Anda di halaman 1dari 19

Perbedaan ED PSAK 73 dengan PSAK 30 dan Dampak

terhadap Perusahaan

Disusun oleh:

Firdha Amatul Azizah 041711333053

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Saya
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Sewa sesuai
dengan PSAK 30.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah imbalan kerja ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Bandung, September 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................................................1
BAB I..........................................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................................3
1.1 Latar Belakang...........................................................................................................................3
1.2 Rumusan Makalah.....................................................................................................................3
1.3 Manfaat dan Tujuan Makalah..................................................................................................3
1.4 Ruang Lingkup Makalah..........................................................................................................4
BAB II........................................................................................................................................................5
LANDASAN TEORI.................................................................................................................................5
2.1 Pengertian Sewa................................................................................................................................5
2.2 Klasifikasi Sewa..................................................................................................................................5
2.2.1 Sewa Operasi.............................................................................................................................6
2.2.2 Sewa Pembiayaan.....................................................................................................................8
2.3 Transaksi Jual dan Sewa Balik...............................................................................................12
2.4 Perbedaan ED PSAK 73 dengan PSAK 30..........................................................................................14
BAB III.....................................................................................................................................................16
PEMBAHASAN.......................................................................................................................................16
3.1 Perkembangan PSAK: Sewa.......................................................................................................16
3.2 Dampak Perubahan PSAK 30 Revisi 2011 Terhadap Perusahaan.......................................16
BAB IV.....................................................................................................................................................18
PENUTUP................................................................................................................................................18
4.1 Kesimpulan..............................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................................19

2
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sewa adalah suatu perjanjian dimana pihak yang menyewakan (lessor) memberikan hak
kepada penyewa atau lessee untuk menggunakan suatu asset selama periode waktu yang
disepakati dengan biaya sewa.
Berdasarkan substansi ekonomi, sewa beragam mulai dari kasus yang tidak lebih dari
perjanjian sewa operasi (misalnya lessee menyewa gedung pertemuan dari lessor selama
satu bulan) hingga kasus yang berujung pada pembelian fasilitas pembiayaan (misalnya
lessee membeli hak untuk menggunakan mesin fotocopy selama umur masa manfaatnya,
namun membayar penggunaannya melalui pembayaran berkala).
Sesuai dengan prinsip ‘mengutamakan substansi daripada bentuk’, setiap sewa harus
ditentukan substansi ekonominya dan mendapat perlakuan akuntansi yang tepat. Di
Indonesia, standar yang mengatur tentang perlakuan akuntansi untuk sewa adalah PSAK 30.
1.2 Rumusan Makalah
 Apa yang dimaksud dengan Sewa?
 Apa saja klasifikasidari Sewa?
 Apa perbedaan ED PSAK 73 dengan PSAK 30 ?
 Bagaimana akuntansi untuk lessee ?
 Bagaimana akuntansi untuk Lessor ?
1.3 Manfaat dan Tujuan Makalah
Dengan rumusan masalah yang kelompok kami angkat, kami bertujuan untuk membahas
mengenai PSAK 30. Dengan demikian kelompok kami berharap dapat:
 Mengetahui dan memahami pengertian Sewa
 Mengetahui dan memahami klasifikasiSewa
 Mengetahui perbedaan ED PSAK 73 dengan PSAK 30
 Mengetahui akuntansi untuk lessee
 Mengetahui akuntansi untuk Lessor
1.4 Ruang Lingkup Makalah
Makalah yang kami sajikan berisi pembahasan mengenai akuntansi topik khusus: Sewa
PSAK 30 Revisi 2011.

BAB II

LANDASAN TEORI

3
2.1 Pengertian Sewa

Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan kepada lessee hak untuk
menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya, lessee
melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.
Suatu perjanjian atau komitmen sewa dapat memuat suatu persyaratan untuk
menyesuaikan pembayaran sewa karena perubahan dalam konstruksi atau biaya akuisisi
properti sewaan atau karena perubahan dalam ukuran biaya atau nilai lainnya, seperti tingkat
harga umum, atau biaya pembiayaan yang dikeluarkan lessor. Perubahan ini terjadi selama
periode antara awal sewa dan awal masa sewa. Dalam hal demikian, untuk tujuan Pernyataan
ini, pengaruh berbagai perubahan tersebut dianggap telah terjadi pada awal sewa.
Definisi sewa termasuk kontrak untuk menyewa aset dengan suatu persyaratan yang
memberikan opsi kepada penyewa untuk memperoleh hak milik atas aset dengan memenuhi
ketentuan yang disepakati. Kontrak ini sering disebut sebagai kontrak sewa beli.

