Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

ILMU KESEHATAN JIWA

Disusun oleh :
Fulristami Zaenab (1102014110)

Pembimbing :
dr. Henny Riana, Sp.KJ
dr. Esther Sinsuw, Sp.KJ
dr. Hening Madonna, Sp.KJ
AKBP dr. Karjana, Sp.KJ
dr. Witri Antariksa, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA Tk. I R. SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 16 APRIL 2018 – 19 MEI 2018
I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. T
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Tanggal Lahir : Indramayu, 18 April 1994
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakhir : SMP
Status Pernikahan : Menikah
Pekerjaan : TKW
Alamat : Indramayu
Masuk RS : 9 Mei 2018
Tanggal Pemeriksaan : 11 Mei 2018
Ruang Perawatan : Dahlia

II. RIWAYAT PSIKIATRI

 Autoanamnesis : Pada tanggal 11 Mei 2018 di Bangsal Dahlia


 Rekam medis pasien :

A. Keluhan Utama : Percobaan bunuh diri dengan cara meminum shampo


karena bisikan yang menyuruh pasien meminum
shampo tersebut
B. Keluhan Tambahan :-
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien dibawa ke IGD RS Polri oleh BNP2TKI pada tanggal 9 Mei 2018 karena
melakukan percobaan bunuh diri dengan cara meminum shampo. Berdasarkan
anamnesis terhadap pasien, pasien meminum shampo karena mendengar bisikan-
bisikan yang menyuruhnya untuk meminum shampo tersebut. Bisikian-bisikan
tersebut sudah ada sejak 1 minggu sebelum pasien dibawa ke RS Polri. Dari
anamnesis riwayat trauma kepala disangkal, riwayat menggunakan zat psikoakitf
dan alkohol disangkal.

1
Kejadian ini masih berkaitan dengan percobaan bunuh diri yang dilakukan
pasien 1 minggu sebelum masuk RS dengan cara meminum cairan pembasmi
nyamuk di tempat kerjanya di Taiwan. Pasien bercerita bahwa ia sudah bekerja
selama 9 bulan di Taiwan. Pasien bekerja menjadi asisten rumah tangga dengan
sepasang suami (85 tahun) istri (60 tahun). Majikan pasien baik dan tidak pernah
kasar kepada pasien, bahkan pasien sudah dianggap cucu sendiri. Pasien
mengatakan bahwa majikan laki-lakinya sudah sakit ketika awal dia bekerja disana.
Dan pada hari kamis 2 minggu yang lalu, majikan laki-laki pasien (atau yang pasien
panggil akong) meninggal dunia. Pasien mengatakan bahwa akong sempat
pendarahan melalui hidung dan hanya pasien sendiri yang berada di rumah,
akhirnya pasien menghubungi anak majikannya dan segera dibawa ke RS. 10 jam
kemudian, majikan pasien meninggal dunia.
Mulai dari sini lah pasien merasa sedih terus menerus, selalu menangis, tidak
minat untuk bekerja, merasa selalu lelah, merasa bersalah atas meninggalnya
majikannya, tidur terganggu, dan merasa konsentrasinya berkurang. Pasien
mengatakan setelah hampir 1 minggu, mulai ada bisikan-bisikan yang mengatakan
bahwa pasien bersalah atas meninggalnya akong dan menyuruhnya untuk
meminum cairan pembasmi nyamuk.
Tepatnya hari rabu pada tanggal 2 mei, pasien meminum cairan pembasmi
nyamuk karena bisikan-bisikan tersebut menyuruhnya untuk meminum cairan
pembasmi nyamuk. Oleh keluarga majikannya pasien dibawa ke salah satu RS di
Taiwan, setelah di rawat selama 1 minggu pasien dipulangkan ke Indonesia.
Ketika sampai di Indonesia pasien sempat tingggal selama 1 hari di BLK (Balai
Latihan Kerja) Bekasi. Pada rabu malam tanggal 9 Mei pasien mencoba melakukan
bunuh diri kembali dengan cara meminum shampo karena bisikan-bisikan tersebut
semakin kuat menyalahkan pasien dan menyuruhnya meminum shampo tersebut.
Sehingga oleh petugas BNP2TKI dibawa ke IGD RS Polri dan di rawat di Bangsal
Dahlia.

