Anda di halaman 1dari 22

PENYELESAIAN SENGKETA DALAM KONTRAK TAMBANG

EMAS MELALUI ARBITRASE

Dominicus Mere
Praktisi Pertambangan
Korespondensi: dominicus.mere@yandex.com

Abstrak

Artikel ini membahas mengenai penyelesaian sengketa dalam kontrak tambang emas
melalui arbitrase. UU No. 4 Tahun 2009 menentukan bahwa setiap sengketa yang muncul
dalam pelaksanaan izin pertambangan diselesaikan melalui pengadilan dan arbitrase dalam
negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam pembahasan ini
penulis berpendapat bahwa pilihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah pilihan
yang tepat ketimbang pilihan litigasi di pengadilan. Hal tersebut dikarenakan arbitrasi
memiliki beberapa kelebihan seperti proses penyelesaian sengketa lebih cepat, hasil
kesepakatan yang bersifat “win-win solution”, serta jaminan kerahasiaan sengketa dari
sorotan publik. Berdasarkan kelebihan- kelebihan tersebut, arbitrase dinilai lebih tepat
untuk diterapkan dalam sengketa kontrak tambang emas di Indonesia.

Kata-kata Kunci: Arbitrase; Sengketa; Kontrak Tambang Emas.

Abstract

This article discusses the settlement of disputes in the gold mining contract through
arbitration. Law Number 4 of 2009 specifies that any disputes that arise in the
implementation of mining license should be resolved through arbitration in domestic courts
and in accordance with the provisions of the legislation. In this paper the author argues
that choosing arbitration as a dispute resolution mechanism is more proper than choosing
court litigation. That is because arbitration has several advantages such as faster dispute
resolution process, the “win-win” nature, as well as the guarantee of confidentiality from
public scrutiny. Based on these advantages, arbitration is considered more appropriate to
be applied in gold mining contract disputes in Indonesia.

Key Words: Arbitration; Dispute; Gold Mining Contract.

159
160 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

PENDAHULUAN lebih mengikatkan dirinya terhadap satu


orang lain atau lebih. Berdasarkan
Setiap manusia mempunyai
rumusan tersebut, maka suatu kontrak
berbagai macam kepentingan yang
atau perjanjian adalah:
berupa suatu tuntutan baik
perseorangan maupun kelompok yang 1. Suatu perbuatan;
diharapkan untuk dapat dipenuhi. 2. Antara sekurang-kurangnya dua
Dalam upaya untuk memenuhi orang;
kepentingan tersebut manusia 3. Perbuatan tersebut melahirkan
membutuhkan bantuan dari manusia perikatan di antara pihak-pihak
lain. Hal ini dapat dipahami karena yang berjanji.3
selain sebagai makhluk individu, maka
Menurut asas konsensualisme,
manusia adalah makhluk sosial yang
suatu kontrak atau perjanjian lahir pada
selalu membutuhkan bantuan dan
detik tercapainya kesepakatan atau
kehadiran manusia lain dalam
persetujuan antara kedua belah pihak.
kehidupan bermasyarakat.1
Sepakat adalah suatu persesuaian
Salah satu perwujudan dari adanya paham dan kehendak antara dua pihak
hubungan antar manusia dilaksanakan tersebut, apa yang dikehendaki oleh
melalui kontrak atau perjanjian. Kontrak pihak yang satu adalah juga yang
atau perjanjian dilaksanakan oleh dikehendaki oleh pihak yang lain,
manusia dalam interaksinya baik secara meskipun tidak sejurus tetapi secara
sadar maupun tanpa disadari. Kontrak timbal balik.4
atau perjanjian di sini memiliki
Suatu kontrak atau perjanjian harus
pengertian suatu peristiwa di mana
memenuhi syarat sahnya kontrak atau
seorang berjanji kepada orang lain atau
perjanjian, yaitu kata sepakat,
di mana dua orang itu saling berjanji
kecakapan, hal tertentu dan suatu sebab
untuk melaksanakan sesuatu hal. 2
yang halal, sebagaimana ditentukan
Kontrak atau perjanjian tersebut
dalam Pasal 1320 KUH Perdata dan
menerbitkan perikatan antara dua orang
dengan dipenuhinya empat syarat
yang membuatnya.
sahnya perjanjian tersebut, maka suatu
Adapun pengertian kontrak atau kontrak atau perjanjian menjadi sah dan
perjanjian diatur dalam Pasal 1313 Kitab mengikat secara hukum bagi para pihak
Undang-Undang Hukum Perdata (KUH yang membuatnya.5
Perdata) yang menentukan bahwa suatu
Menurut Pasal 1315 KUH Perdata,
kontrak atau perjanjian adalah suatu
pada umumnya tiada seorang pun dapat
perbuatan dengan mana satu orang atau

1
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar (Liberty 1991) 1.
2
Subekti, Hukum Perjanjian (Intermasa 1998) 1.
3
Kartini Mulyadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian (PT. Raja Grafindo
Persada 2004) 7.
4
Subekti, Op.Cit. 26.
5
Suharnoko, Hukum Perjanjian, Teori dan Analisa Kasus (Prenada Media 2005) .
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 161

mengikatkan diri atas nama sendiri atau yang demikian, maka selain dapat
meminta ditetapkannya suatu janji, dibuktikan dengan bukti tertulis atau
melainkan untuk dirinya sendiri. Asas adanya keberadaan saksi yang turut
tersebut dinamakan asas kepribadian. menyaksikan keadaan pada saat
Memang sudah semestinya, perikatan ditutupnya kontrak atau perjanjian,
hukum yang dilahirkan oleh suatu maka pelaksanaan atau pemenuhan
kontrak atau perjanjian hanya mengikat prestasi dalam perikatan sulit sekali
orang-orang yang mengadakan kontrak dapat dipaksakan.7
atau perjanjian itu sendiri dan tidak
Hal kedua yang mendasari
mengikat orang-orang lain. Suatu
keberadaan Pasal 1338 KUH Perdata
kontrak atau perjanjian hanya
dengan rumusan itikad baik adalah
meletakkan hak-hak dan kewajiban-
bahwa suatu kontrak atau perjanjian
kewajiban antara para pihak yang
yang dibuat hendaknya dari sejak
membuatnya. Orang-orang lain adalah
kontrak atau perjanjian ditutup, kontrak
pihak ketiga yang tidak mempunyai
atau perjanjian tersebut sama sekali
sangkut paut dengan kontrak atau
tidak dimaksudkan untuk merugikan
perjanjian tersebut.6
kepentingan debitor maupun kreditor,
Selanjutnya Pasal 1338 ayat (3) KUH maupun pihak lain atau pihak ketiga
Perdata menentukan bahwa kontrak lainnya di luar kontrak atau perjanjian.
atau perjanjian harus dilaksanakan Sebagaimana diketahui bahwa dalam
dengan itikad baik. Rumusan tersebut suatu masyarakat modern, berbagai
memberikan arti bahwa sebagai sesuatu bentuk kontrak atau perjanjian
yang disepakati dan disetujui oleh para merupakan suatu kebutuhan bagi
pihak, atau prestasi, harus dihormati mereka karena melalui kontrak atau
sepenuhnya, sesuai dengan kehendak perjanjian, baik secara lisan maupun
para pihak pada saat kontrak atau secara tertulis, kebutuhan tiap-tiap
perjanjian ditutup. Namun demikian individu manusia dalam interaksinya
adakalanya tidaklah mudah untuk dengan manusia lain dapat terpenuhi.
menjelaskan dan menguraikan kembali
Fokus tulisan ini adalah
kehendak para pihak, terlebih lagi jika
penyelesaian sengketa dalam kontrak
pihak yang terkait dengan kontrak atau
tambang emas melalui arbitrase.
perjanjian tersebut sudah tidak ada lagi,
Pengaturan kontrak dalam implementasi
adalah suatu badan hukum yang para
kerjasama tambang emas mengacu pada
pengurusnya pada saat kontrak atau
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
perjanjian dibuat tidak lagi menjabat,
tentang Pertambangan Mineral dan
ataupun dalam hal terjadi pengingkaran
Batubara (UU No. 4 Tahun 2009).
terhadap kontrak atau perjanjian
Pengaturan tersebut sejalan dengan
tersebut oleh salah satu pihak dalam
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar
kontrak atau perjanjian. Dalam keadaan

