Anda di halaman 1dari 14

BAB I GEOLOGI

1.1 Pengertian Geologi


Secara Etimologis Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Geo yang artinya bumi dan Logos yang
artinya ilmu, Jadi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi. Secara umum Geologi adalah ilmu yang
mempelajari planet Bumi, termasuk Komposisi, keterbentukan, dan sejarahnya.
Karena Bumi tersusun oleh batuan, pengetahuan mengenai komposisi, pembentukan, dan sejarahnya
merupakan hal utama dalam memahami sejarah bumi. Dengan kata lain batuan merupakan objek utama
yang dipelajari dalam geologi.

1.2 Ruang Lingkup Geologi


Secara keseluruhan bumi ini terdiri dari beberapa lapisan yaitu :
1. Atmosfer, yaitu lapisan udara yang menyelubungi Bumi
2. Hidrosfer, yaitu lapisan air yang berada di permukaan Bumi
3. Biosfer, yaitu Lapisan tempat makhluk hidup
4. Lithosfer, yaitu lapisan batuan penyusun Bumi
Ruang lingkup pembelajaran geologi yaitu lithosfer yang merupakan lapisan batuan penyusun bumi dari
permukaan sampai inti bumi. Geologi juga mempelajari benda-benda luar angkasa, dan bukan tak
mugkin suatu saat nanti kita dapat mengetahui keadaan geologi bulan misalnya.

Cabang-cabang ilmu geologi


Kajian geologi memiliki ruang lingkup yang luas, di dalamnya terdapat kajian-kajian yang kemudian
berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri walaupun sebenarnya ilmu-ilmu tersebut tidak dapat
dipisahkan dan saling menunjang satu sama lain. ilmu-ilmu tersebut yaitu :
1. Mineralogi, yaitu ilmu yang mempelajari mineral, berupa pendeskripsian mineral yang meliputi
warna, kilap, goresan, belahan, pecahan dan sifat lainnya.
2. Petrologi, yaitu ilmu yang mempelajari batuan, didalamnya termasuk deskripsi,klasifikasi dan
originnya.
3. Sedimentologi, yaitu ilmu yang mempelajari batuan sediment, meliputi deskripsi, klasifikasi dan
proses pembentukan batuan sediment.
4. Stratigrafi, yaitu ilmu tentang urut-urutan perlapisan batuan, pemeriannya dan proses
pembentukannya.
5. Geologi Struktur, adalah ilmu yang mempelajari arsitektur kerak bumi dan proses pembentukannya.
6. Palentologi, yaitu ilmu yang mempelajari aspek kehidupan masa lalu yang berupa fosil. Paleontology
berguna untuk penentuan umur dan geologi sejarah.
7. Geomorfologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk bentang alam dan proses0proses pembentukan
bentang alam tersebut. Ilmu ini berguna dalam menentukan struktur geologi dan batuan penyusun
suatu daerah.
8. Geologi Terapan, merupakan ilmu-ilmu yang dikembangkan dari geologi yang digunakan untuk
kepentingan umat manusia, diantaranya Geologi Migas, Geologi Batubara,Geohidrologi, Geologi Teknik,
Geofisila, Geothermal dan sebagainya.
BAB II STRUKTUR BUMI

2.1 Kedudukan Bumi dalam jagat Raya


Sampai saat ini bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat mendukung kelangsungan hidup
seluruh makhluk, diantara planet-planet anggota tata-surya lainnya. Oleh karenanya pengetahuan
mengenai bumi dianggap sangat vital guna kelngsungan hidup penhhuninya termasuk manusia.
Bumi merupakan anggota tata-surya bersama 8 planet lainnya yang sama sama mengelilingi matahari
dengan waktu tempuh yang berbeda-beda sesuai dengan jari-jari lintasannya. Bumi berjarak rata-rata
150 juta km terhadap Matahari dan mengelilingi Matahari selama 365 hari, yang dijadikan dasar system
kalender. Anggota tata-surya secara lengkap secara berturut turut yaitu: Matahari sebagai pusat,
Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto.
Tata-surya merupakan bagian dari suatu galaksi yang dinamakan galaksi bima sakti (Milky Way).
Diameter galaksi bima sakti sekitar 80.000-100.000 tahun cahaya.
Di jagat raya ini masih banyak galaksi yang belum didiketahui yang jaraknya kemungkinan bisa jutaan
tahun cahaya. Dari data-data ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ruang lingkup ilmu kita masih
sangat kecil bila dibandingkan dengan luasnya jagat raya. Ini juga merupakan bukti bahwa Alloh Maha
Besar, Maha Mengetahui atas segalanya dan kita tidak sepatutnya sombong dengan pengetahuan kita
yang sangat sedikit ini.

