Anda di halaman 1dari 9

ARTIKEL SOSIOLINGUISTIK

“ Bahasa dan Kebudayaan “

Dosen Pengampuh :

Di susun oleh:
Indah Agus Asiana
1740602025
Lokal A1
Semester III

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2018
Bahasa dengan Kebudayaan

A. Abstrak

Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang
terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat
untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau
perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa
bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi (Chaer dan Leonie
Agustina, 2010: 11).

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi,
setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap
lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat
disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna.

Telah dijelaskan bahwa hubungan antara bahasa dan kebudayaan itu bersifat koordinaif atau
subordinatif yang keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling memengaruhi.
Menurut Masinambouw (dalam Crista, 2012: 2), yang mengatakan bahasa sistem bahasa
mempunyai fungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi manusia didalam masyarakat,
sehingga di dalam tindak laku berbahasa haruslah disertai norma-norma yang berlaku di dalam
budaya itu. Sistem tindak laku berbahasa menurut norma-norma budaya disebut sebagai etika
berbahasa atau tata cara berbahasa (Inggris: linguistic etiquette, Geertz, 1973).

Etika berbahasa erat berkaitan dengan pemilihan kode bahasa, norma-norma sosial, dan
sitem budaya yang berlaku dalam satu masyarakat. Seseorang baru dapat dikatakan pandai
berbahasa apabila dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. Kajian mengenai etika
berbahasa ini lazim disebut etnografi berbahasa.

B. Pendahuluan

Ada berbagai teori mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Ada yang mengatakan bahasa
itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi ada pulayang mengatakan bahwa bahasa dan
kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat,

2
sehingga tidak dapat dipisahkan. Ada yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi
kebudayaan, sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa.
Sebaliknya, ada juga yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara
berpikir manusia atau masyarakat penuturnya.

Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie Agustina dalam
buku Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan
kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada di bawah lingkup
kebudayaan. Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan
mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya
sama tinggi.

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis
dan juga bersifat sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu.
Sistemis artinya bahasa tersebut bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri
dari sejumlah subsistem.

Sistem bahasa yang dimaksud di atas adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi
yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Setiap lambang bahasa mengandung sesuatu
yang disebut makna atau konsep. Bahasa sebagai sebuah lambang bunyi yang bersifat
manasuka (arbitrer), konvensional, produktif serta dinamis mempunyai banyak fungsi.
Menurut Dell Hymes (1964) ada lima fungsi bahasa, yaitu (1) menyesuaikan diri dengan
norma-norma sosial, (2) menyampaikan pengalaman tentang keindahan, kebaikan, keluhuran
budi, (3) mengatur kontak sosial, (4) mengatur perilaku, dan (5) mengungkapkan perasaan.

Secara khusus banyak ahli yang mengembangkan fungsi-fungsi bahasa sesuai dengan
sarana penggunaannya. Namun, pada dasarnya, bahasa dapat berfungsi sesuai dengan
keinginan sang penggunanya bila bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi dapat
menyampaikan maksud atau memberikan informasi bagi orang lain yang diajak
berkomunikasi. Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak model penggunaan bahasa yang
dilakukan oleh manusia, model bahasa yang digunakan tersebut tentunya akan memiliki fungsi
dan dampak yang berbeda-beda. Sejauh mana model bahasa tersebut akan berpengaruh
terhadap fungsi penggunaan bahasa dan hubungan bahasa dengan kebudayaan akan coba kita
bahas dalam bagian ini.

3
Banyak ahli dan peneliti sepakat bahwa bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan. Sebut saja di antaranya Suryadi (2009), dalam makalahnya Hubungan Antara
Bahasa dan Budaya, Ia menyebutkan bahwa bahasa adalah produk budaya pemakai bahasa.
Sebelumnya, pakar-pakar linguistik juga sudah sepakat antara bahasa dan budaya memiliki
kajian erat. Kajian yang sangat terkenal dalam hal ini adalah teori Sapir-Whorf. Kedua ahli ini
menyatakan, Jalan pikiran dan kebudayaan suatu masyarakat ditentukan atau dipengaruhi oleh
struktur bahasanya.

