Anda di halaman 1dari 115

RESUME BUKU PROF. DR. KELAN, M.S.

PENDIDIKAN PANCASILA

EDISI REFORMASI 2016

Dosen Pengampu:

Ruliansyah Putra MH

Disusun Oleh Kelompok Genap Kelas TBI 1 B:

1. Andika Putra
2. Anisa Menti Ulandari
3. Chindy Yulia Permatasari
4. Cita Samsurin
5. Detta Silvia
6. Fadly Hidayat
7. Inka Meliza
8. Melu Sudarmi Putri
9. M. Riyadi Rahman Hanif
10. Nela Fitasari
11. Ratih Purwanti
12. Rizky Adi Kurniawan
13. Tias Wiji Lestari
14. Vesi Putri Adini
15. Vharadina Putri Utami
16. Yorin Ramadina

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

PRODI TADRIS BAHASA INGGRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU

2018

1
2
Judul : PENDIDIKAN PANCASILA KAELAN

Pengarang : Prof. Dr. Kaelan, M.S.

Penerbit : Paradigma

ISBN : 978-979-8658-11-2

Cetakan Ke : Edisi Reformasi 2016

Tahun Terbit : 2016

Bahasa : Indonesia

Jumlah Halaman : ix + 272

Kertas Isi : CD

Cover : Soft

Ukuran : 15 x 21 cm

Berat : 300 gram

Kondisi : Baru

Pendidikan Pancasila

Pengarang : Prof. Dr. Kelan, M.S.

Penerbit : Paradigma – Yogyakarta

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

A. Landasan Pendidikan Pancasila

B. Tujuan Pendidikan Pancasila

C. Pembahasan Pancasila secara Ilmiah

D. Beberapa Pengertian Pancasila

BAB II PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH BANGSA INDONESIA

A. Pengantar

B. Nilai-nilai Pancasila dalam Sejarah Bangsa Indonesia

C. Zaman Penjajahan

D. Kebangkitan Nasional

E. Zaman Penjajahan Jepang

F. Proklamasi Kemerdekaan dan Sidang PPKI

G. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan

BAB III PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

A. Pengertian Filsafat

B. Rumusan Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem

1. Susunan Kesatuan Sila-Sila Pancasila yang bersifat Organis

2. Susunan Pancasila yang bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal

3. Hubungan Kesatuan Sila-Sila Pencasila saling Mengisi dan Saling Mengkualifikasi

C. Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat

1. Dasar Antropologis Sila-sila Pancasila

4
2. Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila

3. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila

D. Pancasila sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara Republik Indonesia

1. Dasar Filosofis

2. Nilai-Nilai Pancasila sebagai Nilai Fundamental Negara

E. Inti Isi Sila-Sila Pancasila

BAB IV ETIKA POLITIK BERDASARKAN PANCASILA

A. Pengantar

B. Pengertian Nilai, Norma, dan Moral

C. Nilai Dasar, Nilai Instrumental dan Nilai Praktis

D. Etika Politik

1. Pengertian Politik

2. Dimensi Politis Manusia

3. Nilai-Nilai Pancasila sebagai Sumber Etika Politik

BAB V. KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI


DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA (SUATU TINJAUAN KAUSALITAS)

A. Pengantar

B. Pancasila sebagai Budaya Bangsa Indonesia

1. Asal Mula yang Langsung

2. Asal Mula yang Tidak Langsung

3. Bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam Tiga Asas

C. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa

D. Pancasila sebagai Filsafat Bangsa dan Negara Indonesia

E. Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara (Philosofische Grondslag)

5
F. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia

G. Pancasila sebagai Asas Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia

H. Pancasila sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia

BAB VI. REALISASI PANCASILA

A. Pengantar

B. Pancasila Realisasi yang Objektif

C. Penjabaran Pancasila yang Objektif

D. Realisasi Pancasila yang Subjektif

E. Internalisasi Nilai-nilai Pancasila

F. Proses Pembentukan Kepribadian Pancasila

G. Sosialisasi dan Pembudayaan Pancasila

BAB VII. NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

A. Hakikat Negara

B. Negara Kesatuan RI

1. Hakikat Bentuk Negara

2. NKRI adalah Negara Kebangsaan

C. Negara Kebangsaan Pancasila

D. Hakikat Negara Integralistik

1. Hubungan antara Individu dan Negara

2. Hubungan antara Masyarakat dan Negara

E. NKRI adalah Negara Kebangsaaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa

F. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berkemanusiaan yang Adil dan Beradab

G. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berpersatuan

H. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berkerakyatan

6
I. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berkeadilan Sosial

BAB VIII. NILAI-NILAI PANCASILA DALAM STAASFUNDAMENTALNORM

A. Pengantar

B. Kedudukan dan Fungsi Pembukaan UUD 1945

1. Pembukaan UUD 1945 dalam Tertib Hukum Indonesia

2. Pembukaan UUD 1945 Memenuhi Syarat Adanya Tertib Hukum Indonesia

3. Pembukaan UUD 1945 Sebagai Staatsfundamentalnorm

4. Eksistensi Pembukaan UUD 1945 Bagi Kelangsungan Negara Republik Indonesia

C. Pengertian Isi Pembukaan UUD 1945

D. Nilai-nilai Hukum yang Terkandung dalam Pembukaan UUD 1945

E. Pokok-pokok Pikiran yang Terkandung dalam Pembukaan UUD 1945

F. Hubungan antara Pembukaan UUD 1945 dengan pasal-pasal UUD 1945

G. Hubungan antara Pembukaan UUD 1945 dengan Pancasila

H. Hubungan antara Pembukaan UUD 1945 dengan Proklamasi 17 Agustus 1945

BAB IX. UUD Negara RI Tahun 1945 NILAI-NILAI PANCASILA DALAM UUD
NEGARA REPUBLIK INDONEISA TAHUN1945

A. Pengantar

B. Undang-Undang Dsar

C. Konstitusi

D. Struktur Pemerintahan Indonesia Berdasarkan UUD 1945

E. Isi Pokok Batang Tubuh UUD 1945

F. Hubungan Antar Lembaga-lembaga Negara Berdasarkan UUD 1945

G. Hak Asasi Manusia menurut UUD 1945

7
BAB X. BHINEKA TUNGGAL IKA

A. Pengantar

B. Dasar Hukum Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika

C. Bhineka Tunggal Ika sebagai Local Wisdom Bangsa Indonesia

D. Makna FIlosofis Bhineka Tunggal Ika

DAFTAR PUSTAKA

8
KATA PENGANTAR

Perkembangan kehidupan kenegaraan indonesia mengalami perubahan yang sangat


besar terutama berkaitan dengan praktek kenegaraan pasca reformasi, yang telah
melakukan amandemen UUD 1945. Selain itu dewasa ini leprihatinan akan rapuhnya
nasionalisme indonesia, mengingat selama refomasi pancasila telah dikubur hidup-hidup
selama 15 tahun oleh bangsanya sendiri sehingga generasi bangsa dewasa ini telah
kehilangan memori tentang epistimologi [pengetahuan] pancasila. Hal ini mendorong
berbagai pihak yang peduli terhadap masa depan bangsa, untuk merevitalisasi dan
merealisasikan pancasila, termasuk program yang sangat mulia dari MPR RI tentanf
pemasyarakatan Empat Pilar Bangsa dan Negara termasuk pancasila sebagai salah satu
pilar.

Memposisikan pancasila sebagai salah satu pilar setara dengan UUD 1945, NKRI
dan Bhineka tunggal ika, jelas menimbulkan kesesatan pengetahuan [epistimology
mistake] tentang pancasila. Kedudukan pancasila yang pokok adalah sebagai dasar filsafat
negara, yang berarti merupakan dasar dari UUD 1945 dan NKRI , sedangkan bhineka
tunggal ika adalah simbol kebangsaan indonesia. Dalam hubungan inilah maka buku ini di
tukis dan dikembangkan untuk memberikan basis pengetahuan secara benar secara ilmiah,
agar kalangan intelektual terutama mahasiswa sebagai calon pengganti pemimpin bengsa
memahami makna serta kedudukan pancasila secara objektif dan ilmiah.

Berdasarkan ketentuan dalam UU PT NO. 12 TAHUN 2012 pasal 35 ayat 3, di


cantumkan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah pendidikan
agama, pendidikan pancasila,pendidikan kewarganegaraan serta bahasa indonesia.

Penulis berpendapat harus menata ulang materi pendidikan pancasila dan diwujudkan
dalam bentuk buku acuan perkuliahan, agar sesuai perkembangan zaman. Kepada semua
pihak yang baik secara langsung maupun tidak telah membantu demi kesempurnaan buku
ini, penulis sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Ucapan terima kasih di sampaikan pemimpin MPK pancasila di seluruh indonesia,


Atas saran baik secara tertulis maupun lisan sekepercayaan pada buku ini untuk di jadikan
acuan kuliah antara lain pada Bapak/Ibu:

1. Prof. M.Taupan [UNDANA Kupang]

2. Drs. H. Rohidin pranadjaja, M.S. [UNPAD Badung]

3. Bambang S. Mintagoro, SH.MM., [UNIV. TRISAKTI JAKARTA]

4. Drs. H. Harun sanif [UNIV. INDONESIA JAKARTA]

5. Drs. Imam suyitno Mpd.

9
6. Drs. Lantip warsidipradja. SH.

7. Dr.markus kaunnang

8. Drs. Wayan kesig. M.S.

9. Syaiful anwar, SH.

10. Drs. Abdul ghani hanafiah

11. Drs. Sutan adjamsyah, M.S

12. Drs. Nana setialaksana, Mpd.

13. Drs. Wasis suprayitno

14. Dr. Eko suprayatno

15. Utsman ichsan, SH.,M.A

16. Drs. Zarkasi kahar

17. Mahardin tegap, S.H.

18. Drs. Soewarno.

19. Drs. Syarifudin adenan

20. Drs. Ichwan aziz, M.Hum.

Syukur Alhamdulillah berkat bantuan bapak/ibu, buku ini pernah terpilih sebagai
buku referensi perpustakaan di seluruh indonesia dengan surat edaran dirjen
no.19918/c.c6/PT/1998. Tanggal 16 November 1998 penulis senantiasa terbuka untuk
menerima masukan demi penyempurnaan buku berikutnya, mudah mudahan bermanfaat
bagikesejahteraan bangsa.

10
BAB I

PENDAHULUAN

Pancasila adalah filasafat dasar Negara Republik Indonesia yang resmi disahkan oleh
PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Dalam
perjalanan sejarah eksistensi Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia
mengalami berbagai macam interpretasi dan manipulasi politik sesuai dengan kepentingan
penguasa demi kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi
Negara pancasila. Dengan kata lain, dalam kedudukan yang seperti ini pancasila tidak lagi
diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan Negara Indonesia
melainkan direduksi, dibatasi dan dimanipulasi demi kepentingan politik penguasa pada
saat itu.

A. LandasanPendidikanPancasila

1. LandasanHistoris.

Beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya berjuang untuk


menemukan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang merdeka, mandiri, serta memiliki suatu
prinsip yang tersimpul dalam pandangan hidup serta filsafat hidup bangsa.Setelah melalui
suatu proses yang cukup panjang dalam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia
menemukan jati dirinya,yang di dalamnya tersimpul ciri khas, sifat, dan karakter bangsa
yang berbeda dengan bangsa lain, yang oleh para pendiri Negara kita dirumuskan dalam
suatu rumusan yang sederhana namun mendalam, yang meliputi lima prinsip (lima sila)
yang kemudian diberi nama Pancasila. Jadi, secara historis bahwa nilai-nilai yang
terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar
Negara Indonesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri.
Sehingga asal dari nilai-nilai Pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia
sendiri, atau dengan kata lain bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh
karenaitu, berdasarkan fakta objektif secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak
dapat dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila.

2. LandasanKultural.

Setiap bangsa memiliki ciri khas serta pandangan hidup yang berbeda dengan bangsa
lain. Bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara pada suatu asas kultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa
itu sendiri. Nilai-nilai kenegaraan dan kemasyarakatan yang terkandung dalam sila-sila
pancasila bukanlah hanya merupakan suatu hasil koseptual seseorang saja melainkan
merupakan suatu hasil karya besar bangsa Indonesia sendiri, yang diangkat dari nilai-nilai
cultural yang dimiliki Indonesia sendiri.

11
3. LandasanYuridis.

Landasan yuridis perkuliahan Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi tertuang


dalam UUD No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 2
disebutkan bahwa sistem pendidikan nasional berdasarknan Pancasila. Hal ini mengandung
makna bahwa Pancasila merupakan sumber hukum pendidikan nasional. Dalam Undang-
Undang PT No.12 tahun 2012 Pasal 35 ayat 3 disebutkan bahwa kurikulum Perguruan
tinggi wajib memuat Mata Kuliah Pendidikan Agama, PendidikanPancasila, Pendidikan
kewarganegaraan sertaBahasa Indonesia. Dalam SK DirjenDikti No.43/DIKTI/KEP2006,
dijelaskanbahwa Misi Pendidikan kewarganegaraan adalah untuk memantapkan
kepribadian mahasiswa agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar
pancasila, rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

4. Landasan Filosofis.

Secara filosofis, bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara adalah sebagai bangsa
yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan objektif bahwa
manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Syarat mutlak suatu negara adalah
adanya persatuan yang terwujudkan sebagai rakyat (merupakan unsur pokok negara),
sehinggan secara filosofis negara berpersatuan danberkerakyatan.

Atas dasar pengertian filosofis tersebut maka dalam hidup bernegara, nilai-nilai
Pancasila merupakan dasar filsafat negara.Oleh karena itu dalam realisasi kenegaraan
termasuk dalam proses reformasi dewasa ini merupakan suatu keharusan bahwa Pancasila
merupakan sumber nilai dalam pelaksanaa kenegaraan, baik dalam pembangunan nasional,
ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, maupun pertahanan dan keamanan.

B. Tujuan Pendidikan Pancasila

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional dan juga termuat
dalam SK Dirjen Dikti. No.43/DIKTI/KEP/2006, dijelaskan bahwa tujuan materi pancasila
dalam rambu-rambu Pendidikan Kepribadian mengarahkan pada moral yang diharapkan
terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yaitu prilaku yang memancarkan iman dan taqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan
agama, kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, memantapkan kepribadian
mahasiswa agar secara konsiten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa
kebangsaan dan cinta tanah air dalam menguasai , menerapakan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni dengan penuh rasa tanggung jawab dan bermoral.

Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang berprilaku,

1. Memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab sesuai


dengan hati nuraninya.

12
2. Memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta
cara-cara pemecahannya.

3. Mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi


dan seni.

4. Memiliki kemampuan untuk memaknai peristiwa sejarah dan nikai-nilai budaya


bagsa untuk menggalang persatuan Indonesia.

C. Pembahasan Pancasila Secara Ilmiah

R.Poedjowijatno dalam bukunya “Tahu dan Pengetahuan”, merinci syarat-syarat


tentang pembahasan pancasila termasuk filsafat sebagai suatu kajian ilmiah sebagai
berikut:

1. Berobjek

2. Bermetode

3. Bersistem

4. Bersifat Universal

a. Berobjek, pembahasan Pancasila secara ilmiah harus memiiki objek yang didalam
filsafat ilmu pengetahuan dibedakan atas dua macam yaitu objek formal dan objek
material.

b. Bermetode, metode dalam pembahasan pancasila sangat bergantung pada


karakteristik objek forma dan objek material pancasila. Salah satu metode dalam
pembahasan Pancasila adalah metode analitico syntetic yaitu suatu perpaduan metode
analisis dan sintesis. Dan juga terdapat metode hermeneutika, yaitu suatu metode untuk
menemukan makna dibalik suatu objek.

c. Bersistem, pembahsan pancasila secara ilmiah dengan sendirinya sebagai suatu


sistem dalam dirinya sendiri yaitu pada pancasila itu sendiri sebagai objek pembahasan
ilmiah senantiasa bersifat koheren (runtut), tanpa adanya suatu pertentangan didalamnya,
sehingga sila-sila pancasila itu sendiri adalah merupakan suatu kesatuan yang sistematik.

d. Bersifat Universal kebenaran suatu pengetahuan ilmiah harus bersifat universal,


artinya kebenaran tidak terbatas waktu,ruang,keadaan,situasi,kondisi maupaun jumlah
tertentu. Dalam kaitannya denag kajian pancasila hakikat ontologis nilai-nilai pancasila
adalah bersifat universal, atau dengan kata lain perkataan inti sari, essensi atau makna yang
terdalam dari sila-sila Pancasila pada hakikatnya adalah bersifat universal.

13
D. Beberapa Pengertian Pancasila

Pada waktu zaman orde lama, dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia kita jumpai
berbagai macam rumusan Pancasila yang berbeda-beda yang dalam hal ini harus kita
deskripsikan secara objektf sesuai dengan kedudukannya serta sejarah perumusan
Pancasila itu secara objektif. Oleh karena itu untuk memahami Pancasila secara kronologis
baik menyangkut rumusannya maupun peristilahannya maka pengertian Pancasila tersebut
meliputi lingkup pengertian sebagai berikut :

1. Pengertian Pancasila sebagai etimologis

Secara etimologis istilah Pancasil berasal dari Sansekerta dari India ” (Bahasa kasta
Brahmana) Adapun bahasa rakyat biasanya adalah bahasa Prakerta. Menurut Muhammad
Yamin,dalam bahasa Sansekerta perkataan “Pancasila memiliki dua macam arti secara
leksikal yaitu :

“panca” artinya “lima” “syila” vokal i pendek artinya “batu sendi”

“alas” atau “dasar” “ syiila” vokal i panjang artinya “peraturan tingkah laku yang
baik, yang penting atau yang senonoh”.

Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama bahasa Jawa diartikan
“susila”

Yang memiliki hubungan dengan moralitas, oleh karena itu secara etimologis kata
“Pancasila “

Yang dimaksudkan adalah istilah “panca syila” dengan vokal i pendek yang memiliki
makna leksikal “berbatu sendi lima” atau secara harfiah “dasar yang memili lima unsur”.

Perkataan pancasila mula-mula terdapat dalam kepustakaan Budha di India. Ajaran


Budha bersumber pada kitab suci Tri pitaka yang terdiri atas tiga macam buku besar yaitu
Suttha Pitaka, Abhidama Pitaka dan Vinaya Pitaka.

Dengan masuknya kebudayaan India ke Indonesia melalui penyebaran agama Hindu


dan Budha, maka ajaran “Pancasila Budhisme pun masuk kedalam kepustakaan Jawa,
terutama pada zaman Majapahit. Perkataan “Pancasila” dalam khasanah kesusastraan
nenek moyang kita di zaman keemasan keprabuan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk
dan Maha Patih Gadjah Mada, dapat ditemukan dalam keropak Negarakertagama, yang
berupa kakawin (syair pujian)

Dalam pujangga istana bernama Empu Prapanca yang selesai ditulis pada tahun
1365, di mana dapat kita temui dalam sarga 53 bait kedua yang berbunyi sebagai berikut :

14
“Yatnaggegwani pancasyiila kertasangkarbgisekaka karma” yang artinya Raja
menjalankan dengan setia kelima pantangan (Pancasila), begitu pula upacara-upacara
ibadat dan penobatan-penobatan.

Setelah Majapahit runtuh dan agama Islam mulai tersebar ke seluruh Indonesia maka
sisa-sisa pengaruh ajaran moral Budha (Pancasila) masih juga dikenang di dalam
masyarakat jawa, yang disebut dengan “lima larangan” atau “lima pantangan” moralitas
yang dilarang:

Mateni, artinya membunuh

Maling, artinya mencuri

Madon, artinya berzina

Mabok, artinya minum minuman keras atau menghisap candu

Main, artinya berjudi

Semua huruf dari ajaran moral tersebut diawali dengan huruf “M” atau dalam bahasa
Jawa disebut “Ma”, oleh karena itu lima prinsip moral tersebut “Ma lima” atau “M5”
yaitu lima larangan (Ismaun, 1981 : 79).

E. Pengertian Pancasila secara Historis

Proses perumusan pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr.
Radjiman Widyodiningrat. Mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada
sidang tersebut, masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara
Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampilah pada sidang tersebut tiga orang
pembicara yaitu Mohammad Yamin, Soepomo dan Soekarno.

Pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam sidang tersebut Ir. Soekarno berpidato secara lisan
(tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara tersebut Soekarno memberikan nama
“Pancasila” yang artinya lima dasar, hal ini menurut Soekarno atas saran dari salah seorang
temannya yaitu seorang ahli bahasa yang tidak disebutkan namanya.

Pada tanggal 17 agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannnya,


kemudian keesokan harinya tanggal 18 agustus 1945 disahkanlah Undang-Undang Dasar
1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana termuat isi rumusan lima prinsip sebagai
satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.

Walaupun dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 tidak termuat “Pancasila” namun
yang dimaksudkan Dasar Negara Republik Indonesia adalah disebut dengan istilah
“Pancasila”. Hal ini didasarkan atas interpretasi historis terutama dalam rangka pembukaan
calon rumusan dasar negara yang kemudian secara spontan diterima oleh peserta sidang
secara bulat.

15
Demikian riwayat singkat Pancasila baik dari segi istilahnya maupun proses
perumusannya, sampai menjadi dasar negara yang sah sebagaimana terdapat dalam
Pembukaan UUD 1945. Adapun secara terminologi historis proses perumusan Pancasila
adalah sebagai berikut:

a. Ir. Soekarno (1 Juni 1945)

Padatanggal 1 juni 1945 tersebut Soekarno mengucapkan pidatonya di hadapan


sidang Badan Penyidik. Dalam pidatonya tersebut diajukan oleh Soekarno secara lisan
usulan lima asas sebagai dasar NegaraIndonesia yang akan dibentuknya, yang rumusannya
adalah sebagai berikut :

1. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan

3. Mufakat atau Demokrasi

4. Kesejahteraan sosial

5. Ketuhanan yang berkebudayaan

Untuk usulan tentang rumusan dasar Negara tersebut beliau mengajukan usul agar
dasar negara tersebut diberi nama “Pancasila”, yang dikatakan oleh beliau istilah itu atas
saran dari salah seoarang ahli bahasa tersebut. Usul mengenai nama “Pancasila” bagi dasar
negara tersebut secara bulat diterima oleh sidang BPUPKI.

Pada tahun 1947 pidato Ir.Soekarno tersebut diterbitkan dan dipublikasikan dan
diberi judul “Lahirnya Pancasila”, sehingga dahulu pernah populer bahwa tanggal 1 juni
adalah hari lahirnya Pancasila.

b. Piagam Jakarta ( 22 juni 1945)

Pada tanggal 22 Juni 1945 sembilan tokoh Nasional yang juga tokoh Dokuritsu
Junbii Coosakai

Mengadakan pertemuan untuk membahas pidato serta usul-usul mengenai dasar


Negara yang telah dikemukakan dalam sidang Badan Penyelidik. Sembilan tokoh tersebut
dikenal dengan “Panitia Sembilan” yang telah mengadakan sidang berhasil menyusun
sebuah naskah Piagam yang dikenal “Piagam Jakarta” yang didalamnya memuat
Pancasila, sebagai buah hasil pertama kali disepakati oleh sidang.

Adapun rumusan Pancasila sebagaimana termuat dalam Piagam Jakarta sebagai


berikut :

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islambagi pemeluk-


pemeluknya.

16
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /


perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

F. Pengertian Pancasila secara Terminologis.

Dalam bagian pembukaan UUD 1945 yang terdiri atas empat alinea tersebut
tercantum rumusan Pancasila sebagai berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/


perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan Pancasila sebagaimana tecantum dalam pembukaan UUD 1945 inilah yang
secara konstitusional sah dan benar sebagai dasar NKRI, yang disahkan oleh PPKI yang
mewakili seluruh rakyat Indonesia. Namun dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia dalam
upaya bangsa Indonesia mempertahankan Proklamasi an eksistensi Negara dan Bangsa
Indonesia maka terdapat pula rumusan-rumusan sebagai berikut :

a. Dalam Konstitusi RIS (Republik Indonesia Serikat).

Dalam konstitusi RIS berlaku tanggal 29 Dsember 1949 sampai dengan 17 Agustus
1950, tercantum rumusan Pancasila sebagai berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Peri Kemanusiaan.

3. Kebangsaan.

4. Kerakyatan.

5. Keadilan Sosial.

b.Dalam UUDS (Undang-undang Dasar Sementara 1950)

17
Dalam UUDS 1950 yang berlaku mulai tanggal 17 agustus 1950 sampai tanggal 5
juli 1959,terdapat pula rumusan pancasila seperti rumusan yang tercantum dalam konstitusi
RIS,sebagai berikut:

1. Ketuhanan yang maha esa

2. Peri kemanusiaan

3. Kebangsaan

4. Kerakyatan

5. Keadilan sosial

c. Rumusan Pancasila di Kalangan Masyarakat

Selain itu juga terdapat rumusan pancasila dasar Negara yang beredar di kalangan
masyarakat dan rumusannya sangat beranekaragam antara lain:

1. Ketuhanan yang maha esa

2. Peri kemanusiaan

3. Kebangsaan

4. Kedaulatan rakyat

5. Keadilan sosial

Dari berbagai rumusan pancasila diatas tersebut yang sah dan benar secara konstitusi
adalah rumusan pancasila sebagaiman tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

18
BAB II

PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH BANGSA INDONESIA(KAUSA


MATERIALIS PANCASILA)

A. PENGANTAR

Suatu bangsa dalam mewujudkan cita-cita kehidupannya dalam suatu Negara


modern,secara objektif memilliki karakteristik sendiri-sendiri dan melalui suatu proses
serta perkembangan sesuai latar belakang sejarah,realitas sosial,budaya,etnis,kehidupan
keagaman,dan konstelasi geografis yang dimiliki oleh bangsa tersebut.latar belakang
kehidupan sosial-politikdi eropa terutama di inggris disukai oleh kerajaan,maka awal
perkembangan Negara modern yang demokratis dimulai tatkala pergolakan politik yang
dahsyat yang disebut sebagai the glorious revolution yang dimenangkan oleh rakyat
(Asshiddiqie,2006:86). Perkembangan selanjutnya di inggris perjuangan untuk
terwujudnya Negara modern sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsuf inggris john locke
tentang paham kebebasan individu yang berpendapat bahwa manusia tidaklah secara
absolute menyerahkan hak-hak individunya kepada penguasa.hak-hak yang diserahkan
kepada penguasa adalah hak yang berkaitan dengan perjanjian tentang negara,adapun hak-
hak lainnya tetap berada pada masing-masing individu.

Di amerika serikat tercapainya kesepakatan negara demokratis diwarnai oleh perang


sipil dan mencapai kulminasinya melalui consensus dalam deklarasi amerika serikat
tertanggal 4 juli 1776.perjuangan untuk terwujudnya negara modern yang demokratis di
perancis dimulai sejak rousseau,dan perjuangan itu memuncak dalam revolusi perancis
pada tahun 1789.demikian pula di rusia pada tahun 1917terjadi revolusi yang kemudian
terbentuklah negara komunis(Andrews,1968).

Berbeda dengan latar belakang sejarah perkembangan negara modern di


inggris,ameika,perancis dan rusia,negara Indonesia perjuangan untuk terwujudnya negara
modern diwarnai dengan penjajahan asing selama 3,5 abad,serta akar budaya yang dimiliki
oleh bangsa Indonesia sendiri.kemudian dalam mendirikan negara bangsa Indonesia
menggali nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu,yang merupakan local wisdom bangsa
Indonesia sendiri,sebagai unsure materi pancasila.nilai-nilai tersebut diolah dan
dikembangkan serta disentesiskan dengan paham besar di dunia dan disahkan menjadi
dasar filsafat negara.

Pancasila sebagai dasar filsafat negara republic Indonesia sebelum disahkan pada
tanggal 18 agustus1945 oleh PPKI,nilai-nilainya telah ada pada bangsa Indonesia sejak
zaman dahulu kala sebelum bangsa Indonesia mendirikan negara,yang berupa nilai-nilai
adat-istiadat ,kebudayaan serta nilai-nilai religious.nilai-nilai tersebut telah ada dan
melekat serta teramalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pandangan hidup,sehingga
materi pancasila yang berupa nilai-nilai tersebut tidak lain adalah dari bangs Indonesia

19
sendiri,sehingga bangsa Indonesia sebagai kuasa materialis pancasila.nilai-nilai tersebut
kemudian diangkat dan dirumuskan secara formal oleh para pendiri negara untuk dijadikan
sebagai dasar filsafat negara Indonesia.proses perumusan materi pncasila secara formal
tersebut dilakukan dalam siding-sidang BPUPKI pertama,sidang’panitia 9’,siding BPUPKI
kedua,serta akhirnya disahkan secara yuridis sebagai suatu dasar filsafat negara republic
Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka untuk memahami pancasila secara lengkap dan
utuh terutama dalam kaitanya dengan dengan jati diri bangsa Indonesia,mutlak diperlukan
pemahaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk membentuk suatu negara yang
berdasarkan suatu asas hidup bersama demi kesejahteraan hidup bersama,yaitu negara
yang berdasarkan pancasila.selain itu secara epistemology sekaligus sebagai pertanggung
jawaban ilmiah,bahwa pancasila selain sebagai dasar negara Indonesia juga sebagai
pandangan hidup bangsa,jiwa dan kepribadian bangsa serta sebagai perjanjian luhur bangsa
Indonesia pada waktu mandirikan negara.

Nilai-nilai essensial yang terkandung dalam pancasila


yaitu:ketuhanan,kemanusiaan,persatuan,kerakyatan serta keadilan,dalam kenyataan serta
keadilan,dalam kenyataan secara objektif telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak zaman
dahulu kala sebelum mendirikan negara.proses terbentuknya negara dan bangsa Indonesia
melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman batu kemudian
timbulnya kerajaan-kerajaan pada abad ke IV,ke V kemudian dasar-dasar kebangsaan
Indonesia telah mulai Nampak pada abad ke VII,yaitu kketika timbulnya kerajaan
sriwijaya di bawah wangsa syailendra di Palembang,kemudian kerajaan airlangga dan
majapahit di jawa timur serta kerajaan-kerajaanlainnya.

Dasar-dasar pembentukan nasionalisme modern dirintis oleh para pejuang


kemerdekaan bangsa,antara lain rintisan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang
kebangkitan nasional pada tahun 1908,kemudian dicetuskan pada sumpah pemuda pada
tahun 1928.akhirnya titik kulminasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam
mendirikan negara tercapai dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada
tanggal 17 agustus 1945.berdasarkan fakta sejarah bangsa Indonesia,maka proses
perumusan dasar filsafat negara,secara kreatif diangkat dari kausa materialis yang ada pada
bangsa Indonesia sendiri secara eklektis disintesiskan dengan unsure-unsur dari luar yang
relevan.

B. Nilai-nilai Pancasila Dalam Sejarah Bangsa Indoesia

• Zaman kutai

Indonesia memasuki zaman sejarah pada tahun 400 M ,berdasarkan prasasti tersebut
dapat diketahui bahwa raja Mulawarman keturunan dari raja Aswawarman keturunan dari
Kudungga.Raja Mulawarman menurut prasasti tersebut mengadakan kenduri dan member
sedekah kepada para Brahmana,dan para Brahmana membangun yupa itu sebagai tanda

20
terima kasih raja yang dermawan(ismaun,1975:25).masyarakat kutai yang membangun
zaman sejarah Indonesia pertama kalinya ini menampilkan nilai-nilai sosial politik,dan
ketuhanan dalam bentuk kerajaan,kenduri,serta sedekah kepada para Brahmana.

Bentuk kerajaan dengan agama sebagai taii pengikat kewibawaan raja ini tampak
dalam kerajaan-kerajaan yang muncul kemudian dijawa dan sumatera.dalam zaman kuno
(400-1500)terdapat dua kerajaan yang berhasil mencapai integrasi dengan wilayah
Indonesia sekarang yaitu kerajaan sriwijaya di sumatera dan majapahit yang berpusat di
jawa (toyibin,1997).

• Zaman sriwijaya

Menurut Mr.M. Yamin bahwa berdirinya negara kebangsaan Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan kerajan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa
Indonesia.negara kebangsaan Indonesia terbentuk tiga tahap yaitu:

1. Zaman sriwijaya dibawah wangsa syailendra (1293-1400)yang bercirikan


kedatukan..

