Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

“Pengenalan Alat-Alat Laboratorium”

OLEH:

NAMA : DICKI YANTO


NIM : Q1A1 17 007
KELOMPOK : II / SHEET 1
KELAS : ITP A 017

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara umum laboratorium diartikan sebagai tempat/ruangan yang

dilengkapi dengan peralatan untuk tujuan mengadakan riset ilmiah, eksperimen,

pengukuran, pengujian ataupun penelitian ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa,

dosen, ataupun peneliti. Laboratorium merupakan unit pendidikan dan penelitian

yang mempunyai fungsi signifikan sehingga harus dikelolah agar dapat berfungsi

mendukung penelitian dan pendidikan.

Salah satu hal yang menunjang dalam pembelajaran mikrobiologi adalah

laboratorium. Laboratorium digunakan untuk melakukan percobaan-percobaan

yang dilakukan untuk memahami lebih dalam tentang hal-hal yang berkaitan

dengan alat-alat yang digunakan untuk praktikum. Peralatan yang ada didalam

dilaboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya. Didalam pekerjaan

mikrobiologi seringkali kita tidak terlepas dari alat-alat yang berada dalam

laboratorium. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang fungsi dan sifat-sifat.

Kesalahan dalam penggunaan alat dan bahan dapat menimbulkan hasil yang

didapati tidak akurat dalam ilmu statistika kesalahan seperti ini digolongkan

dalam galat pasti. Oleh karena itu, pemahaman fungsi dan cara kerja peralatan

serta bahan harus mutlak dikuasai oleh praktikan sebelum melakukan praktikum.

Hal inilah yang melatarbelakangi tersusunnya Laporan Pengenalan Alat-alat

Laboratorium, yang dimana setiap alat laboratorium mempunyai karakteristik,

fungsi, maupun cara kerja yang berbeda. Keselamatan dalam laboratorium

dipengaruhi oleh apakah kita mengenal alat-alat di laboratorium, sehingga kita


sebagai pratikan dapat menggunakan alat-alat praktikum sesuai dengan prosedur

dan fungsinya.

1.2 Tujuan

Tujuan Tujuan dari praktikum pengenalan alat-alat laboratorium adalah:

1. Mahasiswa dapat mengetahui jenis dan fungsi beberapa peralatan

laboratorium yang di butuhkan dalam pengujian mikrobiologis.

2. Mahasiswa dapat mengoperasikan peralatan dan mengetahui cara

penanganannya agar dapat berfungsi dengan benar.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Pengelola laboratorium harus menjaga semua inventaris alat dan bahan/zat

yang dimilikinya secara akurat. Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki

pemahaman dan keterampilan kerja di laboratorium, bekerja sesuai tugas dan

tanggung jawabnya, dan mengikuti peraturan dapat meminimalis terjadinya

kecelakaan di laboratorium. Dalam mengelola laboratorium kimia, pemahaman

tentang komponen dan penggunaan laboratorium yang baik dan benar sangat

diperlukan agar laboratorium dapat berjalan dengan baik dan berfungsi secara

optimal. Pranata laboratorium mendapat pelatihan keselamatan dan keamanan

kerja secara umum, terutama cara bekerja dengan bahan kimia penting secara

aman. Memberikan pelatihan khusus sesuai keperluan, termasuk mengembangkan

dan meninjau prosedur pengoperasian standar dan memberikan peralatan

perlindungan diri (PPE, personal protective equipment) yang diperlukan untuk

bekerja dengan selamat dan aman (Vendamawan, 2015).

