Anda di halaman 1dari 11

No. ID dan Nama Peserta : / dr.

Yuliannisa

No. ID dan Nama Wahana : / Poliklinik RSUD Daya Makassar

Topik : Osteoarthritis Genu

Tanggal Kasus : 10 Januari 2014


Nama Pasien : Ny.M No. RM : 10145
Tanggal Presentasi : 27 Maret 2014 Pendamping : dr. Musbicha
Tempat Presentasi : RSUD Daya Kota Makassar
Objek presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Perempuan, 58 tahun, keluhan nyeri dan kaku pada kedua lutut dirasakan sejak 1
tahun terakhir.
Tujuan : Mendiagnosis kelainan pasien, penatalaksanaan lebih lanjut pada pasien,
menentukan prognosis pasien, edukasi pasien dan keluarganya.
Bahan Tinjauan
Riset Kasus Audit
Bahasan : Pustaka
Cara Presentasi dan
Diskusi Email Pos
membahas : diskusi

Data Pasien : Nama : Ny. M No. Registrasi : 10145


Nama klinik : Poliklinik RSUD Daya Makassar
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
Osteorthritis Genu Bilateral. Perempuan, 58 tahun, datang ke Poliklinik Interna
RSUD Daya dengan keluhan nyeri dan kaku pada kedua lutut yang dirasakan sejak 1
tahun terakhir. Nyeri dirasakan terutama saat berjalan jauh atau terlau lama berdiri.
Kadang lutut terasa kaku setelah duduk lama. Riw. demam (-), Riw. nyeri/bengkak
pada ibu jari kaki (-). Riw. trauma (-). Riw. NUH (+) terutama saat setelah minum
obat-obatan anti sakit. BAK: lancar, BAB: biasa.

1
2. Riwayat Pengobatan :
Pasien sudah pernah berobat sebelumnya dengan keluhan yang sama dan diberi obat
anti nyeri.
3. Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Riw. HT tidak ada
Riw. DM disangkal
Riw. Asam urat tidak diketahui
4. Riwayat Keluarga :
Riwayat orang tua dengan keluhan yang sama dan dikatakan penyakit rematik.
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga.
6. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Keadaan gizi : Overweight
GCS : E4V5M6
Tanda Vital :
 Tekanan Darah : 110/70 mmHg
 Pernapasan : 18 x/menit
 Nadi : 80 x/menit
 Suhu : 37,0oC
Status Genaralisata :
Kelapa : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), ikterus (-/-), pupil bulat isokor
Hidung : Tidak ada pernapasan cuping hidung
Mulut : Sianosis (-)
Leher : Deviasi trakea (-), pembesaran KGB (-)
Paru-paru : dalam batas normal
Jantung : dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : Akral hangat, sianosis (-), ikterik (-), edem tibial (-)
Status Lokalis :
Genu dextra et sinistra
 Inspeksi : deformitas (-), hiperemis (-)

2
 Palpasi : nyeri tekan (+), efusi (-), hangat (-)
 Fleksi-Ekstensi : krepitasi (+)

Daftar Pustaka :
1. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam. Edisi IV Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006
2. Himpunan Makalah Reumatologi Klinik. Bandung: Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK
UNPAD. 2009
Hasil Pembelajaran :
1. Menegakkan diagnosis Osteoarthritis
2. Mengetahui penatalaksanaan Osteoarthritis
3. Mengetahui pencegahan Osteoarthritis
4. Konsultasi yang diperlukan untuk kasus Osteoarthritis

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio :

1. Subjektif :
Perempuan, 58 tahun, datang dengan keluhan nyeri dan kaku pada kedua lutut yang
dirasakan sejak 1 tahun terakhir. Nyeri dirasakan terutama saat berjalan jauh atau
terlau lama berdiri. Kadang lutut terasa kaku setelah duduk lama. Tidak ada riwayat
demam ataupun trauma. Pasien sering merasa NUH (+) terutama setelah
mengkonsumsi obat anti nyeri. Pasien sudah pernah berobat sebelumnya dengan
keluhan yang sama dan diberi obat anti nyeri di puskesmas. Riwayat orang tua dengan
keluhan yang sama dan dikatakan penyakit rematik.

2. Objektif :
Pada pemeriksaan fisis didapatkan pasien tempak sakit sedang, GCS E4V5M6. Dengan
tanda vital, tekanana darah 110/70 mmHg, nadi 80 kali/menit, pernapasan 18
kali/menit, suhu 37.0oC per aksila. Pada pemeriksaan genu kanan dan kiri ditemukan
nyeri tekan pada palpasi dan krepitasi pada gerakan flexi-ekstensi
Pada kasus ini diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan
fisis.