2. Negara kebangsaan zaman majapahit (1293-1525) yang bercirikan keprabuan.

3. Negara kebangsaan Indonesia merdeka (sekarang negara proklamasi 17 agustus


1945)

Pada abad ke VII munculah suatu kerajaan di Sumatra yaitu kerajaan


sriwijaya,dibawah kekuasaan wangsa syaliendra.hal ini termuat dalam prasati kedukan
bukit di kaki bukit siguntang dekat Palembang bertarikh 605 caka atau 683 M.dalam
bahasa melayu kuna huruf pallawa.kerajaan itu adalah kerajaan maritim yang
mengandalkan kekuatan lautnya,kunci-kunci lalu lintas laut disebelah barat di kuasainya
seperti seat sunda (686),kemudian selat malaka(775).pada zaman itu kerajaan sriwijaya
merupakan suatu kerajaan besar yang cukup disegani di kawasan asia selatan.

• Zaman kerajaan-kerajaan sebelum majapahit

Sebelum kerajaan majapahit munculsebagai suatu kerajaan yang memancangkan


nilai-nilai nasionalismetelah muncul kerajaan-kerajan di jawa tengah dan jawa timur secra
silih berganti Kerajaan kalingga abad VII,Kerajan sanjaya abad VIIIyang ikut membantu
membangun candi kalasan untuk dewa tara dan sebuah wihara untuk pendeta budha
didirikan dijawa tengah bersama dengan dinasti syailendra(abad ke VII dan XI),dan candi
prambanan (candi agama hindu pada abad ke X).selain kerajaan-kerajaan dijawa tengah
tersebut di jawa timur muncullah kerajan-kerajan isana(pada abad ke XI)darmawangsa
abad ke X)demikian juga kerajaan airlangga pada abad ke XI.Bahkan pada zaman itu
lambing negara Indonesia yang makna didalamnya juga melambangkan sila-sila
pancasila,digambarkan dengan burung garuda,dengan seloka bhinneka tunggal ika.

21
Diwilayah Kediri jawa timur berdiri pula kerajaan singasari (pada abad ke XIII),yang
kemudian sangat erat hubungannya dengan berdirinya kerajaan majapahit.

• Kerajaan majapahit

Pada tahun 1293 berdirilah kerajaan majapahit yang mencapai zaman keemasannya
pada pemerintahan raja hayam wuruk dengan mahapatih gajah mada yang dibantu oleh
laksamana nala dalam memimpin armadanya untuk menguasai nusantara.wilayah
kekuasaan majapahit semasa jayanya itu membentang dari semananjung melayu(Malaysia
sekarang)sampai irian barat melalui Kalimantan.

Empu prapanca menulis Negarakertagama(1365).dalam kitab tersebut telah terdapat


istilah “PANCASILA”. Empu Tantular mengarang buku Sutasoma,dan didalam buku itu
kita temui seloka persatuan nasional yaitu “Bhineeka tunggal ika” yang melambangkan
bangsa dan negara Indonesia yang tersusun dari berbagai unsure rakyat (bangsa) yang
terdiri atas berbagai macam ,suku,adat-istiadat,golongan,kebudayaan dan agama,wilayah
yang terdiri atas beribu-ribu oulau menyatu menjadi bangsa dan negara Indonesia.

Seloka Bhinneka tunggal ika dipetik dari kitab sutasoma atau purudasanta dalam
bahasa jawa kuno gubahan Empu Tantular.Jika dilakukan kajian kajian melalui filsafat
antalitika bahasa(suatu metode analisis terhadap makna penggunaan ungkapan bahasa era
kontemporer di eroa),seloka BHINEKA TUNGGAL IKA itu pada hakikatnya merupakan
suatu frase.secra lingulistis makna structural seloka itu adalah ‘beda itu,satu itu’. secara
marfologi kata “Bhinneka” berasal dari kata poiimorfemis yaitu ‘bhinna’ dan ‘ika’.kata
‘bhina’ berasal dari bahasa sansekerta’bhid’,yang dapat diterjemahkan menjadi
‘beda’dalam proses linguistis karena digunakan dengan morfem ‘ika’maka menjadi
‘bhinna’.’ika’artinya itu,’bhinneka’artinya beda itu,sedangkan ‘tunggal ika’artinya satu
itu(kaelan,2009).

Sumpah palapa yang diucakan oleh mahapatih gajah mada dalam siding ratu dan
mentri-mentri di paseban keprabuan majapahit pada tahun 1331,yang berisi cita-cita
mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut:Saya akam berhenti berpuasa akan
palapa,jikalau seluruh nusantara bertakluk dibawah kekuasaan negara,jika kalau
gurun,seram,tanjung,heru,Pahang,dempo,bali,sunda,Palembang dan tumasik telah
dikalahkan(yamin,1960:60).

C. Zaman Penjajahan

Setelah majapahit pada permulaan abad XVI maka berkembanglah agama islam
dengan pesaatnya di Indonesia.bersamaan itu berkembanglah pula kerajaan-kerajaan
demak,dan mulailah berdatangan orang-orang eropa di nusantara.mereka itu iyalah orang
portugis yang kemudian diikuti oleh orang-orang spanyol yang ingi mencari pusat tanaman
rempah-rempah.

22
Pada akhir abad ke XVI bangsa belanda dating pula ke Indonesia dengan menempuh
jalan yang penuh kesulitan.untuk menghindarkan persaingan di antara mereka
sendiri(belanda),kemudian mereka mendirikan perkukumpulan dagang yang bernama VOC
(verenigde oost indische compagnie),yang di kalangan rakyat terkenal dengan
istilah’kompeni’.

Pada abad itu sejarah mancatat bawah belanda berusaha dengan keras untuk
memperkuat dan mengintensifkan kekuasaannya si seluruh Indonesia.mereka ingin
membulatkan hegemoninya sampai kepelosok-pelosok nusantara kita.melihat praktek-
praktek penjajahan belanda tersebut maka meledaklah perlawanan rakyat di berbagai
wilayah nusantara, antara lain: patimura di Maluku(1821-1837), baharudin di
Palembang(1819), imam bonjol di minang kabau (1821-1837),pangeran diponogoro di
jawa tengah (1825-830),jlentik,polim,teuku tjik di tiro,teuku umar dalam perang
aceh(1860),anak agung made dalam perang Lombok(1894-1895).

Penghisapan mulai memuncak ketika belanda mulai menerapkan system monopoli


melalui tanam paksa (1830-1870) dengan memaksakan beban kewajiban terhadap rakyat
yang tidak berdosa.penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi dan belanda sudah tak peduli
lagi dengan ratap penderitan tersebut ,bahkan mereka semakin gigih dalam menghisap
rakyat untuk memperbanyak kekayaan bangsa belanda.

D. Kebangkitan Nasional

Pada abad XX di panggung politik inernasional terjadilah pergolokan kebangkitan


dunia timur dengan suatu kesadaran akan ekuatannya sendiri. Republik Philipina
(1898),yang dipelopori joze rizal,kemenangan jepang atas rusia di tsunia(1905),gerakan
sun yat sen dengan republic cinanya(1911).

Budi utomo yang didirikan pada tanggal 20 mei 1908 inilah yang merupakan pelopor
pergerakan nasional ,sehingga segera setelah itu munculan oranisasi-organisai pergerakan
nasional.

Berikutnya muncullah indische partij(1913). Dan dalam situasi yang menggoncagkan


itu muncullah partai asonal Indonesia (PNI) yang di peroleh soekarano,
ciptomangunkusumo, sartono, dan tokoh lainnya. Mulailah kini perjuangan nasional
Indonesia dititik bertka pada kesatuan nasional dengan tujuan yang jelas yaitu Indonesia
merdeka. Pejuang rintisan kesatuan nasional kemudian diikuti dengan sumpah pemuda 28
oktober 1928,yang isinya satu bahasa,satu bangsa dan satu tanah air Indonesia.

E. Zaman Penjajahan Jepang

Setelah Nederland diserbu oleh tentara nazi jerman pada tanggal 5 mei 1940 dan
jatuh pada tanggal 10 mei 1940, maka ratu wihelmina dengan segenap aparat
pemerintahnya menguasai inggris,sehingga pemerintaan belanda masih dapat berkomuikasi
dengan pemerintah jajahan di Indonesia.janji belanda tentang Indonesia merdeka dikelak

23
kemudian hari dalam kenyataan nya hanya satu kebohongan belaka sehingga tidak pernah
menjadi kenyataan.bahkan sampai akhir pendudukan pada tanggal 10 maret
1940,kemerdekaan bangsa Indonesia itu tidak pernah terwujud.

Pada tanggal 29 april 1945 besamaan dengan hari ulang tahun kaisar jepang beliau
memberikan hadiah ulang tahun kepada bangsa Indonesia yaitu janji kedua pemerintahan
jepang berupa “kemerdekaan tanpa syarat”. Janji itu disampaikan kepada bangsa Indonesia
seminggu sebelum bangsa jepang menyerah ,dengan maklumat gunseikan (pembesar
tertinggi sipil dari pemerintah militer jepang di seluruh jawa dan Madura),No.23.dalam
janji kemerdekaaan yang kedua tersebut bangsa Indonesia diperkenankan untuk
memperjuangkan kemerdekaan nya .bahkan dianjurkan kepada bangsa Indonesia untuk
mendirikan bangsa Indonesia merdeka dihadapan musuh-musuh jepang yaitu sekutu
termasuk kaki tangannya NICA (Ntherlands Indie Civil Administra-tion), yang ingin
mengembalikan kekuasaan kolonialnya di Indonesia.bahkan NICA melancarakan serangan
nya di pulau tarakan dan morotai.

Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari bangsa Indonesia maka sebagai
realasinya janji tersebut maka dibentuklah suatu bada yang bertugas untuk menyelidiki
usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia yatiu Badan penyelidik usaha-usaha
persiapan kemerdekaan(BPUPK) atau Dokuritu zyunbi tioosakai.

Sidang BPUPK Pertama

sidang BPUPK pertama dilaksanakan selama empat hari,berturut-turut yang tampil


untuk berpidato menyapaikan usulannya adalah sebagai berikut:

a) Mr.Muh.Yamin Tanggaal 29 mei 1945

Dlam pidatonya pada 29 mei 1945 Mr.Muh.Yamin mengusulkan tentang negara


Indonesia yang akan dibentuk,jadi tidak secara langsung menguraikan rincian sila-sila
pancasila.berikut uraian dasar-dasar negara menurut Muh.Yamin;

1. Permusyawaratan(qur’an)-mufakat(adat)

2. Perwakilan(adat)

3. Kebijakasanaan(rationalisme).

b) Prof.soepomo Tanggal 31 mei 1945

Berbeda dengan usulan Mr.Muh.Yamin ,Prof.Dr.Soepomo mengemukakan teori-


teori negara sebagai berikut:

1. Teori negara perseorangan(individualis)

2. Paham negara kelas(class theory)atau teori golongan

24
3. Paham negara integralistk

c) Ir.Soekarno tanggal 1 juni 1945

Ulasan rumusan dasar negara dalam sidang BPUPKI yaitu diformulasikan secara
lengkap adalah pidato Ir.Soekarno yang disampaikannya dalam sidangtersebut secara lisan
tanpa teks.

1. Nasionalisme ( kebangsaan Indonesia)

2. Internasionalisme (peri kemanusiaan)

3. Mufakat (demokrasi)

4. Kesejahteraan sosial

5. Ketuhanan Yang Maha Esa (ketuhanan Yang Berkebudayaan)

Lima prinsip dasar negara diusulkan soekarno diberi nama “Pancasila”. Menurut
soekarno kelima sila di peras menjadi ”Tri Sila” meliputi (1) Sosio-nalisme sintesis
kebangsaan (nasionalisme) Peri kemanusiaan (internasionalisme), (2) Sosio-demokrasi
sintesis dari ‘mufakat (demokrasi), kesejahteraan sosial. (3) Ketuhanan beliau juga
memperas “Tri Sila” menjadi “Eka Sila” yang intinya Gotong Royong. Beliau
mengusulkan Pancasila sebagai dasarfilsafat negara dan pandangan hidup bangsa indonesia
atau philosofhische grondslag’pandangan setingkat dengan aliran-aliran besar dunia atau
sebagai ‘Weltanschauung’ dan di atas dasar itu didirikan negara Indonesia. Selain lisan
dalam uraian juga memandingkan dasar filsafat negara pancasila dengan ideologi-ideologi
besar dunia seperti, liberalisme, komunisme, chauvinisme, kosmolitisme, San Min Chui
dan ideologi besar dunia lainnya (Sekretariat Negara, 1995 : 63-84)

Menurut Kahin, pandangan Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945 sila-sila yang
diusulkan itu merupakan filsafat sosial-politik yang diyakini pemimpin-pemimpin
nasionalis. Sebagai suatu sintesis dari demokrasi Barat, Islam modern, Marxis, dan
gagasan-gagasan demokrasi dan komuunalistik pedesaan yang asli dasar umum pemikiran
sosial sebagian besar elit politik Indonesia setelah penjajahan (Kahin, 1970:123)
(Soewarno, 1993:96)

Dahm menekankan sinteaia yang dilakukan soekarno itu berdasarkan filsafat Jawa
menjadi suatu rumusan besar prinsip negara persatuan. “ Semua hal adalah satu” suatu
local wisdom serta kearifan organ Jawa ( Dahm, 1987:424). Senada prinsip integralistik
yang dikembangkan dan diusul Soepomo. Soekarno mengemukakan tiga alternatif,
Pancasila, Trisila, dan Ekasila.

Ide kreatif Soekarno bercorak ‘elektis inkorporasi’ untuk mendapatkan rumusan


humanisme dalam dasar filsafat negara. Mensintesiskan pemikiran Timur India dan Cina
dengan filsafat humanisme Gandhi dan San Min Chui Sun Yat Sen. Melalui metode

25
induktif perumusan Pancasila, Soekarno telah mengamati sejarah perkembangan Indonesia,
sebagai tokoh pergerakan nasional, serta kemajemukan bangsa Indonesia menghasilkan
suatu pemikiran yang memiliki ciri elektis inkorporasi artinya menurut Notonagoro
sintesis berbagai pandangan berbeda di satu padakan tujuan mulia.

Untuk memantapkan semnagat persatuan dalam mekawan penjajahan dikembangkan


pemikiran dari Otto Bauer menekankan kesamaan perangai, rasa senasib faktor penting
kehidupan berbangsa dan bernegara. Dasar pemikiran sintesis dikembangkan oleh
Soekarno mengangkat nasionalisme San Min Chui Sun Yat Sen, konsep teori geopolitik
Bauer, konstelasi wilayah geografis negara, elemen rakyat multi etnis memerlukan suatu
ikatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Suwarno, 1993:98)

Pemikiran heuristik brilian dimana prinsip-prinsip dasar nasionalisme, geopolitik


didasarkan nilai moralitas Ketuhanan Yang Maha Esa serta humanisme Gandhi yang
diucapkannya “ My nationalism is humanity”. Sila-sila kerakyatan kesejahteraan (keadilan
sosial) dilandasi oleh nilai Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan
beradab suatu upayah Soekarno untuk menyatukan pendapat yang berkembang.

Sidang BPUPKI kedua (10-16 Juli 1945)

Sebelum sidang BPUPKI kedua dimulai, diumumkan 6 anggota baru Badan


Penyelidik yaitu:

1. Abdul Fatah Hasan

2. Asikiin Natanegara

3. Soerjo Hamidjojo

4. Muhammad Noor

5. Besar

6. Abdul Kaffar

Ir. Soekarno juga melaporkan hasil pertemuan sejak tanggal 1 Juli. Pada tanggal 22
Juni 1945 Ir. Soekarno mengadakan pertemuan panitia kecil dengan anggota-anggota
badan penyelidik yang merangkap Tituoo Sangi In dari Jakarta. Dalam pertemuan hadir
38 anggota yang diadakan di gedung kantor besar Jawa. Hooko Kai 9 (Kantor Bung Karno
sebagai Honbucoo/ Sekretaris Jendral Jawa Hooko Kai). Mereka membentuk panitia kecil
terdiri 9 orang yang disebut “Panitia Sembilan” anggotanya :

1. Ir. Soekarno

2. Wachid Hasyim

26
3. Mr. Muh. Yamin

4. Mr. Maramis

5. Drs. Moh. Hatta

6. Mr. Soebardjo

7. Kayai Abdul Kahar Muzakir

8. Abikoesno Tiokrosoejoso

9. Haji. Agus Salim

Pembukaan Hukum Dasar, rancangan Prembul Hukum Dasar di maklumatkan oleh


panitia kecil Badan Penyelidik dalm rapat BPUPKI kedua tanggal 10 Juli 1945. Pemakaian
hukum dasar kemudian diganti dengan istilah Undang – Undan g Dasar. Menurut
keterangan Prof. Soepomo dalam rapat tanggal 15 Juli 1945. Hukum dalam bahasa
Belanda ‘ recht’ meliputi tertulis dan tidak tertulis. UUD adalah hukum tertulis.
Keputusan penting dalam rapat BPUPKI kedua dalam rapat 10 Juli diambil keputusan
tentang bentuk negara. Dari 64 suara, pro Republik 55 orang, kerajaan 6 orang, bentuk lain
1 orang.

Tanggal 11 Juli 1945 keputusan penting tentang luas wilayah baru terdapat tiga usul:

1. Hindia Belanda yang dulu

2. Hindia Belanda ditambah Malaya, Borneo Utara, Irian Timur, Timor Portugis dan
pulau-pulau sekitarnya.

3. Hindia Belanda ditambah Malaya dikurangi Irian Barat.

Keputusan-keputusan lain adalah membentuk panitiakecil yaitu:

1. Panitia perancang Undang –Undang Dasar diketua Ir. Soekarno,

2. Panitia ekonomi dan keuangan yang diketuai Drs. Moh. Hatta

3. Panitia pembelaaan tanah air diketuai Abikusno Tjokrosoejoso.

Tanggal 14 Juli Badan Penyelidik bersidang lagi dan Panitia Perancang Undang-
Undang Dasar melpaorkan hasil pertemuannya. Susunan Undang-Undang Dasar diusulkan
terdiri 3 bagian:

a. Pernyataan Indonesia merdeka berupa dakwaan di muka dunia atas jajahan


Belanda

b. Pembukaan di dalamnya terkandung dasar negara Pancasila

27
c. Pasal-pasal Undang-Undang Dasar (Pringgodiggo, 1979:169-170)

F. Proklamasi Kkemerdekaan dan sidang PPKI

Menurut Nanpoo Gun pemerintah Tentara Jepang untuk seluruh daerah selatan
tanggal 7 Agustus, akan dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaaan Indonesia atau
Dokuritsu Zyunbi Inkai yang terdiri atas 21 orang. Adapun susunan keanggotaan PPKI:

1. Ir. Soekarno (Ketua)

2. Drs. Moh. Hatta (Wakil Ketua)

3. Prof. Mr. Dr. Soepomo (Anggota)

4. KRT Radjiman Wedyodiningrat (Anggota)

5. R. P. Soeroso (Anggota)

6. Soetardjo Kartohadikoesoemo (Anggota)

7. Kiai Abdoel Wachid Hasjim (Anggota)

8. Ki Bagus Hadikusumo (Anggota)

9. Otto Iskandardinata (Anggota)

10. Abdoel Kadir (Anggota)

11. Pangeran Soerjohamidjojo (Anggota)

12. Pangeran Poerbojo (Anggota)

13. Dr. Mohammad Amir (Anggota)

14. Mr. Abdul Abbas (Anggota)

15. Mr. Mohammad Hasan (Anggota)

16. Dr. GSSJ Ratulangi (Anggota)

17. Andi Pangerang (Anggota)

18. A.H. Hamidan (Anggota)

19. I Goesti Ketoet Poedja (Anggota)

20. Mr. Johannes Latuharhary (Anggota)

21. Drs. Yap Tjwan Bing (Anggota)

Jendral Terauchi tanggal 9 Agustus memberikan 3 cap:

28
1. Soekarno diangkat sebagai Ketua Persiapan Panitia Kemerdekaan

2. Panitia persiapan boleh bekerja tanggal 9 Agustus.

3. Cepat tidaknya pekerjaan panitia diserahkan kepada panitia.

Sekembalinya dari Saigon 14 Agustus 1945 di Kemayoran Ir. Soekarno


mengumumkan bahwa bangsa Indonesia merdeka bukan merupakan hadiah dari Jepang
tetapi hasil perjuangan bahsa Indonesia sendiri. Dengan penambahan sejumlah anggota
sifat Panitia Persiapan Kemerdekaan berubah menjadi badan pendahuluan bagi Komite
Nasional yang menyelenggarakan Undang-Undang Dasar dan memilih presiden dan wakil
presiden. Komite Nasional memiliki sifat presentif sifat perwakilan bagi seluruh rakyat
Indonesia.

Sejak Jepang jatuh , badan Jepang berubah menjadi Badan Nasional dengan
pembahan 6 anggota yaitu:

1. Wiranatakusuma

2. Ki Hajar Dewantara

3. Kasman Singodimejo

4. Sajuti melik

5. Mr. Iwa Kusurna Sumantri

6. Mr. Achmad Soebarjo

Setelah Jepang menyerah pada Sekutu dimanfaatkan pejuang kemerdekaan dalam


menyusun proklamasi. Perbedaan terjadi golongan muda Sukarni, Adam Malik, Kusnaini,
Syahrir, Soedarsono, Soepono dkk. Golongan pemuda lebih bersikap agresif menghendaki
kemerdekaan secepatnya. Sehingga Ir. Soekarno dan Moh. Hatta di asingkan ke
Rengasdengklok, agar tidak berpengaruh dari Jepang. Pada tengah malam Soekarno-Hatta
pergi ke Laksamana Maeda di Oranye Nassau Boulevard (sekarang Jl. Imam Bonjol no.1)
di mana telah kumpul B.M Diah, Bakri, Sayuti Malik, Iwa Kusumasumantri, Chairul
Saleh dkk dan anggota PPKI. Untuk merumuskan redaksi naskah proklamasi. Pada
tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56, jum;at pagi jam 10 pagi WIB jam
11.30 waktu jepang. Bung Karno mEmbacakan Proklamasi di dampingi Moh. Hatta.

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain lain diselenggarakan

dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

29
Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta

Sidang PPKI

Sehari setelah proklamasi tanggal 18 Agustus 1945. Rancangan naskah Pembukaan


UUD menyangkut perubahan sila pertama Pancasila. Para pendiri negara bermusyawarah
akhinya disempurnakan naskah Pembukaan UUD 1945

Hasil Sidang PPKI Pertama ( 18 Agustus 1945)

Dihadiri 27 orang menghasilkan 3 keputusan penting.

1. Menetapkan dan mengesahkan UUD negara RI yang rancangannya telah


dipersiapkan oleh BPUPKI sebelumnya.

2. Memilih Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden
pertama Indonesia.

3. Akan dibentuk sebuah Komite Nasional, sebagai badan pembantu presiden dan
dalam menjalankan tugas sehari-hari sebelum MPR/DPR terbentuk sesuai dengan UUD.

Sidang PPKI 19 Agustus 1945

Hasil sidang yaitu:

1. Pembagian wilayah, terdiri atas 8 provinsi. (Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera,
Borneo, Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil.

2. Membentuk Komite Nasional (Daerah).

3. Menetapkan 12 departemen dengan menterinya yang mengepalai departemen dan


4 menteri negara. Departemen Dalam Negeri,

Sidang ketiga PPKI 20 Agustus 1945

Membahas agenda tentang ‘Badan Keluarga Korban Perang’ dan salah satu hasi
pasal adalah Pembentukan Badan Keamanan Rakyat(BKR).

Sidang keempat PPKI (22 Agustus 1945) Pembentukan Komite Nasional dan
membentuk Partai Nasional Indonesia yang pusatnya di Jakarta.

30
G. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Secara ilmiah proklamasi kemerdekaan mengandun pengertian berikut:

a) Sudut ilmu hukum (yudiris) proklamasi merupakan tidak berlakunya tertib hukum
kolonial dan mulai berlakunya tertib hukum nasional.

b) Secara politis idelogis proklamasi mengandung arti bahwa bangsa Indonesia


terbebas dari penjajahan bangsa asing dan memiliki kedaulatan untuk menentukan nasib
sendiri dalam suatu negara.

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 bangsa Indonesia menghadapi


kekuatan sekutu yang berupaya menanamkan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia
yaitu pemaksaan untuk mengakui pemerintah NICA (Netherland Indies Civil
Administration). Belanda juga mempropagandakan kepada dunia luar bahwa negara
proklamasi R.I hadiah fasis Jepang.

Pemerintah R.I mengeluarkan 3 buah maklumat untuk melawan propaganda Belanda


pada dunia Internasional.

1) Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945 yang menghentikan


kekuasaan luar biasa dari Presiden sebelum masa waktunya (seharusnya berlaku selama
enam bulan). Kemudian maklumat tersebut memberikan kekuasaan tersebut kepada MPR
dan DPR yang semula dipegan oleh Presiden kepada KNIP.

2) Maklumat pemerintah tanggal 03 Nopember 1945, tantang pembentukan partai


politik yang sebanyak–banyaknya oleh rakyat. Hal ini sebagai akibat dari anggapan pada
saat itu bahwa salah satu ciri demokrasi adalah multi partai. Maklumat tersebut juga
sebagai upaya agar dunia barat menilai bahwa negara Proklamasi sebagai negara
Demokratis

3) Maklumat pemerintah tanggal 14 Nopember 1945, yang intinya maklumat ini


mengubah sistem kabinet Presidental menjadi kabinet parlementer berdasarkan asas
demokrasi liberal. Sistem demokrasi liberal merupakan penyimpangan konstitusional
terhadap UUD 1945 secara ideologis terhadap pancasila.

Pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS)

Hasill konfersi meja bundar (KMB) ditandatangani persetujuan (Mantelresolusi) oleh


Ratu Belanda Yuliana dan wakil pemerintah RI di kota Den Haaag tanggal 27 Desember
1949 konprensi meja bundar (KMB) dilakukan untuk disetujui dan ditanda tangani (mantel
resolusi) Oleh ratu belanda Yulianuntuk a dan wakil pemerintah RI di Kota Den Hag yang
menghasilkan keputusan. Hasil KMB dengan Konstitusi RIS:

1) Konstitusi RIS menentukan bentuk negara serikat (federal) yang membagi


indonesia menjadi 16 negara bagian. (pasal 1 dan 2)

31
2) Konstitusi RIS menentukan sifat pemerintahan berdasarkan asas demokrasi
liberal, pada mentri bertanggung jawab kepada paelemen. (pasal 118-ayat 2).

3) Mukadimah Konstitusi RIS menghapuskan jiwa dan semangat maupun isi


pembukaan UUD 1945, proklamasi kemerdekaan sebagai naskah proklamasi yang rinci.

Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1950

Berdirinya negara RIS dalam Sejarah ketatanegaraan Indonesia adalah sebagai suatu
taktik secara politis untuk tetap konsisten terhadap deklarasi Proklamasi yang terkandung
dalam pembukaan UUD 1945 yaitu negara persatuan dan kesatuan sebagaimana termuat
dalam alinea 4, bahwa pemerintah negara…….” yang melindungi segenap bangsa Indoneia
dan seluruh tumpah darah negara Indonesia …..” yang berdasarkan kepada UUD 1945 dan
Pancasila. Berdasarkan hal tersebut terjadilah gerakan unitaristis secara spontan dan rakyat
untuk membentuk negara kesatuan yaitu menggabungkan diri dengan Negara Proklamasi
RI yang terpusat di Yokyakarta. Pada suatu ketika negara dalam RIS tinggalah 3 buah
negara bagian saja yaitu:

1. negara bagian RI Proklamasi

2. Negara Indonesia Timur (NIT)

3. Negara Sumatera Timur (NST)

Akhirnya berdasarkan persetujuan RIS dengan negaraRI tanggal 19 Mei 1950, maka
seluruh negara bersatu dalam negara kesatuan, dengan Konstitusi Sementara yang berlaku
sejak 17 Agustus 1950. UUDS 1950 telah merupakan tonggak untuk menuju cita-cita
proklamasi, Ppancasila dan UUD 1945, kenyataanya masih berorientasi kepada pemerintah
yang berasas demokrasi liberal sehingga isi maupun jiwanya menyimpang terhadap
Pancasila. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Sistem multi partai dan cabinet parlementer berakibat silih bergantinya cabinet
yang

rata-rata hanya berumur 6 atau 8 bulan. Hal ini berakibat tidak adanya pemerintahan
yang menyusun program serta tidak mampu menyalurkan dinamika masyarakat ke arah
pembangunan,bahkan hanya menimbulkan pertentangan,gangguan-gangguan keamanan
serta penyelewengan dlam masyarakat.

2. Secara idieologis mukadimah konstitusi sementara 1950 , tidak berhasil


mendekati perumusan otentik pembukaan UUD 1945, yang dikenal sebagai declaration of
independence bangsa indonesia. Demikian pula perumusan pancasila dasar Negara jugaa
terjadi penyimpangan. Namun bagaimana pun juga UUDS 1950, adalah suatu strategi kea
rah Negara RI yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dari negaraRepublik Indonesia
Serikat.

32
Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Pemilu tahun 1959 ternyata tidak seseuai dengan kebutuhan dan keinginan
masyarakat, bahkan mengakibatkan ketidakstabilan pada politik, social ,ekonomi, dan
hankam. Hal ini disebabkan oleh konstituante yang seharusnya membuat UUD negara RI
ternyata membahas kembali dasar negara, maka pada tanggal 5 juli 1959 yang menyatakan
presiden sebagai badan yang harus bertanggung jawab mengeluarkan dekrit atau
pernyataan, yang isinya :

1. Membubarkan kontituante

2. Menetapkan kembali UUDS 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950

3. Dibentuknya MPRS dab DPAS dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Berdasarkan Dekrit Presiden tersebut maka UUD 1945 berlaku kembali di negara
Republik Indonesia hingga sat ini.

Pengertian Dekrit

Suatu putusan dari organ tertinggi(kepala negara atau organ lain) yang merupakan
penjelmaan kehendak yang sifatnya sepihak. Dekrit dilakukan bila keadaan darurat.
Landasan hukum dekrit adalah hukum darurat yang dibedakan dua macam yaitu:

a) Hukum Tatanegara Darurat Subjektif

Suatu keadaan hukum yang memberi wewenang kepada organ tertinggi untuk bila
perlu untuk mengambil tindakan-tindakan hukum bahkan kalau perlu melanggar undang-
undang hak asasi rakyat, bahkan kalau perlu Unfdang-Undang Dasar. Contoh
membubarkan konstituante serta menghentikan UUDS 1950 diganti UUD 1945.

b) Hukum Tatanegara Darurat Objektif

Suatu keadaan hukum yang memberi wewenang kepada organ tertinggi untuk bila
perlu untuk mengambil tindakan-tindakan hukum, namun tetap berlandaskan konstitusi
yang berlaku. Contoh SP Maret 1966.

Ideologi Pancasila saat itu dirancang PKI yaitu digantinya ideologi Manipol Usdek
serta konsep Nasakom. PKI membangun komunis internasional RRC. Puncaknya pada
pemberontakan Gestapu PKI G 30 S PKI tanggal 30 September 1956 untuk merebut
kekuasaan sah RI dan pembunuhan dari pada jendral yang tidak berdosa. Pemberontakan
itu berupaya mengganti paksa ideologi dan dasar filsafat pancasila dengan ideologi
komunis Marxis.

Masa Orde Baru

33
Masa Orde Baru suatu tatann masyarakat dan pemerintahan yang menuntut
dilaksanakanyya Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsukuen. Munculnya aksi
KAPPI, KAMI, KAGI gelombang aksi rakyat di kenal triturta(tiga tuntutan hati nurani
rakyat)

Muncul Tritura akibat adanya peristiwa pemberontakan PKI yang berisi :

• Pembubaran PKI

• Pembersihan kabinet dari unsur PKI

• Penurunan harga kebutuhan pokok

zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran. 2. Filsafat sebagai suatu jenis
problema yang dihadapi manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia
mencari suatu kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal manusia.
B. Filsafat merupakan suatu sistem pengetahuan yang bersifat dinamis. 1. Metafisika
Membahas tentang hal-hal yang bereksistensi di balik fisis, yang meliputi bidang-bidang
ontologi, kosmologi, dan antropologi. 2. Epistemologi Berkaitan dengan persoalan hakikat
pengetahuan. 3. Metodologi Berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu
pengetahuan. 4. Logika Berkaitan dengan persoalan filsafat berfikir, yaitu rumusan dan
dalil berfikir yang benar. 5. Etika Berkaitan dengan moralitas, tingkah laku manusia. 6.
Estetika Berkaitan dengan persoalan hakikat keindahan

B. Rumusan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem

Sistem adalah suatu keasatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling


bekarja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan
utuh yang memiliki ciri-ciri : A. Suatu kesatuan bagian-bagian B. Bagian-bagian tersebut
mempunyai fungsi sendiri-sendiri C. Saling berhubungan dan saling ketergantungan. D.
Keseluruhan dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (tujuan sistem) E. Terjadi
dalam suatu lingkungan yang kompleks.

Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila Pancasila setiap sila pada
hakikatnya merupakan suatu asas sendiri, fungsi sendiri namun secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang sistematis. 1. Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang
Bersifat Organis.

Monopluralis merupakan kesatuan sila-sila Pancasila yang bersifat organis, memiliki


hakikat secara filosofis yang bersumber pada hakikat dasara ontologis manusia sebagai
pendukung dari inti, isi dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia. 2. Susunan Pancasila
yang Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramida Secara ontologis hakikat sila-sila
Pancasila mendasarkan pada landasan Pancasila yaitu :

• Tuhan

34
• Manusia

• Satu

• Rakyat

• Adil

Hakikat dan inti Pancasila :

• Ketuhanan

• Kemanusiaan

• Persatuan

• Kerakyatan

• Keadilan

3. Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling
mengkualifikasi Kesatuan sila-sila Pancasila yang meajemuk tunggal, hierarki piramidal
juga dimaksudkan bahwa dalam setiap sila terkandung nilai keempat sila lainnya, atau
dengan lain perkataan dalam setiap sila senantiasa dikualifikasi oleh keempat sila lainnya.
KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI KESATUAN SISTEM FILSAFAT
Secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis,
dasar epistemologis, dan dasar oskologis sendiri yang berbeda degan sistem filsafat yang
lainnya misalnya materialisme, liberalisme, pragmatisme, komunisme, idealisme dan lain
paham filsafat di dunia. 1. Dasar Antropologis Sila-Sila Pancasila 2. Dasar Epistemologis
Sila-sila Pancasila 3. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila Nilai-nilai Pancasila sebagai
Suatu Sistem Nilai-nilai yang terkandung dalam sila satu sampai dnegan sila lima
merupakan cita-cita harapan dan dambaan bangsa Indonesia yang akan diwujudkannya
dalam kehidupan. Sejak dahulu cita-cita tersebut telah didambakan oleh bangsa Indonesia
agar terwujud dalam suatu masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta
raharja, dengan penuh harapan diupayakan terealisasi dalam setiap tingkah laku dan
perbuatan setiap manusia Indonesia.

C. PANCASILA SEBAGAI NILAI DASAR FUNDAMENTAL BAGI BANGSA DAN


NEGARA REPUBLIK INDONESIA

1. Dasar Filofofis 2. Nilai-nilai Pancasila sebagaiNIlai Fundamental Negara INTI ISI


SILA PANCASILA 1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Sila Kemanusiaan Yang Adil
dan Beradab 3. Sila Perstuan Indonesia 4. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin oLeh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan 5. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia.

35
BAB III

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

Dalam filsafat Pancasila terkandung di dalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang


bersifat kritis, mendasar, rasional, sitematis dan kokoh. Hubungan kesatuan keseluruhan
dari sila-sila Pancasila dipersatukan dengan rumus hierarkhis tersebut diatas

1. Sila pertama: Ketuhanan yang maha esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan
yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan perwakilan, yang berkeadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia

2. Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang
Berketuhan Yang Maha Esa, yang mempersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan, yang berkeadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.

3. Sila ketiga: persatuan Indonesia adalah perstuan yang berKetuhanan Yang Maha
Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.

4. Sila keempat: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan perwakilan/perwakilan, adalah kerakyatan BerKetuhanan Yang Maha
Esa, Berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Sila kelima : keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang
BerKetuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang
berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan(Noyonagoro, 1975:43,44)

C. Kesatuan Sila-sla Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat.

Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan


yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan makna, dasar ontologis, dasar
epistemologis serta dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila.Selain kesatuan sila-sila
Pancasila itu hierarkhi dalam hal kuantitas juga dalam hal isi sifatnya yaitu menyangkut
makna serta hakikat sila-sila Pancasila. Kesatuan yang demikian meliputi kesatuan dalam
hal dasar ontologis, dasar episternologi serta dasar aksiologi dari sila-sila Pancasila ( lihat
Notonagoro 1980:61 dan 1975 : 52,57) secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan
system filsafat memiliki, dasar ontologis, dasar epistemoligis dan dasar aksiologis sendiri

36
yang berbeda dengan system filsafat yang lainnya misalnya materialsm, liberalism,
pragmatism, komunisme, idealism dan lain paham filsafat didunia.

1. Dasar Antropologos (hakikat manusia) Sila-sila Pancasila.Pancasisla sebagai suatu


kesatuan system filsafat tidak hanya kesatuan yang menyangkut sila-silanya saja melainkan
juga meliputi hakikat dasar dari sila-sila pancasila atau secara filosofis meliputi dasar
ontologis(hakikat) sila-sila Pancasila. Dasar ontologis Pnacasila pada hakikatnya adalah
manusia yang memiliki hakikat mutlak monopluralis,oleh karena itu hakikat dasar ini juga
disebut sebagai dasar antropologi. Subjek pendukung pokok sila-sila Pancasila adalah
menusia(Notonogoro, 1975:23). Filsafat Negara bahwa Pancasila adalah dasar filsafat
Negara, Adapun pendukung pokok Negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia
itu sendiri, sehingga tepatlah jika kalau dalam filsafat Pancasila bahwa hakikat dasar
antropologis sila-sila Pancasila adalah manusia.

Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-
hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat,raga dan jiwa dan makhluk sosial, serta
kedudukan kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta
kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk
tuhan yang Maha Esa. Oleh karena kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadai
berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan inilah maka secara hierakhis sila pertama
Ketuhanan yang maha esamendasari dan menjiwai keempat sila-sila Pancasila yang
lainnya. (Notonogoro,1975 :53)

Hubungan kesesuaian antara Negara dengan landasan sila-sila Pancasila adalah


berupa hubungan sebab-akibat yaitu Negara pendukung hubungan dan Tuhan, manusia
satu, rakyat, dan adil sebagai pokok pangkal hubungan. Sebagai Suatu filsafat landasan
sila-sila Pancasila itu dalam hal isinya menunjukkan suatu hakikat makna yang bertingkat
(Notonagoro, tanpa tahun : 7) serta-tinjau dari keluasannya memiliki bentuk piramida.

Berdasarkan uraian tersebut maka hakikat kesatuan sila-sila pancasila yang


bertingkat dan berbentuk pyramidal dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa mendasari dan menjiwai sila-sila
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Hal tersebut berdasarkan pada hakikat bahwa pendukung pokok
Negara adalah manusia, karena Negara sebagai lembaga hidup bersama sebagai makhluk
Tuhan yang maha esa, sehingga adanya manusia sebagai akibat adanya tuhan yang maha
esa sebagai kuasa prima.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab disasari dijiwai oleh sila ketuhanan
yang muha esa serta mendasari dan menjiwai sila persatuan Indonesia, siala kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta sila
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal inidapat dijelaskan sebagai berikut:

37
Negara adalah lembaga kemanusiaan yang diadakan oleh manusia (Noonagoro.1975:55).
Maka manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok Negara.Dengan demikian pada
hakikatnya yang bersatu membentuk suatu Negara adalah manusia, dan manusia yang
bersatu dalam suatu Negara adalah disebut rakyat sebagai unsur pokok Negara, serta
terwujudnya keadilan dalam hidup manusia bersama sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.

Sila ketiga,Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang maha
esa dan sila kemanusiaan yang adil dan beradab serta mendasari dan menjiwai sila
kerakyatan yang dipimpin oleh hikamt kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hakikat sila ketiga tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut hakikat persatuan didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan dan
kemanusiaan, bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan yang maha esa yang pertama harus
direalisasikan dalah mewujudkan suatu persatuan dalam suatu persekutuan hidup yang
disebut keluarga.

Sila keempat, adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan yang adil
dan beradab, maka pokok sila keempat adalah kerakyatan yaitu kesesuaiannya dengan
hakikat rakyat.Sila keempat ini didasari oleh sila ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan
dan persatuan. Dalam kaitannya dengan kesatuan yang bertingkat maka hakikat sila
keempat adalah sebagai berikut, hakikat rakyat adalah oenjumlahan manusia-manusia,
semua orang, semua warga dalam suatu wilayah tertentu. Hal ini mengandung arti bahwa
Negara adalah demi kesejahteraan warganya atau dengan lain perkataan Negara adalah
demi kesejahteraan rakyatnya. Maka tujuan dari Negara adalah terwujudnya masyarakat
yang berkeadilan, terwujudnya keadilan dalam hidup bersama(keadilan sosial).

Sila kelima,keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia memiliki makna pokok
keadilan yaitu hakikat kesesuaian dengan hakikat adil. Berbeda dengan sila-sila lainya
maka sila kelima ini didasari dan dijiwai oleh keempat sila lainnya yatu: ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan. Hal ini mengandung hakikat bahwa keadilan
adalah sebagai akibat adanya Negara kebangsaan dari manusia-manusia yang
berketunhanan yang maha esa.Silakeadilan sosial adalah merupakan tujuan dari keempat
sila lainnya.

2. Dasar Epistemologi(pengetahuan) Sila-sila Pancasila.

Pancasila sebagai suatu system filsafat pada hakikatnya juga berupa suatu system
pengetahuan. Dalam kehidupan sehari hari pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi
bangsa Indonesia daam memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa,
dan Negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan
masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Dasar epistemologi Pnacasila pada
hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologinya.Pancasila sebagai suatu
ideology bersumber pada nilai-nilai dasarnya yaitu Filsafat Pancasila.(Soeryanto, 1991:50).

38
Terdapat tiga persoalan yang mendasari dalam epistemologi yaitu :Pertama,tentang
sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, Ketiga
tentang watak pengetahuan manusia (Titus 1984:20). Persoalan epistemology dalam
hubunganya dengan pancasila dapat dirinci sebagai berikut.

Pancasila sebagai suatu objek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber
pengetahuan pancasila dan susunan pengetahuan pancasila.Tentang sumber pengetahuan
pancasila, sebagaimana dipahami bersama bahwa sumber pengethuan pancasila adalah
nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri, bukan berasal dari bangsa lain,
bukannya hanya merupakan perenungan serta pemikiran seseorang atau beberapa orang
saja namun dirumuskian oleh wakil-wakil bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara.
Dengan lain perkataan bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai kausa materials pancasila.
Oleh karena sumber pengetahuan pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri memiliki nilai-
nilai adat-istiadat serta kebudayaan dan religious maka diantara bangsa Indonesia sebagai
pendukung sila-sila pancasila dengan pancasila sendiri sebagai suatu system pengetahuan
memiliki kesesuaian yang bersifat korespondensi.

Pembahasan berikutnya adalah pandangan pancasila tentang pengetahuan


manusia.Sebagaimana dijelaskan dimuka bahwa masalah epistemology pancasila
diletakkan dalam rangka bangunan filsafat manusia.Maka konsepsi dasar ontologis sila-sila
Pancasila yaitu hakikat manusia monopluralis merupakan dasar pijak epistemology
Pancasila. Menurut pancasila bahwa hakikat manusia adalah monupluralis yaitu hakikat
manusia yang memiliki unsur-unsur pokok yaitu susunan kodrat yang terdiri F atas raga
(jasmani) dan jiwa ( rohani). Tingkat hakikat raga manusia adalah unsur-unsur; fisis
anorganis, vegetative, animal.Adapun unsur jiwa(rohani) manusia terdiri atas unsur-unsu
potensi jiwa manusia yaitu: akal, yaitu potensi unsur kejiwaan manusia dalam
mendapatkan kebenaran pengetahuan manusia. Rasa yaitu unsur potensi jiwa manusia
dalam tingakatn kemampuan estetis(keindahan)

Berdasarkan tingakatn tersebut diatas maka panacasila mengakui kebenaran rasio


yang bersumber pada akal manusia. Selain itu manusia memiliki indra sehungga dalam
proses reseptif indrabmerupakan alat untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan yang
bersifat empiris. Maka pancasila juga mengakui kebenaran empiris terutama dalam
kaitannya dengan pengetahuan manusia yang bersifat positif.Potensi yang terdapat dalam
diri manusia untuk mendapatkan kebenaran terutama dalam kaitannya dengan pengetahuan
positif pancasila juag mengakui kebenaran pengetahuan manusia yang bersumber pada
intuisi.Manusia pada hakikatnya kedudukan kodratnya adalah sebagai makhluk Tuhan
Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila pertama pancasila epistemology pancasila juga
mengakui wahyu yang bersifat mutlak hal ini sebagai tingkatan kebenaran yang tertinggi.
Kebenaran dalam penegetahuan manusia adalah merupakan suatu sintesisi yang harmonis
antara potensi-potensi kejiwaan manusia yaitu: akal, rasa, dan kehendak manusia untuk
mendapatkan kebenaran yang tertinggi yaitu kebenaran mutlak.

39
3. Dasar Aksiologis (nilai) Sila-sila Pancasila.

Sila-sila sebagai suatu system filfasat juga memiiki suatu kesatuan dasar
aksiologinya sehungga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga
merupakan suatu kesatuan.Terdapat berbagai macam teori tentang nilai-nilai dan hal ini
sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing dalam menetukan
tentang pengertian nilai dan hakikatnya.Misalnya kalangan materialism memandang bahwa
hakikat nilai yang tertinggi adalah material, kalangan hedonis berpdandangan bahwa nilai
yang tertinggi adalah nilai kenikmatan.Namun dari berbagai macam pandangan tentang
nilai dapat dikelompokkan pda dua macam sudut pandang yaitu bahwa suatu itu bernilai
karena berkaitan dengan subjek.

Max scheler mengemukakan bahwa nilai yang ada tidak sama luhurnya dengan tidak
sama tingginya. Nilai-nilai itu dalam kenyataannya adalah yang lebih tinggi dan ada yang
lebih bilamana dibandingkan satu dengan lainnya. Menurt tinggi rendahnya nilai dapat
digolongkan menjadi empat tingkatan sebagai berikut: 1) Nilai-nilai kenikmatan,nilai-nilai
ini berkaitan dengan indra manusia (die wertreidhe des Angenehmen Und Unangehamen),
yang menyebabkan manusia senang atau menderita atau tidaka enak.2) Nilai-nilai
kehidupan , yaitu dalam tingkatan ini terdapatlah nilai-nilai yang penting bagi kehidupan,
manusia ( werw des vitalen fuhlens) misalnya kesegaran jasmani, kesehatan serta
kesejahteraan umum. 3) nilai-nilai kejiwaan dalam tingkatan ini terdapat nilai-nilai
kejiwaan ( geigslige werte) yang sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani
ataupun lingkungan.

Menurut Notonagoro bahwa nilai-nilai pancasila termasuk nilai kerokhanian, teteapi


nilai-nilai kerokhanian yang mengakui nilai material dan nilai vital. Dengan demikian
nilai-nilai Pancasila yang tergolong nilai kerokhanian itu juga dapat mengandung nilai-
nilai lain secara lengkap dan harmonis yaitu nilai material, nilai, vital, nilai kebenaran nilai
keindahan atau estetis, nilai kebaikan atau nilai moral, maupun nilai kesucian yang secara
keseluruhan bersifat sistematik-hierarkhis, dimana sila pertama yaitu Ketuhanan yang
maha esa sebagai basisnya sampai dengan sila Keadilan sosial sebagai tujuannya
(darmodiharjo,1978)

Nilai-nilai Pancasila Sebagai Suatu Sistem. Isi arti sila-sila pancasila pada hakikatnya
dapat dibedakan atas hakikat pancasila yang umum universal yang merupakan substansi
sils-sila Pancasila, sebagai pedoman pelaksanaan dan penyelengaraan Negara yaitu sebagai
dasar Negara yang bersifat umum kolektif serta realisasi pengalaman Pancasila yang
bersifat khusus dan kongrit. Hakikat Pancasila adalah merupakan nilai. Adapun sebagai
pedoman Negara adalah merupakan norma adapun aktualisasi atau pengalamannya adlah
merupakan realisasi kongkritnya Pancasila

Bangsa Indonesia dalam hal ini merupakan pendukung nilai-nilai pancasilanya.Hal


ini dapat dipahami berdasarkan pengertian bahwa yang berketuhanan yang kemanusiaan
yang berpesrsatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan pada hakikatnya adalah

40
manusia.Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesia itulah yang mengharga, mengakui,
meneriman Pancasila sebagai suatu dasar-dasar nilai. Pengakuan, penghargaan, dan
penerimaan itu telah menggejala serta termanifestasikan dalam sikap tingkah laku dan
perbuatan manusia dan bangsa Indonesia, maka bangsa Indonesia dalam hal ini sekaligus
adalah pengemban nilai-nilai Pancasila.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu emmepunyai tingkatan dalam hal
kuantitas maupun kualitasnya, namun nilai-nilai itu merupakan suatu kesatuan saling
berhungan serta saling melengkapi.Hal ini sebagai mana kita pahami bahwa sila-sila
pancasila itu pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organic bertingkat dan berbentuk
paramidal.nilai-nilai itu berhungan secara erat dan nilai-nilai yang satu tidak dapat
dipisahkan dari yang lainnya. Sehingga nilai-nilai itu masing-masing merupakan bagian
yang integral dari suatu system nilai yang dimiliki bangsa Indonesia, yang akan
memeberikan pola atau patron bagi, sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa indoneisa.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila termasuk nilai kerokhanian yang


tertinggi dapaun nilai-nilai tersebut berturut-turut nilai ketuhanan adalah termasuk nilai
tertinggi kerena nilai ketuhanan adalah bersifat mutlak.Berikutnya sila menusiaan, adalah
sebagai pengkhususkan nilai ketuhanan kerena manusia adalah makhluk tuhan yang maha
esa sedangkan manusia adalah makhluk tuhan.Nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan
dilihat dari tingkatannya adalah lebih tingggi dari pada nilai-nilai kenegaraan yang
terkandung dalam ketiga sila lainnya yaitu sila persatuan, sila kerakyatan, dan sila
keadilan, karena ketiga nilai tersebut berkaitan dengan kehidupan kenegaraan. Hal ini
sebagaimna dijelaskan dalam pokok pikiran keempat pembukaan undang-undang dasar
1945, bahwa : Negara dalah berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa berdasarkan
kemanusiaan yang adil dan beradab”. Adapun nilai-nilai kenegaraan yang terkandung
dalaam ketiga sila tersebut berturut-turut memiliki tingkatan sebagai berikut, nilai
persatuan dipandang dari tingkatnnya memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada nilai
kerakyatan dan nilai keadilan sosial kerena persatuan adalah merupakan sarana
terwujudnya suatu keadilan sosia, barulah kemudian nilai keadilan sosial adalah sebagai
tujuan dari keempat sila lainnya.

Suatu hal yang perlu diperhatikan yaitu meskipun nilai-nilai yang terkandung dalam
sila-sila. Pancasila berbeda-beda dan memiliki tingkatan serta luas yang berbeda-beda pula
namun keseluruhan nilai tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak saling
bertentangan. Perlu diperhatikan dalam realisasinya baik dalam kehidupan sehari-hari
dalam masyrakat, bangsa dan Negara terutama dalam penjabarannya dalam bidang
kenegaraan dan tertib hokum Indonesia tingkatan nilai-nilai tersebut harus ditaati, sebab
bilamana tidak demikian maka akan bertentangan dengan hakikat landasan sila-sila
Pancasila.

D. Pancasila sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara Republik
Indonesia.

41
1. Dasar Filosofis.

Pancasila sebagai dasar filsafat negera serta sebagai Filsafat hidup bangsa Indonesia
pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifata sistematis, fundamental dan
menyeluruh.maka sila-sila pancasila merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh,
hierarkhis dan sistematis.Dalam pengertian inilah maka sila-sila Pancasila merupakan
suatu system filsafat.Konsekuensinya kelima sila bukan terpisah-pisah dan memiliki
maknsa sendiri-sendiri, melainkan memiliki esensi serta makna yang utuh.

Dasar pemikiran filososfis yang terkandung dalam setiap sila, dijelaskan sebagai
berikut. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan Negara republik Indonesia, mengandung
makna bahwa setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan dan kenegaraan harus
berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan
keadilan.Pemikiran filsafat kenegaraan bertolak dari suatu pandangan bahwa Negara
adalah merupakan suatu perekutuan hidup manusia atau organsasi kemasyaraktan, yang
merupakan sutau mayarakat hokum (legal society).adapunNegara yang didirikan oleh
manusia itu berdasarkan pada kodratnya bahwa manusia sebagai makhluk tuhan yang
maha esa (hakikat sila pertama). Negara yang merupakan persekutuan hidup manusia
sebagai makhluk tuhan yang maha eas, pada hakikatnya bertujuan mewujudkan harkat dan
martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan makhluk yang beradab (hakikat
sila kedua). Untuk mewujudkan suatu Negara sebagai suatu suatu organisasi hidup
manusia harus membentuk suatu ikatan sebagai suatu bangsa (hakikat sila ketiga).
Terwujudnya persatuan dalam suatu Negara akan melahirkan rakyat seabagi suatu bangsa
yang hidup dalam suatu wilayah Negara tertentu. Konsekuensinya dalam hidup kenegaraan
itu haruslah mendasarkan pada nilai bahwa rakyat merupakan asal pula kekuasaan
Negara.Maka Negara harus bersifat demokratis, hak serta kekuasaan rajyat harus dijamin,
baik sebagai indivisu maupun seacara bersama hakikat sila keempat). Untuk mewujudkan
tujuan Negara sebagai tujuan bersama, maka dalam hidup kenegaraan harus mewujudkan
tujuan seluruh warganya harus dijamin berdasarkan suautu prinsip keadilan yang timbul
dalam kehidupan bersama ( kehidupan sosial) (hakikat sila kelima). Nilai-nilai inilah yang
merupakan suatu nilai dasar bagi kehidupan kenegraan, kebangsaan,dan kemasyarakatan

Nilai-nilai pancasila bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Rumusan dari sila-sila Pancasila itu sendiri sebenarnya hakikat maknanya yang
terdalam menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak, karena
merupakan suatu nilai.

2. Inti nilai-nilai pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa
Indonesia dan mungkin juga ada pada abngsa lain baik dalam adat kebiasaa, kebudayaan,
kenegraan, maupun dalam kehidupan keagamaan

42
3. Pancasila yang terkndung dalam pembukaan UUD 1945, menurut ilmu hukum
memenuhi syarat sebagai pokok kaedahyang fundamental Negara sehingga merupakan
suatu sumber hukum posistif diindonesia.

Sebaliknya nilai-nilai subjektif Pancasila dapat diartikan bahwa keberadaan nilai-


nilai pancasila itu bergantung atau terlekat pada bangsa Indonesia sendiri. Pengertian itu
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Nilai-nilai Pancasila muncul dari bangsa indoneisa sehingga bangsa Indonesia


sebagai kausa materialis. Nilai-nilai tersebut sebagai hasil pemiiran, penilaian kritis, serta
hasil refleksi filosofis bangsa indoenesia.

2. Nilai-nilai pancasila sebagai filsafat (pandangan hidup) bangsa Indonesia sehingga


merupakan jati diri bangsa, yang diyakini sebagai sumber nilai atas kebenaran, kebaikan,
keadilan dan kebijaksanaan dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara

3. Nilai-nilai pancasila didalamnya terkandung ketujuh nilai-nilai kerokhanian yaitu


kebenaran, keadilan, kebaikan, kebijaksanaan, etis estetis dan nilai religious

Nilai-nilaipancasila itu bagi Indonesia menjadi landasan, dan dasar serta motivasi
atas segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan
bernegara.

2.Nilai-nilai Pancasila sebagai dasra Fundamental Negara

Nilai-nilai sebagai dasar filsafat indoensia pada hakikatnya merupakan suatu


sumber segala hukum dalam Negara Indonesia.Sebagai suatu sumber dari segala sumber
hukum secara objektif merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum,
serta cita-cita moral yang tinggi.

Pokok Pikiran Pertama menyatakan bahwa Negara hendak mewujudkan suatu


keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu negera yang melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mengatasi segala paham golongan maupun
perseorangan.Hal ini merupakan penjabaran sila ketiga.

Pokok Pikiran Kedua menyatakan bahwa negra hendak mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Dalam hal ini Negara berkewajiban mewujudkan
kesejahteraan umum bagi seluruh warga Negara.

Pokok Pikiran Ketiga Menyatakan bahwa Negara berdaulat rakyar.Berdasarkan atas


kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan.Hal ini menunjukkan bahwa Negara
Indonesia adalah demokrasi yaitu berkedaulatan ditangan rakyat.

Pokok Pikiran keempat menyatakan bahwa, Negara berdasarkan atsa Ketuhanan


yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketuahan yang maha
esa serta kemanusiaan yang adil dan beradab ini, merupakan sumber moral dalam

43
kehidupan kenegaraan dan kebangsaan. Oleh karena itu bagi bangsa Indonesia dalam era
reformasi dewasa ini seharusnya bersifat rendah hati untuk mawas diri dalam upaya untuk
memperbaiki kondisi dan nasib bangsa hendaklah didasarkan pada moralitas yang tertuang
dalam pokok Pikiran keempat tersebut yaitu moral, ketuhanan, dan kemanusiaan agar
rakyat menjadi semakin bertambah sejahtera.

E. INTI ISI SILA-SILA PANCASILA

Sebagai suatu dasar filsafat Negara maka siila-sila Pancasila merupakan suatu sustem
nilai.Oleh karena itu sila-sila Pancasila itu pada hakikatnya meupakan suatu kesatuan.
Meskipun dalam setiap sila terkandung nilai-nilai yang memiliki perbedaan anatra satu
dengan lainnya namun kesemuanya itu tidak lain merupakan suatu kesatuan yang
sistematis. Oleh karena itu meskipun dalam uraian berikut ini menjelaskan nilai-nilai yang
terkandung dalam setiap sila, namun kesemuanya itu tidak dapat dilepaskan berkaitannya
dengan sila-sila lainnya.

1.Sila Ketuahan Yang Maha Esa.

Sila Ketuahan Yang maha Esa ini nilai-nilainya meliputi dan menjiwai keempat sila
lainnya.Dalam sila Ketuahan Ynag maha esa terkandung nilai bahwa Negara yang
didirikan adalah sebagai pengejawahan tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa. Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan
penyelanggaran Negara bahkan moral neagar, moral penyelenggara Negara, polotik
Negara, pemerintahan Negara, hukum dan peraturan perundang-undangan Negara,
kebebasan dan hak asasi warga Negara harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha
Esa.

Demikianlah kiranya nilai-nilai etis yang terkandung dalam sila Ketuahan yang maha
esa yang dengan sendirinya sila pertama tersebut mendasari dan menjiwai keempat sila
lainnya.Naegara Indonesia adalah Negara kebangsaan yang mengakui Ketuahan yang
maha esa.

Negara memberikan kebebasan dalam memilih agama dan meyakinkan agama sesuai
dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Negara tidak berhak untuk
mencampuri wilayah keimanan dan ketaqwaan setiap warga negaranya. Konsekuansinya
dalam Negara harus direalisasikan dalam penyelenggaraan Negara yang berketuhanan
yang Maha Esa,baik menyangkut sifat Negara ,dan terutama dalam system hokum
Indonesia.

Dengan demikian Negara Indonesia yang berketuhanan Yang Maha Esa adalah
Negara yang bukan atheis,demikian pula Negara Indonesia bukan Negara kebangsaan yang
chauvinistic,yang congkak dan sombong melainkan Negara Indonesia dalah Negara dan
bangsa yang mendasarkan pada moral keagamaan dan kemanusiaan demikian pula Negara
Indonesia bukanlah Negara liberal yang mendasarkan pada kebebasan manusia sebagai

44
makhluk individu sehingga disamping kebebasan dalam berketuhanan tetapi bebas juga
untuk anti Tuhan dan tidak percaya terhadap Tuhan agama apapun.

2. sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab secara sistematis didasari dan dijiwai oleh
sila ketuhanan Yang Esa,serta mendasari dan menjiwai ketiga sila berikutnya. Sila
kemanusiaan sebagai dasar fundamental dalam kehidupan kenegaraan,kebangsaan dan
kemasyarakatan. Dalam sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa Negara harus
menjujung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab.
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral
dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam
hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri
sendiri,terhadap sesame manusia maupun terhadap lingkungannya. Nilai kemanusiaan
yang adil mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang
berbudaya dan beradab harus berkodrat adil. Konsekuansinya nilai yang terkandung dalam
kemanusian yang adil dan beradab adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa,menjunjung tinggi hak-hak asasi
manusia,menghargai atas kesamaan hak dan derajat tanpa membedakan suku, ras ,
keturunan ,status sosial maupun agama. Demikianlah kemudian berikutnya nilai-nilai
tersebut harus dijabarkan dalam segala aspek kehidupan neegara termasuk pembangunan
nasional, serta terutama moral para penyelenggara Negara.

3. persatuan Indonesia.

Nilai yang terkandung dalam sila persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan
keempat sila lainnya karena seluruh sila merupakana suatu kesatuan yang bersifat
sistematis. Sila persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang Maha
Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab serta serta mendasari dan dijiwai sila
kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan
dan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Negara adalah merupakan suatu
persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen yang membentuk Negara yang berupa
suku, ras, kelompok golongan maupun kelompok agama. Negara mengatasi segala paham
golongan, etnis, suku, ras, individu maupun golongan agama. Nilai persatuan Indonesia
didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan
beradab. Hal ini terkandung nilai bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme
religious. Yaitu nasionalisme yang bermoral ketuhanan yang Maha Esa,nasionalisme yang
humanistic yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan.

4. kerayakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaandalam permusyawarat /


perwakilan.

Nilai yang terkandung dalam sila ini didasari oleh sila ketuhanan yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia, dan mendasari serta

45
menjiwai sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia .nilai filosofis yang terkandung
di dalamnya adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial. Maka nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam sila ke empat adalah
demokrasi yang tidak hanya mendasar pada kebebasab individu. Oleh karena itu asas-asas
dalam sila keempat krakyatan adalah : (1) adanya kebebasan yang harus disertai dengan
tanggung jawab baik terhadap masyarakat bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan
yang Maha Esa`.(2) menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. (3) menjamin
dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama. (4) mengakui atas
perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena perbedaan adalah merupakan
suatu bawaan kodrat manusia. (5) mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada
setiap individu. (6) mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang
beradab .(7) menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang
beradab. (8) mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar
tercapainya tujuan bersama.

5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Nilai yang terkandung dalam sila ini didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang
Maha kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, serta kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebiaksanaa dalam permusyawarata / perwakilan. Nilai–nilai
keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup
bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan Negara yaitu mewujudkan kesejahteraan
seluruh warganya serta melindungi seluruh warganya dan seluruh wilayahnya,
mencerdaskan seluruh warganya.

46
BAB IV

ETIKA POLITIK BERDASARKAN PANCASILA

A . Pengantar

Pancasila sebagai suatu system filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nulai
sehingga merupakan sumber dari segala penjabaran norma baik norma hokum, norma
moral maupun norma kenegaraan lainnya. Sebagai suatu nilai, pancasila memberikan
dasar-dasar yang bersifat fundamental dan universal bagi manusia baik dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jadi sila-sila pancasila pada hakikatnya bukanlah
merupakan suatu pedoman yang langsung bersifat normative ataupun praksis melainkan
merupakan suatu system nilai-nilai etika yang merupakan sumber norma bai meliputi
norma moral maupun norma hokum, yang pada gilirannya harus dijabarkan lebih lanjut
dalam norma-norma etika, moral maupun norma hokum dalam kehidupan kenegaraan
maupun kebangsaan.

Pengertian etika sebagai suatu usaha ilmiah,etika termasuk kelompok filsafat praktis
dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika khusus, Etika merupakan
suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan
moral. Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita
mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaiman kita harus mengambil sikap yang
bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran mora (suseno, 1987).