2.2 Klasifikasi Sewa

Untuk tujuan akuntansi, PSAK 30 membagi sewa ke dalam dua kategori utama :

a. Sewa operasi adalah yang tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan
manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset

b. Sewa pembiayaan yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat dialihkan, dapat
juga tidak dialihkan.
Klasifikasi sewa yang digunakan dalam PSAK 30 ini di dasarkan atas sejauh mana risiko
dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan asset sewaan berada pada lessor atau lessee.
Klasifikasi sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan pada substansi
transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya. Indikator dalam menentukan klasifikasi sewa
ini sendiri terdiri atas:
a. Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa
b. Lessee mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah
dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga
pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi memang akan dilaksanakan

4
c. Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aset meskipun hak milik
tidak dialihkan
d. Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara
substansial mendekati nilai wajar aset sewaan
e. Aset sewaan bersifat khusus dimana hanya lessee yang dapat menggunakannya
tanpa perlu modifikasi secara material
PSAK 30 lebih jauh menyebutkan indicator dari situasi secara individual atau
gabungan dapat juga menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai pembiayaan
adalah :
a. Jika lessee dapat membatalkan sewa maka rugi lessor yang terkait dengan
pembatalan ditanggung oleh lessee
b. Laba atau rugi dari fluktuasi nilai wajar nilai residu dibebankan kepada lessee
c. Lessee memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa pada periode kedua dengan
nilai rental yang secara substansial lebih rendah dari pasar rental

2.2.1 Sewa Operasi

Perlakuan Akuntansi oleh Lessee

Dalam pembukuan lessee PSAK 30 mensyaratkan bahwa pembayaran sewa diakui sebagai
beban sewa dalam laporan laba rugi komprehensif.

PSAK 30 lebih lanjut mensyaratkan bahwa beban ke laporan laba rugi komprehensif diakui
dengan dasar garis lurus selama masa sewa kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih
mencerminkan pola waktu dari manfaat asset yang dinikmati pengguna. Dengan demikian,
jumlah yang diakui bisa tidak sama dengan jumlah yang dibayarkan untuk setiap periode
periode akuntansi. Hal ini demi menjamin prinsip penandingan yang memadai.

Perlakuan Akuntansi oleh Lessor

Bagi lessor, asset yang dimiliki oleh sewa operasi harus tetap dicatat dalam pembukuan
sebagai asset tetap. Oleh karena itu asset ini harus diperlakukan sesuai dengan PSAK 1 dan
kebijakan akuntansi (misalnya metode penyusuta) serupa yang digunakan iuntuk
memperhitungkan asset tetap lain yang sifatnya sama.

5
Pembayaran sewa yang diterima harus diakui sebagai pendapatan sewa dalam laporan laba
rugi komprehensif. PSAK 30 mensyaratkan bahwa pendapatan sewa diakui dengan dasar
garis lurus selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain byang lebih
mencerminkan pola waktu dimana manfaat penggunaan asset sewaan menurun.

Untuk biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses negosiasi dan
pengaturan sewa operasi, PSAK 30 mensyaratkan bahwa biaya itu ditambahkan kejumlah
tercatat dari asset sewaan dan diakui sebagai beban selama masa sewa dengan dasar yang
sama dengan pendekatan sewa.

Pengungkapan dalam Laporan Keuangan Lessee

Dalam sewa operasi, PSAK 30 mensyaratkan bahwa lessee minimal mengungkapan


komitmen modal terkait pembayaran sewa di masa depan, beban sewa yang dibebankan ke
laporan laba rugi, dan penjelasan umum tentang perjanjian sewa. Secara khusus, paragraph 3
PSAK 30 mensyaratkan pengungkapan berikut.

