Anda di halaman 1dari 9

NAMA : AURIZAL RISANDY IRAWAN

NPM : 260110160131

SHIFT :D

TUGAS FARMAKOGNOSI

1. Apakah yang dimaksud senyawa tanin?

Polifenol alami merupakan metabolit sekunder tanaman tertentu, termasuk


dalam atau menyusun golongan tanin. Tanin adalah senyawa fenolik kompleks yang
memiliki berat molekul 500-3000. Tanin dibagi menjadi dua kelompok atas dasar tipe
struktur dan aktivitasnya terhadap senyawa hidrolitik terutama asam, tanin
terkondensasi (condensed tannin) dan tanin yang dapat dihidrolisis (hyrolyzable
tannin) (Naczk et al., 1994 dan Hagerman et al., 2002). Tanin adalah senyawa metabolit
sekunder yang terdapat pada beberapa tanaman. Tanin mampu mengikat protein,
sehingga protein pada tanaman dapat resisten terhadap degradasi oleh enzim protease
di dalam silo ataupun rumen (Kondo et al., 2004).

a. Secara fisik sifat tanin (Risnasari, 2002) adalah sebagai berikut:

1. Umumnya tanin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah


dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tanin bentuknya amorf dan
tidak mempunyai titik leleh.

2. Tanin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung


dari sumber tanin tersebut.

3. Tanin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas
dan mempunyai rasa sepat (astrigent).
4. Warna tanin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau
dibiarkan di udara terbuka.

5. Tanin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan


racun.

b. Secara kimia sifat tanin (Risnasari, 2002) adalah sebagai berikut:

1. Tanin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus phenol dan bersifat
koloid.

2. Semua jenis tanin dapat larut dalam air, metanol, etanol, aseton dan pelarut
organik lainnya. Kelarutannya besar, dan akan bertambah besar apabila
dilarutkan dalam air panas.

3. Dengan garam besi memberikan reaksi warna. Reaksi ini digunakan untuk
menguji klasifikasi tanin, karena tanin dengan garam besi memberikan warna
hijau dan biru kehitaman.

4. Tanin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila


dipanaskan sampai suhu (99 -102 oC).

5. Tanin dapat dihidrolisa oleh asam, basa dan enzim

2. Jelaskan pembagian senyawa tanin!

Secara kimia tanin diklasifikasikan menjadi dua golongan metabolisme, yaitu


tanin terkondensasi (proantosianidin) dan tanin terhidrolisis (galotanin) (Howell,
2004). Tanin terkondensasi terdapat di dalam paku-pakuan gimnospermae serta
tersebar luas dalam angiospermae, terutama pada jenis tumbuh-tumbuhan berkayu.
Sebaliknya tanin terhidrolisis penyebarannya terbatas pada angiospermae (Harbone,
1987).
3. Apakah perbedaan antara tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi?

Tanin pada tanaman diklasifikasikan sebagai tanin terhidrolisis dan tannin


terkondensasi. Tanin terhidrolisis merupakan jenis tanin yang mempunyai struktur
poliester yang mudah dihidrolisis oleh asam atau enzim, dan sebagai hasil hidrolisisnya
adalah suatu asam polifenolat dan gula sederhana. Golongan tanin ini dapat dihidrolisis
dengan asam, mineral panas dan enzim-enzim saluran pencernaan. Sedangkan tanin
terkondensasi, yang sering disebut proantosianidin, merupakan polimer dari katekin
dan epikatekin (Maldonado, 1994). Tanin yang tergolong tannin terkondensasi, banyak
terdapat pada buah-buahan, biji-bijian dan tanaman pangan, sementara yang tergolong
tanin terhidrolisis terdapat pada bahan non-pangan (Makkar, 1993).