B. Pengertian, Nilai, Norma, dan Moral.

1. Pengertian nilai , nilai atau “value” termasuk bidang kajian filsafat persoalan-
persoalan tentang nilai dibahas dan dipelajari salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai
(axiology, theory of value). Didalam dictionary of sociology and related sciences
dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda
untuk memuaskan manusia. Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk
menghubungkan sesuatu dengan suatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambi
keputusan. Didalam nilai itu sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-
dambaan dan keharusan maka apabila kita berbicara tentang nilai sebenarnya kita berbicara
tentang hal yang ideal, tentang hal yang merupakan cita-cita, harapan dambaan dan keharu

2. Hierarkhi nilai, terdapat berbagai macam pandangan tentang nilai hal ini sangat
tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing dalam menentukan
tentang pengertian serta hierarkhi nilai. Max Scheler mengemukakan bahwa nilai-nilai
yang ada, tidak sama luhurnya dan sama tingginya. Menurut tingi rendahnya, nilai-nilai
dapat dikelompokkan dalam epat tingkatan sebagai berikut :

47
a. Nilai-nilai kenikmatan : dalam tingkatan ini terdapat deretan nilai-nilai yang
mengenakkan dan tidak mengenakkan yang menyebabkan orang senang atau menderita
tidak enak.

b. Nilai-nilai kehidupan : dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai yang penting bagi
kehidupan, misalnya kesehatan, kesegaran jasmani, kesejahteraan umum.

c. Nilai-nilai kejiwaan : dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai kejiwaan,nilai-nilai


semacam ini ialah keindahan,kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam
filsafat.

d. Nilai-nilai kerohanian : dalam tingkat ini terdapatlah modalities nilai dari yang
suci dan tak suci,nilai-nilai semacam ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi.

Walter G Everet menggolongkan nilai-nilai manusiawi ke delapan kelompok


yaitu :

(1) Nilai-nilai ekonomis(ditujukan oleh harga pasar dan meliputi semua benda yang
dapat dibeli).

(2) Nilai-nilai kejasmanian (membantu pada kesehatan, efisiensi dan keindahan dari
kehidupan badan )

(3) Nilai-nilai hiburan (nilai-nilai permainan dan waktu senggang yang dapat
menyumbangkan pada pengayaan kehidupan )

(4) Nilai-nilai sosial ( berasal mula dari keutuhan kepribadian dan sosial yang di
inginkan )

(5) Nilai-nilai watak (keseluruhan sosial dari keutuhan kepribadian dan sosial yang
diinginkan )

(6) Nilai-nilai estetis (nilai-nilai keindahan dlam alam dan karya seni )

(7) Nilai-nilai intelektual ( nilai-nilai pengetahuan dan pengajaran kebenaran )

(8) Nilai-nilai keagamaan

Notonogoro membagi nilai menjadi tiga macam, yaitu :

(1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia atau
kebutuhab material ragiwi manusia.

(2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia, untuk dapat
mengadakan legiatan atau aktivitas.

(3) Nilai kerohanian , yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia ( nilai
kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, nilai religious)

48
C. Nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis.

(a) Nilai dasar, walaupun nilai memiliki sifat abstrak artinya tidak dapat diamati
melalui indra manusia, namun dalam realisasinya nilai berkaitan dengan tingkah laku atau
segala ospek kehidupan manusia yang bersifat nyata. Nilai dasar ini bersifat universal
karena menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu misalnya hakikat Tuhan,
manusia atau segala sesuatu lainnya.

(b) Nilai instrumental, nilai inilah yang merupakan suatu pedoman yangbdapat
diukur dan dapat di arahkan. Namun jika nilai instrumental ini berkaitan dengan organisasi
ataupun Negara maka nilai-nilai instrumental itu merupakan suatu arahan.

(c) Nilai praksis, merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam
suatu kehidupan yang nyata.

D. Etika Politik.

Pengelompokan etika sebagaimana dibahas dimuka, dibedakan atas etika umum dan
etika khusus. Etika umum membahas tentang prinsip-prinsip dasar bagu segenap tindakan
manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya
dengan kewajiban manusia dalam berbagai lingkup hidupnya.

(1) Pengertian politik

Politik berasal dari kosa kata “politics”, yang memiliki makna bermacam-macam
kegiatan dalam suatu system politik atau ‘negara’ yang menyangkut

proses penentuan tujuan-tujuan dari system itu dan di ikuti dengan pelaksanaan
tujuan-tujuan itu. Untuk melaksanakan tujuan itu perlu ditentukan kebijaksanaan-
kebijaksanaan umum atau public policies, yang menyangkut pengaturan dan pembagian
atau distributions dari sumber-sumber yang ada.

(2) Dimensi politis manusia..

a. Manusia sebagai makhluk hidup sosial

Berdasarkan fakta dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak mungkin memenuhi


segala kebutuhannya, jikalau mendasarkan pada suatu anggapan bahwa sifat kodrat
manusia hanya bersifat individu atau sosial saja. Manusia sebagai makhluk bebudaya
kebebasan sebagai individu dan segala aktivitas dan kreativitas dalam hidupnya senantiasa
tergnatung kepada orang lain, hal ini dikarenakan manusia sebagai warga masyarakat atau
sebagai makhluk sosial. Berdasarkan sifat manusia tersebut, maka dalam cara manusia
memandang dunia, menghayati dirinya sendiri, menyembah Tuhan yang Maha Esa, dan
menyadari apa yang menjadi kewajibanya ia senantiasa dalam hubungannya dengan orang
lain. Segala hal yang berkaitan dengan sikap moralnya baik hak maupun kewajiban
moralnya tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan norma-norma secara individusl,

49
melainkan senantiasa dalam hubungan dengan masyarakat oleh karena itu tanggung jawab
moral pribadi manusia hanya dapat berkembang dalam kerangka hubungannya dengan
orang lain, sehingga kebebasan moralitasnya seantiasa berhadapan dengan masyarakat.

B. dimensi poolitis kehidupan manusia.

Berdasarkan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial,
dimensi politis mencangkup lingkaran hukum negara, sistem-sistem nilai serta ideologi
yang memberikan legitimasi kepada nya. Dengan demikian dimensi politis manusia dapat
ditentukan sebagai suatu keseluruhan yang menentukan kerangka kehidupan nya dan di
tentukan kembali oleh kerangka kehidupan nya serta di tentukan kembali oleh kerangka
kehidupan nya serta ditentukan kembali oleh tindakan-tindakannya. Dimensi politis
manusia ini memiliki dua segi fundamental, yaitu pengertian dan kehendak untuk
bertindak. Aspek kemampuan untuk melakukan atau tidak melakukan secara moral sangat
tergantung kepada akal budi manusia.

Jikalau pada tingkatan moralitas dalam kehidupan manusia sudah tidak dapat
dipenuhi oleh manusia dalam menghadapi hak orang lain dalam masyarakat, maka harus di
lakukan suatu pembatasan secara normatif. Namun perlu dipahami bahwa negara yang
memiliki kekuasaan itu adalah sebagai perwujudan sifat kodrat manusia sebagai individu
dan makhluk sosial jadi lembaga negara yang memiliki kekuasaan adalah lembaga negara
sebagai kehendak untuk hidup bersama.

Dengan demikian hukum dan kekuasaan negara merupakan aspek yang berkaitan
langsung dengan etika politik. Negara berbuat tanpa tatanan hukum akan sama hal nya
dengan kekuasaan tanpa pembatasan, sehingga akan terjadi penindasan manusaia, yang
lazimnya yang disebut negara otoriteritaanisme. Oleh karena itu baik hukum maupun
negara keduanya memerlukan legitimasi. Demikian pula negara yang memiliki kekuasaan
harus mendasarkan pada tatanan normatif sebagai kehendak bersama semua warganya,
sehingga dengan demikian negara pada hakikatnya mendapatkan legitimasi dari
masyarakat yang menentukan tatanan hukum tersebut.

3. Nilai-nilai pancasila sebagai sumber etika politik

Sila pertama “ketuhanan yang maha esa” serta sila kedua “ kemanusiaan yang adil
dan beradab “ adalah merupakan sumber nilai-nilai moral bagi kehidupanberbangsa dan
bernegara. Negara indonesia yang berdasarkan sila I ‘ketuhanan yang maha esa’ serta sila
kedua kemanusiaan yang adil dan beradab’ merupakan sumber nilai- nilai moral bagi
kehidupan kebangsaan dan ke negaraan.walaupun dalam negara indonesia tidak
mendasarkan pada legitimasi religius, namun secaara moralitas kehidupan negara haarus
sesuai dengan nilai- nilai yang berasal dari tuhan terutama hukum serta moral dalam
kehidupan negara. Bangsa indonesia sebagai bagian dari ummat manusia di dunia hidup
secara bersama didalam suatu wilayah tertentu, dengan suatu cita- cita serta prinsip-
prinsip demi kesejahteraan bersama (sila III). Dalam kehidupan negara kemanusiaan harus

50
mendapatkan jaminan hukum. Dalam kehidupan negara kemanusiaan harus mendapatkan
jaminan hukum, maka inilah yang diistilahkan dengan jaminan atas hak- hak dasar (asasi)
manusia. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, etika politik menuntut agar
kekuasaan dalam negara dijalankan sesuai dengan (1) asas legalitas (legitimasi hukum),
yaitu dijalan kan sesuai dengan hukum yang berlaku, (2) di sahkan dan dijalankan secara
demokratis (legitimasi demokratis), dan (3) dilaksanakan berdasarkan prinsip- prinsip
moral atau tidak bertentangan dengannya (legitimasi moral). Pelanggaran atas prinsip-
prinsip keadilan dalam kehidupan kenegaraan akan menimbulkan ketidak seimbangan
dalam kehidupan negara. Maka dalam pelaksanaan politik praktis hal- hal yang
menyangkut kekuasaan eksekutif, legislatif serta yudikatif, konsep pengambilan keputusan,
pengawasan serta partisipasi harus berdasarkan legitimasi dari rakyat, atau dengan lain
perkataan harus memiliki “legitimasi demokrasi”. Etika politik ini juga harus di realisaikan
oleh setiap individu yang yangang ikut terlibat secara kongkrit dalam pelaksanaan
pemerintahan negara.

51
BAB V

KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI


DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA (SUATU TINJAUAN KAUSALITAS)

a. Pancasila sebagai budaya bangsa indonesia

Untuk lebih memperjelas pengertian nilai- nilai pancasila sebagai nilai budaya yang
dimiliki bangsa Indonesia, maka dipandang sangat penting untuk dijelaskan pengertian
kebudayaan.

Para pakar antropologi budaya indonesia lazim nya sepakat bahwa kata ‘
kebudayaan’ berasal dari bahasa sansekerta buddhaya. Kata buddhayah adalah bentuk
jamak dari kata budhi yang berarti ‘budi daya’. Jikalau dilihat daari wujud hasil dari
kebudayaan manusia, maka dapat berupa suatu kompleks gagasan, ide- ide, dan pikiran
manusia, yang dalam hal ini bersifat abstrak. Dalam pengertian inilah maka dalam
pancaasila selain terdapat nilai kemanusiaan juga terdapat nilai keagamaan. Selain itu
wujud kebudayaan manusia yang bersifat kongkret yaitu berupa aktivitas manusia dalam
masyarakat, saling berinteraksi, sehingga terwujud sistem sosial. Jikalau suatu tatanan
sosial yang bersumber pada suatu sistem nilai dan sistem nilai itu bersumber pada nilai-
nilai agama, maka suatu keniscayaan bahwa dalam suatu sistem masyarakat, suatu
fenomena sosial budaya akan terkandung di dalamnya suatu nilai keagamaan, nilai
kemanusiaan dan nilai kebersamaan.

Jikalau kita pahami secara sistematik wujud sistem sosial kebudayaan dapat di
kelompokkan manjadi tiga yaitu (1) sistem nilai, (2) sistem sosial dan (3) wujud fisik baik
dalam kebudayaan maupun kehidupan masyarakat. Setelah kemerdekaan indonesia
sebelum sidang PPKI pancasila sebagai calon dasar filsafat negara dibahas serta di
sempurnakan kembali dan akhirnya pada tanggal 18 agustus 1945 disahkan oleh PPKI
sebagai dasar filsafat negara Republik indonesia. Adapun pengertian asal mula tersebut
adalah sebagai berikut.

1. Asal mula yang langsung

Pengertian asal mula secara ilmiah filsafat dibedakan atas empat macam yaitu:

1) Asal mula bahan ( kausa material ). Asal bahan pancasila adalah pada bangsa
indonesia sendiri yang terdapat dalam kepribadian dan pandangan hidup bangsa indonesia.

2) Asal mula bentuk (kausa formalis). Hal ini dimaksudkan bagaimana asal mula
bentuk atau bagaimana bentuk pancasila itu di rumuskan sebagaiman termuat dalam UUD
1945.

52
3) Asal mula karya (kausa effisien). Yaitu asal mula yang menjadikan yang
mendjadikan pancasila dari calon dasar negara menjadi dasar negara yang sah.

4) Asal mula tujuan (kausa finalis). Pancasila dirumuskan dan dibahas dalam sidang-
sidang para pendiri negara, tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara, oleh
karena itu asal mula tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara.

2. Asal Mula yang Tidak Sayang

Secara kausalitas asal mula yang tidak langsung Pancasila adalah asal mula sebelum
proklamasi kemerdekaan.

Maka asal mula tidak langsung Pancasila bilamana dirinci adalah sebagai berikut:

1) Unsur-unsur Pancasila tersebut sebelum secara langsung dirumuskan menjadi


dasar filsafat negara, nilai-nilainya yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai
persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan telah ada dan tercermin dalam kehidupan
sehari-hari bangsa Indonesia sebelum membentuk negara.

2) Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia sebelum


membentuk negara, yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, nilai kebudayaan serta nilai-nilai
religius.

3) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asal mula tidak langsung Pancasila
pada hakikatnya bangsa Indonesia sendiri, atau dengan lain perkataan bangsa Indonesia
sebagai ‘kausa materialis’atau sebagai asal mula tidak langsung nilai-nilai Pancasila.

3 Bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam Tiga Asas

Nilai-nilai tersebut yang kemudian diangkat dan dirumuskan oleh para pendiri negara
diolah dibahas yang kemudian disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 agustus 1945.
Berdasarkan pengertian tersebut maka pada hakikatnya bangsa Indonesia ber-Pancasila
dalam tiga asas atau ‘Tri Prakara’ (menurut istilah Notonegoro) yang rinciannya adalah
sebagai berikut:

Pertama :Bahwa unsur-unsur Pancasila sebelum disahkan secara yuridis menjadi


dasar filsafat Negara, sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai asas-asas dalam adat-
istiadat dan kebudayaan dalam arti luas (Pancasila Asas Kebudayaan)

Kedua :Demikian juga unsur-unsur Pancasila telah terdapat pada bangsa Indonesia
sebagai asas-asas dalam agama-agama (nilai-nilai religius)(Pancasila Asas Kebudayaan).

Ketiga :Unsur-unsur tadi kemudian diolah, dibahas dan dirumuskan secara seksama
oleh para pendiri negara dalam sidang-sidang BPUPKI, Panitia ‘Sembilan’. Setelah bangsa
Indonesia merdeka rumusan Pancasila calon dasar negara tersebut kemudian disahkan oleh

53
PPKI sebagai Dasar Filsafat Negara Indonesia dan terwujudlah Pancasila sebagai asas
kenegaraan (Pancasila asas kenegaraan).

Oleh karena itu pancasila terwujud dalam tiga asas tersebut atau ‘tri prakara’ yaitu
pancasila asas kebudayaan, pancasila asas religius, serta pancasila sebagai asas
kenegaraan.

C. pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Pancasila sebagai objek pembahasan ilmiah memiliki ruang lingkup yang sangat luas
terutama berkaitan dengan kedudukan dan fungsi pancasila. Dari berbagai macam
kedudukan dan fungsi pancasila sebagai titik sentral pembahasan adalah kedudukan dan
fungsi pancasila sebagai dasar negara indonesia, hal ini sesuai dengan kausa finalis
pancasila yang di rumuskan oleh pembentuk negara yang pada hakikat nya sebagai dasar
negara indonesia. Namun yang terpenting bagi kajian ilmiah adalah bagaimana hubungan
secara kausalitas antara kedudukan dan fungsi pancasila yang bermacam- macam tersebut.

Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian nilai- nilai luhur tersebut
adalah suatu wawasan yang menyeluruh terhadap kehidupan itu sendiri. Sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial manusia tidaklah mungkin memenuhi segalah kebutuhan nya
sendiri, oleh karena itu untuk mengembangkan potensi kemanusiaan nya, ia senantiasa
memerlukan orang lain. Dalam pengertian inilah maka proses perumusan pandangan hidup
masyarakat di tuangkan dan dilembagakan menjadi pandangan hidup negara.

Dalam proses penjabaran dalam kehidupan modern antara pandangan hidup


masyarakat dengan pandangan hidup bangsa memiliki hubungan yang bersifat timbal
balik. Transformasi pandangan hidup masyarakat menjadi pandangan hidup bangsa dan
akhirnya menjadi dasar negara juga terjadi pada pandangan hidup pancasila. Bangsa
indonesia dalam hidup bernegara telah memiliki suatu pandangan hidup bersama yang
bersumber pada akar budaya nya dan nilai- nilai religius. Pancasila sebagai pandangan
hidup bangsa tersebut terkandung didalam nya konsepsi dasar mengenai kehidupan yang di
cita- citakan, terkandung dasar pikiran terdalam dan gagasan mengenai wujud kehidupan
yang dianggap baik. Sebagai intisari dari nilai budaya masyarakat indonesia, maka
pancasila merupakan cita- cita moral bangsa yang memberikan pedoman dan kekuatan
rohaniah bagi bangsa untuk berperilaku luhur dalam kehidupan sehari dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

D. pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara indonesia

Negara moderen yang melakukan pembaharuan dalam menegakkan demokrasi


niscaya mengembangkan prinsip konstitusionalisme.bagi bangsa indonesia consensus itu
terjadi tatkala di sepakati piagam jakarta 22 juni 1945. Konsensus yang menjamin
tegaknya konstitusionalisme negara modern pada proses reformasi untuk mewujudkan
demokrasi, pada umumnya bersandar pada tiga elemen kesepakatan (consensus), yaitu: (1)
kesepakatan tentang tujuan dan cita- cita bersama. (2) kesepakatan tentang the rule of law

54
sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan negara. (3) kesepakatan tentang
institusi- institusi dan prosedur ke tata negaraan.

1. Kesepakatan pertama, yaitu berkenaan dengan cita- cita bersama sangat


menentukan tegak nya konstitusi di suatu negara.

Secara historis Pancasila adalah merupakan suatu pandangan hidup bangsa yang
nilai-nilainya sudah ada sebelum secara yuridis bangsa indonesia membentuk negara.
Bangsa indonesia secara historis di takdirkan oleh Tuhan YME berkembang melalui suatu
proses dan menemukan bentuknya sebagai bangsa dengan jati dirinya sendiri. Menurut M.
Yamin bahwa berdirinya negara kebangsaan indonesia terbentuk melalui tiga tahap yaitu:

Pertama, zaman Sriwijaya di bawah wangsa syailendra[sejak 600] yang bercirikan


kedatuan.

Kedua,negara kebangsaan majapahit 91293-1525] yang bercirikan keprabuan.

proklamasi 17 agustus 1945] [sekretariat negra RI;11]

nilai-nilai relegius yang di miliki oleh bangsa indonesia sendiri sebelum mendirikan
negara [Notonagoro 1945].

Nilai-nilai tersebut melalui par pendiri bangsa ini kemudian dikembangan dan secara
yuridis disahkan suatu dasar negara dan secara tercantum dalam pembukaan undang-
undang dasar 1945[poepowardoyo, 1989;5].

Menurut notongoro nilai-nilai yang d miliki oleh suatu bangsa indonesia merupakn
suatu sebab bahan [kausa materialis], adapun BPUPKI dan PPKI adalah sebagai lembaga
yang membentuk negara, yang juga dengan sendirinya yang menentukan pancasila sebagai
dasar negara RI. Disebut bentuk [kausa fomalis] [notonagoro, 1975]. Dalam hubungan
inilah ANDREW [1968;12], bahwa tegaknya suatu negara modern harus di landasi oleh
suatu konsensus yang tertuang dalam suatu cita-cita tujuan bersama dalam suatu landasan
filosofis, the genera; goal siciety or general acceptance of the same philosophy of
goverment [kaelan, 2010].

Dalam proses perumusan tentang cita-cita bersama yaitu dasar filosofi negara
indonesia, diawali dengan di bentuknya BPUPKI dan pada awal nya tercapai konsensnus
yangdi sebut dengan piagam jakarta pada 22 juni 1945, yang di kenal dalam sejarah
rumusan sila pertamanya berbunyi ‘ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at
islam bagi para pemeluknya’. Kemudian pada sidang PPKI 18 agustus1945 dilakukan
suatu kesepakatan sehingga menjadi pancasila sebagaimana yang tercantum dalam
pembukaan undang-undang dasar 1945. Berdasarkan fakta sejarah tersebut, maka pancasila
di tetapkan sebagai dasar negara merupakan suatu hasil philosophical consensus
[konsensus filsafat], karena membahas dan menyepakati suatu dasar negara, dan political
consensus[konsensus politik].

55
E. Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara [ philosofische grondslag]

Kedudukan pokok panacasila adalah sebagai dasar filsafat negara republik indonesia
yang tersimpul dalam pembukaan UUD 1945 alenia IV yang berbunyi:”maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara republik
indonesia yang berkedaualatan rakyat dengan berdasarkan ketuhanan yang maha esa,
kemanusiaan yang adil dan berdab, persatuan indonesia, dan kerakyatan yang di pimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dakm permusyawaratan/perwakilan, serata dengan mewujudkan
suatu keadialn sosial bagi seluruh rakyat indonesia”.

Sesuai dengan dasar yuridis sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945,
ketetapan NO. XX/MPRS/1966. Dijelaskan bahwa pancasila sebagai sumber ketertiban
hukum indinesia pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran
dan cita-cita hukum serata cita-cita moral yang meliputi suasana kebatianan serta watak
dari bangsa, perikemanusiaan,keadilan sosial, perdamaian sosial dan mondial, cita-cita
poliyik mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan sebagai pengejawatahan dari
budi nurani manusia.

Unsur-unsur yang terkanung dalam peembukaan UUD 1945 alenia IV. Susunan
tersebut menunjukan bahwa pancasila pada hakikatnya merupakan dasar, atau basis filosofi
negara dan tertib hukum indonesia. Hal itu dapat di princi sebagai berikut:

1. Pancasila merupakn dasar filsafat negara [asas kerokhanian negara], pandamgan


hidup dan filsafat hidup.

2. Di atas basis[dasar] itu berdirilah negara indonesia,dengan asas politik negara


[kenegaraan] yaitu berupa republik yang berkedaulatan rakyat.

3. kedua-duanya menjadi basis penyelenggaraan kemerdekaan kebangsaan indonesia,


yaitu pelaksanaan dan pelenggaran negara sebagaimana tercantum dalam hukum positif
indonesia, termuat dalam undang-undang dasar negara indonesia.

4. selanjutnya di atas undang-undang dasar yaitu sabagai basis maka berdirilah


bentuk susunan pemerintahan dan kesuluranhan peraturan hukum positif lainya, yang
mencangkup

5 .segala sesuatu yang disebutkan di atas adalah demi tercapainya suatu tujuan
bersama, yaitu tujuan bangsa indonesiandalam bernegara tersebut, yaitu tujuan bangsa
indonesia yang bernegara tersebut, yaitu kebahagiaan bersama, baik jamaniah maupun
rokhania, serta tuhaniah.

Dengan demikian seluruh aspek penyelanggaraan negara tersebut di lipti dan di


jelmakan oleh asa kerokhanian pancasila, dan dalam pengertian inilah maka kedudukan
pancasila sebagai dasar filsafat negara indonesia. [notonagoro, tanpa tahun halamana;32].
Kedudukan pancasial yang demikian ini dapat di rinci sebagai berikut:

56
1. Pancasila adalah merupakan sumber dari segala sumber hukum[sumber tertib
hukum] indonesia. Sehingga pancasila merupakan asa kerokhanian tertib hukum yang
dalam pembukaan UUD 1945 di jelmakan lebih lanjut kedalam emapt pokok pikiran.

2. Meliputi suasana keabtinan [geistelichenhintergrund] dari UUD.

3. Mewujudkan cita-cita dasr bagi hukum dasar negra [baik hukum dasr tertulis
maupun tidak tertulis]

4. Mengandung norma yang mengharuskan undang-undang dasar mengandung isi


yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain pelenggara negara [termasuk pada
penyelenggara pratai dan golongan funsional] untuk memelihara budi pekerti atau moral
kemanusiaan yg luhur dan memegang teguh cita-cita rakyat yang luhur.

Hal ini sebagaimana tersimpul dalam pokok pikiran keempat yang bunyi nya
“Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil
dan beradab”

5 merupakan sumber semangat bagi UUD 1945 bagi para penyelenggara negara,
para pelaksana pemerintahan [juga pra pelaksana partai fumgsional].

F. Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara indonesia

Pengertian ideologi bersal dari kata ‘idea’ yang berarti gagasan, konsep, pengertian
dasar, cita-cita, dan ‘logos’yang berarti ilmu kata ‘idea’ berasal dari yunani ‘eidos’ yabg
berarti ‘bentuk’. Di samping itu ada kata ‘idein’ yang artinya melihat’.

Maka secra harfiah, ideologi berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide[the science of
ideas], atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari,
‘idea’ di samakan artinya dengan cita-cita. Cita-cita yang di maksud adalah yang bersifat
tetap, yang harus di capai sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus merupakan
dasar, pandangan atau faham. Dengan demikian ideologi mencangkup pengertian tentang
ide-ide pengertian dasar, gagasan-gagasan dan cita-cita.

Pengertian ‘ideologi’ secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan-


gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan yang meyeluruh dan
sistematis, yang menyangkut dan mengatur sekelompok tingkah laku manusia tertentu
dalam berbagai bidang kehidupan. Hal ini menyamngkut ;

1. Bidang politik [termasuk di dalam nya bidang pertahanan dan keamanan]

2. Bidang sosial

3. Bidang kebudayaan

57
4. Bidang keagamaan {soemargono, ideologi pancasila sebagai penjelmaan filsafat
pancasila dan pelaksanaanya dalam masyrakat kita dewasa ini. Suatu makalh dosen
fakultas filsafat, hal 8]

Ideologi terbuka dan ideologi tertutup, ideologi sebagaisuatu sistem pemikiran


[system of thought], maka ideologi terbuka itu merukan suatu sistem pemikiran terbuka.
Sedangkan ideologi tertutup itu merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Ciri khas
ideologi terbukaadalah bahwa nilai-nilai dan cita-cita tidak di paksakan dari luar,
melainkan di gali dan diambil dari suatu kekayaan rohani, moral, dan budaya masyarakat
itu kmenemukan dirinya, kepribadianya, di dalam ideologi tersebut.

Hubungan antara fisafat dan ideologi, filsafat sebagai pandangan hidup pada
hakikatnya merupakan sistem nilai yang secara epistemologis kebenaranya telah di yakini
sehingga di jadikan dasar atau pedoman bagi manusia dalam memandang realitas alam
semesta, manusia, manusia dalm menyelesaikan masalah yang di hadapi dalam hidup dan
kehidupan.

Dari tradisi sejarah filsafat barat dapat di buktikan bahwa tumbuhnya ideologi seperti
liberalisme, kapitalisme, marxisme leninnisme, maupun naziisme dan fasisme, adalah
bersumber kepada aliran-aliran filsafat yang berkembang di sana. Unsur-unsur suatu aliran
filsafat yang dikembangkan secara aktif, sistematis dan dilaksanakan dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang menjelma menjadi ideologi.

Pancasila sebagai ideologi terbuka, pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat
kaku dan tertutup namun bersifat terbuka. Hal ini karena ideologi pancasila bersifat
aktual,dinamis, antsipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkemmbangan
zaman.

Dalam ideologi erbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang mendasar yang bersifat
tetap dan tidak berubah dan tidak langsung bersifat operasional, oleh karena itu setiap kali
harus diesplisitkan. Sebagai suatu contoh keterbukaan [pers,pancasila, dalam kaitanya
dalam pendiikan ekonomi, ilmu pengetahuan, hukum, kebudayaan dan bidang-bidang
lainya].

Sebagai suatu ideologi yang bersifat terbuka maka pancasila memiliki dimensi
sebagai berikut:

Dimensi idealistis, yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila yang
bersifat sistematis dan rasional yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam lima
pancasila: ketunahan,kemanusiaan,persatuan,kerakyatan dan keadilan, maka dimensi
idealistis pancasila bersumber pada nilai-nilai filosofis yaitu filsafat pancacsila. Oleh
karena itu dalam setiap ideologi bersumber pada nilai-nilai filosofis [pespowardoyo,
1991;50]. Kadar dan dan kualitas idealisme yang terkadung dalm ideologi pancasila
mampu memberikan harapan, optimisme serta mampu mengunggah motivasi yang tercita-
citakan [wibisono,1989]. sistem norma, sebagaimana terkandung dalam pembukaan UUD

58
1945 yang memiliki kedudukan tertinggi dalam tertib hukum indonesia. Dalam pengertian
inimaka pembukaan yang di dalam nya memuat pancasila dalam alenia IV berkedudukan
sebagai ‘statsfundamentalnorm’ [pokok kaidah negara yang fundametal] agar mampu
dijabarkan kedalam langkah operasional perlu memiliki norma yang jelas [poepowardoyo,
1991]

Dimensi realislis, suatu ideologi harus mampu mencerminkan ralitas hidup yang
berkembang dalam masyarakat. Ideologi pancasila juga menyangkut keterbukaan dalam
menerima budaya asing. Dengan perkataan pancasila menerima pengaruh budaya asing
dengan ketentuan hakikat atau substansi pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan,
kerakyatan, serta keadilan bersifat tetap. Secara strategis keerbukaan pancasila dalam
menerima budaya asing namun esensial pancasila bersifat tetap. Demikianlah maka bangsa
indonesia yang ideologi pancasila sebagai bangsa yang berbudaya yang menutup diri
dalam pergaulan antar bangsa indonesia yang berideologi pancasila sebagai bangsa yang
berbudaya tidak menutup diri dalam pergaulan antar bangsa di dunia. Secara filosofis nilai-
nilai budaya yang ada pada bangsa indonesia sebagai kausa materialis pancasila yang
memiliki sifat terbuka. Misalnya masuknya bbudaya hindu budha, yang pada giliranya
menghasilkan karya besar sebagai budaya bangsa seperti candi borubodur, candi
prambanan dan lain sebagainya. Demikian juga pengaruh islam, dengan berkembangnya
berbagai budaya islam, seperti tempat ibadah, karya sastra dan lainya. Demikianlah
pengaruh kristen dengan berbagai bangunan tempat ibadah dan lain sebagainya.

G. pancasila sebagai asaspersatuan dan kesatuan bangsa indonesia

Telah dijalaskan bahwa sebelum bahwa sebelum pancasila ditentukan sebagai dasar
filsafat negara indonesia, nilai-nilainya telah ada pada bangsa indonesia sejak zaman
dahulu kala, yaitu sejak lahirnya bangsa indonesia sebelum proklamasi 17 agustus 1945.
Namun demikian keberadaan bangsa indonesia sebagai suatu yang bangsa mandiri
diantara yang lain di dunia tidak hanya ditentukan oleh ciri-ciri etnis , “melainkan oleh
sejumlah unsur khas yang ada pada bangsa indonesia yang membedakanya dengan bangsa
lain.

Pengertian bangsa pada mulanya dari kata ‘nation’ [natic,bangsa] yang ditinjau
secara ilmiah pada tahun 1882 oleh ernest renan dalam suatu ceramahnya di universitas
sorbone yang berjudul ‘Ou’est ce que c’es un nation’ [apakah bangsa itu?] menurut renan
bangsa adalah:

1.suatu jiwa, suatu asas kerokhanian

2. suatu solodaritas yang besar

3. suatu hasil sejarah, karena sejarah itu berjalan terus. Sejarah tidak abadi, bergerak
secara dinamis dan berubah-ubah untuk maju.

4. bangsa bukanlah soal abadi.

59
Bagi bangsa indonesia sebagai suatu bangsa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.dilahirkan dari suatu nenek moyang sehingga kita memiliki kesatuan darah.

2. memiliki satu wilayah dimana kita dilahirkan, hidup bersama dan mencari sumber-
sumber kehidupan.

