Anda di halaman 1dari 14

HADITS-HADITS EKONOMI

“KEUANGAN NEGARA “
Dosen Pengampu: Ninik Mulyani S. E. I

Disusun oleh:

1. Sunandar
2. Winda Sri Lestari

Program Studi : Hukum Ekonomi Syari’ah (HES)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AS-SHIDIQIYYAH

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

JL.LINTAS TIMUR, DESA LUBUK SEBERUK, KEC.LEMPUING


JAYA,KAB.OKI

SUMATERA SELATAN

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat allah SWT. Tuhan yang maha esa atas segala
rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikiran nya.

Pembahasan makalah ini berfokus pada Hadits-Hadits Ekonomi yang


bertema Keuangan Negara dan harapan kami semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pemakalah, untuk kedepan nya
untuk memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi yang
lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karna itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................... i

KATA PENGANTAR ...................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C. Tujuan ....................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Keuangan Negara .................................................................... 2


B. Hadits Tentang Keuangan Negara ............................................................ 3
C. Kontek Hadits Keuangan Negara .............................................................. 5
D. Pendapatan dan Penerimaan Negara ......................................................... 6

BAB III PENUTUP

A. Analisis...................................................................................................... 10
B. Kesimpulan ............................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam suatu negara tentu saja mempunyai hak dan kewajiban yang dapat
dijadikan milik negara ataupun kas yang berupa uang maupun barang baik dalam
penerimaan atau pendapatan suatu negara yang bertujuan untuk kesejahteraan
negara itu sendiri maupun untuk kesejahteraan warga negaranya. Dalam negara
Islam sumber-sumber pendapatan negara tidak dibebankan pada masyarakat
sepenuhnya. Karena dalam penerimaan ataupun pendapatan negara Islam
mengandalkan sumber daya alam dan potensi lainnya untuk mendapatkan
pemasukan seperti zakat, wakaf, jizyah, kharaj, ghanimah, fay’ dan lain
sebagainya yang sudah tercantum atau dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Hadits.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian Keuangan Negara?
2. Bagaimana Hadits Tentang Keuangan Negara?
3. Bagaimana Kontek Hadits Tentang Keuangan Negara?
4. Bagaimana Penerimaan Dan Pendapatan Suatu Negara?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk memaparkan atau menjelaskan pengertian keuangan negara.
2. Untuk mengetahui hadits tentang keuangan negara.
3. Untuk menganalisis kontek hadits tentang keuangan negara.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis penerimaan dan pendapatan suatu
negara.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Keuangan Negara


Keuangan negara berhubungan dengan penerimaan dan pengeluaran negara.1
keuangan negara juga merupakan semua hak dan kewajiban negara yang dapat
dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang
yang dapat dijadikan milik negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut. Dari sisi objek yang dimaksud dengan keuangan negara
meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang,
termasuk kebijakan-kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter, dan
pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa
uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dari sisi subjek yang dimaksud dengan
keuangan negara meliputi seluruh objek sebagaimana tersebut diatas yang dimiliki
negara, dan dikuasai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan
negara atau daerah, dan badan lainnya yang ada kaitannya dengan keuangan
negara. Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan
yang berkaitan dengan pengelolaan objek sebagaimana mulai dari perumusan
kebijakan dan pengambilan keputusan hingga pertanggung jawaban. Kemudian
dari sisi tujuan, keuangan negara meliputi seluruh kebijakan , kegiatan dan
hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan atau penguasaan objek
sebagaimana dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.2
Unsur-unsur politik keuangan bagi setiap negara adalah adanya suatu negara ,
penentuan kewajiban-kewajiban pubblik dan pajak-pajaknya oleh negara,
penggunaan biaya-biaya publik oleh negara, dan pengaturan sumber-sumber
pendapatan dan pembiayaan publik oleh negara demi mewujudkan tujuan-tujuan
umumnya. Secara umum keuangan negara mengurus masalah masalah keuangan
seperti penerimaan, pengeluaran, dan utang negara. Tidak hanya itu keuangan

1
Chaudri, sharif muhammad, sisitem ekonomo islam. hal:253
2
Harahap, isnaini dkk. hadits-hadits ekonomi. Hal:239

2
negara juga mengurus pengeluaran dan pendapatan pemerintah dalam hal yang
berhubungan dengan negara baik dalam administrasi dan pengawasan
keuangannya. Dalam pemerintahan islam keuangan negara juga bertujuan untuk
mensejahterakan warga negaranya atau masyarakatnya yang sumbernya diperoleh
dari sumber-sumber pendapatan yang sifatnya permanen dan sumber pendapatan
yang bersifat temporer. Sumber pendapatan permanen yaitu pendapatan baitul mal
yang dikumpulkan pada masa-masa tertentu dalam jangka waktu setahun seperti
zakat, kharaj, jizyah, dan ‘usyr. Sedangkan pendapatan temporer yaitu pendapatan
baitul mal yang diperoleh tidak berdasarkan masa-masa tertentu tetapi tergantung
pada keberadaan sumber pendapatan tersebut seperti ghonimah, wakaf, hadiah,
khafarat, dan sedekah yang sudah terdapat dalam Al-Quran dan Hadits.3

