Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH BIOTAINMENT

KERAGAMAN ETNOBOTANI DAN ETNOSAINS DIBERBAGAI


DAERAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biotainment

Dosen Pengampu:

Dr. Aditya Marianti, M.si

Muhammad Abdullah, S.Si, M. Sc.

Disusun oleh:

Kelompok 6

1. Arum Mulyani (4411416002)

2. Safitri (4411416007)

3. Afra Fauziah L. Putri (4411416008)

4. Nur Asih Setiarini (4411416016)

5. Yashinta Ayu W. (4411416017)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019
Pada kelompok kami ada beberapa kegiatan dan tradisi masyarakat di
sekitar tempat tinggal anggota kelompok yang menerapkan ilmu etnobotani dan
etnosains yang berlangsung secara turun temurun. Perlu diketahui bahwa
etnosains adalahmerupakan pengetahuan yang dimiliki oleh suatu komunitas
budaya, yang kemudian ilmu ini mempelajari atau mengkaji sistem pengetahuan
dan tipe-tipe kognitif budaya tertentu,penekanan pada pengetahuan asli dan khas
dari suatu komunitas budaya, sedangkan etnobotani adalahadalah interaksi
masyarakat setempat dengan lingkungan hidupnya, khususnya tumbuh-tumbuhan
serta suatu pengkajian terhadap penggunaan tumbuh-tumbuhan asli dalam
kebudayaan dan agama bagi sesuatu kaum seperti cara penggunaan tumbuhan
sebagai makanan, perlindungan atau rumah, pengobatan, pakaian, perburuan dan
upacara adat. Suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik secara
menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem
pengetahuan tentang sumberdaya alam tumbuhan (Mahfudhoh,2011)

Sehingga pada makalah ini, kelompok 6 akan memaparkan berbagai


kegiatan ataupun tradisi masyarakat yang menerapkan kedua ilmu tersebut.
Kegiatan dan tradisi di masyarakat antara lain :

1. Kabupaten Demak
a. Pembuatan kapal nelayan (etnosains)

Kapal perikanan merupakan salah satu unit penangkapan ikan yang


memiliki peran yang sangat penting bagi para nelayan, baik sebagai alat
transportasi dari fishing base ke fishing ground dan sebaliknya maupun sebagai
alat untuk menampung hasil tangkapan yang didapat. Pembangunan kapal
perikanan sangat beragam, dimulai dari yang bersifat tradisional dengan hanya
berdasarkan pada pengetahuan yang turun temurun, sampai dengan modern yang
sudah memanfaatkan kemajuan teknologi. Sebagian besar kapal perikanan yang
beroperasi di Indonesia dibangun oleh galangan kapal tradisional yang
pembangunannya tidak dilengkapi dengan kelengkapan perencanaan desain dan
konstruksi kapal seperti gambar rencana garis (lines plan), table offset, gambar
rencana pengaturan ruang kapal serta instalasinya (general arrangement) dan
gambar konstruksi beserta spesifikasinya. Hal ini dikarenakan kebiasaan turun
temurun yang didapat tanpa menggunakan perencanaan tertulis. Demikian juga,
kapal tersebut tidak dilengkapi dengan perhitungan-perhitungan hidrostatik dan
stabilitas (Nahdyah et.al,2014).

Pada pembuatan kapal ini jenis tumbuhan yan digunakan sebagai kerangka
kapal hingga menjadi kapal seutuhnya adalah jati dan mahoni. Kedua tumbuhan
ini dipilih karena dianggap sangat kuat dan tidak mudah lapuk.

Sedangkan dalam proses pembuatannya memanfaatkan berbagai ilmu yang


dapat diterapkan, antara lain yaitu menggunakan panas api untuk membuat lentur
kayu sehingga mudah untuk dibengkokkan sedemikian rupa, dan menggunakan
bahan kimia sebagai perekat antar kayu maupun sebagai pelapis kayu perahu agar
tidak mudah menyerap air ataupun agar tidak mudah lapuk.
b. Tradisi syawalan pada H+7 lebaran Idul Fitri (etnobotani)

