuk pada evaporator dalam batas yang sama dengan kapasitas isap kompresor.
Selama sistem sedang bekerja, katup tersebut dapat mempertahankan tekanan
evaporator dan tekanan saluran isap tetap konstan, sehingga beban kompresor
juga menjadi konstan.
Pada dasarnya katup tersebut terdiri dari : jarum dan dudukanya, diafragma,
sebuah pegas dengan baut pengatur, sebuah saringan pada bagian masuk. Katup
ekspansi otomatik bekerja berdasarkan tekanan yang seimbang pada diafragma,
dari dua tekanan yang berlawanan dan saling mengimbangi. Prinsip kerja katup
ekspansi otomatik adalah apabila tekanan evaporator menekan diafragma keatas,
membuat lubang saluran refrigeran menutup.

2.2.4. Katup Ekpansi Termostatik


Katup ekspansi termostatik merupakan alat pengatur refrigeran yang paling
banyak dipakai untuk sistem pendinginan. Katup ekspansi tersebut dapat
mengatur jumlah refrigeran yang mengalir dalam evaporator sesuai dengan beban
evaporator yang maksimum pada setiap keadaan beban evaporator yang berubah-
ubah. Katup ekspansi termostatik dapat mempertahankan uap panas lanjut yang
konstan.
Katup ekspansi tersebut tidak mengatur tekanan dan temperatur dalam
evaporator, tetapi mengontrol jumlah refrigeran yang mengalir masuk dalam
evaporator. Refrigeran yang mengalir melalui katup ekspansi termostatik lalu
pada evaporator, selain dikontrol oleh tekanan rendah dalam evaporator, juga oleh
temperatur dan tekanan pada akhir evaporator.
2.3 Macam-macam Siklus Kompresi Uap
2.3.1. Daur Refrigerasi Carnot
Daur ini merupakan keblikan dari mesin kalor, dimana energi disalurkan
dari suhu rendah menuju suhu yang lebih tinggi. Dengan kata lain daur refrigerasi
membutuhkan kerja luar untuk dapat bekerja.Proses–proses yang membentuk daur
Carnot adalah :
• 1 – 2 kompresi adiabatik
• – 3 pelepasan kalor isotermal
• – 4 ekspansi adiabatik
• – 1 pemasukan kalor isotermal
Seluruh proses pada daur Carnot secara termodinamik bersifat reversibel
(dapat dibalik). Oleh karenanya proses 1 – 2 dan 3 – 4 bersifat isentropik.
Penyerapan kalor dari sumber bersuhu rendah pada proses 4 – 1 merupakan tujuan
utama dari daur ini. Seluruh proses lainnya pada daur berfungsi sedemikian rupa
sehingga energi bersuhu rendah dapat dikeluarkan ke lingkungan yang bersuhu
lebih tinggi. Daur carnot ini terdiri dari proses – proses reversibel yang
menjadikan efisiensinya menjadi lebih tinggi dari yang dapat dicapai oleh daur
nyata. Hal yang penting dari daur Carnot adalah daur ini merupakan pembanding
yang standar dan dengan daur tersebut memberikan pedoman tentang suhu – suhu
yang harus dipertahankan sehingga diperoleh keefektifan yang maksimum.

2.3.2 Daur Kompresi Uap Standar


Proses – proses yang membentuk daur ini adalah :
• 1 – 2 kompresi adiabatik dan reversibel, dari uap jenuh menuju tekanan
kondensor.
• – 3 pelepasan kalor reversibel pada tekanan konstan, menyebabkan penurunan
panas lanjut (desuperheating) dan pengembunan refrigeran.
• – 4 ekspansi tidak reversibel pada entalpi konstan, dan cairan jenuh menuju
tekanan evaporator.
• – 1 penambahan kalor reversibel pada tekanan tetap, yang menyebabkan
penguapan menuju uap jenuh.
Untuk mengetahui prestasi Prestasi daur kompresi uap standar terlebih
dahulu harus diketahui beberapa besaran seperti : kerja kompresi, laju pengeluaran
kalor, dampak refrigerasi, koefisien prestasi, Coefficient of Performance (COP).
Istilah prestasi di dalam daur refrigerasi disebut dengan Koefisien Prestasi. Yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara refrigerasi yang bermanfaat terhadap
kerja bersih, yang identik dengan jumlah hasil yang diinginkan tgerhadap jumlah
pengeluaran.

