Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

LETAK SUNGSANG

Disusun Oleh
Annisa Ulkhairiyah
1102014034

Pembimbing
dr. Husny Budi Sismawan, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS YARSI
BAGIAN ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN
PERIODE 28 JANUARI 2019 – 7 APRIL 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Letak
Sungsang” sebagai salah satu tugas di kepanitraan Ilmu Kandungan dan Kebidanan
di RSUD Arjawinangun. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada
baginda Rasulullah SAW beserta para sahabatnya, keluarganya, dan semua
pengikutnya hingga akhir zaman.
Berbagai kendala yang telah dihadapi penulis hingga laporan kasus ini selesai tidak
terlepas dari bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Atas bantuan yang telah
diberikan, baik moril maupun materil, maka selanjutnya penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pembimbing dr. Husny Budi
Sismawan, Sp.OG atas bimbingan, arahan, dan saran dalam penyusunan laporan
kasus ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang
telah membantu.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
sehingga penyusunan ini dapat lebih baik sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Akhir kata, dengan mengucapkan Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu
meridhai kita semua.

Arjawinangun, Maret 2019

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

Distosia ialah keterlambatan atau kesulitan persalinan. Sebab – sebabnya dapat


dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:2
1. Kelainan tenaga (atau kelainan HIS)
His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya dapat menyebabkan
rintangan pada jalan lahir sehingga persalinan mengalami hambatan
atau kemacetan.
2. Kelainan janin
Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena kelainan
dalam letak atau dalam bentuk janin
3. Kelainan jalan Lahir
Kelainan dalam ukuran dan bentuk jalan lahir bisa menghalangi
kemajuan persalinan atau menyebabkan kemacetan.

Distosia karena kelainan letak dan bentuk janin dapat dibagi menjadi :2,5,8
a. Kelainan letak, presentasi atau posisi
b. Kelainan dalam bentuk janin

Salah satu distosia karena kelainan letak adalah letak sungsang. Letak
sungsang merupakan keadaan di mana janin terletak memanjang dengan kepala
di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Letak sungsang
ditemukan pada 2 - 4 % kehamilan.2,3,8,9 Beberapa literatur lainnya
menyebutkan angka 3 – 5 %. Insiden terbanyak terdapat pada usia kehamilan
28 minggu kira – kira 25 % posisi bayi dalam keadaan letak sungsang,dan
seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, insidens semakin berkurang.2,11
Di Indonesia angka kejadian letak sungsang dapat mencapai 4 %.2
Faktor – faktor yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang
diantaranya adalah prematuritas, multiparitas, kehamilan kembar,

3
polihidramnion, hidrosefalus, panggul sempit, dan kelainan bentuk uterus
seperti uterus bikornus, uterus berseptum, kelemahan dinding uterus akibat
multiparitas, dan adanya tumor uterus. Adanya kelainan letak implantasi
plasenta ( plasenta previa ) dan panjang tali pusat yang terlalu pendek juga
menyebabkan terjadinya kehamilan sungsang.2,5,8,14
Diagnosis untuk kasus letak sungsang ini dapat ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa USG atau pun
MRI.2,9,10
Mengingat bahaya – bahayanya, sebaiknya persalinan dalam letak
sungsang dihindarkan. Bila pada pemeriksaan antenatal dijumpai letak
sungsang, terutama pada primigravida, hendaknya diusahakan melakukan versi
luar. Operasi seksio sesarea bukan merupakan satu – satunya terapi dalam
menangani persalinan dengan letak sungsang. Untuk melakukan operasi seksio
sesarea diperlukan indikasi yang kuat.2
Dalam persalinan, menolong bayi dengan letak sungsang diperlukan lebih
banyak ketekunan dan kesabaran dibandingkan dengan persalinan normal.
Apabila tidak terjadi kemajuan dalam persalinan maka kita dapat melakukan
operasi seksio sesarea.2
Angka kematian bayi akibat persalinan sungsang lebih tinggi daripada
persalinan dengan letak kepala. Hal ini disebabkan oleh prematuritas dan
penanganan persalinan yang kurang sempurna dengan akibat hipoksia atau
perdarahan dalam tengkorak.2,11

