Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Industri Pelayanan Kesehatan dalam Segi Kesehatan, Ekonomi dan


Ekonomi Kesehatan

Dalam segi kesehatan, industri pelayanan kesehatan adalah suatu aktivitas


yang dikerjakan oleh setiap orang maupun organisasi yang bergerak dalam bidang
kesehatan hanya memiliki value in use dan bukannya value in exchange. Pada
umumnya keadaan itu oleh konsumen yang dalam hal ini adalah pasien, hanya
dapat ditunjukkan oleh suatu tingkat utility tertentu, misalnya perubahan dari status
kesehatannya. Dengan demikian berarti kesehatan bukanlah suatu komoditi
sedangkan pelayanan kesehatan adalah suatu komoditi.

Dalam segi ekonomi, industri pelayanan kesehatan adalah perlu adanya


aspek ekonomi seperti pendapatan merupakan syarat utama untuk dapat menikmati
pelayanan kesehatan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Faktor-
faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan antara lain, tersedianya sarana
kesehatan, keadaan lingkungan yang memadai dan mutu makanan yang di
konsumsi. Penanganan faktor tersebut harus dilakukan terarah dan terpadu dengan
memperhatikan kondisi sosial ekonomi yang berkaitan (Rahmi, 2008). Keadaan
faktor sosial ekonomi juga berpengaruh dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan
yang tersedia, seperti pendidikan, pekerjaan dan tingkat pendapatan yang diperoleh
oleh rumah tangga (Yulia, 2009)..

Dalam segi ekonomi kesehatan, industry pelayanan kesehatan adalah


kesehatan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui beberapa cara,
seperti perbaikan kesehatan seseorang akan menyebabkan pertambahan dalam
partisipasi tenaga kerja, perbaikan kesehatan dapat pula membawa perbaikan dalam
tingkat pendidikan yang kemudian menyumbang terhadap pertumbuhan ekonomi,
ataupun perbaikan kesehatan menyebabkan bertambahnya penduduk yang akan
membawa tingkat partisipasi angkatan kerja (Tjiptoherijanto,1993)

2. Ruang Lingkup Ekonomi Kesehatan dari Dimensi Mikro dan Makro

Ekonomi kesehatan berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut :


 Alokasi sumber daya diantara berbagai upaya kesehatan
 Jumlah sumber daya yang dipergunakan dalam pelayanan kesehatan
 Pengorganisasian dan pembiayaan dari berbagai pelayanan kesehatan
 Efisiensi pengalokasian dan penggunaan berbagai sumber daya
 Dampak upaya pencegahan, pengobatan dan pemulihan kesehatan pada
individu dan masyarakat

Menurut Lubis (2009) secara garis besar teori ekonomi dapat dibagi atas dua yaitu :

1) Micro Economics
Merupakan sesuatu yang spesifik dan merupakan sesuatu yang didefinisikan
sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang menganalisis bagian-bagian yang
kecil dari seluruh kegiatan perekonomian.
Hal yang berkaitan dengan ekonomi kesehatan yang dianalisis adalah :
perilaku konsumen, supply, demand, elastisitas supply dan demand , pasar,
dan sebagainya.
Dilihat dari sisi mikro terdapat aspek-aspek yang terdiri dari :
A. ASPEK PRODUKSI (Suply) contoh :
a. Menelaah biaya dari berbagai input program kesehatan misalnya
seperti sarana gedung, alat kesehatan dan tenaga kesehatan.
b. Analisis pembiayaan dari berbagai alternatif program yang dapat
memberikan gambaran tentang Cost Efficiency, Cost Efectiveness
dan Cost Utilization.
c. Menelaah aspek pembiayaan secara keseluruhan misalnya :
sumber pembiayaan kesehatan dari pemerintah, swasta, out of
pocket, berapa besarnya, kecenderungannya dan sistem
mobilisasi pembayaan kesehatan (asuransi, grant, pajak dl).
B. ASPEK KONSUMSI (Demand) :
Menelaah pola penggunaan pelayanan kesehatan dan
diferensiasinya menurut fasilitas, strata pendidikan, urban-rural,
kelompok umur, pekerjaan. Bagaimana pengaruh tarif, subsidi,
asuransi, pendapatan terhadap pola konsumsi pelayanan kesehatan.
2) Macro Economics
Merupakan sesuatu yang bersifat Agregat dan merupakan analisis atas
seluruh kegiatan perekonomian. Analisis bersifat global dan tidak
memperhatikan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh unit-unit kecil
dalam perekonomian. Menganalisis kajian sektor-sektor kesehatan dan
hubungannya dengan pembangunan ekonomi. Yang termasuk didalamnya
antara lain : Fiskal dan moneter terhadap pembiayaan kesehatan, Kebijakan
kesehatan dan lain-lain. Secara makro hubungannya secara timbal balik
dengan sektor lain, menganalisa pengaruh kebijakan dan implementasi
pembangunan sektor lain terhadap kesehatan . Contoh :
1. Hubungan adanya bendungan Aswan di Mesir dengan kejadian penyakit
schistosomiasi.
2. Pengaruh pembukaan hutan dengan kejadian Malaria di Brazil.
3. Kegiatan industri Newmont dengan keracunan mercuri.
4. Dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan dan gizi.
5. Kecenderungan pembiayaan kesehatan dengan perkembangan ekonomi
suatu negara.
6. Pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap kecukupan biaya
kesehatan.
7. Peningkatan sektor transportasi dengan kematian akibat kecelakaan.
3. Pengertian Pelayanan Kesehatan dan Ciri-ciri Pelayanan Kesehatan
Pengertian Pelayanan Kesehatan :
a. Menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo
Pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan
utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif( peningkatan
kesehatan ) dengan sasaran masyarakat.
b. Menurut Levey dan Loomba (1973)
Pelayanan Kesehatan Adalah upaya yang diselenggarakan sendiri/secara
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah, dan mencembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan peroorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.
c. Menurut Depkes RI (2009)
Pelayanan Kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atupun masyarakat.

