Anda di halaman 1dari 10

RMK EKONOMI MANAJERIAL (A2)

RPS 10

“Struktur dan Analisis Pasar Persaingan Monopolistik dan Oligopoli”

Oleh :

I Komang Putra Krisna Eka Yasa (1707521076)


I Kadek Juliantara (1707521140)
Barrul Mujib (1707521148)

Program Studi Manajemen Reguler


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2019
1. Arti dan Nilai Penting Persaingan Monopolistik

Pasar persaingan monopolistik merupakan salah satu dari pasar persaingan tidak
sempurna. Teori pasar monopolistik dikembangkan karena ketidakpuasan terhadap daya
analisis model persaingan sempurna maupun pasar monopoli. Tetapi dilihat dari stukturnya
pasar monopolistik lebih mendekati pada pasar persaingan sempurna tetapi perushaan yang
berpatisipasi di pasar tersebut menghasilkan produk yang berbeda karakteristik.
Pasar monopolistik didefinisikan sebagai pasar dengan banyak produsen yang
menghasilkan komoditas yang berbeda karakteristik (differentiated product) dan bisa
disebut juga sebagai pasar yang banyak penjual, yang menawarkan satu jenis barang
dengan diferensiasi produk yang berbeda-beda baik dari segi kualitas, bentuk dan ukuran.
Dalam pasar persaingan monopolistik para konsumen merasakan adanya perbedaan
karakteristik dari produk-produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dengan produk-
produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan lainnya. Perbedaan tersebut bisa
mencerminkan perbedaan yang sebenarnya diantara produk-produk yang mereka konsumsi
atau hanya perbedaan persepsi konsumen bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh
perusahaan-perusahaan yang beroperasi di pasar memang berbeda. Sebagai contohnya
perbedaan produk dapat dilihat dari bentuk fisiknya seperti beda fungsi, bentuk ataupun
kualitas. Perbedaan juga dapat dijumpai dalam kaitannya dengan merek, logo ataupun
kemasan. Lebih lanjut perbedaan juga dapat dijumpai dalam kaitannya dengan hal-hal yang
terkait dengan penjualan seperti jangka waktu kredit, ketersediaan komoditas, kemudahan
dalam memperolehnya, pelayanan purna jual, lokasi perolehan komoditas, pelayanan dan
sebagainya. Pakaian, obat-obatan, kosmetik, restoran dan banyak komoditas makanan
adalah contoh-contoh dari komoditas monopolistik yang umum dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari.

2. Penentuan Harga dan Output Jangka Pendek Pada Pasar Persaingan Monopilistk

Karena perusahaan persaingan monopolistik menghasilkan produk yang


terdiferensiasi, kurva permintaan yang dihadapinya memiliki kemiringan negatif, tetapi
karena terdapat banyak produk substitusi yang dekat untuk produk, kurva permintaannya
sangat elastis terhadap perubahan harga. Elastisitas harga permintaan semakin tinggi, kalau
diferensiasi produknya semakin sedikit. Seperti halnya dalam monopoli, kanena kurva
permintaan yang dihadapi oleh perusahaan memiliki kemiringan negarif dan linier, maka
kurva penerimaan marjinalnya berada di bawah kurva permintaan, yang mendorong sumbu
harga pada rink yang satuan dan memiliki kemiringan absolut dua kali lipat kurva
permintaan.

Seperti juga semua perusahaan dalam struktur pasar lain yang telah dibahas, tingkat
output terbaik dan perusahaan persaingan monopolistik dalam jangka pendek, dicapai
ketika penerimaan marjinal satuan dengan biaya marjinal, sepanjang harga (yang
ditentukan pada kurva permintaan) melebihi biaya variabel rata-rata. Hal ini ditunjukkan
dalam Gambar 9-9. Gambar 9-9 menunjukkan bahwa tingkat output terbaik dalam jangka
pendek, dan perusahaan persaingan monopolistik yang “umum” atau “mewakili”, adalah 6
unit dan ditunjukkan oleh titik E, ketika MR = MC. Pada Q < 6, MR > MC dan laba total
perusahaan bisa diperbesar dengan meningkatkan output. Pada Q > 6, MC > MR dan laba
total perusahaan bisa diperbesar dengan mengurangi output. Untuk bisa menjual pada
tingkat output terbaik (yaitu, 6 unit), perusahaan membebankan harga sebesar $9 per unit
(titik A pada kurva D). Karena pada Q = 6, ATC = $7 (titik F dalam gambar), maka
perusahaan persaingan monopolistik ini memperoleh laba per unit sebesar AF = $2 dan
laba total sebesar AFBC = $12 (daerah yang diarsir dalam gambar). Seperti halnya dalam
kasus perusahaan persaingan sempurna maupun kasus monopolis, perusahaan persaingan
monopolistik bisa memperoleh laba, mencapai titik impas, atau justru merugi dalam jangka
pendek. Jika pada tingkat output terbaiknya, F>ATC, maka perusahaan memperoleh laba;
jika P = ATC maka perusahaan mencapai titik impas, dan jika P < ArC, maka perusahaan
mengalami kerugian, tetapi meminimalkan kerugiannya jika perusahaan terap berproduksi
sepanjang P > AVC. Terakhir, karena kurva permintaan yang dihadapi oleh perusahaan
persaingan monopolistik memiliki kemiringan yang negatif, MR = MC < P pada tingkat
output terbaiknya, sehingga (seperti juga dalam kasus monopoli) bagian kurva MC yang
menanjak dan terletak di atas kurva AVC bukan merupakan kurva penawaran jangka
pendek dan perusahaan persaingan monopolistik.
3. Penentuan Harga dan Output Jangka Panjang Pada Pasar Persaingan Monopilistik

