Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

CARSINOMA KOLOREKTAL

A. Pengertian
Kanker rektal adalah suatu tumor malignan yang muncul dari jaringan epitel
dari rectum (Smeltzer, 2002). Kanker merupakan suatu proses pembelahan sel-
sel (proliferasi) yang tidak mengikuti aturan baku proliferasi yang terdapat
dalam tubuh (proliferasi abnormal).
Proliferasi ini dibagi atas non-neoplastik dan neoplastik.
Non-neoplastik dibagi atas:
1. Hiperplasia adalah proliferasi sel yang berlebihan. Hal ini dapat normal
karena bertujuan untuk perbaikan dalam kondisi fisiologis tertentu misalnya
kehamilan.
2. Hipertrofi adalah peningkatan ukuran sel yang menghasilkan pembesaran
organ tanpa ada pertambahan jumlah sel.
3. Metaplasia adalah perubahan dari satu jenis tipe sel yang membelah menjadi
tipe yang lain, biasanya dalam kelas yang sama tapi kurang terspesialisasi.
4. Displasia adalah kelainan perkembangan selular, produksi dari sel abnormal
yang mengiringi hiperplasia dan metaplasia. Perubahan yang termasuk
dalam hal ini terdiri dari bertambahnya mitosis, produksi dari sel abnormal
pada jumlah besar dan tendensi untuk tidak teratur.

B. Etiologi
Etiologi kanker kolorektal hingga saat ini masih belum diketahui, Penelitian
saat ini menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki korelasi terbesar untuk
kanker kolorektal. Mutasi dari gen APC adalah penyebab familial adenomatosa
poliposis (FAP), yang mempengaruhi individu membawa resiko hampir 100%
mengembangkan kanker usus besar pada usia 40 tahun (Tomislav Dragovich,
2014)
Banyak faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker
kolorektal, diantaranya adalah :
 Diet tinggi lemak, rendah serat.
 Usia lebih dari 50 tahun.
 Riwayat keluarga satu tingkat generasi dengan riwayat kanker
kolorektal mempunyai resiko lebih besar 3 kali lipat.
 Familial polyposis coli, Gardner syndrome, dan Turcot syndrome. Pada
semua pasien ini tanpa dilakukan kolektomi dapat berkembang menjadi
kanker rektum.
 Resiko sedikit meningkat pada pasien Juvenile polyposis syndrome,
Peutz-Jeghers
 Syndrome dan Muir syndrome.
 Terjadi pada 50 % pasien kanker kolorektal herediter nonpolyposis.
 Inflammatory bowel disease.
 Kolitis Ulseratif (resiko 30 % setelah berumur 25 tahun).
 Crohn disease, berisiko 4 sampai 10 kali lipat

C. Tanda Gejala
Gejala dan tanda dini kanker kolorektal tidak ada. Umumnya gejala pertama
timbul karena penyulit yaitu gangguan faal usus, obstruksi, perdarahan atau
akibat penyebaran. Kanker kolon kiri dan rektum menyebabkan perubahan pola
defekasi seperti konstipasi. Makin ke distal letak tumor feses makin menipis
atau seperti kotoran kambing, atau lebih cair disertai darah atau lendir.
Perdarahan akut jarang dialami, demikian juga nyeri di daerah panggul berupa
tanda penyakit lanjut. Pada obstruksi penderita merasa lega saat flatus (Price,
2005).
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada kanker kolorektal antara lain
ialah:
1. Perubahan pada kebiasaan BAB atau adanya darah pada feses, baik itu
darah segar maupun yang berwarna hitam.
2. Diare, konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar benar kosong saat
BAB
3. Feses yang lebih kecil dari biasanya.
4. Keluhan tidak nyaman pada perut seperti sering flatus, kembung, rasa
penuh pada perut atau nyeri.
5. Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya.
6. Mual dan muntah.
7. Rasa letih dan lesu.
8. Pada tahap lanjut dapat muncul gejala pada traktus urinarius dan nyeri pada
daerah gluteus