Pemakai laboratorium mikrobiologi hendaknya memahami tata letak atau

layout bangunan laboratorium. Bangunan laboratorium tidak sama dengan

bangunan kelas. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum membangun

laboratorium. Faktor-faktor tersebut antara lain lokasi bangunan laboratorium dan

ukuran-ukuran ruang. Persyaratan lokasi pembangunan laboratorium antara lain

tidak terletak pada arah angin yang menuju bangunan lain atau pemukiman. Hal

ini dimaksudkan untuk menghindari penyebaran gas-gas berbahaya dan sumber

kontaminan. Bangunan laboratorium jangan terlalu dekat dengan bangunan

lainnya. Lokasi laboratorium harus mudah dijangkau untuk pengontrolan dan


memudahkan tindakan lainnya misalnya apabila terjadi kebakaran, mobil

kebakaran harus dapat menjangkau bangunan laboratorium. Selain persyaratan

lokasi, perlu diperhatikan pula tata letak ruangan. Ruangan laboratorium untuk

pembelajaran sain umumnya terdiri dari ruang utama dan ruang-ruang pelengkap

(Gunawan, 2019).

Semua orang di laboratorium bertanggung jawab untuk keselamatan mereka

sendiri dan keselamatan orang lain. Satu harus menyadari potensi bahaya dengan

melakukan semua percobaan dan demonstrasi sebelum mereka pelaksanaan.

perencanaan sebelumnya ditambah dengan pengetahuan adalah pelanggaran yang

terbaik dalam hal keadaan darurat. Laboratorium pengantar harus terlibat masing-

masing siswa dalam pengalaman yang signifikan dengan proses eksperimental,

termasuk beberapa pengalaman merancang penyelidikan. Kita harus

mengembangkan serangkaian yang luas dari keterampilan dasar dan alat-alat

eksperimen dan analisis data dan membantu siswa untuk menguasai konsep-

konsep dasar. Kita harus memahami peran observasi langsung dan membedakan

antara kesimpulan berdasarkan teori dan hasil dari eksperimen dan bantuan siswa

untuk mengembangkan keterampilan belajar kolaboratif yang penting untuk

keberhasilan di banyak seumur hidup usaha. Kecelakaan laboratorium disebabkan

oleh kondisi yang tidak aman seperti tidak benar dijaga atau peralatan terjaga;

peralatan yang rusak; licin, lemah atau tidak rata permukaan lantai, pengaturan

berbahaya, ventilasi dan pencahayaan yang tidak tepat. kecelakaan laboratorium

juga disebabkan oleh tindakan tidak aman seperti membuat perangkat

keselamatan tidak beroperasi, menggunakan peralatan yang tidak aman, tidak


aman posisi, permainan kasar, kegagalan pakaian yang aman, menggunakan

busana yang tidak aman atau pakaian dll tindakan tidak aman yang karena unsur

manusia yang meliputi; karakteristik fisik dan mental, pengetahuan, keterampilan

dan sikap dari individu-individu (Shrivastava, 2017).

Percobaan laboratorium dilakukan dengan mempertimbangkan

laboratorium teknik penggunaan bekerja untuk tujuan. percobaan laboratorium

seperti mengurangi kecemasan tentang laboratorium dan positif mempengaruhi

persepsi mereka. Dalam pekerjaan laboratorium tampaknya bahwa informasi dan

keterampilan kandidat guru meningkatkan. Namun, studi masa depan harus

diperluas untuk menganalisis tingkat kecemasan dan persepsi canditates guru

sains untuk membuatnya lebih mudah bagi mereka untuk menggunakan teknik

penggunaan laboratorium (Aydoğdu, 2017).

Peralatan dasar yang digunakan di laboratorium meliputi peralatan gelas

(glass ware equipment), peralatan bukan gelas (non glass equipment) dan

peralatan pemanas (heating equipment). Peralatan gelas dibagi menjadi tiga yaitu

peralatan gelas dasar, peralatan pengukuran dan peralatan analisis. Berdasarkan

ketahanan terhadap panas, peralatan gelas dibedakan menjadi dua kelompok yaitu

peralatan gelas tahan panas pada suhu tinggi dan peralatan gelas tidak tahan pada

suhu tinggi. Peralatan gelas bermerek pyrex biasanya tahan terhadap panas. Gelas

ukur dipakai untuk menukar air suling dan bahan kimia yang akan digunakan.

