Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada mulanya, penginderaan jauh yang dikembangkan oleh para ahli adalah
penginderaan jauh fotografik yang menggunakan spektrum tampak. Sejalan dengan
perkembangan ilmu dan teknologi, tenaga elektromagnetik yang dapat digunakan untuk
penginderaan jauh meluas ke spektrum yang tidak tampak oleh mata, yaitu spektrum
inframerah. Sistem penginderaan jauh menggunakan tenaga gelombang mikro ini baru
dikembangkan sejak tahun 1950-an.
Penginderaan jauh dengan tenaga gelombang mikro merupakan sistem penginderaan jauh
yang bisa beroperasi pada siang maupun malam hari pada segala cuaca. Ini berbeda
dengan foto udara maupun citra inframerah termal yang keduanya tidak bisa dibuat pada
daerah yang banyak tertutup oleh awan. Walaupun begitu, sistem penginderaan jauh ini
memiliki kelemahan yaitu resolusi spasial yang rendah.
Karena kepekaan mata manusia sebesar spektrum tampak, maka penginderaan jauh yang
mula-mula dikembangkan orang adalah penginderaan jauh fotografik yang menggunakan
spektrum tampak. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, tenaga
elektromagnetik yang dapat digunakan untuk penginderaan jauh meluas ke spektrum
yang tidak tampak oleh mata, yaitu spektrum inframerah dekat hingga panjang 1,2 µm,
spektrum infrah termal hingga panjang gelombang 14 µm, dan spketrum gelombang
mikro yaitu panjang gelombang 1.000 µm atau 1 mm hingga 100 cm. Dari spektrum
gelombang mikro, yang lazim digunakan di dalam penginderaan jauh ialah dari panjang
gelombang 1 mm hingga 30 cm Bila diambil panjang gelombang rata-rata jendela
atmosfer pada tiap spektrum maka panjang gelombang yang digunakan di dalam
penginderaan jauh sistem gelombang mikro berlipat 150.000 kali terhadap panjang
gelombang spektrum inframerah termal, dan berlifat 2.700.000 kali terhadap panjang
gelombang spketrum tampak. Sistem penginderaan jauh yang menggunakan tenaga
gelombang mikro merupakan sistem baru disamping sistem penginderaan jauh yang
menggunakan tenaga termal. Meskipun demikian penelitian dan pengembangan radar
telah dimulai sekitar satu abad yang lalu.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa asas penginderaan jauh non fotografik sistem gelombang mikro dan sistem
radar?
2. Bagaimana cara kerja sensor?
3. Apa saja keunggulan dan keterbatasan citra gelombang mikro dan citra radar?
4. Bagaimana Interpretasi citra gelombang mikro dan citra radar?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja asas penginderaan jauh sistem gelombang mikro dan
sistem radar.
2. Untuk mengetahui bagaimana cara kerja sensor.
3. Untuk mengetahui apa saja keunggulan dan keterbatasan citra gelombang mikro dan
citra radar.
4. Untuk mengetahui bagaimana interpretasi citra gelombang mikro dan citra radar.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Asas Penginderaan Jauh Non Fotografik Sistem Gelombang Mikro dan Sistem
Radar
1. Sistem Gelombang Mikro
Baik asas penginderaan maupun sensornya, penginderaan jauh sistem gelombang
mikro serupa dengan penginderaan jauh sistem termal. Sensornya berupa radiometer dan
penyiam. Beda utamanya yaitu panjang gelombang yang digunakan didalam
penginderaan jauh.
Tenaga yang direkam oleh sensor gelombang mikro bukan hanya tenaga pancaran
gelombang mikro yang berasal dari objek, melainkan juga pancaran oleh gas di atmosfer,
pancaran oleh awan, pancaran dari bawah permukaan tanah, pancaran dari permukaan
objek yang diindera juga dipengaruhi oleh Sinar dari luar, sinar dari angkasa luar dan
Pancaran oleh atmosfer.
2. Sistem Radar
Karena penginderaan jauh sistem radar merupakan penginderaan jauh sistem
aktif, tenaga elektromagnetik yang digunakan didalam penginderaan dibangkitkan pada
sensor. Tenaga ini berupa pulsa bertenaga tinggi yang dipancarkan dalam waktu sangat
pendek yaitu sekitar 10-6 detik. Pancarannya ditujukan kerah tertentu. Bila pulsa radar
mengenai objek, pulsa itu dapat dipantulkan kembali ke sensor radar. Sensor ini
mengukur dan mencatat waktu dari saat pemncaran hingga kembali ke sensor, disamping
mengukur dan mencatat intensitas tengaga balik pulsa itu. Berdasarkan waktu perjalanan
pulsa radar dapat diperhitungkan jarak obyek, sedang berdasarkan intensitas tenaga
baliknya dapat ditaksir jenis obyeknya. Intensitas atau kekuatan pulsa radar yang diterima
kembali oleh sensor menentukan karakteristik spektral obyek pada citra radar. Di dalam
mengenali obyek, tentu saja diperlukan karakteristik spasial dan atau karakteristik
temporal seperti pada interpretasi citra lainnya.
Sensor radar dapat dipasang dipermukaan tanah, dipesawat terbang, maupun satelit.
Keluarannya ada dua jenis yaitu data non citra dan citra radar. Data non citra terdiri