2.3.3 Daur kompresi Uap Nyata


Daur ini mengalami pengurangan efisiensi dibanding dengan daur standar.
Perbedaan penting antara daur nyata dengan daur standar terletak pada penurunan
tekanan di dalam kondensor dan evaporator, dalam pembawah dinginan cairan
yang meninggalkan kondensor, dan dalam pemanasan lanjut uap yang
meninggalkan evaporator. Daur standar dianggap tidak mengalami penurunan
tekanan pada kondensor dan evaporator. Tetapi pada daur nyata, terjadi penurunan
tekanan karena adanya gesekan. Akibat dari penurunan tekanan ini, kompresi
pada titik 1 dan 2 memerlukan lebih banyak kerja dibanding dengan daur standar.

2.4 Sistem Refrigerasi Kompresi Uap


Sistem refrigerasi kompresi uap merupakan suatu sistem menggunakan
kompresor sebagai alat kompresi refrigeran, yang dalam keadaan bertekanan
rendah akan menyerap kalor dari tempat yang didinginkan, kemudian masuk pada
sisi penghisap (suction) dimana uap refrigeran tersebut ditekan didalam
kompresor sehingga berubah menjadi uap bertekanan tinggi yang dikeluarkan
pada sisi keluaran (discharge). Dari proses ini kita menentukan sisi bertekanan
tinggi dan sisi bertekanan rendah.

2.4.1. Siklus Refrigerasi Kompresi Uap


Siklus refrigerasi kompresi uap merupakan suatu sistem yang memanfaatkan
aliran perpindahan kalor melaluirefrigeran.
Proses utama dari sistem refrigerasi kompresi uap adalah :
1. Proseskompresi
2. Proseskondensasi
3. Prosesekspansi
4. Prosesevaporasi
Proses tersebut apabila berlangsung terus – menerus menghasilkan suatu
siklus, seperti pada gambar berikut:

Gambar 2.1 diagram blok siklus Sistem Refrigerasi Kompresi Uap

Prinsip – prinsip utama dari gambar diatas adalah:

1. Proses Kompresi
Proses 1-2 merupakan proses kompresi dimana refrigeran ditekan sehingga
tekanannya menjadi lebih tinggi sehingga temperatur jenuhnya menjadi lebih
tinggi pada saat masuk kondenser. Hal ini dimaksudkan agar temperatur
refrigeran di kondenser menjadi lebih tinggi dari temperatur lingkungan sehingga
mampu memindahkan panas ke lingkungan dengan proses kondensasi.
Pada siklus ideal proses kompresi ini berlangsung secara isentropic. Kondisi
awal refrigeran pada saat masuk kompresor adalah uap jenuh bertekanan rendah
setelah dikompresi refrigeran menjadi uap bertekanan tinggi. Besarnya daya atau
kinerja kompresi yang dilakukan kompresor adalah
Qw = m ( h2-h1) (2.1)
Sedangkan besarnya kerja persatuan massa refrigeran yang dikompresikan adalah:
qwqw = h2-h1 (2.2)
Dimana,
Qw = Daya atau kerja kompresor yang dilakukan(kW)
h₁ = Entalpi refrigeran saat masuk kompresor (kJ/kg)
h₂ = Entalpi refrigeran saat keluar kompresor (kJ/kg)
m = Laju aliran refrigeran pada sistem (kg/s)
qw = Besarnya kerja kompresi yang dilakukan (kJ/kg)

2. Proses Kondensasi
Proses selanjutnya (proses 2-3) merupakan proses kondensasi. Pada proses
ini uap refrigeran turun temperaturnya kemudian berubah fasanya pada tekanan
dan temperatur yang konstan dari fasa gas ke fasa cair dengan cara membuang
kalor ke lingkungan. Kalor refrigeran dapat pindah ke lingkungan karena
memiliki temperatur dan tekanan jenuh yang lebih tinggi dari lingkungan. Kalor
yang berpindah dari refrigeran ke udara pendingin bergantung pada berbagai
faktor, antara lain luas permukaan kondenser, jenis material yang digunakan,
selisih temperatur kondensasi dengan temperatur lingkungan. Semakin banyak
panas yang dibuang di kondenser, semakin banyak pula refrigeran yang mencair,
dan diharapkan saat keluar kondenser seluruhnya menjadi cair
Besarnya kalor yang dibuang di kondenser dapat dinyatakan melalui
persamaan berikut:
Qc = m(h2 - h3-) (2.3)
Dimana,
Qc = Besarnya kalor yang dibuang di kondenser(kW)
h₂ = Entalpi refrigeran masuk kondenser(kJ/kg)
h₃ = Entalpi refrigeran keluar kondenser(kJ/kg)
m = Laju aliran refrigeran pada sistem(kg/s)