Jika perusahaan dalam pasar persaingan monopolistik memperoleh laba dalam


jangka pendek (atau akan memperoleh laba dalam jangka panjang dengan membangun
skala pabrik yang optimal untuk berproduksi pada tingkat output terbaik mereka), lebih
banyak perusahaan akan memasuki pasar dalam jangka panjang. Ini berarti kurva
permintaanyang dihadapi oleh setiap perusahaan dalam pasar bergeser ke sebelah kin
(karena pangsa pasarnya berkurang), hingga akhirnya bersinggungan dengan kurva LAC
perusahaan. Jadi, dalam jangka panjang, semua perusahaan persaingan monopolistik hanya
mencapai titik impas dan berproduksi pada bagian kurva MC yang memiliki kemiringan
negatif (dan tidak pada titik terendah sebagaimana dalam kasus pasar persaingan
sempurna). Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 9-10. Dalam Gambar 9-10, D’ adalah kurva
permintaanyang dihadapi oleh perusahaan yang “umum” atau “mewakili” pasar persaingan
monopolistik dalam jangka panjang.

Kurva permintaanD’ lebih rendah dan elastisitas harganya lebih tinggi dibanding
kurva D yang dihadapi oleh perusahaan dalam jangka pendek. Artinya, semakin banyak
perusahaan memasuki pasar persaingan monopolistik dalam jangka panjang (yang tertarik
oleh laba yang diperoleh), setiap perusahaan persaingan monopolistik akan memperoleh
pangsa pasar yang semakin kecil dan menghadapi kurva permintaanyang semakin tinggi
tingkat elastisitas harganya, karena semakin banyak produk saingan yang tersedia dalam
jangka panjang.
Perhatikan bahwa kurva permintaan Li bersinggungan dengan kurva MC dan
SATC’ pada titik A’, yaitu tingkat output ketika MR’ = LMC = SMC’ (titik E’ dalam
gambar). Dengan demikian, perusahaan dalam pasar persaingan monopolistik menjual 4
unit produk tersebut pada tingkat harga $6 per unit dan mencapai titik impas dalam jangka
panjang (bandingkan dengan Q 6 pada P $9 dan laba per unit $2 serta laba total $12 dalam
jangka panjang).
Pada tingkat harga lainnya, perusahaan tersebut akan mengalami kerugian dalam
jangka panjang, dan dengan jumlah perusahaan yang berbeda, tidak akan tercapai titik
impas. Kenyataan bahwa perusahaan persaingan monopolistik berproduksi di sebelah kiri
titik terendah kurva LAC-nya ketika mencapai keseimbangan jangka panjang, berarti
bahwa biaya rata-rata produksi dan harga dan produk dalam pasar persaingan monopolistik
lebih tinggi dibanding pasar persaingan sempurna ($6 pada titik A’ dibanding $5 pada titik
E”, secara berturut-turut, dalam Gambar 9-10). Perbedaan ini tidak besar karena kurva
permintaan yang dihadapi oleh perusahaan persaingan monopolistik sangat elastis. Akan
tetapi, sedikit lebih tingginya MC dan P dalam pasar persaingan monopolistik dibanding
pasar persaingan sempurna, bisa dianggap sebagai biaya untuk menyediakan sejumlah
variasi produk terdiferensiasi yang sesuai dengan berbagai macam selera konsumen,
ketimbang hanya memiliki satu produk yang tidak terdiferensiasi.
Kenyataan bahwa setiap perusahaan persaingan monopolistik berproduksi di
sebelah kiri titik terendah kurva MC, berarti bahwa setiap perusahaan berproduksi dengan
kapasitas berlebih (excess capacity) dan terdapat jauh lebih banyak perusahaan (artinya,
terjadi overcrowding) ketika bentuk pasar adalah persaingan monopolistik dibanding jika
bentuknya pasar persaingan sempurna.
4. Arti dan Sumber Terjadinya Pasar Oligopoli

Pindyck (2005) mendefinisikan pasar oligopoli sebagai pasar di mana hanya sedikit
perusahaan menguasai kebanyakan atau seluruh total produksi. Produk yang dihasilkan
perusahaan dalam pasar oligopoli bersifat homogen atau sejenis dan mungkin terdapat
diferensiasi antar produk perusahaan. Dalam beberapa pasar oligopolistik, beberapa atau
seluruh perusahaan memperoleh laba yang besar dalam jangka panjang karena adanya
hambatan untuk masuk (barriers to entry) yang mengakibatkan sulitnya perusahaan-
perusahaan baru untuk memasuki pasar.