Syawalan atau sedekah laut merupakan salah satu tradisi yang populer
bagi masyarakat pesisir atau nelayan di berbagai wilayah. Di Jawa Tengah tradisi
Syawalan atau sejenis dilakanakan oleh komunitas nelayan di Kabupaten Demak,
Tegal, Pekalongan, Cilacap, Jepara, Kaliwungu dan sebagainya. Syawalan atau
sedekah laut serta tradisi-tradisi lainnya merupakan salah satu konstruk
kebudayaan suatu masyarakat tertentu. Menurutnya, pada setiap kebudayaan
biasanya terdapat nilai-nilai tertentu yang mendominasi ide yang berkembang.
Dominasi ide tertentu dalam masyarakat akan membentuk dan mempengaruhi
aturan-aturan bertindak masyarakatnya (the rules of conduct) dan aturan-aturan
bertingkah laku (the rules of behavior) yang kemudian secara bersama-sama
membentuk pola kultural masyarakat (Anwar,2013)

Kegiatan syawalan di daerah Demak antara lain dimulai dengan menghias


dan mensucikan perahu yang biasa dibuat untuk mencari ikan dilaut dengan cara
disiram dengan air laut dan perahu dihiasi berbagai pernak-pernik serta tak lupa
diberi daun pandan dan daun melati.

Pandan digunakan dalam simbol ini karena memberikan manfaat dan


makna pada kehidupan manusia. Pohon pandan sangat memikat bagi para pencari
spiritual, ia memberi manfaat bagi kehidupan tanpa diminta. Memberi bukan
berarti kehilangan kepemilikan, akan tetapi merupakan pengungkapan perhatian
manusia untuk mencintai kehidupan. Sehingga, memberi dan berkorban
merupakan ekspresi paling tinggi dari suatu kemampuan. Maka, sekecil apapun
kebaikan yang kita berikan, dapat besar artinya orang lain, berguna bagi sesama
akan membuat hidup lebih bermakna, pohon pandan juga memberikan gambaran
mengenai keharmonisan atau keselarasan. Pandangan Jawa mengenai
keharmonisan atau keselarasan bagi sesama (sosial) dan lingkungannya (alam)
menjadi suatu hal yang penting. Pandangan ini bukanlah sesuatu pengertian yang
abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya menghadapi masalah
kehidupan. Leluhur menyadari betul, bahwa mereka merupakan bagian dan fungsi
dari alam, sehingga bahasa alam merupakan rujukan dalam menjalani
kehidupannya.
Sedangkan arti dari simbol bunga melati karena eratnya berbagai tradisi di
nusantara yang berkaitan dengan bunga melati tidak terlepas dari makna filosofis
bunga melati yang melambangkan kesederhanaan. Ini terlihat dari sosok tanaman
melati yang sederhana, tumbuh meliar dan mempunyai bunga yang kecil seakan
melambangkan kesederhaan.Warnanya yang putih bersih serta tidak mencolok,
bunga ini melambangkan kesucian dan keelokan budi. Bunga Melati
mengeluarkan aroma harum yang lembut dan tidak menusuk hidung memberikan
makna dan kesan lembut, nyaman, dan tenang.

Kemudian kegiatan lain ketika syawalan adalah sedekah laut, yaitu kegiatan
para nelayan untuk memberi berbakagai makanan pokok seperti tumpeng kuning
serta memberi sesajen dan dibuang ke laut lepas. Upacara selamatan sedekah laut
pada dasarnya merupakan suatu bentuk upacara tradisi selamatan yang dilakukan
oleh masyarakat nelayan dengan tujuan untuk memohon berkah dan
keselamatanan sebagai doa agar masyarakat yang tinggal di pesisir pantai selalu
aman dan tidak ada bencana. Kegiatan lainnya adalah masyarakat akan
berbondong-bondong pergi ke laut untuk mensucikan diri dengan cara mandi di
laut.