3. Proses Ekspansi
Proses (3-4) ini terjadi di pipa kapiler. Setelah refrigeran melepas kalor di
kondenser, refrigeran berfasa cair akan mengalir menuju pipa kapiler untuk
diturunkan tekanan dan temperaturnya. Diharapkan temperatur yang terjadi lebih
rendah daripada temperatur lingkungan, sehingga dapat menyerap kalor pada saat
berada di evaporator. Dalam proses ekspansi ini tidak terjadi proses penerimaan
atau pelepasan energi (enthalpy konstan).
h3 =h4 (2.4)
Dimana,
h₃ = entalpi refrigeran saat masuk pipa kapiler(kJ/kg)
h₄ = entalpi refrigeran saat keluar pipa kapiler(kJ/kg)
4. Proses Evaporasi
Setelah keluar dari alat ekspansi kemudian refrigeran yang berfasa campuran
dialirkan ke evaporator.Pada kondisi ini refrigeran memiliki tekanan yang rendah,
sehingga temperatur jenuhnya berada di bawah temperatur ruangan, lingkungan
atau produk yang didinginkan. Kalor kemudian terserap oleh refrigeran kemudian
refrigeran berubah fasanya menjadi gas sementara temperatur ruangan, kabin, atau
produk yang didinginkan menjadi lebihdingin.
Proses evaporasi pada siklus ideal terjadi secara isothermal dan isobar.
Besarnya kalor yang diserap oleh refrigeran di evaporator dapat ditentukan
berdasarkan persamaan berikut:
Qe = m (h1– h4) (2.5)
Qe = (h1–h4) (2.6)
Dimana,
Qe = Kalor yang diserap di evaporator(kW)
h₄ = Entalpi refrigeran saat masuk katup ekspansi (kJ/kg)
h₁ = Entalpi refrigeran saat keluar evaporator (kJ/kg)
m = Laju aliran refrigeran pada sistem (kg/s)
qe = Efek refrigerasi(kJ/kg)

2.4.2. Komponen Sistem Refrigerasi Kompresi Uap


Komponen penyusun sistem refrigerasi pada dasarnya terbagi menjadi
kelompok. Pembagian ini berdasarkan keutamaan dari alat atau komponen
tersebut. Komponen sistem refrigerasi tersebut adalah:
1. Komponen Utama
2. Komponen Pendukung
Komponen yang keberadaannya mutlak harus berada dalam sistem
refrigerasi tersebut dikelompokkan pada komponen utama. Dinamakan demikian
karena jika salah satu komponen tersebut tidak ada maka sistem tidak akan dapat
bekerja sama sekali. Sedangkan komponen pendukung adalah komponen yang
apabila tidak terpenuhi maka sistem masih dapat bekerja, karena fungsi komponen
ini hanyalah sebagai pelengkap agar sistem dapat bekerja dengan baik. Alat
pendukung ini dapat berfungsi sebagai alat kontrol ataupun alat pengukur.
Jadi untuk dapat menghasilkan kerja sistem yang seimbang dengan efisiensi
yang tinggi diperlukan adanya komponen pendukung ini.Komponen pendukung
ini terbagi menjadi dua, yaitu komponen pendukung mekanik dan komponen
pendukungkelistrikan.komponen utama sistem refrigerasi terdiri dari :
a. Kompresor
b. Kondenser
c. Katup ekspansi
d. Evaporator

1. Komponen Utama
Komponen utama yang digunakan pada sistem refrigerasi kompresi uap
terdapat empat komponen, jika salah satu dari keempat komponen tersebut tidak
ada atau tidak terpenuhi makasistem tidak akan dapat bekerja. Dengan hanya
menggunakan keempat komponen tersebut kita sudah dapat membuat suatu sistem
refrigerasi kompresi uap sederhana. Namun demikian, sistem tentunya tidak ada
dapat bekerja secara sempurna, walaupun menggunakan komponen tambahan
yang lengkap, kondisi ideal (teoritis) tidak akan dapat dicapai karena banyaknya
variabel yang menyebabkan adanya penyimpangan dalam sistem aktual dari
idealnya. Berikut komponen utama sistem refrigerasi besertafungsinya.