a. Jumlah pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi yang tidak dapat
dibatalkan untuk setiap periode berikut.
1. Sampai dengan satu tahun
2. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun
3. Lebih dari lima tahun
b. Jumlah pembayaran sewa-lanjut minimum di masa depan, yang dihitung pada tanggal
pelaporan, yang diperkirakan akan diterima dalam kontrak sewa lanjut yang tidak dapat
dibatalkan.
c. Pembayaran sewa dan sewa lanjut yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan,
dengan pengungkapan terpisah untuk masing masing jumlah pembayaran sewa minimum,
rental kontinjen, dan pembayaran sewa lanjut.
d. Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessee yang material, yang meliputi namun tidak
terbatas dalam hal hal berikut.
1. Dasar penentuan utang rental kontinjen.
2. Ada atau tidaknya klausl klausul yang berkaitan dengan opsi perpanjangan atau opsi
pembelian dan eskalasi beserta persyaratannya.
3. Pembatasan pembatasan yang ditetapkan dalam perjanjian sewa seperti pembatasan
dividen, utang tambahan, dan sewa lanjutan.

Pengungkapan dalam Laporan Keuangan Lessor

6
Dalam sewa operasi, PSAK 30 mensyaratkan bahwa lessor minimal mengungkapkan
perincian asset sewaan dan penjelasan umum tentang perjanjian sewa.

Secara khusus paragraph (lima enam) PSAK 30 mensyaratkan pengungkapan berikut.

a. Jumlah pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi yang tidak dapat
dibatalkan untuk setiap periode berikut.
1. Sampai dengan satu tahun
2. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun
3. Lebih dari lima tahun
b. Jumlah rental kontinjen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan
c. Penjelasan umum isi perjanjian lessor yang material

2.2.2 Sewa Pembiayaan


Dalam sewa pembiayaan, prosedur akuntansinya adalah sebagai berikut :

a. Asset sewaan diperlakukan seolah olah asset itu telah dijual kepada lessee. Asset itupun
dicatat sebagai asset tetap dalam pembukuan lessee.
b. Fasilitas pembiayaan terkait dicatat sebagai liabilitas (utang sewa) dalam pembukuan
lessee, dan sebagai asset (piutang sewa) dalam pembukuan lessor.
c. Pembayaran sewa berkala dihitung mencakup beban atau pendapatan keuangan dan
pelunasan kewajiban. Oleh karenanya, pembayaran sewa berkala harus dipisahkan
menjadi bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan
kewajiban kemudian dicatat sesuai dengan pembukuan lessee maupun lessor.

Perlakuan Akuntansi oleh Lessee

PSAK 30 mensyaratkan bahwa asset sewa pembiayaan dicatat sebagai asset tetap dalam
pembukuan lessee. Jumlah yang dikapitalisasi adalah nilai wajar asset pada awal masa sewa
atau nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar.

Tingkat diskonto yang digunakan dalam perhitungan nilai kini dari pembayaran sewa
minimum adalah tingkat bunga implicit dalam sewa. Namun, jika tingkat bunga implicit
tidak dapat ditentukan secara praktis, maka tingkat bunga pinjaman incremental lessee
digunakan sebagai factor diskonto.

7
Aset sewaan dalam sewa pembiayaan yang dicatat sebagai asset tetap dalam pembukuan
lessee harus diperlakukan sesuai dengan PSAK 16 dan kebijakan akuntansi serupa yang
digunakan untuk memperhitungkan asset tetap lain yang sifatnya sama.

Aset sewaan harus disusutkan selama umur manfaatnya jika lessee akan mendapatkan
hak kepemilikan pada akhir masa sewa. Jika tidak, asset itu harus disusutkan secara penuh
selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode masa sewa atau umur manfaatnya.

PSAK 30 juga mensyaratkan bahwa lessee mencatat kewajiban yang timbul dari sewa
pembiayaan dalam jumlah yang sama dengan asset sewaan.

Untuk pembayaran sewa berkala, PSAK 30 mensyaratkan bahwa pembayaran harus


dipisahkan men jadi bagian yang merupakan beban keuangan (beban bunga) dan bagian yang
merupakan pelunasan liabilitas.

Pada umumnya, beban bungan harus dialokasikan menggunakan ‘metode suku bunga
efektif’ agar menghasilkan suku bunga periodic konstan untuk sisa liabilitas pada setiap
periode selama masa sewa. Dalam praktiknya, beberapa bentuk aproksimasi (misalnya
‘metode jumlah-angaka-tahun’ atau ‘metode garis lurus) dapat pula digunakan.