2.2. Struktur dan Komposisi Bumi


Berdasarkan gelombang seismic struktur internal bumi dapat dibedakan menjadi tiga komponen utama,
yaitu inti (core), mantel (mantle) dan kerak (crust).

Gambar 2.1 Struktur Bumi


Inti bumi (core)
Dipusat bumi terdapat inti yang berkedalaman 2900-6371 km. Terbagi menjadi dua macam yaitu inti
luar dan inti dalam. Inti luar berupa zat cair yang memiliki kedalaman 2900-5100 km dan inti dalam
berupa zat padat yang berkedalaman 5100-6371 km. Inti luar dan inti dalam dipisahkan oleh Lehman
Discontinuity.
Dari data Geofisika material inti bumi memiliki berat jenis yang sama dengan berat jenis meteorit logam
yang terdiri dari besi dan nikel. Atas dasar ini para ahli percaya bahwa inti bumi tersusun oleh senyawa
besi dan nikel.
Mantel bumi (mantle)
Inti bumi dibungkus oleh mantel yang berkomposisi kaya magnesium. Inti dan mantel dibatasi oleh
Gutenberg Discontinuity. Mantel bumi terbagi menjadi dua yaitu mantel atas yang bersifat plastis
sampai semiplastis memiliki kedalaman sampai 400 km. Mantel bawah bersifat padat dan memiliki
kedalaman sampai 2900 km.
Mantel atas bagian atas yang mengalasi kerak bersifat padat dan bersama dengan kerak membentuk
satu kesatuan yang dinamakan litosfer. Mantel atas bagian bawah yang bersifat plastis atau semiplastis
disebut sebagi asthenosfer.

Kerak bumi (crust)


Kerak bumi merupakan bagian terluar lapisan bumi dan memiliki ketebalan 5-80 km. kerak dengan
mantel dibatasi oleh Mohorovivic Discontinuity. Kerak bumi dominan tersusun oleh feldsfar dan mineral
silikat lainnya. Kerak bumi dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
Kerak samudra, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si, Fe, Mg yang disebut sima. Ketebalan kerak
samudra berkisar antara 5-15 km (Condie, 1982)dengan berat jenis rata-rata 3 gm/cc. Kerak samudra
biasanya disebut lapisan basaltis karena batuan penyusunnya terutama berkomposisi basalt.

Gambar 2.2 Penampang vertikal Kerak Samudra

Kerak benua, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si dan Al, oleh karenanya di sebut sial. Ketebalan
kerak benua berkisar antara 30-80 km (Condie !982) rata-rata 35 km dengan berat jenis rata-rata sekitar
2,85 gm/cc. kerak benua biasanya disebut sebagai lapisan granitis karena batuan penyusunya terutama
terdiri dari batuan yang berkomposisi granit.
Disamping perbedaan ketebalan dan berat jenis, umur kerak benua biasanya lebih tua dari kerak
samudra. Batuan kerak benua yang diketahui sekitar 200 juta tahun atau Jura. Umur ini sangat muda
bila dibandingkan dengan kerak benua yang tertua yaitu sekitar 3800 juta tahun. Penyebab perbedaan
umur ini akan dibahas pada bab selanjutnya.

