Anda di halaman 1dari 21

ASKEP MIOMA UTERI

Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas

Disusun oleh :
1. Achvirilia Eka Hastuti (P1337420117082)
2. Baiti Puspita Damayanti (P1337420117087)
3. Bayu Tri Susetyo (P1337420117057)
4. Bunga Widji Lestari (P1337420117068)
5. Catur Fitriyana (P1337420117048)
6. Diva Herliananda Putri (P1337420117064)
7. Meisyah Dwi Putriana (P1337420117077)
8. Mutia Ajeng Safitri (P1337420117072)
9. Tri Edi Gunawan (P1337420117053)
10. Wahyu Anisa Handayani (P1337420117056)

KELAS 2 - A2

D III KEPERAWATAN SEMARANG


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
MIOMA UTERI

A. PENGERTIAN
a. Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumnpang, sehingga dalam kepustakaan dikenal dengan istilah Fibromioma,
leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).
b. Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang berasal
dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri,
leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak
yang paling sering ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama wanita usai
produktif. Walaupun tidak sering, disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan mioma
mencakup infertilitas, abortus spontan, persalinan prematur, dan malpresentasi
(Crum, 2003).

B. KLASIFIKASI
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dan ke arah mana mereka tumbuh.
Klasifikasinya sebagai berikut :
a. Mioma intramural : merupakan mioma yang paling banyak ditemukan. Sebagian
besar tumbuh di antara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah, yaitu
miometrium.
b. Mioma subserosa : merupakan mioma yang tumbuh keluar dari lapisan uterus yang
paling luar, yaitu serosa dan tumbuh ke arah rongga peritonium. Jenis mioma ini
bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar lebar. Apabila terlepas dari induknya
dan berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga peritoneum
disebut wandering/parasitic fibroid Ditemukan kedua terbanyak.
c. Mioma submukosa : merupakan mioma yang tumbuh dari dinding uterus paling
dalam sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau
berdasarkan lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan
melalui saluran serviks, yang disebut mioma geburt (Chelmow, 2005)
C. ETIOLOGI
a. Etiologi pasti belum diketahui
b. Peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri mempengarui
pertumbuhan tumor
c. Faktor predisposisi yang bersifat herediter, telah diidentifikasi kromosom yang
membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan fibroid.
Sebagian ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan dari gen sisi paternal.
d. Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil setelah menopause
jarang ditemukan sebelum menarke (Crum, 2005).

Faktor Risiko terjadinya mioma uteri yaitu:


a. Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-
50% pada wanita usia di atas 40 tahun (Suhatno, 2007). Mioma uteri jarang
ditemukan sebelum menarke (sebelum mendapatkan haid). Sedangkan pada wanita
menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10% (Joedosaputro, 2005).
b. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi daripada jaringan
miometrium normal. (Djuwantono, 2005)
c. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan
wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. (Parker, 2007)
d. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. (Parker, 2007)
e. Makanan
Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi
menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma
uteri (Parker, 2007).
f. Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar esterogen dalam
kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat
pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).
g. Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara dibandingkan dengan
wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali
(Khashaeva, 1992).

D. TANDA DAN GEJALA


Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor, perubahan
dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang mungkin timbul diantaranya:
a. Perdarahan abnormal, berupa hipermenore, menoragia dan metroragia. Faktor-faktor
yang menyebabkan perdarahan antara lain:
1. Terjadinya hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium karena
pengaruh ovarium
2. Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasanya
3. Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
4. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya mioma di antara
serabut miometrium
b. Rasa nyeri yang mungkin timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang
mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri terutama saat
menstruasi
c. Pembesaran perut bagian bawah
d. Uterus membesar merata
e. Infertilitas
f. Perdarahan setelah bersenggama
g. Dismenore
h. Abortus berulang
i. Poliuri, retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul.(Chelmow,
2005)
E. PATOFISIOLOGI
Ammature muscle cell nest dalam miometrium akan berproliferasi hal tersebut
diakibatkan oleh rangsangan hormon estrogen. ukuran myoma sangat bervariasi. sangat
sering ditemukan pada bagian body uterus (corporeal) tapi dapat juga terjadi pada servik.
Tumot subcutan dapat tumbuh diatas pembuluh darah endometrium dan menyebabkan
perdarahan. Bila tumbuh dengan sangat besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat
terhadap uterus dan menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan
tumor subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau cervik
yang dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid sangat jarang
bersifat ganas, infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang mengobstruksi atau
menyebabkan kelainan bentuk uterus atau tuba falofii. Myoma pada badan uterus dapat
menyebabkan aborsi secara spontan, dan hal ini menyebabkan kecilnya pembukaan
cervik yang membuat bayi lahir sulit.
PATHWAYS