Dengan demikian, dalam sewa pembiayaan, lessee akan mencatat asset sewaan dan
liabilitas terkait seolah-olah asset itu dibeli dengan fasilitas pembiayaan. Pembayaran sewa
berkala harus diperhitungkan sebagai pembayaran jumlah pokok dalam utang sewa dan juga
pembayaran beban bunga. Dapat dilihat bahwa dalam sewa pembiayaan, lessee mencatat dua
unsur beban terkait sewa pembiayaan: beban bunga dan beban penyusutan.

Perlakuan Akuntansi oleh Lessor

Untuk lessor, asset sewa pembiayaan pada dasarnya dijual kepada lessee. Oleh
karenanya, PSAK 30 menyatakan bahwa asset yang dimiliki dalam sewa pembiayaan harus
dicatat dalam pembukuan lessor bukan sebagai asset tetap, melainkan sebagai piutang.

PSAK 30 lebih lanjut mensyaratkan bahwa piutang itu disajikan dalam laporan posisi keuangan
sebesar jumlah yang sama dengan ‘investasi sewa neto’, yang didefinisikan dalam paragraph 4
sebagai ‘investasi sewa bruto= penghasilan biaya tangguhan’.

8
Dalam praktiknya, akun piutang sewa biasanya dicatat sebesar jumlah yang sama dengan
investasi sewa bruto, yang didefinisikan dalam paragraph 4 sebagai ‘penjumlahan agregat dari
pembayaran sewa minimum yang akan diterima lessor dan nilai residu yang tidak dijamin yang
menjadi hak lessor’. Penghasilan pembiayaan tangguhan (yang didefinisikan dalam paragraph 4
sebagai ‘selisih antara investasi sewa bruto dan nilai kininya’) dicatat dan diperhitungkan secara
terpisah. Diakhir setiap periode, akun penghasilan pembiayaan tangguhan dikurangkan dari akun
piutang sewa untuk menghasilkan jumlah investasi sewa neto.

PSAK 30 menyatakan bahwa pengakuan penghasilan pembiayaan didasarkan pada pola


yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodic yang konstan atas investasi neto lessor
dalam sewa pembiayaan. Untuk mencerminkan tingkat hasil periodic konstan, metode ‘suku
bunga efektif’ harus digunakan. Dengan demikian, dalam sewa pembiayaan lessor harus:

1. Menentukan investasi bruto dan nilai kininya untuk menghitung nilai tercatat piutang
sewa (investasi bruto) dan jumlah pendapatan bunga yang diakui selama masa sewa
(selisih antara investasi bruto dan nilai kininya); dan
2. Membuat schedule amortisasi menentukan jumlah pendapatan bungan yang diakui
disetiap periode. Perlu diperhatikan bahwa dari sudut pandang lessor, pengaruh
penghasilan dari sewa pembiayaan hanya berupa penghasilan pembiayaan yang diakui
disetiap periode. Tidak ada beban penyusutan karena tidak ada asset tetap yang dicatat.

Pengungkapan dalam Laporan Keuangan Lessee

Dalam sewa pembiayaan, PSAK 30 mensyaratakan lessee minimal mengungkapkan asset


sewaan, analisis liabilitas sewa, dan penjelasan umum tentang perjanjian sewa. Secara khusus,
paragraph 31 PSAK 30 mensyaratkan pengungkapan berikut.

a. Jumlah neto nilai tercatat untuk setiap kelompok asset pada tanggal pelaporan
b. Rekonsiliasi antara pembayaran sewa minimum pada tanggal pelaporan dengan nilai
kininya.
c. Jumlah agregat pembayaran sewa minimum pada tanggal pelaporan dan nilai kininya
untuk setiap periode berikut
1. Sampai dengan satu tahun
2. Lebih dari satu tahun sampai lima tahun
3. Lebih dari lima tahun
d. Rental kontinjen yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan

9
e. Total perkiraan penerimaan pembayaran sewa lanjut minimum di masa depan dari
kontrak sewa lanjut yang tidak dapat dibatalkan pada tanggal pelaporan
f. Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessee yang material yang meliputi namun tidak
terbatas pada hal hal berikut.
1. Dasar penentuan utang rental kontinjen.
2. Ada atau tidaknya klausl klausul yang berkaitan dengan opsi perpanjangan atau
opsi pembelian dan eskalasi beserta persyaratannya.
3. Pembatasan pembatasan yang ditetapkan dalam perjanjian sewa seperti
pembatasan dividen, utang tambahan, dan sewa lanjutan.

