Anda di halaman 1dari 6

TUGAS CASE REPORT

BLOK ELEKTIF

Interprofesionalisme Dokter dan Perawat dalam


Palliative Home Care pada Pasien Stadium Terminal

Disusun Oleh :
Niken Audi Lestari
1102011194

Kelompok 2 Palliative Care

Dosen Pengampu: dr. Riyani Wikaningrum, DMM, MSc

Dosen Tutor : dr. Zwasta Pribadi Mahardika, M.MEd

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2014 / 2015
ABSTRAK
Pendahuluan : Perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif yang dilakukan untuk
meringankan beban pasien, terutama pasien yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Tindakan
aktif yang dimaksud antara lain menghilangkan nyeri dan keluhan lain, serta mengupayakan
perbaikan dalam aspek psikologis, sosial dan spiritual. Anggota tim kesehatan yang akan
memberikan perawatan paliatif terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, terapist,
petugas sosial medis, ahli gizi, psikolog, rohaniawan, keluarga atau care giver, dan relawan.
Dari anggota tim tersebut, akan terjadi kolaborasi dua atau lebih ahli perawatan dari berbagai
disiplin ilmu yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dan mutu pelayanan kesehatan
sehingga pelayanan bisa lebih efisien, efektif, dan berpusat pada pasien.

Deskripsi kasus : Tuan N berusia 70 tahun menderita Ca Lambung dengan metastasis hepar.
Keadaan umum pasien lemah, batuk disertai sesak, tidak bisa makan dan tidak bisa buang air
kecil. Pasien memiliki riwayat penyakit diabetes dan asma. Terpasang drainase pada perut
pasien untuk mengeluarkan cairan asites. Pasien telah melakukan delapan kali kemoterapi di
salah satu rumah sakit di Singapura. Keluarga memutuskan untuk mengikuti perawatan
paliatif di rumah karena pasien mengeluh tidak ingin dirawat di rumah sakit.

Diskusi dan Simpulan : Kerjasama antara dokter dan perawat sangat diperlukan dalam
palliative home care. Bukan hanya dalam segi pelayanan medis, namun juga dalam hal
pemberian edukasi kepada keluarga pasien. Edukasi yang mudah dipahami dapat sangat
berpengaruh pada kualitas hidup pasien.

Key word : Interprofessional, palliative care, home care, doctor, nurse.

PENDAHULUAN
Perawatan paliatif (Palliative Care) adalah suatu pendekatan yang bertujuan
memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarganya dalam menghadapi penyakit yang dapat
mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian
yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual
(WHO, 2002).
Dengan kata lain, perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif yang dilakukan
untuk meringankan beban pasien, terutama pasien yang tidak mungkin disembuhkan lagi.
Tindakan aktif yang dimaksud antara lain menghilangkan nyeri dan keluhan lain, serta
mengupayakan perbaikan dalam aspek psikologis, sosial dan spiritual. Perawatan paliatif
tidak hanya diberikan bagi penderita menjelang akhir hayatnya, namun sudah dimulai segera
setelah diagnosa ditegakkan dan dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan kuratif.
Prinsip perawatan paliatif antara lain meningkatkan kualitas hidup dan menganggap
kematian adalah proses yang wajar, tidak mempercepat atau menunda kematian,
menghilangkan nyeri atau keluhan lain, menjaga keseimbangan aspek
biopsikhososiospiritual, mengusahakan agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya, dan
membantu mengatasi masa duka cita dalam keluarga. Prinsip-prinsip tersebut akan dijalankan
oleh anggota tim kesehatan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, terapist,
petugas sosial medis, ahli gizi, psikolog, rohaniawan, keluarga atau care giver, dan relawan.
Dari beberapa anggota tim, akan terjadi kolaborasi dua atau lebih ahli perawatan dari
berbagai disiplin ilmu yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dan mutu pelayanan
kesehatan sehingga pelayanan bisa lebih efisien, efektif, dan berpusat pada pasien. Kolaborasi
tersebut disebut juga sebagai interprofesionalisme.

2
Perawatan paliatif dapat dilakukan di rumah sakit (hospice hospital care) atau di
rumah (home care). Home care adalah pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan di
rumah pasien, oleh tenaga paliatif dan atau keluarga atas bimbingan/ pengawasan tenaga
paliatif. Hospice adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal yang tidak
dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus dilakukan di rumah
sakit. Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah sakit, tetapi dapat memberikan
pelayaan untuk mengendalikan gejala-gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah
pasien sendiri (KEPMENKES RI NO. 812, 2007).