4
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. SM Nama Suami : Tn. AM
Umur : 21 tahun Umur : 21 th
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pekerjaan : Wirausaha
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/Bangsa : Sunda Suku/Bangsa : Sunda
Alamat : Tegalwangi Alamat : Tegalwangi

II. ANAMNESIS
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa tanggal 21-02-2019 pukul
08.30 WIB.
1. Keluhan Utama :
Ingin melahirkan
2. Keluhan Tambahan :
-
3. Riwayat Kehamilan Sekarang :
Os merasa mules-mules sejak tanggal 15-02-2019 pukul 20.00 WIB,
tanpa disertai keluar air-air namun disertai keluarnya lendir dan darah. Os
mengatakan mules-mules dirasakan hilang timbul namun semakin sering
setiap harinya. Pada tanggal 20-02-2019 Pukul 08.00 WIB Os
memeriksakan kandungannya ke klinik dokter spesialis dan dikatakan
kandungan Os sudah cukup untuk dilahirkan dan dirujuk ke RSUD
Arjawinangun untuk tindakan selanjutnya. Ibu rajin ANC ke
dokter/poliklinik RS 1 bulan sekali. Saat hamil ibu tidak pernah menderita
tekanan darah tinggi, pandangan mata kabur, kaki bengkak maupun

5
kejang. Ibu sering USG dan hasil USG terakhir dikatakan letak janin
sungsang. Os mulai merasa gerak janin pada hamil 20 minggu dan selama
hamil Os mengatakan lebih terasa penuh di sebelah atas dan gerakan terasa
lebih banyak di bagian bawah.

4. Riwayat Haid :
Haid pertama umur : 13 tahun
Siklus : Teratur 28 hari/bulan
Lamanya : 7 hari
Banyaknya : 2x ganti pembalut
Dismenore :-
HPHT : 17/05/2018
Taksiran Persalinan : 24/02/2019
Ukuran Kehamilan : post term

5. Riwayat Perkawinan :
Kawin sudah 2 kali (4 tahun dan 1 tahun sekarang)

6. Riwayat Obstetri:

G2P1A0

2015/laki-laki/2500 gr/Spontan/Bidan/hidup

2019/saat ini

7. Riwayat Penyakit :
a. Penyakit dahulu
Os menyangkal pernah menderita penyakit kandungan, tidak pernah
menjalani operasi apapun terkait dengan organ reproduksinya. Riwayat
tekanan darah tinggi, penyakit jantung, ginjal, kencing manis ataupun asma
disangkal.

6
b. Penyakit dalam keluarga
Os mengatakan tidak ada anggota keluarga yang lain yang menderita

tekanan darah tinggi, kencing manis maupun asma.

8. Riwayat Operasi
-

9. Riwayat Keluarga Berencana


Pasien mengatakan menggunakan kb suntik

10. Riwayat Antenatal :


Waktu Hamil diperiksa di : Puskesmas
Riwayat Imunisasi : 2x
Keluhan dan kelainan :-

III. PEMERIKSAAN JASMANI


a. Tanda Vital
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 120/80
Nadi : 84x/menit
Suhu : 36.5
Respirasi : 22x/menit
Tinggi badan :157
Berat badan :61

b. Status generalis
Kepala : Bentuk normal

7
Mata : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik,

palpebrae tidak edem, pupil isokor, refleks cahaya

+/+.

Telinga .... :Bentuk normal, tidak ada cairan yang keluar dari

telinga, tidak ada ganguan pendengaran.

Hidung : Bentuk normal, tidak tampak defiasi septum, tidak

ada sekret, tidak ada epistaksis, tidak ada pernapasan

cuping hidung.

Mulut :Bibir dan mukosa tidak anemis, perdarahan gusi

tidak ada, tidak ada trismus, tidak ada pembesaran

atau radang pada tonsil, lidah tidak ada kelainan, tidak

ada gigi palsu.

Leher : Tidak ada kaku kuduk, tidak tampak pembesaran

kelenjar getah bening dan tiroid, tidak ada

pembesaran JVP.

Thoraks

Paru : Inspeksi : bentuk normal, gerakan simetris dan ICS tidak

melebar.