Ukuran gelas ukur bermacam-macam mulai dari volume 25 ml sampai dengan

volume 2,50 ml. Jenis gelas ukur ada yang tahan panas (dari pirex) dan ada yang

tidak tahan panas (dari gelas biasa). Untuk pembuatan larutan sterilisasi eksplan
yaitu chlorox selalu membutuhkan gelas ukur ini (Hendaroyono dan Wijayani,

2012).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan waktu pelaksanaan

Kegiatan praktikum pengenalan alat-alat laboratorium dilaksanakan di

Laboratorium Proteksi Tanaman Unit Pendidikan Fakultas Pertanian, Universitas

Halu Oleo. Pada hari Rabu, 24 April 2019 pukul 13.30 WITA - selesai.

3.2. Bahan Dan Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum pengenalan alat-alat laboratorium

yaitu gelas kimia, gelas ukur, tabung reaksi, erlen meyer, hot plate, pipet, sikat

tabung, sentrifuse, cawan petri, cultur chamber, mikroskop cahaya, lampu bunsen,

jarum ose, timbangan analitik, autoclave, Shaker Water Bath, labu ukur, dan

corong.

3.3. Prosedur Kerja

Prosedur praktikum pengenalan alat-alat laboratorium yang harus dilakukan

adalah :

1. Menyiapkan alat-alat laboratorium.

2. Memperkenalkan alat-alat laboratorium.

3. Mencatat nama alat-alat laboratorium beserta fungsinya masing-masing.

4. Mendokumentasi alat-alat laboratorium tersebut.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL

Hasil Praktikum pengenalan alat-alat laboratorium dapat dilihat pada

gambar berikut :

NO GAMBAR NAMA ALAT

1 Gelas kimia

2 Gelas ukur

3 Tabung reaksi
4 Erlen Meyer

5 Hot plate

6 Pipet

7 Sikat tabung
8 Sentrifuse

9 Cawan Petri

10 Cultur chamber

11 Mikroskop cahaya
12 Lampu bunsen

13 Jarum ose

14 Timbangan analitik

15 Autoclave
16 Shaker Water Bath

17 Labu Ukur

18 Corong

4.2. Pembahasan

Alat-alat laboratorium merupakan alat yang kita butuhkan dalam proses

peneitian atau pun proses praktikum. Dalam praktikum pengenalan alat-alat

laboratorium dan alat-alat sterilisasi akan dijelaskan secara detail mengenai fungsi

dan spesifikasi masing-masing alat tersebut. Praktikum yang telah kami lakukan
dapat di ketahui fungsi alat-alat laboratorium yang kami gunakan. Dari alat-alat

tersebut ada beberapa alat yang memiliki bentuk dan fungsi yang hampir sama.

Berikut adalah uraian pembahasan tentang “Pengenalan Alat-Alat Laboratorium”.

Gelas kimia merupakan gelas yang terbuat dari kaca yang tahan panas, dan di

gunakan untuk menampung bahan cairan atau larutan, bisa juga di gunakan untuk

memanaskan cairan karena gelas ini tahan dari panas.

Gelas ukur di gunakan untuk mengukur volume larutan, gelas ini terbuat

dari kaca atau plastik yang tidak tahan panas. Tabung reaksi merupakan tabung

yang terbuat dari gelas dan berfungsi untuk mereaksikan zat zat kimia dalam

jumlah sedikit. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung

reaksi, dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil.

Erlen meyer terbuat dari kaca yang tahan panas dengan dinding yang tipis

untuk memudahkan pemindahan panas dan mengurangi tegangan. Labu

erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang

digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media,

menampung aquades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dan lain-lain. Hot plate

berfungsi untuk menghomogenisasikan suatu larutan yaitu dengan pengadukan.

Dengan alat ini proses pengadukan akan lebih cepat, alat ini juga bisa digunakan

untuk pembuatan media bakteri. Pipet merupakan alat untuk mengambil cairan

dalam jumlah tertentu maupun takaran bebas, berfungsi untuk mengambil cairan

dalam jumlah tertentu secara tepat ,mengukur dan memindahkan larutan dengan

volume tertentu secara tepat, dan untuk mengambil cairan dalam skala keci (pipet

tetes).
Sikat tabung digunakan untuk membersihkan tabung sebelum dan sesudah

menggunakan tabung reaksi. Sentrifuse berfungsi untuk memisahkan bahan

tersuspensi dari medianya,adapun prinsip kerja sentrifuse tersebut adalah dengan

memanfaatkan gaya centripugal sehingga bahan tersebut terpisah. Loupe

berfungsi untuk memperbesar benda atau objek yang ingin kita amati. Cawan petri

adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca

yang digunakan untuk membiakkan sel.