3.memiliki satu wilayah dimana kita dilahirkan, hiup bersama dan mencari sumber-
sumber kehidupan.

4. memiliki kesatuan sejarah yaitu indonesia dibesarkan dibawah gemilangnya


kerajaan-kerajaan, sriwijaya, majapahit mataram dan lain sebagainya

5. memiliki kesamaan nasib yaitu berada di dalam kesengan dan kesusahan,dijajah


belanda jepam\ng dan lainya

6. memiliki satu ide, cita-cita kesatuan jiwa atau asas kerokhanian dan satu tekad
untuk hidup bersama dalam suatu negara republik indonesia.

Dengan lainperktaan bangsa indonesia memiliki satu asas kerokhanian satu


pandangan hidup dan satu ideologi yaitu pancasila yang ada dalam suatu negara
proklamasi 17 agustus 1945 [natoganoro 1975:15].

Dengan adanya kesamaan dan kesatuan asas kerokhanian yang kita miliki maka
perbedaan itu harus dibina kearah suatu kerja sama dalam memperoleh kebahagiaan
bersama.

Perbedaan adalah merupakan bawaan dari manusia adalah sebagai makhluk


pribadi.namun demikian bahwa sifat manusia adalah sebagai individu dan makhuk sosial
dan kedua sifat manusia tersebut harus seantiasa dalam keseimbangan yang harmonis yang
harus dilaksanakan bersama dalam suatu negara indonesia. Dalam masalah ini pancasila
dalam kenyataan objektifnya sebagai suatu persatuan dan kesatuan yang telah di tentukan
bersama setelah proklamasi sebagai dasar filsafat negara.

H. Pancasila sebagai jatidiri bangsa indonesia

Proses terjadinya pancasila tidak seperti ideologi-ideologi lainya yang hanya


merupakan hasil pemikiran seseorang sajanamun selalu melalui proses kausalitas yaitu
sebelum disahkan menjadi dasar negara nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari
sebagai pandangan hidup bangsa.

Sekaligus sebagai filsafat hidup bangsa indonesia.ndalam pengertian inilah maka


bangsa indonesia sebagai kausa matrealis dari pancasila.

Ketika para pendiri negara indonesia menyiapkan berdirinya negara indonesia


merdeka, mereka sadar sepenuhnya untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental
‘di atas dasar apakah negara indonesia didirikan?’. Dengan jawaban yang mengandung

60
makna hidup bagi bangsa indonesia sendiri yang merupakan perwujudan dan
pengejawantahan nilai-nilai yang di miliki, diyakini dihayati kebenaranya oleh masyarakat
sepanjang masa dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan bangsa sejak lahir.

lambangsa yang percaya pada Tuhan penciptaanya. Bukti sejarah yang menunjukan
menifestasi bangsa indonesia atas kepercayaan kepada Tuhan antara lain kira-kira tahun
2000 S.M. di zaman neoliricum dan megaliticum antara lain berupa ‘menhir’yaitu sejenis
tiang atau tugu dari batu,kubur batu, punden berundak-undak yang ditemukan pasemah
pegunungan antara palembang dan jambi di daerah besuki jawa timur, cepu, cirebon, bali
dan sulawesi. Menhir yang berupa tiang batu yang didirakan yang didirikan ditengah
tersebut pada prinsipnya merupakan ungkapan manusia atas Dhat yang tertinggi, hyang
tunggal artinya Esa tercermin bolon[batak], to lotong[bugis], gae dewa [ngada].

Bangsa indonesia dalam sturukturkehidupan sosialnya, eksistansi [keberadaan]


setiap manusia sebagai makhluk pribadi dan sekaligus sebagai makhluk sosial diakui,
dihargai dan di hormati. Dalam kaitanya dengan hakikat sial kedua ‘kemanusiaan yang adil
dan berdab’ nilai-nilainya tercermin dalam sikap tolong menolong menghormat manusia
lain bersikap adil dan menjunjung tinggi kejujuran dan sebagainya. ‘apa yang dilakukan
manusia indonesia itu tidak hanya kepentnganya sendirimelainkan juga kepentingan
manusia lain dan mayarakat dan pengabdinya kepada Tuhan YME . hak asasi manusia
dihormati dan junjung tinggi yang antara lain tercermin dalam ungkapan ‘sedumuk bathuk
senyari bumi’. Ksemuanya itu ungkapan cita-cita kemanusiaan dalam masyarakat dan
bangsa indonesia.

Selain itu juga terdapat cita-cita terwujudnya hubungan yang manis dan serasi antara
manusia dan dirinya sendiri, antara manusia dan penciptanya yaitu Tuhan YME.
Keselarasan dan keharmonisan tersebut sebagai makna dari ungkapan keadilan dan
kebenaran manusia sebagaimana yang terkandung dalam sila kedua pancasila.

Cita-cita dan kesatuan tercermin dalam berbagai ungkapan dalam bahasa-bahasa


daerah di seluruh nusantara sebagai budaya bangsa seperti pengertian-pengertian dan
ungkapan-ungkapan. ‘tanah air’ sebagai ekspresi pengertian persatuan tanah air, kesatuan
wilayah yang terdiri atas pulau-pulau, lautan dan udara; ‘bhineka tunggal ika’ yang
merupakan cita-cita kemaanusiaan dan kesatuan seakaligus. Perwujudan cita-cita ini
terungkap bahwa sejarah mencatat adanya kerajaan yang dapat digolongkan bersiafat
nasional yaitu sriwijaya dan majapahit. Semangat ‘gotong royong’, ‘siadapari’, ‘masohi’,
‘sambatan’, gugur gunung’ dan sebagainya mengungkapkan cita-cita kerakyatan ,
kebersamaan dan solidaritas sosial. Rakyat tidak untuk negara tetapi negara untuk rakyat
sebab pengambilan keputusan selalu digunakan atas musyawarah untuk muafakat seperti
yang dilakukan dalam ‘rembung desa’, ‘kerapatan nagari’, ;kuria’, ‘wanua,banua,nua’.

Selanjutnya strukur kejiwaan bangsa indonesia mengakui , menghormati serta


menjunjung tinggi hak dan kewajiban tiap manusia.

61
BAB VI

REALISASI PANCASILA

A. Pengantar

Pancasila sebagai dasar filsafat negara,pandangan hidup bangsa,sebagai ideologi


bangsa dan negara indonesia dan fungsi lainnya dalam realisasi(pengalamannya) memiliki
konsekuensi yang berbedabeda tergantung pada konteksnya.realisasi sebagai praksis ini
sangat penting karena pancasila sebagai dasar filsafat pandangan hidup pada hakikatnya
adalah merupakan suatu sistem nilai,yang pada gilirannya untuk dijabarkan,direalisasikan
serta diamalkan dalam

Sebagaimana telah dipahami bahwa nilainilai pancasila itu sendiri diangkat dari nilai
nilai yang ada dalam kehidupan secara nyata bangsa kongkrit dalam kehidupan secra nyata
bangsa indonesia(local visdom),yang berupa nilai nilai adat istiadat,kebudayaan serta
nilainilai agama yang dimiliki oleh bangsa indonesia sendiri sebelum membentuk
negara.dalam pengertian inilah maka kuasa materialis pancasila pada hakikatnya adalah
bangsa indonesia.nilainilai yang dimiliki oleh bangsa itu oleh The founding fathers bangsa
indonesia (pendiri bangsa dan negara indonesia) kemudiandibahas dan dirumuskan dengan
merumuskan dengan melakukan sintensis dengan pandangan besar dunia, lalu disepakati
melalui konsensus musyawarah mufakat untuk ditetapkan sebagai dasar filsafat negara
republik indonesia, dan sekaligus sebagai ideologi dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam kedudukan pancasila sebagai dasar filsafat negara indonesia, wujud realisasi
dan pengalamannya adalah dapat berupa aspek penyelenggaraan negara, baik meliputi
bidang eksekutif,legislatif maupun yudikatif. Wujud realisasi serta pengalaman nya adalah
dapat merupakan suatu realisasi norma moralitas dalam kehidupan kenegaraan.

Selain itu dalam aspek moralitas para penyelenggara negara yang merupakan amanat
dari kedaulatan rakyat,harus mendasar kan pada nilai yang terkandung dalam pancasila.
Dalam dalam pengertian inilah notonagaro mendeskripsikan bahwa realisasi(pengamalan)
dalam fungsi dan kedudukan pancasila sebagai dasar negara adalah merupakan suatu
realisasi atau pengalamalan yang bersifat objektif

Oleh karena itu dalam realisasi dan pengamalan nilainilai pancasasila juga harus
meliputi seluruh rakyat indonesia.dalam pengertian inilah maka pengalaman serta realisasi
pancasila meliputi seluruh rakyat indonesia, senilainilai pancasasila juga harus meliputi
seluruh rakyat indonesia.dalam pengertian inilah maka pengalaman serta realisasi pancasila
meliputi seluruh rakyat indonesia, seluruh warga negara indonesia serta seluruh penduduk
indonesia.

62
Sebagaimana telah dibahas dimuka bahwa nilainilai pancasila yang bersumber pada
sila-sila pancasila adalah merupakan nilai yang universal,dan dalam pengertian inilah
soekarno mengistilahkan weltanschauung.

Dalam pengertian realisasi pengalaman serta akhtualisasi pancasila pada setiap warga
negara, setiap penduduk dan setiap warga negara,menurut notonagoro disebut realisasi
(pengamalan) yang bersifat Subjektif.

Oleh karena itu permasalahan pokok dalam akhtualisasi pancasila adalah


sebagaimana wujud akhtualisasi itu,yaitu bagaimana nilainilai pancasila yang bersifat
universal tersebut dijabarkan dalam bentuk norma norma yang jelas dalam kaitannya
dengan tingkahlaku semua warga dalam bermasyarakat,berbangsa dan bernegara,serta
dalam hubungannya dengan segala aspek dalam hubungannya dengan segala aspek dalam
penyelenggaraan negara.

Aktualisasi pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu aktualisasi pancasila
Subjektif yaitu realisasi pada setiap individu,dan aktualisasi Objektif yaitu realisasi dalam
segala aspek penyelenggaraan kenegaraan dan hukum.

B. Realisasi pancasila yang Objektif

Realisasi serta pengalaman pancasila yang objek yaitu realisasi serta implementasi
nilai nilai pancasila dalam segala aspek penyelenggaraan negara, terutama dalam kaitannya
dengan penjabaran nilai nilai pancasila dalam praksis yang penyelenggaraan negara dan
peratutran perundang undangan di indonesia. Dalam implemettasi penjabaran pancasila
yang bersifat objek adalah merupakan perwujudan nilainilai pancasila dalam kebudayaan
sebagai dasar negara republik indonesia,yang realisasi kongritnya merupakan sumber dari
segara sumber hukum (sumber tertib hukum) indonesia.

Oleh karena itu implementasi pancasila pancasila yang objektif ini berkaitan dengan
norma norma hukum dan moral,secara lebih luas dengan norma norma kenegaraan.

Menurut notonagoro pelaksanaan pancasila yang subjektif dari pancasila dari


pancasila dasar filsafat negara ini justru lebih penting dan lebih menentukan dari pada
pelaksanaan pancasila yang objektif dalam arti pelaksanaan pancasila yang subjektif
merupakan persyaratan bagi keberhasilan pelaksanaan pancasila yang objektif.

Dalam penjelasan resmi pembukaan UUD 1945, yang termuat dalam lembaran
negara republik indonesia tahun II No.7 dinyatakan bahwa dalam pelaksanaan kehidupan
kenegaraan negara berdasar atas ketuhanan yang maha esa,menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradap.hal ini berarti mengandung isi yang mewajibkan kepada pemerintah
dan para penyelenggara negara untuk memelihara moral budi pekerti kemanusiaan yang
luhur memegang teguh cita cita moral rakyat yang luhur.

63
Sebagai manusia yang hakikat sifat kodratnya adalah sebagai makluk individu dan
makluk sosial dalam merealisasikan hakikat martabat kemanusiaannya yang maha esa
ditakdirkan berkelompok kelompok,bergolong golongan,besukusuku serta berbangsa
bangsa tidak lain adalah untuk menjalin suatu hubungan yang harmonis,menjalin suatu
hubungan kemanusiaan yang positif serta untuk salinh mengenal. Realisasi dan
pengalaman pancasila secara objektif berkaitan dengan pemenuhin wajib hukum yang
memiliki norma norma yang tertuang dalam suatu sistem hukum positif.

C. Penjabaran Pancasila Yang Objektif

Pengertian penjabaran pancasila yang objektif adalah pelaksanaan dalam bentuk


realisasi dalam setiap aspek penyelenggaraan negara,baik di bidang legislatif,eksekutif
maupun yudikatif dan semua bidang kenegaraan dan terutama realisasinya dalam bentuk
peraturan perundangundangan negara indonesia hal itu antara lain dapat dirinci sebagai
berikut:

a). Tafsir uud 1945, harus dilihat dari sudut dasr filsafat negara pancasila
sebagaimana tercantum dalam pembukaan uud 1945 alenia iv.hal ini mengandung arti
bahwa pancasila sebagai sumber sumber asas, norma dan derivasi segala aspek
penyelenggaraan negara.

b).pelaksanaan UUD 1945 dalam undang undang harus mengingat dasar dasar pokok
pikiran yang tercantum dalam dasar filsafat negara indonesia.

c).tanpa mengurangi sifat sifat undang undang yang tidak dapat diganggugugat,
interpretasi pelaksanaannya harus mengingat unsur unsur yang terkandung dalam filsafat
negara.

d). Interpretasi pelaksanaan undang undang harus lengkap dan menyuruh,meliputi


seluruh perundang undangan di bawah undang undang dan keputusan keputusan
administrasi dari semua tingkat penguasa negara,mulai dari pemerintah pusat sampai
dengan alatalat pelengkapan negara di daerah kepusan keputusan peradilan serta alat
pelengkapannya begitu juga meliputi usaha kenegaraan dan aspek kenegaraan lainnya.

e). Dengan demikian seluruh hidup kenegaraan dan tertib hukum indonesia
didasarkan atas dan diliputi oleh asas kerokhanian pancasila.

Dalam realisasi pelaksanaan kongritnya yaitu dalam setiap penentuan kebijaksaan


dibidang kenegaraan antaraalain:

1). Bentuk dan kedaulatan dalam negara

2). Hukum,perundangaundangan dan peradilan

3). Sistem demokrasi

64
4). Pemerintahan dari pusat sampai daerah

5). Politik dalam luar negeri

6). Keselamatan,keamanan dan pertahanan

7). Kesejahteraan

8). Kebudayaan

9). Pendidikan,dan lain sebagainya (notonagoro,1971:43,44)

10). Tujuan negara

11). Reformasi dan segala pelaksanaannya

12). Pembangunan nasional dan lain pelaksanaan kenegaraan

Pancasila Sebagai Dasar Filsafat Pembangunan Nasional

Negara pada hakikatnya adalah merupakan lembaga kemanusiaan,lembaga


kemasyarakatan yang merupakan suatu organisasi.

Pancasila sebagai dasar filsafat negara pada hakikatnya merupakan dasar dan sumber
derivasi nilai nilai dan norma norma dalam segala aspek penyelenggaraan negara termasuk
pelaksanaan pembangunan nasional.oleh karena itu reformasi harus mendasarkan pada
pradigma yang jelas dan dalam ,masalah ini pradigma yang harus diletakan sebagaibasis
segala agenda reformai adalah dasar filsafat negara yaitu pancasila.

D. Realisasi Pancasila Dan Subjektif

Aktualisasi pancasila yang subjektif adalah pelaksanaan pada setiap pribadi


perseorangan setiap warga negara setiap individu setiap penduduk setiap penguasa dan
setiap orang indonesia.

Dalam pengetian inilah pelaksanaan pancasila yang subjektif yang mewujudkan


suatu bentuk kehidupan di mana kesadaran wajib moral.dalam pengertian inilah maka
fenomena konkrit yang ada pada seseorang yang berkaitan dengan sikap dan tingkah laku
seseorang dalam realisasi pancasila secara subjektif ini lebih berkaitan dengan kondisi
objektif,yaitu berkaitan dengan norma norma moral.

Dalam pengamalan pancasila perludiusahakan adanya suatu kondisi individu akan


adanya kesadaran untuk merealisasikan pancasila.kesadaran adalah hasil perbuatan akal
yaitu pengalaman tentang keadaan keadaan yang ada pada diri manusia sendiri. Aktualisasi
serta pengamalan itu bersifat jasmaniah maupun rokhaniah dari kehendak manusia.

E.Internasional Nilai nilai Pancasila

65
Realisasi nilai nilai pancasila dasr filsafat negara indonesia,perlu secara berangsur
ansuran dengan jalan pendidikan baik di sekolah maupaun dalam masyarakat dan keluarga
sehingga diperoleh hal hal berikut:

Pengetahuan, yairtu suatu pengetahuan yang benar tentang pancasila,baik aspek nilai
norma maupun aspek praksisnya.

Kesadaran, selalu mengetahui pertumbuhan keadan yang ada dalam diri sendiri.

Ketaantan, yaitu selalu dalam keadaan kesediaan untuk memenuhi wajib lahir dan
batin,lahir berasal dari luar misalnya pemerintah,adapun wajib batin dari diri sendiri.

Kemampuan kehendak, yang cukup kuat sebagai pendorong untuk melakukan


perbuatan berdasar nilai nilai pancasila.

Watak dan hati nurani, agar orang mawas diri.

Pada dasarnya ada dua bentuk realisasinya yaitu bersifat statisdan yang bersifat
dinamis.

Statis dalam pengertian intinya atau esensinya (yaitu nilai nilai yang bersifat
rokhaiah dan universal) sehingga merupakan ciri khas khrakter yang bersifat tetap dan
tidak terubah.

Bersifat dinamis dalam arti bahwa aktualisasinya senantiasa bersifat dinamis inovatif
sesuai dengan dinamika masyarakat perubahan serta konteks lingkungan nya. Misalnya
dalam konteks lingkungan kenegaraan, sosial,politik,hukum kebudayaan,pendidikan
ekonomi,hamkam,kehidupan keagamaan,LSM,organisasi masa,seni,bahkan lingkungan
dunia IT,internet dan konteks lingkungan masyarakat lainya (bandingkan
notonagoro,1972:47,48)

F. Proses Pembentukan Kepribadian Pancasila

Bilaman kita rinci pemahaman dan aktualisasi pancasila sampai pada tingkat
mentalstas,kepribadian dan ketahana ideologis adalah sebagai berikut:

1. Proses penghayatan diawali dengan memiliki tentang pengetahuan yang lengkap


dan jelas tentang kebaikan dan kebenaran.

2. Kemudian ditinngkat kan kedalam hati sanubari sampai adanya suatu ketaatan
,yaitu suatu kesediaan yang harus senantiasa ada untuk merelisasikan pancasila.

3. Kemudian disusun dengan adanya kemampuan dan kebiasaan untuk melakukan


perbuatan mengaktualisasikan pancasila dalam kehidupan sehari hari baik dalam bidang
kenegaraan maupun kedalam bidang kemasyarakatan.

66
4. Kemudian ditingkatkan lagi menjadi mentaliatas,yaitu selalu terselenggaranya
kesatuan lahir batin kesatuan akal,rasa, kehendak sikap dan perbuatan mentalitas.

G. Sosialisasibdan Pembudayaan Pancasila

Dalam proses realisasi,sosialisasi dan pembudayaan pancasila pertama tama harus


diletakan adalah suatu pemahaman terhadap sistem epistemologi yang benar. Artinya
jikalau kita ingin merealisasikan atau mengamalkan pancasila harus dipahami terlebih
dahulu bahwa pancsaila itu adalah merupak suatu sistem nilai dimana kelima sila
merupakan satu kesatuan yang sistematik.

Selain itu fungsi pkok pancasila adalah sebagai dasar filsafat negara ,sebagai
philosofsche Grondslagsehingga kosekuensinya NKRI yang diatur dalam dasar negara
sebagai norma dasar dan penyelenggaraan yaitu UUD NKRI tahun 1945,mendasarkan
pada filsafat pancasila.intinya adalah bahwa baik NKRI UUD Negara RI tahun 1945
adalah bersumber pada filsafat pancasila.oleh krena itu sistem epistemologidalam realisasi
pancasila adalah bahwa pancasila sebaga suatu sistem nilai,kemudian dijabarkan dalam
norma norma dasar negara yaitu UUD 1945 yang lazimnya melalui suatu asas, yang pada
gilirannya kemudian dijabarkan suatu realisasi praksis,atau dalam suatu pengalaman yang
bersifat kongkrit dan empirid.hal ini sebagai bentuk realisasi kongkrit dalam bidang
kenegaraan.secara epitemologis juga memiliki sistem epitesmologis hang sama
yaitu,pancasila merupakan suatu nilai kemudian dijabarkan kedalam norma,baik norma
hukum maupun norma etika kemudian tahap berikutnya direalisasikan dalam suatu
kehidupan yang bersifat kongkrit nyata dan empiris.

Proses sosialisasi dan pembudayaan pancasila

Manusia adalah makluk sosial selain sebagai individu,oleh karena itu iya senantiasa
membutuhkan orang lain dalam masyarakat. Wujud budaya kongkret lainya adalah bentuk
budaya fisik yang dihasilkan oleh manusia. Hasil budaya yang berupa benda bendabudaya
atau budaya fisik itu yang senang tiasa bersumber pada kebudayaan manusia yang berupa
sistem nilai yang merupakan pedoman dan pandangan hidup suatu masyarakat.

Jikalau kita pahami pancasila dengan sistematic wujud sistem sosial kebudayaan
dalam pembudayaan pancasila dapat dikelompikkan menjadi tiga yaitu:

1. .sistem nilai (pembudayaan nilai nilai pancasila )

2.sistem sosial(pembudayaan pancasila pada kehidupan sosial)

3.wujud fisik(pembudayaan pancasila dalam wujud budaya fisik)

Dalam hubungan pancasila merupakan core values sistem kebudayaan masyarakat


indonesia yaitu merupakan suatu esensi nilai kehidupan sosial kebudayaan yang
multikulturalisme.

67
Bangsa indonesia adalaah multikultural,multi,etnis dan multireligius. Pembudayaan
pancasila pada kehidupan sosial,yaitu proses pembudayaan pancasila dalam kehidupan
sosial budaya secara kongkrit. Pembudayaan pancasila dalam wujud budaya fisik, yaitu
pembudayaan nilai nilai pancasila secara langsung dalam wujud kebudayaan fisik.
Misalnya dalam kaos ada dengan gambar simbol nasionalisme,semboyan kebangsaan dan
lain sebagainya. Secara lebih luas dapat dilakukan pada benda budaya lai seperti buku
cerita anak,gantungan kunci,patung,pakaian,dan lukisan.

68
BAB VII

NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

A. Hakikat Negara

Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena memiliki wewenang


yang bersifat memaksa yang secara sah lebih tinggi daripada individu atau kelompok-
kelompok yang ada dalam negara tersebut, untuk mencapai tujuan bersama. Pada
hakikatnya negara memiliki suatu unsur, diantaranya yaitu:

a. Wilayah

b. Rakyat

c. Pemerintahan

d. Kedaulatan

B. Negara Kesatuan Republik Indonesia

Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Yaitu negara
yang menolak paham Individualisme maupun negara kelas, karena tidak sesuai dengan
karakteristik bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan bangsa Indonesia terdiri atas berbagai
macam suku, kelompok, adat istiadat, kebudayaan serta agama. Pancasila sebagai dasar
negara pastilah sangat berkaitan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang
dengan hal ini akan menimbulkan pengertian tentang NKRI.

1. NKRI adalah negara kebangsaan yang berkedaulatan yang maha esa

2. NKRI adalah negara kebangsaan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab

3. NKRI adalah negara kebangsaan yang berpersatuan

4. NKRI adalah negara kebangsaan yang berkerakyatan

5. NKRI adalah negara kebangsaan yang berkeadilan sosial

Negara kebangsaan Indonesia adalah Negara yang mengakui Tuhan yang Maha Esa
memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita
kemanusiaan sebagai makhluk Tuhan dengan segala hak dan kewajiban. Negara tidak
memaksa dan tidak memaksakan agama karena agama adalah merupakan suatu keyakinan
Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk
beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.Kebebasan beragama dan
kebebasan beragama dan kebebasan agama adalah merupakan hak asasi manusia yang
paling mutlak ,karena langsung bersumber pada martabat manusia yang berkedudukan

69
kodrat sebagai pribadi dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa.Maka dari itu
Negara wajib memelihara budi pekerti yang luhur dari setiap warga Negara pada
umumnya dan para penyelenggara Negara khususnya,berdasarkan nilai-nilai pancasila.

Hakikat Ketuhanan yang Maha ESA.

Sila pertama pancasila sebagai dasar filsafat Negara adalah ‘Ketuhanan yang Maha
Esa` juga merupakan sumber nilai dan sumber norma. Mengandung konsekuensi bahwa
nilai-nilai Ketuhanan harus dijabarkan dalam realisasi penyelenggaraan Negara dalam arti
material anatra lain,bentuk Negara dan tujuan Negara, tertib hukum Negara dan sistem
Negara. Hal ini ditegaskan oleh Moh. Hatta,bahwa sila ‘Ketuhanan yang Maha Esa’
merupakan dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan kita untuk menyelenggarakan yang
baik bagi masyarakat dan penyelenggara.

Hakikat Ketuhanan yang Maha Esa secara ilmiah filosofis mengandung makna
terdapat kesesuaian hubungan sebab-akibat Tuhan manusia dengan Negara. Oleh karena
itu terdapat hubungan sebab akibat yang langsung antara Tuhan dan manusia karena
manusia adalah sebagai makhluk Tuhan. Adapun manusia diciptakan Tuhan karena
manusia adalah sebagai makhluk Tuhan(Kaelan dalam Ensiklopedia Pancasila,1995:110-
115).

Pembukaan UUD 1945 terdapat nilai-nilai hukum Tuhan (Alenia III),hukum kodrat
(Alenia I), dan hukum etis (Alenia III).

1.Hubungan Negara dengan Agama Menurut Pancasila.


Menurut pancasila Negara adalah dasar atas Ketuhanan yang Maha Esa atas dasar
kemanusiaaan yang adil dan beradab. Termuat dalam Pembukaan UUD 1945 terdapat
dipokok pikiran ke empat. Serta pancasila bukan Negara sekuler yang memisahkkan
Negara dengan agama,hal ini tercantum dalam pasal 29 ayat(1),bahwa Negara berdasar
atas Ketuhanan yang Maha Esa. Pasal 29 ayat (1) mengandung suatu pengertian bahwa
Negara Indonesia adalah Negara yang bukan Negara Theokorasi. Pasal 29 (2) memberikan
kebebasan kepada seluruh warga Negara untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah
sesuai dengan keimanan dan ketaqwaan masing-masing. Bilamana dirinci maka hubungan
Negara denggan agama menurut Negara pancasila adalah sebagai berikut.

1) Negara adalah berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa .

2) Bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang berketuhanan yang Maha Esa .

3) Tidak ada tempat bagi atheisme dan sekulerisme karena hakikatnya manusia
berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan.

4) Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketaqwaan itu bukan hasil
paksaan bagi siapapun juga..

70
5) Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama,golongan agama,antar dan inter pemeluk
agama serta antara pemeluk agama.

6) Oleh karena itu harus memberikan toleransi terhadap orang lain dalam
menjalankan agama dalam Negara.

2)Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Theokrasi.


Menurut paham Theokrasi bahwa antara Negara dengan agama tidak dapat dipisahkan.
Dengan demikian agama menguasai masyarakat politisi (Heuken dalam Suhadi ,
1998:114). Terdapat dua macam pengertian Negara Theokrasi yaitu Negara Theokrasi
langsung dan Negara Theokrasi tidak langsung.

a) Negara Theokrasi langsung yang memiliki kekuasaan adalah Tuhan. Adanya


Negara diidunia ini adalah atas kehendak Tuhan , dan yang memerintah adalah Tuhan.
Berdasarkan sejarah Perang Dunia II, rakyat Jepang rela mati berperang demi Kaisarnya.
Karena menurut kepercayaannya Kaisar adalah Tuhan. Doktrin–doktrin dan ajaran-ajaran
berkembang dalam Negara Theokrasi langsung , sebagai upaya untuk memperkuat dan
meyakinkan rakyat terhadap kekuasaan Tuhan dalam Negara (Kusnadi,1995:60).

b) Negara Theokrasi tidak langsung berbeda dengan Negara Theokrasi yang


langsung ,Negara theokrasi tidak langsung bukan Tuhan sendiri yang memerintah dalam
Negara ,melainkan Kepala Negara atau Raja yang memiliki otoritas atas nama Tuhan.
Politik yang demikian inilah diterapkan oleh Belanda terhadap wilayah jajahannya
sehingga dikenal dengan Ethische Politik (politik etis).

3) Hubungan Negara dengan Agama menurut Sekulerisme.


Sekulerisme berpandangan bahwa Negara adalah masalah-masalah keduniawian hubungan
manusia dengan manusia,adapun masalah-masalah keduniawian hubungan manusia
dengan manusia,adapun agama adalah urusan akhirat yang menyangkut huubungan
mannusia dengan Tuhan .

4) Hubungan Negara dengan Agama menurut paham Liberalisme


Negara liberal hakikatnya mendasarkan pada kebebasan individu. Negara merupakan alat
atau sarana individu,sehingga masalah agama dalam Negara sangat ditentukan oleh
kebebasan individu. Materialisme yang mendasarkan atas hakikat materi,empirisme yang
mendasarkan atas kebenaran pengalaman indra serta individualisme yang mendasarkan
atas kebebasan individu (Poespowardoyo, 1980:185). Nilai-nilai agama dalam Negara
dipisahkan dan dibedakan dengan Negara,keputusa dan ketentuan kenegaraan terutama
peraturan perundang-undangan sangat ditentukan oleh kesepakatan individu-individu
sebagai warga negaranya. Berdasarkan pandangan filosofi tersebut hampir dapat dipastikan
bahwa dalam sistem Negara liberal membedakan dan memisahkan antara Negara dengan
agama atau bersifat sekuler.

5) Hubungan Negara dengan Agama menurut paham Komunisme


Paham komunis dalam memandang hakikat hubungan Negara dengan agama mendasarkan

71
pada pandangan filosofis materialism dialektis dan materialism historis. Hakikat tertinggi
paham komunisme adalah materi. Agama menurut komunisme adalah realisasi fanatic
makhluk manusia agama adalah keluhan makhluk tertindas. Oleh karena itu menurut
komunisme Marxis, agama adalah merupakan candu masyarakat(Marks, dalam Louis
Leahy,1992: 97,98).

Negara yang berpaham komunisme yaitu Negara yang bersifat atheis bahkan
bersifat antitheis,melarang dan menekan kehidupan agama. Nilai tertinggi dalam Negara
adalah materi sehingga nilai manusia ditentukan oleh materi.

F. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berperikemanusiaan yang Adil dan Beradab

Negara pada hakikatnya menurut pandangan filsafat pancasila merupakan


persekutuan hidup manusia, merupakan suatu penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk Tuhan yang Maha Esa. Negara adalah lembaga
kemanusiaan,lembaga kemasyarakatan yang bertujuan demi tercapainya harkat dan
martabat manusia serta kesejahteraan lahir maupun batin. Struktur dan keadaan Negara
tersebut adalah meliputi:

a) Bentuk Negara

b) Tujuan Negara

c) Organisasi Negara

d) Kekuasaan Negara

e) Penguasa Negara

f) Warga Negara,masyarakat,rakyat,dan bangsa.

G. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berpersatuan.

Negara Indonesia adalah Negara Persatuan, yang berarti Negara adalah suatu
kesatuan dari unsur-unsur yang membentuk Negara baik individu maupun masyarakat
sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia. Negara kesatuan bukan dimaksudkan merupakan
suatu kesatuan dari negarra bagian(federasi),melainkan kesatuan dalam arti keseluruhan
unsur-unsur Negara yang beersifat fundamental. Unsur-unsur yang membentuk Negara
meskipun berbeda-beda,beraneka ragam, suku bangsa, kebudayaan, agama, maupun
golongan, namun merupakan suatu kesatuan dalam kehidupan bersama yang disebut
Negara.