6
Subekti, Op.Cit. 29.
7
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op.Cit. 80.
162 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tahun 1935 mulai menambang nikel
(UUD NRI 1945) yang menentukan di Pomalaa-Sulawesi.
bahwa bahan tambang merupakan
Setelah masa Perang Dunia II (1950-
salah satu sumber daya alam yang
1966), produksi pertambangan
dikuasai oleh negara dan harus dapat
Indonesia mengalami penurunan. Baru
dimanfaatkan secara optimal untuk
menjelang tahun 1967, pemerintah
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Indonesia merumuskan kontrak karya
Oleh karena itu, sektor pertambangan
(KK). KK pertama diberikan kepada PT.
merupakan salah satu sektor yang
Freeport Sulphure (sekarang PT.
memegang peranan penting dalam
Freeport Indonesia). Berdasarkan jenis
menunjang pembangunan nasional.
mineralnya, pertambangan di Indonesia
Atas dasar itu maka permasalahan yang
terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:
secara spesifik ingin dibahas adalah:
Pertama, pengaturan kontrak dalam a. Pertambangan Golongan A, meliputi
implementasi kerjasama tambang emas. mineral-mineral strategis seperti:
Kedua, hambatan yang dihadapi dalam minyak, gas alam, bitumen, aspal,
penyelesaian konflik kontrak tambang natural wax, antrasit, batu bara,
emas. Ketiga, arbitrase sebagai uranium dan bahan radioaktif
mekanisme penyelesaian sengketa lainnya, nikel dan cobalt.
kontrak tambang emas. b. Pertambangan Golongan B, meliputi
mineral-mineral vital, seperti: emas,
PEMBAHASAN
perak, intan, tembaga, bauksit,
Pengaturan Kontrak dalam timbal, seng dan besi.
Implementasi Kerjasama Tambang c. Pertambangan Golongan C,
Emas umumnya mineral-mineral yang
dianggap memiliki tingkat
Pertambangan di Indonesia dimulai
kepentingan lebih rendah daripada
berabad-abad lalu. Namun
kedua golongan pertambangan
pertambangan komersial baru dimulai
lainnya. Antara lain meliputi
pada zaman penjajahan Belanda, diawali
berbagai jenis batu, limestone, dan
dengan pertambangan batubara di
lain-lain.
Pengaron-Kalimantan Timur (1849) dan
pertambangan timah di Pulau Bilitun Eksploitasi mineral golongan A
(1850). Sementara pertambangan emas dilakukan Perusahaan Negara, sedang
modern dimulai pada tahun 1899 di perusahaan asing hanya dapat terlibat
Bengkulu–Sumatera. Pada awal abad sebagai partner. Sementara eksploitasi
ke-20, pertambangan-pertambangan mineral golongan B dapat dilakukan
emas mulai dilakukan di lokasi-lokasi baik oleh perusahaan asing maupun
lainnya di Pulau Sumatera. Pada tahun Indonesia. Eksploitasi mineral golongan
1928, Belanda mulai melakukan C dapat dilakukan oleh perusahaan
penambangan Bauksit di Pulau Bintan Indonesia maupun perusahaan
perorangan.
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 163

Adapun pelaku pertambangan di retribusi ataupun royalti. Namun


Indonesia dapat dikategorikan menjadi demikian, kegiatan penambangan yang
tiga, yaitu Negara, Kontraktor dan tidak berwawasan atau tidak
Pemegang KP (Kuasa Pertambangan). mempertimbangkan keseimbangan dan
Selanjutnya beberapa isu-isu penting daya dukung lingkungan serta tidak
permasalahan pada pertambangan, dikelola dengan baik dapat
adalah ketidakpastian kebijakan, menimbulkan dampak negatif terhadap
penambangan liar, konflik dengan lingkungan. Dampak negatif tersebut
masyarakat lokal, konflik sektor antara lain terjadinya gerakan tanah
pertambangan dengan sektor lainnya. yang dapat menelan korban baik harta
benda maupun nyawa, hilangnya daerah
Bahan tambang merupakan salah
resapan air di daerah perbukitan,
satu sumber daya alam yang dikuasai
rusaknya bentang alam, pelumpuran ke
oleh negara dan harus dapat
dalam sungai yang dampaknya bias
dimanfaatkan secara optimal untuk
sampai ke hilir, meningkatkan intensitas
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
erosi di daerah perbukitan, jalan-jalan
(amanat UUD NRI 1945 Pasal 33 ayat
yang dilalui kendaraan pengangkut
3). Oleh karena itu, sektor
bahan tambang menjadi rusak,
pertambangan merupakan salah satu
mengganggu kondisi air tanah, dan
sektor yang memegang peranan penting
terjadinya kubangan-kubangan besar
dalam menunjang pembangunan
yang terisi air, terutama bila penggalian
nasional. Indonesia mempunyai potensi
di daerah pedataran, serta
berbagai jenis bahan tambang, baik
mempengaruhi kehidupan sosial
logam, non logam, batuan bahan
penduduk di sekitar lokasi
konstruksi dan industri, batu bara,
penambangan. Oleh karena itu, untuk
panas bumi maupun minyak dan gas
menghindari berbagai dampak negatif
bumi yang cukup melimpah.
tersebut, maka pengelolaan
Pendayagunaan secara bijak segala jenis
pertambangan yang berwawasan
bahan tambang tersebut dapat
lingkungan mutlak harus dilakukan.
meningkatkan pendapatan dan
perekonomian nasional ataupun daerah. Kegiatan pertambangan dapat
diartikan sebagai suatu tahapan
Setiap kegiatan penambangan
kegiatan yang diawali dengan
hampir dipastikan akan menimbulkan
penyelidikan umum, eksplorasi, studi
dampak terhadap lingkungan, baik
kelayakan, konstruksi, penambangan
bersifat positif maupun bersifat negatif.
(termasuk bila ada pengolahan dan
Dampak positif kegiatan penambangan
pemurnian), pengangkutan/penjualan
antara lain meningkatkan kesempatan
dan diakhiri dengan rehabilitasi lahan
kerja, meningkatkan roda perekonomian
pasca tambang. Pengelolaan
sektor dan sub sektor lain di sekitarnya,
pertambangan adalah suatu upaya yang
dan menambah penghasilan negara
dilakukan baik secara teknis maupun
maupun daerah dalam bentuk pajak,
non teknis agar kegiatan pertambangan
164 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