Lebih lanjut, paragraph 23 tidak memperbolehkan saling hapus asset sewaan terhadap
debilitas sewa dalam laporan posisi keuangan. Selain itu, jika pembedaan menjadi lancar/
tidak lancar disertakan dalam laporan posisi keuangan, pembedaan yang sama harus
disertakan untuk liabilitas sewa.

Pengungkapan dalam Laporan Keuangan Lessor

PSAK 30 mensyaratkan bahwa lessor minimal mengungkapkan analisis piutang sewa dan
penjelasan umum tentang perjanjian sewa secara khusus, paragraph 4lima PSAK 30
mensyaratkan pengungkapan berikut.

a. Rekonsiliasi antara investasi sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa
minimum pada tanggal pelaporan.
b. Jumlah investasi secara bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa minimum pada
tanggal pelaporan untuk setiap periode berikut.
1. Sampai dengan satu tahun
2. Satu tahun sampai dengan lima tahun
3. Lebih dari lima tahun
c. Penghasilan pembiayaan tangguhan
d. Nilai residu yang tidak dijamin yang diakru sebagai laba lessor
e. Akumulasi penyisihan piutang tak tertagih atas pembayaran sewa minimum
f. Rental kontinjen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan
g. Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessor yang material.

2.3 Transaksi Jual dan Sewa Balik

Transaksi jual dan sewa balik adalah transaksi yang didalamnya pemilik suatu asset
menjual asset itu kepada pihak lain dan segera menyewanya kembali.

10
Pada praktiknya, transaksi penjualan dan penyewaan kembali biasanya dilakukan oleh
lessor untuk mengatasi masalah arus kas. Lessee menerima harga borongan untuk hasil
penjualan pada saat asset itu dijual, namun hanya perlu membayar biaya rental secara
periodic dalam kontrak sewa, disamping memegang hak untuk menggunakan asset yang
sama.

Persoalan akuntansi utama yang berhubungan dengan transaksi jual dan sewa balik
muncul dalam pembukuan lessee. Terdapat dua permasalahan utama antara lain:

1. Apabila harga jual ditetapkan pada nilai pasar wajar bagaimana keuntungan maupun
kerugian transaksi penjualan harus diperhitungkan
a. Sewa Operasi
Jika suatu transaksi jual dan sewa balik tidak mengembalikan resiko dan manfaat
yang terkait dengan kepemilikan asset kepada lessee, maka transaksi penjualan itu
pada dasarnya merupakan transaksi penjualan.
Sehubungan dengan hal itu, PSAK 30 menyatakan bahwa semua laba atau rugi
transaksi penjualan itu harus diakui segera.
b. Sewa Pembiayaan
Jika suatu transaksi jual dan sewa balik mengalihkan semua resiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan asset sewaan kepada lessee, maka pada dasarnya tidak ada
transaksi penjualan yang terjadi.
Sebagaimana diatur dalam PSAK 30, jika transaksi jual dan sewa balik merupakan
sewa pembiayaan, maka selisih lebih hasil penjualan dari nilai tercatat (nilai buku)
tidak dapat diakui segera sebagai pendapatan dalam laporan laba rugi lessee.
Kelebihan itu justru harus ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa.
2. Apabila harga jual sengaja ditetapkan lebih rendah atau lebih tinggi dari nilai pasar wajar
guna mengakomodasi biaya rental yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar,
bagaimana laba atau rugi pada penjualan awal dan sewa selanjutnya atau penyewaan
asset harus diperhitungkan.
a. Sewa Operasi
Jika harga jual sengaja ditetapkan diatas nilai wajar guna mengakomodasi biaya rental
yang lebih rendah atau lebih tinggi dari harga pasar, PSAK 30 menyatakan bahwa
kelebihan atas nilai wajar harus ditangguhkan dan diamortisasi selama periode
penggunaan asset.
Dengan demikian, dalam kasus semacam itu laba atau rugi yang timbul dari transaksi
penjualan harus mencakup kelebihan harga jual atas nilai wajar harus ditangguhkan

