Anda di halaman 1dari 9

Ayat Cinta Sang Mujahid Al-Qur’an

Senja berselimut awan hitam ditemani rerintik hujan menyapa relung hati yang
merindu. Aku suka hujan karena ini waktu mustajab untuk berdo’a‘. ‘Semoga hafalan
surah hari ini tidak cepat hilang.’ Itulah do’a yang sering terucap dalam batinku dulu
sepulang dari mengaji bersama teman kecilku Daffa salah satu mujahid Al-qur’an.

Emak bekerja sebagai pembantu di rumah orang tua Daffa. Teman kecilku itu
suka mencubit pipiku. Ketika berhasil menciptakan raut muka masam di wajahku, Daffa
akan meminta maaf lalu mengajak bermain tebak nama serta menyambung surah yang
berada di juz amma. Itu sewaktu umur kami berumur enam tahun. Sekarang kami tidak
sedekat dahulu karena kesibukan dan menghindari dari berdua-duan dengan yang bukan
mahram.

Namaku Maryam Uswatun Hasanah. Bercita-cita menjadi hafizah sejak


mendengar ceramah dari Ustad yang mengajar di TPQ Al-Fida. ‘Alqur’an akan menjadi
salah satu penyelamat di akhirat dan memberikan keberkahan di dunia sebagaimana hadis
mutafaqun alaihi yang artinya: Bacalah olehmu Al-qur’an. Karena sesungguhnya Al-
qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para pembaca
(pengamal dan penghafalnya).’ Meskipun tengah sibuk menyelesaikan semua ujian kelas
dua belas, hal ini tidak menghalangiku untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an setiap
harinya.

Kabut masih menggantung di udara. Sebelum mentari menampakkan wajahnya,


aku sudah lebih awal bangun. Selepas salat tahajud diriku langsung membantu Emak
memasak berbagai kue tradisional untuk dijual di sekolah.

“Maryam pergi dulu assalamu’alaikum.” Salamku bersemangat karena hari terakhir


UNBK.

“Wa’alaikumusssalam, hati-hati ya! Ingat baca do’a sebelum mengerjakan soal! Nanti
kuenya titip ke koperasi sekolah saja!” Pesan Emak sembari melukis senyum.
Tanggal 15 April, artinya selesai semua ujian untuk tingkat SMA. Sebagian murid
akan menikmati libur panjang. Tapi untukku ini bertanda pekerjaan baru menjadi
cleaning service di perpustakaan tempat Ibu Daffa mengajar akan dimulai besok. Inilah
pekerjaan paling menyenangkan. Selain mendapat gaji, aku juga bisa meminjam buku
setiap hari.

Selepas magrib biasanya anak tetangga datang untuk belajar mengaji. Sembari
menunggu mereka, aku menceritakan mengenai pekerjaan baru pada Emak. Ditengah
perbincangan, suara handphone pemberian dari Ibu Daffa berbunyi.

“Maryam! Emak dapat kabar jika Bik Ana dan Suaminya meninggal karena
kecelakaan pesawat. Besok Emak harus ke Medan menjemput anak Bik Ana karena tidak
ada yang ingin mengurusnya lagi di sana. Oh Maria sungguh malang nasibmu.“ Tutur
Emak dengan nada bergetar disertai air yang jatuh dari pelupuk matanya.

“Inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun sabar Mak, kita harus ingat firman Allah
dalam surah Al-Baqarah ayat 156 yang artinya (Yaitu) orang-orang yang tertimpa
musibah, mereka mengucapkan:”Inna lillahi wa innaa ilahihi raaji’uun” (Sesungguhnya
kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.) Alhamdulillah
uang hasil jualan kue masih ada. Maryam pergi beli tiketnya dulu.” Jelasku menenangkan
Emak.

Tiga hari berlalu. Ibu Daffa memberitahu jika hari ini Emak akan sampai di rumah.
Akupun segera berbenah sambil menunggu kedatangan mereka. Ini pertama kali diriku
akan melihat saudara sepupu yang tanggal lahirnya sama denganku. Dulu aku berpikir
nama Maria adalah seorang non Muslim tapi ternyata Maria itu nama pemberian dari
suami Bik Ana yang merupakan mualaf asli orang Medan.

Beberapa jam menunggu tak kunjung datang akhirnya diriku berwudhu lalu solat
magrib. Ditengah heningnya berdo’a terdengar suara Emak mengucapkan salam. Segera
aku berlari kecil membuka pintu sambil menjawab salam. Seketika mata kami terbelalak
melihat satu sama lain. Semuanya mirip yang membedakan hanya rambutnya terurai
tanpa hijab lengkap dengan rok mini dan baju yukensi. Emak akhirnya menyuruh kami
masuk.
“Hei Makcik kenapa ia mirip sekali dengan ku? “ Tanya Maria menggali informasi.