tersebut tidak menimbulkan ketentuan peraturan perundang-


permasalahan, baik terhadap kegiatan undangan.” Pada Penjelasan atas Pasal
pertambangan itu sendiri maupun tersebut dinyatakan: Cukup jelas.
terhadap lingkungan. Pengelolaan Bermasalahkah aturan tersebut, yang
pertambangan sering hanya dilakukan memuat ketentuan mengenai
pada saat penambangan saja. Hal ini penyelesaian sengketa di dalam negeri?
dapat dimengerti, karena pada tahap
Dalam lapangan hukum bisnis, pada
inilah dinilai paling banyak atau sering
dasarnya ada dua cara penyelesaian
menimbulkan permasalahan apabila
sengketa, yaitu di dalam dan di luar
tidak dikelola dengan baik dan benar.
pengadilan. Di dalam pengadilan, seperti
Persepsi yang demikian kurang tepat.
dalam perkara perdata atau tata usaha
Pengelolaan pertambangan sebaiknya
negara pada umumnya, hakim berfungsi
dilakukan sejak awal hingga akhir
sebagai penengah di antara penggugat
tahapan seperti tersebut di atas. Bahkan
dan tergugat. Lain halnya jika
untuk mengantisipasi terjadinya
diselesaikan di luar pengadilan, banyak
permasalahan, maka sebelum suatu
yang dapat dilakukan, beberapa di
deposit bahan tambang ditambang,
antaranya negosiasi, mediasi, konsiliasi,
perlu dilakukan kajian terlebih dahulu
dan arbitrase. Keempatnya lebih jauh
apakah deposit tersebut layak untuk
diatur oleh Undang-Undang Nomor 30
ditambang ditinjau dari berbagai aspek.
Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Dengan demikian pengelolaan
Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU No.
pertambangan secara garis besar perlu
30 Tahun 1999).
dilakukan pada 3 (tiga) jenis tahapan
kegiatan, yaitu kegiatan awal berupa Tidak menjadi persoalan seandainya
penentuan kelayakan penambangan, pengadilan merupakan satu-satunya
kegiatan kedua pada saat penambangan jalur untuk penyelesaian sengketa,
(eksploitasi), dan kegiatan ketiga/ karena – dengan mekanisme teranyar
terakhir pada saat reklamasi lahan dari UU No. 4 tahun 2009 – sengketa
pasca penambangan. yang mungkin terjadi adalah soal
keputusan mengenai izin pertambangan
Sudah lebih dari lima tahun UU No.
(IUP, IPR, dan IUPK) yang tak lain adalah
4 Tahun 2009 diundangkan, undang-
ranah dari Pengadilan Tata Usaha
undang ini masih menyisakan banyak
Negara (PTUN). Sudah barang tentu
tanda tanya. Salah satunya di bidang
perkara terkait tata usaha negara ini
penyelesaian sengketa pertambangan.
harus diadili di dalam negeri.
Satu-satunya pasal yang mengatur
Seandainya pun bukan kompetensi dari
mengenai penyelesaian sengketa adalah
PTUN, maka yang paling mungkin
Pasal 154 UU No. 4 Tahun 2009 yang
terjadi perkara pertambangan akan
berbunyi: “Setiap sengketa yang muncul
masuk ke peradilan perdata yang tentu
dalam pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK
saja dilaksanakan di dalam negeri.
diselesaikan melalui pengadilan dan
arbitrase dalam negeri sesuai dengan
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 165

Namun, hampir tidak mungkin Melihat prospek arbitrase yang


semua perkara diselesaikan melalui jalur demikian, bermasalahkah Pasal 154 UU
pengadilan, terlebih lagi pertambangan No. 4 Tahun 2009? Bisa jadi. Salah satu
adalah salah satu sektor bisnis yang poin penting dari arbitrase adalah
menarik perhatian. Sengketa kebebasan berkontrak. Pada dasarnya
pertambangan acap kali diselesaikan arbitrase adalah kesepakatan di antara
melalui penyelesaian sengketa di luar para pihak. Bagaimana seandainya para
pengadilan khususnya arbitrase. pihak dalam perjanjian arbitrase
Memang, sekali lagi, dengan menentukan bahwa tempat arbitrase di
diterapkannya rezim perizinan dalam luar negeri? Kemungkinan ini sangat
usaha pertambangan, sengketa tata besar terjadi mengingat banyak investor
usaha negara-lah yang mungkin akan dalam industri pertambangan adalah
sering terjadi, misalnya dalam hal anak perusahaan dari perusahaan
pencabutan izin. Tidak semua sengketa asing.
dalam pelaksanaan IUP, IPR, dan IUPK
Industri pertambangan adalah
merupakan lingkup kompetensi absolut
bagian dari sistem besar penanaman
dari PTUN. Dengan begitu, penyelesaian
modal asing di Indonesia. Dengan
sengketa di luar pengadilan menjadi
begitu, sengketa dalam bisnis
pilihan. Dari berbagai pilihan
pertambangan mungkin sekali juga
penyelesaian sengketa, arbitrase kerap
terkait dengan sengketa di bidang
mengemuka menjadi pilihan para pihak.
investasi. Indonesia telah menjadi pihak
Arbitrase, dalam dunia bisnis sering dalam Convention on the Settlement of
menjadi pilihan dalam menyelesaian Investment Disputes between States and
sengketa. Dalam beberapa perkara, National of Other States. Dalam konvensi
khususnya yang high profile, tersebut, sengketa investasi
kerahasiaan (confidentiality) sering dilaksanakan di ICSID (International
menjadi persoalan. Arbitrase menjadi Center of the Settlement of Investment
pilihan karena baik jalannya Disputes). Bagaimana jika para pihak
pemeriksaan perkara maupun dalam sengketa pelaksanaan IUP, IPR,
putusannya bersifat konfidensial. Dalam dan IUPK memutuskan untuk
dunia bisnis kepastian adalah segala- menyelesaikan sengketa di ICSID, tetapi
galanya. Arbitrase juga dianggap lebih Pasal 154 UU No. 4 Tahun 2009
memberi kepastian karena sifat menyatakan arbitrase harus
putusannya yang final dan mengikat dilaksanakan di dalam negeri? Dengan
(final and binding), tanpa ada proses begitu muncul pertanyaan: Sejauh
banding, kasasi dan PK, dan mengikat apakah Pasal 154 UU Nomor 4 Tahun
para pihak yang bersengketa. Pada 2009 tersebut berlaku? Imperatif atau
intinya, arbitrase, ke depannya, fakultatif?
kemungkinan besar akan terus menjadi
pilihan banyak pelaku usaha, salah
satunya di bidang pertambangan.
166 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

Substansi pasal tersebut mungkin Guna memenuhi ketentuan Pasal 33


akan mengundang perdebatan panjang. ayat (3) UUD NRI 1945 tersebut, telah
Untuk lebih efisien, bukankah lebih baik diterbitkan Undang-Undang Nomor 11
jika pasal itu tidak ada, seperti pada dua Tahun 1967 tentang Ketentuan-
undang-undang pertambangan Ketentuan Pokok Pertambangan (UU No.
sebelumnya. Barangkali dua undang- 11 Tahun 1967). Undang-undang
undang sebelum UU No. 4 Tahun 2009 tersebut selama lebih kurang empat
tidak mutlak menerapkan rezim dasawarsa sejak diberlakukannya telah
perizinan. Akan tetapi, bukankah tanpa dapat memberikan sumbangan yang
Pasal 154 tersebut – jika terjadi sengketa penting bagi pembangunan nasional
soal keputusan pejabat tata usaha sebelum kemudian digantikan oleh UU
negara, gubernur atau bupati/walikota No. 4 Tahun 2009.
mengenai izin pertambangan –
Dalam perkembangan lebih lanjut,
penyelesaian sengketa akan tetap
undang-undang tersebut yang materi
menggunakan forum PTUN. Kiranya,
muatannya bersifat sentralistik sudah
jika pun tidak dicabut, perlu dibuat
tidak sesuai dengan perkembangan
aturan pelaksanaan dari Pasal 154 UU
situasi sekarang dan tantangan di masa
No. 4 Tahun 2009 ini karena akan
depan. Di samping itu, pembangunan
menimbulkan ketidakjelasan dalam
pertambangan harus menyesuaikan diri
penyelesaian sengketa pertambangan di
dengan perubahan lingkungan strategis,
Indonesia.
baik bersifat nasional maupun
Hambatan yang Dihadapi dalam internasional. Tantangan utama yang
Penyelesaian Konflik Kontrak dihadapi oleh pertambangan mineral
Tambang Emas dan batubara adalah pengaruh
globalisasi yang mendorong
Pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945
demokratisasi, otonomi daerah, hak
menegaskan bahwa bumi, air, dan
asasi manusia, lingkungan hidup,
kekayaan alam yang terkandung di
perkembangan teknologi dan informasi,
dalamnya dikuasai oleh negara dan
hak atas kekayaan intelektual serta
dipergunakan untuk sebesar-besar
tuntutan peningkatan peran swasta dan
kemakmuran rakyat. Mengingat mineral
masyarakat.
dan batubara sebagai kekayaan alam
yang terkandung di dalam bumi Untuk menghadapi tantangan
merupakan sumber daya alam yang tak lingkungan strategis dan menjawab
terbarukan, pengelolaannya perlu sejumlah permasalahan tersebut, perlu
dilakukan seoptimal mungkin, efisien, disusun peraturan perundang-
transparan, berkelanjutan dan undangan baru di bidang pertambangan
berwawasan lingkungan, serta mineral dan batubara yang dapat
berkeadilan agar memperoleh manfaat memberikan landasan hukum bagi
sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat langkah-langkah pembaruan dan
secara berkelanjutan. penataan kembali kegiatan pengelolaan
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 167