D. Patofisiologi
Umumnya kanker rektal adalah adenokarsinoma yang berkembang dari
polip adenoma. Insiden tumor dari kolon kanan meningkat, meskipun umumnya
masih terjadi di rektum dan kolon sigmoid. Pertumbuhan tumor secara tipikal
tidak terdeteksi, menimbulkan beberapa gejala. Pada saat timbul gejala,
penyakit mungkin sudah menyebar ke dalam lapisan lebih dalam dari jaringan
usus dan organ-organ yang berdekatan. Kanker rektal menyebar dengan
perluasan langsung ke sekeliling permukaan usus, submukosa dan dinding luar
usus. Struktur yang berdekatan seperti hepar, kurvatura mayor, lambung,
duodenum, usus halus, pankreas, limpa, saluran genitourinari dan dinding
abdomen juga dapat dikenai oleh perluasan. Metastase ke kelenjar getah bening
regional sering berasal dari penyebaran tumor. Tanda ini tidak selalu terjadi,
bisa saja kelenjar yang jauh sudah dikenai namun kelenjar regional masih
normal (Price, 2006).
Sel-sel kanker dari tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem
limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paru-paru, otak,
tulang dan ginjal. Awalnya sebagai nodul, kanker usus sering tanpa gejala
hingga tahap lanjut karena pola pertumbuhan lamban, 5 sampai 15 tahun
sebelum muncul gejala (Price, 2006). Manifestasi tergantung pada lokasi, tipe
dan perluasan serta komplikasi. Perdarahan sering sebagai manifestasi yang
membawa pasien datang berobat. Gejala awal yang lain sering terjadi perubahan
kebiasaan buang air besar, diare atau konstipasi. Karekteristik lanjut adalah
nyeri, anoreksia dan kehilangan berat badan. Mungkin dapat teraba massa di
abdomen atau rektum. Biasanya pasien tampak anemis akibat dari perdarahan.
Prognosis kanker kolorektal tergantung pada stadium penyakit saat terdeteksi
dan penanganannya. Sebanyak 75 % pasien kanker kolorektal mampu bertahan
hidup selama 5 tahun. Daya tahan hidup buruk / lebih rendah pada usia dewasa
tua . Komplikasi primer dihubungkan dengan kanker kolorektal : (1) obstruksi
usus diikuti dengan penyempitan lumen akibat lesi; (2) perforasi dari dinding
usus oleh tumor, diikuti kontaminasi dari rongga peritoneal oleh isi usus; (3)
perluasan langsung tumor ke organorgan yang berdekatan.
The American Joint Committee on Cancer (AJCC) memperkenalkan TNM
staging system yang menempatkan kanker menjadi satu dalam 4 stadium
(Stadium I-IV).
1. Stadium 0
Kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam rectum yaitu pada
mukosa saja. Disebut juga carcinoma in situ.
2. Stadium I
Kanker telah menyebar menembus mukosa sampai lapisan muskularis dan
melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi tidak menyebar ke bagian
terluar dinding rektum ataupun keluar dari rektum. Disebut juga Dukes A
rectal cancer.
3. Stadium II
Kanker telah menyebar keluar rektum ke jaringan terdekat namun tidak
menyebar ke limfonodi. Disebut juga Dukes B rectal cancer.
4. Stadium III
Kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi tidak menyebar ke
bagian tubuh lainnya. Disebut juga Dukes C rectal cancer.
5. Stadium IV
Kanker telah menyebar ke bagian lain tubuh seperti hati, paru atau ovarium.
Disebut juga Dukes D rectal cancer
E. Pemeriksaan Penunjang
Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba pada palpasi perut, bila teraba