Palpasi : fremitus raba +/+ simetris, tidak ada nyeri tekan.

Perkusi : sonor +/+, tidak ada nyeri ketuk.

Auskultasi : Vesikuler, tidak ada ronkhi atau wheezing.

8
Jantung: Inspeksi : iktus kordis tidak tampak

Palpasi : tidak teraba thrill.

Perkusi : batas jantung normal, ICS V LMK kiri dan ICS II

LPS kanan.

Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, bising jantung tidak ada.

Abdomen : Lihat Status Obstetri

Genitalia : Keluar perdarahan segar dari vagina

Ekstremitas atas dan bawah :

Atas : Edema (-/-), gerak normal, nyeri gerak (-/-).

Bawah : Edema (-/-), gerak normal, nyeri gerak (-/-).

IV. PEMERIKSAAN OBSTETRIK


1. Pemeriksaan Luar
a. Inspeksi
 Membuncit sesuai usia kehamilan aterm
 Linea mediana hiperpigmentasi, striae gravidarum (+)
 Sikatrik (-)

b. Palpasi
 Leopod I : fundus uteri teraba 2 jari di bawah processus xyphoideus

(TFU = 30 cm), teraba bundar keras dan melenting

 Leopod II : iri : Teraba bagian yang memanjang (punggung), Kanan:

teraba bagian kecil-kecil dari janin

 Leopod III: Teraba bagian bulat, lunak (Presentasi bokong)

9
 Leopod IV: Konvergen, bagian terbawah belum masuk panggul, teraba

5/5 bagian.

 His : (-)

c. Auskultasi
DJJ: 150x/menit reguler

2. Pemeriksaan Dalam

Vaginal Touche: portio teraba tebal, arah posterior, ketuban (+), tidak ada

pembukaan, konsistensi tebal lunak bagian terbawah bokong di Hodge I.

Kesan Panggul : luas

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium tgl 20-02-2019
Darah Lengkap
Hemoglobin : 11.7 gr/dl
Hematokrit : 35.2 %
Leukosit : 14.7 x 103/µL
Trombosit : 329 x 103/µL
Eritrosit : 4.32 x 106/µL

Index Eritrosit
MCV : 81.5 fl
MCH : 27.2 pg
MCHC : 33.4 g/dl
RDW : 13.1 %
MPV : 6.9 fl

10
Hitung Jenis (Diff)
Eosinofil : 0.9 %
Basofil : 1.7 %
Segmen : 69.5 %
Limfosit : 22.4 %
Monosit : 5.6 %
Luc :0 %
Golongan darah :O

Koagulasi
Waktu pembekuan (CT) : 4 menit
Waktu perdarahan (BT) : 2 menit

Imunologi
HBsAg : 0,01
Anti HIV : Non reaktif

Kimia klinik
Glukosa sewaktu : 98

Pemeriksaan Laboratorium tgl 21-02-2019


Darah Lengkap
Hemoglobin : 11.5 gr/dl
Hematokrit : 34.6 %
Leukosit : 20.3 x 103/µL
Trombosit : 279 x 103/µL
Eritrosit : 4.22 x 106/µL

Index Eritrosit
MCV : 81.9 fl
MCH : 27.3 pg

11
MCHC : 33.3 g/dl
RDW : 12.3 %
MPV : 6.4 fl
Hitung Jenis (Diff)
Eosinofil : 0.2 %
Basofil : 0.5 %
Segmen : 81.3 %
Limfosit : 11.6 %
Monosit : 6.4 %
Luc :0 %

Kimia klinik
Glukosa sewaktu : 146

VI. DAFTAR MASALAH


Diagnosis
Ibu : G2P1A0 post term dengan letak sungsang
Janin : Tunggal, hidup, intrauterine

VII. RENCANA TERAPI


IVFD 500 cc RL 20 tetes/menit
Ketorolac 2 ampul drip
Cefotaxim 2x1
Asam tranexamat 3x1
pro SC