Jadi pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan kesehatan yang


tujuan utamanya adalah promotif (memelihara dan meningkatkan kesehatan),
preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan rehabilitasi (pemulihan)
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat, lingkungan.

Ciri-ciri Pelayanan Kesehatan :


Pelayanan kesehatan berbeda dengan barang dan pelayanan ekonomi
lainya. Pelayanan kesehatan atau pelayanan medis sangat heterogen, terdiri atas
banyak sekali barang dan pelayanan yang bertujuan memelihara, memperbaiki,
memulihkan kesehatan fissik dan jiwa seorang. Karena sifat yang sangat heterogen,
pelayaanan kesehatan sulit diukur secara kuantitatif. Beberapa karakteristik khusus
pelayanan kesehatan sebagai berikut (Santerre dan Neun, 2000):

a. Intangibility
Tidak seperti mobil atau makanan, pelayanan kesehatan tidak bisa dinilai
oleh panca indera. Konsumen (pasien) tidak bisa melihat, mendengar,
membau, merasakan, mengecap pelayanan kesehatan.
b. Inseparability
Produksi dan konsumsi pelayanan kesehatan terjadi secara simultan
(bersama). Makanan bisa dibuat dulu, untuk dikonsumsi kemudian. Tindakan
operatif yang dilakukan dokter bedah pada saat yang sama digunakan oleh
pasien.
c. Inventory
Pelayanan kesehataan tidak bisa disimpan untuk digunakan pada saat
dibutuhkan oleh pasien nantinya.
d. Inkonsistensi
Komposisi dan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima pasien dari dari
seorang dokter dari waktu ke waktu, maupun pelayanan kesehatan yang
digunakan antar pasien, bervariasi.

Jadi pelayanaan kesehatan sulit diukur secara kuantitatif. Biasanya


pelayanan kesehatan diukur berdasarkan ketersediaaan (jumlah dokter atau tempat
tidur rumah sakit per 1,000 penduduk) atau penggunaan (jumlah konsultasi atau
pembedahan per kapita).(Murti,2011)

Pelayanan kesehatan juga mempunyai tiga ciri utama yaitu : uncertainty,


asymetri of information dan externality (Evans, 1984).

a. Uncertainty
Uncertainty atau ketidakpastian menunjukkan bahwa kebutuhan akan
pelayanan kesehatan tidak bisa pasti, baik waktu, tempat maupun besarnya
biaya yang dibutuhkan. Dengan ketidakpastian ini sulit bagi seseorang untuk
menganggarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan
kesehatannya. Penduduk yang penghasilannya rendah tidak mampu
menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan yang
tidak diketahui datangnya, bahkan penduduk yang relatif berpendapatan
memadai sekalipun seringkali tidak sanggup memenuhi kecukupan biaya
yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan medisnya.. Maka dalam hal ini
seseorang yang tidak miskin dapat menjadi miskin atau bangkrut mana kala
ia menderita sakit.
b. Asymetry of Information.
Sifat kedua asymetry of Information menunjukkan bahwa konsumen
pelayanan kesehatan berada pada posisi yang lemah sedangkan provider
(dokter dan petugas kesehatan lainnya) mengetahui jauh lebih banyak
tentang manfaat dan kualitas pelayanan yang dijualnya. Ciri ini juga
ditemukan oleh para ahli ekonomi kesehatan lain seperti Feldstein, Jacos,
Rappaport, dan phelps, sedangkan pada jasa kecantikan dan beras sifat
asymetry information hampir tidak nampak.
Sifat asymetry ini memudahkan timbulnya supply induce demand
creation yang menyebabkan keseimbangan pasar tidak bisa tercapai dalam
pelayanan kesehatan. Maka jangan heran jika dalam pelayanan kesehatan
supply meningkat tidak menurunkan harga dan kualitas meningkat, yang
menjadi justru sebaliknya yaitu peningkatan harga dan penurunan kualitas (
pemeriksaan yang tidak periu).
c. Externality.
Externality menunjukkan bahwa komsumsi pelayanan kesehatan tidak
saja mempengaruhi pembeli tetapi juga bukan pembeli.. Contohnya adalah
komsumsi rokok yang mempunyai resiko besar pada bukan perokok, akibat
dari ciri ini, pelayanan kesehatan membutuhkan subsidi dalam berbagai
bentuk, oleh karena pembiayaan pelayanan kesehatan tidak saja menjadi
tanggung jawab diri sendiri, akan tetapi perlunya digalang tanggung jawab
bersama ( publik ). Ciri tersebut juga dikemukakan oleh beberapa ahli
ekonomi kesehatan seperti Feldstein ( 1993 ).
Daftar Pustaka

Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.

Depkes RI, 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta

Murti, Bhisma. 2011. Ekonomi Kesehatan. FK UNS

Lubis, Ade Fatma. 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan : USU Press.

Tjiptoherijanto, Prijono. (1994). Ekonomi Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.