D. Riwayat Gangguan Dahulu


1. Riwayat Gangguan Psikiatri :
Beberapa minggu yang lalu pasien pernah melakukan percobaan bunuh
diri dengan cara meminum 6 obat (pasien lupa nama obatnya), namun menurut
pasien efeknya hanya pusing dan mual sehingga tidak butuh perawatan medis

2
di RS. Pasien mengaku bahwa nekat melakukan hal itu karena sedang memiliki
masalah ekonomi dengan suaminya.
2. Riwayat Gangguan Medik :
Pasien mengalami ptosis pada mata sebelah kanan sejak lahir, namun hal ini
tidak mempengaruhi diagnosis psikiatri.
Tidak ada riwayat infeksi, trauma kepala, dan kejang.
3. Riwayat Zat Psikoaktif :
Tidak ada riwayat konsumsi rokok, alkohol ataupun zat adiktif lainnya.

E. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Perkembangan Pribadi
 Masa Prenatal
Pasien lahir cukup bulan dan berat badan normal dengan persalinan
secara normal ditolong oleh dukun di rumahnya. Kondisi kesehatan ibu
secara fisik baik selama kehamilan.
 Masa Kanak Awal (0-3 Tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orangtuanya. Selama masa ini, proses
perkembangan dan pertumbuhan sesuai dengan anak sebaya. Pasien tidak
pernah mendapat sakit berat, demam tinggi, kejang ataupun trauma kepala.
Tidak ada kelainan prilaku yang menonjol.
 Masa Kanak Pertengahan (3-11 Tahun)
Masa ini dilalui dengan baik, tumbuh kembang baik dan normal seperti
anak seusianya. Pasien tergolong anak yang aktif, baik, dan mudah bergaul.
Pada saat SD, pasien mulai sering melihat orang tua pasien mengalami cek-
cok.
 Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 Tahun)
Orang tua pasien bercerai ketika pasien kelas 6 SD. Mulai saat itu pasien
memilih tinggal bersama nenek dan kakeknya. Pada saat kelas 2 SMA,
karena desakan ekonomi pasien kabur ke Jakarta dan bertemu lelaki yang 1
kampung dengannya dan akhirnya menikah di umur 15 tahun. Pasien
melahirkan anak perempuan di umur 17 tahun.

3
 Masa Dewasa (>18 Tahun)
Pasien adalah sosok yang pekerja keras, setelah melahirkan ia bekerja
sebagai petani bersama suaminya di Indramayu. Kehidupan rumah
tangganya terdapat masalah perekonomian sehingga ketika pasien berumur
23 tahun pasien memilih bekerja menjadi TKI di Taiwan.
2. Riwayat Pendidikan
a. SD : Pasien menyelesaikan pendidikan SD tanpa pernah tinggal kelas.
b. SMP : Pasien menyelesaikan pendidikan SMP tanpa pernah tinggal kelas.
c. SMA : Pasien hanya bersekolah sampai kelas 2 SMA karena masalah
ekonomi.
3. Riwayat Pekerjaan
 Pernah bekerja menjadi pelayan di Warteg, berhenti karena capek.
 2011-2017 bekerja sebagai petani di kampung
 2017-2018 Bekerja di Taiwan sebagai asisten rumah tangga
4. Kehidupan beragama
Pasien menganut agama Islam dan taat beribadah.
5. Riwayat Sosial dan Perkawinan
Pasien merupakan orang yang pandai bergaul dan pekerja keras. Pasien menikah
pada tahun 2009 ketika berumur 15 tahun dan melahirkan anak perempuan pada
tahun 2011 ketika berumur 17 tahun. Kehidupan rumah tangganya terdapat
masalah perekonomian sehingga ketika pasien berumur 23 tahun pasien
memilih bekerja menjadi TKI di Taiwan.
6. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak pernah
terlibat dalam proses peradilan yang terkait dengan hukum.

F. Riwayat Keluarga
Sejak kecil pasien tinggal dan diasuh oleh kedua orang tua pasien sampai kelas
6 SD. Orang tua pasien bercerai ketika pasien kelas 6 SD. Sejak saat itu, pasien
tinggal dan diasuh dengan nenek dan kakek. Pada saat itu pasien merasa kesepian
dan kurang diperhatikan. Karena desakan ekonomi pasien kabur ke Jakarta untuk
bekerja.