Gambar 2.3 Kelimpahan berbagai unsur di kerak bumi

BAB III TEORI TEKTONIK LEMPENG

3.1. Sejarah Teori Tektonik Lempeng


1. Continental drift (Wegener, 1912)
2. Convection current of mantle (Holmes, 1931)
3. Sea-floor mapping (Heezen, Tharp, Ewing, 1959-1965)
4. Sea-floor spreading (Dietz, Hess, 1961-1962)
5. Symmetric magnetic stripping across mid-oceanic ridge (Vine and Matthews, 1963)
6. Transform fault (Wilson, 1965)
7. Global seismic zones (Lynn and Sykes, 1968)
8. Global mountain belts (Dewey and Bird, 1970)
9. New Global Tectonic - Plate Tectonic Theory (late 1967-early 1970)

3.2. Lempeng (Plates)


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa bagian terluar dari lapisan bumi adalah kerak bumi yang terbagi
menjadi kerak samudra dan kerak benua. Dibawah kerak terdapat lapisan yang disebut mantel, zona
pemisah antara kerak dengan mantel disebut Mohorovivic discontinuity. Lapisan mantel atas bagian
atas merupakan bagian yang padat, akan tetapi pada kedalaman sekitar 70-80 km terjadi penurunan
kecepatan gelombang seismic (low velocity zone), hal ini membuktikan bahwa lapisan ini merupakan
lapisan yang cair liat. Kerak bumi beserta mantel atas bagian atas yang padat menjadi satu kesatuan
yang disebut litosfer, sedangkan lapisan cair liat dibawahnya disebut sebagai astenosfer.
Litosfer tersebut mengapung diatas lapisan astenosfer dan terpotong potong menjadi beberapa keratan
yang disebut lempeng (plates). Lempeng lempeng tersebut bergerak satu sama lain dengan kecepatan
yang berbeda-beda dan terjadi interaksi yang menyebabkan terjadinya kejadian-kejadian geologi seperti
pembentukan gunung api, gempa bumi, pembentukan struktur geologi, pembentukan batuan dan
kejadian geologi lainnya. Walaupun kecepatan rata-rata lempeng tersebut hanya sekitar 7cm/tahun dan
kita tidak bisa merasakannya, tetapi dengan waktu berjuta-juta tahun akan menyebabkan kejadian yang
berarti seperti kejadian geologi yang disebutkan sebelumnya. Misalkan kecepatan lempeng 5cm/tahun
dan waktunya 50 juta tahun maka lempeng tersebut akan bergerak sejauh 2500 km. Dalam kejadian-
kejadian geologi waktu yang diperlukan cukup panjang yaitu dengan satuan juta tahun. waktu ini
disusun dalam skala waktu geologi.

Gambar 3.1 Skala waktu geologi


Contoh lempeng-lempeng yang besar diantaranya, lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, lempeng Amerika
Utara, lempeng Amerika Selatan, Lempeng Indo Australia dan Lempeng Afrika.

Gambar 3.2 Lempeng-lempeng di Bumi

Batas lempeng
Sudah disebutkan bahwa antara satu lempeng dengan lempeng lainnya yang berdampingan akan terjadi
interaksi pada batas lempengnya, jenis interaksi yang terjadi yaitu :
Batas Divergen
Batas Divergen adalah batas dimana dua buah lempeng atau lebih saling menjauh, gaya yang bekerja
pada batas ini adalah gaya tarikan (tensional). Hal ini mengakibatkan lempeng saling menjauh dan
mengakibatkan naiknya magma dari astenosfer dan terjadilah pembentukan kerak baru dalam hal ini
kerak samudra.
Jika kejadian ini berlangsung tanpa adanya penunjaman kembali lempeng di sisi yang lain maka dapat
dibayangkan bumi ini akan terus membesar. Contoh batas divergen yaitu Mid Atlantic Ridge.