3
sistem radar Doppler untuk mengukur kecepatan kendaraan (kapal, pesawat terbang,
satelit) dan radar "plan position indicator (PPI)". Sitem radar dopler menggunakan efek
Doppler yaitu perubahan frekuensi radiasi gelombang elektromagnetik yang disebabkan
oleh gerak ralatif antara sumber radiasi dan penerimanya. Perubahan frekuensi ini dapat
terjadi dalam bentuk perubahan nada bunyi klakson atau sirine ambulans yang sedang
melaju. Efek Doppler semacam ini disebut Efek Doppler Akustik. Nada bunyinya
berubah pada saat mobil mendekati atau menjauhi kita. Disamping itu juga ada efek
Doppler optik yang perubahannya bergantung atas kecepatan relatif sumber cahaya dan
pengamatnya, dan efek Doppler termal yang menyebabkan pelebaran garis-garis
spektralnya. Efek Doppler pada gelombang radar terjadi dalam bentuk perubahan
frekuensi sinyal yang dipancarkan oleh sensor dan yang dipantulkan kembali ke obyek.
Sistem radar yang membuahkan citra radar dikembangkan oleh kalangan militer pada
dasawarsa 1950an untuk merekam daerah lawan dari samping. Karena perekamnya ke
arah samping maka sistem radar ini disebut side looking radar (SLR). Untuk
memperjelas wahana yang digunakan maka sistem radar ini digunakan dengan makna
airbone radar (SLAR). Dua istilah ini digunakan dengan makna yang sama akan tetapi
istilah SLAR lebih banyak digunakan.
Asas pengenalan obyek pada citra SLAR ialah dengan menyidik karakteristik obyek yang
bersangkutan dengan menggunakan rona sebagai unsur interpretasi utamanya. Rona
tersebut tergantung pada intensitas tenaga gelombang mikro yang dipantulkan oleh
obyek. Intensitas atau tenaga pantulan ini pada dasarnya dipengaruhi oleh dua sifat utama
yaitu sifat obyek yang diindera dan sifat sistem radarnya. Masing-masing sifat ini
dipengaruhi oleh delapan faktor yaitu:
a) lereng (skala makro)
b) kekasaran permukaan (skala mikro)
c) complex dielectric constan
d) arah obyek
e) panjang gelombang yang digunakan untuk mengindera
f) sudut depresi antena
g) Polarisasi
h) Arah pengamatan antena.

4
B. Sensor dan cara kerjanya
Sensor adalah alat yang berfungsi sebagai penerima tenaga pantulan maupun pancaran
yang direkam oleh detector. Sensor sering juga disebut sebagai alat perekam.
Berdasarkan proses perekamannya, sensor dibedakan menjadi dua, yaitu sensor
fotografik dan sensor elektronik.
1. Sensor Fotografik
Sensor yang digunakan sistem fotografik adalah kamera. Cara kerja sensor ini
berdasarkan pantulan tenaga dari objek. Sedangkan detektornya adalah film sehingga
sensor fotografik menghasilkan foto. Sensor fotografik yang dipasang pada pesawat
udara menghasilkan citra yang disebut foto udara, sedangkan sensor fotografik yang
dipasang di satelit sering disebut citra satelit.
2. Sensor Elektronik
Sensor elektronik ini digunakan pada sistem pengindraan jauh nonfotografik
karena proses perekaman objek tidak berdasarkan pembakaran, tetapi berdasarkan
sinyal elektronik yang dipantulkan atau dipancarkan dan direkam oleh detektor.
Detektor untuk sensor ini adalah pita magnetik dan proses perekamannya didasarkan
pada energi yang dipantulkan atau dipancarkan. Sensor elektronik yang direkam pada
pita magnetik selanjutnya diproses menjadi data visual (citra) dan data digital dengan
menggunakan komputer.
Sensor Elektronik menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik. Alat
penerima dan perekamannya berupa pita magnetik. Sinyal elektrik yang direkam pada
pita magnetik kemudian diproses menjadi data visual maupun menjadi data digital
yang siap diolah. Pemrosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu sebagai berikut.
a) Dengan memotret data yang direkam dengan pita magnetik yang diwujudkan
secara visual pada layar monitor.
b) Dengan menggunakan film perekam khusus hasilnya berupa foto yang disebut
citra penginderaan jauh.
c) Kendaraan yang membawa sensor atau alat pemantau dinamakan wahana.
Berdasarkan ketinggian peredaran wahana, tempat pemantauan atau pemotretan