11
dan diamortisasi dan selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat asset harus diakui
segera. Dilain pihak jika harga jual sengaja ditetapkan dibawah nilai wajar guna
mengakomodasi, biaya rental yang lebih rendah dari harga pasar PSAK 30
menyatakan bahwa semua bentuk laba atau rugi harus ditangguhkan dan diamortisasi
secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan asset ]. Jiks
rugi tidak dikompensasi dalam sewa di masa depan dibawah nilai pasar, maka rugi itu
harus diakui segera. Umumnya situasi ini jarang terjadi dan terbatas pada kasus kasus
dimana perbedaan antara harga jual dan nilai wajar tidak material akibat
ketidaksempurnaan pasar.
b. Sewa Pembiayaan
Jika transaksi jual dan sewa balik merupakan sewa pembiayaan dan khususnya
apabila harga jual sengaja ditetapkan maka transaksi tersebut merupakan alat bagi
lessor untuk memberikan pembiayaan bagi lessee dengan asset sebagai jaminan. Oleh
kerana itu dalam kasus ini selisih antara hasil penjualan dan nilai tercatat
ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa. Namu jika terdapat penurunan nilai
yang tidak bersifat sementara maka nilai tercatat asset itu harus diturunkan pada nilai
yang dapat dipulihkannya sesuai dengan ketentuan PSAK 16.

2.4 Perbedaan ED PSAK 73 dengan PSAK 30

Pada tanggal 26 April 2017, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan


Akuntan Indonesia (DSAK IAI) telah mengesahkan Draf Eksposur (DE)
PSAK 73: Sewa yang merupakan hasil adopsi dari IFRS 16 Leases efektif
per 1 Januari 2019.

Model akuntansi sewa yang sebelumnya diatur dalam PSAK 30: Sewa
mensyaratkan penyewa dan pesewa untuk mengklasifikasikan sewanya
sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi dan mencatat kedua jenis
sewa tersebut secara berbeda. Model tersebut dikritisi tidak mampu
memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan karena tidak selalu
memberikan representasi yang tepat atas transaksi penyewaan.
Khususnya, model tersebut tidak mensyaratkan penyewa untuk
mengakui aset dan liabilitas yang timbul dari sewa operasi.

12
DE PSAK 73: Sewa menetapkan prinsip pengakuan, pengukuran,
penyajian, dan pengungkapan atas sewa dengan memperkenalkan model
akuntansi tunggal khususnya untuk penyewa (lessee ). Penyewa
disyaratkan untuk mengakui aset hak-guna (right-of-use assets ) dan
liabilitas sewa. Terdapat 2 pengecualian opsional dalam pengakuan aset
dan liabilitas sewa, yakni untuk: (i) sewa jangka-pendek dan (ii) sewa
yang aset pendasarnya (underlying assets ) bernilai-rendah.

DE PSAK 73: Sewa secara substansial meneruskan persyaratan


akuntansi sewa dalam PSAK 30: Sewa untuk pesewa ( lessor ). Dengan
demikian, pesewa tetap mengklasifikasikan sewanya sebagai sewa
operasi atau sewa pembiayaan dan mencatat kedua jenis sewa tersebut
secara berbeda. Akan tetapi, pesewa disyaratkan untuk memberikan
pengungkapan tambahan tentang eksposur risiko pesewa khususnya
tentang risiko nilai residual.

DE PSAK 73: Sewa akan mencabut: (a) PSAK 30: Sewa; (b) ISAK 8:
Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa; (c) ISAK
23: Sewa Operasi–Insentif; (d) ISAK 24: Evaluasi Substansi Beberapa
Transaksi yang Melibatkan Suatu Bentuk Legal Sewa; dan (e) ISAK 25:
Hak atas Tanah . ISAK 25 dicabut karena IFRS 16 telah memberikan
klarifikasi apakah kontrak tertentu yang tidak mengalihkan hak legal atas
tanah merupakan transaksi sewa atau transaksi pembelian tanah. Hal ini
relevan dalam konteks perlakuan akuntansi untuk hak atas tanah di
Indonesia yang telah ada dalam ISAK 25. Untuk mendorong program
konvergensi ke IFRS Standards, DSAK IAI mengakomodasi
pengklarifikasian dalam IFRS 16 tersebut dalam Dasar Kesimpulan (DK)
DE PSAK 73 paragraf DK01–DK10 dan mengusulkan untuk mencabut ISAK
25.