a). Tanin terkondensasi

Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis. Tanin jenis ini kebanyakan
terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Nama lain dari tanin ini
adalah proantosianidin. Proantosianidin adalah polimer dari flavonoid (Tanner et.al.,
1999). Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin seperti pada Gambar 3,
senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari (a) epiccatechin dan (b) catechin
(Hagerman, 2002).
Senyawa ini jika dikondensasi maka akan menghasilkan flavonoid jenis flavan dengan
bantuan nukleofil berupa floroglusinol (Hagerman, 2002). Tanin terkondensasi banyak
terdapat dalam paku-pakuan, gymnospermae, dan tersebar luas dalam angiospermae,
terutama pada jenis tumbuhan berkayu (Robinson, 1991 dalam Sa’adah 2010)

b). Tanin Terhidrolisis

Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan


oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat
atau asam klorida (Hagerman, 2002). Tanin terhidrolisis adalah turunan dari asam galat
(Tanner et.al., 1999). Struktur asam galat ditunjukkan pada Gambar 4.
Salah satu contoh jenis tanin ini adalah galotanin yang merupakan senyawa gabungan
karbohidrat dan asam galat seperti yang terlihat pada Gambar 5.

Selain membentuk galotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang
disebut elagitanin. Elagitanin sederhana disebut juga ester asam hexahydroxydiphenic
(HHDP) (Hagerman, 2002). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galat jika
dilarutkan dalam air yang dapat dilihat pada Gambar 6.
Tanin terhidrolisis biasanya berupa senyawa amorf, higroskopis, dan berwarna coklat
kuning yang larut dalam air (terutama air panas) membentuk larutan koloid bukan
larutan sebenarnya (Harborne, 1996).

4. Tuliskan contoh sumber tanaman, nama tanin dan penggunaannya dari: A.


Tanin terkondensasi (proantosianidin) B. Galotanin C. Elagitanin

A. Tanin terkondensasi (proantosianidin)

Wetwitayakyung (2006) dan Takahashi et al.(1999) melaporkan bahwa ekstrak


biji pinang memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan biji pinang tidak
hanya ditentukan oleh kadar tanin dan fenol total yang terkandung, tetapi juga
ditentukan oleh senyawa-senyawa fenol di antaranya proantosianidin. Senyawa
proantosianidin diketahui memiliki sifat antimikrob, pelindung tanaman terhadap sinar
ultraviolet, antioksidan, antimutagen, antitumor, anticendawan, dan sebagai pelindung
kapiler. Oleh karena itu, adanya penghambatan pertumbuhan koloni patogen diduga
merupakan aktivitas dari proantosianidin yang terkandung dalam ekstrak.

B. Galotanin

Kersen merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa antibakteri.


Tanin, flavonoid, dan senyawa-senyawa etanolik dalam daun kersen adalah senyawa-
senyawa yang diduga memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Penelitian ini
menggunakan EDK 10% yang memiliki kemampuan menghambat kerja enzim GTF
bakteri S. mutans. Tanin memiliki kemampuan bakteriostatik dan bakteriosid,
gallotanin merupakan bagian dari senyawa tanin terhidrolisis yang merupakan
komponen aktif senyawa etanolik. Gallotannin mampu menghambat pembentukan
glukosa dari bakteri S. mutans dan S. sobrinus (Wu Yuan, 1998). Mekanisme
antibakteri tanin antara lain menghambat enzim ektraseluler bakteri, mengambil alih
substrat yang dibutuhkan pada pertumbuhan bakteri, atau bekerja langsung pada
metabolisme dengan cara menghambat fosforilasi oksidas (Scalbert, 1991). Dalam
penelitian (Isnarianti, 2013)