12
Follow up ruangan
Tgl 21 22 23 24 25

SOAP Februari 2019

Subjektif
 Nyeri < < <
 Perdarahan > < <
 Mobilisasi baring duduk berdiri

Objektif
 TD (mmHg) 120/80 100/70 110/70
 Nadi (x/menit) 81 80 82
 RR (x/menit) 21 18 18
 Temperatur (oC) 36.9 36.1 36,5

Assesment P2A0 Post SC a/i letak sungsang dengan presentasi bokong

Penatalaksanaan
 IVFD Rl 20 tpm + + +
 Inj. Cefotaxim 3 x 1 (IV) + + +
 Ketorolax 3x1 + + +

 asam. tranexamat 3x1 + + +

 Livron 2x1 +

 Asam mefenamat 3x1 +

13
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
PERMASALAHAN
1. Apakah sudah tepat diagnosis diatas?
2. Apakah penatalaksanaan plasenta previa pada kasus ini sudah tepat?

PEMBAHASAN
1. Diagnosis : G2P1A0 gravida Post term dengan letak sungsang dengan
presentasi bokong.

Pasien didiagnosa hamil karena memenuhi beberapa kriteria kehamilan,


diantaranya tanda-tanda tidak pasti kehamilan yaitu : amenorrhea, perut membesar,
pigmentasi kulit pada areola mammae, striae gravidarum pada kulit abdomen. Dan
adanya tanda pasti kehamilan yaitu : adanya gerak janin, pemeriksaan leopold I-IV
yang dapat meraba bagian besar dan kecil janin, balottement (+), dan terdapat
denyut jantung janin. Sedangkan untuk usia kehamilan, dapat ditentukan dengan
dengan HPHT yaitu tanggal 17 Mei 2018 sehingga hari taksiran persalinan 24
Februari 2019.
Pemeriksaan tinggi fundus uteri 30 cm dengan taksiran berat janin 2790 gram
dengan menggunakan Formula Johnson. Janin tunggal hidup dinilai dari
pemeriksaan Leopold yang memberi kesan adanya satu janin dengan presentasi
bokong dan punggung di bagian kiri, Hal ini yang mendukung diagnosis kehamilan
dengan letak sungsang dengan presentasi bokong.
Diagnosa letak sungsang dengan presentasi bokong ditegakkan pertama kali
dari anamnesis, bahwa selama hamil Os mengatakan lebih terasa penuh di sebelah
atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah. Dan didukung dengan
pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan leopold I yaitu teraba bundar keras dan
melenting, leopold II berupa sisi kiri teraba bagian yang memanjang (punggung),
dan kanan teraba bagian kecil-kecil dari janin, Leopold III berupa teraba bagian
bulat, lunak (Presentasi bokong) dan Leopod IV berupa konvergen, bagian
terbawah belum masuk panggul, teraba 5/5 bagian. Dan pada pemeriksaan vagina

14
toucher (vt) teraba portio teraba tebal, arah posterior, ketuban (+), tidak ada
pembukaan, konsistensi tebal lunak bagian terbawah bokong di Hodge I.

2. Tatalaksana:

Pada pasien ini dilakukan penanganan seksio sesarea karena posisi janin
letak sungsang dirasa kurang tepat. Karena Indikasi yang tepat untuk
dilakukannya seksio sesarea pada kehamilan sungsang antara lain adalah
plasenta previa, serta panggul sempit.2,3,4 Keputusan melakukan seksio sesarea
elektif terutama untuk pasien dengan kehamilan kurang dari 34 minggu atau
taksiran berat janin kurang dari 2000 g, janin dengan kepala hiperekstensi,
suspek lilitan tali pusat, adanya kelainan bentuk panggul, primigravida tua,
janin dengan nilai sosial tinggi, makrosomia, dan presentasi kaki.2,3,4 Namun
pada pasien tidak ditemukan kondisi yang harus mutlak dilakukannya tindakan
seksio sesarea.
Persalinan pervaginam dapat dilakukan pada posisi bokong murni, janin
dalam keadaan fleksi dan tidak ada tangan yang menjungkit, usia kehamilan 36
– 42 minggu, panggul normal, tidak ada gawat janin, serta adanya ruang operasi
yang cepat tersedia dan operator yang terampil.2,3,4

