Anda di halaman 1dari 13

PSIKOLOGI UMUM II

Faktor Emosional dalam Lupa


Makalah

Disusun oleh:
Diani Fauziah 10050016152
Alindhita Fawzia Hadits 10050016172
Siti Kusnureallena 10050016174
Mauli Siti Sundaysa 10050016197

Kelompok 5
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Psikologi Umum II
Dosen:

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2017
DAFTAR ISI
1. Faktor Emosional dalam Lupa

Sejauh ini kita telah menganggap pengingatan kembali seakan-akan sebagai


kegiatan yang bersifat mekanik. Bagaimana halnya dengan faktor emosional?
Tidaklah kita kadang-kadang gagal untuk mengingat kembali gara-gara faktor
emosional? Banyak penyelidikan telah dilakukan mengenai masalah ini. Hasil-
hasilnya menunjukkan bahwa emosi dapat mempengaruhi pengingatan kembali
akan ingatan jangka panjang, paling tidak empat cara yang berbeda.

Gagasan yang paling sederhana adalah bahwa kita cenderung lebih banyak
memikirkan situasi emosional yang berisi hal-hal positif atau negative, daripada
situasi yang netral. Kita mengulang dan mengorganisasikan kenangan-kenangan
yang menarik perhatian kita lebih sering daripada kenangan-kenangan yang lebih
sederhana. Misalnya, kita biasanya dapat melupakan dimana kita menonton film
itu. Namun bila terjadi kebakaran pada waktu kita sedang menonton film itu, kita
tentu akan menguraikan kejadian terebut berulang-ulang pada kawan-kawan kita,
dengan demikian kita telah mengulang dan mengorganisasikannya. Karena kita
semua tahu bahwa pengulangan dan pengorganisasian dapat meningkatkan ingatan
jangka panjang, maka tidaklah mengherankan bahwa banyak peneliti telah
menemukan adanya ingatan yang lebih baik dalam situasi emosional dibandingkan
dengan situasi yang tidak emosional (Rapaport, 1942).

Tetapi, dalam beberapa kasus, emosi negative dapat menghalangi terjadinya


pengingatan kembali. Pengalaman yang dialami kebanyak siswa pada saat tertentu
dalam kehidupannya menggambarkan hal ini.

Anda sedang menempuh ujian tentang hal-hal yang tidak begitu Anda
yakini. Hampir-hampir Anda tidak mengerti pertanyaan yang pertama,
apalagi menjawabnya. Muncullah tanda-tanda kepanikan. Walaupun
pertanyaan yang kedua menjalar ke pertanyaan ini. Pada waktu Anda
melihat pertanyaan ketiga, tidak peduli apakah soalnya hanya menanyakan
nama Anda, Anda benar-benar tidak dapat menjawabnya. Anda benar-benar
dalam keadaan panik.
Apa yang telah terjadi pada ingatan kita disini? Kegagalan mengahadapi
pertanyaan yang pertama menyebabkan kecemasan. Kecemasan biasanya disertai

1
dengan berbagai pikiran yang tidak ada hubungannya, “Saya akan gagal dalam
ujian ini” atau “Setiap orang akan tahu betapa bodohnya saya”. Pikiran ini
kemudian mengganggu upaya mengingat kembali informasi yang relevan dalam
pertanyaan itu, dan mungkin hal itulah yang menyebabkan mengapa ingatan gagal
sama sekali. Menurut pandangan ini, secara tidak langsung kecemasan merupakan
sebab gagalnya ingatan, tetapi kecemasan itu menyebabkan atau diasosiasikan
dengan pikiran yang bukan-bukan dan pikrian inilah yang menyebabkan kegagalan
ingatan dengan cara mengganggu pengingatan kembali (Holmes, 1974).