dan pengusahaan pertambangan mendorong tumbuhnya industri


mineral dan batubara. penunjang pertambangan.
f. Dalam rangka terciptanya
UU No. 4 Tahun 2009 mengandung
pembangunan berkelanjutan,
pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
kegiatan usaha pertambangan harus
a. Mineral dan batubara sebagai dilaksanakan dengan
sumber daya yang tak terbarukan memperhatikan prinsip lingkungan
dikuasai oleh negara dan hidup, transparansi, dan partisipasi
pengembangan serta masyarakat.
pendayagunaannya dilaksanakan
Kenyataan tidak berkorelasinya
oleh Pemerintah dan pemerintah
antara berlimpahnya kekayaan
daerah bersama dengan pelaku
Indonesia dengan kesejahteraan
usaha.
rakyatnya merupakan anomali. Dari
b. Pemerintah selanjutnya memberikan
anomali itu, sampai pada sebuah
kesempatan kepada badan usaha
kesimpulan, yakni pasti ada sesuatu
yang berbadan hukum Indonesia,
yang salah dalam pengelolaan kekayaan
koperasi, perseorangan, maupun
bahan galian di Indonesia. Namun di
masyarakat setempat untuk
mana letak kesalahan itu terjadi? Hal
melakukan pengusahaan mineral
ini memerlukan kejujuran dan kearifan
dari batubara berdasarkan izin, yang
untuk menjawabnya. Melalui, kejujuran
sejalan dengan otonomi daerah,
dan kearifan diyakini dapat melahirkan
diberikan oleh Pemerintah dan/atau
sebuah jawaban solutif, guna
pemerintah daerah sesuai dengan
menghindari kesalahan itu tidak
kewenangannya masing-masing.
terulang kembali.
c. Dalam rangka penyelenggaraan
desentralisasi dan otonomi daerah, Terdapat beberapa kesalahan yang
pengelolaan pertambangan mineral telah dilakukan bangsa ini dalam
dan batubara dilaksanakan melakukan pengelolaan kekayaan
berdasarkan prinsip eksternalitas, sumber daya bahan galian. Kesalahan
akuntabilitas, dan efisiensi yang itu, apabila dituntut bersifat kompleks
melibatkan Pemerintah dan dan sistematis. Kompleksitas dan
pemerintah daerah. sistematisnya kesalahan dimaksud,
d. Usaha pertambangan harus karena berawal dari kebijakan yang
memberi manfaat ekonomi dan dibuat dalam melaksanakan
sosial yang sebesar-besar bagi pengelolaan dan pengusahaan bahan
kesejahteraan rakyat Indonesia. galian selama ini. Secara garis besar,
e. Usaha pertambangan harus dapat kesalahan tersebut dapat
mempercepat pengembangan dikelompokkan menjadi 3 kelompok
wilayah dan mendorong kegiatan besar, yaitu:
ekonomi masyarakat/pengusaha
a. Kesalahan pemaknaan atas esensi
kecil dan menengah serta
Pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945
168 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

tentang hak menguasai negara atas berbagai kenyataan pahit,


bahan galian; terkorbankannya kepentingan rakyat
setempat khususnya dan negara pada
b. Kelemahan landasan yuridis formal
umumnya.
tentang pengelolaan dan
pengusahaan bahan galian. Di lain pihak, ternyata pemerintah
Kelemahan ini berkaitan erat dengan dalam praktiknya tidak mempunyai
kesalahan pemaknaan atas esensi daya paksa terhadap pelaku kegiatan
Pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945 di usaha pertambangan yang nakal,
atas. Sebagaimana diketahui, malahan ada kecenderungan selalu
landasan hukum kegiatan usaha mengalah pada kepentingan investor.
pertambangan yang berlaku Kecenderungan tersebut, dapat dilihat
sebelumnya yaitu UU No. 11 Tahun dari fakta-fakta sebagai berikut:
1967, tidak mempunyai
a. Lemahnya posisi pemerintah dalam
keberpihakan sama sekali terhadap
melakukan negosiasi pengelolaan
rakyat.
dan pengusahaan bahan galian, hal
c. Keserakahan pelaku kegiatan usaha
tersebut berimplikasi pada kecilnya
pertambangan dan oknum
bagian yang dapat diterima negara
pemerintah. Ini terjadi dan
atas hasil bahan galian yang
berlangsung berpuluh-puluh tahun
dieksploitasi;
lamanya, didorong dan disebabkan
b. Munculnya beberapa paket
oleh doa faktor di atas. Para oknum
kebijakan yang memanjakan
pelaku usaha dan pemerintah
investor pertambangan, seperti
dengan jeli memanfaatkan
insentif atau keringanan pajak,
kesalahan pemaknaan dan
bebas bea masuk barang dan
kelemahan peraturan perundang-
peralatan produksi, dan lain-lain;
undangan untuk mengeruk
c. Kebebasan investor untuk
kekayaan sumber daya bahan
melakukan penjualan produk bahan
galian, hanya demi kepentingannya
galian yang dihasilkan dalam bentuk
sendiri.
bijih (batu), bukan produk yang telah
Kesalahan pemaknaan atas esensi mengalami pengolahan dan
Pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945, pemurnian;
kelemahan pengaturan pertambangan d. Tidak adanya kebijakan yang
dan keserakahan yang ditengarai berpihak untuk kepentingan
dilakukan pelaku usaha pertambangan nasional secara nyata, misalnya
dan oknum pemerintah, berpadu kebijakan yang melarang ekspor
menjadi satu kesatuan utuh, sehingga bahan galian dalam bentuk bijih.
membuat persoalan pengelolaan dan
Kesalahan, kelemahan, dan fakta-
pengusahaan bahan galian tidak sebatas
fakta di atas, merupakan penyebab
kecilnya hasil yang diterima negara dan
utama tidak maksimalnya manfaat yang
bangsa ini, tetapi juga telah mendorong
dapat diambil atas bahan galian yang
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 169

telah berhasil dieksploitasi. Sehingga a. Diakomodasinya pertambangan


dari kesalahan, dan kelemahan itu rakyat secara proporsional;
pulalah, sangat memungkinkan b. Adanya fungsi pengendalian negara/
terjadinya berbagai bentuk manipulasi pemerintah dalam pengelolaan dan
data yang berujung pada kerugian pengusahaan bahan galian;
negara. Bentuk-bentuk manipulasi c. Pendelegasian pengelolaan dan
tersebut, di antaranya: pengusahaan bahan galian
dilakukan secara fair, yaitu melalui
a. Manipulasi jumlah cadangan dan
mekanisme lelang;
produksi tambang, manipulasi
d. Kewenangan masing-masing wilayah
dalam konteks ini sesungguhnya
administratif atas pengelolaan bahan
sangat konvensional, tetapi karena
galian diatur dengan jelas.
masuknya berbagai kepentingan,
maka manipulasi itu terus terjadi. Saat ini yang menjadi sorotan
b. Manipulasi kadar bahan galian, internasional terhadap Indonesia adalah
karena dengan cara menurunkan masalah pertambangan dan kerusakan
kadar bahan galian, akan yang ditimbulkannya pada kehidupan
berpengaruh pada harga jual, dan manusia dan lingkungan sekitar.
harga jual mempengaruhi formulasi Perhatian internasional itu tentu saja
nilai pajak dan penerimaan negara beralasan mengingat praktik hukum di
bukan pajak bahan galian yang Indonesia masih menunjukkan adanya
harus dibayar kepada negara. kelemahan dalam pemberian perizinan,
pengelolaan, pengawasan dan
Perjalanan dan penantian panjang
penegakan hukum pertambangan
atas kondisi pengelolaan dan
terhadap berbagai aspek pelanggaran
pengusahaan bahan galian yang terjadi
hukum yang ditimbulkannya. Padahal
selama ini, untuk sementara cukup
persoalan mengenai pemanfaatan,
terobati, sejalan dengan telah lahirnya
pengelolaan serta pelestarian sumber
UU No. 4 Tahun 2009 tentang
daya alam telah menjadi isu penting
Pertambangan Mineral dan Batubara.
internasional dengan disepakatinya
Secara substansi Undang-undang ini
berbagai deklarasi, antara lain Deklarasi
cukup mengakomodasi gejolak dan
Stocholm, Deklarasi Nairobi, Deklarasi
kegelisahan sebagian warga bangsa ini,
Johannesburg, Deklarasi Rio De Jeneiro,
tinggal menunggu pada tataran
termasuk The Earth Charter.
implementasinya. Bentuk-bentuk
akomodasi dimaksud adalah Sorotan internasional terhadap
tercantumnya beberapa aturan yang praktik eksplorasi pertambangan di
secara yuridis mempunyai Indonesia sangat beralasan, mengingat
keberpihakan, baik terhadap kerusakan yang dimunculkan terhadap
kepentingan rakyat setempat maupun kelestarian alam dari eksplorasi
kepentingan nasional, yaitu: pertambangan sangat berdampak luas
bagi kelangsungan kehidupan manusia.
Pertambangan sebagai suatu kegiatan
170 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