a. Kompresor
Kompresor adalah jantung dari sistem refrigerasi, dengan kata lain
kompresor merupakan komponen yang berfungsi untuk mensirkulasikan
refrigeran ke semua komponen refrigerasi. Kompresor didesain dan dirancang
agar dapat bekerja dalam jangka waktu panjang walaupundigunakan secara terus
menerus dalam sistem refrigerasi kompresi uap.Untuk mendapatkan performa
seperti yang diharapkan maka kompresor harus bekerja sesuai dengan kondisi
yang diharapkan, terutama kondisi temperatur dan tekanan refrigeran pada saat
masuk dan meninggalkan katup kompresor.
Kompresor juga berfungsi untuk memastikan bahwa temperatur gas
refrigeran yang disalurkan ke condenser harus lebih tinggi dari temperatur
lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan untuk membuang panas gas refrigeran
yang berada di kondenser ke lingkungan sekitar. Akibatnya temperatur refrigeran
dapat diturunkan walaupun tekanannya tetap. Oleh karena itu kompresor harus
dapat mengubah kondisi gas refrigeran yang bertemperatur rendah dari
evaporator. Menjadi gas yang bertemperatur tinggi pada saat meninggalkan
saluran discharge kompresor. Tingkat temperatur yang harus dicapai tergantung
pada jenis refrigeran dan temperatur lingkungansekitarnya.
Pada sistem refrigerasi kompresi uap terdapat beberapa macam kompresor yang
sering dipakai.Semua jenis kompresor memiliki keunggulan masing- masing. Dari
kesemua jenis kompresor, pemilihan kompresor bergantung pada kapasitas
penggunaan sistem refrigerasi dan penggunaan refrigeran pada sistem refrigerasi
tersebut.
Jenis kompresor berdasarkan letak motor :
1. Kompresor Open-Type
2. Kompresor Hermetic-Type
3. Kompresor Semi Hermetic-Type
Berdasarkan cara kerjanya kompresor dibagi menjadi lima, yaitu:
1. Kompresor torak (Reciprocating Compressor)
2. Kompresor putar (Rotary Compressor)
3. Kompresor sentrifugal (CentrifugalCompressor)
4. Kompresor sekrup (ScrewCompressor)
5. Kompresor scroll (ScrollCompressor)

b. Kondenser
Didalam sistem refrigerasi kompresi uap, kondenser adalah suatu
komponen yang berfungsi untuk merubah fasa refrigeran dari gas bertekanan
tinggi menjadi cairan bertekanan tinggi atau dengan kata lain pada kondenser
initerjadi proses kondensasi. Refrigeran yang telah berubah menjadi cair tersebut
kemudian dialirkan ke evaporator melaluikatup ekspansi.
Agar proses perubahan fasa yang diinginkan ini dapat terjadi, maka kalor/panas
yang ada dalam gas refrigeran bertekanan tinggi harus dibuang keluar dari sistem.
Adapun kalor ini ber asal dari 2 sumber, yaitu :
1. Kalor yang diserap refrigeran ketika mengalami prosesevaporasi.
2. Kalor yang ditimbulkan di kompresor selama terjadinya proseskompresi.
Gas refrigeran bertekanan rendah dikompresi sehingga menjadi gas
refrigeran bertekanan tinggi dimana temperatur kondensasinya lebih tinggi dari
temperatur media pendingin kondenser.Media pendingin yang umum digunakan
biasanya air, udara, atau kombinasi keduanya.
Dengan temperatur kondensasi yang lebih tinggi dari media pendingin maka
akan mudah terjadi proses perpindahan kalor dari refrigeran ke media pendingin.
Seperti kita ketahui secara umum “kalor akan mengalir dari substansi yang
bertemperatur lebih tinggi ke substansi yang bertemperatur lebih rendah”.
Proses perpindahan kalor di kondenser terjadi dalam 3 tahapan yaitu :
• Penurunan nilai superheat (desuperheating) sampai mencapai temperatur
kondensasi. Pada proses ini terjadi perpindahan kalorsensible.
• Perubahan fasa refrigeran dari fasa gas menjadi cair. Pada proses ini terjadi
perpindahan kalorlatent.
• Pelepasan kalor dari refrigeran cair (sub-cooling) ke media pendingin. Pada
proses ini terjadi perpindahan kalorsensible.
Kapasitas kondenser adalah kemampuan kondenser untuk melepas kalor dari
refrigeran (sistem) ke media pendingin. Ada empat hal yang mempengaruhi
kapasitas kondenser yaitu :
1 Material (bahan pembuatkondenser).
2 Luas area kondenser.
3 Perbedaantemperatur.
4 Kebersihankondenser.
Jenis kondenser berdasarkan media pendingin terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
1 Kondenser berpendingin udara (air cooledcondenser)
2 Kondenser berpendingin air (water cooledcondenser)
3 Kondenser berpendingin kombinasi udara dan air (evaporativecondenser)