4
Pasien menikah dengan seorang laki-laki pada tahun 2009 (usia 15 tahun). Dan
melahirkan anak perempuan pada tahun 2009 (usia 17 tahun). Saat ini ibu pasien
sudah menikah kembali. Hubungan pasien dengan kedua orang tua pasien buruk,
sampai saat ini pasien tidak pernah lagi berhubungan dengan kedua orang tuanya.
Di keluarga pasien tidak ada riwayat sakit seperti ini.

Keterangan :
: Pasien Perempuan : Bercerai
: Laki-laki
: Laki-Laki Meninggal : Perempuan

G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien menyadari bahwa ia sakit karena meminum shampo karena halusinasinya
dan harus di rawat di RS Polri.
H. Impian, Fantasi, dan Nilai-Nilai Pasien
Pasien berharap bisa pulang kerumah dan bisa kembali bertemu suami dan
anaknya. Pasien juga ingin bekerja menjadi TKW kembali di Hongkong.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


1. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Pasien perempuan berumur 24 tahun dengan penampakan fisik sesuai dengan
usianya. Pada saat wawancara, pasien berpakaian bersih. Perawatan diri dan
kebersihan baik.

5
b. Perilaku dan aktivitas psikomotor

a) Sebelum wawancara : Pasien sedang duduk dengan pasien yang lain di kursi
bangsal dahlia
b) selama wawancara : Pasien terlihat tenang dan dapat menjawab pertanyaan
dengan baik, konsentrasi tidak terganggu.
c) Sesudah wawancara : Pasien tenang, di akhir wawancara pasien makan sore
di meja depan.

c. Sikap terhadap pemeriksa


Selama wawancara pasien menunjukkan sikap kooperatif dan tenang. Pasien
cenderung banyak berbicara mengenai kehidupan pasien.
2. Mood dan Afek
a. Mood : hipotim (saat pemeriksaan)
b. Afek : tumpul (saat pemeriksaan)
3. Pembicaraan :
Pembicaraan spontan, lancar dan artikulasi jelas. Pasien cenderung banyak
berbicara tentang kejadian dirinya.
4. Persepsi
 Halusinasi : Timbul beberapa hari setelah majikan pasien meninggal dan
sudah tidak ada semenjak masuk di Dahlia.
- Halusinasi auditorik: Pasien mengaku sering mendengar bisikan-bisikan
perempuan yang menyalahkan pasien atas meninggalnya majikannya dan
menyuruhnya untuk meminum cairan pembasmi nyamuk dan meminum
shampo.
 Ilusi : Tidak ada
 Depersonalisasi : Tidak ada
 Derealisasi : Tidak ada

5. Pikiran

a. Arus Pikir :
 Kontinuitas : Tidak ada
 Hendaya bahasa : Tidak ada

6
b. Isi pikir :
 Preokupasi : Tidak ada
 Waham : Tidak ada
 Obsesi : Tidak ada
 Kompulsi : Tidak ada
 Fobia : Tidak ada

6. Sensorium dan Kognisi


a. Taraf pendidikan : SMP
b. Pengetahuan umum : Baik
c. Kecerdasan : Baik
d. Konsentrasi : Baik
e. Kesadaran : Composmentis
f. Orientasi dan daya ingat
 Orientasi
 Waktu : Baik, pasien dapat menyebutkan pemeriksaan dilakukan pada
sore hari
 Tempat : Baik, pasien dapat memberitahukan bahwa sekarang pasien
sedang berada di RS
 Orang : Baik, pasien mengaggap pemeriksa

 Situasi : Baik, pasien dapat mengetahui bahwa pasien sedang


diwawancarai
 Daya ingat

• Jangka Panjang : Baik, pasien dapat menyebutkan tanggal lahir pasien

• Jangka Pendek : Baik, pasien dapat menyebutkan menu makan siang pasien

• Segera : Baik, pasien dapat menyebukan 3 benda yang ditanyakan


oleh pemeriksa
g. Kemampuan visuospasial : Baik, dapat menggambar bentuk yang pemeriksa minta
h. Pikiran abstrak : Baik, Pasien dapat menyebutkan persamaan jeruk dan
apel
i. Pertolongan diri : Baik

7
7. Pengendalian Impuls
Baik, selama wawancara pasien tampak tenang dan tidak menunjukakn gejala
agresif.