F. DIAGNOSIS
Diagnosis mioma uteri dapat ditegakkan dari:
a. Anamnesis
Dari anamnesis dapat ditemukan antara lain :
1. Timbul benjolan diperut bagian bawah dalam waktu relatif lama.
2. Kadang-kadang disertai gangguan haid
3. Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir mioma bertangkai, atau pecah.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pemeriksaan abdomen
1) Uterus yang membesar dapat dipalpasi pada abdomen
2) Teraba benjolan tidak teratur, tetap dan lunak
3) Ada nyeri lepas yang disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal
2. Pemeriksaan pelvis
1) Adanya dilatasi serviks
2) Uterus cenderung membesar, tidak beraturan dan berbentuk nodul
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis mioma
uteri , sebagai berikut :
1. Ultra Sonografi (USG), untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium dan keadaan adneksa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat
dideteksi dengan Computerized Tomografi Scanning (CT scan) ataupun Magnetic
Resonance Image ( MRI), tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal.
2. Foto Bulk Nier Oversidth (BNO), Intra Vena Pielografi (IVP) pemeriksaaan ini
penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan
perjalanan ureter.
3. Histerografi dan histerokopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai
dengan infertilitas.
4. Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
5. Laboratorium: hitung darah lengkap dan apusan darah, untuk menilai kadar
hemoglobin dan hematokrit serta jumlah leukosit.
6. Tes kehamilan adalah untuk tes hormon Chorionic gonadotropin, karena bisa
membantu dalam mengevaluasi suatu pembesaran uterus, apakah oleh karena
kehamilan atau oleh karena adanya suatu mioma uteri yang dapat menyebabkan
pembesaran uterus menyerupai kehamilan.
Mioma Uteri

Diagnosis banding yang harus dipikirkan dengan adanya mioma uteri adalah
kehamilan, neoplasma ovarium, adenomiosis, keganasan uterus.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada mioma uteri secara umum, yaitu:
1. Degenerasi ganas
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila
terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadi sindrom abdomen akut.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan
terbagi atas :
1. Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
2) Monitor keadaan Hb
3) Pemberian zat besi
4) Penggunaan agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma
2. Penanganan operatif
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
1) Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia
2) Nyeri pelvis yang hebat
3) Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma
berukuran kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju dewasa)
4) Gangguan buang air kecil (retensi urin)
5) Pertumbuhan mioma setelah menopause
6) Infertilitas
7) Meningkatnya pertumbuhan mioma (Moore, 2001).
Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
a) Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan
rahim/uterus (Rayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di lakukan pada
penderita mioma uteri secara umum. Penatalaksanaan ini paling disarankan
kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain
disingkirkan (Chelmow, 2005).
b) Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat
rahim, baik sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya
(total) berikut serviks uteri (Prawirohardjo, 2001). Histerektomi dapat
dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita
yang memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Ada
dua cara histerektomi, yaitu :
i. Histerektomi abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama mioma
intraligamenter, torsi dan akan dilakukan ooforektomi
ii. Histerektomi vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus
gravid 12 minggu) atau disertai dengan kelainan di vagina misalnya
rektokel, sistokel atau enterokel (Callahan, 2005).
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
i. Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba
dari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
ii. Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan
bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan
anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
iii. Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat
dan akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang
kronis dan penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan frekuensi
miksi yang sering (Chelmow, 2005).

b. Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil


Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring, analgesia dan
observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai apabila
janin imatur. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri
menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Data biografi pasien
b. Riwayat kesehatan saat ini, meliputi : keluhan utama masuk RS, faktor pencetus,
lamanya keluhan, timbulnya keluhan, faktor yang memperberat, upaya yang dilakukan
untuk mengatasi, dan diagnosis medik.
c. Riwayat kesehatan masa lalu, meliputi : penyakit yang pernah dialami, riwayat alergi,
imunisasi, kebiasaan merokok,minum kopi, obat-obatan dan alkohol
d. Riwayat kesehatan keluarga
e. Pemeriksaan fisik umum dan keluhan yang dialami. Untuk pasien dengan kanker
servik, pemeriksaan fisik dan pengkajian keluhan lebih spesifik ke arah pengkajian
obstretri dan ginekologi, meliputi :
1. Riwayat kehamilan, meliputi : gangguan kehamilan, proses persalinan, lama
persalinan, tempat persalinan, masalah persalinan, masalah nifas serta laktasi,
masalah bayi dan keadaan anak saat ini
2. Pemeriksaan genetalia
3. Pemeriksaan payudara
4. Riwayat operasi ginekologi
5. Pemeriksaan pap smear
6. Usia menarche
7. Menopause
8. Masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
f. Kesehatan lingkungan/hygiene
g. Aspek psikososial meliputi : pola pikir, persepsi diri, suasana hati,
hubungan/komunikasi, kebiasaan seksual, pertahanan koping, sistem nilai dan
kepercayaan dan tingkat perkembangan.
h. Data laboratorium dan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain
i. Terapi medis yang diberikan
j. Efek samping dan respon pasien terhadap terapi
k. Persepsi klien terhadap penyakitnya
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (kanker serviks) dan agen injuri
fisik (jika dilakukan terapi pembedahan)
b. Cemas b.d krisis situasional (histerektomi atau kemoterapi), ancaman terhadap konsep
diri, perubahan dalam status kesehatan, stres,
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis (status hipermatebolik berkenaan dengan kanker) dan faktor psikososial
d. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketidakadekuatan pertahanan sekunder;
ketidakadekuatan pertahanan imun tubuh; imunosupresi (kemoterapi), dan prosedur
invasi
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit;
keterbatasan kognitif (dilihat dari tingkat pendidikan); misinterpretasi dengan
informasi yang diberikan ; dan tidak familiar dengan sumber informasi
f. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan perkembangan
penyakit
g. Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi b.d menurunnya mobilitas intestinal
h. Retensi urin b.d penekanan yang keras pada uretra
C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

