Anda di halaman 1dari 19

ISLAM DAN MANAJEMEN

‘’Konsep Dasar Islam’’

KELOMPOK 1

Nama Dosen : Muhammad Iqbal, M.Pd.I


Nama Mahasiswa : Rizky Fauzie
Miftah Aulia
Gina Sonia Sitopu

Kelas : Manjemen Pendidikan Islam 3


Semester :2

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
STAMBUK 2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Konsep Dasar Islam.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga
makalah tentang Konsep Dasar Islam.dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca Dan juga bisa dijadikan sebagai pedoman dalam Islam Dan
Manajemen.

Medan, 23 Maret 2019

Kelompok 1

v
DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................................v
Daftar Isi.................................................................................................................vi

BAB I
PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Makalah.......................................................................................2
C. Manfaat Makalah.........................................................................................2

BAB II
PEMBAHASAN......................................................................................................3

A. Pengertian Islam..........................................................................................3
B. Sunber Ajaran Agama Islam.......................................................................4
C. Prisip Agama Islam....................................................................................10

BAB III
PENUTUP..............................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sudah dikemukakan bahwa berdasarkan sumber ajarannya agama dapat


diklasifikasikan menjadi dua, yakni agama wahyu (agama samawi) dan agama
budaya (agama ‘ardli). Di antara agama wahyu yang ada, Islamlah yang masih
dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, terutama dengan mendasarkan sumber-
sumber ajarannya pada al-Quran dan Sunnah. Kedua sumber ini masih tetap terjaga
keautentikannya meskipun untuk Sunnah terbagi menjadi bermacam- macam jenis.
Kedua sumber ini memberikan konsep ajaran yang mendasar, khususnya masalah
teologis, sehingga tidak menimbulkan perbedaan di kalangan umat Islam. Dua
agama wahyu lainnya, yakni Yahudi dan Nasrani (Kristen), sudah tidak lagi
memenuhi kreteria agama wahyu yang asli. Kitab suci yang dipegangi oleh kedua
agama ini sudah tidak asli sebagaimana yang dibawa oleh para Nabi pembawanya.
Tidak ada yang berani menjamin bahwa kitab suci dari kedua agama wahyu ini
tetap autentik. Sebagai akibatnya, ajaran kedua agama wahyu itu juga banyak yang
menyimpang dari konsep aslinya. Sebagai wahyu terakhir, al-Quran memberikan
penjelasan mengenai keberadaan wahyu-wahyu sebelumnya, termasuk Taurat dan
Injil, yang sekarang ini banyak mengalami perubahan.

Kajian tentang agama Islam ini diharapkan akan dapat memberi wawasan
yang cukup kepada mahasiswa, sehingga dapat memiliki kompetensi untuk
menganalisis konsep dasar tentang agama Islam. Secara rinci diharapkan
mahasiswa dapat menjelaskan arti kata Islam baik secara etimologis maupun
terminologis, mendeskripsikan dasar-dasarnya dalam al-Quran, dan dapat
menganalisis karakteristik Islam.

1
B. Rumusan Makalah
1. Pengertian Islam
2. Sumber Ajaran Agama Islam
3. Prinsip Agama Islam

C. Manfaat Makalah
Manfaat dari makalah ini adalah agar kita sebagai manusia mengetahui
apa dan bagaimana konsep dasar yang terdapat dalam agama islam sehingga
kita bisa menerapkannya dalam dunia masyarakat dengan baik dan benar

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Islam

Secara etimologi kata Islam berasal dari bahasa Arab, terambil dari kosa
kata salima yang berarti selamat sentosa. Kemudian dibentuk menjadi aslama yang
berarti taat dan berserah diri. Sehingga terbentuk kata Islam (aslama-
yuslimu- islaman) yang berarti damai, aman, dan selamat. Orang yang masuk Islam
dinamakan Muslim.1 Pengertian Islam yang demikian itu sejalan dengan firman
Allah SWT,