8. Daya nilai dan tilikan

- Daya nilai sosial : Baik, pasien dapat membedakan perbuatan baik dan buruk

- Uji daya nilai : Baik, pasien menjawab ketika diberikan simulasi jika berada
diruangan bioskop terbakar apa yang harus dilakukan.

- RTA : Terganggu
Tilikan : derajat 5 (menyadari penyakitnya & faktor yang berhubungan
dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam prilaku
praktisnya)
9. Taraf dapat dipercaya

Pemeriksa mendapat kesan bahwa hampir semua jawaban pasien dapat


dipercaya

IV. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


A. Status Generalis
a) Keadaan Umum : Baik
b) Kesadaran : Compos Mentis
c) Tanda-tanda Vital :
TD : 110/80 mmHg
HR : 78x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,7o C
B. StatusNeurologik
Tidak dilakukan pemeriksaan neurologis.
Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakuan pemeriksaan penunjang.

8
V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
 Pasien perempuan berusia 24 tahun diantar ke IGD Rumah Sakit Polri dengan
percobaan bunuh diri dengan cara meminum shampo.
 Pasien mencoba bunuh diri karena mendapat bisikan yang menyuruhnya untuk
meminum shampo tersebut
 Tidak ada riwayat trauma kepala, kejang, maupun penggunaan alkohol dan zat
psikotropika.
 2 minggu sebelum masuk RS majikan pasien meninggal dan pasien merasa sedih terus
menerus, selalu menangis, tidak minat untuk bekerja, merasa selalu lelah, merasa
bersalah atas meninggalnya majikannya, tidur terganggu, dan merasa konsentrasinya
berkurang.
 Beberapa hari setelah majikan pasien meninggal pasien mulai mendengar bisikan-
bisikan perempuan yang menyalahkan pasien atas kematian majikannya (Halusinasi
Auditorik)
 1 minggu setelah majikan pasien meninggal, pasien melakukan percobaan bunuh diri
dengan cara meminum cairan pembasmi nyamuk karena ada bisikan yang menyuruhnya
untuk meminum cairan tersebut.
 Pasien memiliki riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya dengan cara meminum 6
obat karena sedang memiliki masalah ekonomi dengan suaminya.
 Kehidupan rumah tangga pasien terdapat masalah ekonomi.
 Saat pemeriksaan dilakukan tilikan pasien derajat 5 pasien menyadari penyakitnya &
faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam prilaku
praktisnya.

VI. FORMULA DIAGNOSTIK


1. Setelah wawancara, pasien ditemukan adanya sindroma atau perilaku dan psikologi
yang bermakna secara klinis dan menimbulkan penderitaan (distress) dan
ketidakmampuan (disability) dan terganggunya fungsi (disfungsi/hendaya) dalam
fungsi serta aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pasien
mengalami gangguan jiwa yang sesuai dengan definisi yang tercantum dalam PPDGJ
III.

9
2. Pasien ini tidak termasuk gangguan mental organik karena pasien pada saat di periksa
dalam keadaan sadar, tidak ada kelainan secara medis atau fisik yang bermakna dan
tidak adanya penurunan fungsi kognitif. (F0)
3. Pasien ini tidak termasuk dalam gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
karena pasien tidak mengkonsumsi rokok, alkohol dan zat psikotropika. (F1)
4. Pasien ini tidak termasuk dalam kriteria skizofrenia, gangguan skizotipal, dan gangguan
waham (F2)
5. Pasien ini termasuk dalam gangguan afektif/mood yaitu episode depresi berat dengan
gejala psikotik karena didapatkan adanya gejala yang memenuhi kriteria umum
diagnosis depresi berat yaitu adanya 3 gejala utama depresi berupa afek depresi, tidak
minat bekerja, merasa selalu lelah, dan 4 gejala lainnya berupa konsentrasi yang
berkurang, tidur terganggu, merasa bersalah, dan percobaan bunuh diri. Disertai gejala
psikotik berupa halusinasi audiorik yang menyalahkan pasien dan menyuruh pasien
untuk melakukan bunuh diri. (F3).