C. Elagitanin
Buah delima (Punica granatum L.) merupakan buah yang banyak dikonsumsi
sebagai buah segar maupun olahan oleh masyarakat. Berbagai laporan menunjukkan
bahwa buah delima juga mempunyai manfaat kesehatan yang baik. Buah delima
mengandung senyawa antioksidan polifenol, meliputi elagitanin (terhidrolisis),
antosianin, galotanin, dan asam elagik yang terbukti dapat menjaga kebersihan mulut,
kesehatan kulit, mensintesis kolesterol, membersihkan radikal bebas pembuluh darah,
dan mencegah kanker prostat. Selain sebagai antioksidan, uji in vitro dan in vivo
menunjukkan bahwa buah delima juga dapat berfungsi sebagai antidiabetes,
hipolipidemia, antikarsinogenik, antibakteri, antiinflamasi, dan antivirus (Nge ST,
2015)
DAFTAR PUSTAKA

Ahadi, M. R. 2003. Kandungan Tanin Terkondensasi dan Laju Dekomposisi pada


Serasah Daun Rhizospora mucronata lamk pada Ekosistem Tambak
Tumpangsari, Purwakarta, Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor,
Bogor .

Hagerman, A.E. 2002. Condensed Tannin Structural Chemistry. Department of


Chemistry and Biochemistry, Miami University, Oxford, OH 45056.

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan. Bandung : ITB Press.

Harborne, J.B. 1996. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisa


Tumbuhan. Bandung : ITB Press.. Hal: 123-129.

Howell, A. B. 2004. Hydrozable Tannin Extracts from Plants Effective at Inhibiting


Bacterial Adherence to Surfaces. United States Patent Application no.
20040013710.

Isnarianti, R., Wahyudi, I.A. and Puspita, R.M., 2013. Muntingia calabura L Leaves
Extract Inhibits Glucosyltransferase Activity of Streptococcus mutans.
Journal of Dentistry Indonesia, 20(3), pp.59-63.

Kondo, M., K. Kita, & H. Yokota. 2004. Feeding value to goats of whole crop oat
ensiled with green tea waste. Anim. Feed. Sci. Technol. 113: 71-81.

Makkar, H. P. S. 1993. Antinutritional Factor in Food for Livestock in Animal


Producting in Developing Country. Britsh Society of Animal Production.

Maldonado, R. A. P. 1994. The Chemical Nature and Biologycal Activity of Tannins in


Forages Legumes Fed to Sheep and Goat. Thesis. Departement of
Agriculture Australia. University of Quensland Australia, Australia.
Naczk, M., T. Nichols, D. Pink, and F. Sosulski, 1994. Condensed tannins in canola
hulls. J. Agric. Food Chem. 42: 2196-2200.

Nge, S.T., Martosupono, M. and Karwur, F.F., 2015. The Polyphenolics and Health
Effects of Pomegranate. Sains Medika, 6(1), pp.30-37.

Risnasari, I .2002. Tanin. http://library.usu.ac.id/download/fp/Hutan-Iwan6.pdf.


[Diakses tanggal 30 November 2017].

Robinson, T. 1991. Kandungan Senyawa Organik Tumbuhan Tinggi. Diterjemahkan


oleh Prof. Dr. Kosasih Padmawinata. Bandung : ITB Press.

Scalbert A. 1991. Antimicrobial Properties Of Tannins Phytochemistry.


INRA.;30:3875 83.

Takahashi T, Kamiya T, Hasegawa A, Yokoo Y. 1999. Procyanidin oligomers


selectively and intensively promote proliferation of mouse hair epithelial
cells in vitro and active hair follicle growth in vivo. J Invest Dermatol.
112(3):310–316

Tanner, G.J., S. Abrahams, and P.J. Larkin. 1999. Biosynthesis of Proanthocyanidins


(Condensed Tannins). Canberra : CSIRO Division of Plant Industry.

Wetwitayakyung P, Phaechamud T, Limmatvapirat C, Keokitichai S. 2006. The Study


of Antioxidant Capacity in Various Parts of Areca cathecu L. Naresuan Univ
J. 14(1):1–14.

Wu Yuan CD, Chen CY, dan Wu RT. 1998. Gallotannis Inhibit Growth, Water-
Insoluble Glucan Synthesis, and Aggregation of Mutans Streptococci. J Dent
Res. 67:51-5.17.

Anda mungkin juga menyukai