c. Katup Ekspansi
Setelah refrigeran terkondensasi di kondenser, refrigeran cair tersebut
masuk ke katup ekspansiyang mengontrol jumlah refrigeran yang masuk ke
evaporator agar sesuai dengan laju aliran atau penguapan cairan refrigeran di
evaporator. Selain itu, katup ekspansi juga berfungsimenurunkan tekanan hal ini
bertujuan untuk menjaga beda tekanan di sisi tekanan rendah dan tekanan tinggi
pada sistem.Adapun jenis-jenis katup ekspansi yaitu :
1. Pipa kapiler (capillaty tube)
2. Katup ekspansi otomatis (automatic expansionvalve)
3. Katup ekspansi termostatik (thermostatic expansion valve)
4. Katup ekspansi manual (hand expansionvalve)
5. Katup apung sisi tekanan rendah (low side floatvalve)
6. Katup apung sisi tekanan tinggi (high side floatvalve)
2. Komponen Pendukung

a. Strainer
Strainer merupakan alat yang digunakan untuk menyaring kotoran-kotoran
yang terbawa oleh referigeran cair dalam sistem.Kotoran itu dapat berupa debu,
perak hasil pengelasan atau uap air.Selain itu strainer berfungsi untuk
mengeringkan uap air dan lebih dikenal dengan strainer dyer.
Strainer biasanya diletakkan pada sisi tekanan tinggi dalam siklus refrigerasi
kompresi uap, yaitu pada liquid line.
Secara umum keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan strainer
dalam sistem adalah:
• Mencegah adanya uap air yang mungkin ada pada sistem yang selanjutnya
mungkin akan membeku dan menyumbat aliran refrigeran dalamsystem.
• Menyaring kotoran yang bercampur pada refrigeran. Hal ini akan melindungi
sistem dari sumbatan dan rusaknya komponen akibat gesekan tersebut
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendinginan kompresi uap adalah salah satu dari banyak siklus pendingin
tersedia yang banyak digunakan.
Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa
fluida yang bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin
jika dibiarkan mengembang. Prinsip kerja mesin pendingin adalah jika motor
penggerak berputar maka akan memutar kompresor.
Siklus refrigerasi kompresi uap merupakan suatu sistem yang memanfaatkan
aliran perpindahan kalor melaluirefrigeran.
Proses utama dari sistem refrigerasi kompresi uap adalah :
1. Proses Kompresi
2. Proses Kondensasi
3. Proses Ekspansi
4. Proses Evaporasi
Komponen Sistem Refrigerasi KompresiUap
Komponen penyusun sistem refrigerasi pada dasarnya terbagi menjadi
kelompok.Pembagian ini berdasarkan keutamaan dari alat atau komponen
tersebut. Komponen sistem refrigerasi tersebut adalah:

1. Komponen Utama

2. Komponen Pendukung

3.2 Saran
Dibutuhkan banyak referensi untuk menyempurnakan makalah ini, sehingga
kami mengharapkan adanya banyak sumbangsi pemikiran dari para pembaca guna
adanya perbaikan sehingga tulisan ini dapat bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA

https://gregoriusagung.wordpress.com/2010/12/11/mesin-pendingin-siklus-
kompresi-uap/

http://teknik-pendingin.blogspot.co.id/2008/09/sistim-refrigerasi-kompresi-
uap.html

http://catatan-teknik.blogspot.co.id/2010/10/cara-kerja-air-conditioner.html