3
3. Assesment :
Berdasarkan subjektif dan objektif yang meliputi gejala klinis dan pemeriksaan fisis,
maka dapat disimpulkan bahwa pasien menderita Osteoarthritis Genu Bilateral.

Tinjauan Pustaka

Di antara lebih dari 100 jenis penyakit sendi yang dikenal, osteoartritis merupakan
kelainan sendi yang paling sering ditemukan. Penyakit ini bersifat progresif lambat,
umumnya terjadi pada usia lanjut, walaupun usia bukan satu-satunya faktor resiko.
Osteoartritis menyerang sendi-sendi penopang tubuh seperti genu, pinggul, bahu, jari tangan
maupun tulang belakang. Di seluruh dunia diperkirakan 9,6% pria dan 18% wanita diatas usia
60 tahun menderita osteoarthritis. Sendi yang paling banyak mengalami osteoartritis adalah
sendi lutut. Osteoartritis Hampir 80% osteoartritis pada usia diatas 60 tahun adalah
osteoartritis genu.
Di RS Cipto Mangunkusumo, kekerapannya mencapai 56,7%. Insidennya pada usia
kurang dari 20 tahun hanya sekitar 10% dan meningkat menjadi lebih dari 80% pada usia di
atas 55 tahun. Prevalensi osteoarthritis genu di Indonesia cukup besar. Karena prevalensi
yang cukup tinggi dan sifatnya yang kronik progresif, osteoartritis mempunyai dampak sosial
dan ekonomi yang cukup besar. Diperkirakan satu sampai dua juta orang di indonesia
menderita cacat karena osteoartritis. Pada masa yang akan datang tantangan terhadap dampak
osteoartritis akan lebih besar karena semakin banyak populasi yang berumur tua.

OSTEOARTRITIS GENU

DEFENISI
Osteoartritis genu adalah suatu penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan
kerusakan kartilago sendi lutut, merupakan suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang
berkembang lambat dan tidak diketahui penyebabnya, meskipun terdapat beberapa faktor
resiko yang berperan. Keadaan ini berkaitan dengan usia lanjut.

ANATOMI
Sendi lutut merupakan gabungan dari tiga sendi yaitu patelofemoral, tibiofemoral
medial dan tibiofemoral lateral. Pada sendi tibiofemoral, terdapat meniskus lateralis dan

4
medial. Meniskus merupakan diskus fibrokartilago pipih atau segitiga atau irreguler yang
melekat pada kapsul fibrosa dan selalu pada salah satu tulang yang berdekatan. Meniskus
mengandung kolagen tipe I sampai 60-90% sedangkan proteoglikan hanya 10%. Konstituen
glikosaminoglikan yang terbanyak adalah kondroitin sulfat dan dermatan sulfat sedangkan
keratan sulfat sangat sedikit. Selain itu fibrokartilago meniskus juga lebih mudah membaik
bila rusak.
Sendi lutut diperkuat oleh kapsul sendi yang kuat, ligamen kolateral dan medial yang
menjaga kestabilan lutut agar tidak bergerak ke lateral dan medial dan ligamentum krusiatum
anterior dan posterior yang menjaga agar tidak terjadi hiperfleksi dan hiperekstensi sendi
lutut. Fleksi lutut akan diikuti rotasi interna tibia, sedangkan ekstensi lutut akan diikuti rotasi
untuk memperbesar momen gaya pada waktu lutut ekstensi sehingga kerja otot quadriceps
femoris tidak terlalu kuat.

PATOFISIOLOGI
Terdapat dua perubahan morfologi utama yang mewarnai osteoartritis yaitu kerusakan
tulang rawan sendi yang progresif dan pembentukan tulang baru pada dasar lesi tulang rawan
sendi dan tepi sendi (osteofit). Perubahan yang lebih dulu timbul, sampai sekarang belum
dimengerti.
Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa perubahan-perubahan metabolisme tulang
rawan sendi telah timbul sejak proses patologis osteoartritis. Perubahan tersebut berupa
peningkatan aktivitas enzim-enzim yang merusak makromolekul matriks tulang rawan sendi
(proteoglikan dan kolagen). Hal ini menyebabkan penurunan kadar proteoglikan, perubahan
sifat-sifat kolagen dan berkurangnya kadar air tulang rawan sendi.
Saat ini osteoartritis tidak dipandang hanya sebagai proses degeneratif saja, tetapi juga
merupakan suatu penyakit dengan proses aktif. Dengan adanya perubahan- perubahan pada
makromolekul tulang rawan tersebut, sifat-sifat biomekanis tulang rawan sendi akan berubah.
Hal ini akan menyebabkan tulang rawan sendi rentan terhadap beban biasa. Permukaan
tulang rawan sendi menjadi tidak homogen, terpecah belah dengan robekan-robekan dan
timbul ulserasi. Dengan berkembangnya penyakit, tulang rawan sendi dapat hilang
seluruhnya sehingga tulang dibawahnya menjadi terbuka. Pembentukan tulang baru (osteofit)
dipandang oleh beberapa ahli sebagai suatu proses perbaikan untuk membentuk kembali
persendian atau tepi sendi. Dengan menambah luas permukaan sendi yang dapat menerima
beban, osteofit mungkin dapat memperbaiki perubahan-perubahan awal tulang rawan sendi