Cara ketiga bahwa emosi dapat mempengaruhi ingatan adalah melalui


dampak konteks. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ingatan akan kuat bila
konteks pada pengingatan kembali cocok dengan konteks pada saat penyusunan
informasi. Karena keadaan emosi kita selama belajar merupakan bagian dari
konteks, bila kita sedih ketika belajar materi tertentu, kita dapat dengan baik
mengingat kembali materi itu bila kita dalam keadaan sedih lagi. Dalam konteks
emosional semacam ini telah didemonstrasikan dalam laboratorium. Para subjek
sepakat untuk menuliskan dalam buku harian selama satu minggu semua kegiatan
emosional yang terjadi, baik kegiatan-kegiatan yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan. Seminggu setelah mereka menyerahkan buku hariannya,
mereka kembali ke laboratorium dan dihipnotis (sebelumnya dipilih beberapa orang
yang mudah dihipnotis). Separuh dari orang ini dibuat dalam situasi yang
menyenangkan, dan separuh lainnya dibuat dalam situasi yang tidak
menyenangkan. Mereka diminta untuk mengingat kejadian yang mereka tulis dalam
buku harian. Bagi mereka yang berada dalam situasi yang menyenangkan,
kebanyakan persitiwa yang diingatnya merupakan peristiwa yang menyenangkan
ketikda dialami; bagi mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan, sebagian
besar peristiwa yang diingat merupakan peristiwa yang tidak menyenangkan ketika
dialami; seperti yang diduga, pengingatan akan berjalan baik bila emosi yang
dominan pada saat pengingatan kembali sesuai dengan pada saat pengkodeannya
(Bower, 1981).

2
Kita telah membahas tiga cara emosi mempengaruhi ingatan, meningkatkan
atau mengahalangi pengingatan kembali. Ketiganya bergantung pada prinsip yang
telah dibahas – pengulangan, interferensi, dan dampak konteks. Pandangan
keempat tentang emosi dan ingatan – teori Freud tentang ketidaksadaran –
melahirkan prinsip baru. Freud menemukan bahwa beberapa pengalaman
emosional pada masa kanak-kanak begitu menggoncangkan (traumatis) sehingga
pengalaman tersebut dapat masuk dalam kesadaran beberapa tahun kemudian dan
akan menyebabkan orang itu diliputi oleh kecemasan total. (Hal ini tidak sama
dengan kasus dalam contoh ujian diatas, yang mana kecemasan dapat dibiarkan
muncul dalam kesadaran). Pengalaman yang menggoncangkan, seperti pengalaman
yang diasosiasikan dengan pengalaman itu, dapat dikatakan tersimpan dalam
ketidaksadaran, atau tertekan (repressed). Pengalaman ini dapat diingat kembali
jika emosi yang diasosiasikan dengan pengalaman ini dihilangkan, biasanya dengan
cara-cara terapis. Oleh karena itu, represi merupakan kegagalan pengingatan
kembali yang paling parah: jalan menuju ingatan target secara aktif diblokir.
Gagasan tentang pemblokiran aktifini membuat hipotesa represi yang berbeda
secara kualitatif dibandingkan dengan beberapa pandangan ysng telah kita bahas
sebelumnya (Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang teori Freud ini, lihat
Bab 4)

Represi adalah fenomena yang menarik perhatian sehingga tentu saja akan
kita kaji dalam laboratorium. Tetapi ini telat terbukti sulit, walaupun banyak upaya
dilakukan. Agar represi dapat dikaji dalam laboratorium, pelaku eksperimen harus
mendapatkan subjek yang mengalami pengalaman yang benar-benar
menggoncangkan. Pertimbangan etis tidak memungkinkan hal ini. Namun
demikian, gagasan tentang represi tetap menarik perhatian mereka yang mengkaji
ingatan, kendatipu tanpa dukungan eksperimen yang kuat.

1.1 Meningkatan Ingatan

Setelah membahas dasar-dasar ingatan jangka panjang dan pendek,


sekarang marilah kita bahas bagaimana cara mengatasi masalah peningkatan
ingatan. Pertama, kita akan membahas bagaimana meningkatkan rentang ingatan

3
jangka pendek; kemudian kita akan beralih pada berbagai metode untuk
meningkatkan ingatan jangka panjang. Metode ini dilakukan dengan meningkatkan
efisiensi penyusunan kode (encoding), pengingatan kembali (retrieval), atau kedua-
duanya.

A. Chunking (Pengelompokkan Unit-Unit) dan Rentang Ingatan

Bagi sebagian besar orang, kapasitas ingatan jangka pendek tidak dapat
ditingkatkan diatas 7 ± 2 chunk (kelompok unit). Namun, kita dapat menambah
ukuran suatu chunk dan oleh karena itu dapat meningkatkan jumlah butir dalam
rentang ingatan kita. Misalnya pada rangkaian 149-2177-619-83, kita akan
mengingat keduabelas angka bila kita mengkode kembali (recode) rangkaian angka
tersebut menjadi 1492-1776-1983 dan kemudian menyimpan ketiga “chunk” itu ke
dalam ingatan jangka pendek. Walaupun penyusunan angka-angka menjadi tahun-
tahun yang populer (bagi orang amerika) dapat berjalan dengan harmonis, hal
tersebut tidak dapat terjadi pada kebanyakan angka, sebab kita hanya mengetahui
tahun-tahun semacam itu dengan sangat terbatas. Tetapi bila sistem pengkodean
kembali dapat dikembangkan menjadi sistem yang pada akhirnya dapat sesuai pada
setiap rangkaian, maka rentang ingatan jangka pendek dapat ditingkatkan secara
dramatis.