Artinnya“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri


kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi
Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.”(QS. Al-Baqarah (2):112)

Secara epistimologi menurut Mahmud Syaltout, Islam adalah

“Islam adalah agama Allah yang diwasiatkan dengan ajaran-ajarannya


sebagaimana terdapat didalam pokok-pokok dan syariatnya kepada Nabi
Muhammad SAW dan mewajibkan kepadanya untuk menyampaikannya kepada
seluruh umat manusia serta mengajak mereka untuk memeluknya.”2

Sedangkan menurut lima perawi Hadis (Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Majah,
dan Abu Daud), Islam adalah:

“Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad
adalah hamba serta Rasul-Nya, menunaikan shalat, memberikanzakat, puasa pada
bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji jika mampu.”

1
Abudin Nata, Studi Islam Komprehensif , (Jakarta : ), hal. 231
2
Mahmud Syaltout, Al-Islam Aqidah wa Syari’ah, (Mesir : Dar al-Qalam, 1966), cet. III, hal. 9

3
Dengan demikian, pengertian Islam dari segi istilah adalah agama yang
diturunkan Allah kepada nabi Muhammad yang isinya bukan hanya mengatur
hubungan manusia dengan tuhan, melainkan juga mengatur hubungan manusia
dengan manusia dan alam jagat raya.
‫سالَم‬
ْ ‫اإل‬
ِ Al-Islam terkadang berarti taat dan menyerahkan diri. Berarti juga
melaksanakan (menunaikan). Dikatakan Aslam tusy Syaia ila fulanin (bila anda
menunaikan padanya). Dapat pula diartikan masuk kedalam silm (perdamaian),
atau damai dan selamat. Penamaan dinul haq menjadi Islam adalah sesuai dengan
semua pengertian tadi. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah :

Artinnya“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia
mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi
kesayanganNya.” (QS. An-Nisa’ 4: 125)3

B. Sumber Ajaran Agama Islam

Sumber ajaran Islam pertama dan kedua (Al-Quran dan Hadits/As-Sunnah)


langsung dari Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw.
Sedangkan yang ketiga (ijtihad) merupakan hasil pemikiran umat Islam, yakni
para ulama mujtahid (yang berijtihad), dengan tetap mengacu kepada Al-Quran
dan As-Sunnah

1. Al – Quran

Secara harfiyah, Al-Quran artinya “bacaan” (qoroa, yaqrou, quranan),


sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 75:17-18:

3
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Jakarta : CV. Toha Putra Semarang, 1987),
hal. 205

4
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengum-pulkannya dan ‘membacanya’.
Jika Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah ‘bacaan’ itu”.

Al-Quran adalah kumpulan wahyu atau firman Allah yang disampaikan


kepada Nabi Muhammad Saw, berisi ajaran tentang keimanan
(akidah/tauhid/iman), peribadahan (syariat), dan budi pekerti (akhlak).

Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, bahkan terbesar


pula dibandingkan mukjizat para nabi sebelumnya. Al-Quran membenarkan Kitab-
Kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan
sebelumnya.
“Tidak mungkin Al-Quran ini dibuat oleh selain Allah. Akan tetapi ia
membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang
ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam” (Q.S.
10:37).

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Quran itulah yang benar,
membenarkan kitab-kitab sebelumnya...” (Q.S. 35:31).

Al-Quran dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi atau pembukuan yang


dilakukan para sahabat. Pertama kali dilakukan oleh shabat Zaid bin Tsabit pada
masa Khalifah Abu Bakar, lalu pada masa Khalifah Utsman bin Affan dibentuk
panitia ad hoc penyusunan mushaf Al-Quran yang diketuai Zaid. Karenanya,
mushaf Al-Quran yang sekarang disebut pula Mushaf Utsmani.4

2. Sunnah

Hadits disebut juga As-Sunnah. Sunnah secara bahasa berarti "adat-istiadat"


atau "kebiasaan" (traditions). Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan
penetapan/persetujuan serta kebiasaan Nabi Muhammad Saw. Penetapan (taqrir)

4
Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pustaka Bandung, 1978

5
adalah persetujuan atau diamnya Nabi Saw terhadap perkataan dan perilaku
sahabat.

Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan


sabda Nabi Muhammad Saw.

“Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka


menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, lalu mereka tidak merasa berat hati terhadap putusan yang kamu
berikan dan mereka menerima sepenuh hati”(Q.S. 4:65).

“Apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepadamu maka terimalah dan apa yang
dilarangnya maka tinggalkanlah” (Q.S. 59:7).

“Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang
teguh dengan keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Quran)
dan Sunnah-ku.” (HR. Hakim dan Daruquthni).

“Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur


Rasyidin setelahku”(H.R. Abu Daud).

Sunnah merupakan “penafsir” sekaligus “juklak” (petunjuk pelaksanaan)


Al-Quran. Sebagai contoh, Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan
berbicara tentang ruku’ dan sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang
memberikan contoh langsung bagaimana shalat itu dijalankan, mulai takbiratul
ihram (bacaan “Allahu Akbar” sebagai pembuka shalat), doa iftitah, bacaan Al-
Fatihah, gerakan ruku, sujud, hingga bacaan tahiyat dan salam.

6
Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup, beliau melarang para
sahabatnya menuliskan apa yang dikatakannya. Kebijakan itu dilakukan agar
ucapan-ucapannya tidak bercampur-baur dengan wahyu (Al-Quran). Karenanya,
seluruh Hadits waktu itu hanya berada dalam ingatan atau hapalan para sahabat.

Kodifikasi Hadits dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (100 H/718
M), lalu disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur (136 H/174
M). Para ulama waktu itu mulai menyusun kitab Hadits, di antaranya Imam Malik
di Madinah dengan kitabnya Al-Mutwaththa, Imam Abu Hanifah menulis Al-Fqhi,
serta Imam Syafi’i menulis Ikhtilaful Hadits, Al-Um, dan As-Sunnah.

Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40.000


Hadits. Ulama Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam
Bukhari (194 H/256 M) dengan kitabnya Shahih Bukhari dan Imam Muslim (206
H/261 M) dengan kitabnya Shahih Muslim. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan
utama umat Islam hingga kini. Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak
600.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Imam Muslim mengumpulkan
300.000 hadits yang kemudian diseleksinya.

Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa'i yang menuangkan
koleksi haditsnya dalam Kitab Nasa'i, Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi,
Imam Abu Daud dalam Sunan Abu Daud, Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu
Majah, Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi dan Syu'bul Imam, dan Imam
Daruquthni dalam Sunan Daruquthni.5

5
Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Maarif Bandung, 1989

7
3. Itjihad

Secara bahasa, ijtihad artinya usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ahli
agama (ulama) untuk mencapai suatu putusan (simpulan) hukum syara' (syariat
Islam) mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Alquran dan
Sunah.6

Ijtihad juga berarti pendapat atau tafsiran (KBBI). Ijtihad adalah berpikir keras
untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang tidak secara jelas
disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Pelaku atau orang yang melakukan
ijtihad disebut Mujtahid. Kedudukan Ijtihad sebagai sumber hukum atau ajaran
Islam ketiga setelah Al-Quran dan As-Sunnah, diindikasikan oleh sebuah Hadits
(Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud) yang berisi dialog atau tanya jawab antara Nabi
Muhammad Saw dan Mu’adz bin Jabal yang diangkat sebagai Gubernur Yaman.

“Bagaimana memutuskan perkara yang dibawa orang kepada Anda?”


“Hamba akan memutuskan menurut Kitabullah (Al-Quran.”
“Dan jika di dalam Kitabullah Anda tidak menemukan sesuatu mengenai soal itu?”
“Jika begitu, hamba akan memutuskannya menurut Sunnah Rasulillah.”
“Dan jika Anda tidak menemukan sesuatu mengenai hal itu dalam Sunnah
Rasulullah?”
“Hamba akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (Ijtihadu bi ra’yi)
tanpa bimbang sedikit pun.”
“Segala puji bagi Allah yang telah menyebabkan utusan Rasulnya menyenangkan
hati Rasulullah!”