5
dari angkasa ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok wahana, yaitu
sebagai berikut:
1) Pesawat terbang rendah sampai medium dengan ketinggian antara 1.000 meter
sampai 9.000 meter dari permukaan Bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra
foto (foto udara).
2) Pesawat terbang tinggi dengan ketinggian sekitar 18.000 meter dari
permukaan Bumi. Citra yang dihasilkan ialah foto udara dan Multispectral
Scanner Data.
3) Satelit dengan ketinggian antara 400 km sampai 900 km dari permukaan
bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra satelit.

C. Keunggulan dan keterbatasan citra gelombang mikro dan citra radar


Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dapat dibuat dengan
spektrum gelombang mikro. Penginderaan jauh yang menggunakan tenaga
elektromagnetik pada gelombang mikro dapat dibedakan menjadi dua sistem, yaitu:
sistem pasif (menggunakan gelombang mikroalamiah/gelombang mikro), dan sistem aktif
(dibangkitkan pada sensor/disebut sistem radar).
1. Keunggulan citra gelombang mikro
Keunggulan citra ini antara lain dapat beroperasi pada siang dan malam hari dan
dapat menembus awan bahkan hujan bagi saluran bergelombang panjang. Hal ini
penting bagi daerah yang selalu tertutup awan seperti berberapa daerah Sumatera,
Kalimantan dan Papua. Disampaing itu juga penting bagi daerah lintang tinggi pada
musim dingin dimana malam jauh lebih panjang dari siang hari.
2. Keunggulan citra radar
Ada lima keunggulan penginderaan jauh sistem radar yaitu:
a) kemampuan segala cuaca
b) kemampuan untuk beroperasi pada malam hari
c) liputan ke samping yang panjang
d) penajaman perwujudan geologi
e) distorsi geometric yang kecil

6
3. Keterbatasan citra radar
sistem SLAR antara lain berupa ketersediaan citra SLAR yang belum sebanyak
ketersediaan citra lainnya. Dari citra yang ada juga belum banyak diketahui serta
dimanfaatkan, di samping itu juga harganya yang relative mahal dari pengadaan citra
lainnya.

D. Interpretasi citra gelombang mikro dan citra radar dengan contohnya


1. Citra radar

7
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data
dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan
kontak dengan objek tersebut. System penginderaan jauh yang menggunakan tenaga
gelombang mikro merupakan system baru disamping system penginderaan jauh yang
menggunakan tenaga termal.
Radar bekerja dengan menggunakan gelombang radio yang dipantukan dari permukaan
objek.Radar menghasilkan sinyal energi elektromagnetik yang difokuskan oleh antenna
dan ditransmisikan ke atmosfer. Benda yang berada dalam alur sinyal elektromagnetik ini
yang disebut objek, menyebarkan energi elektromagnetik tersebut. Sebagian dari energi
elektromagnetik tersebut disebarkan kembali ke arah radar. Antena penerima yang
biasanya juga antenna pemancar menangkap sebaran balik tersebut dan memasukkannya
ke alat yang disebut receiver. Sedangkan alat pendeteksi konvensional, radar atau
kepanjangannya Radio Detection and Ranging, menggunakan gelombang radio untuk
pendeteksian. Jika gelombang yang dipancarkan mengenai benda (dalam hal ini adalah
pesawat) akan berbalik arah, dan waktu yang diperlukan untuk kembali lewat alat
penerima dapat mengetahui informasi jarak, kecepatan, arah, dan ketinggian.

2. Saran
Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi pokok
pembahasan dalam makalah ini. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam tugas ini
terdapat kekurangan-kekurangan, karena terbatasnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi para
pembaca. Kami juga sangat mengharapkan kritikan dan saran bagi para pembaca agar
makalah ini dapat sempurna dengan baik.