DIANGOSA
KEPERAWATAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DAN KOLABORASI
Nyeri akut Tujuan : Kontrol Intervensi
berhubungan dengan Nyeri 1. Manajemen Nyeri
agen injuri biologis Setelah dilakukan - Kaji secara komphrehensif
(kanker serviks) dan pemberian asuhan tentang nyeri, meliputi: lokasi,
agen injuri fisik (jika keperawatan selama karakteristik, durasi,
dilakukan terapi …..x 24 jam, frekuensi, kualitas,
pembedahan) diharapkan respon nyeri intensitas/beratnya nyeri, dan
pasien dapat terkontrol faktor-faktor pencetus
dengan - Observasi isyarat-isyarat
Kriteria hasil sebagai verbal dan non verbal dari
berikut : ketidaknyamanan, meliputi
- Klien mampu ekspresi wajah, pola tidur,
mengenal faktor- nasfu makan, aktitas dan
faktor penyebab hubungan sosial.
nyeri, beratnya - Kolaborasi pemberian
ringannya nyeri, analgetik sesuai dengan
durasi nyeri, anjuran. Pemberian analgetik
frekuensi dan letak harus memperhatikan hal-hal
bagian tubuh yang sebagai berikut : prinsip
nyeri pemberian obat 6 benar (benar
- Klien mampu nama, benar obat, benar dosis,
melakukan tindakan benar cara, benar waktu
pertolongan non- pemberian, dan benar
analgetik, seperti dokumentasi)
napas dalam, - Gunakan komunikiasi
relaksasi dan terapeutik agar pasien dapat
distraksi mengekspresikan nyeri
- Klien melaporkan - Kaji pengalaman masa lalu
gejala-gejala kepada individu tentang nyeri
tim kesehatan - Berikan informasi tentang
- Klien mampu nyeri, seperti: penyebab,
mengontrol nyeri berapa lama terjadi, dan
- Ekspresi wajah tindakan pencegahan
klien rileks - Ajarkan penggunaan teknik
- Klien melaporkan non-farmakologi (seperti:
adanya penurunan relaksasi, guided imagery,
tingkat nyeri dalam terapi musik, dan distraksi)
rentang sedang - Anjurkan klien untuk
(skala nyeri: 4 meningkatkan tidur/istirahat
sampai 6) hingga - Anjurkan klien untuk
nyeri ringan (skala melaporkan kepada tenaga
nyeri : 1 sampai 3) kesehatan jika tindakan tidak
- Klien melaporkan berhasil atau terjadi keluhan
dapat beristirahan lain
dengan nyaman
- Nadi klien dalam
batas normal (80-
100x/menit)
- Tekanan darah klien
dalam batas normal
(120/80 mmHG)
- Frekuensi
pernafasan klien
dalam batas normal
(12 – 20 x/menit)
Cemas b.d krisis Tujuan :Kontrol Intervensi
situasional Cemas Menurunkan cemas:
(histerektomi atau Setelah dilakukan - Tenangkan pasien dan kaji
kemoterapi), ancaman asuhan keperawatann tingkat kecemasan pasien
terhadap konsep diri, kepada pasien selama - Berusaha memahami keadaan
perubahan dalam status …... x 24 jam, pasien (rasa empati)
kesehatan, stres diharapkan pasien dapat - Berikan informasi tentang
mengkontrol cemas diagnosa, prognosis dan
dengan kriteria hasil tindakan dengan komunikasi
sebagai berikut: yang baik
- Perawat memonitor - Mendampingi pasien untuk
tingkat kecemasan mengurangi kecemasan dan
pasien meningkatkan kenyamanan
- Klien mampu - Ciptakan hubungan saling
menurunkan percaya
penyebab-penyebab - Bantu pasien untuk
kecemasan mengungkapkan hal hal yang
- Perawat dan membuat cemas dan
keluarga dapat dengarkan dengan penuh
menurunkan perhatian
stimulus lingkungan - Ajarkan pasien teknik
ketika pasien cemas relaksasi
- Klien mampu - Anjurkan pasien untuk
mencari informasi meningkatkan ibadah dan
tentang hal-hal yang berdoa
dapat dilakukan - Kolaborasi dengan dokter
untuk menurunkan untuk pemberian obat-obatan
kecemasan yang mengurangi kecemasan
- Klien manpu pasien
menggunakan
strategi koping yang
efektif
- Klien melaporkan
kepada perawat
penurunan
kecemasan
- Klien mampu
menggunakan
teknik relaksasi
untuk menurunkan
cemas
- Klien mampu
mempertahankan
hubungan social,
dan konsentrasi
- Klien melaporkan
kepada perawat
tidur cukup, tidak
ada keluhan fisik
akibat kecemasan,
dan tidak ada
perilaku yang
menunjukkan
kecemasan
Ketidakseimbangan Tujuan: Intervensi :
nutrisi kurang dari Status nutrisi : intake 1. Manajemen Nutrisi
kebutuhan tubuh makanan dan - Kaji adanya alergi makanan
berhubungan dengan minuman - Kolaborasi dengan ahli gizi
faktor biologis (status Setelah dilakukan untuk menentukan jumlah
hipermatebolik asuhan keperawatann nutrisi yang sesuai dengan
berkenaan dengan kepada pasien selama keadaan pasien
kanker) dan faktor …... x 24 jam, - Berikan diet yang mengandung
psikososial diharapkan status tinggi serat untuk mencegah
nutrisi meliputi intake konstipasi
makanan dan minuman - Berikan informasi tentang
membaik dengan kebutuhan nutrisi pasien
kriteria hasil sebagai 2. Monitoring nutrisi
berikut: - Monitor tipe dan jumlah
- Adanya peningkatan aktivitas yang biasa dilakukan
berat badan sesuai - Berikan lingkungan yang
dengan tujuan nyaman dan bersih selama
- Klien mampu makan
mengidentifikasi - Jadwalkan pengobatan dan
kebutuhan nutrisi tindakan tidak selama jam
- Tidak ada tanda tanda makan
malnutrisi - Monitor kulit kering dan
- Tidak terjadi perubahan pigmentasi
penurunan berat - Monitor turgor kulit
badan yang berarti - Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
- Kaji makanan kesukaan
- Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
- Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan
cavitas oral.
- Monitor variasi makanan yang
dikonsumsi pasien
Resiko infeksi dengan Tujuan Intervensi
faktor resiko Pengetahuan:Kontrol Kontrol Infeksi
ketidakadekuatan infeksi - Bersikan lingkungan setelah
pertahanan sekunder; Setelah dilakukan digunakan oleh pasien
ketidakadekuatan asuhan keperawatann - Ganti peralatan pasien setiap
pertahanan imun tubuh; kepada pasien selama selesai tindakan
imunosupresi …... x 24 jam, - Batasi jumlah pengunjung
(kemoterapi), dan diharapkan pasien dapat - Ajarkan cuci tangan untuk
prosedur invasi menjelaskan kembali menjaga kesehatan individu
cara mengkontrol - Anjurkan pasien untuk cuci
infeksi dengan kriteria tangan dengan tepat
hasil sebagai berikut: - Gunakan sabun antimikrobial
- Mampu untuk cuci tangan
menerangkan cara- - Anjurkan pengunjung untuk
cara penyebaran mencuci tangan sebelum dan
infeksi setelah meninggalkan ruangan
- Mampu pasien
menerangkan - Cuci tangan sebelum dan
faktor-faktor yang sesudah kontak dengan pasien
berkontribusi - Gunakan universal
dengan penyebaran precautions
- Mampu - Lakukan perawatan aseptic
menjelaskan tanda- pada semua jalur IV
tanda dan gejala - Lakukan teknik perawatan
- Mampu luka dengan memperhatikan
menjelaskan prinsip septik dan aseptik
aktivitas yang - Anjurkan istirahat
dapat - Kolaborasi pemberian terapi
meningkatkan antibiotik dengan
resistensi terhadap memperhatikan prinsip
infeksi pemberian obat 6 benar (benar
obat, benar nama, benar dosis,
benar waktu, benar cara
pemberian, dan benar
dokumentasi)
- Ajarkan pasien dan keluarga
tentang tanda-tanda, gejala
dari infeksi dan cara
pencegahan infeksi
Kurang pengetahuan Tujuan Intervensi
berhubungan dengan Pengetahuan : proses 1. Pembelajaran : proses
kurangnya informasi penyakit penyakit
tentang penyakit; Pengetahuan : -Kaji tingkat pengetahuan klien
keterbatasan kognitif prosedur perawatan tentang penyakit
(dilihat dari tingkat Setelah dilakukan - Jelaskan nama penyakit, proses
pendidikan); asuhan keperawatann penyakit, faktor penyebab atau
misinterpretasi dengan kepada pasien selama faktor pencetus, tanda dan gejala,
informasi yang …... x 24 jam, cara meminimalkan
diberikan ; dan tidak diharapkan pasien dapat perkembangan penyakit,
familiar dengan sumber menjelaskan kembali komplikasi penyakit dan cara
informasi tentang proses penyakit mencegah komplikas
dan prosedur perawatan - Berikan informasi tentang kondisi
dengan kriteria hasil perkembangan klien
sebagai berikut: - Anjurkan klien untuk melaporkan
- Pasien mengenal tanda dan gejala kepada petugas
nama penyakit, kesehatan
proses penyakit,
faktor penyebab 2. Pembelajaran:
atau faktor prosedur/perawatan
pencetus, tanda dan - Informasikan klien waktu
gejala, cara pelaksanaan prosedur/perawatan
meminimalkan - Informasikan klien lama waktu
perkembangan pelaksanaan prosedur/perawatan
penyakit, - Kaji pengalaman klien dan tingkat
komplikasi pengetahuan klien tentang
penyakit dan cara prosedur yang akan dilakukan
mencegah - Jelaskan tujuan
komplikasi prosedur/perawatan
- Pasien mengetahui - Instruksikan klien utnuk
prosedur berpartisipasi selama
perawatan, tujuan prosedur/perawatan
perawatan dan - Jelaskan hal-hal yang perlu
manfaat tindakan. dilakukan setelah
prosedur/perawatan
- Ajarkan tehnik koping seperti
relaksasi untuk mengurangi efek
dari prosedur yang dilakukan
Gangguan citra tubuh Tujuan Intervensi
berhubungan dengan Meningkatkan citra Peningkatan citra tubuh
pembedahan dan tubuh, - Kaji penerimaan pasien
perubahan Setelah dilakukan tentang kondisinya saat ini
perkembangan penyakit asuhan keperawatann - Bantu klien untuk
kepada pasien selama mendiskusikan perubahan t
…... x 24 jam, ubuh akibta penyakit
diharapkan citra tubuh - Bantu klien untuk
atau gambaran tubuh mendiskusikan fungsi tubuh
pasien meningkat yang terganggu
dengan kriteria hasil - Kaji perasaan klien ketika
sebagai berikut: berinteraksi dengan orang
- Pasien lain
mengungkapkan - Kaji persepsi klien dan
penerimaan citra keluarga tentang perubahan
tubuh secara verbal tubuh yang terjadi
maupuan non verbal - Kaji strategi mengatasi
- Pasien mampu masalah (koping) yang
mempertahankan digunakan
kontak mata ketika - Kaji apakah perubahan
berkomunikasi gambaran diri mempengaruhi
- Pasien mampu hubungan sosial klien
melakukan - Bantu klien mengidentifikasi
komunikasi terbuka bagian tubuh lain yang
- Pasien menunjukkan bernilai positif
tingkat kepercayaan - Kaji dukungan sosial yang
diri dimiliki klien
Gangguan eliminasi Tujuan Intervensi : Manajemen
fekal : Konstipasi b.d Buang Air Besar Konstipasi
menurunnya mobilitas Setelah dilakukan - Monitor tanda dan gejala
intestinal asuhan keperawatan konstipasi
kepada pasien selama - Monitor warna, konsistensi,
….x 24 jam, diharapkan jumlah dan waktu buang air
pasien tidak besar
mengalamai gangguan - Konsultasikan dengan dokter
dalam buang air besar, tentang pemberian laksatif,
dengan kriteria hasil: enema dan pengobatan
- Pasien kembali ke - Berikan cairan yang adekuat
pola dan normal
dari fungsi bowel
- Terjadi perubahan
pola hidup untuk
menurunkan factor
penyebab
konstipasi