B. Imagery and Encoding ( Pembayangan dan Penyusunan Kode)

Mengingat suatu pasangan kata lain sangat berhasil bila dua kata tersebut
dihubungkan oleh suatu bayangan. Bila kita menghubungkan kata ‘kuda’ dan
‘meja’ dengan suatu bayangan, kita dapat membentuk hubungan bermakna antara
dua kata tersebut. Jadi pembayangan itu tampaknya menghubungkan berbagai
benda dalam ingatan. Dan ini merupakan prinsip utama dibalik banyak sistem
‘mnemonic’ (bantuan ingatan).

Sistem mnemonic yang terkenal disebut metoda loci. Metode ini terutama
dapat berjalan baik dari suatu urutan teratur dari butir asal-asalan, seperti kata-kata
yang saling tidak berhubungan. Langkah pertama yang dilakukan terhadap ingatan
adalah menggambarkan suatu urutan tempat-tempat yang teratur, katakanlah lokasi-

4
lokasi yang akan kita temukan dengan jalan pelan-pelan melalui rumah kita. Kita
masuk lewat pintu depan, masuk lorong depan, beralih pada rak buku di ruang tamu,
kemudian TV di ruang tamu, lalu tirai-tirai dalam jendela, dan sebagainya. Begitu
kita dapat dengan mudah melakukan proses secara kejiwaan itu, kita sudah siap
untuk menghafal sebanyak mungkin kata-kata yang tidak berhubungan seperti
terdapatnya lokasi pada jalan kita. Kita bentuk bayangan yang menghubungkan kata
pertama untuk lokasi pertama, bayangan lain yang menghubungkan kata kedua
pada lokasi kedua, dan seterusnya. Bila kata-katanya butiran kata belanja seperti
“roti”, “telur”, “bir”, “susu”, dan “ham”, kita dapat membayangkan seiris roti yang
terpaku di pintu depan, sebuah telur yang tergantung pada seutas tali di lorong
depan, sekaleng bir di rak buku, gambar iklan susu pada TV kita, dan tirai yang
terbuat dari tirai kain yang bergaris besar seperti ham.

Sekali kita dapat menghafal dengan cara ini, dengan mudah kita dapat
menghafal hal-hal tersebut secara teratur dengan hanya berjalan secara kejiwaan.
Setiap lokasi akan mengingatkan suatu bayangan, dan setiap bayangan akan suatu
kata. Metode ini jelas dapat diterapkan dan merupakan metode yang favorit diantara
mereka yang melakukan kegiatan ingatan secara profesional.

Pembayangan juga digunakan dalam metode kata kunci dalam belajar kosa
kata asing. Misalnya, kita harus belajar bahwa kata spanyol Caballo berarti “kuda”.
Metode kata kunci ini terdiri dari dua langkah. Pertama, menemukan bagian dari
kata asing yang bunyinya seperti kata inggris. Karena Caballo diucapkan “cob-eye-
yo”, “eye” dapat berfungsi sebagai kata kunci. Langkah berikutnya adalah
membentuk bayangan yang menghubungkan kata kunci dengan kata spadannya
dalam bahasa Inggris  Katakanlah a horse kicking a giant “eye” (seekor kuda
menyepak mata raksasa).

Contoh kata kunci yang digunakan untuk menghubungkan kata-kata bahasa


Spanyol dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. Misalnya, bila kata spanyol muleta
diucapkan, sebagian bunyinya seperti kata inggris mule. Jadi, mule dapat digunakan
sebagai kata kunci dan dihubungkan pada terjemahan bahasa inggrisnya denan

5
membentuk suatu gambaran tentang suatu mule (bagal) yang tegak lurus pada
sebuah "kruk”.