H. NKRI adalah Negara Kebangsaan yang Berkerakyatan.

Negara menurut filsafat Pancasila adalah dari oleh dan untuk rakyat. Hakikat rakyat
adalah sekelompok manusia yang bersatu yang memiliki tujuan tertentu dan hidup dalam
suatu wilayah Negara. Rakyat adalah sebagai pendukung pokok dan sebagai asal muasal

72
kekuasaan Negara. Di berbagi Negara sistem demokrasi diterapkan misalnya Perdana
Menteri dipilih oleh parlemen, hal itu juga dinamakan demokrasi. Torres membahas bahwa
demokrasi dipahami dalam dua aspek yaitu formal democracy dan substantive democracy.
Formal democracy diartikan sebagai suatu sistem pemerintahan. Adapun substantive
democracy menujukkan pada proses demokrasi, yang didefinisikan dalam empat bentuk
demokrasi.

1) Protective democracy yang menunjukan pada perumusan Jeremy Betham dan


James Mill, yang ditandai oleh …the hegemony of market economy atau kekuasaan
ekononi pasar, dimana proses pemilihan umum dilakukan secara regular sebagai uapnya
untuk memajukan pasar dari tirani Negara.

2) Developemental democracy yang ditandai oleh konsepsi…the model of man as a


possessive individualitas,atau model individu yang posesif, yaitu manusia conflicting,
selfinterested consumers and appropriators, yang dikompromikan dengan konsepsi
manusia sebagai manusia yang mampu mengembangkan kekuasaan dan kemampuannya.
Disamping itu juga menempatkan democratic participation sebagai central route to self
development.

3) Equilibrium democracy atau piuralist democracy yang dikembangkan oleh Joseph


Schumpeter, yang berpandangan perlunya despreciates the value of participation and
appreciates the functional importance of apathy, atau penyeimbang nilai partisipasi dan
pentingnya apatisme,karena apatisme yang intensif dipandangan tidak efisien bagi individu
rasional.

4) Keterkaitan antara perubahan dan ketidakseimbangan sosial. Masyarakat tidak


dapat mencapai partisipasi yang demokratis tanpa perubahan lebih dulu dalam
keseimbangan sosial dan kesadaran sosial. Namun demikian juga masyarakat tidak dapat
mencapai perubahan dalam ketidakseimbangan sosial dan kesadaran sosial tanpa
peningkatan partisipasi lebih dahulu.

Bentuk-bentuk demokrasi

Menurut Torres demokrasi dilihat dari dua aspek pertama, formal democracy dan
kedua substanti vedemocracy menunjuk pada bagaimana proses demokrasi itu dilakukan
(Winataputra,2005)

Formal democracy menunjuk pada demokrasi dalamarti sistem pemerintah dapat


dilihat dalam berbagaipelaksanaandemokrasi di berbagai Negara, misalnya suatu Negara
diterapkan demokran sisistem presidensial atau sistem parlementer.

Sistem presidensial: menekankan pentingnya pemilihan presiden secaralangsug, dan


mendapatkan mandat langsung dari masyarakat, dalam sistem ini kekuasaan eksekutif
(kekuasaanmenjalankanpemerintahan) sepenuhnya di tangan presiden oleh karena itu
presiden merupakan kepala eksekutif (head of government) Dan juga kepala negara(head

73
of state) sekaligus sebagai simbol kepemimpinan negara(timLP3,UMY) yang diterapkan di
Negara Amerika dan Indonesia.

Sistem parlementer:menerapkan model hubungan yang menyatukan antara eksekutif dan


legislatif. Kepala eksekutif (head of government) berada di tangan seorang perdana mentri
dan kepala Negara(head of state) berada padaseorang ratu, misalnya di Negara Inggris dan
ada pula pada seorang prisiden seperti di India.

Demokrasi Perwakilan Liberal

Prinsip ini di dasarkan oleh filsafat kenegaraan bahwa manusia adalah makhluk individu
yang bebas,oleh karena itu sistem demokrasi ini kebebasan individu sebagai dasar
fundamental pelaksanaan demokrasi, pemikiran tentang Negara demokrasi dikembangkan
oleh Hobbes, Lock dan Rousseau bahwa Negara terbentuk karena adanya peraturan hidup
mereka dalam hidup bermasyarakat dalam suatu natural state.

Demokrasisatupartaidankomunise

Demoksi satu partai ini lazimnya dilaksanankan dinegara-negara komunis seperti, Rusia,
China, Vietnam dan lainnya. Kebebasan formal berdasarkan demokrasi liberal akan
menghasilkan kesenjangan kelas yang semakin lebar dalam masyarakat, dan akhirnya
kapitalish yang menguasai Negara.

Demokrasi Deliberatif

Demokrasi dalam negara kesatuan,selain prespektif matematis harus meletakkan dasar


moralitas dalam sistem demokrasi negara, oleh karena itu demokrasi harus dilandasi oleh
moral ketuhanan, kemanusiaan dan persatuan dalam rangka mewujudkan tujuan bersama
suatu masyarakat yang sejahterah dan berkeadilan.

Demokasi Indonesia da ntujuan negara kesejahteraan rakyat

Tujuan negara dirumuskan dalam pembukaan UUD1945,bahwa”negara melindungi


segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”,sebagai ciri negara hukum formal
dan”memajukan kesejahteeraan umum mencerdaskan kehidupanbangsa: sebagai ciri
negara hukum material atau welfare state,sedangkan secara umum” ikut melakukan
ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilansosial

1.NKRI adalah negara kebangsaan yang berkeadilan sosial

Dalam hidup bersama baik dalam masyarakat,bangsa dan negara harus terwujud dalam
keadilan sosial yang meliputi 3 hal yaitu:

1. Keadilan distributif (keadilan membagi),yaitu negara terhadap warganya

2. Keadilan legal (keadilan bertaat),yaitu warga untuk negaranya

74
3. Keadilan komutatif(keadilan antar sesama warganegara), yaitu hubungan keadilan antar
warga satu dengan yang lainnyasecara timbal balik.

Realisasi dan perlindungan keadilan dalam hidup bersama dalam suatu negara kebangsaan,
mengharuskan negara untuk menciptakan suatu peraturan perundang-undangan, sehingga
sebagai suatu negara hukum harus terpenuhi adanya 3 syarat pokokyaitu:

Pengakuan dan perlindungan atas hak-hak asasi manusia

Peradilan yang bebas

Legalitas dalam arti hukum dalam segala betuknya

75
BAB VIII

NILAI PANCASILA DALAM UUD 1945

A. Pengantar

Dalam konteks inilah maka pancasila merupakan suatuasas kerokhanian negara, sehingga
merupakan suatu sumber nilai, norma dan akidah baik moral maupun hukum dalam negara
republik Indonesia.Oleh karenaitu pancassila merupakan sumber hukum dasar negara baik
yang tertulis yaitu UUD maupun tidak tertulis atau Konvensi.

B. Kedudukandanfungsipembukaan UUD 1945

Pembukaan UUD 1945 bersama-sama dengan pasal uud ,disahkan oleh bpupki pada
tanggal 18 agustus 1945, dan diundangkan dalam berita republic Indonesia tahun II No.7,
pembukaan uud berdasarkan 4 alenia dan setiap alenia memiliki spesifikasi jikalau ditinjau
berdasrkan isinya, aleniapertama, keduadan ketiga memuat segolongan pertanyaan yang
baik memiliki hubungan kausal organis dengan pasal-pasalnya

1.Pembukaan UUD dalam tertib hukum Indonesia

Kedudukanpembukaan UUD1945 dalam kaitannya dengan tertib hukum Indonesia


memiliki dua aspek yang sangat fundamental anataranya:pertama memberikan factor-
faktor mutlak bagiter wujudnya tertib hukum Indonesia dan yang kedua adalah
memasukkan diri dalam tertib hukum Indonesia sebagai tertib hukum tertinggi Pancasila
didalamnya terkandung nilai-nilai religious, niai hukum moral, kodrat, dan filosofis
merupakan suatu sumber hukum material bagi hukum positif Indonesia, secara ilmiah
maka pancasila merupakan sumber asas dan norma meteri hukum positif.

2.Pembukaan UUD1945 Memenuhisyaratadanyatertibhukum Indonesia

Kebulatan dan keseluruhan peraturan-peraturan hukum, adapun syarat-syaratnya


adalah1.adanya kesatuan subjek. 2.adanya kesatuan asas kerohanian,3.adanya kesatuan
daerah,4.adanya kesatuan waktu.

Kedudukan UUD1945 dalam tertib hukum

1. Menjadi dasarnya

2. UUD1945 memasukkandirisebagiketentuanhukumyangtertinggi

3.Pembukaan UUD1945 sebagaistatsfundamental

Dari segi isinya:1.dasartujuan ngara,2.ketentuan diadakannya UUD1945,3.bentuk


negara,4.dasar filsafatnegara

76
1945 dengan pasal-pasalnya itu merupakan suatu satu kesatuan, sedangkan di pihak
lain menyatakan keduanya pada hakikatnya terpisah. Namun demikian karena hakikat
kedudukan pembukaan UUD 1945 tersebut secara fundamental dan ilmiah yang memiliki
kedudukan yang kuat dan terlekat pada kelangsungan hidup negara, maka kedua pendapat
tersebut akhirnya tiba pada suatu kesimpulan yang sama sebagai berikut :

1) Sebgai pokok negara yang fundamental, dalam hukum mempunya hakikat


kedudukan yangg kuat dan tidak berubah,terlekat pada kelangsungan hidup negra yang
telah terbentuk.

2) Dalam jenjang hieraraki tertib hukum, Pembukaan UUD 1945 sebagai Pokok
Kaidah negara yang Fundamental adalah berkedudukan yang tertinggi sehingga memiliki
kehidupan yang lebih tinggi dari pada pasal-pasal UUD 1945, sehingga secara hukum
dapat dikatakan terpisah dari pasal-pasal UUD 1945

Pengertian “ terpisah “ sebenarnya bukan berarti tidak memiliki hubungan sama


sekali dengan batang tubuh (pasal-pasal) UUD 1945, akan tetapi justru antara pembukaan
UUD 1945 dengan batang tubuh UUD 1945 terdapat hubungan “kausal organis”, dimana
UUD harus menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan UUD
1945.

Dengan demikian pengertian “terpisah” sebenarnya dalam pengertian mempunyai


hakikat dan kedudukan sendiri dimana pembukaan 1945 memiliki kedudukan yang lebih
tinggi dari pada pasal-pasal UUD 1945, bahkan yang tertinggi dalam tertib hukum
indonesia. Dalam ilmu hukum terdapat suau prinsip-prinsip bahwa suatu peraturan hukum
hanya dapat diubah dan ditiadakan oleh penguasa yang lebih tinggi atau yang sama
kedudukannya, maka pembukaan tidak dapat diubah dan atau ditiadakan oleh siapapun
juga secara hukum, oleh penguasa/alat-alat perlengkapan negara termasuk MPR hasil
pemilu. Hal ini dalam sejarah ketatanegaraan indonesia pernah di tegas dalam ketetapan
No XX/ MPRS/1966, yang menerima baik isi momerandum DPRGR tertanggal 9 juni1966
(mengenai sumber dari segala sumber hukum dan tata urutan peraturan perudang-udangan
di Negara Republik Indonesia). Dalam ketetapan tersebut uraian mengenai UUD
Proklamasi sub C, menegaskan bahwa hakikat dan kedudukan pembukaan yang kuat, tetap
dan tidak dapat diubah oleh siapapun juga termasuk MPR hasil pemilu. Hal ini berdasarkan
kenyataan objektif bahwa pembukaan UUD 1945, berkedudukan terlekat pada
kelangsungan hidup negara Proklamasi 17 Agustus 1945, oleh karena itu mengubah
pembukaan UUD 1945, pada hakikatnya sama halnya pembubaran negara. Jikalau di
tfsirkan dari segi filsafat politik,bahwa memang pembukaan secara politis dapat diubah,
namun bukan bagi negara. Proklamasi 17 Agustus 1945, atau mengubah Pembukaan UUD
1945 sama halnya dengan pembubaran negara, jadi itu suatu revolusi.

Selain itu dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung pancasila dasar filsafat Negara
Republik Indonesia, dan merupakan norma yang fundamental dan tertinggi dalam tertib

77
hukum Indonesia (Indrati, 2007. 57). Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pada
hakikatnya esensi atau inti staaatsfundamentalnorm adalah Pancasila itu sendiri.

Sebagai mana dijelaskan dimuka bahwa eksistensi, Pembukaan UUD 1945, tidak
dapat dipisahkan dengan pembentuk negara, oleh karena itu isi unsur aparat perlengkapan
dan penyelenggara negara, adalah memiliki kualitas di bawah pembentu negara termasuk
MPR, karena eksistensi MPR pada hakikatnya di tentukan oleh pembentuk negara. Oleh
karena itu sesuai dengan pasal-pasal UUD 1945 saja dan bukannya berkaitan dengan
pembuakaan UUD 1945.

Dalam perngertian ini lah eksistensi pembukaan UUD 1945 berdasarkan tinjauan
hukum tatanegara memeliki kedudukan hukum yang kuat terlekat pada kelangsungan
hidup negara proklamasi 17 agustus 1945.

4. Eksistensi Pembukaan UUD 1945 bagi Kelangsungan Negara Republik Indonesia

Berdasarkan hakikat kedudukan pembukaan UUD 1945 Proklamasi yang sebagai


naskah terinci, serta dalam ilmu hukum memenuhi syarat bagi adanya suatu tertib hukum
di indonesia, dan sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental
(Statsfundamentalnorm), maka pembukaan UUD 1945 memiliki hakikat kedudukan
hukum yang kuat bahkan secara yuridis tidak dapat di ubah, terlekat pada kelangsungan
hidup negara. Hal ini berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut :

a) Menerut tata hukum suatu peraturan hukum hanya dapat di ubah atau di hapuskan
oleh penguasa atau peraturan hukum yang lebih tinggi tingkatannya dari pada penguasa
yang menetapkannya. Dalam masalah ini pembukaan UUD 1945 sebagai
Staatsfundamentalnorm dari segi terjadinya ditentukan oleh pembentuk negara, yaitu suatu
lembaga yang menentukan dasar-dasar mutlak negara,bentuk negara,tujuan negara,
kekuasaan ne-gara bahkan yang menentukan dasar filsafat negara pancasila. Stelah ne-gara
terbentuk semua penguasa negara adalah merupakan lat perlengkapan negara yang
kedudukannya lebih rendah dari pada kedudukan pembentuk negara. Oleh karena itu
semua ketentuan hukum yang merpakan produk dari alat pelengkapan negara pada
hakkanya dibawah pembentuk negara dan tidak berhak meniadakan pembukaan UUD 1945
sebagai Staatsfundamentalnorm.

b) Pembukaan UUD 1945 pada haikatnya merupakan suatu tertib hukum yang
tertinggi di di Negara Repulik Indonesia. Dalam ilmu hukum tata negara, suatu ketentuan
hukum di bawah Pembukaan UUD 1945, secara yuridis tidak dapat meniadakan
Pembukaan UUD 1945. Selain karena dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung faktor-
faktor mutlak (syarat-syarat) bagi adanya suatu tertib hukum di Indonesia. Konsekuensinya
Pembukaamn UUD 1945 mempunyai kedudukan yang tetap dan terlekat pada negara dan
secara hukum tidak dapat diubah

78
c) Selain dari segi yuridis formal bahwa Pembukaan UUD 1945 secara hukum tidak dapat
di ubah, juga secara material yaitu hakikat, isi yang terkandung dalam Pembukaan UUD
1945, senantiasa terlekat pada kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia, dari segi
isinya Pembukaan UUD 1945 adalah merupakan pengejawatahan Proklamasai
Kemerdekaan bangsa indonesia yang hanya terjadi satu kali. Proklamasi Kemerdekaan
tersebut adalah merupakan awal bangsa Indonesia dalam hidup bernegara, yang merupakan
rachmat Allah Yng Maha Kuasa. Oleh karena itu Proklamasi 17 Agustus 1945, Pembukaan
UUD 1945 dan Negra Republik Indonesia pada hakikatnya merupakan sebuah kesatuan
yang tidak dapat di pisahkan. Pembukaan UUD 1945 senantiasa terlekat dan menyertai
kelahiran Negara Republik Indonesia yang hanya satu kali terjadi, sehingga pada
hakikanya Pembukaan UUD 1945 senanatiasa terlekat pada kelangsungan hidup Negara
Republik Indonesia (Notanogoro, tanpa tahun. 15).

C. Pengertian isi Pembukaan UUD 1945

1. Alinea Pertama

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
maka penjajahan di atas dunia harus di hapuskan, karena tidak sesuai dengan peri
kemanusiaan dan peri keadilan”.

Dalam alenia pertama tersebut terkandung suatu pengakuan tentang nilai ‘hak
kodrat’,yaitu yang tersimpul dalam kalimat “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala
bangsa..”. hak kodrat adalah hak yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha esa,
yang melekat pda manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial, dalam pernyataan
tersebut ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala ‘bangsa’, buakan hak individu
saja sebagi mana deklarasi negara liberal. Bangsa adalah sebagai suatu penjelman sifat
kodrat manusia sebagai individu dan mahluk sosial. Oleh karena sifatnya sebagai hak
kodrat, maka bersifat mutlak dan asasi, dan hak tersebut merupakan hak moral juga, oleh
karena sifatnya yang mutlak dan asasi maka ‘wajib kodrat’ dan ‘wajib moral’ bagi penjajh
yang merampas kemerdekaan bangsa lain untuk memberikan hak kemerdekaan tersebut.
Pelanggaran terhadap hak kemerdekaan tersebut adalah tidak sesuai dengan hakikat
manusia (peri kemanusiaan) dan hakikat adil (peri keadilan) dan atas pelanggaran tersebut
maka harus dilakukan suatu pemaksaan, yaitu bahwa penjajahan harus di hapuskan.

Deklarasi kemerdekaan atas seluruh bangsa di dunia yang terkandung dalam alenia
pertama tersebut, adlah merupakan suatu pernyataan yang bersifat universal. Oleh karena
itu pernyataan ini merupakan prinsip bagi bangsa indonesia dalam pergaulan internasional
dalam merealisasikan hak asasi manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk
sosial yaitu manusia dalam kesatuan bangsa.

2. Alenia Kedua

79
“Dan perjuangan pergerakan indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, adil dan makmur”.

Berdasarkan prinsip yang bersifat universal pada alenia pertama tentang hak kodrat
akan kemerdekaan, maka bangsa indonesia merealisikan perjuangan dalam suatu cita-cita
bengsa dan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Alinea kedua ini
adalah sebagai suatu konsekuensi logis dari pernyataan akan kemerdekaan pada alenia
pertama.

Perjuangan kemerdekaan bangsa indonesia di samping sebagai suatu bukti objektif


atas penjajahan pada bangsa indonesia, juga sekaligus mewujudkan suatu hasrat yang kuat
dan bulat untuk menentukan nasib sendiri terbebas dari kekuasaan bansa lain. Hasil dari
peruangan bangsa Indonesia itu terjelma dalam suatu Negara indonesia. Menyusun suatu
negara atas kemampuan dan kekuatan sendiri dan selanjutnya untuk menuju pada suatu
cita-cita bersama yaitu suatu masyarakat yang berkeadilan dan, berkemakmuran. Demi
terwujudnya cita-cita tersebut maka bangsa Indonesia harus merdeka, bersatu dan
mempuyai suatu kedaulatan.

Pengertian negara yang mereka adalah negara yang benar-benar bebs dari kekuasaan
negara lain, dapat menentukan nasibnya sendiri bukan negara protektorat, jadi suatu
bangsa dan negara yang benar-benar bebas dari kekuasan dan campur tangan bangsa lain

“Bersatu” mengandung pengertian bersama-sama sesuai dengan pernyataan


kemerdekaan, dimana pengertian “Bangsa” ini dimaksudkan sebagai bulatan kesatuan
karena unsur utama negara adalah bangsa, penegasan tentang asas persatuan ini di temukan
dalam alenia keempat Pembukaan UUD 1945, “Negara melindungi segenap bangsa
indonesia dan selurh tumpah darah indonesia...”, demkian juga terkandung dalam Pokok
Pikiran pertama yang termuat dalam Penjelasan resmi diundangkan dalam Berita Republik
Indonesia tahun II No. 7, yang menegasakan bahwa “Aliran negara persatuan, yaitu negara
yag melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, negara yang
mengatasi segala golongan maupun paham perseorangan”. Selanjutnya seluruh bangsa
indonesia tercakup dalam lingkungan satu wilayah negara tanpa suatu bagianpun dari
wilayah yang berada di luarnya

“Berdaulat” diartiakn dalam hubungannya dengan eksistensi negara yang merdeka,


yang berdiri di atas kemampuannya sendiri, kekuatan dan kekuasaan sendiri, berhak dan
bebas mentukan tujuan dan nasibnya sendiri, dan dalam kedudukanya di antara sesama
bangsa dan negara adalah memiliki derajat yang sama. Dalam tata pergaulan antar bangsa
dan anatar negara terjalin atas dasar saling menghormati berdasarkan keadilan dan
kemanusiaan

Pengertian negara Indonesi yang “Adil” yang itu negara yang mewujudkan keadilan
dalam kehidupan bersama. Hal ini menyangkut terwujudnya keadilan antara negara

80
terhadap warga negara, antara warga negap warga negara, antara warga negara terhadap
negaranya serta keadilan antar sesama warga negara dalam menggunakan dan pemenuhan
hak dan kewajiban baik dalam bidang hukum maupun moral.

Cita-cita bangsa dan negara tentang “Kemakmuran” diartikan sebagai pemenuhan


kebutuhan manisa baik material maupun spiritual, jasmaniah maupun rokhaniah. Secara
lebih luas kemakmuran diartikan tercapainya tingkatan harakat dan martabat manusia yang
lebih tinggi yang meliputi selurh unsur kodrat manusia.

3. Alenia Ketiga

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsan yang bebas, maka rakyat indonesia
dengan ini menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Dinyatakan kembali Proklamasi pada alenia III Pembukaan UUD 1945, menunjukan
bahwa antara pembukaan dengam Prokalmasi 17 agustus 1945 adalah merupakan satu
kesatuan, namun perlu diketahui bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 perlu diikitu dengan
suatu tindak lanjut, yaitu membentuk negara dan hal ini dirinci dalam Pembukaan UUD
1945. Dalam pengertian ini lah maka pembukaan UUD 1945, disebut juga naskah
proklamasi yang terinci.

Pernyataam kembali Proklamasi yang tercantum dalam alenia III tidak dapat
dilepaskan dengan pernyataan pada alenia I dan II, sehingga alenia III merupakan suatu
titik kulminasi, yang pada akhirnya dilanjutkan pada alenia IV yaitu tentang pendirian
negara indonesia.

Pengakuan nilai ‘Nilai religius’, yaitu dalam pernyataan,’Atas perkat rahmat Allah
Yang Maha Kuasa’. Hal ini mengandung makna bahwa negara indonesia mengakui niali-
niklai religius, bahkan merupakan suatu dasar negara (sila pertama), sehingga
konsekuensinya merupakan dasar dari hukum positif negara maupun dasar moral negara.
Secara filosofis bangsa indonesia mengakui bahwa manusia adalah mahluk Tuhan Yang
Maha Kuasa, sehingga kemerdekaan dan negara indonesia di samping merupakan hasil
jerih payah perjuangan bangsa Indonesia, juga yang terpenting adalah merupakan rakhmat
dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pengakuan ‘Nilai mora’, yang terkandung dalam pernyataan ‘Didorong oleh


keinginan luhur supaa berkihiduoan berkebangsaan yang bebas’. Hal ini mengandung
makna bahwa negara dan bangsa indonesia mengakui nilai-nilai moral dan hak kodrat
untuk segala bangsa. Demikian juga nilai-nilai moral dan nilai kodart tersebut mwerupakan
asas bagi kehidupan kenegaraan bangsa Indonesia.

‘pernyataan kembali Proklamasi’, yang tersimpul dalam kalimat “...maka rakyat


Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya’. Hal ini dimaksudkan sebagai
penegasan dan rincian lebih lanjut naskah Proklamasi 17 Agustus 1945

81
4. Alenia Keempat

“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia
yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejaheraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanaan
ketertiban dunia yang berdarkan kemrdekan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka
disusunklah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Udang-Undang Dasar
Negar Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatu-an Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin
olrh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan
suatu ke-adilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Setelah dalam alenia pertama, kedua dan ketiga dijelaskan tentang alasan dasar, serta
hubungan langsung dengan kemerdekaan, maka dengan alenia keempat sebagai kelanjutan
berdirinya Negara Republik indonesia tanggal 17 Agustus 1945, dirinci ebi lanjut tentang
prinsip-prinsip serta pokok-pokok kaidah pembentukan pemerintahan negara Indonesia,
dimana hal ini dapat disimpilkan dari kalimat “...Kemudian dari pada itu untuk membentuk
suatu pemerintahan Negara Indonesia”.

Pemerintahan dalam susunan kalimat “Pemerintahan Negara Indonesia...”, hal ini


dimaksudkan dalam perngertian sabagai penyelenggara keseluruhan aspek kegiatan negara
dan segala kelengkapannya (goverment) yang berbeda dengan pemerintahan negara yang
hanya menyangkut salah satu aspek saja dari kegiatan penyelenggaraan negara yaitu aspek
pelaksana (executive) (Sulandra, 1979 : 230).

Tentang isi poko yang tekandung dalam Pembukaan UUD 1945 alenia keempat
adalah meliptu empat hal yang merupakan prinsip-prinsip pokok kenegaraan, yaitu:

a. Tentang Tujuan Negara

Tujuan Khusus. Terkandung dalam kalimat “...untuk membentuk suatu pemerintahan


Negara Indonesia yang melidungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
negara Indonesia dan dan untuk memajuakan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa...”. Tujaun khusus dalam kalimat tersebut sebagai realisasinya adalah
hubungannya dengan politik dalam negeri yaitu: Melindungi segenap bangsa dan seluruh
tumpah drah Indonesia. Hal ini dalam hubungannya dengan tujuan negara hukum adalah
mengandung pengertian negara hukum formal.

Memajukan kesjateraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini dalam
hubungannya dengan perngertian tujuan negara hukum material.

Tujuan Hukum. Tujuan negar yang bersifat umum ini dalam arti lingkup kehidupan
sesama bangsa di dunia. Hal ini terkandung dalam kalimat:

82
“...dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamainan abadi dan keadilan sosial...”

Tujaun negara dalam anak kalimat ini realisasinya dalam hubungannya dengan
poliyik laur negeri Indonesia, yaitu di antara bangsa-bangsa dunia ikut melaksanakan suatu
ketertiban dunia yang berdasarkan kepada prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi, serta
keadilan sosial. Hal inilah yang menjadi dasar politik luar negeri Indonesi yang bebas dan
aktif.

b. Tentang Ketentuan Diadakannya UUD Negara

ketentuan ini tergantng dalam anak kalimat, “...maka disusunlah kemrdekaan


kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia...”.

Dalam kalimat ini menunjukkan bahwa negara Indonesia adalah negara yang
berdasakan atas hukum. Negara inilah yang merupakan sumber hukum bagi adanya
Undang-Undang Dasar 1945. Ketentuan yang ada pada alenia keempat inilah yang
merupakan dasar yuridis bahwa pembukaan UUD 1941 merupakan sumber bagi adanya
UUD 1945, sehingga dengan demikian Pembukaan UUD 1945 memiliki kedudukan lebih
tinggi daari pada pasal-pasal UUD 1945.

c. Tentang Bentuk Negara

kententuan terdapat dalam anak kalimat sebagai berkut:

“...yang terbentuk dalam suatu susunan Neagara Republik Indonesia yang


berkedaulatan rakyat...”.

Dalam anak kalimat ini dinyatakan bahwa bentuk negara Indonesia adalah Republik
yang berkedaulatan rakyat. Negara dari, oleh dan untuk rakyat. Dengan demikian ini
merupakan suatu norma dasar negara bahwa kekuasan adalah di tangan rakayat.

d. Tentang Dasar Filsafat Negara

ketentuan ini terdapat dalam anak kalimat sebagai berikut: “... dengan berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan indonesia, dan
Kerakyatn yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia...”.

Tujuan Pembukaan UUD 1945

Berdasarkan susunan Pembukaan UUD 1945, maka dapat dibedakan empat macam
tujuan sebagaimana terkandung dalam empat alenia dalam Pembukaan UUD 1945, sebagai
berikut:

83
(a) (Alenia I) untuk mempertanggung jawabkan bahwa pernyataan kemerdekaan
sudah selayaknya, karena berdasarkan atas hak kodrat yang bersifat mutlak dari moral
bangsa indonesia untuk merdeka.

(b) (Alenia II) untuk menetakan cita-cita bangsa yang ingin dicapai dengan
kemerdekaan yaitu: terpelihara secara sungguh-sungguh kemerdekaan dan kedauatan
negara, kesatuan bangsa, negara dan dearah atas keadalan hukum dan moral, bagi diri
sendiri dan pihak lain serta kemakmuran bersama yang berkeadilan.

(c) (Alenia III) untuk menegaskn bahwa proklamasi kemerdekaan, menjadi


permulaan dan menjadi dasar hidup kebangsaan dan kenegaraan bagi seluruh orang
Indonesia, yang luhur dan suci dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

(d) (Alenai IV) untuk melaksanakan segala sesuatu itu dalam perwujudutan dasar-
dasar tertentu yang tercantum dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945, sebagai ketentuan
pedoman dan pegangan yang tetap dan praktis yaitu dalam realisasi hidup bersama dalam
suatu negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila (Notonagoro, 1974 : 40).

Hubungan Logis Antar Alenia dalam Pembukaan UUD 1945

Makna yang terkandung dalam tiap-tiap Alenia Pembukaan UUD 1945, secara
keseluruhan sebenarnya meripakan suatu kesatuan yang logis. Tiap-tiap alenia dalam
Pembukaan UUD 1945, sejak dari alenia I sampai alenia IV merupakan suatu kesatuan
yang logis, sejak dari pernyatan yang bersifat umum smapai dengan pembentukan negara
Indonesia. Keseluruhaanya itu dapat dirinci pada uraian berikut ini :

Alenia I

Dalam alenia I ini terdapat satu pernyataanyang bersifat umum yaitu suatu hak
kemrdekaan setiap bangsa di dunia. Kemerdekaan dalam pengertian ini bukanlah
kmerdekaan yang bersifat individualis (liberalis) namun merupakan suatu kemerdekaan
bangsa. Maka kemerdekaan individu diletakkan dalam kaitannya dengan kemerdekaan
bangsa. Kemerdekaan tersebut merupakan suatu hak kodrat, yaitu hak yang melekat pada
kodrat manusia dan bukanlah merupakan hak hukum, sehinga disebut juga sebagai hak
kodrat dan hak moral. Pelanggaran terhadap hak kodrat dan hak moral ini pada hakikatnya
tidak sesuai dengan peri kemanusiaan(hakikat manusia) dan peri keadilan (hakikat adil).
Konsekuensinnya merupakan wajib kodrat dan wajib moral bagi setiap penjajah untuk
memberikan kemerdekaan pada bangsa jajahannya. Berdasarkan ilmu logika maka
pernyataan alenia I ini merupakansuatu premis mayor (penyataan yang bersifat umum).

84
Alenia II

Berdasarkan alasan kan hak kodrat dan hak moral bagi setiap bangsa, dan
kenyataannya pihak penjajah tidak memenuhi wajib moral dan wajib kodrat untuk
memberikan kemerdekaan pada bangsa Indonesia maka sudah semestinya bagi bangsa
Indonesia untuk mentukan nasibnya sendiri atas kekuasaanya dari kekuatannya sendiri,
yaitu berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Dalam kenyataannya bangsa Indonesia
hampir mencapai tujuan kemerdekaan tersebut. Pernyataan dalam alenaia II ini menurut
ilmu logika merupakan suatu premis minor (yang bersifat khusus). Kemudian kemerekaan
tersebut dijelmakan dalam suatu negara yaitu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil
dan makmur.

Alenia III

Sebagai suatu konsekuensinya maka bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya


itu atas kekuatannya sendiri yang didukung oleh seluruh rakyat. Demikian pula merupakan
suatu tindakan yang luruh dan suci, karna melaksanakan dan merealisasikan hak kodrat
dan hak moral akan terwujudnya kemrdekaan. Keseluruhan tersebut hanya mungkin
terwujud karena atas karunia dan rkhamat Tuhan Yang Maha Esa. Menurut ilmu logika
penyataan dalam alenia ketiga ini merupakan suatu konklusio atau meruapakan suatu
kesimpulan.

