Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROPALEONTOLOGI

BIOZONASI

Disusun Oleh:

Faris Putra Norfiyan 21100117140055


Geiga Arya Rasendriya 21100117140062
Gracia Megasari Mujianto 21100117120002
Imanuel Pratama Bayuaji 21100117120019
Jalu Sri Nugraha 21100117130072
Revlindah Adha Siahaan 21100117120003

LABORATORIUM SUMBER DAYA ENERGI,


SEDIMEN, DAN PALEONTOLOGI
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
APRIL 2019
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan praktikum Mikropaleontologi acara Biozonasi yang disusun oleh
kelompok 7 telah disahkan pada:
hari :
tanggal :
waktu :
Sebagai syarat untuk memenuhi laporan praktikum Mikropaleontologi

Semarang, 29 April 2019


Asisten Acara, Praktikan,

Nur Hanifah Kelompok 7


NIM : 2110011512009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Maksud dan Tujuan


 Melakukan determinasi fosil foraminifera bentonik dan planktoik
sehingga dapat membedakan dan mengelompokkan setiap fosil
foraminifera
 Melakukan analisis fosil foraminifera bentonik sehingga dapat
menentukan kedalaman laut atau batimetri
 Melakukan analisis foraminifera Plantonik agar dapat menentukan umur
lapisan batuan
1.2 Waktu dan Tempat Praktikum
Pengukuran stratigrafi pada praktikum mikropaleontogi ini dilakukan
pada:
hari : Senin dan Selasa
tanggal : 22 dan 23 April 2019
tempat : Ruang 202 Gedung Pertamina Sukowati, Universitas Diponegoro
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Biostratigrafi
Biostratigrafi adalah pengelompokan tubuh suatu batuan dengan
berdasarkan kandungan fosil. Satuan dasar dalam biostratigrafi adalah zona
atau biozona (Sandi Stratigrafi Indonesia,1996) sebagai berikut :
1. Zona Kumpulan adalah sejumlah lapisan yang terdiri oleh kumpulan
alamiah fosil yang khas atau kumpulan satu jenis fosil. Zona ini dapat
membantu dalam penunjuk ligkungan purba dan penciri waktu. Sebagai
contoh, berkut penentuan zona kumpulan, suatu lapisan batuan mengandung
sekumpulan fosil A, maka bisa disebut zona Kumpulan A.

Gambar 2.1 Biostratigrafi Zona Kumpulan

2. Zona Kisaran adalah kisaran stratigrafi unsiur terpilih dari seluruh fosul
yang ada pada tubuh lapisan. Kegunaan Zona Kisaran adalah untuk korelasi
tubuh-tubuh lapisan batuan dan sebagai acuan untuk penempatan batuan-
batuan dalam sekala waktu geologi. Batas dan kelanjutan Zona Kisaran
ditentukan oleh penyebaran tegak dan mendatar takson (takson-takson)
yang mencirikannya pada zona tersebut.
Gambar 2.2 Biostratigrafi Zona Kisaran

3. Zona Puncak adalah tubuh lapisan batuan yang menunjukkan adanya


perkembangan yang meningkat atau maksimum pada suatu takson tertentu.
Kegunaan Zona Puncak dalam hal tertentu untuk menunjukkan kedudukan
kronostratigrafi tubuh lapisan batuan, petunjuk lingkungan pengendapan
purba dan iklim purba.

Gambar 2.3 Biostratigrafi Zona Puncak

4. Zona Selang adalah selang pemunculan awal dan akhir dari dua takson
penciri pada statigrafi. Kegunaan Zona Selang adalah untuk korelasi tubuh-
tubuh lapisan batuan. Batas atas atau bawah suatu Zona Selang ditentukan
oleh pemunculan awal (First Appreance Datum) atau akhir (Late Appreance
Datum) dari takson-takson penciri..
Gambar 2.4 Biostratigrafi Zona Selang

5. Zona Rombakan adalah tubuh lapisan batuan yang ditandai oleh banyaknya
fosil rombakan, berbeda jauh daripada tubuh lapisan batuan di atas dan di
bawahnya. Zona rombakan berhubungan dengan penurunan muka air laut
relatif yang cukup besar, baik lokal maupun regional.
6. Zona Padat ialah tubuh lapisan batuan yang ditandai oleh melimpahnya fosil
yang frekuensinya berbeda jauh dengan lapisan batuan diatasnya ataupun
dibawahnya.