usaha yang sangat tua di dunia banyak mencari mata pencaharian yang cepat
meninggalkan dampak bagi kehidupan menghasilkan. Salah satu bentuk
manusia. Sedangkan di Indonesia penambangan liar yang sering
sendiri pertambangan secara tradisional dibicarakan adalah PETI (Pertambangan
sudah ada sejak zaman sebelum Emas Tanpa Ijin). Pertambangan seperti
penjajahan Belanda. Baru setelah ini banyak ditemui di pedalaman
masuknya penjajah di Indonesia Kalimantan. Di sana masyarakat
pertambangan dilakukan secara setempat mendulang emas di sepanjang
modern. Demikian pula masa sekarang tepian sungai dengan peralatan
ini pertambangan mineral dan batu bara tradisional. Salah satu sungai yang
dilakukan dengan terbuka. Artinya tidak ramai oleh pertambangan emas
dilakukan secara tertutup, yaitu dengan masyarakat adalah Sungai Kahayan.
menggunakan terowongan. Melainkan Kegiatan PETI berdampak cukup serius,
dilakukan secara terbuka dengan cara seperti pendangkalan sungai,
menggali permukaan tanah. terganggunya alur pelayaran kapal oleh
pasir gusung, pencemaran air sungai
Ketidakpastian kebijakan
oleh merkuri, dan berkurangnya sumber
mengakibatkan tidak adanya jaminan
protein bagi masyarakat (ikan).
hukum dan kebijakan yang dapat
menarik para investor asing untuk Pada saat produksi, terdapat
menanamkan modal di Indonesia. beberapa potensi konflik, seperti
Menurut Pricewaterwaterhouse Coopers kesenjangan sosial ekonomi, perbedaan
(PwC), dalam laporan Indonesian Mining sosial budaya, serta munculnya rantai
Industry Survey 2002, sosial akibat munculnya kluster
kekurangpercayaan investor terlihat dari kegiatan ekonomi beresiko sosial tinggi
penurunan eksplorasi dan kelayakan, (premanisme, lokalisasi, dll). Sementara,
serta pengeluaran untuk pengembangan pada saat pasca pertambangan,
dan aktiva. Tahun 2001, pengeluaran terdapat beberapa potensi konflik,
menurun 42% dibanding tahun 2000, seperti pengangguran, klaim terhadap
sedangkan pengeluaran untuk aktiva lahan pasca pertambangan, munculnya
dan pengembangan tahun 2001 hanya pertambangan rakyat, dan sisa aktivitas
15% dibanding rata-rata pengeluaran sosial.
periode 1996-1999. Pengeluaran untuk
Dalam hal konflik sektor
eksplorasi dan kelayakan tahun 2001
pertambangan dengan sektor lainnya
menurun dari rata-rata pengeluaran
misalnya konflik dalam penataan dan
tahun 1996-1999, sebesar US$ 434,3
pemanfaatan ruang, pelestarian
juta menjadi US$ 37,9.
lingkungan, serta konflik pertambangan
Penambangan liar disebabkan oleh dengan sektor kehutanan dalam
lemahnya penerapan hukum dan penggunaan lahan hutan lindung untuk
kurang baiknya sistem perekonomian, kegiatan pertambangan. Penyebab
sehingga mendorong masyarakat
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 171

konflik sektor pertambangan dengan digunakan. Sementara teknologi dan


sektor lain, antara karena: teknik pertambangan tergantung pada
jenis mineral yang ditambang dan
a. Sulitnya Mengakomodasi Kegiatan
kedalaman bahan tambang, misalnya
Pertambangan ke dalam Penataan
penambangan batubara dilakukan
Ruang
dengan sistem tambang terbuka, sistem
Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya dumping (suatu cara penambangan
terminologi land use dan land cover batubara dengan mengupas permukaan
dalam penataan ruang. Land use tanah). Beberapa permasalahan
(penggunaan lahan) merupakan alokasi lingkungan yang terjadi akibat kegiatan
lahan berdasarkan fungsinya, seperti pertambangan, antara lain masalah
permukiman, pertanian, perkebunan, tailing, hilangnya biodiversity akibat
perdagangan, dan sebagainya. pembukaan lahan bagi kegiatan
Sementara land cover merupakan pertambangan, adanya air asam
alokasi lahan berdasarkan tutupan tambang.
lahannya, seperti sawah, semak, lahan
c. Tumpang Tindih Pemanfaatan
terbangun, lahan terbuka, dan
Ruang dengan Lahan Kehutanan
sebagainya. Pertambangan tidak
termasuk ke dalam keduanya, karena Hutan merupakan ekosistem alami
kegiatan sektor pertambangan baru tempat senyawa-senyawa organik
dapat berlangsung jika ditemukan mengalami pembusukan dan
kandungan potensi mineral di penimbunan secara alami. Setelah
permukaan tanah pada kedalaman cukup lama, materi-materi organik
tertentu. Meskipun diketahui memiliki tersebut membusuk, akhirnya
kandungan potensi mineral, belum tentu tertimbun karena terdesak lapisan
dapat dieksploitasi seluruhnya, karena materi organik baru. Itu sebabnya hutan
terkait dengan besaran dan nilai merupakan tempat yang sangat
ekonomis kandungan mineral tersebut. mungkin mengandung banyak bahan
Proses penetapan kawasan mineral organik, yang potensial untuk
pertambangan yang membutuhkan dijadikan sebagai bahan tambang.
lahan di atas permukaan tanah
Saat ini pertambangan sering
membutuhkan waktu lebih lama
dilakukan di daerah terpencil, bahkan
dibandingkan dengan proses penataan
di kawasan hutan lindung. Menurut
ruang itu sendiri.
TEMPO Interaktif (4 Maret 2003),
b. Sering Dituduh sebagai ’Biang terdapat 22 perusahaan tambang
Keladi’ Kerusakan Lingkungan beroperasi di kawasan hutan lindung
dan sempat ditutup. Total investasi 22
Kerusakan akibat pertambangan dapat
perusahaan tersebut mencapai US$ 12,2
terjadi selama kegiatan pertambangan
miliar (Rp 160 triliun). Kegiatan
maupun pasca pertambangan. Dampak
pertambangan dinilai akan merusak
lingkungan sangat terkait dengan
teknologi dan teknik pertambangan yang
172 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