B. Teks Hadits Tentang Keuangan Negara


Adapun teks hadits yang terdapat dalam keungan negara merujuk pada
pendapatan negara yang terdiri dari zakat dan wakaf yaitu sebagai berikut:
1. Zakat
‫حد ثنا عبد هللا بن محمد المسند ي قا ل حد ثنا ابو روح الحرمي بن عمارة قا ل حد‬
‫ثنا شعبة عن واقد بن محمد قال سمعت ابي يحد ث عن ابن عمر ان رسول هللا صلى‬
‫هللا عليه وسلم قال امرت ان اقا تل الناس حتى يشهدوا ان ال اله اال هللا وان محمدا‬
‫رسول هللا ويقموا الصالة ويؤتوا الزكاة فاذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم واموا‬
.‫لهم اال بحق االسالم وحسابهم على هللا‬
Artinya: “telah menceritakan kepada kami abdullah bin muhmmad al
musnadi dia berkata, telah menceritakan kepada kami abu rauh syu’bah
dari waqid bin muhammad berkata: aku mendengar bapakku
menceritakan dari ibnu umar, bahwa rasulullah saw telah bersabda: ‘aku
diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi, tidak
ada tuhan kecuali allah dan bahwa sesungguhnya muhammad adalah
utusan allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan
yang demikian, maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka

3
Ibid. Hal:230

3
dariku kecuali dengan jalan yang sah haknya menurut islam dan
perhitungan mereka terserah pda allah.
‫حدثنا عبيد هللا بن موس قال اخبرنا حنظلة بن ابي سفيان عن عكرمة بن خالد عن‬
‫ابن عمر رضي هللا عنهما قال قال رسول هللا صلى اللهه عليه وسلم بني االسالم‬
‫على خمس شهادة ان ال اله اال هللا وان محمدا رسل هللا واقام الصالة وايتاء الزكاة‬
.‫والحج وصوم رمضان‬
Artinya: “telah menceritakan kepada kami abdullah bin musa dia berkata,
telah mengabarkan kepada kami hanzalah bin abu sufyan dari ‘ikrimah
dari ibnu umar berkata: rasulullah saw bersabda: ‘islam dibangun diatas
lima landasan persaksian tidak ada ilah selain allah dan sesunggunya
muhammad utusan allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji, dan
puasa ramadhan’.4
2. Wakaf
‫ اصاب عمر ارضا بخيرفا تى النبي صلى هللا‬:‫عن ابن عمر رضي هللا عنهما قال‬
‫ يارسول هللا اصبت ارضا بخيبر لم اصب مضاال قط‬:‫عليه وسلم يستا مر فيها فقال‬
‫ ان‬,‫ فقال له رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬.‫هو انفس عندي منه فما تامرني به‬
‫ انها التباع والتوهب‬,‫ وتصدقت بها فتصدق بها عمر‬.‫شءت حبست اصلها قال‬
‫والتورث وتصدق بها فى الفقراء وفى القربى وفى الرقاب وفى سبيل هللا وابن‬
‫السبيل والضيف الجناح على من وليها ان ياكل منها بالمعروف ويطعم غير متمول‬
.‫فيه‬
Artinya: “dari ibnu umar r.a berkata, bahwa sahabat umar r.a
memperoleh sebidang tanah d khaibar, kemudian menghadap kepada
rasulullah untuk mohon petunjuk. Umar berkata: ‘ya rasulullah saya
mendapatkan sebidang tanah di khaibar, saya belum pernah mendapatkan
harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perinthkan kepadaku?.
‘rasulullah bersabda: “bila kau suka, kau tahan tanah itu dan engkau
sedekahkan. Kmudian umar melakukan sedekah , tidak diual, tidak
diwarisi, dan tidak juga dihibahkan. Berkata ibnu umar: umar

4
Ibid. Hal: 230-231

4
menyedekahkan kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian,
sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang menguasai
tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang
baik dengan tidak bermaksud menumpuk harta” (muttafaq ‘alaih) susunan
matan tersebut menurut riwayatmuslim. Dalam riwayat al bukhari:beliau
sedekahkan pokoknya, tidak dijual dan tidak dihibahkan, tetapi diinfakkan
hasilnya.