Hal ini seharusnya membentuk hubungan yang bermakna antara kata-kata


bahasa spanyol dengan bahasa inggris. Untuk mengingat makna caballo, pertama
kita harusmengingat kembali ‘eye’ dan kemudian gambaran yang disimpan yang
menghubungkannya dengan ‘horse’. Perhatikan bahwa metode kunci ini dapat pula
digunakan untuk menghubungkan kata-kata bahasa inggris dengan kata-kata
spanyol. Bila kita mengingat kata spanyol yang berarti kuda/horse, pertama kita
mengingat kembali gambaran seekor kuda, demikian memperoleh kata kunci ‘eye’
yang berfungsi isyarat pengingatan kembali (retrieval cue) bagi coballo. Metoda
kata kunci ini tampak seakan-akan rumit, tetapi berbagai studi telah menunjukkan
bahwa metode ini memudahkan mempelajari bahasa asing (Atkinson, 1975;
Pressley, Levin dan Delaney, 1982).

C. Elaboration and Encoding (Pengertian dan Penyusunan Kode)

Kita telah melihat bahwa makin rinci kita menguraikan butir-butir, makin
baik kita akan mengingatnya. Dengan kata lain, makin banyak hubungan kita
bentuk diantara butir, makin besar pula kemungkinan mengingatnya. Implikasi
praktis dari penekanan ini tidak berbekit-belit. Bila kita akan mengingat sesuatu,
luaskan artinya. Jelasnya, misalnya kita membaca artikel koran tentan gepidemi di
Sukabumi dimana para petugas kesehatan mencoba untuk mencegah
penyebarannya. Untuk memperdalam hal ini, kita dapat menanyai diri kita dengan
pertanyaan tentang sebab dan akibat adanya epidemi itu: apakah penyebaran itu
disebarkan oleh manusia atau binatang? Apakah penyakit itu ditularkan melalui air?
Untuk mencegah epidemi itu, apakah para petugas akan mencegah masuknya
orang-orang luar ke dalam kota? Berapa lama epidemi itu mungkin berakhir?
Pertanyaan tentang sebab akibat suatu peristiwa merupakan penguraian yang sangat
efektif karena setiap pertanyaan membentuk suatu hubungan yang bermakna pada
peristiwa itu.

6
D. Context retrieval / Konteks dan Pengingat Kembali

Karena konteks merupakan suatu isyarat pegingatan kembali yang kuat, kita
dapat mengingat ingatan kita dengan memulihkan konteks di mana belajar jadi. Bila
kuliah psikologi anda selalu di berikan di suatu ruangan, ingatan anda akan bahan
kuliah tersebut akan sangat baik bila anda ada di dalam ruangan, karena konteks
tentan ruangan itu merupakan isyarat pengingat kembali ntuk bahan kuliah tersebut.
Hal ini merupakan implikasi Pendidikan langsung. Para mahasiswa akan
melakukan ujian dengan lebih baik bila diuji dalam kelas mereka yang biasa dan
bila pengawasnya adalah guru mereka, dibandingkan dengan bila factor tersebut
diubah (Abemathy,1940).

Namun, seringkali bila kita harus mengingat sesuatu,kita tidak dapat secara
fisik kembali kepada konteks di mana kita dulu belajar. Bila kita ingin mengingat
nama seorang teman sekelas tertentu di SMA san tidak dapat teringat dengan
segera, tentu saja kita tidak dapat kembali ke SMA tersebut hanya mengingatnya.
Tetapi, dalam situasi seperti ini, kita dapat mencoba menciptakan kembali ( re-
create ) konteks tersebut secara mental. Untuk mengingat kembali nama yang lama
terlupa itu, kita dapat berfikir tentang kelas-kelas yang berbeda, perkumpulan dan
kegiatan lain yang kita ikuti selama masa sekolah di SMA dan lihatlah apakah dari
hal hal ini ada yang mengingatkan nama yang kita cari. Jika subjek dalam suatu
eksperimen yang sebenarnya menggunakan Teknik ini, mereka seringkali dapat
mengingat nama-nama teman sekelasnya di SMA yang benar benar mereka lupkan
( Williams dan hollan, 1981 )

Gambaran lain tentang penciptaan kembali konteks secara mental adalah


pengalaman yang diambil norman (1976). Misalnya seseorang menanyai anda, “apa
yang kau kerjakan pukul 01.00 pada senin ke-3 bulan Oktober dua tahun yang lalu?”
“gila!” pasti itu yang anda jawab. Tidak seorang pun akan mengingat hal-hal seperti
itu. Tetapi penciptaan kembali konteks dapat memberikan hasil yang
mengagumkan:

7
Hem…, dua tahun yang lalu, saya duduk di SMA kelas 3; coba sebentar,
Oktober—semester musim gugur. Nah, sekarang mata pelajaran apa yang
saya ambil pada semester itu? Oh. . .ya. Kimia. Ya , . . , --saya praktikum
kimia di laboratorium setiap sore, di sanalah saya berada pada jam satu siang
pada senin ketiga bulan Oktober dua tahun yang lalu.