ekosistem hutan lindung, yang berfungsi kecelakaan lalu-lintas (karena jalan


sebagai kawasan konservasi alam. terlalu sempit, atau kondisi jembatan
kurang memenuhi syarat), debu
Dalam suatu kegiatan penambangan
bertebaran yang dapat menimbulkan
biasanya terdiri dari beberapa tahapan,
gangguan kesehatan (karena jalan
yaitu tahap persiapan, tahap eksploitasi
berupa tanah dan dilalui kendaraan
dan terakhir, yang merupakan bagian
pada musim kemarau), dan ganggunan
tak terpisahkan, adalah tahap
kebisingan.
reklamasi/rehabilitasi lahan pasca
penambangan. Pada kegiatan pembukaan lahan
perlu diperhatikan kemiringan dan
a. Tahap Persiapan
kestabilan lereng, bahaya erosi dan
Tahap persiapan biasanya didahului sedimentasi (karena penebangan
dengan kegiatan pengangkutan berbagai pepohonan, terutama saat musim
jenis peralatan tambang, termasuk hujan), serta hindari penempatan hasil
bahan-bahan bangunan untuk pembukaan lahan terhadap sistem
pembuatan perkantoran, gudang, drainase alam yang ada. Demikian pula
perumahan (jika ada) dan fasilitas- pada saat pembuatan jalan tambang.
fasilitas tambang yang lain, pembukaan
Lokasi pembuatan fasilitas tambang,
lahan (land-clearing), dan selanjutnya
seperti perkantoran, gudang, dan
adalah pembuatan/pembukaan jalan
perumahan perlu memperhatikan
tambang. Dalam hal pengangkutan
kondisi tanah/batuan dan kemiringan
peralatan tambang dan bahan-bahan
lerengnya. Sedapat mungkin hindari
bangunan, yang perlu diperhatikan
lokasi yang berlereng terjal dan
adalah jalan yang akan dilalui. Perlu
kemungkinan rawan longsor. Jika
diperhitungkan berapa meter lebar jalan,
diperlukan pembuatan kolam
jalan apakah melewati jembatan
pengendapan, letakkan pada lokasi yang
(bagaimana kondisinya), apakah
sifat batuannya kedap air, misalnya batu
melewati pemukiman penduduk, berapa
lempung, dan tidak pada batuan yang
frekuensi lalu-lalang dan jenis maupun
banyak kekar-kekarnya. Hal ini untuk
tonase truk pengangkut, dan
menghindari terjadinya kebocoran. Bila
sebagainya. Hal-hal tersebut perlu
kondisi batuan tidak memungkinkan,
diperhitungkan secara matang agar
maka kolam pengendapan bisa dibuat
tidak terjadi dampak negatif terhadap
dari beton, walaupun memerlukan
lingkungan di sepanjang jalan yang akan
tambahan biaya.
dilalui, baik terhadap manusia maupun
fisik alam itu sendiri. Beberapa contoh b. Tahap Eksploitasi
dampak negatif yang dapat ditimbulkan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
oleh adanya kegiatan pengangkutan ini
utamanya berupa penambangan/
apabila tidak dikelola dengan baik,
penggalian bahan tambang dengan jenis
antara lain adalah jalan menjadi rusak
dan keterdapatan bahan tambang yang
(banyak lubang, becek di musim hujan),
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 173

berbeda-beda. Dengan demikian teknik/ Dengan mengetahui dan kemudian


tata cara penambangannya berbeda- memperhitungkan seluruh data-data
beda pula. Bahan tambang yang tersebut, maka dapat ditentukan teknik
terdapat di daerah perbukitan, penambangan yang sesuai, sehingga
walaupun jenisnya sama, misalnya dampak negatif terhadap lingkungan
pasir, teknik penambangannya akan akibat kegiatan penambangan dapat
berbeda dengan deposit pasir yang dihindari atau ditekan sekecil mungkin.
terdapat di daerah pedataran, apalagi
c. Tahap Reklamasi
yang terdapat di dalam alur sungai.
Tulisan ini tidak akan membahas Kegiatan reklamasi tidak harus
berbagai teknik penambangan tersebut, menunggu sampai seluruh kegiatan
tetapi akan dibahas secara umum penambangan berakhir, terutama pada
tentang hal-hal apa saja yang perlu lahan penambangan yang luas.
diperhatikan pada tahap eksploitasi Reklamasi sebaiknya dilakukan secepat
dalam kaitannya dengan pengelolaan mungkin pada lahan bekas
pertambangan yang berwawasan penambangan yang telah selesai
lingkungan. Hal-hal yang perlu dieksploitasi, walaupun kegiatan
diperhatikan antara lain sebagai berikut: penambangan tersebut secara
keseluruhan belum selesai karena masih
1) Jenis, sebaran dan susunan
terdapat deposit bahan tambang yang
perlapisan batuan yang terdapat di
belum ditambang. Sasaran akhir dari
sekitar deposit bahan tambang,
reklamasi adalah untuk memperbaiki
termasuk ketebalan lapisan tanah
lahan bekas tambang agar kondisinya
penutup.
aman, stabil dan tidak mudah tererosi
2) Sifat fisik dan keteknikan tanah/
sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
batuan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
3) Kondisi hidrogeologi (kedalaman
pengelolaan lingkungan pada tahap
muka air tanah dangkal dan/dalam,
reklamasi adalah sebagai berikut:
pola aliran air tanah, sifat fisika dan
kimia air tanah dan air permukaan, 1) Rencana reklamasi sebaiknya
letak mata air dan besaran debitnya, dipersiapkan sebelum pelaksanaan
letak dan pola aliran sungai berikut penambangan
peruntukannya, sistem drainase 2) Luas areal yang direklamasi sama
alam). dengan luas areal penambangan
4) Topografi/kemiringan lereng. 3) Memindahkan dan menempatkan
5) Kebencanaan geologi (kerawanan tanah pucuk pada tempat tertentu
gerakan tanah, bahaya letusan dan mengatur sedemikian rupa
gunung api, banjir, kegempaan). untuk keperluan revegetasi
6) Kandungan unsus-unsur mineral 4) Mengembalikan/memperbaiki pola
yang terdapat dalam batuan yang drainase alam yang rusak
terdapat di sekitar deposit bahan 5) M e n g h i l a n g k a n / m e m p e r k e c i l
tambang, misalnya pirit kandungan (kadar) bahan beracun

51
174 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

(jika ada) sampai ke tingkat yang Arbitrase sebagai Pilihan untuk


aman sebelum dibuang ke suatu Penyelesaian Sengketa
tempat pembuangan
Penyelesaian sengketa dapat
6) Mengembalikan lahan seperti
dilakukan melalui 2 (dua) proses. Proses
semula atau sesuai dengan tujuan
penyelesaian sengketa tertua melalui
penggunaan
proses litigasi di dalam pengadilan,
7) Memperkecil erosi selama dan
kemudian berkembang proses
setelah proses reklamasi
penyelesaian sengketa melalui
8) Memindahkan seluruh peralatan
kerjasama (kooperatif) di luar
yang sudah tidak digunakan lagi ke
pengadilan. Proses litigasi menghasilkan
tempat yang dianggap aman
kesepakatan yang bersifat adversarial
9) Permukaan tanah yang padat harus
yang belum mampu merangkul
digemburkan, atau ditanami dengan
kepentingan bersama, cenderung
tanaman pionir yang akarnya
menimbulkan masalah baru, lambat
mampu menembus tanah yang
dalam penyelesaiannya, membutuhkan
keras
biaya yang mahal, tidak responsif, dan
10) Jenis tanaman yang akan
menimbulkan permusuhan di antara
dipergunakan untuk revegetasi
pihak yang bersengketa. Sebaliknya
harus sesuai dengan rencana
melalui proses di luar pengadilan
rehabilitasi (dapat berkonsultasi
menghasilkan kesepakatan yang bersifat
dahulu dengan dinas terkait)
“win-win solution”, dijamin kerahasiaan
11) Mencegah masuknya hama dan
sengketa para pihak, dihindari
gulma yang berbahaya
kelambatan yang diakibatkan karena hal
12) Memantau dan mengelola areal
prosedural dan administratif,
reklamasi sesuai dengan kondisi
menyelesaikan masalah secara
yang diharapkan.
komprehensif dalam kebersamaan, dan
Dalam beberapa kasus, lahan bekas tetap menjaga hubungan baik. Satu-
penambangan tidak harus seluruhnya satunya kelebihan proses non litigasi ini
direvegetasi, namun dapat sifat kerahasiaannya, karena proses
dimanfaatkan untuk tujuan lain, seperti persidangan dan bahkan hasil
misalnya menjadi kolam persediaan air, keputusannya pun tidak dipublikasikan.
padang golf, perumahan, dan
Penyelesaian sengketa di luar
sebagainya apabila dinilai lebih
pengadilan ini umumnya dinamakan
bermanfaat atau sesuai dengan rencana
dengan Alternatif Penyelesaian Sengketa
tata ruang. Oleh karena itu, sebelum
(APS) atau Alternative Dispute Resolution
merencanakan reklamasi, sebaiknya
(ADR). Ada yang mengatakan kalau
berkonsultasi dahulu dengan
Alternative Dispute Resolution (ADR) ini
pemerintah daerah setempat, pemilik
merupakan siklus gelombang ketiga
lahan atau instansi terkait lainnya.
penyelesaian sengketa bisnis.
Penyelesaian sengketa bisnis pada era
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 175

