Anda di halaman 1dari 10
‘Bambang Hartono 2000, Demensia DEMENSIA ( TINJAUAN ASPEK DEFINISI, ETIOLOGI, DEMOGRAFI, EPIDEMIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO ) Bambang Hartono Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran UNDIP-RS Dr Kariadi Semarang Unit "Neurobehavior" ABSTRACT Bambang Hartono - Dementia: an overview Prevalence studies on dementia have reported a positive association with age. Because of the ageing of the world's population, in the future there will be relatively more people in the age groups at most risk for dementia Alzheimer’s disease and vascular dementia are the most common form of dementia. Its prevalence and incidence rate tend to give different results, influencing by age, gender, race/ethnic, geographic, ruraVurban areas, and levels of education factors. The most significant risk factors are age, gender, genetic, environment, education, cardio-cerebrovascular, hormonal, and lifestyle. It is suggested to develop studies for setting up a screening and diagnosing tool ef dementia in Indonesia, which adapted to the local socialife and culture, then the multi-center studies mightbe done afterwards. ‘Keywords: dementia - prevalence- incidence- risk factors-alzheimer's disease PENDAHULUAN Demensia adalah problem medik dan sosial yang sangat berkaitan dengan usia fanjut. Menurut PBB', jumlah penduduk di negara- negara maju berkisar 1.143 juta di tahun 1990, dengan 143 juta diantaranya berumur lebih dari 65 tahun. Dari penduduk dunia tersebut diperkirakan penderita demensia adalah 7,4 juta jiwa, dan lebih dari 3,7 juta orang menderita penyakit Alzheimer (PA)’. Pada tahun 1995, penduduk yang berumur lebih 65 tahun di dunia lebih kurang sebesar 371 juta jiwa, atau 6 persen dari seluruh populasi, Proporsi ini bervariasi, misalnya 14 persen di Eropa, 13 persen di Amerika Utara (USA dan Kanada), di Amerika Latin dan Asia 5 persen serta Affika 3 persen. Proporsi wanita lebih besar dibanding pria. Karena ramalan proporsi usia lanjut yang semakin meningkat, maka antara tahun 1990- 2010 penderita demensia di negara-negara maju akan raik dari 7,4 juta menjadi 10,2 juta, atau naik 37 persen. Walaupun data di negara berkembang masih belum mantap, namun diproyeksikan bahwa proporsi usia lanjut (umur 65 tahun) juga makin besar, dengan kenaikan diramalkan sebesar 78 persen, ‘sehingga demensia akan menjadi salah satu problem yang (B. NouroSains, Vol, 2, No. 1: 179-188 Oktober 2000) signifikan di negara-negara berkembang’. Dilaporkan bahwa PA sebagai penyebab kematian meningkat di AS. Pada tahun 1995, merupakan penyebab dari 20.606 kematian, atau peringkat ke 14 dari total angka kematian, dan peringkat ke 8 untuk usia 65 tahun ke atas’. Biaya klim asuransi kesehatanpun sangat besar. Di wilayah Georgia, AS, dikeluarkan dana 70 juta dolar untuk pengelolaan peayakit Alzheimer dan demensia, dengan cata-rata_per-orang/tahun sebesar hampir 15.000 dolar’. Dengan peningkatan staf pelayanan kesehatan dalam hal diagnosis, kemampuan teknis serta manajemen demensia, dapat memperpanjang usia penderita’. Terbukti pula bahwa dengan dukungan dan pelayanan sosial yang lebih baik pada penderita demensia angka'survival naik secara signifikan’. PA dan demensia vaskuler (DV) merupakan etiologi yang paling sering dijumpai bagi demensia. Namun demikian, faktor-faktor penyebab lainnya perlu mendapat perhatian yang proporsional. Sebagai contoh, dewasa ini di beberapa negara tertentu- seperti di Inggris, terdapat kecenderungan kenaikan insiden demensia akibat penyakit Creutzfeld-Jakob, dimana pada 6 tahun terakhir (1994-2000) insidennya naik dengan 23-persen per-tahun serta angka kematian akibat penyakit ini naik 33 479 persen. Walaupun kasusnya sendiri secara absolut masih jarang, namun kewaspadaan antisipatif harus ditingkatkan’ Disamping demensia, gangguan kognitif lain pada usia lanjut bisa juga terjadi (cognitive impairment, no dementia | CIND). Studi di Itai menunjukkan bahwa prevalensi gangguan juga cukup besar (10,7 persen), dan berhubungan secara bermakna dengan meningkatnya umur, serangan stroke sebelumnya, serta gagal jantung. PEMBAHASAN 