Anda di halaman 1dari 11

TREND ISU MORAL KEPERAWATAN

Dosen Pembimbing:
Dwi Utari Widyastuti, SST, M.Kes

Disusun Oleh:
1. Meilda Ika Sari (P27820117034)
2. Dewi Novita Sari (P27820117036)
3. Amar’atus Laura (P27820117037)
4. Savira Fiawwalin N (P27820117038)
5. Nisaaul Mufidah (P27820117039)
6. Anisa Febra A (P27820117040)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SOETOMO


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KONSEP MORAL

A. Definisi Konsep Moral


Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores
yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan
baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan
untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai
dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak
patut.
Moral dalam istilah dipahami juga sebagai :
1) Prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
2) Kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah.
3) Ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik.

B. Nilai-Nilai Esensial Dalam Profesi


Pada tahun 1985, “The American Association Colleges of Nursing”
melaksanakansuatu proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi nilai-nilai
esensial dalam praktek keperawatan profesional. Nilai-Nilai esensial ini sangat
bekaitan dengan moral keperawatan dalam praktiknya. Perkumpulan ini
mengidentifikasikan 7 nilai-nilai esensial dalam kehidupan profesional, yaitu:
1. Aesthetics (keindahan)
Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang memberikan kepuasan
termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas dan kepedulian.
Contoh : seorang perawat yang telah selesai melaksanakan tindakan keperawatan
personal hygiene (memandikan) yang kemudian memberikan reinforchment
positif kepada kliennya, sehingga meningkatkan harga diri klien tersebut dan klien
tersebut merasa dirinya teraktualisasi.
2. Altruisme (mengutamakan orang lain):
Kesediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan,
komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati serta ketekunan. Pada
nilai ini sikap perawat yang lebih mengutamakan orang lain, daripada
keperluannya sendiri yaitu lebih mengutamakan kewajibannya daripada hak.
3. Equality (kesetaraan)
Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan dengan sikap asertif,
kejujuran, harga diri dan toleransi.
Contoh: Bapak Anu merupakan salah satu masyarakat yang tergolong masyarakat
miskin, sedangkan suster Hani perawat bapak Anu merupakan masyarakat yang
tergolong dalam masyarakat menengah keatas. Namun dalam pemberian
pelayanan kesehatan suster hani memberikan pelayanan yang terbaik bagi
kliennya tanpa melihat status golongan dari kliennya.
4. Freedom (Kebebasan)
Memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk percaya diri, harapan,
disiplin serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri. Disini seorang perawat
bebas untuk berbuat atau bertindak namun tetap harus sesuai dengan etika dan
moral keperawatan.
5. Human dignity (Martabat manusia)
Berhubungan dengan penghargaan yang lekat terhadap martabat manusia sebagai
individu termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan, pertimbangan dan
penghargaan penuh terhadap kepercayaan.
Contoh: seorang perawat merasa sangat senang apabila pasiennya memutuskan
untuk berhenti merokok serta mengurangi kegiatan bisnisnya, karena dia mulai
menyadari dan sangat menghargai kesehatannya.
6. Justice (Keadilan)
Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal termasuk objektifitas,
moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.
Contoh : seorang perawat yang adil dalam memberikan pelayanan tanpa
memandang status ekonomi kliennnya, dan selalu memberikan pelayanan yang
terbaik pada semua pasien.
7. Truth (Kebenaran)
Menerima kenyataan dan realita, termasuk akontabilitas, kejujuran, keunikan dan
reflektifitas yang rasional. Perawat yang jujur dalam memberikan tindakan, dan
dalam memberikan informasi yang riil dalam pekembangan kesehatan klien,
termasuk jujur dalam pemberian obat, agar kepercayaan klien meningkat dan juga
untuk menghindari kasus mall praktik.