6
H. Djarnawi Hadikukusam, “Ijtihad”, dalam Amrullah Achmad dkk. (Editor), Persepektif
Ketegangan Kreatif dalam Islam, PLP2M Yogyakarta, 1985

8
Hadits tersebut diperkuat sebuah fragmen peristiwa yang terjadi saat-saat Nabi
Muhammad Saw menghadapi akhir hayatnya. Ketika itu terjadi dialog antara
seorang sahabat dengan Nabi Muhammad Saw.
“Ya Rasulallah! Anda sakit. Anda mungkin akan wafat. Bagaimana kami jadinya?”
“Kamu punya Al-Quran!”

“Ya Rasulallah! Tetapi walaupun dengan Kitab yang membawa penerangan dan
petunjuk tidak menyesatkan itu di hadapan kami, sering kami harus meminta
nasihat, petunjuk, dan ajaran, dan jika Anda telah pergi dari kami, Ya Rasulallah,
siapakah yang akan menjadi petunjuk kami?”
“Berbuatlah seperti aku berbuat dan seperti aku katakan!”
“Tetapi Rasulullah, setelah Anda pergi peristiwa-peristiwa baru mungkin timbul
yang tidak dapat timbul selama hidup Anda. Kalau demikian, apa yang harus kami
lakukan dan apa yang harus dilakukan orang-orang sesudah kami?

‘’Allah telah memberikan kesadaran kepada setiap manusia sebagai alat setiap
orang dan akal sebagai petunjuk. Maka gunakanlah keduanya dan tinjaulah sesuatu
dan rahmat Allah akan selalu membimbing kamu ke jalan yang lurus!” 7

Pada dasarnya, semua umat Islam berhak melakukan Ijtihad, sepanjang ia


menguasai Al-Quran, As-Sunnah, sejarah Islam, juga berakhlak baik dan
menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Lazimnya, Mujtahid adalah para ulama yang integritas keilmuan dan


akhlaknya diakui umat Islam. Hasil Ijtihad mereka dikenal sebagai fatwa. Jika
Ijtihad dilakukan secara bersama-sama atau kolektif, maka hasilnya
disebut Ijma’ atau kesepakatan.

7
Zainab Al-Ghazali, Menuju Kebangkitan Baru, Gema Insani Press Jakarta, 1995

9
C. Prinsip Ajaran Islam

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, prinsip diartiakan sebagai asas,


kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak, dan sebagainya. Dalam
bahasa Inggris dijumpai kata prinsiple yang diartikan asas, dasar, prinsip, dan
pendirian.
Dalam bahasa Arab, kata prinsip merupakan terjemahan dari kata asas,dan
jamaknya usus, yang berarti Fundation (dasar bangunan), Fundamental (yang
utama), grounwork (landasa kerja), Basis (tiang utama), Keynote (kata kunci)8
Dengan demikian prinsip diartikan sebagai tempat yang dijadikan sandaran atau
pijakan dalam membangun sesuatu, atau sebagai landasan yang digunakan untuk
mengembangkan konsep atau teori.

Macam-Macam Prinsip Ajaran Islam

Ajaran Islam sebagai ajaran yang lengkap, utuh, kukuh, konprehensif,


intregratet, dan holistis memilikki prinsip-prinsip yang dijadikan landasan
operasionalnya. Penjelasan secara singkat terhadap berbagai prinsip ini dapat
dikemukakan sebagai berikut:9