5
pada osteoartritis, akan tetapi kaitan yang sebenarnya antara osteofit dengan kerusakan tulang
rawan sendi belum jelas, oleh karena osteofit dapat timbul pada saat tulang rawan sendi
masih kelihatan normal.

FAKTOR RISIKO
Ada beberapa faktor risiko yang diketahui berhubungan erat dengan terjadinya osteoartritis
genu:

1. Umur, dari semua faktor risiko timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang
terpenting. Prevalensi dan beratnya penyakit osteoartritis semakin meningkat dengan
bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tidak pernah ditemukan pada anak, jarang
pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun. Penderita
osteoartritis genu meningkat pada usia lebih dari 65 tahun, baik secara klinik, maupun
radiologik.
2. Jenis kelamin, wanita lebih sering terkena osteoartritis genu dan laki-laki lebih sering
terkena osteoartritis paha, pergelengan tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah
usia 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki-laki dan wanita,
tetapi di atas usia 50 tahun setelah menopause frekuensi osteoartritis lebih banyak
pada wanita dibanding pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal. Dari 500
pasien dengan osteoartritis pada anggota badan, ternyata 41,9% adalah penderita
osteoartritis genu dan jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki (1,3: 1).
3. Pekerjaan, pekerjaan berat maupun pemakaian satu sendi yang terus-menerus
berkaitan dengan peningkatan risiko osteoartritis.Pekerjaan dan olah raga juga
merupakan faktor predisposisiosteoantrosis sendi lutut. Penelitian HANES I
mendapatkan bahwa pekerja yang banyak membebani sendi lutut akan mempunyai
risiko terserang osteoartritis genu lebih besar dibandingkan pekerja yang tidak banyak
membebani lutut.
4. Kegemukan,
berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya
risiko untuk timbul osteoartritis pada wanita maupun pria. Maquet berusaha
menjelaskan secara biomekanika beban yang diterima lutut pada obesitas. Pada
keadaan normal, gaya berat badan akan melalui medial sendi lutut dan akan diimbangi
oleh otot-otot paha bagian lateral sehingga resultannya akan jatuh pada bagian sentral
sendi lutut. Pada keadaan obesitas, resultan gaya tersebut akan bergeser ke medial
sehingga beban yang diterima sendi lutut tidak seimbang. Pada keadaan yang berat

6
dapat timbul perubahan bentuk sendi menjadi varus yang akan makin menggeser
resultan gaya tersebut ke medial.
5. Suku bangsa,
prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis tampak
berbeda diantara masing-masing suku bangsa. Osteoartritis genu lebih sering
ditemukan pada orang Asia, sedangkan osteoartritis panggul lebih sering pada orang
Kaukasia. Osteoartritis paha lebih jarang pada kulit hitam dan asia dibanding
kaukasia. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan
pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan. Frekuensi osteoartritis genu
pada wanita kulit hitam lebih tinggi dibandingkan dengan pada wanita kulit putih,
sedangkan pada laki-laki, frekuensi pada kulit hitam sama dengan pada kulit putih.
6. Genetik,
adanya mutasi pada gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk
unsur-unsur tulang rawan seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau
proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada
osteoartritis.
7. faktor lain
7. Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan risiko timbulnya
osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak
membantu mengurangi benturan beban pada sendi. Akibatnya tulang rawan sendi
menjadi lebih mudah robek. Faktor ini diduga berperan pada tingginya osteoartritis
pada orang gemuk dan pelari (yang umumnya mempunyai tulang yang lebih padat).