Fosil Rombakan adalah fosil yang mengalami perpindahan setelah


terjadidnya pembatuan. Fosil rombakan ini tidak dipergunakan untuk menyusun
biostratigrafi, tetapi keberadaannya pada batuan harus tetap dicatat untuk
kepentingan analisis yang lain (proses tektonik, erosi dll). Macam-macam fosil
rombakan :
1. Reworked Fossil, adalah fosil dari yang berasal dari batuan yang lebih tua,
yang terkikis, terangkut dan terendapkan kembali dalam endapan yang
berumur lebih muda. Hal ini terjadi karena fosil ini memiliki daya tahan
yang tinggi sehingga mampu bertahan terhadap proses sedimentasi ulang
yang terjadi.
2. Introduced fossil (infiltrated fossil) adalah fosil yang berumur lebih muda
yang terdapat pada batuan yang lebih tua. Hal ini dapat terjadi karena proses
infiltrasi larutan dari batuan yang lebih muda yang membawa tubuh fosil ke
lapisan batuan di bawahnya yang berumur lebih tua, melalui suatu rekahan.
Selain itu dapat pula terjadi pada saat pengambilan sampel bawah
permukaan melalui pemboran, akibat terjadi runtuhan batuan di atasnya
yang kemudian mengendapkan fosil yang berumur lebih muda pada batuan
yang berumur lebih tua di bawahnya.

2.2 Foraminifera
Foraminifera adalah organisme yang hidup di laut, bersifat uniseluler,
mempunyai satu atau lebih kamar – kamar yang terpisah satu sama lainnya oleh
sekat – sekat (septa) yang ditembusi oleh lubang – lubang halus (foramen).
foraminifera terbagi tas dua jenis yaitu :

a. Foraminifera Bentonik
Foraminifera bentonik adalah Foraminifera yang memiliki habitat
pada dasar laut dengan yang hidup dengan cara merambat atau merayap
(vagile) dan menambat (sesile). Bagian tubuh yang digunakan foraminifera
bentonik untuk menambatkan dirinya disebut sebagai pseudopodia.
Memiliki bentuk test yang beragam dan lebih konpleks daripada forminifera
planktonik.

Gambar 2.5 Sayatan penampang foraminifera rotaloid yang memperlihatkan


struktur utama tubuhnya (Jones, 1956).
Keterangan :
 Dinding : lapisan terluar dari cangkang foraminifera yang berfungsi
melindungi bagian dalam tubuhnya. Dapat terbuat dari zat-zat organik
yang dihasilkannya sendiri atau material asing yang diambil dari
sekelilingnya.
 Kamar : bagian dalam foraminifera tempat protoplasma berada.
 Proloculum : kamar utama pada cangkang foraminifera.
 Septa : sekat-sekat yang memisahkan antar kamar.
 Sutura / sutur : garis pertemuan antara septa dengan dinding cangkang.
 Aperture : lubang utama pada cangkang foraminifera yang fungsinya
sebagai mulut atau juga jalan keluarnya protoplasma.
Bentuk test adalah bentuk keseluruhan dari cangkang foraminifera,
sedangkan bentuk kamar merupakan bentuk dari masing-masing kamar
pembentuk test foraminifera. Komposisi cangkang foraminifera terbagi atas
lima jenis, yaitu :
 Cangkang khitinan, yaitu cangkang yang terbuat dari zat khitin atau
tandung yang bersifat fleksibel dan transparan
 Cangkang aglutinin, yaitu cangkanga yang terbuat dari material asing
dan kemudian direkatkan oleh semen
 Cangkang silikaan, yaitu cangkang yang tersusun atas silikaan yang
berasal dari organisme itu sendiri
 Cangkang gampingan, terbagi menjadi dua yaitu porselen dan hyalin.
Dinding porselen terbuat dari zat gampingan, tidak memiliki pori,
mempunyai kenampakan seperti porselen, dengan sinar langsung
(episkopik) benwarna opak (buram) dan putih, dengan sinar transmisi
(diaskopik) berwarna amber. Dinding hyalin ini merupakan dinding
gampingan yang bersifat bening dan transparan, memiliki pori.
Umumnya, yang berpori halus dianggap lebih primitif daripada yang
berpori kasar
Pada umumnya, foraminifera membentuk cangkang yang terdiri atas
satu atau beberapa kamar. Berdasarkan jumlah kamar yang dimiliki oleh
foramnifera, terbagi atas dua bagian yaitu monothalamus dan polythalamus.
Polythalamus terbagi menjadi lima bagian yaitu:
 Spiral
 Uniformed
 Biformed
 Triformed
 Multiformed
Kegunaan foraminifera bentonik yaitu :
 Menentukan umur relatif batuan
 Menentukan paleokekologi dan paleobogeografi
 Paleoklimatologi
 Sebagai fosil kedalaman