Hambatan masuk yang terdapat dalam pasar oligopoli diakibatkan oleh adanya skala
ekonomi. Skala ekonomi berhubungan dengan penurunan biaya untuk memproduksi satu
unit produk dikarenakan bertambahnya jumlah produk yang diproduksi per periode.
Sehingga perusahaan yang lebih dahulu berada dalam pasar akan mencapai nilai efisiensi
yang lebih tinggi dan akan menjadi ancaman bagi perusahaan baru yang akan memasuki
pasar. Selain itu, paten dan akses terhadap teknologi serta perlunya uang untuk
memperkenalkan nama dan reputasi pasar juga mungkin menghalangi masuknya calon-
calon pesaing. Hal-hal tersebut adalah hambatan masuk yang alami yang terdapat dalam
pasar oligopoli. Selain dari hambatan masuk yang alami, perusahaan-perusahaan yang
sudah ada mungkin saja mengambil tindakan-tindakan strategis untuk menghalangi
keinginan masuk perusahaan baru. Tindakan-tindakan strategis yang mungkin dilakukan
adalah dengan mengancam akan membanjiri pasar dan mendorong harga turun jika
perusahaan-perusahaan baru masuk. Dalam pasar oligopoli dikenal istilah duopoli yang
merupakan bentuk paling sederhana dari oligopoli, di mana dalam suatu industri hanya
terdapat dua perusahaan.

5. Model Cournot Dalam Pasar Oligopoli

Ahli ekonomi Augustin Cournot pada tahun 1838 memperkenalkan model sederhana
duopoli yang dinamakan model Cournot. Akan tetapi hasil karya tersebut tidak banyak
menarik perhatian hingga pada tahun 1897 hasil karya tersebut dipublikasikan kembali
dalam bahasa inggris dan menarik perhatian para ekonom (Sherbet, 1987). Augustin
Cournot melakukan observasi pada kompetisi dalam pasar duopoli spring water, di mana
pembeli membawa wadah masingmasing sehingga tidak ada biaya produksi yang menjadi
pertimbangan. Karakteristik dari pasar duopoli yang diobservasi tersebut adalah sebagai
berikut (Arga, 2008):

 Terdapat lebih dari satu perusahaan dan produk yang dihasilkan bersifat homogen
 Perusahaan-perusahaan di dalam pasar tidak saling bekerja sama
 Perusahaan-perusahaan memiliki market power
 Perusahaan dalam pasar jumlahnya tetap dan tidak berubah-ubah
 Terdapat tindakan strategis (strategic behavior)1 yang dilakukan oleh perusahan
Model Cournot adalah model duopoli, di mana kedua perusahaan memproduksi suatu
barang yang homogen. Masing-masing perusahaan memperlakukan output pesaingnya
sebagai sesuatu yang tetap, dan semua perusahaan memutuskan secara bersamaan berapa
banyak produk yang harus diproduksi. Dalam model ini digunakan asumsi dasar bahwa
setiap perusahaan akan berusaha memaksimumkan profitnya dengan harapan bahwa output
decision-nya tidak akan mempengaruhi keputusan pesaingnya.

Gambar 2.1 menjelaskan perilaku perusahaan duopoli di mana perusahaan 1 akan


memaksimalkan labanya dengan memperkirakan jumlah produksi perusahaan 2. Jika
perusahaan 1 mengira perusahaan 2 tidak akan berproduksi (0) maka kurva permintaan
perusahaan 1 adalah kurva permintaan pasar. Output yang memaksimalkan laba perusahaan
1 adalah titik di mana MR1(0) berpotongan dengan MC1 yaitu 50 unit. Jadi, jika
perusahaan 1 mengira bahwa perusahaan 2 memproduksi 0 maka seharusnya perusahaan 1
memproduksi 50 unit. Kemudian jika perusahaan 1 mengira perusahaan 2 akan
memproduksi 50 unit maka kurva permintaan perusahaan 1 bergeser ke kiri D1(50)
sehingga maksimalisasi laba perusahaan 1 adalah 25 unit. Akhirnya jika perusahaan 1
mengira perusahaan 2 akan memproduksi 75 unit, perusahaan 1 hanya akan memproduksi
12,5 unit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara output yang
memaksimalkan laba suatu perusahaan dan jumlah yang dikirannya akan diproduksi
pesaingnya, yang disebut sebagai kurva reaksi.