GAMBARAN KLINIK
Pada umumnya penderita osteoartritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah
berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan-lahan. Gejala dapat
berupa:

a. Hambatan Pergerakan Sendi

Hambatan pergerakan sendi ini bersifat progresif lambat, bertambah berat secara
perlahan sejalan dengan bertambahnya nyeri pada sendi

b. Nyeri Sendi

Merupakan keluhan utama yang sering kali membawa pasien datang ke dokter. Nyeri
biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa
gerakan tertentu menimbulkan rasa sakit yang berlebih dibanding gerakan lain. Nyeri
juga dapat menjalar (radikulopati) misalnya pada osteoarthritis servikal dan lumbal.
Claudicatio intermitten merupakan nyeri menjalar ke arah betis pada osteoartritis
lumbal yang telah mengalami stenosis spinal.

7
c. Krepitasi

Rasa gemeretak (seringkali sampai terdengar) yang terjadi pada sendi yang sakit.
Perubahan bentuk sendi. Sendi yang mengalami osteoarthritis biasanya mengalami
perubahan berupa perubahan bentuk dan penyempitan pada celah sendi
d. Kaku Sendi
Merupakan keluhan pada hampir semua penyakit sendi dan osteoartritis yang tidak
berat. Pada beberapa pasien, nyeri dan kaku sendi dapat timbul setelah istirahat
beberapa saat misalnya sehabis duduk lama atau bangun tidur. Berlawanan dengan
penyakit inflamasi sendi seperti artritis rheumatoid, dimana pada artritis rheumatoid
kekakuan sendi pada pagi hari berlangsung lebih dari 1 jam, maka pada osteoartritis
kekakuan sendi jarang melebihi 30 menit.
e. Peradangan dan Pembengkakan Sendi

Merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang sendi.
Biasanya teraba panas tanpa adanya kemerahan. Pada sendi yang terkena akan terlihat
deformitas yang disebabkan terbentuknya osteofit. Tanda-tanda adanya reaksi
peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata, dan
warna kemerahan) mungkin dijumpai pada osteoartritis karena adanya sinovitis.
f. Perubahan Gaya Jalan

Salah satu gejala yang menyusahkan pada pasien osteoartritis adalah adanya
perubahan gaya jalan. Hampir pada semua pasien osteoartritis, pergelangan kaki,
tumit, lutut atau panggulnya berkembang menjadi pincang.
g. Gangguan Fungsi

Timbul karena ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi. Adanya kontraktur,
kemungkinan adanya osteofit, nyeri dan bengkak merupakan penyebab yang
menimbulkan gangguan fungsi. Pada osteoartritis tidak terdapat gejala-gejala sistemik
seperti kelelahan, penurunan berat badan atau demam.

PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan pasien dengan osteoarthritis adalah:
 Meredakan nyeri
 Mengoptimalkan fungsi sendi
 Mengurangi ketergantungan kepada orang lain dan meningkatkan kualitas 
hidup
 Menghambat progresivitas penyakit

8
 Mencegah terjadinya komplikasi

Penatalaksanaan pada pasien dengan osteoarthritis yaitu:


Nonfarmakologis:
 Edukasi
 Istirahat teratur yang bertujuan mengurangi penggunaan beban pada sendi
 Modifikasi aktivitas
 Menurunkan berat badan
 Rehabilitasi medik/ fisioterapi
o Latihan statis dan memperkuat otot-otot
o Fisioterapi, yang berguna untuk mengurangi nyeri, menguatkan otot, dan

menambah luas pergerakan sendi
 Penggunaan alat bantu


Farmakologis: 

A. Sistemik 

1. Analgetik
- Non narkotik:
parasetamol 
- Opioid (kodein, tramadol)
2. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs):
Oral
- injeksi (meloxicam, piroxicam, na.diclofenac, ibuprofen)
3. DMOADs (disease modifying OA drugs)

Pada sebuah studi, telah ditetapkan bahwa sekelompok zat yang sebelumnya dikenal
sebagai food supplement, berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan diakui
sebagai nutraceutical atau disease modifying osteorthritis drugs. Bahan yang
tergolong nutraceutical ini berfungsi memperbaiki metabolisme kartilago sendi
apabila dipergunakan dalam jangka panjang (2-3 tahun). Disamping itu beberapa
penelitian juga membuktikan bahwa obat ini bersifat anti inflamasi ringan dengan
memperbaiki konstituen cairan sinovial. Diantara nutraceutical yang saat ini tersedia
di Indonesia adalah Glucosamine Sulfate dan Chondroitine Sulfate. 
Karena tersedia
dalam berbagai dosis dan kombinasi dengan vitamin C atau mineral, maka dianjurkan
untuk mempelajari konstituen masing-masing sediaan.