DESKRIPSI KASUS
Tuan N berusia 70 tahun dibawa oleh keluarganya ke salah satu rumah sakit di daerah
Sunter dengan keluhan utama muntah disertai darah. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter
memberikan resep dan menyarankan pasien untuk sering minum susu. Setelah satu bulan,
keadaan pasien tidak kunjung membaik. Keluarga membawa pasien ke dokter umum yang
lain. Dokter ini menyarankan untuk melakukan CT-scan. Dari hasil pencitraan didapatkan
bahwa Tuan A menderita Ca Lambung dengan metastasis hepar. Mendengar hal tersebut,
keluarga memutuskan untuk membawa pasien berobat ke Singapura.
Setelah menjalani delapan kali kemoterapi selama satu tahun terakhir, pasien
menghentikan kemoterapi karena sudah tidak sanggup lagi merasakan efek samping dari
tindakan tersebut. Dokter pun mengatakan bahwa kondisi pasien sudah tidak bisa diberi
kemoterapi lagi. Keluarga memutuskan untuk membawa pulang pasien ke Indonesia dan
dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah. Karena pasien selalu mengeluh ingin pulang ke
rumah, keluarga akhirnya memilih untuk mengikuti home care dari perawatan paliatif
(palliative care).
Pada kunjungan pertama home care, keadaan umum pasien lemah, batuk disertai
sesak, tidak bisa makan dan tidak bisa buang air kecil. Pasien memiliki riwayat penyakit
diabetes dan asma. Terpasang pula drainase pada perut pasien untuk mengeluarkan cairan
asites. Dokter paliatif memasangkan infus cairan melalui subkutan untuk mengatasi dehidrasi
dan meminta keluarga untuk memperhatikan apabila cairan infus habis. Dokter memberikan
edukasi kepada keluarga bagaimana cara merawat pasien di rumah. Namun, keluarga
menginginkan seorang perawat untuk membantu merawat pasien. Perawat akan mengajarkan
kepada keluarga bagaimana cara pemakaian nebulizer untuk mengatasi sesak dan batuk
maupun cara membersihkan jamur dalam mulut pasien. Dokter pun menjelaskan jenis-jenis
makanan atau minuman cair yang boleh diberikan kepada pasien dan meminta sesekali
mengatur posisi tidur agar pasien menjadi lebih nyaman. Dokter berharap keluarga bisa
merawat pasien dengan baik sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup pasien.