C. Konteks Hadits Keuangan Negara


Sistem ekonomi telah ada sejak adanya umat manusia. Allah telah
menciptakan manusia sekaligus menurunkan petunjuk, termasuk petunjuk tentang
bagaimana cara nenperoleh pendapatan. Mengenai pendapatan, Allah telah
menggariskan secara tegas beberapa sumber primer yang boleh dipungut. Dalam
sistem ekonomi Islam, ada beberapa prinsip yang harus ditaati oleh pemerintah
dalam melaksanakan pemungutan pendapatan negara yaitu sebagai berikut:
1. Ada Nash yang Memerintahkannya.
Maksudnya seluruh pendapatan yang ada dinegara Islam harus diperoleh
dan didistribusikan sesuai dengan ketentuan hukum yang digariskan oleh Allah
SWT. Dan harta yang telah diwajibkan oleh Allah SWT sebagai sumber
pendapatan tidak boleh diambil secara mutlak.
2. Harus ada Pemisahan Muslim dan Non Muslim
Islam membedakan antar subjek zakat dan pajak antara muslim dengan non
muslim. Zakat bersumber dari muslim dan hanya didistribusikan bagi
kepentingan kaum muslim, sedangkan jizyah dipungut dari golongan non
muslim.5
3. Hanya Golongan Kaya yang Menanggung Beban.
Sistem pemungutan pajak dalam islam harus menjamin bahwa hanya
golongan yang kaya (al ghaniy) dan makmur serta mempunyai kelebihan harta
yang dipungut pajaknya. Baik dari golongan muslim maupun dari golongan
non muslim.

5
Ibid. Hal:234-236

5
4. Adanya Tuntutan Kemaslahatan Umum.
Prinsip pemasukan negara selanjutnya adalah adanya tuntutan
kemaslahatan untuk umum lebih diutamakan untuk mencegah timbulnya
bahaya atau kemudhorotan. Dalam kondisi darurat, pemerintah wajib
mengadakan kebutuhan rakyat baik disaat ada harta maupun tidak.

D. Pendapatan Atau Penerimaan Negara


Adapun sumber-sumber pendapatan atau penerimaan harta negara dalam
Islam yaitu sebagai berikut:
1. Zakat
Secara bahasa zakat berarti “pertumbuhan, peningkatan, dan makanan”
menurut istilah zakat yaitu mengeluarkan kadar tertentu dari harta yang
tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Jadi zakat merupakan
kontribusi wajib, semacam pajak yang dipungut dari kaum yang kaya dan
didistribusikan kepada kaum yang miskin atau dibelanjakan oleh negara untuk
mewujudkan kesejahteraan kaum miskin. Zakat merupakan pilar utama dalam
sistem keuangan Islam sekaligus sebagai instrumen utama dalam kebijakan
fiskal Islam, dan zakat juga merupakan rukun Islam dan salah satu bentuk
kewajiban bagi seorang muslim untuk mengeluarkan sebagian pendapatan
atau hartanya yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang telah di
gariskan.6
Dalam ajaran Islam zakat terbagi dalam dua kategori, yaitu zakat fitrah
(jiwa) yang dibayarkan pada malam idhul fitri yang berfungsi untuk
menyempurnakan puasa dibulan ramadhan. Dan zakat mal (harta) yang
dibayarkan setiap waktu dalam satu tahun yang berfungsi untuk mensucikan
harta jiwa selama satu tahun.7
Adapun dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang zakat yaitu sebagai
berikut:

6
Chaudri, sharif muhammad, sisitem ekonomo islam. hal: 254
7
Harahap, isnaini dkk. hadits-hadits ekonomi. Hal: 238

6
 
 
  

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku”(Q.S. Al-Baqaroh:43).
   
  
    
  
   
Artinya: “ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan
Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(Q.S. At-Taubah:103).
2. Jizyah
Jizyah berasal dari kata jaza’ yang berarti konpensasi. Menurut
Taqiyuddin An-Nabhani, jizyah merupakan hak yang diberikan oleh Allah
SWT kepada kaum muslimin dari orang-orang kafir karena adanya
ketundukan mereka kepada pemerintah Islam, dan jizyah diambil dari orang-
orang kafir akibat dari kekufuran mereka. Jadi jizyah adalah pajak yang
dikenakan oleh negara Islam atas warganya yang non muslim sebagai imbalan
bagi perlindungan atas harta dan nyawa mereka. Apabila mereka telah
memeluk Islam, maka gugurlah kewajiban jizyyah. Jizyah dikenakan bukan
atas harta orang kafir melainkan atas jiwa mereka, dan jizyah tidak
diberlakukan kepada orang non muslim yang tidak mampu, kaum wanita,
anak-anak, dan pendeta serta orang gila.
3. Kharaj
Kharaj secara bahasa bermakna kara’ yang berarti sewa dan Al-Gullah
(hasil), secara istilah kharaj adalah hak yang dikenakan atas lahan tanah yang
telah dirampas dari kaum kafir, baik melalui pertempuran maupun dengan