C. Kajian Teori

Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang
terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat
untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau
perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa
bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi (Chaer dan Leonie
Agustina, 2010: 11).

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola
secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap
lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap
lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat
disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang
berbunyi nasi melambangkan konsep atau makna sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai
makanan pokok.

Pengertian Bahasa menurut (Depdiknas, 2005: 3)Bahasa pada hakikatnya adalah ucapan
pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya.
Menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009: 126) bahasa merupakan struktur dan makna
yang bebas dari penggunanya, sebagai tanda yang menyimpulkan suatu tujuan. Sedangkan
bahasa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Hasan Alwi, 2002: 88) bahasa berarti sistem
lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua orang atau anggota masyarakat untuk
bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik,
tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik.

4
Setiap bahasa memiliki fungsi khusus. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai
fungsi khusus yang sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia. Fungsi itu adalah sebagai:

a. Alat untuk melaksanakan administrasi negara


b. Alat pemersatu berbagai suku
c. Wadah penampung kebudayaan

Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam
bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan
makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada
dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur
dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan
bersifat publik.

Adapun Gooddenough sebagaimana disebutkan Mudjia Rahardjo dalam bukunya Relung-


relung Bahasa mengatakan bahwa budaya suatu masyarakat adalah apa saja yang harus
diketahui dan dipercayai seseorang sehngga dia bisa bertindak sesuai dengan norma dan nilai
yang berlaku di dalam masyarakat, bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang harus
dicari dan perilaku harus dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan. Karena itu budaya
merupakan cara yang harus dimiliki seseorang untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam
hidupnya.

Dalam konsep ini kebudayaan dapat dimaknai sebagai fenomena material, sehingga
pemaknaan kebudayaan lebih banyak dicermati sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan
dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat. Karenanya tingkah laku
manusia sebagai anggota masyarakat akan terikat oleh kebudayaan yang terlihat wujudnya
dalam berbagai pranata yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku manusia.

Adapun Menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam
mengatakan kebudayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen
pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan atauran-atauran yang
memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain serta mengadakan
komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka.

5
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, yang terdiri dari berbagai budaya,
menjadikan perbedaan antar-kebudayaan, justru bermanfaat dalam mempertahankan dasar
identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. Pluralisme masyarakat dalam tatanan
sosial agama, dan suku bangsa telah ada sejak jaman nenek moyang, kebhinekaan budaya yang
dapat hidup berdampingan secara damai merupakan kekayaan yang tak ternilai dalam khasanah
budaya nasional.

D. Pembahasan

Banyak ahli dan peneliti sepakat bahwa bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan. Sebut saja di antaranya Suryadi, dosen Politeknik Medan, dalam makalahnya
Hubungan Antara Bahasa dan Budaya, yang disampaikan dalam seminar nasional “Budaya
Etnik III” di Universitas Sumatera Utara 25 April 2009 kemarin. Ia menyebutkan bahwa bahasa
adalah produk budaya pemakai bahasa. Sebelumnya, pakar-pakar linguistik juga sudah sepakat
antara bahasa dan budaya memiliki kajian erat. Kajian yang sangat terkenal dalam hal ini
adalah teori Sapir-Whorf. Kedua ahli ini menyatakan, “Jalan pikiran dan kebudayaan suatu
masyarakat ditentukan atau dipengaruhi oleh struktur bahasanya” (Chaer, 2003:61).

Sementara itu, Piaget, seorang sarjana Perancis, menyebutkan bahwa budaya (pikiran) akan
membentuk bahasa seseorang. Dari sinilah lahir teori pertumbuhan kognisi oleh Piaget. Sedikit
berbeda dengan itu, Vigotsky, sarjana Rusia, berbendapat bahwa perkembangan bahasa lebih
awal satu tahap sebelum berkembangnya pemikiran (budaya) yang kemudian keduanya
bertemu sehingga melahirkan pikiran berbasa dan bahasa berpikir. Noam Chomsky juga
sepakat bahwa kajian bahasa memiliki erat kaitan dengan budaya. Demikian halnya dengan
Eric Lenneberg yang memiliki kesamaan pandangan dengan teori kebahasaan yang
dikemukakan oleh Chomsky dan Piaget (Chaer, 2003:52-58).