Alenia IV

Semua asas yang terdapat dalam alenia I, II dan III tersebut pada hakikatnya
merupakan suatu asas pokok bagi alenia IV atau merupakan konsekuesi logis yaitu isi
alenia IV merupakan tindak lanjut dari alenia sebelumnya. Isi yang terkandung dalam
alenia IV yang merupakan konsekuensi logis atas kemrdekaan yang meliputi pembukaan
pemerintahan negara yang meliputi empat prinsip negara yaitu:

(1) Tentang tujuan negara, yang tercantum dalam kalimat “...melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukn kesejahteraan umum
mencerdaskan kehidupan bangsa...” (yang merupakan tujuan khusus) dan “...ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial...” (merupakan suatu tujuan umum atau internasional).

(2) Tentang hal ketentuan diadakannya UUD Negara, yang berbunyi”...maka


disusunlh kemerdekaan kebangsaan indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar
Negara Indonesia...”.

(3) Tentang hal bentuk negara, yang termuat dalam suatu pernyataan “ yang
terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”.

(4) Tentang dasar filsafat (dasar kerokhanian) negara, dalam kalimat “dengan
berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan

85
Indonesia dan kerakyaan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia”.

Seluruh isi yang terdapat dalam alenia IV tersebut pada hakikatnya merupkan suatu
pernyataan tentang pembentukan pemerintahan Negara Republik Indonesia yang
berdasrkan Pancasila (Notonagoro, 1957: 6-12)

D. Nilai-nilai Hukum yang Terkandung dalam Pembukaan UUD 1945

Telah dijelaskan di muka bahwa di antara alenia I, II, III dan IV terdapat hubungan
kesataun, alenia IV pada hakikatnya merupakan penjelmaan alenia I, II dan III. Oleh
karena itu dalam Pembukaan UUD 1945 alenia I, II dan III terkandung nilai-nilai hukum
kodrat (alenia I) yang konsekuensinya direalisasikan dalam alenia II, hukum tuhan dan
hukum etis (alenia III), yang kemudian dijelmakan dalam alenia IV yang merupakan dasar
bagi pelaksanaan dan penjabarn hukum positif Indonesia. Hal ini dapat dirinci sebagai
berikut:

Alenia I : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihpuskan, karena tidak sesuai dengan
kemanusiaan dan keadilan”.

Kalimat “kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa” adalah merupakan hak moral,
dan oleh karena sifatnya yang mutlak dan melekat pada kodrat manusia maka juga
merupakan suatu hak kodrat. Maka konsekuensinya dalam pembukaan alenia I ini
terkandung pengakuan adanya Hukum Kodrat yang juga merupakan hukum moral

Alenia II: “dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah


kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia
kedepan pintu gerbang kemerdekan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat.
Adil dan makmur”.

Alenia III : “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan
oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsan yang bebas, maka rakyat indonesia
dengan ini menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. K tuhanalimat “Atas berkat rakhmat
Allah Yang Maha Kuasa, adalah merupakan suatu pengakuan adanya hukum tuhan.
Adapun kalimat “dengan didorongkn oleh keinginan luhur” adalah merupakan suatu
pengakua adanya suatu Hukum Moral dan Hukum Etis.

Alenia IV : “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejaheraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanaan ketertiban dunia yang berdarkan kemrdekan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial, maka disusunklah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Udang-
Undang Dasar Negar Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik

86
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha
Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatu-an Indonesia, dan Kerakyatan yang
dipimpin olrh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu ke-adilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Kalimat “dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan


yang adil dan beradap, Persatu-an Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin olrh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu ke-
adilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,atau berdasarkn Pancasila. Menurut alenia IV
ini Pancasila sebagai asas-asas dasar umum dari hukum atau dalam istilah filsafat hukum
disebut sebagai Hukum Filosofis (Notonagorom, 1957 : 5-11).

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka sebnarnya dalam Pembukaan Uud 1945


terkandung pengakuan hukum Tuhan, hukum kodrat, hukum etis serta hukum filosofiis.
Bilamana kita rinci urutan-urutan hukum tersebut dalam kaitannya dengan realisasi dan
pelaksnaan tertib hukum di Indonesia adalah sebagai berikut:

Berdasarkan kedudukannya maka urutan-urutannya adalah hukum Tuhan, hukum


kodrat dan hukum etis. Kemudian sebagaimana kita ketahui dilanjutkan apda alenia IV
terdapat asas kerohanian negara (Pancasila) dan dalam hal ini sebagai hukum filosofis,
kemudian di atas dasar Pancasila didirikan negara Indonesia dan selanjutnya realisasi
pelaksanaan dalam negara Indonesia dikongkritisasikan ke dalam hukum positif Indonesia.

Hubungan keempat hukum tersebut adalah sebagai berikut: bahwa huku Tuhan,
hukum kodrat dan hukum etis berturut-turut merupakan sumber bahan dan sumber nilai
bagi negara dan hukum positif Indonesia, sedangakan hukum filosofis (yaitu dasar fisafat
Pancasila) adalah merupakan pedoman dasar dalam bentuk dan sifat tertentu yang
disimpulkan dari hukum Tuhan, hukum kodrat dan hukum etis. Adapun Pancasila sebagai
hukum filosofis adalah merupakan sumber bentuk dan sifat.

Kerangka hukum sebagaimana tersebut di atas dalam kaitannya dengan negara


Indonesia adalah memiliki hubungan sebagai berikut: bahwa negara indonesia terhadap
nilai-nilai hukum Tuhan, hukum kodrat, hukum etis dan hukum filosofis yaitu
mengambilnya sebagai materi, nilai, bentuk dan sifat dari unsur-unsur nilai hukum tersebut
untuk menjabarkannya dalam hukum positif Indonesia dengan menyesuaikn berdasarkan
keadaaan, kebutuhan, kepentingan, tempat, waktu dan kebijaksanaan (Notonegoro, 1974:
25,26)

E.Pokok-pokok Pikiran yang Terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar


1945

Menurut penjelasan resmi dari Pembukaan UUD 1945 yang termuat dalam Berita
Republik Indonesia tahun II no. 7, dejelaskan bahwa Pembukaan UUD 1945 mengandung
pokok-pokok pikiran yang meliputi suasana kebatinan daru UUD Negara Indonesia.
Pokok-pokok Pikiran ini mewujudkan cita-cita hukum (Rechtsidec) yang menguasai

87
hukum dasar negara baik hukum dasar tertulis (UUD) maupun hukum dasar tidak tertulis
(convensi).

Berdasarkan isi dari penjelasan resmi Pembukaan UUD 1945 tersebut bahwa dengan
Pokok-pokok Pikiran tersebut nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945
dejelmakan atau dijabrkan secara normatif dalam pasal-pasal UUD 1945. Pokok-pokok
Pikiran tersebut adalah sebagai berikut:

1.Pokok Pikiran Pertama : “Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan


seluruh tumpah darah indonesia dengan berdasarkan asas persatuan, dengan mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Pokok Pikiran ini menegaskan bahwa
dalam “Pembukaan” diterima aliran pengertian negara persatuan. Negara yang melindungi
dan meliputi segenap bangsa dan wilayah seluruhnya jadi negara mengatasi segala faham
golongan, mengatasi segala faham perorangan, negara menurut pengertian Pembukaan
UUD 1945 tersebut menghendaki persatuan, meliputi segenap bangsa Indonesia selurunya.
Hal ini menunjukkan pokok pikiran persatuan. Dengan pengertian yang lazim negara,
penyelenggara negara, dan setiap waraga negara wajib mengutamakan kepentingan negara
di atas kepentingan golongan ataupun perorangan. Pokok pikiran ini merupakan
penjabaran Sila Ketiga Pancasila.

2.Pokok Pikiran Kedua : “Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat indonesia”.Pokok pikiran ini menempatkan sutu tujuan atau cita-cita yang ingin
dicapai dalam pembukaan, dan merupakan suatu kausa finalis (sebab tujuan), sehingga
dapat menentukan jalan serta aturan-aturan mana yang harus dilaksanakan dalam Undang-
Undang Dasar untuk sampai pada tujuan itu yang didasari dengan bekal persatuan. Ini
merupakan pokok pikiran keadilan sosial yang didasarkan pada kesadaran bahwa manusia
mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam
lehidupan masyarakat. Pokok pikiran ini merupakan penjabaran Sila Kelima Pancasila.

3.Pokok Pikiran Ketigaa : “Negara yang berkedaulatan rakyat. Berdasarkan atas


kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan”. Pokok pikiran ini dalam “pembukaan”
mengandung konsekuensi logis bahwa sistem negara yang terbentuk dalam Undang-
Undang Dasar harus berdasrkat atas kedaulatan rakyat dan berdasarkan
permusyawaratan/perwakialn. Memang aliran ini sesuai dengan sesuai dengan sifat
masyarakat Indonesia. Ini adalah pokok pikiran kedaulatan rakyat, yang menyatakan
bahwa kedaultan di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh majelis
permusyawaratan Rakyat, (namun setelah reformasi diubah menjadi ‘kedaulatan ditangan
rakyat, dan dilakukan menurut UUD’ Pasal 1 ayat (2) UUD Negara RI tahun 1945). Pokok
pikiran inilah yang merupakan dasar politik negara. Pokok ikiran ini merupakan
penjabaran Sial Kelima Pancasila.

4.Pokok Pikiran Keempat : “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa,
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”. Pokok pikiran dalam ‘pembukaan’ ini
mengandung konsekuensi logis bahwa Undang-Undang Dasar harus mengandung isi yang

88
mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggar negara, untuk memlihara budi
pekertinkemmanusiaan yang luhur. Hal ini menegaskan pokok pikiran Ketuhanan Yang
Maha Esa, yang mengandung perngertian taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan
pokok pikiran kemanusiaan yang adil dan berdadb yang mengandung pengertian
menjujung tinggi harkat dan martabat manusia atau nilai kemanusiaan yang luhur. Pokok
pikiran keempat ini merupakan Dasar Moral Negara yang pada hakikatnya merupakan
suatu penjabaran dari Sila Pertama dan Sila Kedua Pancasila.

Empat pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukan UUD 1945, menurut
penjelasan Undang-Undang Dasar ini, merupakan penjelasan logis dari inti alenia keempat
Pembukaan UUD 1945. Atau dengan lain perkataan bahwa keempat pokok pikiran tersebut
tidak lain adalah merupakan penjabaran dari Dasar Filsafat Negara, Pancasila.

Dalam pokok pikiran pertama ditekankan tentang aliran bentuk negara persatuan,
pokok pikiran kedua tentang cita-cita negara yaitu keadilan sosial dan pokok pikiran ketig
adalah merupakan dasar politik negara berkedulatan rakyat. Bilamana kita pahami secara
sistematis maka pokok pikiran I, II dan III memiliki makna kenegaraan sebagai berikut:
negara ingin mewujudkan suatu tujuan negara yang melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia (pokok pikiran I). Agar terjwyjudnya tujuad negara
tersebut maka dalam pelaksanaan negara harus didasarkan pada suatu dasar politik negara
yaitu negara persatuan republik yang berkedaulatan rakyat (pokok pikiran I dan III)
(Notonagoro, 1974: 16)

Dalam kehidupan kenegaraan mendasarkan pada suatu dasar moral yaitu negara
berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan beradab (pokok
pikiran IV). Sebagai suatu bangsa yang dalam suatu negara sudah semestinya memilki
suatu cita-cita yang ingin dicapai yaitu suatu keadilan sosial bagi seluruh ralyat Indonesia
(pokok pikiran keempat) sehingga pokok pikiran ini merupakan suatu dasar cita-cita
negara. Maka untuk mencapai cita-cita kenegaraan yaitu suatu keadilan dalam hidup
bersama (keadilan sosial), negara mewujudkan dalam suatu dasar tujuan negara yaitu
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia (pokok pikiran I), adapun
sarana untk mencapai tujuan dan cita-cita negara tersebut adalah bentuk negara persatua
sebagaimana termuat dalam (pokok pikiran I), dan Republik yang berkedaulatan rakyat
(pokok pikiran III), serta harus mendasarkan pada dasar moral negara, yaitu negara
berdasarkan atas ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dan menurut dasar ‘Kemanusiaan yang adil
dan beradab’. Dengan lain perkataan untuk mewujudlan tujuan negara serta cita-cita negara
selain mendasarkan pada dasar politik negara. Hal ini menunjukkan bahwa betapun
baiknya suatu sistem negara dengan suatu perangkat hukum yang baik, tetap harus
mendasarkan pada moralitas negara yang baik pula. Negara dengan sistem politik dan
hukum yang baik, apabila aparat pelaksana penyelenggara negara tidak memilki moralitas
luhur, maka negara akan mengalami ketidakseimbangan dan akhirnya rakyt akan
mengalami penderitaan, banyak penyimpangan, korupsi dan lain sebagainya.

89
Prinsip negara sebagaimana terkandung dalam pokok-pokok pikiran tersebut
menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupan bernegara walaupun didasarkan pada
peraturan hukum, juga harus didasarkan pada moralitas. Negara Indonesia mendasarkan
pada komitmen moral religius serta moral kemanusiaan yang beradab karena dalam
kehidupn bernegara pada hakikatnya untuk mencapai tujuan kemanusian yang bermartabat
luhur.

F. Hubungan antara Pembukaan UUD 1945 dengan Pasal-pasal Undang-Undang


Dasar 1945

Dalam sistem tertib hukum Indonesia, penjelasan UUD 1945 menyatakan bahwa
Pokok Pikiran itu meliputi suasana kebatinan dari Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia serta mewujudkan cita-cita hukum, yang menguasai hukum dasar tertulis (UUD)
dan hukum dasar tidak tertulis (convensi) dapat disimpulkn bahwa suasa kebatinan
Undang-Undang Dasar 1945 tidak lain dijiwai atau bersumber pada dasar filsafat negara
Pancasila. Pengertian inilh yang menunjukkn kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai
dasar negara Republik Indonesia.

Berdasarkan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembukaan UUD 1945, mempunyai


fungsi hubungan langsung yang bersifat kausal organis dengan batang tubuh UUD 1945,
karena isi dalam pembukaan dijabarkan ke dalam pasal-pasal UUD 1945. Maka
Pembukaan UUD 1945 yang memuat dasar filsafat negara, dan Undang-Undang Dasar
merupakan satu kesatuan, walaupun dapat dipisahkan, bahkan merupakan rangkaian
kesatuan nilai dan norma yang terpadu. Pembukaan Undang –Undang Dasar 1945 yang di
dalamnya terkandung Pokok-pokok Pikiran Persatuan Indonesia, Keadilan sosial,
Kedaultan Rakyat berdasarkan atas Permusyawaratan/Perwakilan, serta Ketuhanan Yang
Maha Esa menurut dasar kemanusaian yang adil dan berdab, yang intisarinya merupakan
penjelmaan dari dasar filsafat Pancasila. Adapun
Adapun rangkaian makna yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 adalah sebagai
berikut:

(1) Rangkaian peristiwa dan keadaan yang kebangsaan indonesia dalam wujud
terbentuknya negara indonesia (alenia I,II,III Pembukaan).

(2) Yang merupakan ekspresi dari peristiwa dan keadaan setelah negara indonesia
terwujud (alenia IV Pembukaan)

Sifat hubungan antara masing-masing bagian pembukaan dengan Batang Tubuh


UUD 1945, adalah sebagai berikut:

Bagian pertama,kedua dan ketiga Pembukaan UUD 1945 merupakan segolongan


pernyataan yang tidak mempunyai hubungan ‘kausal organis’ dengan Batang Tubuh UUD
1945.

90
Bagian keempat,Pembukaan UUD 1945 mempunyai hubungan yang bersifat ‘kausal
organis’ dengan Batang Tubuh UUD 1945, yang mencakup beberapa segi sebagai berikut:

(a) Undang-Undang Dasar ditentukan akan ada.

(b) Yang diatur dalam UUD,adalah tentang pembentukan pemerintahan negara yang
memenuhi berbagai persyaratan dan meliputi segala aspek penyelenggaraan negara.

(c) Negara Indonesia ialah berbentuk Republik yang berkedaulatan rakyat

(d) Ditetapkan dasar kerokhanian negara (dasar filsafat negara pancasila)

G. Hubungan antara Pembukaan UUD 1945 dengan Pancasila

Pembukaan UUD 1945 bersama-sama dengan UUD 1945 diundangkan dalam berita
Republik Indonesia tahun II No. 7, ditetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Inti
dari Pembukaan UUD 1945, pada hakikatnya terdapat dalam alenia IV. Sebab segala aspek
penyelenggara pemerintahan negara yang berdasarkan Pancasila terdapat dalam
pembukaan alinea IV.

Hubungan antara Pembukaan UUD 1945 adalah bersifat timbal balik sebagai berikut
:

Hubungan Secara Formal

Dengan dicantumkannya Pancasila secara formal di dalam pembukaan UUD 1945,


maka Pancasila memperoleh kedudukan sebagai normal dasar hukum positif. Berdasarkan
tempat terdapatnya pancasila secara formal dapat disimpulkan sebagai berikut:

(1) Bahwa rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia adalah
seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alenia IV.

(2) Bahwa Pembukaan UUD 1945, berdasarkan pengertian ilmiah,merupakan pokok


Kaidah Negara yang Fundamental dan terhadap tertib hukum Indonesia mempunyai dua
macam kedudukan yaitu:

(a) Sebagai dasarnya, karena pembukaan UUD 1945 itulah yang memberikan faktor-
faktor mutlak bagi adanya tertib hukum Indonesia.

(b) Memasukkan dirinya didalam tertib hukum tersebut sebagai tertib hukum
tertinggi.

(3) Bahwa dengan demikian UUD 1945 berkedudukan dan berfungsi,selain sebagai
mukadimah dari UUD 1945 dalam kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, juga
berkedudukan selagi suatu yang bereksistensi sendiri, yang hakikat kedudukan hukumnya
berbeda dengan pasal-pasalnya karena pembukaan UUD 1945 yang intinya adalah

91
pancasila adalah tidak tergantung pada Batang Tubuh (pasal-pasal) UUD 1945,,bahkan
sebagai sumbernya.

(4) Bahwa pancasila dengan demikian disimpulan mempunyai


hakikat,sifat,kedudukan dan fungsi sebagai pokok kaidah Negara yang Fundamental, yang
menjelmakan dirinya sebagai dasar kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia yang
diproklamasikan tanggal 17 agustus 1945.

(5) Bahwa pancasila sebagai inti pembukaan UUD 1945, dengan demikian
mempunyai kedudukan yang kuat tetap dan tidak dapat diubah dan terlekat pada
kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia.

Hubungan Secara Material

Hubungan Pembukaan UUD 1945 dengan pancasila selain hubungan Yang bersifat
formal, Pada sidang pertama Pembukaan UUD 1945 BPUPK membicarakan dasar filsafat
negara panca-sila berikutnya tersusun-lah Piagam Jakarta yang disusun oleh panitia
9,sebagai wujud bentuk pertama pembukaan UUD 1945.

Jadi berdasarkan urut-urutan tertib hukum Indonesia Pembukaan UUD 1945 adalah
sebagai tertib hukum yang tertinggi, adapun tertib hukum indonesia bersumberkan pada
pancasila, atau dengan yang lain perkataan pancasila sebagai sumber tertib hukum
tertinggi.
Selain itu dalam hubungannya dengan hakikat dan kedudukan pembukaan UUD 1945
sebagai pokok Kaidah Negara yang Fundamental, maka sebenarnya secara material,yang
merupakan esensi atau inti sari dari pokok kaidah negara yang Fundamental tersebut tidak
lain adalah Pancasila(Notonagoro,tanpa tahun : 40)

H, Hubungan Antara Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan Proklamasi


17 Agustus 1945. Kebersatuan antara proklamasi dengan pembukaan UUD 1945 tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut.

(1) Disebutkannya kembali pernyataan proklamasi kemerdekaan dalam alinea ketiga


pembukaan menunjukkan bahwa antara proklamasi dengan pembukaan merupakan suatu
rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisah kan.

(2) Ditetapkannya UUD 1945 pada tanggal 18 agustus 1945 bersama-sama dengan
ditetapkannya UUD, Presiden dan Wakil Presiden

(3) Pembukaan UUD 1945 pada hakikatnya adalah merupakan suatu


pernyataan kemerdekaan.

Sifat hubungan antara pembukaan dengan proklamasi adalah sebagai berikut:

Pertama,yaitu menegakkan hak kodrat dan hak moral dari setiap bangsa akan
kemerdekaan,

92
Kedua, yaitu bahwa perjuangan gigih bangsa indonesia dalam menegakkan hak
kodrat dan hak moral itu adalah sebagai gugatan di hadapan bangsa-bangsa didunia
terhadap adanya penjajahan atas bahasa indonesia.

Ketiga, yaitu bahwa kemerdekaan bangsa indonesia yang diperoleh melalui


perjuangan luhur,

Proklamasi pada hakikatnya bukanlah merupakannya tujuan, melainkan prasyarat


untuk tercapainya tujuan bangsa dan negara, maka proklamasi memiliki dua macam makna
sebagai berikut :

(1) Pernyatan bangsa indonesia baik kepada diri sendiri,maupun kepada dunia

luar, bahwa bangsa indonesia telah merdeka.

(2) Tindakan-tindakan yang segera harus dilaksanakan berhubungan dengan

pernyataan kemerdekaan tersebut.

Seluruh makna Proklamasi tersebut dirinci dan mendapat pertanggung-jawaban


dalam Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut:

(1) Bagian pertama Proklamasi, mendapatkan penegasan dan penjelasan pada

bagian pertama sampai dengan ketiga Pembukaan UUD 1945.

(2) Bagian kedua Proklamasi, yaitu suatu pembentukan negara Republik

Indonesia yang berdasarkan Pancasila,

93
BAB IX

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN


1945 NILAI-NILAI PANCASILA DALAM UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

A. Pengantar

Dalam proses reformasi hukum dewasa ini,berbagai kajian ilmiah tenang UUD
1945,banyak yang melontarkan ide untuk melakukan amandemen terhadap UUD 1945.

Ide tentang amandemen terhadap UUD 1945 tersebut didasarkan pada suatu
kenyataan sejarah selama masa orde lama dan orde baru,bahwa penerapan terhadap pasal-
pasal UUD memiliki sifat “multi interpretable” atau dengan kata lain berwayuh arti atau
memiliki makna ganda, sehingga mengakibatkan adanya sentralilasi kekuasaan terutama
kepada presiden

Amandemen terhadap UUD 1945 dilakukan oleh bangsa indonesia sejak tahun
1945,kemudian amandemen kedua dan dilakukan pada tahun 2000,amandemen ketiga
dilakukan pada tahun 2001, dan amandemen terakhir dilakukan pada tahun 2002, dan
disahkan pada tanggal 10 agustus 2002.

B. UNDANG-UNDANG DASAR

Menurut E.S.C. Wade dalam bukunya constitutional law, Undang-Undang Dasar


menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-
tugas pokok dan badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok
cara kerja badan-badan tersebut.

Dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Undang-Undang


Dasar 1945 bersifat singkat dan supel

C. KONSTITUSI

Kata konstitusi dapat mempunyai arti lebih luas dari pada pengertian Undang-
Undang Dasar,karena pengertian Undang-Undang Dasar hanya meliputi konstitusi tertulis
saja,dan selain itu masih terdapatb konstitusi tidak tertulis,yang tidakp tercakup dalam
Undang-Undang Dasar.

D. Struktur Pemerintahan Indonesia Berdasarkan UUD 1945

Demokrasi indonesia sebagaimana dijabarkan dalam undang-undang dasar negara


republik indonesia. Tahun 1945

94
Secara umum didalam sistem pemerintahan yang demokratis senantiasa,mengandung
unsur-unsur yang paling penting dan mendasar yaitu;

(1) Keterlibatan warganegara dalam pembuatan keputusan politik.

(2) tingkat persamaan tertentu di antara warganegara

(3) tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai oleh
warganegara

(4) suatu sistem perwakilan

(5) suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas

KONSEP KEKUASAAN

A) Pembukaan UUD 1945 alenia IV

B) Pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945

C) UUD 1945 pasal 1 (1)

D) UUD 1945 pasal 1 (2)

PEMBAGIAN KEKUASAAN

1) Kekuasaan eksekutif

2) Kekuasaan Legislatif

3) Kekuasaan Yudikatif

4) Kekuasaan Inspektif

5) dalam UUD 1945 berhasil amandemen tidak ada kekuasaan konsultatif

PEMBATASAN KEKUASAAN

Dalam pembatasan kekuasaan menurut konsep mekanisme 5 tahunan kekuasaan


sebagaimana tersebut di atas, menurut UUD 1945 mencakup antara lain periode
kekuasaan,pengawasan kekuasaan dan pertanggungjawaban kekuasaan.

KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

(1) Penjelasan UUD tentang pokok pikiran ke III

(2) Putusan majelis permusyaratan rakyat ditetapkan dengan suara


terbanyak,misalnya pasal 7B ayat (7)

KONSEP PENGAWASAN

95
(1) Dilakukan oleh seluruh warga negara karena kekuasaan didalam sistem
ketatanegara indonesia adalah ditangan rakyat

(2) Secara formal ketatanegara pengawasan berada pada DPR

KONSEP PARTISIPASI

(1) Pasal 27 ayat (1) UUD 1945

(2) pasal 28 UUD 1945

(3)pasal 30 ayat (1) UUD 1945

Sistem pemerintahan Negara Menurut UUD 1945 Hasil amandemen 2002

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtaaf)

• Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR

Presiden bekerjasama dengan DPR, akan tetapi presiden tidak bertanggung jawab
kepada DPR, artinya kedudukan presiden tidak bertanggung kepada DPR.

• Menteri agama ialah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggung jawab
kepada DPR

Menurut pasal 17 ayat 2 UUD 1945 hasil amandemen 2002 yaitu menteri menteri
negara itu tidak bertanggung jawab kepada DPR. Kedudukannya tidak tergantung pada
DPR.

• Kekuasaan kepala negara tidak takterbatas

Meskipun kepala negara tidak bertanggung jawab kepada DPR, ia bukan “diktaktor”
,artinya ‘kekuasaan tidak takterbatas' diatas telah ditegaskan bahwa ia bukan mandatris
MPR, namun demikian ia tidak dapat membubarkan DPR ataupun MPR. Kecuali itu ia
harus memeperhatikan sungguh sungguh uara dewan perwakilan rakyat.

•Negara indonesia adalah negara hukum

Menurut UUD 1945 negara indonesia adalah negara hukum, negara hukum yg
berdasarkan pancasila, dan bukan berdasarkan kekuasaan.

Ciri ciri suatu negara hukum adalah :

1. Pengakuan dan perlimdungan hak hak asasi yang mengandung persamaan dalam
bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

2. Peradilan yang bebas dari suatu pengaruhkekuasaan atau kekuatan lain dan tidak
memihak.

96
3. Jaminan kepastian hukum, yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat
dipahami, daat dilaksanakn dan aman dalam melaksanakannya.

E. Isi pokok pasal pasal UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945

UUD 1945 hasil amandemen 2002, tetap memuat 37 pasal akan tetapi dibagi menjadi
26 bab, tiga pasal aturan peralihan dan dua pasal aturan tambahan. Selain jumlah bab
bertmabah juga banyak pasal yang dikembangkan. Pasal tersebut antara lain pasal 3
menjadi 3 ayat pasal 6 2 ayat, d

• Bentuk dan kedaulatan bab 1

Dalam pasal 1 ayat 1 undang-undang dasar 1945 ditegaskan bahwanegara adalah


negara yang membentuk republik. Dariketentuan pasal jelaslah bahwa bentuk negara
Indonesia adalah negara kesatuan, dan bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik,
dengan negara sebagai dipilih yang dipilih dari dan oleh rakyat untuk waktu-jangka waktu
tertentu.

Kemudian dalam pasal 1 ayat 2 ayat bahwa Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan
dilaksanakan berdasarkan undang-undang dasar.Dengan demikian negara Indonesia
menganut paham kedaulatan rakyat di seluruh negara, dan orang-orang yang dijalankan
oleh orang-orang berdasarkan undang-undang dasar. Dengan demikian kekuasaan rakyat
yang mendelegasikan berdasarkan undang-undang Dasar dengan demikian dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia menurut undang-undang Dasar 1945 hasil amandemen 2002,
tidak dapat dikenali lagi Adanya lembaga negara yang memiliki kekuasaan tertinggi.

• Majelis permusyawaratan rakyat (MPR) (Bab ll)

Dalam pasal 2 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa MPR memiliki anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, dan anggota Dewan Perwakilan Daerah.keanggotaan MPR
menurut undang-undang Dasar 1945 hasil amandemen 2002 ini menunjukkan bahwa
seluruh anggota MPR, sepenuhnya merupakan hasil dari pemilihan umum Adapun
menurut undang-undang Dasar 1945 sebelum diamandemen anggota MPR ditambah
dengan utusan golongan dan utusan daerah.

• Kekuasaan pmerintahan negara (Bab lll)

Dalam pasal 4 ayat 1 undang-undang dasar 1945 Presiden Republik Indonesia untuk
Indonesia Dasar-Dasar Undang-Undang Dasar 1945. presiden dalam melaksanakan
kewajiban dibantu oleh satu orang wakil presiden, pasal 4 ayat 2. Dalam memungkinkan
tugas presiden dapat dilakukan undang-undang untuk DPR, pasal 5 ayat 1 dan ayat 2
Presiden berhak untuk membuat undang-undang dasar untuk undang-undang dasar 1945
yang disusun berdasarkan undang-undang dasar 1945 hasil amandemen 2002 yang lebih
kuat dibandingkandengan sistem undang-undang dasar 1945 sebelum amandemen karena
didukung secara langsung oleh rakyat.

97
• Asas otonomi

Pasal 18 ayat 2 mengatur tentang otonomi pemerintahan daerah. Dalam hal ini bahwa
pemerintahan daerah, daerah, dan kota dan keuangan. menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan. Gubernur baru, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai kepala daerah
provinsi, kabupaten, dan kota dipilihsecara Bintikulempat 4. dalam negara dengan
pemerintah pusat, pemerintah daerah memiliki otonomi yang luas-luasnya, terkecuali jika
dalam konteks pemerintahan yang oleh undang-undang tepat sebagai urusan pemerintah
pusat, ayat 5. dalam ungkapan otonomi daerah itu, pemerintah daerah yang membahas
peraturan daerah dan ketentuan lain, ayat 6 yang mengatur tata cara pemerintahanan dalam
satu undang-undang ayat 7.

• Pengakuan keistimewaan pemerintahan daerah

selain asas otonomi sebagaimana tersebut di atas menurut sistem UUD 1945 hasil
amandemen 2002, hubungan pemerintah pusat dan daerah provinsi, kabupaten dan kota
diatur dalam 1 undang-undang dengan memperhatikan keistimewaan daerah masing-
masing pasal 18b ayat 1.

• Dewan perwakilan rakyat (Bab Vll)

mengenai DPR diatur dalam pasal 19 sampai dengan pasal 22 undang-undang dasar
UUD 1945. DPR memiliki kekuasaan membentuk undang-undang pasal 20 ayat 1. pasal 20
ayat 3 UUD 1945 menetapkan, bahwa jikalau rancangan undang-undang diajukan
pemerintah tidak mendapat persetujuan DPR maka rancangan ini tidak boleh diajukan
dalam persidangan DPR Pada masa itu.

• Dewan perwakilan daerah(Bab VllA)

hal lain yang diatur dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 adalah tentang Dewan
Perwakilan Daerah. anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih melalui pemilihan umum
pasal 22 C ayat 1. anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama
dengan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga
jumlah anggota DPR pasal 22 C ayat 1.

• Pemilihan umum (Bab VllB)

Dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 ini diatur secara eksplisit tentang
pemilihan umum. Pemilihan Umum dilakukan secara langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur, dan adil, setiap lima tahun sekali pasal 22 e ayat 1.

• Hal keuangan (Bab Vlll)

98
Dalam pasal 23 UUD 1945 ditegaskan, bahwa anggaran belanja dan anggaran
pendapatan daerah ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang secara terbuka dan
bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ayat 1. ketentuan ini
adalah mengenai hak DPR untuk mengadakan pengawasan terhadap pemerintah di bidang
keuangan.

• Badan pemeriksa keuangan (Bab VlllA)

untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara,


diadakan 1 BPK yang bebas dan mandiri pasal 23 e ayat 1. hasil pemeriksaan keuangan
negara diserahkan kepada DPR, DPRD dan Dewan Perwakilan Daerah, Sesuai dengan
kewenangannya pasal 23 e ayat 2.