menunjukan keadaan sudah lanjut. Massa pada sigmoid lebih jelas teraba
daripada massa di bagian lain kolon. Karena kanker kolorektal sering
berkembang lamban dan penanganan stadium awal sangat dibutuhkan, maka
organisasi kanker Amerika merekomendasikan prosedur skrining rutin bagi
deteksi awal penyakit. Rekomendasinya sebagai berikut :
1. Pemeriksaan rektal tusse untuk semua orang usia lebih dari 40 tahun.
2. Test Guaiac untuk pemeriksaan darah feses bagi usia lebih dari 50 tahun.
3. Sigmoidoskopi tiap 3-5 tahun untuk tiap orang usia lebih dari 50 tahun.
Mengenai diagnosis kanker kolorektal ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, colok dubur dan rektosigmoidoskopi atau foto kolon dengan
kontras ganda (De Jong, 2005). Pasien dengan dugaan kanker kolorektal dapat
dilakukan prosedur diagnostik lanjut untuk pemeriksaan fisik. test laboratorium,
radiograpi dan biopsi untuk memastikan.
Test laboratorium yang dianjurkan sebagai berikut :
1. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia. Anemia mikrositik ditandai
dengan sel-sel darah merah yang kecil tanpa terlihat penyebab adalah
indikasi umum untuk test diagnostik selanjutnya untuk menemukan
kepastian kanker rektal.
2. Test Guaiac pada feses untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feses,
karena semua kanker rektal mengalami perdarahan intermitten.
3. CEA (carcinoembryogenic antigen) adalah ditemukannya glikoprotein di
membran sel pada banyak jaringan, termasuk kanker kolorektal. Karena tes
ini tidak spesifik bagi kanker kolorektal dan positif pada lebih dari separuh
pasien dengan lokalisasi penyakit, ini tidak termasuk dalam skrining atau
test diagnostik dalam pengobatan penyakit. Ini terutama digunakan sebagai
prediktor pada prognosis postoperatif dan untuk deteksi kekambuhan
mengikuti pemotongan pembedahan.
4. Pemeriksaan kimia darah alkaline phosphatase dan kadar bilirubin dapat
meningkat, indikasi telah mengenai hepar. Test laboratorium lainnya
meliputi serum protein, kalsium dan kreatinin.
5. Barium enema sering digunakan untuk deteksi atau konfirmasi ada tidaknya
dan lokasi tumor. Bila medium kontras seperti barium dimasukkan kedalam
usus bagian bawah, kanker tampak sebagai massa mengisi lumen usus,
konstriksi atau gangguan pengisian. Dinding usus terfiksir oleh tumor dan
pola mukosa normal hilang. Meskipun pemeriksaan ini berguna untuk
tumor kolon, sinar-X tidak nyata dalam mendeteksi rektum
6. CT (computed tomography) scan, magnetic resonance imaging (MRI) atau
pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk mengkaji apakah sudah
mengenai organ lain melalui perluasan langsung atau dari metastase tumor.
7. Endoskopi (sigmoidoskopi atau kolonoskopi) adalah test diagnostik utama
digunakan untuk mendeteksi dan melihat tumor. Sekalian dilakukan biopsi
jaringan. Sigmoidoskopi fleksibel dapat mendeteksi 50-65% dari kanker
kolorektal. Pemeriksaan endoskopi dan kolonoskopi direkomendasikan
untuk mengetahui lokasi dan biopsi lesi pada pasien dengan perdarahan
rektum. Bila kolonoskopi dilakukan dan visualisasi sekum, barium enema
mungkin tidak dibutuhkan. Tumor dapat tampak membesar, merah, ulseratif
sentral, seperti penyakit divertikel, ulseratif kolitis dan penyakit Crohn’s
(Smeltzer, 2002)