15
BAB IV
KESIMPULAN

Letak sungsang merupakan keadaan di mana janin terletak memanjang


dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri,
atau janin terletak pada posisi aksis longitudinal dengan kepala di fundus uteri
1,2,3
.
Jenis - jenis letak sungsang, yaitu presentasi bokong murni ( frank breech ),
presentasi bokong kaki sempurna ( completed breech presentation ), presentasi
bokong kaki tidak sempurna ( incompleted breech presentation ), dan presentasi
kaki, baik berupa ekstensi satu kaki ( single footling presentation ) atau ekstensi
kedua kaki ( double footling presentation ). 2,9,11,13
Faktor – faktor yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang
diantaranya adalah prematuritas, multiparitas, kehamilan kembar,
polihidramnion, hidrosefalus, panggul sempit, dan kelainan bentuk uterus
seperti uterus bikornus, uterus berseptum, kelemahan dinding uterus akibat
multiparitas, dan adanya tumor uterus. Adanya kelainan letak implantasi
plasenta ( plasenta previa ) dan panjang tali pusat yang terlalu pendek juga
menyebabkan terjadinya kehamilan sungsang.2,5,8,14
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik yang dapat kita lakukan adalah dengan
pemeriksaan luar. Apabila tidak berhasil maka diagnosis letak sungsang ini
dapat kita buat berdasarkan pemeriksaan dalam. Apabila masih ada keragu –
raguan harus dipertimbangkan pemeriksaan penunjang berupa USG atau
MRI.2,5
Penanganan letak sungsang ini dapat dilakukan versi luar bila masih dalam
kehamilan. Bila dalam persalinan maka kita dapat menolong persalinan ini
dengan menggunakan perasat – perasat Bracht, klasik, Müller, Loevset dan
Mauriceau.1,2,3,4,5,11 Menolong persalinan dengan letak sungsang diperlukan
lebih banyak ketekunan dan kesabaran dibandingkan dengan persalinan normal.
Apabila tidak terjadi kemajuan dalam persalinan maka kita dapat melakukan

16
operasi seksio sesarea. Untuk melakukan operasi seksio sesarea diperlukan
indikasi yang kuat.2
Kelahiran janin di atas 8 menit setelah umbilikus lahir dapat
membahayakan janin. Di samping itu bila janin bernapas sebelum hidung dan
mulut lahir dapat menyebabkan sumbatan jalan napas akibat terhisapnya
mukus.2,3,5,11

Angka kematian bayi akibat persalinan sungsang lebih tinggi daripada


persalinan dengan letak kepala. Hal ini disebabkan oleh prematuritas dan
penanganan persalinan yang kurang sempurna dengan akibat hipoksia atau
perdarahan dalam tengkorak.2,3,11

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H prof, dr , Saifuddin AB, Rachimhadi T. Ilmu Bedah


Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007 :
104 – 122
2. Wiknjosastro, H prof,dr, et all. Ilmu kebidanan Edisi Ketiga. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2002 : 595 – 622
3. Cunningham FG et al. Dystocia due to Abnormalities in Presentation,
Position or Development of the Fetus, Chapter 20. in William Obstetrics.
20th ed. Connecticut : Appleton & Lange, 1993 : 493 – 500
4. Dutta DC, Malposition, malpresentation, cord prolapse. In Text Book of
Obstetrics, Calcutta : New Central Book Agency, 1998 : 390 – 431
5. http://ksuheimi.blogspot.com/2007/09/distosia-karena-kelainan-letak.html
6. http://www.intisari-
online.com/majalah.asp?tahun=2004&edisi=491&file=warna0702
7. http://www.hanyawanita.com/_mother_child/pregnancy/article.php?article
_id=6151
8. http://zulkiflithamrin.blogspot.com/2007/06/distosia.html
9. http://healthupyourlife.blogspot.com/2008/07/posisi-janin-sungsang.html
10. http://www.conectique.com/tips_solution/pregnancy/baby_delivery/article.
php
11. http://en.wikipedia.org/wiki/Breech_birth
12. http://www.emedicine.com/med/topic3272.htm
13. http://www.womenfitness.net/preg_breech_presentation.htm
14. http://oetjipop.multiply.com/reviews/item/19

18