Dalam contoh ini, memperbaiki konteks secara mental tampaknya


merupakan upaya tipuan. Namun, kita dapat yakin bahwa anda sebenarnya ingat
berada dalam laboratorium kimia. Mungkin anda hanya menyimpulkan bahwa
mestinya anda di sana. Atau mungkin jawaban anda tepat

E. Organization and retrieval / Organisasi dan Pengingatan kembali

Kita tahu bahwa organisasi meningkatkan pengingatan kembali, mungkin


dengan membuat pencarian ingatan lebih efisien. Prinsip ini dapat diterapkan dalam
penggunaan praktis yang luas. Kita tampaknya dapat menyimpan dan mengingat
kembali sejumlah besar informasi bila saja kita mengorganisasikannya.

Beberapa eksperimen telah menyelidiki cara pengorganisasian yang dapat


digunakan untuk memperlajari banyak bukti yang tidak berhubungan. Dalam suatu
studi, subjek menghafal daftar kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan
mengorganisasi kata-kata tersebut menjadi serangkaian cerita. Kemudian ketika
diuji untuk 12 daftar semacam itu (jumlah seluruhnya 120 kata), para subjek
mengingat lebih dari 90% dari kata-kata tersebut (bower dan dark, 1969).
Tampaknya hal ini betul-betul merupakan aktivitas ingatan yang mengagumkan,
tetapi setiap orang dapat mudah melakukannya.

Dalam hal ini, mungkin anda mengakui kebolehan para psikolog dalam
merancang Teknik yang ‘cerdik’ untuk mengorganisasi daftar kata yang tidak ada
hubungannya. Tetapi anda mungkin membantah, apa yang harus diingat bukanlah
daftar kata yang tidak ada hubungnnya, tetapi merupakan kisah yang diceritakan,
kuliah dan bacaan seperti pada bab ini. Tidaklah materi semacam ini sudah di
organisasi dan tidakkah ini berarti bahwa Teknik yang disebutkan sebelumnya
terbatas manfaatnya? Ya dan tidak. Ya, bab ini adalah lebih dari sekedar daftar kata-

8
kata yang tidak berhubungan, tetapi- dan ini adalah hal yang terpenting—selalu
terdapat masalah dalam pengorganisasian setiap materi yang panjang, termasuk bab
ini. Nanti anda, mungkin dapat mengingat bahwa pembayangan akan membantu
belajar, tetapi hal ini tidak dapat mengingatkan sesuatu tentang, katakanlah,
pengkodean akustik dalam ingatan jangka pendek. Kedua topik tersebut tampaknya
tidak dapat dihubungkan dengan serasi. Namun, terdapat hubungan antara topik-
topik itu- keduanya berkaitan dengan fenomena encoding ( penyusunan kode). Cara
yang terbaik untuk melihat hubungannya adalah dengan memperhatikan judul dan
sub-sub judul dalam bab itu, karna hal-hal ini menunjukan bagaimana materi dalam
bab ini diorganisasikan. Cara yang efektif untuk mempelajarinya adalah
menyimpan organisasi ini dalam pikiran. Anda dapat, misalnya, mencoba
menangkap bagian dari organisasi bab ini dengan membuat skets suatu pohon
hirarki seperti dibawah ini. Kemudaian anda dapat menggunakan hirarki semacam
itu untuk membimbing pencarian ingatan anda bilamana anda harus mengingat
kembali informasi tentang bab ini. Bahkan akan lebih membantu lagi, bila anda
membuat sendiri garis besar hirarki bab ini. Ingatan tampaknya akan sangat
memberi keuntungan bila pengorganisasiannya dilakukan oleh yang mengingat
sendiri.

F. Practicing retrieval / Melatih Pengingatan Kembali

Cara lain untuk meningkatkan pengingatan kembali adalah melatihnya


yaitu, mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri tentang apa yang ingin kita
pelajari. Misalkan, Anda mempunyai waktu 2 jam untuk mempelajari teks yang
dapat dibaca dalam waktu 30 menit. Membaca teks berulang-ulang sampai 4 kali
mungkin akan kurang efektif dibandingkan membacanya sekali dan mengajukan
pertanyaan kepada diri sendiri tentang hal itu. Anda kemudian dapat membaca lagi
bagian-bagian yang dipilih untuk menjelaskan poin-poin yang sulit untuk diingat
kembali dengan sekali baca, mungkin dapat diuraikan sehingga poin-poin itu
mempunyai hubungan yang baik antara yang satu dengan lainnya dan dengan
bagian-bagian lain dari teks tersebut. Melakukan upaya untuk mengingat kembali
merupakan penggunaan waktu belajar yang efisien. Hal ini telah didemonstrasikan

9
oleh para pelaku eksperimen pada waktu lalu dengan menggunakan butir-butir yang
tidak berhubungan maupun materi seperti yang dipelajari dalam kuliah.