2. Kabupaten Jepara
a. Perang Obor (etnosains)

Etnosains merupakan kegiatan mentransformasikan antara sains asli yang


terdiri atas seluruh pengetahuan tentang fakta masyarakat yang berasal dari
kepercayaan turun-temurun dan masih mengandung mitos. Ruang lingkup
etnosains meliputi bidang sains, pertanian, ekologi, obat-obatan, bahkan termasuk
dari flora dan fauna (Rahayu & Sudarmin, 2015). Salah satu cara yang dapat
diterapkan adalah dengan etnosains, karena etnosains berhubungan dengan
pengetahuan yang berasal dari budaya yang dapat berperan sebagai dasar
membangun realitas yang mengedepankan hubungan budaya dengan pengetahuan
ilmiah mutakhir (Abinyo et al., 2015).
Setiap daerah memiliki budaya lokal yang dapat dimanfaatkan secara
optimal sebagai bahan dan media pembelajaran. Budaya local tersebut jika
digunakan sesuai dengan topik-topik yang relevan akan memberikan berbagai
alternatef kegiatan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan (Najib, 2018).
Di Jepara terdapat berbagai macam sumber daya budaya (cultural resources) yang
dapat dipandang sebagai rekaman sejarah (Indrahti, 2017). Kabupaten Jepara
adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Jepara.
Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Pati
dan Kabupaten Kudus di timur, serta Kabupaten Demak di selatan. Wilayah
Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yang berada di Laut
Jawa. Jepara memiliki berbagai macam etnosains diantaranya adalah Perang Obor.
Perang Obor merupakan upacara tradisional yang masih dilestarikan di
DesaTegal Sambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Upacaratra disional
Obor-Oboran atau Perang Obor yang di laksanakan di Desa Tegal Sambi pertama
kali dilakukan pada abad ke-16 Masehi sehubungan dengan ketokohan Ki
Babadan dan Ki Gemblong dan mengalami perubahan sesuai dengan
perkembangan jaman. Upacara tradisional Obor-Oboran yang dilaksanakan
memiliki kekhasan dan keunikanya itu dengan rangkaian dan dengan rentang
waktu yang panjang yaitu selama tiga hari, dengan puncaknyaPerangOboryang
dilakukan oleh para pemain.