C. Perilaku Etis Profesional


Perawat memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang
berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan
profesional. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat,
dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau teman.
Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat mencoba dan mencontoh
perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah
etika. Dalam hal ini, perawat seringkali menggunakan dua pendekatan yaitu:
pendekatan berdasarkan prinsip dan pendekatan berdasarkan asuhan keperawatan.
1. Pendekatan Berdasarkan Prinsip
Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam etika biomedik untuk
menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994)
menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain;
a) Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap
kapasitas otonomi setiap orang.
b) Menghindarkan berbuat suatu kesalahan.
c) Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan
segala konsekuensinya.
d) Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi.
2. Pendekatan Berdasarkan Asuhan
Hubungan perawat dengan pasien merupakan pusat pendekatan berdasarkan
asuhan, dimana memberikan langsung perhatian khusus kepada pasien,
sebagaimana dilakukan sepanjang kehidupannya sebagai perawat. Perspektif
asuhan memberikan arah dengan cara bagaimana perawat dapat membagi waktu
untuk dapat duduk bersama dengan pasen atau sejawat, merupakan suatu
kewajaran yang dapat membahagiakan bila diterapkan berdasarkan etika.
Karakteristik perspektif dari asuhan meliputi :
a) Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan.
b) Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau
pasen sebagai manusia.
c) Mau mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain sebagai dasar
yang mengarah pada tanggung-jawab professional.
d) Mengingat kembali arti tanggung-jawab moral yang meliputi kebajikan seperti:
kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasih-sayang, dan menerima kenyataan.
(Taylor,1993).