7
jalan damai. Dalam praktiknya kharaj merupakan pajak pertanian yang
diterima dari para pemilik tanah non muslim.8

4. Ghanimah
Ghanimah merupakan harta rampasan perang yang diperoleh umat Islam
dari kemenangan perang melawan kafir. Secara etimologi, ghonimah berarti
memperoleh jarahan (rampasan perang), secara terminologi ghonimah
dimaknai sebagai harta yang diperoleh oleh kaum muslimin dari musuh
melalui peperangan dan kekerasan dengan pengerahan pasukan, kuda-kuda,
dan unta perang yang memunculkan rasa takut hati kaum musrikin.
5. Fay’
Secara harfiah fay’ berarti pengembalian suatu benda, sedangkan secara
terminologi fay’ dimaknai sebagai gambaran semua harta benda yang
diperoleh dari musuh tanpa menjalani peperangan yang nyata.
6. ‘Usyr
‘Usyr berarati sepersepuluh, dan merupakan pajak produk pertanian.
Dalam ‘usyr memiliki dua makna yaitu: 10 persen dari lahan pertanian yang
disirami dengan air hujan dan 10 persen diambil dari pedagang-pedagang kafir
yang memasuki wilayah Islam dengan membawa barang dagangan.9
7. Khums
Khums berarti seperlima penerimaan negara Islam yang berasal dari
rampasan perang, produk pertambangan ,harta tertimbun atau harta karun, dan
dari apa yang diambil dari laut seperti mutiara.10
8. Sumber-sumber lain
a. Wakaf
Secara etimologi wakaf berarti menahan atau tertahan, menurut istilah
wakaf berarti menahan benda yang tidak mudah rusak pada zatnya yang
dibelanjakan manfaatnya dijalan kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri
8
Ibid. Hal: 238-240
9
Ibid. Hal: 241-243
10
Chaudri, sharif muhammad, sisitem ekonomo islam. hal: 260

8
kepada Allah SWT.11 Wakaf merupakan menyerahkan suatu hak milik
yang tahan lama zatnya kepada seseorang atau nazir (penjaga wakaf), baik
berupa perorangan maupun lembaga dengan ketentuan bahwa hasilnya
akan digunakan sesuai dengan syariat Islam.
b. Properti tak berwaris
Merupakan properti atau harta yang tidak memiliki ahli waris akan
dikirim ke perbendaharaan negara dan penguasa berhak melakukan apapun
yang dianggap pantas atas properti tersebut.
c. Barang tak bertuan
Bila suatu harta atau barang ditemukan dan setelah diumumkan
kemasyarakat dalam masa satu tahun tidak ada yang mengakuinya , maka
barang tersebut akan diserahkan kebendaharaan negara untuk digunakan
lagi bagi kesejahteraan umat.
d. Uang tebusan
Jumlah uang tebusan yang diterima merupakan sumber pendapatan
negara sejak Rasulullah masih hidup dan terus berlanjut ke masa khalifah
Islam.
e. Pajak lainnya
Jika negara mengalami suatu kondisi sehingga baitul mal tidak mampu
membiayai kewajiban-kewajibannya, maka kewajiban ini beralih pada
kaum muslimin. Dengan kondisi seperti ini negara berhak memungut
pajak (daribah)terhadap kaum muslimin.
Pajak ini dikenakan hanya kepada kaum muslimin dan tidak dikenakan
kepada warga non muslim, penggunaan pajak dilakukan dari sisa nafkah
(setelah dikurangi kebutuhan hidup), dan harta orang-orang kaya dari sisa
pemenuhan kebutuhan primer dan sekundernya yang makruf.12

11
Ghazali, rahman abdul dkk. Fiqih muamalah. Hal: 175
12
Harahap, isnaini dkk. hadits-hadits ekonomi. Hal: 244-245

9
BAB III
PENUTUP

A. Analisis
Bahwasannya keuangan negara sangat berhubungan dengan penerimaan dan
pengeluaran negara. Karena dalam keuangan negara meliputi semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan
kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara. Dalam
negara Islam pengelolaan kekayaan atau pendapatan suatu negara sudah
diterangkan atau sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Hadits.

B. Kesimpulan
Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai
dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang
dapat dijadikan milik negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut. Dalam islam sumber pendapatan suau negara sudah diterangkan dan
dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Hadits yaitu sebagai berikut:
 Zakat
 Wakaf
 Jizyah
 Kharaj
 Ghanimah
 Fay’
 ‘Usyr
 Khums
 Dan sumber pendapatan lainnya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Isnani Dkk. 2015. Hadis-Hadis Ekonomi. Jakarta: KENCANA

Chaudry, Sharif Muhammad. 2012. Sistem Ekonomi Islam. jakarta: KENCANA

Ghazali, Rahman Abdui DKK. 2010. Fiqih Muamalah. Jakarta: KENCANA

11