globalisasi dengan ciri “moving quickly”, sengketa di pengadilan adalah terbuka,


menuntut cara-cara yang “informal kaum bisnis lebih menyukai sengketa
procedure and be put in motion quickly”.8 mereka diselesaikan tertutup, tanpa
diketahui publik. Kedua, orang-orang
Penyelesaian sengketa alternatif,
bisnis menganggap hakim tidak selalu
yaitu penyelesaian sengketa di luar
ahli berkaitan dengan sengketa yang
pengadilan, telah berkembang sejak
timbul, sedangkan dalam mediasi,
lama di timur dan kemudian mendapat
konsiliasi, dan arbitrase mereka dapat
sambutan yang sama di barat, walaupun
memilih mediator, konsiliator atau
dengan alasan yang berlainan.
arbiter yang ahli. Ketiga, penyelesaian
Penyelesaian sengketa alternatif di timur
sengketa di pengadilan akan mencari
didasarkan pada alasan untuk menjaga
pihak mana yang salah dan yang benar,
harmoni, di mana setiap sengketa
sedangkan putusan penyelesaian
diselesaikan secara kekeluargaan.
sengketa di luar pengadilan akan dicapai
Pengadilan bukan tempat yang tepat
melalui kompromi.9 Kunci dari segala
untuk orang bisnis menyelesaikan
keberhasilan penyelesaian sengketa di
sengketa mereka yang selalu menjaga
luar pengadilan adalah kehendak kedua
hubungan baik. Pengadilan adalah
belah pihak sendiri untuk
tempat orang-orang nakal yang
menyelesaikan sengketa yang timbul di
melanggar ketertiban. Alasan budaya
antara mereka. Kehendak bersama ini
menyebabkan negosiasi, mediasi,
yang paling menentukan.
konsiliasi dan arbitrase berkembang di
timur, terutama di antara bangsa- Sengketa itu normal, alamiah,
bangsa yang mempunyai akar kepada kadang-kadang tidak dapat
ajaran Confucius. Penyelesaian sengketa dihindarkan, karena tiap-tiap kita
alternatif yang berkembang di barat, adalah unik, memiliki kepentingan yang
terutama karena alasan efisiensi, untuk berbeda dan nilai yang berbeda. Bila kita
menghemat waktu dan biaya. Proses memandang sengketa sebagai suatu
pengadilan yang panjang, acapkali yang buruk, kita akan terus
melelahkan dari Pengadilan Tingkat berpandangan bahwa sengketa tersebut
Pertama sampai Mahkamah Agung dan adalah negatif. Ketakutan akan
memakan biaya yang besar. menolong kita dengan dua cara. Ia akan
memberi sekumpulan energi yang kita
Di samping itu sedikitnya ada tiga
perlukan untuk memusatkan pikiran
alasan lain yang mendasar mengapa
untuk bagaimana mengatasi sengketa
kaum bisnis lebih menyukai
yang timbul dan ketakutan juga akan
penyelesaian sengketa yang timbul di
mengingatkan kita bahwa lawan juga
antara mereka diselesaikan di luar
merasa ketakutan yang sama seperti
pengadilan, yaitu: Pertama, penyelesaian

8
M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Menegenai Sistem Peradilan dan Penyelesaian Sengketa
(PT Citra Aditya Bakti 1997) 280-281.
9
Erman Rajagukguk, Penyelesaian Sengketa Alternatif: Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi, Arbitrase
(Fakultas Hukum Universitas Indonesia 2005) 1.
176 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

yang kita rasakan. Akhirnya, melakukan namun ia bisa disalahgunakan dalam


pendekatan kerjasama untuk suatu masyarakat yang menuntut
mengakhiri sengketa tidaklah berarti haknya melalui pengadilan. Litigasi
kita pihak yang kalah.10 tersebut menghabiskan waktu dan
uang, belum lagi risiko kalah dan
Bila sengketa timbul, pertama-tama
perasaan tertekan menghadapi proses
yang harus kita lakukan adalah ambil
yang panjang.12
waktu untuk berpikir dan memusatkan
pikiran (fokus) kepada sengketa yang Oleh karenanya kita harus
terjadi. Sejauh mana sengketa itu timbul menyusun rencana lapangan yang
karena kita merasa diperlakukan tidak praktis untuk menghadapi dan
adil, walaupun kita telah berusaha melakukan negosiasi, mediasi, arbitrase
sekuat mungkin menghindarinya. atau litigasi. Yang terakhir ini hanya
Sengketa telah terjadi, kita harus dilakukan bila dikehendaki pihak lawan.
menerima realitas tersebut dan melihat
a. Tetapkan batas waktu (deadline)
diri kita sendiri, bakat dan kekuatan
untuk menghindarkan sengketa
yang ada pada kita, untuk
berlarut-larut.
menyelesaikan sengketa tersebut.
b. Atur pertemuan dengan pihak lawan
Langkah selanjutnya kita harus
untuk mengetahui dari tangan
membuka mata dan hati untuk
pertama tentang apa yang
mengusahakan sebisa mungkin
disengketakan. Pertemuan ini
menyelesaikan sengketa tersebut
berguna untuk mendapatkan
dengan adil. Langkah ini termasuk
informasi yang diperlukan untuk
tindakan selanjutnya, bertemu dengan
mempersiapkan strategi negosiasi.
pihak lawan, menyusun perencanaan.
c. Susun strategi negosiasi untuk
Akhirnya, visualisasi sengketa yang ada
mencapai target yang kita inginkan
dan dengan bakat serta kepintaran yang
dan konsesi yang dapat kita berikan
ada pada kita, mencari jalan untuk
kepada lawan, berikut alasan-alasan
menyelesaikannya.11
atau pembenaran usul-usul yang
Abraham Lincoln, satu setengah kita sampaikan dalam proses
abad yang lalu, sudah mengatakan negosiasi.
untuk menghindarkan litigasi d. Buatlah kontak pendahuluan
(penyelesaian melalui pengadilan). dengan pihak lawan untuk
Walaupun ia mengatakan bahwa litigasi menghindarkan pengharapan yang
tersebut tetap penting dan jalan yang berlawanan dan mengajukan
tepat untuk menyelesaikan sengketa, di rencana dasar untuk pertemuan
mana diperlukan penemuan hukum negosiasi.
yang baru untuk suatu hal yang penting,

10
Thomas E. Crowley, Settle It Out of Court (John Willey & Sons 1994) 22-24.
11
Ibid. 27-32.
12
Ibid.
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 177