G. Metode PQ4R

Sejauh ini, dalam bagian ini, kita telah membahas prinsip-prinsip ingatan misalnya,
prinsip bahwa organisasi membantu mencari ingatan dan kemudian memperhatikan
implikasinya untuk meningkatakan ingatan. Dalam menentukan penerapan praktis
prinsip-prinsip ingatan, kita dapat pula masuk dari arah yang berlawanan. Kita
dapat mulai dengan teknik peningkatan ingatan yang terkenal dan menunjukkan
bagaimana teknik ini didasarkan pada prinsip-prinsip ingatan.

Salah satu teknik yang paling terkenal untuk peningkatan ingatan, disebut metode
PQ4R, yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar
dan mengingat materi yang disajikan dalam suatu buku teks (Thomas dan
Robinson, 1972). Metode ini mengambil nama dari singkatan huruf pertama
keenam tahapannya: (1) Preview (penjajakan), (2) Questions (mengajukan
pertanyaan), (3) Read (membaca), (4) Reflect (merefleksikan), (5) Recite
(menceritakan), (6) Review (mengulang).

Pada tahapan pertama, mahasiswa menjajaki materi tersebut, seperti sebuah bab,
mendapatkan suatu gagasan tentang berbagai topik pokok dan bagiannya.
Penjajakan semacam ini mungkin memungkinkan mahasiswa mengorganisasi bab
tersebut, mungkin pula mengarah pada dasar-dasar organisasi hirarki seperti yang
diperlihatkan pada halaman sebelumnya. Karena kita telah berkali-kali
memperhatikannya, pengorganisasian materi akan membantu kemampuan kita
untuk mengingatnya kembali.

Tahapan kedua dan ketiga, Questions (mengajukan pertanyaan) dan Read


(membaca) membentuk sebuah paket. Pada tahapan Questions mahasiswa
diharuskan mengajukan pertanyaan untuk setiap bagian, sedangkan pada tahapan
Read, mereka membaca bagian itu dengan teliti untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Misalnya, bila Anda menerapkan kedua tahapan tersebut pada bagian ini,
dari bab ini, Anda mungkin akan melihat judulnya dan mengajukan pertanyaan

10
seperti “Sejauh mana rentang ingatan jangka pendek dapat ditingkatkan?” atau
“Apa sebenarnya metode PQ4R itu?” Kemudian Anda akan membaca bagian itu
dan mencoba untuk menentukan jawaban atas pertanyaan Anda (misalnya,
“Seseorang sanggup meningkatkan rentang ingatan jangka pendeknya sampai 79
angka”). Kedua tahapan ini hampir pasti dapat membantu mahasiswa menguraikan
materi itu pada saat menyusun kodenya (encoding ).

Dalam tahapan keempat, Reflect, para mahasiswa diminta untuk merefleksikan teks
pada waktu membaca, memikirkan contohnya dan membuat hubungan dengan
dengan hal-hal lain yang mereke ketahui. Sekali lagi, penguraian tampaknya
merupakan prinsip kunci. Penguraian dapat juga memainkan perannya pada
tahapan kelima dan keenam, Recite dan Review. Recite (mencaritakan) terjadi
sesudah menyelesaikan satu bagian, sedangkan Review terjadi setelah
menyelesaikan satu bab penuh. Untuk kedua tahapan itu, mahasiswa mencoba
untuk mengingat berbagai fakta penting dari apa yang dibaca dan mencoba lagi
menjawab pertanyaan yang diajukannya. Di samping penguraian yang tepat,
tahapan ini memberikan latihan pengingatan kembali, yang sangat menguntungkan
ingatan.

Ringkasnya, metode PQ4R tergantung pada tiga prinsip dasar untuk peningkatan
ingatan: mengorganisasi materi, menguraikan materi itu, dan melatih pengingatan
kembali. Kebanyakan metode belajar yang dikemukakan oleh para pendidik dan
para ahli lainnya didasarkan pada prinsip yang sama.

11