“Sebenarnya kalian saudara kandung kembar.” Jawab Emak tampak matanya berbinar.

“Imposible jadi selama ini kau buang aku?” Hardik Maria.

“Maaf Maria jika bicara dengan orang yang lebih tua itu harus sopan” Nasihatku meski
sebenarnya aku bingung dengan ucapan Emak.

“ Maafkan Makcik Maria, dulu menjelang kelahiran kalian, Bapak sakit parah lalu
meninggal. Karena kehidupan yang pas-pasan, Bik Ana bermaksud merawat salah satu
diantara kalian agar mempunyai kehidupan yang layak.” Jelas Emak dengan lembut.

Maria langsung pergi meninggalkan rumah. Malam itu sunggguh mengecamkan


tapi ku berusaha menyakinkan Emak untuk membawa Maria pulang ke rumah.

“Maria tunggu! Ini takdir-Nya. Percayalah Allah punya jalan terbaik untuk keluarga kita.”

“ Terbaik katamu? Aku lebih bahagia hidup di rumah mewah bukan di tempat terpencil
ini.” Jawab Maria bertolak pinggang.

Maria melanjutkan perjalanannya meninggalkanku. Tiba-tiba langkah Maria


terhenti tepat di samping Masjid Al-Musyahadah dekat rumahku.

“ Siapa dia?Apa yang ia kerjakan malam seperti ini ?” Tanya Maria.

“Namanya Daffa ia sedang tadarus Al-Quran.” Jawabku singkat ogah-ogahan.

“Kenalkan aku dengan dia!” Pinta Maria dengan memaksa.

“Maria tidak sopan jika masuk Masjid dengan berpakaian terbuka seperti ini. Daffa
takkan suka. Ayo pulang akan ku ceritakan semua tentang dia.” Tawarku pada Maria.

Setelah lama membujuk Maria akhirnya ia ikut pulang dengaku. Entah apa yang
dipikirkan saudara kembarku ini. Setelah melihat Daffa, Maria ingin tinggal di rumah
kami. Emak menyeka air matanya setelah melihat anak-anaknya pulang dengan selamat.

“Ayam masukkan koperku ke kamar! Oh ya Makcik aku lapar bawakan makanan segera!”
Perintah Maria dengan ketus.
Emak segera melangkah ke dapur begitupun aku membawa koper Maria ke
kamar. Kekerasan akan lebih baik dibalas dengan kebaikan. ‘Laa thagdob walakal jannah
(jangan marah, bagimu surga)’. Hadis riwayat Thabrani selalu mengingatkanku agar
menahan emosi. Sedang sibuk menyusun pakaian ke dalam lemari tiba-tiba ungkapan
Maria sedikit menggangu kedua runguku.

“Aku ingin dekat dengan Daffa. Maryam bisakah kau membantuku?” Ujar Maria
memelas.

“Dalam islam tidak boleh berpacaran sudah jelas firman Allah Qur’an surah Al-Isra ayat
32 wa laa taqrabuz zinaaa innahu kaana faahishatan wa saaa a'sabiila yang artinya dan
janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji,
dan suatu jalannyang buruk.” Jelasku dengan penuh hati-hati.

“ Ceramahnya nanti saja. Jika tidak boleh pacaran, aku mau menikah dengannya haha.”

“ Maria bukannya kamu ingin kuliah dahulu?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Daffa itu mirip banget sama pacarku yang udah ninggal sebulan yang lalu. Kalo kamu
gak mau kenalin aku sama dia aku akan pergi dari sini.” Ungkap Maria menjelaskan isi
hatinya.

“ Jangan bercanda aku tidak ingin membuat Emak bersedih. Bagaimana caranya ? Daffa
itu tidak suka perempuan berpakaian seksi.” Jelasku mengambarkan sosok Daffa.

“Aku akan menjadi sepertimu! Mudah bukan?” Saran Maria membujukkku.

“Jangan Maria. Di Al-Quran surah Az-Zumar ayat 33 sudah dijelaskan ‘Dan orang yang
membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah
orang yang bertakwa’ Jadi berbohong bukan jalan terbaik.” Tangkisku.

“Lihat saja cepat atau lambat aku pasti bisa berkenalan dengan Daffa” Ancam Maria.

Minggu pagi, corong masjid tengah berdengang selawat merdu ditengah badan
lunglai menahan sakit. Tidak perlu bersedih karena Allah tengah menggugurkan dosaku.

“Maryam ini undangang untukmu.” Cakap Maria sembari menyerahkan kertas itu.
“Astagfirullah aku lupa ada acara bakti sosial hari ini.” Ucapku penuh kebingungan.