D. Konsep Moral Dalam Praktik Keperawatan


Praktik keperawatan, termasuk etika keperawatan mempunyai dasar penting,
seperti advokasi, akuntabilitas, loyalitas, kepedulian, rasa haru, dan menghormati
martabat manusia. Diantara berbagai pernyataan ini, yang lazim termaktub dalam
standar praktik keperawatan dan telah menjadi bahan kajian dalam waktu lama
adalah advokasi, responsibilitas dan akuntabilitas, dan loyalitas (fry, 1991)
1. Advokasi
Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung
hak-hak pasien. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat,
dalam menemukan kepastian tentang dua sistem pendekatan etika yang dilakukan
yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan asuhan. Perawat atau yang memiliki
komitmen tinggi dalam mempraktekkan keperawatan profesional dan tradisi
tersebut perlu mengingat hal-hal sbb:
a) Pastikan bahwa loyalitas staf atau kolega agar tetap memegang teguh komitmen
utamanya terhadap pasen.
b) Berikan prioritas utama terhadap pasen dan masyarakat pada umumnya.
c) Kepedulian mengevaluasi terhadap kemungkinan adanya klaim otonomi dalam
kesembuhan pasien.
Istilah advokasi sering digunakan dalam hukum yang berkaitan dengan upaya
melindungi hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri. Arti
advokasi menurut ANA (1985) adalah “melindungi klien atau masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak
kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapa pun”.
Fry (1987) mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal
yang memiliki penyebab atau dampak penting. Definisi ini mirip dengan yang
dinyatakan Gadow (1983) bahwa “advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal
keperawatan yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara
bebas menentukan nasibnya sendiri”.
Posisi perawat yang mempunyai jam kerja 8 sampai 10 atau 12 jam
memungkinkannya mempunyai banyak waktu untuk mengadakan hubungan baik
dan mengetahui keunikan klien sebagai manusia holistik sehingga berposisi
sebagai advokat klien (curtin, 1986). Pada dasarnya, peran perawat sebagai
advokat klien adalah memberi informasi dan memberi bantuan kepada klien atas
keputusan apa pun yang di buat kilen, memberi informasi berarti menyediakan
informasi atau penjelasan sesuai yang dibutuhkan klien, memberi bantuan
mengandung dua peran, yaitu peran aksi dan peran nonaksi. Dalam menjalankan
peran aksi, perawat memberikan keyakinan kepada klien bahwa mereka
mempunyai hak dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan atau keputusan
sendiri dan tidak tertekan dengan pengaruh orang lain, sedangkan peran nonaksi
mengandungarti pihak advokat seharusnya menahan diri untuk tidak
memengaruhi keputusan klien (Khonke, 1982). Dalam menjalankan peran sebagai
advokat, perawat harus menghargai klien sebagai induvidu yangmemiliki berbagai
karakteristik. Dalam hal ini, perawat memberikan perlindungan terhadap martabat
dan nilai manusiawi klien selama dalam keadaan sakit.
Contoh : Tuan A mengalami luka bakar. Dokter X yang merupakan mahasiswa
kedokteran masih belum lulus ujian tekhnik amputasi, jadi agar lulus ujian
tersebut Dokter X berinisiatif mengamputasi Tuan A, padahal luka bakar yang
dialami Tuan A tersebut tidak parah dan sangat mempunyai kemungkinan besar
untuk sembuh. Tentu saja perawat yang bertugas merawat tuan a tidak tinggal
diam dan langsung menegur dokter tersebut bahkan terjadi perdebatan antar
keduanya. Berkat perjuangan perawat tersebut Tuan A tidak diamputasi
2. Responsibilitas
Resposibilitas (tanggung jawab) adalah eksekusi terhadap tugas-tugas yang
berhubungan dengan peran tertentu dari perawat. Pada saat memberikan obat,
perawat bertanggung jawab untuk mengkaji kebutuhan klien dengan
memberikannya dengan aman dan benar, dan mengevaluasi respons klien
terhadap obat tersebut. Perawat yang selalu bertanggung jawab dalam melakukan
tindakannya akan mendapatkan kepercayaan dari klien atau dari profesi lainnya.
Perawat yang bertanggung jawab akan tetap kompeten dalam pengetahuan dan
keterampilannya, serta selalu menunjukkan keinginan untuk bekerja berdasarkan
kode etik profesinya.
Contoh : Memberikan teguran bila rekan sejawat melakukan kesalahan atau
menyalahi standar. Perawat bertanggung jawab bila perawat lain merokok di
ruangan, memalsukan obat, mengambil barang klien yang bukan haknya,
memalsukan tanda tangan, memungut uang diluar prosedur resmi, melakukan
tindakan keperawatan di luar standar, misalnya memasang NGT tanpa menjaga
sterilitas.
3. Akuntabilitas
Akuntabilitas (tanggung gugat) dapat menjawab segala hal yang berhubungan
dengan tindakan seseorang. Perawat jawab terhadap dirinya sendiri, klien, profesi,
sesama karyawan, dan masyarakat.
Akuntabilitas merupakan konsep yang sangat penting dalam praktik keperawatan.
Akuntabilitas mengandung arti dapat mempertanggungjawabkan suatu tindakan
yang dilakukan, dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier,
Erb, 1991). Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua
komponen utama, yaitu tanggung jawab dan tanggung gugat. Ini berarti bahwa
tindakan yang dilakukan dapat dilihat dari praktik keperawatan, kode etik dan
undang-undang dapat dibenarkan atau absah. Akuntabilitas dapat dipandang
dalam suatu kerangka sistem hierarki, dimulai dari tingkat induvidu, tingkat
institusi, dan tingkat sosial (Sullivan, Decker, 1988).
Contoh : Injeksi ditentukan berdasarkan insturksi dan kolaborasi dengan dokter,
perawat membuat daftar biaya dari tindakan dan pengobatan yang diberikan yang
harus dibayarkan ke pihak rumah sakit. Dalam contoh tersebut perawat memiliki
tanggung gugat terhadap klien, dokter, RS dan profesinya.
4. Loyalitas
Loyalitas merupakan suatu konsep yang melewati simpati, peduli, dan hubungan
timbal balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat.
Hubungan profesional dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama,
menepati janji, menentukan masalah dan prioritas, serta mengupayakan
pencapaian kepuasan bersama (Jameton, 1984, Fry, 1991). Untuk mencapai
kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak
yang harmonis, loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik loyalitas
kepada klien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi.
CONTOH KASUS MORAL KEPERAWATAN

Sebuah video tangisan pasien perempuan yang merasa dilecehkan oleh seorang
perawat pria menjadi viral di media sosial. Pasien di salah satu rumah sakit
Surabaya itu berinisial W nampak bercucuran air mata dengan kondisi tangan
masih diinfus menuding salah seorang perawat berinisial J telah melecehkannya.