DISKUSI
Pelayanan home care menyediakan berbagai jenis layanan perawatan di rumah pasien.
Tujuan primer dari pelayanan home care sebenarnya adalah promosi kesehatan dan edukasi,
tetapi saat ini sebagian pasien juga melakukan pelayanan kesehatan di rumah karena adanya
kebutuhan perawatan dan atau layanan medis. Fokus pelayanan ini adalah kemandirian pasien
dan keluarganya.
Pemberian Home Care harus berada di bawah perawatan dokter. Dokter harus sudah
menyetujui rencana perawatan sebelum perawatan diberikan kepada pasien. Rencana perawatan
meliputi diagnosa, status mental, tipe pelayanan dan peralatan yang dibutuhkan, frekuensi
kunjungan, prognosis, kemungkinan untuk rehabilitasi, pembatasan fungsional, aktivitas yang
diperbolehkan, kebutuhan nutrisi, pengobatan, dan perawatan. Bila diperlukan dilakukan
kolaborasi dengan perawat, dimana perawat yang melakukan kunjungan rumah harus mendapat
3
izin dan keterangan dari dokter yang bersangkutan sebagai penanggung jawab terapi program.
Dalam perawatan kesehatan di rumah, perawat akan melakukan kunjungan rumah (home visite)
dan melakukan catatan perubahan dan evaluasi terhadap perkembangan kesehatan pasien. Peran
perawat dalam perawatan kesehatan rumah berupa (1) koordinasi dan pemberi asuhan
keperawatan, (2) pemberi pelayanan kesehatan dimana perawat memberikan perawatan langsung
kepada pasien dan keluarganya, (3) perawat sebagai pendidik dimana perawat mengadakan
penyuluhan kesehatan dan mengajarkan cara perawatan secara mandiri, (4) pengelola, perawat
mengelola pelayanan kesehatan/keperawatan pasien, (5) sebagai konselor, dengan memberikan
konseling/bimbingan kepada pasien dan keluarga berkaitan dengan masalah kesehatan pasien, (6)
advocate (pembela pasien) yang melindungi dalam pelayanan keperawatan, dan (7) sebagai
peneliti untuk mengembangkan pelayanan keperawatan. Pada keadaan dan kebutuhan tertentu,
perawat dapat koordinasi/kolaborasi dengan dokter untuk tindakan diluar kewenangan perawat,
berupa pengobatan dan tindak lanjut perawatan klien ataupun melakukan rujukan kepada profesi
lain (Eva, 2008).
Bidang keperawatan dalam home care, mencakup fungsi langsung dan tidak langsung.
Direct care yaitu aspek fisik aktual dari perawatan, semua yang membutuhkan kontak fisik dan
interaksi face to face. Aktivitas yang termasuk dalam direct care mencakup pengukuran tanda
vital, pemasangan atau penggantian selang lambung (nasogastric tube), perawatan luka
dekubitus, pemasangan dan penggantian kateter, penghisapan lendir atau mukus,dan
pengambilan preparat (darah, urine, feses, dan lainnya) dalam rangka pemeriksaan laboratorium
(Ferry, 2009). Direct care juga mencakup tindakan mengajarkan pada pasien dan keluarga
bagaimana menjalankan suatu prosedur dengan benar. Indirect care terjadi ketika pasien tidak
perlu mengadakan interaksi langsung dengan perawat. Tipe perawatan ini terlihat saat perawat
home care berperan sebagai konsultan untuk personil kesehatan yang lain atau bahkan pada
penyedia perawatan di rumah sakit.
Dalam pelaksanaan Home Care pelaksana perawatan mengunjungi rumah pasien
secara berkala sesuai jadwal perawatan untuk melaksanakan perawatan dan tindakan medis
berdasarkan jadwal perawatan. Kemudian pelaksana home care melaporkan kondisi klinis
setiap pasien dan keluhan serta tindakan medis yang sudah dilakukan, meliputi : kondisi
umum terkini setiap pasien, hasil laboratorium dan obat atau tindakan medis yang telah
diberikan dan respon hasil pengobatan. Lalu dokter memonitor pelaksanaan home care yang
dilakukan oleh pelaksana perawatan melalui sarana komunikasi untuk menilai hasil perawat
dan menetukan langkah selanjutnya. Selanjutnya dokter dan tim home care mendiskusikan
setiap kasus selama masa home care dan pasca home care untuk evaluasi dan perbaikan
kualitas perawatan.
Jika diperhatikan dalam kasus diatas, pasien berstatus sebagai pasien baru dalam
perawatan paliatif. Keuntungannya, kami dapat memperhatikan langkah-langkah awal yang
dilakukan dokter dan perawat kepada pasien. Pada saat kunjungan pertama, dokter menggali
informasi sebanyak-banyaknya tentang riwayat perawatan pasien sebelum dirujuk ke perawatan
paliatif. Pada saat yang sama perawat dengan sigap memberikan perawatan kepada pasien.
Perawatan yang dilakukan perawat tentu saja telah mendapatkan persetujuan dari dokter dan
biasanya dokter dan perawat sudah merencanakan perawatan yang akan diberikan jauh sebelum
kujungan dilakukan. Perawatan yang dilakukan berupa mengukur tanda vital sampai dengan
mengganti perban penutup drainase pada perut pasien. Melihat hal itu, kita dapat melihat
kerjasama antara dokter dan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Layanan home care juga merapkan konsep edukasi atau pemberdayaan anggota
keluarga pasien. Jadi, diharapkan agar ada anggota keluarga yang mau dilatih untuk
melakukan perawatan bagi pasien di rumah. Diharapkan pula anggota keluarga yang telah
dilatih akan mampu dan telah trampil untuk meneruskan perawatan bagi pasien sehingga
tidak harus terus-menerus menyewa perawat home care yang dipastikan akan membutuhkan
biaya yang banyak.
4
Dalam kasus diatas, dokter memberikan edukasi kepada keluarga bagaimana cara
merawat pasien di rumah. Dokter menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan untuk
mengurangi keluhan pasien. Dengan persetujuan dokter, perawat akan mendemonstrasikan
hal-hal yang perlu diajarkan kepada keluarga pasien. Seperti dalam kasus, keluhan utama
pasien adalah sesak dan batuk. Dokter menyarankan untuk menggunakan nebulizer berisi
ventolin dan bisolvon dikarenakan pasien tidak bisa menelan obat secara langsung. Saat itu,
penggunaan nebulizer dilakukan oleh perawat. Namun dokter meminta perawat untuk
mengajarkan penggunaan nebilizer kepada anggota keluarga pasien.
Edukasi home care ini sangat penting dilakukan kepada keluarga pasien. Apabila
keluarga bisa menerima dengan baik apa yang diajarkan oleh perawat dan dokter, hal itu bisa
membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, terdapat kendala yang sering terjadi,
seperti anggota keluarga yang kurang memahami prosedur perawatan yang telah diajarkan
dan biasanya tidak mau bertanya kembali kepada dokter atau perawat. Disinilah tugas dokter
dan perawat untuk memastikan apakah anggota keluarga sudah bisa melakukannya sendiri.
Hal itu bisa dilakukan dengan cara anggota keluarga mempraktekkan ulang apa yang telah
diajarkan oleh dokter atau perawat. Lalu kendala yang lain adalah apa yang dilakukan
keluarga tidak sejalan dengan keinginan pasien. Keluarga sudah paham dengan apa yang
harus dilakukan pada pasien, dan ketika kondisi pasien sudah sulit berkomunikasi, pasien
tidak bisa memberikan respon yang spesifik sehingga keluarga tidak mengetahui apa yang
diinginkan pasien. Dan ini cenderung membuat kondisi pasien semakin memburuk. Untuk
itu, koordinasi antara dokter dan perawat dalam pemberian edukasi ini sangat berperan
penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien di rumah.
Di dalam agama islam, konsep kerjasama antar manusia juga sangat ditekankan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk saling berta’awun (bekerjasama) di dalam
kebajikan dan ketakwaan, dan melarang dari saling berta’awun di dalam perbuatan dosa dan
permusuhan. Allah SWT berfirman :