e. Lakukan negosiasi langsung dengan institusi hukum yang informal dalam


pihak lawan memakai pendekatan menyelesaikan sengketa antara mereka.
yang bersahabat (collaborative Kepala clan, gilda dan tokoh masyarakat
approach). menjadi pengarah (mediator) dalam
f. Dalam hal negosiasi mengalami sengketa-sengketa yang timbul. Oleh
kegagalan, gunakan metode karena itu, sangat masuk akal jika
penyelesaian sengketa yang lain masyarakat Cina cenderung enggan
seperti mediasi, arbitrase atau menyelesaikan sengketa mereka di
litigasi (bila dikehendaki pihak hadapan pengadilan, karena hubungan
lawan). yang harmonis, bukan konflik,
mendapatkan tempat yang tinggi di
ADR sebagai salah satu cara untuk
masyarakat.14
menyelesaikan sengketa sudah
semenjak lama dikenal dalam berbagai Tradisi Jepang bersamaan dengan
kepercayaan dan kebudayaan. Berbagai Cina dan negara-negara Asia Timur
fakta telah menunjukkan bahwa pda lainnya yang sangat dipengaruhi oleh
dasarnya mediasi bukan merupakan filosofi Confucian, memiliki kultur
suatu metode yang asing dalam upaya konsiliatori (conciliatory culture) di mana
menyelesaikan sengketa di tengah mediasi atau konsiliasi sudah sejak lama
masyarakat. Hanya saja konteks diakui sebagai mekanisme yang lebih
pendekatan dan caranya yang lebih cocok untuk menyelesaikan sengketa.
disesuaikan dengan budaya hukum Hal ini sejalan dengan kultur Jepang
(legal culture) 13 setempat. Pengertian yang menekankan keharmonisan, yang
legal culture dimaksud adalah “people’s pada gilirannya mempengaruhi sikap
attitudes toward law and the legal untuk mengutamakan mediasi dan
system-their beliefs, values, ideas and konsolidasi, bukan litigasi.15
expectations. In other words, it is that part
Sejarah gerakan Alternative Dispute
of the general culture which concerns the
Resolution dimulai ketika pada tahun
legal system”. Seperti dalam masyarakat
1976 Ketua Mahkamah Agung Warren
Cina tradisional secara sadar, mereka
Burger mempelopori ide ini pada suatu
menerima ikatan-ikatan moral lebih
konferensi di Saint Paul, Mennesota
dikarenakan pengaruh sanksi sosial
Amerika Serikat. 16 Ide ini disambut
daripada karena dipaksakan oleh
hangat oleh kaum akademisi, praktisi
hukum. Oleh karenanya clan, gilda dan
dan masyarakat. 17 Hal ini
kelompok terkemuka (gentry) menjadi

13
Lawrence Friedman, American Law: An Introduction (W.W. Norton & Company 1984) 4.
14
Chung-Li Chang, The Chinese Century: On Their Role in 19th Century Chinese Society (University
of Washington Press 1955) 63. Lihat juga Kimberly K. Kovach, Mediation (Thompson West 2003)
17.
15
Yasunobu Sato, ‘The Japanese Model of Dispute Processing’ (Proceeding of the Roundtable
Meeting, Law and Socio-Economic Change in Asia II, Bangkok, 2001) 152.
16
Jacqualine M. Nolan-Haley, Alternative Dispute Resolution in a Nutshell (West Publishing Co.
1992) 5.
17
Ibid. 2.
178 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2

dilatarbelakangi oleh berbagai faktor adjudikasi pengadilan, di samping


gerakan reformasi pada awal tahun terjadinya penumpukan perkara atau
1970, dimana saat itu banyak pengamat court congestion, biaya proses peradilan
dalam bidang hukum dan masyarakat yang tinggi dan waktu menunggu di
akademisi mulai merasakan adanya pengadilan yang lama, telah menjadi
keprihatinan yang serius mengenai efek cara hidup bagi orang Amerika untuk
negatif yang semakin meningkat dari menyelesaikan sengketa dan kemudian
litigasi di pengadilan. Akhirnya ABA mulai memilih sistem ADR bauk secara
(American Bar Association) sukarela (voluntarily) maupun tidak
merealisasikan rencana itu dan sukarela (involuntarily).19 Sekarang ini,
selanjutnya menambahkan Komite ADR lembaga ADR yang sudah beroperasi
pada organisasi mereka diikuti dengan dengan baik. Lembaga ADR komersial
masuknya kurikulum ADR pada sekolah yang independen sudah tersebar hampir
hukum di Amerika dan juga pada di seluruh negara bagian dengan staf
sekolah ekonomi.18 Dengan demikian, yang siap memberikan pelayanan
proses litigasi merupakan pilihan kepada masyarakat yang
terakhir menyelesaikan sengketa, membutuhkan. Para negosiator,
sebelumnya dilakukan perundingan di mediator maupun arbitratornya terdiri
antara para pihak yang bersengketa, dari pengacara, praktisi hukum,
baik secara langsung maupun dengan pensiunan hakim, maupun para ahli
menunjuk kuasa hukumnya, guna dengan berbagai bidang disiplin ilmu.
menghasilkan kesepakatan bersama
Bagi kalangan masyarakat barat
yang menguntungkan kedua belah
yang litigous minded (sedikit-sedikit
pihak. Jika proses perundingan ini tidak
berperkara) konsep ADR ini merupakan
menghasilkan kesepakatan, baru para
inovasi baru. Berbeda dengan
pihak akan menyerahkan kepada
masyarakat timur, pendekatan ala ADR
arbitrase atau pengadilan untuk
adalah sebuah konsep yang dianggap
menyelesaikan atau memutuskannya.
bagian yang sudah lama ada dari
Legislasi yang dilaksanakan pada kebudayaan mereka dalam konteks
tahun 1960 memang menjamin adanya penyelesaian suatu konflik.20 Sehingga
perlindungan terhadap individu dari kemungkinan pemikiran untuk
hak-hak konsumen sampai hak sipil, mengikutsertakan konsep ADR ini
namun perjuangan untuk mendapatkan dalam sistem hukum nasionalnya akan
hak-hak tersebut melalui sistem hukum lebih mudah. Masyarakat timur yang
litigasi tidaklah mudah dan cukup heterogen sudah terbiasa untuk
kompleks. Oleh karena itu, masyarakat mengambil keputusan ataupun
mulai mencari alternatif lain dari pada menyelesaikan sengketa dengan jalan

18
Ibid. 6.
19
Ibid. 4.
20
Gary Goodpaster, A Guide to Mediation and Negotiation (Transnational Press Inc. 1977) Chapter
16.
2015] PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK TAMBANG 179

bermusyawarah. Dialog, musyawarah Friedman, Lawrence, American Law: An


serta usaha pengakomodasian terhadap Introduction (W.W. Norton &
kepentingan semua pihak sebenarnya Company 1984).
adalah inti dari konsep proses ADR ini.
Goodpaster, Gary, A Guide to Mediation
Konsep inilah yang kemudian diarahkan
and Negotiation (Transnational Press
untuk menjadi cara menyelesaikan
Inc. 1977).
sengketa tetapi dengan menggunakan
prinsip legalitas yang menjadi bagian Harahap, M. Yahya, Beberapa Tinjauan
dari sistem hukum. Menegenai Sistem Peradilan dan
Penyelesaian Sengketa (PT Citra
PENUTUP
Aditya Bakti 1997).
Berdasarkan pembahasan dapat
Kovach, Kimberly K., Mediation
disimpulkan beberapa hal sebagai
(Thompson West 2003).
berikut. Pertama, sengketa dalam
pelaksanaan kontrak kerja sama Mertokusumo, Sudikno, Mengenal
tambang emas adalah kondisi yang tidak Hukum, Suatu Pengantar (Liberty
terelakkan karena potensi perbedaan 1991).
kepentingan yang ada. Kedua, potensi
Mulyadi, Kartini, dan Gunawan Widjaja,
terjadinya sengketa tersebut perlu
Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian
diantisipasi melalui mekanisme
(PT. Raja Grafindo Persada 2004).
penyelesaian sengketa yang memadai.
Ketiga, arbitrase adalah pilihan yang Nolan-Haley, Jacqualine M., Alternative
tepat sebagai mekanisme penyelesaian Dispute Resolution in a Nutshell (West
sengketa untuk menyelesaikan sengketa Publishing Co. 1992).
dalam kontrak tambang emas di
Rajagukguk, Erman, Penyelesaian
Indonesia.
Sengketa Alternatif: Negosiasi,
Mediasi, Konsiliasi, Arbitrase
(Fakultas Hukum Universitas
Indonesia 2005).

Subekti, Hukum Perjanjian (Intermasa


DAFTAR BACAAN 1998).

Buku Suharnoko, Hukum Perjanjian, Teori dan


Analisa Kasus (Prenada Media 2005).
Chang, Chung-Li, The Chinese Century:
On Their Role in 19th Century Chinese Makalah Seminar
Society (University of Washington
Yasunobu Sato, ‘The Japanese Model of
Press 1955).
Dispute Processing’ (Proceeding of
Crowley, Thomas E., Settle It Out of Court the Roundtable Meeting, Law and
(John Willey & Sons 1994). Socio-Economic Change in Asia II,
Bangkok, 2001).
180 REFLEKSI HUKUM [Vol. 9, No. 2