b. Foraminifera Planktonik
Foraminifera planktonik adalah foram yang hidupnya mengambang,
baik di permukaan maupun di tubuh air laut di bawah permukaan.
Berdasarkan jumlah kamarnya terbagi atas dua yaitu :
 Monothalamus
 Polythalamus

Kegunaan foraminifera planktonik yaitu :


 Menentukan umur relatif batuan
 Menentukan paleokekologi dan paleobogeografi
 Paleoklimatologi
c. Perbedaan Foraminifera Planktonik dan Bentonik
 Bentuk test foraminifera bentonik lebih bervariasi, sementara
foraminifera planktonik terbatas dari subglobular-globular
 Foraminifera bentonik memiliki komposisi test yang bervariasi, tetapi
foraminifera planktonik semuanya memiliki komposisi test hyalin
 Jumlah kamar pada planktonik umumnya polythalamus, trochospiral.
Sementara foraminifera bentonik bervariasi mulai dari monothalamus
sampai polythalamus.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
 Alat Tulis
 Buku Catatan Lapangan
 Kompas
 Palu sedimen
 Meteran
 Kantong sampel
 OHP
 Saringan Mess
 Jarum
 Mikroskop
 Preparat
 Baskom
 Kamera
3.1.2 Bahan
 Kolom MS
 Tabel distribusi
 Larutan H2O2
 Air
 Sampel
3.2 Langkah Pengerjaan
3.2.1 Pengolahan Data Fosil Foraminifera Planktonik
 Lakukan pemisahan data fosil foraminifera planktonik dan bentonik
 Buat tabel yang berisi konten berupa kode sample, nama fosil dan
kelimpahannya, biodatum, pembagian zona dan umur (tabel 1)
 Buat tabel kedua yan berisi nama fosil (kode) serta umur. Hal ii
dilakukan terhadap pembagian zona sebelumnya (tabel 2)
 Dari zona yang telah dibagi, tentukan umur fosil yang termasuk
kedalam zona tersebut.
 Blok daerah yang teroverlay
 Jika terdapat umur yang terlalu tua atau terlalu muda, data diabaikan
semnetara, dan di pertimbakngkan saat melakukan interpretasi
 Tentukan umur dari tiap zona dan plotkan pada tabel 1
 Lakukan interpretasi
3.2.2 Pengolahan Data Fosil Foraminifera Bentonik
 Lakukan pemisahan data fosil foraminifera planktonik dan bentonik
 Buat tabel yang berisi konten berupa kode sample, nama fosil dan
kelimpahannya, berdasarkan pembagian lingkungan pengendapannya
(tabel 1)
 Dan dari setiap sampel, tentukan kedalaman fosil
 Blok daerah yang teroverlay
 Tentukan kedalaman dari tiap sampel yang sudah dideterminasi setiap
blok yang teroverlay
 Lakukan interpretasi
3.3 Diagram Alir
3.3.1 Diagram Alir Determinasi Foraminifera Planktonik

MULAI

Memisahkan data planktonik dan bentonik

Membuat tabel untuk menentukan fad-lad, dan


pembagian selang

Membuat tabel plotting umur dari fosil yang ada pada


tiap selang atau zona

Menentukan umur berdasarkan hasil overlap umur tiap


fosil

Selesai

3.3.2 Diagram Alir Determinasi Foraminifera Bentonik

MULAI

Memisahkan data planktonik dan bentonik

Membuat tabel untuk menentukan kedalaman dari


masing-masing sampel

Membuat tabel plotting sampel dengan kedalamannya

Menentukan kedalaman dan interpretasinya

Selesai