Menurut Aristanto (2011), rangkaian pelaksanaan Perangobor diawali


dengan pertemuan untuk persiapan serta pembuatan perlengkapan obor,
mengingat Perang Obor adalah ritual adat yang sangat penting, maka Kepala Desa
Tegal Sambi memimpin rapat persiapan sebagai langkah awal untuk koordinasi
dan agar pelaksanaan Perang Obor berjalan sesuai rencana dan juga termasuk
menyiapkan serangkaian kegiatan acara tahunan tersebut. Bahan obor yang
digunakan adalah gulungan pelepah dari daun kelapa kering yang di bagian
dalamnya diisi dengandaun pisang kering dengan jumlah banyak. Selanjutnya,
obor diikat kan pada sebatang bamboo. Daun pelepah pisang dicampur dengan
pelepah daun kelapa. Kedua pelepah tersebut dicampur dan diikat menjadi satu.
Jumlah pelepah yang dibakar dalam perang tersebut yaitu sekitar 250-300 ikat
pelepah.
Rangkaian berikutnya adalah penggantian sarung pusaka. Hal ini
dilakukan menjelang petang. Kepala Desa yang juga berperan sebagai pemimpin
adat Desa Tegal Sambi memulai ritual mengganti sarung pusaka desa yang
disimpan di kediamannya. Pusaka desa yang dimaksud adalah sebuah potongan
kayu yang dipercaya sebagai peninggalan Sunan Kalijaga. Benda pusakaini juga
diyakini memiliki kekuatan gaib yang melindungi segenap warga desa dari segala
musibah. Kepala Desa memimpin untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha
Kuasa. Setelah berdoa, Kepala Desa menyiapkan kembang setaman yang
digunakan untuk ritual mengganti sarung pusaka tersebut. Setelah dicucidengan
air bunga berbaga irupa dan warna, benda pusaka dimasukkan kesarung yang
baru. Sedangkan air bekas pencucian bakal dijadikan bahan campuran obat.
Sementara obat khusus yang terbuat dari minyak kelapa asli berkhasiat
menyembuhkan para pesertaPerang Obor yang menderita luka bakar. Setelah itu,
dilanjutkan acara berkunjungkemakam leluhur sudah berlangsung sekitar satu
bulan menjelang hari pelaksanaan. SetiapSenin, Kamis dan
Jumatmasyarakatmengunjungimakamleluhur.
Rangkaian acara berikutnya adalah sesaji yang meliputi:
pemotongankerbau, sesajen. Setelah acara sesajen terlewati, dilakukan pemberang
katan sesajen, puncak ritual Perang Obor, penyembuhan luka dan pagelaran
wayang kulit. Pemotongan Kerbau dijadikan sebagai hewan kurban. Setelah
disembelih, darah kerbau dikumpulkan dalam sebuah wadah yang akan digunakan
sebagai bahan pelengkap sesajen. Sementara dagingnya dimasak beberapa orang
untuk hidangan sesajen dan kenduri warga pada malam hari sebagai bentuk rasa
syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kenikmatan. Sesaji yang digunakan
dalam upaca Perang Obor meliputi sesaji utama berupakepala kerbau. dan sesaji
pelengkap yang meliputi nasi, berupa segagolong, tumpeng dan ketupat.
Laukpauk berupa dekem ayam, panggang ayam dan telur. Sayur berupa urab atau
gudhangan dan jangan kunci kelor. Arang-arang kambang terdiridari cengkar
ukura dan cengkaruk gimbal.Lepet terbuat dari beras ketan yang dicampur kelapa
muda dan diberi garam yang dibungkus daun kelapa muda kemudian dikukus.
Bubur abangp utihterbuat dari beras yang dicampur dengan santan dan garam,
untuk yang berwarna merah diberi gula jawa. Jajan pasar terdiri dari makanan
yang dijual di pasar yaitu kerupuk, jambu merah, mentimun, tape dan gethuk.
Buah yang digunakanberupa pisang raja setangkep. Bunga kembang yang
digunakan berupa kembang mawar, melati dan kanthil atau yang lebih dikenal
dengan kembang setaman. Kelapa hijau. Bahan makanan mentah berupa beras,
gula kopi, bumbu, mpon-mponyang dimasukkan dalam kasung. Sawanan
merupakan air bekas mencuci pusaka.
Pemberangkatan Sesaji semua sesaji yang sudah disiapkan dan lengkap
dibawa kerumah Kepala Desa. Satu porsi sesaji diletakkan di ruang penyimpanan
pusaka. Sedangkan sisanyadi distribusikan keberbagai tempat, antara lain ke
Makam Mbah Tegal sebagai sesepuh Dusun Tegal Sambiserta di perempatan jalan
dan batas desa. Selanjutnya, warga berkumpul di masjid desa. Mereka menggelar
kenduri dan doa bersama agar pelaksanaan Perang Obor berjalan lancar.
Puncak Ritual, Perang Obor puncak ritual Perang Obor sebagai ungkapan
syukur atas segala karunia Sang Pencipta dimulai pada malam hari. Pada ritual ini
Kepala Desa melangkah menuju lokasi. Perang Obor selain melibatkan warga
setempat juga disaksikan ribuan penonton dari berbagai daerah, bahkan para
wisatawan. Setiap warga Desa Tegal Sambi memang berhak menjadi peserta
asalkan memiliki keberanian menghadapi risiko mengalami luka bakar.
Sedangkan warga luar desa tak boleh ikut karena dikhawatirkan mendapat
sial.Kemudian para peserta tampak saling memukul dengan menggunakan obor
yang membara. Memang unik dan menarik, namun mendebarkan. Ini mengingat
para peserta dalam memainkan obor masing-masing terlihat bersungguh-sungguh
seperti berperang. Mereka percaya bahwa kesungguhan itu sebagai symbol
memerangi kejahatan dan mengusir penyakit. Dengan demikian, desa mereka
bebas dari segala marabahaya. Dalam ritual tersebut, mereka juga terlihat saling
kejar hingga sampai rumah Kepala Desa. Para peserta kemudian kembali
keperempatan jalan dan berakhir di Balai Desa. Malam itu, jalan-jalan di desa
menjadi lautan api. Ritual yang lebih mirip pertandingan bela diri ini baru
berakhir bila seorang peserta tinggal sendirian atau tak lagi memiliki lawan yang
akan dihadapi. Namun, sang pemenang tak akan mendapatkan hadiah tertentu
kecuali kebanggaan dan reputasi diri.
Penyembuhan luka ritual Perang Obor telah berakhir dan saatnya
menyembuhkan luka bakar yang dialami sejumlah peserta akibat terkena
sambaran api. Namun, mereka tak perlu khawatir. Soalnya, Kepala Desa telah
menyiapkan ramuan khusus yang telah diraciknya. Dengan sedikit olesan, luka-
mereka pun hilang tanpa bekas. Menurut sejumlah warga, dari tahun ketahun,
ritual Perang Obor selalu berlangsung lancar. Bahkan, sulit dijumpai sejumlah
peserta yang cedera serius, apalagi sampai dilarikan kerumah sakit.
Pagelaran Wayang Kulit tradisi yang tak dapat ditinggalkan adalah
pagelaran wayang kulit, yang dilaksanakan dua kali yaitu pada malam sebelum
Perang Obordan sebelum pelarungan sesaji, yang merupakan syarat pelarungan
atau sebagai iringan pengantar pada saat pelarungan sesaji. Wayang kulit digelar
hingga semalam suntuk.