Pelecehan itu terjadi saat W dipindahkan dari ruang operasi kandungan ke ruang
operasi pemulihan. Ia mengaku bagian dadanya disentuh. Pada video nampak
seorang pria yang diduga J mengulurkan tangan tanda meminta maaf kepada
korban W.

Harif Fadhillah Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)


mengatakan pelecehan terhadap pasien merupakan pelanggaran kode etik berat.
Sanksinya bisa berupa pemecatan sebagai anggota PPNI, rekomendasi pencabutan
izin si perawat ke pemerintah daerah, dan menyerahkan ke aparat penegak hukum.

Harif mengakui sudah menonton video yang menjadi viral itu. Dalam kasus
seperti ini biasanya Majelis Kehormatan Etika PPNI akan meminta keterangan
kepada terduga pelaku apakah benar-benar melakukan pelanggaran etik atau tidak.
Ia mengatakan meski pelaku sudah mengakui perbuatannya namun PPNI tetap
akan pemeriksaan etik. Pemeriksaan ini untuk memastikan sanksi bagi pelaku.

Pelecehan terhadap pasien oleh perawat bukan baru kali ini terjadi. Penelusuran
Tirto mendapati kasus ini juga pernah terjadi di Rumah Sakit Tenriawaru Bone
pada 2016. Korban berinisial NT (17 tahun) melapor ke Polres Bone karena
merasa dicabuli perawat berinisial AF. Korban ada yang menyentuh pada bagian
dada. Namun, pelaku berdalih ada luka di bagian dada pasien.

Juli 2017 seorang pasien perempuan berinisial F (21 tahun) merasa dilecehkan
oknum petugas medis di RSUD Curup Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. F
menuturkan pelecehan terjadi setelah ia disuntik petugas medis usai menjalani
operasi melahirkan. Si petugas itu mulai mencoba menyentuh bagian dada F.
Merasa ada yang tidak beres F kemudian berlari keluar ruangan dan terjatuh
sehingga pingsan. Peristiwa kemudian dilaporkan suami F ke Mapolres Rejang
Lebong. Namun, kasus ini berujung damai.

SOLUSI

Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual
terhadap pasien.

Pertama, rumah sakit perlu membuat sistem yang komprehensif untuk


memastikan pasien tidak sendirian jelang atau usai dianestesi (pembiusan). Sebab
dalam kondisi dibius, seorang pasien tidak berdaya melakukan apa pun. "Harus
ada sistem yang memungkinkan tidak hanya seorang di sana," katanya.

Kedua, rumah sakit harus menjadikan pertimbangan moral dan pembinaan etika
sebelum memperkerjakan pekerja medis baik dokter maupun perawat. Ini penting
karena setiap pasien telah mempercayakan nasibnya kepada dokter atau perawat
untuk diambil tindakan medis. Jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan.

Ketiga, pasien berhak ditemani orang yang memiliki ikatan keluarga langsung
dengannya. Seperti misalnya orang tua menemani anaknya, suami menemani
istrinya. Menurut Harif pasien juga berhak memilih, menolak, dan menyetujui
sebuah tindakan medis. Mereka juga berhak memilih dokter atau tenaga kesehatan
yang akan melayaninya.

Keempat, Harif meminta para korban para korban berani bersuara apabila
mendapati tindakan pelecehan. Sebab selama ini meski dirinya pernah mendengar
kasus-kasus pelecehan perawat terhadap pasien, namun PPNI jarang menerima
laporan
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Jay. 2018. Bagaimana Agar Kasus Pelecehan Pasien oleh Perawat Tak
Terulang?. Dapat diakses di: https://tirto.id/bagaimana-agar-kasus-
pelecehan-pasien-oleh-perawat-tak-terulang-cDMM (Senin, 3 Desember
2018 20.39 WIB)

Priharjo, Robert. 1995. Pengantar Etika Keperawatan. Yogyakarta: Penerbit


Kanisisus.