F. Pengkajian
Riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah :
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala:
– Kelemahan, keletihan, kelelahan
– Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur, misalnya: nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari
– Pekerjaan/profesi dengan pemajaan karsinogen lingkungan, tingkat stress
tinggi
2. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda : Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah
3. Integritas Ego
Gejala :
– Faktor stress
– Masalah terhadap perubahan penampilan
– Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu,
tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan control, depresi
Tanda : Menyangkal, menarik diri
4. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada saat defekasi
Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang :
1. Perasaan lelah
2. Nyeri abdomen atau rectal dan karakternya (lokasi, frekuensi, durasi,
berhubungan dengan makan atau defekasi)
3. Pola eliminasi terdahulu dan saat ini
4. Deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah
atau mucus.
5. Riwayat penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal
6. Riwayat keluarga dari penyakit kolorektal dan terapi obat saat ini
7. Kebiasaan diet ( masukan lemak, serat & konsumsi alcohol ) juga riwayat
penurunan BB.
Pengkajian objekif meliputi :
1. Auskultasi abdomen terhadap bising usus
2. Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi, dan massa padat
3. Inspeksi specimen terhadap karakter dan adanya darah

G. Diagnosa Keperawatan (NANDA, 2014)


1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik kronis
2. Konstipasi berhubungan dengan defekasi tidak teratur dan kurang serat
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
4. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan mual muntah

H. Fokus Intervensi
1. Nyeri Kronis
Intervensi Rasional
1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Untuk mengetahui kondisi
secara komprehensif. pasien secara komprehensif.
2. Observasi reaksi nonverbal dan 2. Untuk mengetahui kondisi
ketidaknyamanan. nyeri pasien
3. Monitor vital sign 3. Untuk memantau kondisi
4. Gunakan teknik komunikasi pasien
teurapeutik untuk mengetahui 4. Untuk mengetahui nyeri pasien.
pengalaman nyeri. 5. Untuk menurunkan nyeri
5. Kontrol lingkungan yang dapat 6. untuk menentukan intervensi
mempengearuhi nyeri 7. untuk menurunkan nyeri,
6. Kaji tipe dan sumber nyeri karena dengan terapi
7. Ajarkan teknik nonfarmakologi : nonfarmakologi dapat
napas dalam dan distraksi meningkatkan relaksasi
(mendengarkan murotal) sehingga ketegangan otot dan
8. Tingkatkan istirahat raas nyeri dapat menurun
9. Berikan kolaborasi terapi 8. untuk menurunkan nyeri,
farmakologi (analgesik). terdapat hormon serotonin saat
tidur yg dapat memblok nyeri
9. untuk menurunkan nyeri

2. Konstipasi
Intervensi Rasional
1. Monitor tanda dan gejala 1. Untuk mengetahui konstipasi
konstipasi pada pasien
2. Monitor bising usus 2. Bising usus kurang dari
3. Monitor defekasi, karakteristik 12x.menit dapat
feses, frekuensi, konsistensi dan mengakibatkan atau
volume feses menandakan aadnya
4. Mendorong meningkatkan konstipasi
asupan cairan kecuali 3. Untuk mengetahui progress
kontraindikasi intervensi untuk konstipasi
5. Identifikasi bersama pasien 4. Cairan dapat menurunkan
penyebab konstipasi konsistensi feses yang keras
6. Menganjurkan pasien atau 5. Untuk mencegah konstipasi
mendorong keluarga untuk 6. Serat dapat memudahkan
mengingaktkan pasien untuk diet feses keluar dari anus,
tinggi serat tinggi karbohidrat sehingga dapat menurunkan
dan tinggi protein, minimalisir nyeri saat defekasi
konsumsi lemak