1. Sesuai dengan fitrah manusia


Kata fitrah secara harfiah berarti keadaan suci. Selain itu ada pula yang
mengartikan bahwa fitrah adalah kecenderungan atau perasaan mengakui adanya
kekuasaan yang menguasai dirinya dan alam jagat raya, yang disebut Tuhan.
Islam datang untuk melindungi fitrah manusia sebagaimana yang terdapat
pada konsep maqoshid al-syar’iyah, yaitu melindungi jiwa, agama, akal, harta
benda, dan melindungi keturunan

8
Studi Islam Komprehensif, hal. 49.
9
Studi Islam Komprehensif, (hlm50-82)

10
2. Keseimbangan (At-Tawazun)
Hidup yang seimbang adalah hidup yang memerhatikan kepentingan
jasmani dan rohani namun kekuatan rohani harus mengarahkan kekuatan jasmani.
Dengan begitu berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan jasmani
didasarkan pada nilai-nilai yang berasal dari Tuhan, mempertimbamgkan baik
buruknya dan diabadikan untuk tujuan yang luhur.
Kehidupan yang seimbang juga berkaitan dengan usaha manusia dalam
mempersiapkan bekal untuk hidup di dunia dan akhirat. Kehidupan dunia selain
untuk mencari kebutuhan jasmani juga harus di pandang sebagai kesempatan untuk
menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

3. Sesuai dengan keadaan zaman dan tempat


Islam adalah agama akhir zaman. Dengan sifat yang demikian itu maka
islam sebagaimana yang bersumber kepada Al-Quran dan As-Sunnah telah
disebutkan sebelumnya akan terus berlaku sepanjang Zaman.
Mahmud Syaltout berpendapat bahwa islam adalah agama yang sesuia
dengan waktu dan tempat (‫)االسالم صالح لكل زمان و مكان‬.
Syekh Zaky al- Yamani berpendapat, bahwa ajaran Islam sebagaimana yang
terdapat di dalam Al-Qur’an laksana sebuah benih unggul yang siap di tanam. Benih
ini akan tumbuh sesuai dengan keadan cuaca alam, tanah, kesuburan, pupuk, cara
menanam, memelihara, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, walaupun sumber utama ajaran islam adalah Al-Quran
dan Sunah, namun dalam pemahaman dan implementasinya mengalami
penyesuiaan dan perbedaan yang disesuaikan dengan keadaan perkembangan
masyarakat. Namun perbedaan ini tidak sampai mengubah teks Al-Qur’an dan
Hadis serta menolak hal-hal yang bersifat pasti, yakni dalam hal aqidah, ibadah,
akhlak karimah.

11
4. Tidak Menyusahkan Manusia
Ajaran Islam turun dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat
manusia, memberi rahmat kepadanya, mengeluarkan manusia dari kegelapan
kepada terang benderang, dari kebiadaban menjadi beradab, dari perpecahan dan
permusuhan serta peperangan, menjadi masyarakat yang bersatu, damai, harmonis,
dan tolong-menolong. Dengan dasar ini, maka tidak mungkin ajaran Islalm
bertujuan untuk menyusahkan manusia. Prinsip ajaran Islam yang demikian itu
dapat diketahui dari hal-hal sebagai berikut:
Pertama, dalam ibadah sholat misalnya, seseorang diharuskan melakukan
berbagai gerakan fisik, seperti berdiri, rukuk, dan sujud. Namun bagi orang yang
fisiknya bermasalah, islam membolehkan seseorang sholat sambil duduk,
berbaring, atau dengan isyarat dan hati saja.
Kedua, sesesorang yang berada dalam kegiatan yang sangat sibuk, misalnya
harus bepergian jauh, dibolehkan untuk men-jama’dan meng-qashar sholat.
Demikian pula boleh untuk berbuka puasa di bulan ramadhan dan menggantinya di
bulan lain.
Ketiga, seseorang yang dalam keadaan tidak memiliki bahan makanan dan
minuman dan nyawanya akan terancam, maka ia dibolehkan untuk mengkonsumsi
makanan dan minuman yang semula di haramkan
Prinsip ajaran islam tentang tidak adanya kesulitan dalam beragama ini
dijelaskan lebih lanjut dalam firman Allah SWT:
‫ال يكلف هللا نفسا اال وسعها‬
Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya . (QS. al-Baqarah: 286)
Namun demikian, adanya prinsip kemudahan atau tidak memberatkan
manusia dalam islam sebagaimana disebutkan sebelumnya, tidak dapat dipahami
bahwa seseorang yang dalam keadaan normal boleh melalaikan mengerjakan
perintah Allah, atau mengerjakan asal-asalan. Seseorang yang dalam keadaan
normal wajib mengerjakan perintah Allah dengan sempurna dan sesuai jadwal yang
ditetapkan.
12
5. Berorientasi pada masa depan
Islam adalah agama yang mengajarkan kepada penganutnya agar masa
depan keadaannya lebih baik dari masa lalu dan sekarang. Dengan prinsip ini, maka
seorang Muslim akan menjadi oramg yang dinamis dan pogressif guna menyiapkan
hari esok yang lebih baik
Rasulullah SAW bersabda:
‫ ومن كان‬,‫ ومن كان عمل يومه سواء من امسه فهو خاسر‬,‫من كان عمل يومه خيرا من امسه فهو رابح‬
)‫عمل يومه شرا من امسه فهو ملعون(رواه مسلم‬