“Aku bisa membantumu hadir di acara itu. Kamu istirahat saja!” Tawar Maria.

Atas permintaan Maria kukenakan ia gamis lengkap dengan hijab berwana biru.

“Huft panasnya” Gerutu Maria sembari mengarahkan kipas kertas ke wajahnya.

“Lama-lama akan terbiasa kok. Ketimbang api neraka panasan mana? Lagi pula
masyaallah kecantikanmu bertambah, kamu harus tau tahu Maria kewajiban menutup
aurat itu sudah ada di Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 59 berbunyi: Wahai Nabi, katakanlah
kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin,
Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allâh
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Pujiku sambil menyampaikan dakwah
pada Maria.

***

“Maryam nanti kamu yang tilawah ya!” Pinta Daffa

Maria diam seribu bahasa matanya tidak berkedip melihat Daffa.

“Maryam kamu mendengarkanku?” Tanya Daffa kembali.

“David eh maaf maksudnya Daffa. A-aaku lagi PMS maaf ya.” Jawab maria gugup.

“Ya sudah nanti biar saya saja yang tilawah.” Balas Daffa.

Pembawa acara memulai kegitan acara bakti sosial. Sesi acara yang dinanti Maria
tiba yaitu pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Daffa.

“Ini bukan ayat suci tapi ayat cinta” Ungkap Maria lirih. Hatinya tengah berbunga-bunga.

“Ayat cinta? Haha mending salat Kak biar cintanya datang.” Ejek salah satu anak panti.

Sepenggal cerita pertama kali Maria berbincang dengan Daffa membuatku


tersenyum. Apalagi saat Maria mencoba meniru melantunkan ayat pertama surah Ar-
Rahman yang didengarnya dari Daffa.
“Untung saja lagi PMS jadi Daffa gak tahu kalo aku gak bisa ngaji dan lupa cara salat.”
Tutur Maria seraya merebahkan dirinya di atas kasur.

“Kalo gitu ayo belajar salat! Jangan menolak.” Tanganku menarik paksa Maria agar
bangun dan mulai mengajarinya cara mengerjakan rukun Islam ke dua yaitu salat.

Baru seminggu Maria sudah bisa mengerjakan salat wajib lengkap lima waktu
meskipun terkadang aku dan Emak harus rajin membujuknya agak tidak menunda-nunda
waktu salat. Selepas magrib seperti biasa anak kecil akan berkumpul di rumahku untuk
mengaji. Dari bilik pintu kamar kudapati Maria tengah mengintip kami.

“Maria gabung sini!” Tawarku.

“Gak ah malu. Soalnya aku gak bisa baca Qur’an” Tolak Maria.

“Nanti disuruh tilawah sama Daffa masa alasannya halangan lagi? ” Godaku pada Maria.

“Huft iya bawel. By the way berapa juz yang sudah kau hafal?” Tanya Maria.

“Alhamdulillah baru lima juz. Ayo sekarang kamu mulai belajar mengaji.” Ucapku.

1 Mei hari kelulusan tingkat SMA. Allah adalah penulis scenario terbaik. Maria
dan aku sama-sama lulus di universitas yang sama melalui jalur undangan. Rupanya
sewaktu ia mendaftar Bik Ana menyuruh Maria memilih universitas Rafflesia sebagai
pilihan kedua.

‘Tapi jika kami berdua kuliah secara bersamaan maka itu menambah pengeluaran Emak.
Lebih baik aku bekerja dahulu sekaligus membantu kuliah Maria.’ Gumanku.

“Maryam ini ada beasiswa kuliah ke Yaman dari kementerian agama syarat utamanya
hafal minimum 2 juz sama tes kemampuan Bahasa Arab. Sekolah merekomendasikan
kamu untuk tes di Jakarta tanggal 5 Mei nanti. Ini ada juga beasiswa bidikmisi jika kamu
mau kuliah di Indonesia.” Suara wali kelasku memecahkan lamunanku.

Fabiayyi’aalaa’irobbikumaa tukadzdziba (maka nikmat Tuhanmu yang manakah


kamu dustakan?) Alhamdulillah baru saja diriku bingung masalah biaya, Allah langsung
memberikan jalan. Akupun segera mencari warnet terdekat untuk mengurus beasiswa.
“Maryam ini berkas beasiswa bidikmisi kamu kan? Kok jadi namaku? Lah ini ada surat
rekomendasi kuliah ke Yaman? Punya siapa?. Tanya Maria mengerinyitkan dahinya.

“Aku mengurus Beasiswa bidik misi itu untukmu. Iya alhamdulillah sekolah memberikan
rekomendasi untukku. Tapi aku tidak bisa ikut tes karena belum ada ongkos ke Jakarta.”