Lantas, bagaimanakan hubungan dan keterkaitan antara bahasa dan budaya, inilah yang
akan kami coba ulas dalam tulisan singkat berikut ini, tentunya berdasarkan teori-teori yang
sudah ada dan mengaitkan sedikit dengan lokalitas keacehan sebagai tempat (daerah) masalah
ini kita diskusikan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa:

6
1. bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota
satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri;
2. bahasa merupakan percapakan (perkataan) yang baik.

Pendapat lainnya dikemukakan oleh Brown dan Yule (1983: 1) yang menyatakan bahwa
bahasa bukan hanya alat komunikasi. Lebih dari itu, kedua pakar linguistik ini menyebutkan
dalam penggunaannya bahasa (language in use) merupakan bagian dari pesan dalam
komunikasi. Dalam bahasa Brown dan Yule, hal ini disebut dengan istilah ‘transaksional’ dan
‘interpersonal’. Artinya, ada kebiasaan dan kebudayaan dalam menggunakan bahasa sebagai
media/alat berkomunikasi.

Budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat KBBI. Dengan
demikian, budaya dapat diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan dari pikiran atau pemikiran.
Maka tatkala ada ahli menyebutkan bahwa bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal-balik
dapat dipahami bahwa pikiran di sini dimaksudkan sebagai sebuah perwujudan kebudayaan.

Setelah para ahli sepakat menyataka bahwa bahasa adalah “alat” dalam berkomunikasi, sebagai
alat tentunya ada yang menggunakan alat tersebut sehingga ia dapat dimanfaatkan (sebagai
komunikasi). Dalam hal ini pengguna atau pemanfaat bahasa adalah manusia (terlepas kajian
ada tidaknya bahasa juga digunakan oleh hewan) yang selanjutnya disebut sebagai penutur.
Orang atau manusia yang mendengar atau yang menjadi lawan pentur disebut dengan “lawan
tutur” atau “pendengar” atau “lawan bicara”. Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur
inilah timbul beberapa perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing sehingga lahirlah
kebiasaan atau budaya. Budaya dan kebiasaan ini akan berbeda tergantung siapa dan di mana
bahasa atau pengguna bahasa itu berada.

E. Kesimpulan

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis
dan juga bersifat sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu.
Sistemis artinya bahasa tersebut bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri
dari sejumlah subsistem. Keanekaragaman bahasa tidak dapat dipisahkan dari keanekaragaman

7
budaya. Ditinjau dari segi budaya, bahasa termasuk aspek budaya, kekayaan bahasa merupakan
sesuatu yang menguntungkan. Berbagai bahasa itu akan merefleksikan kekayaan budaya yang
ada pada masyarakat pemakainya (multikultural). Hubungan antara bahasa dan kebudayaan itu
bersifat koordinaif atau subordinatif yang keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat
dan saling memengaruhi. Hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang
kedudukannya sama tinggi. Hubungan subordinatif berarti suatu bahasa berada di bawah
lingkup kebudayaan.

Di samping itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa bahasa dan kebudayaan dua
sistem yang melekat pada manusia. Kebudayaan itu adalah satu sistem yang mengatur interaksi
manusia di dalam masyarakat, sehingga kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai
saran. Sistem bahasa mempunyai fungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi manusia
didalam masyarakat, artinya tindak laku berbahasa haruslah disertai norma-norma yang
berlaku di dalam budaya itu. Sistem tindak laku berbahasa menurut norma-norma budaya
disebut sebagai etika berbahasa atau tata cara berbahasa. Etika berbahasa erat berkaitan dengan
pemilihan kode bahasa, norma-norma sosial, dan sitem budaya yang berlaku dalam satu
masyarakat.

8
Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik, Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta

Chomsky, Noam. 1957. Syntactic Structures. The Hague: Mouton