Susunan formulasi diagnostik ini berdasarkan dengan penemuan bermakna dengan


urutan untuk evaluasi multiaksial, seperti berikut:

 Aksis I (Gangguan Klinis dan Gangguan Lain yang Menjadi Fokus Perhatian
Klinis)
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah memiliki riwayat
trauma kepala, kejang, dan kelainan fisik yang bermakna. Pasien juga tidak
menggunakan zat psikoaktif. Gejala psikotik berupa halusinasi pasien timbul setelah
fase depresi. Sehingga gangguan mental dan perilaku akibat gangguan mental organik,
penggunaan zat psikoaktif, gangguan skizofrenia dapat disingkirkan.

Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami 3 gejala utama dan 4


gejala tambahan disertai timbulnya halusinasi auditorik setelah beberapa hari, kriteria
diagnostik menurut PPDGJ III pada ikhtisar penemuan bermakna pasien digolongkan
dalam F32.3 episode depresif berat dengan gejala psikotik.

 Aksis II (Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental)


Z03.2 Tidak ada diagnosis aksis II

 Aksis III (Kondisi Medis Umum)


H00-H59 Penyakit mata dan adneksa

10
 Aksis IV (Problem Psikososial dan Lingkungan)
Masalah ekonomi dan pekerjaan

 Aksis V (Penilaian Fungsi secara Global)


Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assement Of
Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan GAF pada saat pemeriksaan
didapatkan 20-11 yaitu bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat
dalam komunikasi dan mengurus diri.

Evaluasi multiaksial

Aksis I : F32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik


Aksis II : Z03.2 Tidak ada diagnosis aksis II
Aksis III : H00-H59 Penyakit mata dan adneksa
Aksis IV : Masalah ekonomi dan pekerjaan
Aksis V : GAF 20-11

VII. DIAGNOSIS

Diagnosis Kerja : F32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik

Dianosis Banding : F33.3 Gangguan depresi berulang, episode kini berat dengan gejala
psikotik

VIII. PROGNOSIS
• Quo ad Vitam : Ad bonam
• Quo ad Sanationam : dubia ad malam
• Quo ad Fungsionam : dubia ad malam
Prognosis tersebut mengacu pada :
1. Stesor berupa masalah ekonomi
2. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri 3 kali
3. Gangguan depresi yang berat
4. Kepatuhan minum obat

11
IX. TERAPI
 Rawat inap
Indikasi : Pasien melakukan tindakan percobaan bunuh diri dengan cara meminum
cairan pembasmi nyamuk
 Medikamentosa (Psikofarmaka)
1. Risperidon 2x2 mg
2. Escitalopram 1x10 mg
3. Divalporex 1x250 mg
 Non-medikamentosa
 Psikoterapi
Psikoterapi pada pasien depresi berat dengan gejala psikotik dapat diberikan
dengan psikoterapi suportif. Setelah pasien sudah lebih tenang (tidak dipengaruhi
gejala psikotiknya), dapat dipertimbangkan psikoterapi kognitif, atau CBT atau
psikoterapi dinamik.

12
TINJAUAN PUSTAKA

 Gejala utama depresi berdasarkan PPDGJ III


a Afek depresif
b Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
c Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang
nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
 Gejala lainnya :
a Konsentrasi dan perhatian berkurang;
b Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
c Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
d Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
e Gagasan atau perbuatan membahayakn diri atau bunuh diri;
f Tidur terganggu;
g Nafsu makan berkurang.
 Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-
kurangya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat
dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.

Pedoman Diagnosis Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik (F32.2)


 semua 3 gejala utama depresi harus ada.
 Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantarnya
harus berintensitas berat.
 Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok,
maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan ban ak
gejalanya secara rinci, dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap
episode depresif berat masih dapat dibenarkan.
 Episode depresif biasanya akan harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan
tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk
menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.
 Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau
urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

13
Pedoman Diagnosis Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik (F32.3)
 Episode depresi berat yang memenuhi kriteri menurut F32.3 tersebut diatas;
 Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien
merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya
berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk
Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi
dengan afek (mood-congruent)

Pedoman Diagnosis Mania tanpa Gejala Psikotik (F30.1)


 Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup berat sampai
mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasanya
dilakukan.
 Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas
berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-
ide perihal kebesaran/”grandiose ideas” dan terlalu optimistik

Pedoman Diagnosis Mania dengan Gejala Psikotik (F30.2)


 Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1 (mania tanpa
gejala psikotik
 Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi
waham kebesaran (delusion of grandeur), iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham
kejar (delusion of persecution). Waham dan halusinasi “sesuai” dengan keadaan afek
tersebut (mood-congruent)

Pedoman Diagnosis Gangguan Afektif Bipolar, Episode kini Manik dengan Gejala
Psikotik (F31.2)
 Untuk menegakan diagnosis pasti:
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala
psiktoik (F30.2); dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu periode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif, atau campuran) di masa lampau

14
Tatalaksana Pada Depresi Berat dengan Gejala Psikotik
Beberapa tipe klinik dari episode depresi berat mempunyai berbagai respon
terhadap antidepresi. Sebagai contoh, pasien gangguan depresi berat dengan figur
atipikal (kadang disebut hysteroid dysphoria) mungkin berespons dengan MAOIS.
Litihium adalah obat lini pertama untuk pasien depresi pada bipolar I. Antidepresan
tunggal kurang efektif untuk episode depresi berat dengan ciri psikotik, biasanya dokter
mengkombinasikan antidepresan dan anti psikotik. Beberapa penelitian menunjukan
ECT efektif untuk indikasi ini, mungkin lebih efektif dibandingkan farmakoterapi
sendiri (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2017).

Anti depresi
 Golongan Trisiklik : Amytriptyline, Imipramine, Clomipramine, Tianeptine.
 Golongan Tetrasiklik : Maprotiline, Mianserin, Amoxapine.
 Golongan MAOI-Reversible ( REVERSIBLE INHIBITOR OF
MONOAMINOXYDASE-A-(RIMA) : Moclobemide
 Golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) : Sertraline,
Paroxentine,Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine, citalopram
 Golongan Atipical : Trazodone, Mirtazapine .

Pengaturan dosis berdasarkan Maslim (2014) :

Berdasarkan efek sampingnya setiap obat, untuk setiap depresi ringan dan sedang yang
datang ke pelayan faskes dapat memilih urutan pengobatan sebagai berikut :
Step 1  Golongan SSRI
Step 2  Golongan Trisiklik
Step 3  Golongan Tetrasiklik, Atypical, dan atau MAO-I

Dalam pengauran dosis perlu mempertimbangkan :

1. Onset efek primer  2-4 minggu


2. Onset efek sekunder  12 – 24 jam
3. Waktu paruh setiap obat
Ada 5 proses dalam pengaturan dosis :

1. Dosis awal  Mencapai dosis anjuran selama 1 minggu

15
Menaikan dosis perlahan selama 7 hari pertama
2. Dosis optimal  mulai dari hari ke 7, dosis awal ditingkatkan hingga hari ke 14
(mencapai dosis efektif)
3. Dosis stabil  dosis optimal diberikan selama 2-3 bulan
4. Dosis maintenance  selama bulan 3 – 6, memberikan dosis sebesar ½ dosis optimal.
5. Dosis Tappering  menurunkan dosis optimal setiap minggu selama satu bulan.
*apabila obat depresi diberhentikan total dan ada kekambuhan lagi, proses
pengobatan dimulai dari awal dan seterusnya (Maslim, 2014).

Psikologi Terapi
 Behaviour therapy
 Interpersonal Therapy
 Problem solving

Penatalaksanaan Psikotik
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan
kemungkinan lebih besar penderita menuju ke kemunduran mental.
A. Farmakoterapi
Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah untuk mengendalikan gejala aktif
dan mencegah kekambuhan. Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama: antagonis reseptor
dopamin, dan antagonis serotonindopamin.
Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama terhadap
gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua kekurangan utama. Pertama, hanya presentase
kecil pasien yang cukup terbantu untuk dapat memulihkan fungsi mental normal secara
bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan efek samping yang
mengganggu dan serius. Efek yang paling sering mengganggu aalah akatisia adan gejala lir-
parkinsonian berupa rigiditas dan tremor. Efek potensial serius mencakup diskinesia tarda dan
sindrom neuroleptik maligna.