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [al-Ma’idah : 2]
Inti dari konsep home care yaitu memberikan edukasi kepada keluarga pasien agar
tidak bergantung sepenuhnya pada perawat home care, juga edukasi yang diberikan kepada
keluarga secara khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup, pola nutrisi, atau berbagai hal
lain terkait dengan masalah kesehatan pasien. Dengan demikian home care memberikan andil
yang lebih dalam memberikan solusi atas terciptanya pelayanan kesehatan yang efektif,
efisien dan tanpa mengeluarkan biaya.

SIMPULAN
Kerjasama antara dokter dan perawat sangat diperlukan dalam palliative home care.
Bukan hanya dalam segi pelayanan medis, namun juga dalam hal pemberian edukasi kepada
keluarga pasien. Edukasi yang mudah dipahami dapat sangat berpengaruh pada kualitas hidup
pasien.

5
SARAN
Untuk mengatasi kendala dalam hal penyampaian edukasi kepada keluarga pasien,
perlu dilatih cara penyampaian dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga didapatkan
persepsi yang sama antara keluarga dan dokter atau perawat.

UCAPAN TERIMA KASIH


Pertama sekali penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas
segala rahmat-Nya dan kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan moral maupun
spritualnya. Kepada tim Palliative Care Rumah Sakit Kanker Dharmais terutama kepada dr.
Maria A. Witjaksono, MPALLC yang telah memberikan kesempatan untuk berkunjung dan
memperoleh data yang diperlukan untuk penyelesaian laporan kasus ini. Ucapan terima kasih
tak lupa penulis ucapkan kepada pembimbing kelompok 2 kepeminatan Palliative Care dr.
Zwasta Pribadi Mahardika, M.MEd atas bimbingan dan dukungannya. Kepada dr. Hj.
Susilowati, M. Kes dan Dr. Drh. Hj. Titiek Djannatun selaku koordinator blok elektif.
Kepada dr. Riyani Wikaningrum, DMM, MSc yang telah memberikan ilmu pengetahuan tentang
Palliative Care kepada saya. Kemudian terakhir kepada rekan-rekan sejawat di Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI 2011 terutama untuk kelompok 2 kepeminatan
interprofesionalisme atas berbagai kontribusinya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Albani MA. Antara Ta’awun Syar’i dan Hizbi.


http://almanhaj.or.id/content/2038/slash/0/antara-taawun-syari-dan-hizbi/ Accessed:
November 15th 2014.

Bukit EV. 2008. Perawatan Kesehatan di Rumah (Home Health Care). USU e-Repository
Accessed: November 15th 2014.

Efendi F, Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Fallon M, Hanks G, editors 2006. ABC of Palliative Care. 2nd ed. UK : Blackwell Publishing
Ltd.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 812/Menkes/SK/VII/2007.

World Health Organization. Definition of Palliative Care.


th
http://www.who.int/cancer/palliative/definition/en/ Accessed: November 15 2014.