“Bus Bengkulu ke Jakarta itu sekitar tiga hari jadi kamu harus pergi besok. Ini ambil
tabunganku. Pokoknya kamu harus tes!” Ucap Maria mengambil uang di dompetnya.

Dengan izin Allah serta do’a restu Emak dan Maria, akupun berangkat ke Jakarta.
Saat tes semua berjalan lancar. Hingga pengumuman tiba yang menyatakan diriku lolos
mendapatkan beasiswa kuliah S1 di Yaman.

“Maryam aku sangat bangga padamu. Bisakah aku menjadi manjadi mujahid Al-qur’an
seperti kamu dan Daffa?” Tanya Maria dengan serius.

“Tentu bisa. Allah telah memberi tahu kemudahan menghafal Al-Qur’an dalam surah Al-
Qomar ayat 15 yang artinya sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk dihafal
adakah orang yang mau mengambil pelajarannya.” Maryam sesungguhnya berjihad itu
terletak pada keikhlasanmu. Sekarang tanyakan pada dirimu apakah perubahanmu karena
Allah atau hanya karena menarik perhatian Daffa?” Jawabku balik bertanya.

“Kau benar Maryam. Ayat cinta itu bukan dari Daffa tapi dari kasih sayang Allah. Aku
akan mencoba melupakan dia dan akan fokus pada perbaikan diri.“ Jawab Maria.

Dinginnya malam merusuk hingga ke tulang membuatku terbangun. Di sudut


kamar ku melihat Maria tengah salat tahajud. Do’a Maria terdengar samar-samar dari
runguku.

“Maafin Maria Ya Allah karena sudah Jauh dari Allah selama ini. Terima kasih telah
menitipkan Kakak yang sholehah dan ibu penyabar seperti Emak. Permudahkanlah
hambamu untuk menjadi mujahid Al-qu’an. Aamiin.”

Sebelum berangkat ke Yaman, Maria meminta diriku untuk hadir dalam pidato
sambutannya sebagai ketua taman baca Al-Qur’an yang didirikannya.
“Tanpa Al-Qur’an tentu hidup kita akan penuh kebingungan. Untuk itu kita perlu
menciptakan generasi Qur’ani di zaman modern ini. Generasi Qurani adalah generasi
yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pendoman hidup, meyakini kebenaran Al-Qur’an
serta memahami dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan memulai mengajarkan metode pembelajaran Islam serta
mengenalkan Al-Qur’an sejak dini. Inilah tujuan berdirinya taman baca Al-Qur’an ini.“

Pidato Maria disambut meriah para tamu undangan. Tanpa ku sadari Daffa
ternyata hadir juga. Setelah turun dari podium, teman kecilku itu mencegat langkah
Maria.

“Selamat ya Maryam. Semoga sukses terus.” Sapa Daffa.

“ Aku Maria saudara kembar Maryam. Maaf jika aku telah berpura-pura menjadi
Maryam.” Ungkap Maria lalu langsung pergi meninggalkan Daffa.

Aku mulai menceritakan awal mula Maria ingin merubah dirinya menjadi diriku
karena kagum terhadap Daffa. Syukurlah Daffa mengerti dan tidak marah pada Maria.
Ayat suci yang Maria dengar melalui lantunan dari Daffa telah menghantarkannya
menemukan ayat cinta sesungguhnya, yang manjadikan Maria sebagai sang mujahid Al-
Qur’an.

Empat tahun berlalu. Setelah kuliah di Yaman usai, aku mendapat pekerjaan
menjadi dosen di salah satu Universitas Islam di Indonesia. Sedangkan Maria ia telah
menikah dengan Daffa merekapun tengah sibuk membangun sebuah pesantren. Dimasa
tuanya Emak membuka usaha kue dan menyibukkan diri beribadah. Semuanya hidup
bahagia bersama Al-Qur’an tentunya semua yang terjadi atas izin Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah (Al-Quran) menegakkan sholat


dan menafkakan sebagian rezeki yang Allah berikan baik secara diam-diam maupun
terang-terangan , mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

(Q.S Fathir:29)

Biodata penulis:
Chindy Yulia Permatasari lahir Bengkulu, 15 Juli 1999. Merupakan anak bungsu dari
Bapak Rachmadiyanto (ALM) dan Ibu Yuliastiana. Mengawali dunia tulisnya di bulan
oktober 2015. Meski baru pemula 8 karya telah di terbitkan secara antalogi
Alhamdulillah. Saat ini masih besekolah di MAN 2 Kota Bengkulu. Alamat rumah: Jln.
Bumi ayu 4 RT. 4 RW. 2. Bisa dihubungi via hp: 089507660566, Email :
Chindy.cyp@gmail.com Facebook: di Chindy Yulia Permatasari, Blog:
catatanpenuliskecil.blogspot.com, Instagram: Chindyyulia.permatasari.