Antagonis Serotonin-Dopamin
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal ayng minimal atau tidak ada, berinteraksi
dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan

16
mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek
samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani
gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut sebagai obat antipsikotik atipikal ini
tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen
antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya
dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif,
dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah
disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan
ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai
obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.
Pada kasus sukar disembuhkan, klozapin digunakan sebagai agen antipsikotik, pada
subtipe manik, kombinasi untuk menstabilkan mood ditambah penggunaan antipsikotik. Pada
banyak pengobatan, kombinasi ini digunakan mengobati keadaan skizofrenia
Kategori obat: Antipsikotik – memperbaiki psikosis dan kelakuan agresif.

Nama Obat

Haloperidol Untuk manajemen psikosis. Juga untuk saraf motor dan suara pada

(Haldol) anak dan orang dewasa. Mekanisme tidak secara jelas ditentukan,
tetapi diseleksi oleh competively blocking postsynaptic dopamine
(D2) reseptor dalam sistem mesolimbic dopaminergic; meningkatnya
dopamine turnover untuk efek tranquilizing. Dengan terapi
subkronik, depolarization dan D2 postsynaptic dapat memblokir aksi
antipsikotik.

Risperidone Monoaminergic selective mengikat lawan reseptor D2 dopamine

(Risperdal) selama 20 menit, lebih rendah afinitasnya dibandingkan reseptor 5-


HT2. Juga mengikat reseptor alpha1-adrenergic dengan afinitas lebih
rendah dari H1-histaminergic dan reseptor alpha2-adrenergic.
Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian
pada efek ekstrpiramidal.

Olanzapine Antipsikotik atipikal dengan profil farmakologis yang melintasi

17
(Zyprexa) sistem reseptor (seperti serotonin, dopamine, kolinergik, muskarinik,
alpha adrenergik, histamine). Efek antipsikotik dari perlawanan
dopamine dan reseptor serotonin tipe-2. Diindikasikan untuk
pengobatan psikosis dan gangguan bipolar.

Clozapine Reseptor D2 dan reseptor D1 memblokir aktifitas, tetapi

(Clozaril) nonadrenolitik, antikolinergik, antihistamin, dan reaksi arousal


menghambat efek signifikan. Tepatnya antiserotonin. Resiko
terbatasnya penggunaan agranulositosis pada pasien nonresponsive
atau agen neuroleptik klasik tidak bertoleransi.

Quetiapine Antipsikotik terbaru untuk penyembuhan jangka panjang. Mampu

Seroquel melawan efek dopamine dan serotonin. Perbaikan lebih awal antipsikotik
termasuk efek antikolinergik dan kurangnya distonia, parkinsonism, dan
tardive diskinesia

Aripiprazole Memperbaiki gejala positif dan negatif skizofrenia

Abilify Mekanisme kerjanya belum diketahui, tetapi hipotesisnya berbeda dari


antipsikotik lainnya. Aripiprazole menimbulkan partial dopamine (D2) dan
serotonin (5HT1A) agonis, dan antagonis serotonin (5HT2A).

Nama Obat Sediaan Dosis Anjuran

Haloperidol (Haldol) Tab. 2 – 5 mg 5 – 15 mg/hari

Risperidone
Tab. 1 – 2 – 3 mg 2 – 6 mg/hari
(Risperdal)

Olanzapine (Zyprexa) Tab. 5 – 10 mg 10 – 20 mg/hari

Clozapine (Clozaril) Tab. 25 – 100 mg 25 – 100 mg/hari

18
Quetiapine (Seroquel) Tab. 25 – 100 mg
50 – 400 mg/hari
200 mg

Aripiprazole (Abilify) Tab. 10 – 15 mg 10 – 15 mg/hari

Profil Efek Samping


Efek samping obat anti-psikosis dapat berupa:
 Sedasi dan inhibisi psikomotor (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja
psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun).
 Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik: mulut kering, kesulitan
miksi&defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan
irama jantung).
 Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut,akathisia, sindrom parkinson: tremor,
bradikinesia, rigiditas).

DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2017. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit FK
UI.Jakarta pp.

Maslim, Rusdi. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ –
III. Jakarta: Nuh Jaya.

Maslim, R. 2014. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. 4th ed. Jakarta: FK Unika Atma Jaya.
26-61.

19