Gambar 2.2 menjelaskan bahwa kurva reaksi perusahaan 1 menunjukkan berapa


banyak yang akan diproduksinya sebagai fungsi dari berapa besar perusahaan itu mengira
perusahaan 2 akan berproduksi. Begitu pula dengan perusahaan 2. Kurva reaksi perusahaan
2 menunjukkan outputnya sebagai fungsi dari seberapa besar perusahaan itu mengira
perusahaan 1 akan berproduksi. Dalam ekuilibrium Cournot, masing-masing perusahaan
dengan tepat mengasumsikan jumlah yang akan diproduksi pesaingnya dan dengan
demikian memaksimalkan labanya sendiri. Hal tersebut menyebabkan tidak satu
perusahaan pun akan berpindah dari ekuilibrium ini. Ekuilibrium Cournot merupakan
contoh dari ekuilibrium Nash.

6. Model Permintaan Yang Patah Pada Pasar Oligopoli (Sweezy)

Sweezy (1939) mengembangkan modelnya hampir bersamaan dengan Hall dan Hitch
(1939). Model Sweezy berusaha menjelaskan kekakuan harga (price rigidity) yang menjadi
ciri khas pasar oligopolistik (Lipczynski, 2005). Hal tersebut dapat terjadi karena kolusi
implisit cenderung mudah pecah, sehingga perusahaan-perusahaan oligopolistik
mempunyai keinginan yang kuat akan stabilitas terutama dalam hal harga. Perusahaan-
perusahaan merasa enggan mengubah harga meskipun biaya atau permintaannya berubah.
Ketika biaya turun atau terjadi penurunan permintaan, perusahaan enggan untuk
menurunkan harga karena khawatir jika pesaingnya keliru dalam menanggapi dan
menerimanya sebagai isyarat babak baru peperangan harga. Sebaliknya jika biaya atau
permintaan naik, perusahaan enggan menaikkan harga karena khawatir jika perusahaan-
perusahaan pesaingnya mungkin tidak akan menaikkan harga.

Kekakuan harga adalah dasar model kurva permintaan kaku (kinked demand curve)
dalam oligopoli, yaitu model oligopoli di mana masing-masing perusahaan menghadapi
suatu permintaan yang kaku pada harga yang sekarang berlaku (P*). Pada harga yang lebih
tinggi, permintaan akan sangat elastis karena perusahaan tersebut percaya jika ia
menaikkan harganya di atas P*, perusahaan lain tidak akan mengikutinya dan oleh sebab
itu perusahaan tersebut akan kehilangan pangsa pasarnya. Sebaliknya pada harga yang
lebih rendah permintaan tidak elastis. Jika perusahaan menurunkan harga di bawah P*
maka perusahaan lain akan mengikutinya karena tidak ingin kehilangan pangsa pasar
mereka.

Karena kurva permintaan perusahaan tersebut kaku, kurva penerimaan marjinal (MR)
terputus. Akibatnya, biaya perusahaan tersebut dapat berubah tanpa menyebabkan
perubahan harga. Penjelasan kekakuan harga ini berasal dari dilema narapidana dan dari
keinginan perusahaan-perusahaan menghindari persaingan harga yang sama-sama
menghancurkan mereka sendiri.

Hasil penelitian Wicaksono (2014) menyimpulkan bahwa model oligopoli Sweezy


terbentuk pada industri telekomunikasi seluler di Indonesia tahun 2012. Hal tersebut dilihat
dari jumlah pemain dalam industri yang relatif sedikit (10 perusahaan), barang yang
ditawarkan bersifat homogen yang terdiferensiasi, dan terjadi persaingan non-harga, akibat
dari aksi-reaksi antar perusahaan sehingga bentuk kurva permintaan yang dihadapi oleh
perusahaan dalam pasar oligopolis adalah patah atau kinked demand curve.
Daftar Pustaka

 Boediono . 1982. Ekonomi Mikro. Seri Sinopsis PIE No. 1, BPFE, Yogyakarta

 Rahardja, Prathama. “Pengantar Ekonomi Mikro”, Jakarta : Fakultas Ekonomi


Universitas Indonesia, 2010.
 MAULINA, D., & SUGIYANTO, F. (2014). Identifikasi Struktur Pasar Dan
Strategi Bersaing: Pendekatan Game theory (Kasus: Industri Angkutan Antar
Jemput Dalam Provinsi Jurusan Semarang-Purwokerto) (Doctoral dissertation,
Fakultas Ekonomika dan Bisnis).