DE PSAK 73: Sewa diusulkan untuk berlaku efektif per 1 Januari 2020
dengan opsi penerapan dini diperkenankan untuk entitas yang juga telah
menerapkan DE PSAK 72: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan.
13
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Perkembangan PSAK: Sewa

14
3.2 Dampak Perubahan PSAK 30 Revisi 2011 Terhadap Perusahaan

Salah satu yang dibahas dalam PSAK adalah mengenai sewa, tepatnya pada PSAK
30. Dalam PSAK 30 ini terakhir kali dilakukan revisi yaitu pada tahun 2011, yang
sebelumnya PSAK yang berlaku adalah PSAK 30 tahun 2007. Namun revisi yang terjadi
pada tahun 2011 ini tidak banyak mengubah isi dari PSAK 30, seperti yang dijelaskan dalam
naskah Exposure Draft (ED) revisi PSAK 30 (2011) ada dua revisi perihal sewa tanah dan
bangunan, serta perihal aset dalam sewa pembiayaan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki
untuk di jual.

Dalam penelitian Iswati (2012) mengungkapkan bahwa Pada prinsipnya, PSAK 30


revisi 2007 lebih fokus pada substansi, perusahaan bisa menulis apapun, tetapi sebagai

15
auditor harus bisa melihat substansi, jadi apapun yang tercatat dilihat substansinya. Pada
intinya tidak ada perbedaan yang signifikan PSAK 30 sekarang dengan yang sebelumnya.
Hanya saja kalau dahulu lebih menitik beratkan pada rule, persyaratan legalformal, namun
sekarang lebih menitik-beratkan pada substansi, bentuknya bisa saja berbeda-beda, bisa KSO
dan sebagainya, tetapi dilihat apa substansinya, jadi secara prinsip kembali ke niat
perusahaan.

Dalam penelitian Harimurti (2013) menyebutkan menurut PSAK 30 (revisi 2011),


sewa merupakan suatu perjanjian dimana lessor memberikan lessee hak untuk menggunakan
suatu aset selama periode waktu yang disepakati dan sebagai imbalannya, lessee melakukan
pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor. Setiap transaksi lising sekurang-
kurangnya melibatkan dua pihak yang berkepentingan, yaitu lessor sebagai entitas pembiaya
atau pihak yang memberikan jasa pembiayaan kepada pihak lessee dalam bentuk barang
mdal, dan lessee sebagai entitas atau pihak yang memperoleh sewa atau pembiayaan dalam
bentuk barang modal dari lessor.

Menurut PSAK 30 (revisi 2011) paragraf 10, sebagaimana dijelaskan dalam ISAK 24
(2011), klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan pada
substansi transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya.

Perubahan dalam PSAK 30 (2007) yang semula masih bersifat rule based dengan
adanya program konvergensi ini menjadi principle based, perubahan klasifikasi sewa yaitu
operating lease dan finance lease. Dampak perubahan ini menyebabkan perubahan perlakuan
akuntansi sewa pada entitas, dan apabila entitas tidak tanggap akan perubahan ini maka akan
berdampak pada hasil audit entitas, sehingga sangatlah penting untuk setiap entitas mulai
peduli dan cepat tanggap akan dampak konvergensi tersebut.

BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sewa adalah suatu perjanjian dimana pihak yang menyewakan (lessor) memberikan hak
kepada penyewa atau lessee untuk menggunakan suatu asset selama periode waktu yang
disepakati dengan biaya sewa.

16
Untuk tujuan akuntansi, PSAK 30 membagi sewa ke dalam dua kategori utama, yaitu
sewa operasi dan sewa pembiayaan. Sewa operasi adalah yang tidak mengalihkan secara
substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan asset. Sewa
pembiayaan yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait
dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat dialihkan, dapat juga tidak
dialihkan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuni, E. T. (2012). Panduan Praktis Standar Akuntansi Keuangan. Manchester: Salemba


empat.

PSAK 30 Revisi 2011


Martani, Dwi. (2014). Exposure Draft Sewa revisi 2011.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-30.pdf (diakses pada 4
September 2017)

18