•Kekuasaan kehakiman (Bab lX UUD 1945)

menurut pasal 24 UUD 1945 bahwa kekuasaan kehakiman adalah merupakan


kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan ayat 1.

badan kehakiman harus merupakan suatu kekuasaan yang merdeka yang terlepas dari
pemerintahan dan DPR, agar badan ini dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-
baiknya dan seadil-adilnya sejarah secara objektif. dibentuknya mahkamah konstitusi
dalam undang-undang Dasar 1945 hasil amandemen 2002, merupakan langkah maju dan
dalam lembaga peradilan Indonesia.

•Wilayah negara (Bab IXA)

Pasal 25A undang-undang 1945 hasil amandemen 2002, memuat ketentuan bahwa
negara kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri
Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-
undang.

•Warga negara dan penduduk (Bab X)

dalam pasal 26 UUD 1945 hasil amandemen disebutkan, bahwa orang yang menjadi
warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli orang-orang bangsa lain yang
disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara ayat 1. hal ini berarti bahwa yang
dapat menjadi warga negara Indonesia adalah juga dari orang-orang keturunan bangsa lain.
hal tersebut diatur dalam dalam suatu undang-undang kewarganegaraan antara lain
undang-undang nomor 62 tahun 1958. kemudian pengertian penduduk menurut pasal ini
adalah warga negara Indonesia dan warga negara asing yang bertempat tinggal di
Indonesia ayat 2. kemudian hal-hal yang berkaitan dengan warga negara diatur dalam suatu
undang-undang.

•Agama (Bab lX)

99
Dalam pasal 29 UUD 1945 diatur perihal keyakinan warga negara dalam kehidupan
keagamaan sebagai berikut

a. negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa pasal 29 ayat 1 brainly menjamin
kemerdekaan tiap-tiap penduduk dan memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya masing-masing dan kepercayaannya itu pasal 29 UUD 1945
ayat 2.

• Pertahanan dan keamanan negara (Bab Xll)

pasal 30 UUD 1945 menegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pembelaan negara ayat 1. usaha pertahanan keamanan negara
dilaksanakan melalui sistem sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh tentara
nasional Indonesia dan kepolisian negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama dan
rakyat sebagai kekuatan pendukung nya ayat 2.

•Pendidikan dan kebudayaan (Bab Xlll)

pasal 31 undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 diatur bahwa tiap-tiap
warga negara berhak untuk mendapat pendidikan, ayat 1, dan setiap warga negara wajib
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, ayat 2.

• Tentang kebudayaan

Dalam pasal 32 secara eksplisit diatur tentang kebudayaan bangsa Indonesia terdiri
atas berbagai etnis yang sekaligus memiliki beraneka ragam kebudayaan, dalam hubungan
ini negara wajib memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia ditengah peradaban dunia
dengan menjamin keberhasilan masyarakat dan memelihara dan mengembangkan nilai-
nilai kebudayaan.

• Perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial (Bab XlV)

dalam pasal 33 undang-undang 945 dinyatakan sebagai berikut

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan

2. cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai negara

3. bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat empat perekonomian
nasional diselenggarakan berdasarkan asas asas demokrasi ekonomi dan prinsip
kebersamaan efisiensi berkeadilan dan berkelanjutan.

Pasal 33 ini dikembangkan dengan lebih memperjelas paradigma perekonomian


nasional, walaupun di tengah-tengah persaingan global, krisis dunia, namun bangsa
indonesia tetap menekankan prinsip moral ekonomi yaitu asas kemakmuran bersama.

100
Kemudian pasal 34 UUD 1945 hasil amandemen ini menegaskan tentang nasib warga
bangsa yang miskin.

1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan


memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan.

3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan


fasilitas pelayanan umum yang layak.

4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Ketentuan-ketentuan tersebut adalah sebagai realisasi penjabaran sila kelima


Panacasila, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Selain itu juga
merupakan manifestasi hak-hak warganegara Indonesia.

Bendera,Bahasa, Lambang Negara,serta Lagu Kebangsaan (Bab XV)

Pasal 35 UUD 1945 menegaskan bahwa Bendera Bangsa Indonesia ialah Sang
Merah Putih.

Pasal 36 UUD 1945 menyatakan nahwa Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.

Pasal 36A UUD 1945 menyatakan Lambang Negara Garuda Pancasila dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Pasal 36B UUD 1945, menyatakan Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya.

Pasal 36C, ketentuan lebih lanjut tentang Bendera, bahasa, Lambang Negara, serta
Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang.

Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (Bab XVI)

Pasal terakhir Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen juga memuat tentang
perubahan Undang-Undang Dasar, terutama mengingat agar Undang-Undang Dasar itu
senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman dan aspirasi rakyat. Pasal 37, memuat 5
ayat berkaitan dengan ketentuan tentang perubahan Undang-Undang Dasar, sebagai
berikut:

1) Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dan dalam


sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3
dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.

2) Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis


dan ditunjukan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya.

101
3) Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, Sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat.

4) Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan


persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu dari seluruh anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat.

5) Khusus tentang bentuk Negara Kesatuan Republik tidak dapat dilakukan


perubahan.

Aturan Peralihan

Aturan peralihan dalam UUD 1945 terdiri atas 3 pasal sebagai berikut:

Pasal I : Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku


selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.

Pasal II : Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk
melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut
Undang-Undang Dasar ini.

Pasal III : Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada 17 agustus 2003


dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Aturan Tambahan

Pasal I :Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan


terhadapmateri dan status hukum Ketetapan majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada Sidang
Majelis Permusyawaratan Rakyat 2003.

Pasal II : Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang dasar ini, Undang-


Undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, terdiri atas pembukaan dan pasal-
pasal.

F. Hubungan Antar Lembaga-lembaga Negara Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945

Hubungan antara MPR dan Presiden

Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tinggi sebagai wakil


rakyat sesuai dengan UUD 1945 (pasal 1 ayat 2), di samping DPR dan Presiden. Hal ini
berdasarkan ketentuan dalam UUD 1945 bahwa baik Presiden maupun MPR dipilih
langsung oleh rakyat, pasal 2 ayat (1) dan pasal 6A ayat (1). Berbeda dengan kekuasaan
MPR menurut UUD 1945 sebelum dilakukan amandemen 2002, yang memiliki kekuasaan
tertinggi dan mengangkat serta memberhentikan Presiden dan / atau Wakil Presiden.

102
Namun demikian perlu dipahami bahwa oleh karena Presiden tidak diangkat oleh
MPR, maka Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR, melainkan kepada rakyat
Indonesia sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Dasar.

Hubungan Antara MPR dan DPR

Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan


Rakyat, dan anggota-anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilu.
Dengan demikian maka seluruh anggota MPR menurut UUD 1945 dipilih melalui pemilu.

Oleh karena anggota DPR seluruhnya merangkap anggota MPR, maka MPR
menggunakan DPR sebagai tangan kanannya dalam melakukan pengawasan pelaksanaan
kebijakan yang dilakukan oleh Presiden sebagaimana ditetapkan oleh MPR.

Hubungan Antara DPR dan Presiden

Sebagai sesama lembaga tinggi negara dalam ketatanegaraan Indonesia maka DPR
dan Presiden bersama-sama mempunyai tugas antara lain:

a. Membuat Undang-Undang (pasal 5 ayat 1, 20, dan 21), dan

b. Menetapkan Undang-Undang tentang Anggaran (Pendapatan dan Belanja Neagara


(pasal 23 ayat 1)

Membuat Undang-Undang berarti menentukan kebijakan politik yang


diselenggarakan oleh Presiden (pemerintah). Menetapkan budget negara pada hakekatnya
berarti menetapkan rencana kerja tahunan.

Presiden tidak dapat dijatuhkan oleh DPR, dan dengan pengawasan tersebut, maka
terdapat kewajiban bagi pemerintahuntuk selalu bermusyawarah dengan DPR tentang
masalah-masalah pokok dan negara yang menyangkut kepentingan rakyat dengan UUD
sebagai landasan kerja.

Bentuk kerjasamaantara DPR dan Presiden tidak boleh mengingkari partner


legislatifnya. Presiden harus memperhatikan, mendengarkan, berkonsultasi dan dalam
banyak hal , memberikan keterangan-keterangan serta laporan-laporan kepada DPR dan
meminta pengawasan sebut maka DPR mempunyai beberapa wewenang, yaitu:

a. Menurut UUD 1945

1) Hak budget, yaitu hak untuk menyusun rancangan Anggaran Belanja dan
Pendapatan Negara (pasal 23 ayat 1).

2) Hak inisiatif, yaitu hak untuk mengusulkan Rancangan Undang-Undang

(pasal 21).

b. Menurut Undang-Undang dasar 1945 hasil amandemen 2002 pasal 20A ayat (2)

103
dan (3).

1) Hak amandemen (mengandalkan perubahan)

2) Hak interpelesi (meminta keterangan)

3) Hak bertanya

4) Hak angket (hak untuk mengandalkan suatu penyelidikan)

Dengan adanya wewenang DPR tersebut, maka sepanjang tahun terjadi musyawarah
yang diatur antara pemerintah dan DPR, dan DPR mempunyai kesempatan untuk
mengemukakan pendapat rakyat secara kritis terhadap kebijaksanaan dan politik
pemerintah.

Hubungan Antara DPR dengan Menteri-Menteri

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan


oleh Presiden (pasal 17 ayat 2), sedangkan dalam penjelasannya dikemukakan bahwa
menteri-menteri itu tidak bertanggung jawab kepada DPR, artinya kedudukannya tidak
tergantung kepada Dewan, akan tetapi bergantung kepada Presiden.

Sudah terang bahwa DPR tidak boleh main mosi tidak percaya, melainkan secara
serius harus memberikan pertimbangan kepada Presiden dan sebaliknya Presiden tidak
boleh bersitegang, tidak mau memperlihatkan suara DPR yang telah diberikannya dengan
sungguh-sungguh berdasarkan alasan yang objektif. Hanya dengan pengertian yang
mendalam akan hal ini, maka kita terjerumus ke dalam tangan besi seorang diktator.

Hubungan Antara Presiden dengan Menteri-Menteri

Presiden mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri negara Pasal 17 ayat (2)


dan menteri-menteri itu formal tidak bertanggung jawab pada DPR, akan tetapi tergantung
kepada Presiden. Mereka adalah pembantu Presiden (pasal 17 ayat 1). Meskipun
kedudukan para menteri negara tergantung kepada Presiden, mereka bukan pegawai tinggi
biasa, oleh karena menteri-menterilah yang terutama menjalankan pemerintahan dalam
prakteknya. Sebagai pemimpin departemen (pasal 17 ayat 3), menteri mengetahui seluk-
beluk mengenai lingkungan pekerjaannya.

Berhubungan dengan itu menteri mempunyai pengaruh besar terhadap Presiden


dalam menuntun politik negara yang menyangkut departemennya.

2. Penjabaran Hak-hak Asasi Manusia dalam UUD 1945

Hak-hak asasi manusia sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan pandangan


filosopis tentang manusia yang melatar belakangi nya. Menurut Pancasila hakikat manusia
adalah tersusun atas jiwa dan raga, kedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan dan
Makhluk pribadi, adapun sifat kodratnya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

104
Dalam pengertian inilah maka hak-hak asasi manusia tidak dapat dipisahkan dengan
hakikat kodrat manusia tersebut. Konsekuensinya dalam realisasinya maka hak asasi
manusia senantiasa memiliki hubungan yang korelatif dengan wajib asasi manusia karena
sifat kodrat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Dalam pengertian inilah maka
hak-hak asasi manusia tidak dapat dipisahkan dengan hakikat kodrat manusia tersebut.
Konsekuensinya dalam realisasinya maka hak asasi manusia senantiasa memiliki
hubungan yang korelatif dengan wajib asasi manusia karena sifat kodrat manusia sebagai
individu dan makhluk sosial.

Dalam rentangan berdirinya bangsa dan negara indonesia dalam kenyataannya


secara resmi deklarasi Bangsa Indonesia telah lebih dulu dirumuskan dari Deklarasi
Universal Hak-hak asasi Manusia PBB, karena pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasalnya
diundangkan tanggal 18 Agustus 1945, adapun Deklarasi PBB pada tahun 1948. Hal ini
merupakan fakta pada dunia bahwa bangsa Indonesia sebelum tercapainya pernyataan-
pernyataan hak-hak asasi manusia sedunia PBB, telah mengangkat hak-hak asasi manusia
dan melindunginya dalam kehidupan negara yang tertuang dalam UUD 1945. Hal ini juga
telah ditekankan oleh para pendiri negara misalnya pernyataan Moh.Hatta dalam sidang
BPUPKI sebagai berikut: “Walaupun yang dibentuk itu negara kekeluargaan, tetapi masih
perlu ditetapkan beberapa hak dari warga negara, agar jangan sampai timbul negara
kekuasaan (Machtsstaat yaitu negara penindas) (Yamin, 1959:287-289)

Dalam pembukaan UUD 1945 alinea I dinyatakan bahwa: “Kemerdekaan adalah hak
segala bangsa”. Dalam pernyataan terkandung pengakuan secara yuridis hak asasi manusia
tentang Kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam deklarasi Universal Hak-hak asasi
Manusia PBB pasal I. Dasar filosofis hak asasi manusia tersebut bukanlah kebebasan
individualis, melainkan-menempatkan manusia dalam hubungannya dengan bangsa
(makhluk sosial). Sehingga hak asasi manusia tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban
asasi manusia kata-kata berikutnya pada alinea III pembukaan UUD 1945 adalah sebagai
berikut:

“Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Pernyataan tentang “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa..” mengandung arti
bahwa dalam deklarasi bangsa Indonesia terkandung pengakuan manusia yang berke-
Tuhanan yang Maha Esa, dan diteruskan dengan kata ”....supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas...”. Maka pengertian “berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka
negara Indonesia mengakui hak-hak asasi manusia untuk memeluk agama sebagaimana
tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia PBB pasal 18, dan dalam
pasal UUD 1945 dijabarkan dalam pasal 29 terutama ayat (2).

Melalui Pembukaan UUD 1945 dinyatakan dalam alinea IV bahwa negara Indonesia
sebagai suatu persekutuan hidup bersama bertujuan untuk melindungi warganya terutama

105
dalam kaitannya dengan perlindungan hak-hak asasinya. Adapun tujuan negara tersebut
adalah sebagai berikut: “...Pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum mencerdaskan kehidupan bangsa...”

Tujuan negara Indonesia sebagai negara hukum yang bersifat formal tersebut
mengandung konsekuensi bahwa negara berkewajiban untuk melindungi seluruh warganya
dengan suatu Undang-Undang terutama untuk melindungi hak-hak asasinya demi
kesejahteraan hidup bersama. Demikian pula negara Indonesia juga memiliki ciri tujuan
negara hukum material, dalam rumusan tujuannegara “...Memajukan kesejahteraan umum
dan mencerdaskan kehidupan bangsa...”. Setiap orang demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia. Selain hak asasi juga dalam UU No. 39 tahun
1999,terkadang kewajiban dasar manusia, yaitu seperangkat kewajiban yang apabila tidak
dilaksanankan, tidk memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen 2002, telah memberikan


jaminan secara eksplisit tentng hak-hak asasi manusia yang tertuang dalam Bab XA, pasal
28A sampai dengan pasal 28J.Jikalau dibandingkan dengan Undang-Undang Dasar 1945
sebelum dilakukan amandemen,ketentuan yang mengatur tentang jaminan hak-hak asasi
manusia dalam Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen 2002 dikembangkan dan
ditambah pasalnya dan lebih rinci.

Konsekuensinya pengaturan atas jaminan hak-hak asasi manusia tersebut harus


diikuti dengan pelaksanaan,serta jaminan hukum yang memadai. Untuk ketentuan yang
lebih rinci atas pelaksanaan dan penegakan hak-hak asasi tersebut, diatur dalam Undang-
undang No.9 tahun 1999. Satu kasus yang cukup penting bagi bangsa Indonesia dalam
menegakkan hak-hak asasi,adalah dengn dilaksanakan Pengadilan Ad Hoc,atas
pelanggaran hak-hak asasi manusia di Jakarta, atas pelanggaran di Timur Timor. Hal ini
menunjukkan kepada masyarakat internasional,bahwa bangsa Indonesia memiliki
komitmen atas pengakuan hak-hak asasi manusia.

Metode Pembelajaran: Diskusi,analis kasus ketatanegaraan, system ketatanegaraan


Indonesia. System demokasi menurut UUD 1945,kedaulatan rakyat,Checks and balance
dalam ketatanegaraan menurut UUD 1945. Lembaga tinggi Negara pasca amandemen
UUd 1945. Penting untuk dibuat dalam satu paper kasus-kasus actual dalam
ketatanegaraan Indonesia,antara lain dinamika politik antara partai-partai politik, baik
dalam koalisi pendukung pemerintahan dan oposisi,dan kaitannya dengan Kerakyatan
berdasarkan Permusyawaratan/Perwakilan. Berbagai kasus korupsi banyak dilakukan oleh
kalangan elit partai, penguasa pemerintahan dengan kalangan pemilik modal
Keterkaitannya dengan system politik demokrasi yang berbiaya tinggi, hubungan
demokrasi dengan tujuan Negara untuk kesejahteraan rakyat. Reshuffle menteri-menteri,
dilakukan apakah memang tidak berprestasi, atau karena pembagian jatah kekuasan
pendukung pemerintah, bagaimana mekanisme dalam pemerintahan Negara yang kadang

106
terjadi kontroversial antara menteri dengan menteri lain bahkan dengan lan sebagainya.
Pelaksaaan Pilkada,peranan partai politik dalam Pilkada,bagaiman dengan calon
independen,serta dinamikannya dalam demokrasi di Indonesia.

107
BAB X

BHINEKA TUNGGAL IKA

A.Pengantar

Kelahiran suatu bangsa memilki karakteristik, sifat, ciri khas serta keunikan sendiri-
sendiri, yang sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mendukung kelahiran bangsa
tersebut. Adapum faktor-faktor yang mendukung kelahiran suatu bangsa Indonesia
meliputi (1) faktor objektif, yang meliputi faktor geografis-ekologis dan demografis, (2)
faktor subjektif, yaitu faktor historis,social, politik dan kebudayaan yang dimiliki bangsa
Indonesia (Suryo, 2002).

Menurut Mr.M Yamin bahwa berdirinya Negara kebangsaan Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan kerajaan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa
Indonesia. Negara kebangsaan Indonesia mellui tiga tahap yaitu :pertama, zaman Sriwijaya
dibawah wangsa Syailendra,yang bercirikan kedatuan. Kedua, Negara kebangsaan zaman
Majapahit yang bercirikan keprabuan.Adapun kedua tahap tersebut merupakan Negara
kebangsaan Indonesia lama.Kemudian ketiga, Negara kebangsaan modern yaitu Negara
Indonesia Merdeka (sekaran Negara proklamasi 17 Agustus 1945) (Sekretariat Negara RI,
1995:11).

Dalam hubungan ini bangsa Indonesia pada prinsipnya menyadari bahwa elemen-
elemenmasyarakat yang membentuk bangsa Indonesia ini tersusun atas berbagai macam
faktor yang khas, unik, dan berbeda baik etnis, geografis, kultural, serta ciri primordial
lainnya.

Robert de Ventos, sebagaimana dikutip Manuel Castells dalam bukunya, The Power
of Identity (Suryo, 2002), mengemukkan teori tentang munculnya identitas nasional suatu
bangsa sebagai hasil interaksi historis antara empat faktor penting, yaitu faktor primer,
faktor pendorong, faktor penarik dan faktor reaktif.Faktor pertama, mencangkup etnisitas,
teritorial, bahasa, agama dan yang sejenisnya.Faktor kedua, meliputi embangunan
komunikasi dan teknologi, lahirnya angatan bersenjata modern dan pembangunan lainnya
dalam kehidupan Negara. Faktor ketiga,mencangkup kondifikasi bahasa dalam gramatika
yang resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan system pendidikan nasional. Faktor
keempat, meliputi penindasan, dominasi, dan pencarian identitas alternatif melalui memori
kolektif rakyat. Keempat faktor tersebut pada dasarnya tercangkup dalam proses
pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia, yang telah berkembang dasri masa
sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dan penjajahan bangsa lain.

B. Dasar Hukum Lambang Negara Bhineka Tunggal Ika

108
Bhineka Tunggal Ika sebagaimana terkandung dalam lambang Negara Garuda
Pancasila, bersama-sama dengan Bendera Negara Merah Putih, Bahasa Negara Bahasa
Indonesia dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, merupakan jati diri dan identitas Negara
Kesatuaan Republik Indonesia. Keempat symbol tersebut merupakan cerminan dan
manifestasi kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia di dalam tata
pergaulan dalam Negara-negara lain dalam masyarakat internasional serta merupakan
cerminan kemandirian serta eksistensi Negara Indonesia yang merdeka , bersatu, berdaulat,
adil dan makmur.

Adapun peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang lambang Negara,


bendera, serta lagu kebangsaan antara lain:

1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur tentang kejahatan


(tindak pidana) yang menggunakan Bendera Mera Putih; penodaan terhadap bendera
Negara sahabat; penodaan terhadap Bendera Merah Putih dan Lambang Negara Garuda
Pancasila; serta penggunaan bendera Merah Putih oleh mereka yang tidak memiliki hak
untuk menggunakannyaseperti terdapat pada pasal 52 a; Pasal 142a; Pasal 154a; dan Pasal
473.

2. Peraturan pemerintahan Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara.

3. Peraturan Pemerintahan Nomor 43 Tahun 1958 tentang Penggunaan Lambang


Negara.

109
BAB XI

LAMBANG NEGARA

Bagian Kesatu Umum

Pasal 46

Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang


kpalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung ynag digantung dengan
rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhineka Tunggal Ika ditulis diatas pita yang
dicengkeran oleh Garuda.

Pasal 47

(1) Garuda degan perisai sebagaiman dimaksud dalam pasal 36 memiliki paruh,
sayap, ekor, dan cakar yang mewujudkan tenaga pembangunan.

(2) Garuda sebagaiman dimaksud pada ayat (1) memiliki sayap yang masing-masing
berbulu 17, ekor berbulu 8, pangkal ekor berbulu 19, dan leher berbulu 45.

Pasal 48

(1) Ditengah-tengah perisai sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 terdapat sebuah


garis hitam tebal yang melukiskan khatulistiwa.

(2) Pada perisai sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 terdapat lima buah ruang
yang mewujudkan dasar pancasila sebagai berikut:

a. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya yang bagian
tengah berbentuk bintang yang bersudut lima;

b.Dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai
bermata bulatan dan persegi dibagian kiri bawah perisai;

c. Dasar Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin dibagian kiri atas
peisai;

d. Dasar Kerakyatan yang Dipimpin ole Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala Banteng dibagian kanan atas
perisai;

e. Dasar Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas
dan padi dibagian kanan bawah perisai.

Pasal 49

110
Lambang Negara menggunakan warna pokok yang terdiri atas:

a. Warna merah dibagian kanan atas dan kiri bawah periai.

b. Warna putih dibagian kiri atas dan kanan bawah perisai.

c. Warna emas untuk keseluruhan warna Burung Garuda.

d. Warna hitam ditengah-tengah perisai yang berbentuk jantung.

e. Warna alam untuk seluruh gambar lambang.

Pasal 50

Bentuk, warna, dan perbandingan ukuran Lambang Negara sebgaimana dimaksud


dalam Pasal 46 sampai dengan Pasal 49 tercantum dalam lampiran yang tidak terpisah dari
Undang-undang lain.

C. Bhinneka Tunggal Ika sebagai Local Wisdom Bangsa Indonesia

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia Lambang Negara Republik Indonesia


Garuda Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dituangkan dalam Peraturan
Pemerintah No. 66 Tahun 1951, yang disusun oleh Panitia Negara yang diangkat oleh
Pemerintah dan duduk didalamnya adalah Mr. Muhammad Yamin.

Garuda adalah termasuk jenis burung yang besar dan kuat dan mampu terbang tinggi,
yang melambangkan bangsa (Indonesia) yang besar dan kuat. Sebagai seekor satwa,
burung garuda mampu terbang tinggi, dam hal ini melukiskan cita-cita bangsa Indonesia
ditengah-tengah masyarakat internasional (Ismaun, 1975: 118). Burung Garuda juga
lambang pembangunan dan pemeliharaan, hal ini dapat ditafsirkandari sejarah nenek
moyang bangsa Indonesia dahulu ada yang mmenganut Agama Hindu dan grauda adalah
wahana (kendaraan) Dewa Wishnu yaitu dewa Pembangunan dan Pemeliharaan dan dalam
cerita wayang dijawa terjelma dalam Bhatara Kresna tokoh yang bijaksana. Bahkan Raja
Airlangga menggunakan lancana Garuda-mukha yan terkandung dalam kitab
Marowangsa.Demikian pula dengan kerajaan Kedah juga menggunakan lambang Garuda
Garagasi sebagai lambang pemelihara (Ismaun, 1975: 119).

Seloka ‘Bhineka Tunggal Ika’yang melambankan realitas bangsa dan Negara


Indonesia tersusun dari berbagai unsur rakyat (bangsa) yang terdiri atas berbagai macam,
suku, adat-istiadat, golongan, kebudayaan dan agama, wilayah yang terdiri atas beribu-ribu
pulau menyatu menjadi bangsa dan negara Indonesia.Secara filologis istilah seloka itu
diambil dari bahasa Jawa kuno, berasal dari zaman kerajaan Keprabuan Majapahit yang
zaman keemasannya dibawah kekuasaan Prabu Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah
Mada (1350-1364).

111
Jika dilakukan kajian melalui filsafat analatika bahasa (suatu metode analis terhadap
makna penggunaan ungkapan bahasa era kontemporer di Eropa), seloka Bhineka Tunggal
Ika itu pada hakikatnya merupakan suatu frase. Secara linguistis makna structural seloka
adala ‘beda itu,satu itu’. Secara morfologis kata ‘Bhineka’ berasala dari polimorfemis yaitu
‘bhinna’ dan ‘ika’.Kata ‘Bhina’ berasal dri bahasa Sansekerta ‘Bhid’, yang dapat
diterjemahkan menjadi ‘beda’. Dalam proses linguistic karena digabungkan dengan
morfem ‘ika’ maka jadi ‘bhinna’. ‘Ika’ artinya itu, ‘bhinneka’ artinya beda itu,sedangkan
‘tunggal ika’ artinya satu itu. Oleh karena itujikalau diterjemahkan secara bebas maka,
makna ‘Bhinneka Tunggal Ika’,Tan hana dharma mangrwa, adalah; meskipun berbeda-
beda akan tetapi tetap satu jua. Tidak ada hukum yang mendua (dualisme).

D. Makna Filosofis Bhinneka Tunggal Ika

Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang, sejak
zaman-zaman kerajaan Sriwijaya, Majaphit serta dijajah oleh bangsa asing selama tiga
setengah abad. Unsur masyarakat yang membentuk bangsa Indonesia terdiri atas berbagai
macam suku bangsa, berbagai macam adat-istiadat kebudayaan dan agama, seta berdiam
dalam suatu wilayah yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Oleh karena itu keadaan yang
beraneka ragam tersebut bukanlah merupakan suatu perbedaan untuk dipertentangkan,
melainkan perbedaan itu justru merupakan suatu daya penarik kearah suatu kerja sama
persatuan dan kesatuan dalam suatu sintesis dan sinergi yang positif, sehingga
keanekaragaman itu justru terwujud dalm suatu kerja sama yang luhur.

Sintesis persatuan dan kesatuan tersebut kemudian dtuangkan dalam suatu asas
kerohanian dan merupakan suatu kepribadian serta jiwa bersama yaitu Pancasila.Oleh
karena itu prinsip-prinsip nasionalisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah
bersifat ‘majemuk tunggal’.

Negara kesatuan adalah terletak pada pandangan ontologis tentang hakikat manusia
sebagai subjek pendukung Negara. Menurut paham Negara kesatuan Negara bukan
terbentuk secara organis dari individu-individu sebagaimana diajarkan oleh Hobbes, Locke
dan pemikir individualis lainya,melainkan Negara terbentuk atas dasar kodrat manusia
sebagai individu dan makhluk social (Notonegoro), 1975).

Masyarakat sebagai suatu unsur dalam Negara yang tumbuh bersama dari berbagai
golongan yang ada dalam masyarakat untuk terselenggarkannya kesatuan hidup dalam
suatu interaksi saling memberi dan saling menerima antara warganya. Sebagai suatu
totalitas,masyarakat memiliki satu kesatuan tidak hanya dalam arti lahiria, melainkan juga
dalam arti batiniah, atau menjadi kesatuan idea yang menjadi fondamen dalam kehidupan
kebangsaan (Besar, 1991: 83).

112
Dengan demikian Negara adalah produk dari interaksi antar golongan yang ada pada
masyarakat. Sebagai produk yang demikian maka’logic in it self’bahwa Negara mengatasi
setiap golongan yang ada dalam masyarakat (Besar, 1991: 84)

Nilai filosofis persatuan, dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan menjadi


kunci kemajuan suatu bangsa.Bagi bangsa Indonesia yang kuasa materialisnya berbagai
etnis, golongan, ras, agama, serta primodial lainnya dinusantarasecara moral menentukan
kesepakatan untuk membentuk suatu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.Semangat moralitas
bangsa itu oleh founding semiotic moralitas bangsa yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Metode pembelajaran: diskusi, analisis kasus, Tanya-jawab, tentang lambang Negara


Indonesia Garuda Pancasila dengan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, peranan lambang
Negara bagi bangsa Indonesia. Penting diskusi tentang makna Bhinneka Tunggal
Ika,sejarahterbentuknya lambang Negara, makna dan symbol setiap unsur Negara.
Sikap,dan penggunaan lambang Negara oleh setiap warga Negara, serta unsur-unsur
masyarakat dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan. Bagaiman kaidah hukum
sebagaiman terkandung dalam Undang-Undang RI Nomorm24 Thaun 2009,tentang
bendera, bahasa, lambang Negara dan lagu kebangsaan Indonesia.

113
DAFTAR PUSTAKA

Andrews, W.G., Constitutions and Constitutionalism, Van Nostrand Company, New


Jersey.

Asshiddiqie, J., 2005, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia,Konstitusi


Press,Jakarta.

Asshiddiqie, J., 2006, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara,KonstitusiPress, Jakarta.

Attamimi, A Hamid S., 1991, “Pancasila Cita Hukum dalam Kehidupan Hukum
Bangsa Indonesia” dalam Oetoyo Oesman dan Alfian, Pancasila sebagai Ideologi, BP 7
Pusat Jaya, Jakarta.

Ayatrohaedi, 1986, Kepribadian Budaya Bangsa: Local Genius, Pustaka Jaya,


Jakarta.

Kaelan, 1983, Proses Perumusan Pancasila dan UUD 1945, Liberty, Yogyakarta.

Kaelan dan Zubaidi, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan, Paradigma, Yogyakarta.

Kattsoff, Louis O., 1986, Pengantar Filsafat,diahli bahasakan oleh: Soejono


Soemargono, Tiara Wacana,Yogyakarta.

Laboratorium Pancasila IKIP Malang, 1979, Pokok-pokok Pembahasan Pancasila


Dasar Filsafat Negara, Usaha Nasional, Surabaya.

Koentjaraningrat, 1987, Kebudayaan, Metalitas dan Pembangunan,Gramedia,


Jakarta.

Indrati S, Maria Farida, 2007, Ilmu Perundang-undangan, Kanisius, Yogyakarta.

Galtung Johan,19180, The True Worlds: A Transnational Perspective, The Free


Press, New York.

Faith, Herbert, 1962, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, Cornell


University Press, itchaca, N.Y.

Mclver, R.M., 1966, The Modern State,Oxford Paperbacks, Oxford.

Notonegoro, 1975, Pemboekaan Oendang-oendang Dasar 1945 (Pokok Kaidah dan


Fundamentil Negara Indonesia, Pidato Pada Dies Natalis 11, Universitas Airlangga,
Surabaya.

114
Sumargono Suyono, Tanpa Tahun, Ideologi Pancasila Sebagai Penjelmaan Filsafat
Pancasila Dan Pelaksanaan Dalam Masyarakat Kita Dewasa Ini, Suatu Makalah Seminar
Di Fakultas Filsafat UGM.

Redaksi Sinar Grafika, 2000, Undang-Undang Hak Asasi Manusia 1999, Sinar
Grafika, Jakarta.

115