Makna Simbolik Sesaji Upacara Perang Obor

1. Kepala kerbau sebagai simbol rasa syukur dan bermakna sebagai penolak
bala. Kerbau yang dijadikan sebagai kurban umumnya berasal dari spesies
Bubalisarnee.
2. Tumpeng yang berwarna kuning, warna kuning dari tumpeng dihasilkan
dari pewarna alami Kunyit. Makna filosofi dari bentuknya secara vertical
berarti untuk menggambarkan hubungan manusia denganTuhannya,
sedang kanbagian bawah yang bentuknya melebar melambangkan
hubungan manusia dengan sesamanya.
3. Kupat atau ketupat. Terbuat dari daun kelapa yang dianyam dan diisi
dengan beras untuk kemudian direbus. Ketupat mengandung makna
meminta maaf atas semua kesalahan.
4. Dekem atau Ingkung Ayam menjadi lambing bagi kelakuan pasrah kepada
kekuasaan Tuhan.
5. Bubur Abang Putih. Terbuat dari beras yang dimasak menjadi bubur
Bubur abang artinya bubu rmerah, namun dalam hal ini merah yang
dimaksud adalah bubur yang diberi campuran gula merah sehingga
warnanya kecoklatan. Masyarakat Jepara menyebutnya merah. Bubur
Abang Putih ini mempunyai arti sebagai lambing untuk menghormati asal
usul kejadian diri manusia yang terdiri dari merah (unsure ibu) dan putih
(unsur ayah).
6. Pisang Raja (Musa paradisiaca) merupakan buah yang sangat bergizi yang
merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat dari family
Musaceae. Pisang Raja melambangkan harapan agar kita diberi
kehormatan, kewibawaan dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan
seperti seorang raja.
7. Kembang atau berbagai macam bunga yang mempunyai makna sebagai
perwujudan kebaktian kepada nenek moyang atau pepunden dengan tujuan
dijauhkan dari gangguan-gangguan.

Unsur etnosains pada Perang Obor adalah penggunaan tumbuhan. Yakni


menggunakan "senjata" yang terbuat dari pelepah kelapa yang diisi pelepah dan
daun pisang kering, serta bamboo yang digunakan sebagai penyangga. Minyak
kelapa yang dijadikan obat berkhasiat yang terbuat dari kelapa. Upacara Perang
Oboryang diadakan setiap tahun sekali, atas dasar kepercayaan masyarakat
DesaTegal Sambi terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang
terjadi di desa tersebut. Selain itu, sesaji yang diperkenalkan banyak
mengandung unsure biologis yakni tumbuhan dan hewan.
b. Jembul tulukan (etnobotani)