1, Definisi, Simtomatologi dan Diagnosis Secara garis besar dapat disebutkan bahwa demensia merupakan kemunduran progresif kapasitas intelektual yang disebabkan Oleh penyakit di otak. Kelainan ini ditandai dengan gangguan kognitif, emosional dan psikomotor. Gambaran diagnosis demensia yang ing dikutip dan digunakan dalam berbagai penelitian adalah sebagaimana yang diuraikan oleh American Psychiatric Association (APAY yang secara ringkas sebagai berikut: demensia adalah suatu sindrom sebagai akibat dari gangguan fungsi luhur otak, yang meliputi gangguan daya ingat serta gangguan fungsi Kognitif lain yaitu bahasa, orientasi, konstruksi, abstraksi, serta pemecahan masalah. Disamping kehidupan sosial pasien terganggu, juga terdapat perubahan kepribadian serta afek, namun kesadaran tetap baik kecuali pada stadium akhir. Diagnosis demensia tidaklah terlalu mudah bagi dokter di Indonesia. Beberapa kendala antara lain adalah bahwa bagi masyarakat, penurunan fungsi kognitif, apalagi di usia lanjut, masih dianggap bukan merupakan statu masalah sehingga jarang dikeluhkan ke dokter. Disamping itu, para dokter umum kita belum dibekali ilmu dan ketrampilan yang cukup memadai untuk bidang ini. Kendala lain, pemeriksaan fungsi kognitif dan perilaku pada ‘umumnya memerlukan waktu yang lebih banyak, sehingga sering dianggap membuang-buang waktu. Dengan penyegaran dan pengembangan ilmu neurobehavior yang akhir-akhir ini terus dilakukan oleh PERDOSSI, diharapkan problem demensia akan mendapat tempat yang lebih proporsional dalam sistem kesehatan dan sosial ditanah air. Terdapat 2 jenis demensia yang menonjol, yaitu PA dan DV. Memang telah 180 Borkala NeuroSains Vol 2, No-t, Oktober 2000 banyak diajukan berbagai kriteria diagnosis demensia PA, namun yang paling komprehensif adalah seperti yang dibuat oleh APA dalam DSM-IV (1994). Intisari diagnosisnya adalah sebagai berikut. Pertama, berupa defisit fungsi kognitif yang bersifat multipel, ditandai dengan gangguan memori, ditambah dengan satu atau lebih komponen afasia, apraksia, agnosia, serta gangguan fungsi eksekusi. Kedua, defisit kognitif tersebut menyebabkan gangguan dalam fungsi sosial dan perkerjaan. Ketiga, dengan onset yang secara perlahan dan bertahap makin memburuk. Keempat, defisit kognitif di atas bukan karena faktor gangguan sistem saraf pusat lain, gangguan sistemik, serta akibat zat-zat yang, mengganggu fungsi otak, dan tak berkaitan dengan delirium atau gangguan psikiatrik lain seperti depresi dan skizofreni ‘Sedang ringkasan kriteria diagnosis DV menurut DSM-IV (1994) adalah sebagai berikut. Pertama, defisit fungsi kognitif yang bersifat multiple, yang ditandai oleh gangguan fungsi memori ditambah dengan satu atau lebih ‘gangguan berikut: afasia, apraksia, agnosia, dan ‘gangguan fungsi eksekusi. Kedua, defisit fungsi kognitif tersebut menyebabkan gangguan dalam kehidupan sosial serta pekerjaan. Ketiga, terdapat gejala dan tanda neurologik fokal. ‘Keempat, tak ada delirium. Diagnosis demensia dapat dilakukan melalui dua tahapan. Tahap_pertama bisa dilakukan pemeriksaan dengan instrumen singkat dan ekonomis seperti MMSE (Mini Mental State Examination). Instrumen ini sangat bermanfaat untuk skrining, sehingge diperoleh populasi yang pasti bukan demensia dan yang mungkin menderita demensia. Pada kelompok kedua ini kemudian dilakukan pemeriksaan tahap kedua, yaitu pemeriksaan neuropsikologi secara mendalam guna memastikan apakah seseorang menderita demensia atau tidak. Dan bila ya, jenis demensia yang mana yang diderita. Dalam hal ini validitas instrumen bagi demensia sangat penting. Beberapa hal pokok yang menjadi pertanyaan adalah: a) Apakah ‘erjemahan ke bahasa setempat sudah tersedia? b) Apakah konsep yang terkandung dalam instrumen telah sesuai dengan budaya setempat? c) Apakah instrumen telah sesuai dengan diagnosis klinikus? Dengan menjawab tiga petanyaan tadi maka revisi instrumen yang disesuaikan dengan karakter masyarakat setempat bisa dilakukan, dengan terlebih dahulu dilakukan uji instrumen”. ‘Bambang Hartono 2000, Demansia Banyak instrumen yang telah dikembangkan untuk menjaring serta