Anda di halaman 1dari 3

MENGAPA TITIK DIDIH H2S LEBIH TINGGI DARI HCl?

Jumat, 29 Maret 2019


Titik didih suatu molekul terkait dengan gaya interaksi antarmolekul. Semakin kuat gaya
antarmolekul semakin tinggi titik didih. Diperlukan energi yang cukup untuk memutuskan gaya
antarmolekul untuk mengubah jarak antarmolekul, seperti pada senyawa berwujud padat menjadi
cair, dari cair menjadi gas.
Membandingkan titik didih H2S, dan HCl, ini analog dengan membandingkan H2O dan HF.
Pasangan molekul hidrida seperiode dari golongan VI-A dengan VII-A memiliki kecenderungan
yang sama. H2S dan HCl ini tidak mempunyai ikatan hidrogen, akan dibahas pada tulisan ini.
rip.info

Untuk molekul-molekul yang tidak memiliki ikatan hidrogen (keelektronegatifannya relatif


rendah, selain HF, H2O, NH3), maka terdapat kecenderungan titik didih meningkat sejalan
meningkatnya massa molar atom pusat.
Ini dipengaruhi oleh gaya dispersi, gaya dispersi dipengaruhi oleh banyaknya elektron pada
setiap molekul. Gaya dispersi memang relatif kecil, tetapi semakin banyak jumlah elektron
pengaruhnya semakin besar, kontribusi gaya dispersi semakin besar.

Ingat bahwa selama dalam molekul terdapat elektron maka gaya dispersi selalu ada, hanya
berkontribusi relatif kecil dibanding gaya antarmolekul lainnya, bila memang ada gaya yang lain.
Berikut ini kontribusi energi atau gaya dispersi terhadap energi total interaksi antarmolekul yang
diambil dari buku : Intermolecular and Surface Forces, Third Edition oleh Jacob N. Israelachvili,
2011.
Kontribusi gaya dispersi terhadap
total energi interaksi antarmolekul
Pasangan % total energi
Molekul interaksi
H2O – H2O 24
NH3 – NH3 57
CH3Cl – CH3Cl 68
HCl – HCl 86
H2O – CH4 87
HBr – HBr 96
HCl – HI 96
HI – HI 99
Ne – Ne 100
CH4 – CH4 100

RICHARDUS NGABUT 1
Lalu apa penyebab titik didih H2S lebih tinggi dari HCl? Ukuran jari-jari kovalen S lebih besar
dibandingkan Cl, bahkan momen dipol HCl > momen dipol H2S yang seharusnya menyebabkan
HCl memiliki titik didih lebih besar. Faktanya tidak demikian.

Data PH3 H2 S HCl


Titik Didih (℃) -87,7 -60,0 -85,5
Momen Dipol (D) 0,58 0,97 1,08
Massa Molekul (g/mol) 33,998 34,080 36,460
Jari-Jari Kovalen (pm) 109 106 99

Mengingat gaya dispersi yang disebabkan oleh jumlah elektron atau ukuran molekul H2S dan HCl
yang kurang memberi dampak maka perlu dicari penyebab lainnya.

Untuk H2S ada 2 H bermuatan parsial positif (δ+) yang dapat berinteraksi dipol-dipol dengan
pasangan elektron bebas (PEB) bermuatan parsial negatif (δ–) pada atom pusat S dari molekul H2S
lain, dan ada 2 PEB, yang bisa berinteraksi dengan 2 H dari molekul H2S lain lagi.

Gaya dipol-dipol ini analog dengan ikatan hidrogen pada molekul-molekul H2O, hanya pada
H2S tidak disebut sebagai ikatan hidrogen.
Bahkan dalam keadaan cair pun, kemungkinan atom H (atau PEB), untuk menemukan “teman
berinteraksi” di molekul lain, cukup besar.

Untuk HCl dapat disederhanakan penjelasannya, misal dalam wadah yang berisi HCl cair, total H
sepertiga lebih sedikit dari total PEB. Dengan demikian akan ada PEB yang tidak menemukan H
dari molekul lain sebagai “teman berinteraksi”. Hal ini dikatakan bahwa interaksi antarmolekul
menjadi tidak efektif.
Sebaliknya pada PH3, total PEB sepertiga lebih sedikit dari total H, sehingga interaksi
antarmolekul juga tidak efektif.

Yang perlu diingat bahwa gaya dipol-dipol baik pada H2S maupun pada HCl dan juga pada
PH3 harus dapat dibayangkan/divisualkan secara tiga dimensi.

Sebagai pembanding yang analog dengan H2S - HCl - PH3 adalah H2O - HF - NH3. Pada beberapa
referensi (1, 2, 3) menuliskan bahwa jumlah ikatan hidrogen secara rata-rata pada setiap
molekul H2O sebanyak 2, pada HF dan NH3 sebanyak 1 ikatan hidrogen.

RICHARDUS NGABUT 2
Oleh karena analog maka gaya dipol-dipol pada H2S - HCl - PH3 mirip dengan ikatan hidrogen
(sebagai gaya dipol-dipol istimewa) H2O - HF - NH3 . Gaya dipol-dipol H2S secara rata-rata akan
berjumlah 2, dan HCl juga PH3 berjumlah 1, sehingga gaya dipol-dipol H2S > HCl atau PH3.

Jadi dapat disimpulkan dalam jaringan H2S proporsi jumlah PEB dan H yang sebanding memberi
peluang interaksi efektif, semua memiliki pasangan dipol positif dan dipol negatifnya. Interaksi
efektif ini berdampak gaya dipol-dipolnya relatif lebih kuat dibandingkan bila proporsi PEB
dengan H tidak sebanding, seperti HCl atau PH3.
Sementara itu baik pada HCl maupun PH3 tidak semua dipol positif dan negatifnya menemukan
pasangan membentuk gaya dipol-dipol.

Diposting oleh Urip Rukim


Kategori: Gaya Antarmolekul, Gaya Dipol-dipol, H2S, HCl, Kimia 10, Kimia-1, Perbandingan
Titik Didih, PH3, Titik Didih

Sumber Internet :

https://www.urip.info/2019/03/mengapa-titik-didih-h2s-lebih-
tinggi.html?m=1&fbclid=IwAR2qNx6uyyFYxo4Sg0ly_47We0nzARn5I104p-
hW_NGIte46yU8BvwGeIZg

RICHARDUS NGABUT 3