9
B. Topikal
Analgesik topical seperti krim NSAIDs
dapat diberikan pada pasien OA. Selain zat
berkhasiat yang terkandung didalamnya, perlu diperhatikan campuran yang dipergunakan
untuk penetrasi kulit. Salah satu yang dapat digunakan adalah gel piroxicam, dan sodium
diclofenac.

C. Injeksi Intraartikuler
Pada dasarnya ada 2 indikasi suntikan intra artikular yakni penanganan simtomatik
dengan steroid, dan viskosuplementasi dengan asam hialuronat untuk modifikasi
perjalanan penyakit. Dengan pertimbangan ini yang sebaiknya melakukan tindakan,
adalah dokter yang telah melalui pendidikan tambahan dalam bidang reumatologi.

1. Steroid (triamsinolone hexacetonide dan methyl prednisolone)
Hanya diberikan jika ada satu atau dua sendi yang mengalami nyeri dan inflamasi yang
kurang responsif terhadap pemberian NSAIDs, tak dapat mentolerir NSAIDs atau ada
komorbiditas yang merupakan kontra indikasi terhadap pemberian NSAIDs. Teknik
penyuntikan harus aseptik, tepat dan benar untuk menghindari penyulit yang timbul.
Sebagian besar literatur tidak menganjurkan dilakukan penyuntikan lebih dari sekali
dalam kurun 3 bulan atau setahun 3 kali terutama untuk sendi besar penyangga tubuh.
Dosis untuk sendi besar seperti lutut 40-50 mg/injeksi, sedangkan untuk sendi-sendi kecil
biasanya digunakan dosis 10 mg.

2. Asam Hialuronat
Asam Hialuronat juga merupakan salah satu DMOADs, disebut juga sebagai
viscosupplement oleh karena salah satu manfaat obat ini adalah da[at memperbaiki
viskositas cairan synovial, obat ini diberikan secara intra-artikule. Asam Hialuronat
ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan matriks tulang rawan melalui
agregasi dengan proteoglikan. Di samping itu pada binatang percobaan, asam hialuronat
dapat mengurangi inflamasi pada sinovium, menghambat angiogenesis dan khemotaksis
sel-sel inflamasi. Penyuntikan asam hialuronat biasanya untuk sendi lutut (paling sering),
sendi bahu dan koksa. Diberikan berturut-turut 5 sampai 6 kali dengan interval satu
minggu masing-masing 2 sampai 2,5 ml. Teknik penyuntikan harus aseptik, tepat dan
benar. Kalau tidak dapat timbul berbagai penyulit seperti artritis septik, nekrosis jaringan
dan abses steril. Perlu diperhatikan faktor alergi terhadap unsur/bahan dasar asam
hialuronat misalnya harus dicari riwayat alergi terhadap telur. Sediaan di Indonesia

10
diantaranya adalah Hyalgan, Adant dan Osflex.

D. Pembedahan
Sebelum diputuskan untuk terapi pembedahan, harus dipertimbangkan terlebih dahulu
risiko dan keuntungannya.
Pertimbangan dilakukan tindakan operatif bila :
 Deformitas menimbulkan gangguan mobilisasi
 Nyeri yang tidak dapat teratasi dengan penganan medikamentosa dan rehabilitatif

4. Plan
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa pasien ini di diagnosis dengan Osteoarthritis Genu Bilateral.
Pengobatan :
 Meloxicam 15 mg 1x1
 Viopor 3x1
 Lansoprazole 30 mg 1x1
 Fisioterapi
Pemeriksaan penunjang :
Ro. Genu dextra et sinistra
DR, LED, As.urat
Prognosis
Prognosis dapat dilihat berdasarkan progresivitas penyakit dan pengendalian faktor
resiko ataupun faktor-faktor yang dapat memperberat penyakit.
Pendidikan
Edukasi kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakit yang diderita pasien.
Edukasi mengenai faktor resiko yang dapat memperberat penyakit pasien seperti
mengurangi aktifitas berjalan atau berdiri terlalu lama, serta mengurangi berat badan agar
beban yang ditopang oleh lutut tidak terlalu bedat. Serta tidak lupa melakukan edukasi
kepada pasien mengenai penatalaksaan dan prognosis penyakitnya.
Rujukan
Rujukan diperlukan bila ditemukan adanya tanda-tanda radang seperti efusi genu,
dimana dalam hal ini diperlukan efakuasi (aspirasi) cairan efusi ataupun dimana keluhan
pasien semakin memberat dimana dibutuhkan terapi ataupun tindakan yang lebih tanjut.

11