mendiagnosis demensia. Di Indonesia misalnya mulai diperkenalkan IBCD (Indonesian Battery for Communication Disorder of Dementia)". Walaupun masih dalam bentuk yang belum sempurna, namun toh diharapkan akan bermanfaat sebagai embrio perkembangan serta mendorong terciptanya instrumen-instrumen fainnya. Dewasa ini terus dikembangkan instrumen-instrumen praktis bagi disfungsi karena seringkali problem ini tidak oleh dokter-dokter non-psikiater”. Berbagai contoh antara lain pengembangan instrumen neuropsikologi "The Frontal Behavioral Inventory", guna membedakan antara jenis demensia frontotemporal dengan demensia Jainnya”, penggunaan SMQ (Short-Memory Questionnaire) untuk menjaring demensia di Jepang", dan instrumen baru seperti CSI'D' (Community Screening Interview for Dementia)’. Bahkan instrumen yang sudah dianggap mapanpun perlu ditevisi, seperti terhadap MMSE yang antara lain diusulkan untuk ditambah dengan item "delayed recall”. Untuk masyarakat Indonesia, masih diperlukan suatu instrumen yang sesuai dengan budaya dan lingkungan kita, mengingat tidak ada instrumen yang "culture free". Disamping itu, aspek simtomatologi demensia dan gangguan kogni Derkembang dari waktu ke waktu. Berikut butkan beberapa hasil riset terakhir dalam bidang ini. Dengan melibatkan 1.911 sempel, Geerlings” dalam penelitiannya menunjukkan bahwa bagi subjek yang berpendidikan tinggi atau yang berpendidikan formal lebih dari 8 tahun, depresi dan bradifrenia berkaitan erat dengan insiden PA. Sehingga dua gangguan tersebut dianggap sebagai gejala subklinik PA. Elias et al." menunjukkan bahwa penurunan fungsi kognitif, yaitu daya simpan informasi dan daya abstraksi, merupakan prediktor terbaik bagi PA di kemudian hari. Visser et al.” memberi bukti baru bahwa depresi sangat sering terjadi pada stadium preklinik PA, dan depresi ini bisa dibedakan dengan kelompok non-PA berdasarkan umur serta derajat berat ringannya gangguan memori. Depresi dan ansjetas sangat menonjol pada DV, sedang simtom psikotik sering dijumpai baik pada PA maupun DV™. Dalam hubungannya dengan gangguan lain seperti sindroma Parkinson, oleh Giladi et -al.” ditunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara demensia, penyakit Parkinson, dan faktor usia , serta gejala-gejala psikosis yang timbul. Namun sindroma Parkinson sendiri ternyata mempunyai hubungan yang signifikan dengan survival yang buruk pada usia lanjut, tanpa melihat orang. tersebut menderita demensia atau tidak”. Simtomatologi demensia juga bervari berdasarkan ras dan etnik. Pada penderita PA dari etnik Afro-Amerika dan Hispanik risiko untuk mendapat depresi lebih rendah dibanding etnik kulit putih (white patierus), Etnik Afro-Amerika juga mempunyai risiko ansietas lebih kecil dibanding etnik kulit putih, Etnik Hispanik yang mendérita "yixed dementia" (PA dan DV) ternyata mempunyai risiko apati yang lebih rendah dibanding etnik kulit putih” 2, Etiologi Penyebab demensia sangat beragam, namun secara praktis dapat dimasukkan ke dalam 3 kelompok , yaitu: a) yang meliputi_penyakit Alzheimer, Pick, Parkinson, Huntington, progressive supranuclear palsy serta kelainan lain yang masih diselidiki hingga kini. b) Gangguan otak yang_bersifat_akuisiter, seperti demensia vaskuler, sklerosis multiple, tumor oak, trauma, hidrosefalus, dan gangguan lain seperti penyakit Creutzfeldt-Jakob. c) Kelompok lainnya, meliputi gangguan metabolisme seperti intoksikasi obat-obatan kronis, alkoholik, malnutrisi, lalu yang tergolong infeksi, misalnya HIV (AIDS), neurosifilis, meningitis, ensefalitis, serta kelompok depresi mayor". Dari berbagai faktor etiologi di atas, hanya akan dibahas 2 jenis demensia yang paling sering dijumpai yaitu PA dan DV. 3, Demografi dan Epidemiologi Dari banyak date yang tersedia hasil studi dari prevalensi demensia, semua studi menunjukkan kenaikan prevalensi yang mencolok seiring dengan. meningkatnya umur ‘Namun data ini merupakan gambaran survai di negara-negara industri seperti Eropa, Amerika Utara, Australasia dan Jepang. Jadi walaupun demensia pada dasarnya dapat terjadi pada semua strata usia, namun jarang dijompai pada umur 181