Retensi urin b.d Tujuan : Intervensi : Pemasangan


penekanan yang keras Inkontinensia urin Kateter
pada uretra Setelah dilakukan - Menjelaskan prosedur dan
asuhan keperawaran rasional intervensi
selama ...x24 jam, kateterisasi
pasien tidak mengalami - Monitore intake dan output
inkontinensia urin, - Menjaga teknik aseptik dalam
dengan kriteria hasil: melakukan kateterisasi
- Pasien mampu - Memelihara drainase urinari
memprekdisikan pola secara tertutup.
eliminasi urin
- Pasien mampu
memulai dan
memghentikan aliran
urin
- Tidak adanya tanda-
tanda infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Achadiat CM. 2004. “Prosedur tetap Obstetri dan ginekologi”, Jakarta : EGC

Callahan MD MPP, Tamara L. 2005. “Benign Disorders of the Upper Genital


Tract in Blueprints Obstetrics & Gynecology” Boston:Blackwell Publishing,

Chelmow.D.2005.”GynecologicMyomectomy”. Http://www.emedicine.com/med/topic331
9.html

Crum MD, Christopher P & Kenneth R. Lee MD. 2003. “Tumors of the
Myometrium” in Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Boston:Elsevier Saunders

Djuwantono T.2004.“Terapi GnRH Agonis Sebelum Histerektomi atau Miomektomi”,


Farmacia. Vol III NO. 12. Juli 2004. Jakarta

Hart MD FRCS FRCOG, David McKay. 2000. “Fibroids in Gynaecology Illustrated”,


London:Churchill Livingstone.

Joedosapoetro MS. 2003. “Ilmu Kandungan”. Wiknjosastro H, Saifudin AB, Rachimhadi T.


Editor. Edisi Ke-2.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Manuaba IBG. 2003. “Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi”, Edisi 2.
Jakarta : EGC

Moore JG. 2001. “Essensial obstetri dan ginekologi”, Edisi 2.Jakarta : Hipokrates

Panay BSc MRCOG MFFP,Nick et al. 2004.”Fibroids in Obstetrics and Gynaecology”


.London : Mosby

Parker WH. 2007. “Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas”, Volume
87. Department of Obstetrics and gynecology UCLA School of Medicine. California :
American Society for Reproductive Medicine

Rayburn WF. 2001. “Obstetri dan Ginekologi”, Alih Bahasa: H. TMA Chalik. Jakata. Widya
Medika.