Gambar 3.3 Batas Divergen

Batas Konvergen
Batas Konvergen yaitu batas dimana dua buah lempeng saling mendekat, hal ini mengakibatkan
terjadinya subduksi atau kolisi. Gaya yang timbul pada interaksi ini yaitu gaya kompresional.
• Subduksi
Bila lempeng samudra dengan lempeng benua terjadi interaksi jenis ini maka lempeng samudra akan
menunjam kebawah lempeng benua. Hal ini terjadi karena berat jenis dari lempeng samudra lebih berat
dari lempeng benua sehingga lempeng benua seperti menunggang atau mengapung. Hal inilah yang
menyebabkan batuan di kerak benua umurnya lebih tua dari umur batuan di kerak samudra.
Akibat kejadian ini akan terjadi kejadian kejadian geologi seperti pembentukan jalur gunung api pada
kerak yang menunggangi dalam hal ini kerak benua, yang diakibatkan peleburan kerak samudra yang
menunjam sehingga memicu pembentukan magma yang kemudian naik dan membentuk gunung api.
Selain itu akan terjadi berbagai macam struktur geologi seperti sesar dan lipatan yang diakibatkan gaya
kompresional dari interaksi tersebut. Contoh interaksi ini yaitu bagian Barat Sumatera dan Selatan Jawa.

Gambar 3.4 Batas Konvergen Lempeng Samudra dengan Lempeng Benua

Bila lempeng samudra dengan lempeng samudra terjadi interaksi konvergen maka salah satu lempeng
akan menunjam. Hal ini akan mengakibatkan pembentukan jalur kepulauan gunungapi (island arc) pada
lempeng yang menunggangi. Contoh interaksi ini yaitu kepulauan Jepang

Gambar 3.5 Batas Konvergen Lempeng Samudra dengan Lempeng Samudra

• Kolisi
Apabial lempeng benua bertemu dengan lempeng benua maka lempeng tersebut tidak ada yang
tertunjam karena keduanya sama-sama ringan, hal ini mengakibatkan pembentukan pegunungan lipatan
yang biasanya sangat tinggi. Contoh yang paling nyata yaitu pegunungan himalaya yang diakibatkan
interaksi antara lempeng Eurasia dengan India.
Gambar 3.6 Batas Konvergen Lempeng benua dengan lempeng benua

Gambar 3.7 Pembentukan Himalaya

Sesar Transform
Yaitu batas antara lempeng yang saling berpapasan, biasanya batas ini terjadi karena batas konvergen
yang tidak lurus.

Gambar 3.7 Batas-batas Lempeng

BAB IV BATUAN

4.1 Pengertian Batuan


Batuan adalah agregat padat dari mineral, atau kumpulan yang terbentuk secara alami yang tersusun
oleh butiran mineral, gelas, material organik yang terubah, dan kombinasi semua komponen tersebut.
Mineral adalah zat padat anorganik yang mempunyai komposisi kimia tertentu dengan susunan atom
yang teratur, yang terjadi tidak dengan perantara manusia dan tidak berasal dari tumbuh-tumbuhan dan
hewan, dan dibentuk oleh alam (Warsito Kusumoyudo, 1986). Kristal adalah zat padat yang mempunyai
bentuk bangun yang beraturan yang terdiri dari atam-atom dengan susunan yang teratur.
Berzelius mengklasifikasikan mineral menjadi 8 golongan, yaitu:
1. Elemen native, contohnya emas, perak, tembaga dan intan
2. Sulfida, contohnya Galena, pirit
3. Oksida dan Hidroksida, contohnya korondum
4. Halida, contohnya Halite
5. Karbonat, Nitrat, Borat, Lodat, contohnya Kalsit
6. Sulfat, Khromat, Molibdenat, dan Tungstat, contohnya Barit
7. Fosfat, Arenat dan Vanadat, contohnya Apatit
8. Silikat, contohnya kuarsa, Feldspar, Piroksen.
Mineral memiliki sifat-sifat khusus yang dapat kita jadikan sebagai penciri mineral tertentu. Sifat-sifat
mineral diantaranya
1. Warna,
2. Goresan,
3. Kilap,
4. Belahan,
5. Pecahan
6. Kekerasan.

Tabel Kekerasan Mineral

Kekerasan Mineral
1 Talk
2 Gipsum
3 Kalsit
4 Fluorit
5 Apatit
6 Ortoklas
7 Kuarsa
8 Topas
9 Korondum
10 Intan

4.2 Pembagian Batuan


Berdasarkan pembentukannya batuan dibedakan menjadi tiga yaitu batuan beku, sedimen, dan
metamorf. Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi (pembekuan) magma.
Batuan sediment terbentuk dibawah kondisi permukaan dan terdiri dari kumpulan (1) presipitasi kimia
dan biokimia; (2) fragmen atau butiran batuan, mineral dan fosil; (3) kombinasi material-material
tersebut.
Batuan metamorf adalah batuan yang asalnya adalah batuan beku, sediment atau metamorf yang
berubah secara mineralogy, tekstur atau keduanya tanpa mengalami peleburan yang diakibatkan oleh
panas, tekanan, atau cairan kimia aktif. Panas dan tekanan disini berbeda dengan kondisi dipermukaan.