3. Intoleransi Aktivitas
Intervensi Rasional
1. Observasi pembatasan 1. Untuk tahu batas kemampuan
aktivitas pasien aktivitas pasien.
2. Kaji penyebab intoleransi 2. Agar pasien tidak kelelahan.
aktivitas dan menentukan 3. Untuk meningkatakan energi
apakah penyebab dari fisik, pada pasien
psikis/motivasi. 4. Tidur dapat meningkatkann
3. Memonitor nutrisi dan energi pada pasien
sumber energi yang adekuat 5. Monitoring hematologi pada
4. Monitor pola tidur pasien
5. Monitor hasil lab yang 6. Untuk mencegah terjadinya
berhubungan dengan energi kelelahan pada pasien
(Hb, Ht, elektrolit) 7. Managemen energi
6. Pilih aktivitas yang tidak
memakan banyak energi 8. Agar pasien lebih percaya diri
7. Kaji kesesuaian aktivitas & dalam melakukan aktifitas
istirahat pasien sehari-hari. 9. Untuk mengetahui
8. Tingkatkan aktivitas secara perkembanga aktivitas yang
bertahap, biarkan pasien dapat dilakukan
berpartisipasi dapat 10. Supaya mengetahui apabila
perubahan posisi, berpindah terdapat respon yang tidak
& perawatan diri normal
9. Pastikan pasien mengubah 11. Mengetahui batas toleransi
posisi secara bertahap. pasien terhadap aktivitas
Monitor gejala intoleransi 12. Supaya dapat dilakukan latihan
aktivitas lanjutan
10. Ketika membantu pasien 13. mengidentifikasi kegiatan yg
bergerak/beraktivitas, dapat dilakukan
observasi gejala intoleransi 14. supaya toleransi aktivitas
spt mual, pucat, pusing, pasien meningkat dan tidak
gangguan kesadaran & tanda mengalami kemunduran
vital 15. Mencegah risiko jatuh
11. Edukasi tentang teknik 16. Supaya terdeteksi batas
memanagemen waktu dan toleransi pasien
aktifitas untuk mencegah 17. Mengetahui keterbatasan
kelelahan aktivitas yang dapat dilakukan
12. Dampingi pasien untuk 18. Supaya pengetahuan pasien
mengatur prioritas kegiatan bertambah terkait manajemen
sesuai dengan level energi aktifitas
13. Bantu pasien 19. Meningkatkan aktivitas pasien
mengidentifikasi aktivitas secara mandiri
yang dapat dilakukan
14. Bantu pasien memaknai atau
manfaat dari aktivitas yang
masih bisa dilakukan
15. Bantu pasien dan keluarga
untk menentukan kegiatan
yang aman, mudah dilakukan
dan tidak terlalu melelahkan
16. Monitor respon fisik, emosi,
sosial dan spiritual
17. Monitor RR pasien, TD, suhu.
18. Kaji kemampuan mobilitas
pasien
19. Ajarkan pasien untuk sering
melakukan perubahan posisi
di bed dengan usaha mandiri

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Intervensi Rasional
1. Pertahankan tirah baring 1. Menurunkan kebutuhan
selama fase akut/pasca terapi metabolik untuk mencegah
2. Bantu perawatan kebersihan penurunan kaloridan
ronggamulut (oral hygiene). simpanan energi.
3. Berikan diet TKTP, sajikan 2. Meningkatkan kenyamanan
dalam bentuk yang sesuai dan selera makan.
perkembangankesehatan klien 3. Asupan kalori dan protein
(lunak, bubur kasar,nasi tinggi perlu diberikan untuk
biasa) mengimbangi
4. Kolaborasi pemberian obat- statushipermetabolisme
obata sesuai indikasi klien keganasan
5. Bila perlu, kolaborasi 4. Pemberian preparat zat besi
pemberian nutrisi parenteral danvitamin B12 dapat
mencegahanemia;
pemberian asam
folatmungkin perlu untuk
mengatasidefisiensi karen
amalbasorbsi
5. Pemberian peroral
mungkindihentikan
sementara untuk
mengistirahatkan saluran
cerna
DAFTAR PUSTAKA

Gale, Danielle & Charette, Jane, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi,
EGC, Jakarta.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses:


Definitions & Classification, 2015–2017. 10nd ed. Oxford: Wiley
Blackwell.

Kozier, B., Berman, A.and Shirlee J. Snyde. 2010. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan Konsep Proses dan Praktik Volume 1. Edisi ke-7. Dialih
bahasakan oleh Pamilih Eko Karyuni. Jakarta : EGC.

PBPK Kolorektar, 2012, Kanker Kolorektal. Jakarta : Kemenkes.

Price, Sylvia A., & Wilson, Lorraine M., 2006, Patofisiologi ; Konsep Klinis
Proses–Proses Penyakit Vol. 1, Edisi 4, EGC, Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G., 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth Vol. 2, Edisi 8, EGC, Jakarta