Hampir di seluruh wilayah di Jawa menjalankan ini, namun ada kekhasan


tersendiri di setiap daerahya. Keunikan pada setiap prosesi yang dijalankan
menjadi pembeda antara sedekah bumi di daerah tertentu. Di beberapa daerah
ritual sedekah bumi identik dengan iring-iringan gunungan yang berisi makanan
dan hasil bumi.
Jembul sendiri merupakan usungan ancak (semacam tumpukan bambu yang
disusun menyerupai gunungan) yang di dalamnya berisi makanan. Jembul terdiri
dari dua jenis, yaitu jembul lanang dan jembul wadon. Jembul lanang dihiasi
dengan iratan bambu tipis yang kemudian membentuk seperti gunungan dengan
dihiasi golek (red: boneka) diatasnya. Sedangkan Jembul wadon tidak.
Jembul Tulakan adalah tradisi budaya di Desa Tulakan Kecamatan Donorojo
Kabupaten Jepara. Jembul Tulakan adalah arak-arakan Jembul di desa Tulakan.
Jembul Tulakan merupakan tradisi dalam acara sedekah bumi yg di
selengggarakan oleh pemerintah desa Tulakan. Jembul Tulakan rutin digelar
setiap Senin Pahing bulan Apit penanggalan Jawa, atau bulan Dzulkaidah
penanggalan Hijriyah. Tradisi ini untuk mengenang sejarah dari Ratu Kalinyamat,
yang melakukan tapa brata menuntut keadilan atas kematian suaminya, Sunan
Hadirin, yang dibunuh oleh Arya Panangsang. Jembul merupakan perlambangan
sumpah Nyai Ratu Kalinyamat yaitu ora pati-pati wudhar tapa ingsun, yen
durung keramas getehe lan kramas keset jembule Aryo Panangsang. Yang berarti
tidak akan menyudahi semedinya kalau belum keramas dengan darah dan keset
rambut Aryo Penangsang. Tradisi ini untuk mengenang sejarah dari Ratu
Kalinyamat, yang pernah melakukan 'tapa wuda sinjang rambut' atau bertapa
tanpa mengenakan pakaian dan hanya tertutup oleh rambutnya yang panjang. Dia
melakukan tapa seperti ini setelah suaminya, Sultan Hadiri terbunuh oleh Adipati
Arya Penangsang
Dalam tradisi itu ratusan warga rela berdesakan untuk mendapatkan
gunungan. Jembul itu diyakini warga dapat mengusir hama pertanian sehingga
panenan melimpah Prosesi puncak dilakukan dengan membasuh kaki kepala desa
dengan air kembang setaman, lalu beliau mengelilingi gunungan sebelum
akhirnya diarak kedukuh masing-masing. Pada intinya tradisi ini untuk
mengenang sejarah sekaligus rasa syukur kepada tuhan atas limpahan rejeki yang
selama ini diberikan kepada warga.

Adapun perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk melaksanakan


ritual ini, seperti makanan tumpeng gunungan yang disusun bertingkat-tingkat
serta gapura. Pada makanan tumpeng gunungan, bagian atas diletakkan buah dan
makanan pasar seperti jadah, wajik, pisang, dan roti yang ditusuk dengan lidi yang
ditancapkan pada batang pisang. Sedangkan pada bagian bawah, diletakkan
makanan seperti nasi dan ayam. Tradisi Jembulan juga perlu dipersiapkan dua
buah gapura yang diberi jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Gapura dibentuk
dari pohon pisang dan janur yang mengitarinya hingga sedemikian rupa.

Pelaksanaan Jembulan ini biasanya diiringi dengan pembacaan doa yang


dipimpin oleh Mbah Modin (pemimpin agama). Pembacaan doa diawali dengan
pembacaan surah Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah-surah pendek, seperti
surah Annas, surah Al Falaq, Al Ikhlas, dan Ayat Kursi masing-masing tiga kali.
Pembacaan doa diakhiri dengan permintaan doa para sesepuh kepada Allah SWT
tentang keinginan warga desa. Dulunya, Tradisi Jembulan digunakan
dilaksanakan di gua-gua, yang digunakan untuk persembunyian pada zaman
penjajahan, bertujuan untuk bertapa, menyembah roh dan jin. Jembulan pada
zaman dahulu dianggap sakral, penuh mistik, dan berbau syirik Namun saat ini,
tradisi jembulan mengalami evolusi karena adanya pengaruh agama, sehingga
jembulan saat ini merupakan bentuk wujud syukur terhadap hasil panen.

Unsur etnobotani dalam tradisi Jembulan ini yaitu penggunaan bahan atau
hasi pertanian dalam pembuatan gunungan serta penggunaan batang pisang dan
pohon pisang yang digunakan dalam pembuatan gapura. Pada tradisi ini unsur
biologisnya sangat kental yaitu pemanfaatan tanaman yang ada dilingkungan
sekitar yaitu tanaman hasil panen untuk kelancaran kegiatan budaya teresebut.