Gambar 4.1 Siklus Batuan

4.3 Penyebaran Batuan di Bumi


Bumi adalah tubuh padat, kecuali pada inti luar, dan beberapa tempat yang relative kecil didalam
mantel atas dan kerak, yang cair. Kebanyakan dari material yang padat merupakan batuan metamorf, ini
dikarenakan batuan di inti dalam, mantel dan kerak telah terubah dikarenakan tekanan dan
temperature yang tinggi. Magma yang terbentuk pada mantel atas naik ke level yang lebih tinggi
didalam kerak dan mengalami kristalisasi. Batuan sediment terbentuk di permukaan atau dekat
permukaan.
Di daratan, batuan sediment menutupi sekitar 66 % dari total batuan yang tersingkap (Blatt dan Jones,
1975). Sisanya sekitar 34 % adalah batuan kristalin yang berupa batuan beku dan metamorf. Di bawah
samudra kebanyakan ditutupi oleh material sediment atau batuan sediment yang tipis. Dibawah tutupan
sediment, didominasi oleh batuan beku dan metamorf.

BAB V BATUAN BEKU

5.1 Pengertian Batuan Beku


Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi atau pembekuan dari magma.
Pembekuan ini dapat berlangsung di permukaan atau jauh di bawah permukaan. Perbedaan tempat
pembentukan ini pada ahirnya akan digunakan dalam klasifikasi dan mempengaruhi sifat-sifat batuan
yang terbentuk.Batuan beku yang terbentuk di permukaan disebut batuan volkanik (ekstrusif) dan yang
terbentu di jauh di bawah permukaan bumu disebut batuan plutonik (intrusif).

5.2 Magma dan Deret Bowen


Magma adalah cairan silikat yang sangat panas, mengandung oksida, sulfide serta volatile. Volatile ini
terutama terdiri dari CO2, Sulfur (S), Chlorine (Cl), Fluorine (F) dan Boron (B) yang dikeluarkan ketika
magma membeku. Temperatur magma berkisar antara 6000 C ( magma asam) sampai 12500 C (magma
basa), dimana kedua jenis magma ini merupakan induk batuan beku.
Temperatur magma turun hingga mencapai titik jenuhnya, maka magma akan mulai mengkristal.
Umumnya unsure-unsur yang sukar larut akan mengkristal terlebih dulu seperti apatit, zircon, ilmenit,
magnetit, rutile, titanit, chromit. Sementara mineral yang mudah larut mengkristal kemudian dan
terjebak di sekitar kristal yang terbentuk terlebih dahulu.
Mineral utama pembentuk batuan juga mengalami hal yang serupa, yang mula-mula mengkristal dan
selanjutnya yaitu olivin, piroksen, amfibol, dan selanjutnya seperti yang dikemukakan oleh Bowen
(1922). Bowen menggambarkannya berupa chart yang disebut Deret Bowen (Bowen’s Series)