Cultur Chamber di gunakan sebagai alat sterilisasi dan untuk menjaga suhu

serta menghindari terjadinya kontaminasi terhadap objek yang di teliti. Mikroskop

cahaya berfungsi untuk melihat benda-benda yang sangat kecil seperti

mikroorganisme, sel, dan benda-benda lain yang bersifat mikroskopis. Bayangan

benda pada mikroskop ini bersifat 2 dimensi. Lampu bunsen berfungsi untuk

proses pemanasan suatu larutan serta untuk proses penstrerilan suatu larutan.

Untuk mendapatkan hasil steril yang baik maka tunggu api bunsen menjadi warna

biru (api yang maksimal).

Jarum ose terbuat dari kawat nikrom atau platinum sehingga dapat berpijar

jika terkena panas dan berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam atau

ditumbuhkan ke media baru. Timbangan analitik berfungsi untuk menimbang

suatu benda atau objek pada skala yg kecil juga dapat digunakan untuk

menghitung berat suatu koloni atau mikroba.

Autoclave merupakan alat yang berbentuk seperti panci, yang terbuat dari

besi ataupun alumunium, alat ini digunakan untuk mensterilkan berbagai macam

alat dan bahan, baik itu sebelum melakukan praktikum maupun setelahnya.
Shaker Water Bath merupakan peralatan yang berisi air/cairan khusus yang bisa

mempertahankan suhu pada kondisi tertentu selama selang waktu yang

ditentukan. Fungsi utama dari water bath adalah untuk menciptakan suhu yang

konstan dan digunakan untuk inkubasi pada analisis mikrobiologi.


V. PENUTUP

5.1.Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan pengenalan alat-alat laboratorium dapat

ditarik kesimpulan bahwa langkah pertama dalam sebuah praktikum adalah:

1. Mahasiswa mampu mengenali semua alat yang akan digunakan, serta

mengetahui jenis dan fungsinya. Sehingga dalam praktikum selanjutnya

bisa lebih mengefisienkan waktu dan dapat melakukan praktikum dengan

benar dan teliti.

2. Setelah mengetahui jenis dan fungsi alat-alat laboratorium, akan dijelaskan

tentang cara penggunaan dan penanganan alat-alat laboratorium agar

praktikan bisa menggunakan alat-alat laboratorium dengan benar dan tetap

menjaga keamanan alat-alat laboratorium tersebut.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan adalah laboratorium lebih dibuat nyaman.

Misalkan kursi yang ada adalah kursi yang tidak usah diangkat atau disusun

kembali sebelum dan setelah digunakannya. Dan untuk asisten jika menjelaskan

sebaiknya semua bahan atau alat yang diperkenalkan diperlihatkan kesemua

praktikan agar semua praktikan tahu perbedaan setiap alat-alat laboratorium.


DAFTAR PUSTAKA

Aydoğdu, Cemil. 2017. The effect of chemistry laboratory activities on students’


chemistry perception and laboratory anxiety levels. International Journal
of Progressive Education. 13(2) : 92.
Gunawan, I. 2019. Managemen pengelolaan alat dan bahan di laboratorium
mikrobiologi. Jurnal Pengelolaan Laboratorium Pendidikan. 1(1) : 21.
Hendaroyono. D. P. S. dan Wijayani. A. 2012. Teknik Kultur Jaringan. Kansius.
Yogyakarta.

Shrivastava, Shailaj K. 2017. Safety procedures in science laboratory.


International Journal of Engineering & Scientific Research. 5(7) : 64.
Vendamawan, R. 2015. Pengelolaan laboratorium kimia. METANA. 11(02) : 46.

Anda mungkin juga menyukai