3. Kabupaten Sukoharjo

Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah. Jamu


gendong merupakan salah satu warisan leluhur bangsa Indonesia. Dalam
perkembangannya jamu gendong merupakan salah satu wujud Pemanfaatan
tanaman obat. Di Indonesia khususnya di pulau Jawa, jamu gendong merupakan
salah satu obat untuk memulihkan kesehatan (Pratiwi, 2018). Penggunaan jamu
gendong sebagai sarana pengobatan didasarkan pada pengalaman secara turun-
temurun yang diperoleh seseorang dari leluhur mereka yang telah mewarisi cara
pembuatan jamu gendong secara tradisional (Suharmiati, 2018). Obat tradisional
merupakan obat yang bahan bakunya diperoleh dari tumbuhan, bahan hewan,
bahan mineral, sediaan sarian atau gelenik, atau campuran dari bahan tersebut
yang secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
(Sampurno, 2005). Distribusi ramuan jamu berasal dari dukun, wiku, dan orang
pintar. Resep jamu kemudian tersebar dari mulut ke mulut, seseorang memulai
membuat jamu dengan kebutuhan yang mereka inginkan. Pembuatan jamu
gendong sebagai obat tradisional didasarkan pada pangalaman secara turun
temurun. Resep yang digunakan pun tidak secara khusus dipelajari, hanya
berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan nenek moyang
(Suharmiati, 2016).

Kabupaten Sukoharjo merupakan daerah penghasil jamu tradisional, baik


jamu serbuk maupun jamu gendong (cair). Kabupaten Sukoharjo mempunyai 12
kecamatan. Satu diantara kecamatan yang merupakan sentra produksi jamu yaitu
Kecamatan Nguter. Usaha jamu di Kecamatan Nguter merupakan usaha turun
temurun dan berkembang sampai sekarang mulai dari skala rumah tangga sampai
skala besar. Jamu yang berada di Kecamatan Nguter berasal dari pengetahuan
local masyarakat setempat yang diwariskan secara turun temurun dari tahun 1965.
Jamu ini berada dalam kelompok koperasi yang menjadi penggerak dan Pembina
dari produsen jamu di Kabupaten Sukoharjo dalam segala kepengurusan badan
hukum, pelatihan produksi sampai keikutsertaan dalam lomba nasional
(Arifin,2010). Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah
mulai dari tahun 1960 hingga tahun 2016 menjadi sentra industry jamu yang
berkembang dari segi produk, pengolahan dan pemanfaatan tumbuhan, seiring
perkembangan Industri jamu di Kecamatan Nguter (Triyatno, 2016).

Tumbuhan obat sebagai bahan baku jamu termasuk sumberdaya alam yang
dapat dipebaharui. Cara pembaharuan sumberdaya alam ini meliputi penanaman
kembali tumbuhan obat yang telah digunakan sebagai bahan baku jamu supaya
tumbuhan obat tersebut tidak habis atau tidak punah. Pemanfaatan jenis tumbuhan
dan satwa liar menjelaskan bahwa pemanfaatan jenis tumbuhan liar yang berasal
dari habitat alam untuk keperluan budidaya tanaman obat-obatan dilakukan
dengan tetap memelihara kelangsungan potensi, populasi, daya dukung, dan
keanekaragaman jenis tumbuhan liar.
DAFTAR PUSTAKA

Info budaya. 2019. Tradisi Jembulan. <https://budaya-indonesia.org/Tradisi-


Jembulan> diakses tanggal 24 April 2019
Sejarah Jawa. 2017. Tradisi Jembulan Sragen.< https://budayajawa.id/tradisi-
jembulan-sragen/> diakses tanggal 24 April 2019
Anwar,K. 2013. Makna Kultural dan Sosial-Ekonomi Tradisi Syawalan.
Walisongo,21(2):437-468.

Mahfudhoh, W. 2011. Penerapan Etnobotani dan Etnosains. Malang:Uin Malang.

Nahdyah, N., A. Farhum dan I. Jaya. 2014. Keragaman Jenis Kapal Perikanan Di
Kabupaten Takalar. Jurnal IPTEKS PSP,1(1):81-94.