Gambar 5.1 Deret Bowen

Urutan pembekuan magma berdasarkan temperaturnya dapat dibedakan menjadi beberapa tahap
pembekuan yaitu :
1. Tahap Orthomagmatik, yaitu pembekuan magma yang pertama kali dengan temperatur > 8000C
2. Tahap Pegmatitik, yaitu pembekuan magma pada temperatur antara 6000C – 8000C
3. Tahap Pneumatolitik, yaitu pembekuan magma pada temperatur antara 4000C – 6000C serta kaya
akan gas
4. Tahap Hydrothermal, yaitu pembekuan magama berkisar antara 1000C – 4000C. Berupa larutan sisa
yang kaya akan gas dan larutan/cairan.
Dalam perjalanannya magma mengalami perubahan yang terdiri dari tiga proses utama, yaitu :
1. Differensiasi magma, yaitu suatu proses yang menyebabkan magma yang asalnya relatif homogen
terpecah-pecah menjadi beberapa bagian atau fraksi dengan komposisi yang berbeda-beda. Hal ini
disebabkan oleh migrasi ion atau molekul dalam larutan magma karena adanya perubahan temperatur
dan tekanan. Ketika magma mengalami penurunan tekanan dan temperatur, maka mineral yang
memiliki titik lebur yang tinggi mulai mengkristal, sedangkan cairan yang belum membeku akan terus
naik dan akhirnya keseluruhan cairan magma itu membeku.
2. Assimilasi. Ketika magma naik menuju ke permukaan, magma tersebut tentunya melewati batuan
samping, hal ini akan menyebabkan terjadinya interaksi antara magma dan batuan samping. Interaksi
yang terjadi yaitu meleburnya batuan samping, terjadi reaksi dengan batuan samping dan pelarutan
batuan samping, dengan demikian magma akan mengalami perubahan komposisi. Tingkat perubahan
komposisi pada magma tergantung pada jenis magma, jenis batuan samping, dan jauh dekatnya jarak
yang ditempuh oleh magma.
3. Pencampuran magma. Dalam perjalanannya magma dapat bertemu dengan magma dengan
komposisi yang berbeda, hal ini tentunya akan merubah komposisi magma.

5.3 Struktur batuan beku


Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi batuan beku extrusive dan
intrusive. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan pada tekstur masing masing batuan
tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita
perhatikan. Kenampakan inilah yang disebut sebagai struktur batuan beku.

1. Struktur batuan beku ekstrusif


Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dipermukaan bumi.
Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagia struktur yang memberi petunjuk mengenai
proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:
 Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam.
 Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan.
 Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil.
Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses
pembekuan terjadi pada lingkungan air.
Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk
akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.
 Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau
zeolit.
 Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu
akibat aliran.

Gambar 5.2 Struktur Vesikular (atas) dan Columnar joint (bawah) pada suatu aliran lava

2. Struktur Batuan Beku Intrusif


Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan
bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan
beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan.

Konkordan
Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya, jenis jenis dari tubuh batuan ini
yaitu :
1) Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan disekitarnya.
2) Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan batuan yang asalnya
datar menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap
datar. Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan meter.

Gambar 5.3 Laccolith

3) Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu bentuk tubuh batuan
yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan
sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

Gambar 5.4 Lopolith

4) Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah terbentuk sebelumnya.
Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan sampai ribuan kilometer.

Diskordan
Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya. Jenis-jenis tubuh batuan ini
yaitu:
1) Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan memiliki bentuk tabular atau
memanjang. Ketebalannya dari beberapa sentimeter sampai puluhan kilometer dengan panjang ratusan
meter.
2) Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu > 100 km2 dan membeku
pada kedalaman yang besar.
3) Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya lebih kecil yaitu< 100 km2

Gambar 5.5 Berbagai bentu tubuh batuan beku

5.4 Tekstur Batuan Beku


Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur, perubahan tekanan
dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal
tersebut pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan yang memilki tekstur yang
berbeda.
Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan
dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineral-mineral penyusunya memiliki waktu untuk
membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi
pembekuan dengan temperatur dan tekanan permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun
batuan beku tidak sempat membentuk sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian)
yang tidak memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran relatif kecil.

Gambar 5.6 Gelas (obsidian)

Berdasarkan hal di atas tekstur batuan beku dapat dibedakan berdasarkan :


1. Tingkat kristalisasi
Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal
Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas
Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas
2. Ukuran butir
Phaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh mineral-mineral yang berukuran
kasar.
Porphyritic, yaitu batuan beku yang tersusun oleh mineral berukuran kasar (fenokris) dan mineral
berukuran halus (masa dasar)
Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral berukuran halus.
3. Bentuk kristal
Ketika pembekuan magma, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali biasanya berbentuk sempurna
sedangkan yang terbentuk terakhir biasanya mengisi ruang yang ada sehingga bentuknya tidak
sempurna. Bentuk mineral yang terlihat melalui pengamatan mikroskop yaitu:
Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna
Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna
Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna.
4. Berdasarkan kombinasi bentuk kristalnya
Panoidiomorf (Automorf), yaitu sebagian besar kristalnya dibatasi oleh bidang kristal atau bentuk kristal
euhedral (sempurna)
Hypidiomorf (Hypautomorf), yaitu sebagian besar kristalnya berbentuk euhedral dan subhedral.
Allotriomorf (Xenomorf), sebagian bear penyusunnya merupakan kristal yang berbentuk anhedral.
5. Berdasarkan keseragaman antar butirnya
Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama
Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama

5.5 Klasifikasi Batuan Beku


Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan tempat terbentuknya, warna, kimia, tekstur, dan
mineraloginya.
Berdasarkan tempat terbentuknya batuan beku dibedakan atas :
1. Batuan beku Plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk jauh di perut bumi.
2. Batuan beku Hypabisal, yaitu batuan beku yang terbentu tidak jauh dari permukaan bumu
3. Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi
Berdasarkan warnanya, mineral pembentuk batuan beku ada dua yaitu mineral mafic (gelap) seperti
olivin, piroksen, amphibol dan biotit, dan mineral felsic (terang) seperti Feldspar, muskovit, kuarsa dan
feldspatoid.

Klasifikasi batuan beku berdasarkan warnanya yaitu:


1. Leucocratic rock, kandungan mineral mafic < 30%
2. Mesocratic rock, kandungan mineral mafic 30% - 60%
3. Melanocratic rock, kandungan mineral mafic 60% - 90%
4. Hypermalanic rock, kandungan mineral mafic > 90%
Berdasarkan kandungan kimianya yaitu kandungan SiO2nya batuan beku diklasifikasikan menjadi empat
yaitu:
1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit, Ryolit.

Gambar 5.6 Granit


2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% - 52%. Contohnya Diorit, Andesit

Gambar 5.7 Andesit


3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% - 45%, contohnya Gabbro, Basalt

Gambar 5.8 Gabbro

4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 45%, contohnya peridotit, piroksenit, dunit.

Gambar 5.9 Piroksenit

Gambar 5.10 berbagai jenis batuan berdasarkan tekstur dan mineraloginya

Mineralogi dan tekstur biasanya menjadi suatu dasar yang tidak terpisahkan dalam pengklasifikasian
batuan beku. Berdasarkan mineraloginya (Streickeisen) batuan beku terbagi menjadi 2 yaitu :
Kelas A dengan Mafic 90%
Klasifikasi kelas A dengan mineral Mafic 90%

Gambar 5.7 Klasifikasi batuan beku kelas B

Untuk klasifikasi berdasarkan mineralogi, batuan harus disayat tipis dan kemudian dilakukan
pendeskripsian melalui mikroskop.

Origin Batuan Beku


Aplikasi

BAB VI BATUAN SEDIMEN


Pengertian Batuan Sedimen
Prinsip-prinsip Pada Batuan Sedimen
Struktur Batuan Sedimen
Tekstur Batuan Sedimen
Klasifikasi Batuan Sedimen (Skala Wentworth)
Provenance, Proses, Lingkungan Pengendapan dan Diagenesis Batuan Sedimen
Batupasir, Batulempung, Konglomerat dan Breksi, dan Batugamping
Aplikasi

BAB VII BATUAN METAMORF


Pengertian Batuan Metamorf
Klasifikasi Batuan Metamorf
Tekstur Batuan Metamorf
Komposisi batuan Metamorf

BAB VIII STRUKTUR GEOLOGI


Lipatan
Kekar
Sesar

BAB IX STRATIGRAFI
Pengertian Stratigrafi
Prinsip-prinsip Dasar Stratigrafi
Unsur-unsur dalam Stratigrafi
Waktu Geologi (Skala Waktu Geologi)

BAB X GEOMORFOLOGI
Pengertian Geomorfologi dan Sejarahnya
Proses Geomorfologi
Lembah, Sungai Dan Pola Pengaliran

BAB XI PALEONTOLOGI
Pengertian Paleontologi
Pengertian Fosil
Pembentukan Fosil
Pembagian Fosil
Kegunaan Fosil