“barangsiapa yang amal perbutannya hari ini lebih baik dari amal perbuatannyahari
kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung; barangsiapa yang amal
perbuatannya hari ini sama dengan amal perbuatan hari kemarin, maka ia termasuk
orang yang merugi; dan barangsiapa yang amal perbuatannya hari ini lebih buruk
dari perbuatannya hari kemarin, maka ia termasuk orang yang
terlaknat.”(HR.Muslim)

6. Keadilan
Prinsip keadilan dalam Islam merupakan, pemersatu, dan penyeimbang
antara berbagai tindakan dan perbuatan yang dilakukan manusia, yang
memungkinkan setiap orang akan menerimanya dengan rasa puas. Keadilan dalam
Islam berlaku pada seluruh bidang kehidupan.

7. Musyawarah
adalah proses suatu ide yang dialihkan dari sumber kepada suatu penerima
atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Raymond S. Ross
menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses menyortir, memilih dan
mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar
membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang
dimaksudkan oleh komunikator atau si pemberi pesan.

13
8. Persaudaraan
Prinsip persaudaraan dalam islam didasarkan pada unsur persamaan dari
segi asal usul, proses, kebutuhan hidup, yenpat kembali, dan nenek moyang.
Dengan prinsip persaudaraan ini pada tahap selanjutnya akan melahirkan sikap
tolong-menolong, toleransi, dan kasih saying di antara sesama manusia.

14
BAB III
PENUTUP

1. Pengertian Islam dari segi istilah adalah agama yang diturunkan Allah kepada nabi
Muhammad yang isinya bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhan,
melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam jagat raya.

2. Dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa ma’na islam adalah suatu kepatuhan dengan
kerendahan diri dan meninggalkan hal-hal yang bersifat membantah. Dan
sesungguhnya semua agama dan syari’at yang didatangkan oleh para Nabi, ruh atau
intinya adalah Islam (menyerahkan diri), tunduk dan menurut. Karena orang
muslim hakiki adalah orang yang bersih dari kotoran syirik, berlaku ikhlas dalam
amalnya.

3. Sesungguhnya orang Yahudi-Nasrani yang bersengketa tentang agama Ibrahimi


dengan Islam sehingga menjadikan perselisihan agama. Ini merupakan hal yang
tidak benar, karena perlu diketahui bahwasannya agama Islam dengan agama Nabi-
nabi sebelunya merupakan satu kesatuan dari Allah yaitu mengEsakan Allah.
Hanya saja setiap syari’atnya berbeda-beda, namun tetap memiliki satu tujuan yang
sama yaitu Allah.

4. Keistimewaan Agama Islam adalah


 Sebagai petunjuk setiap umat manusia
 Sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya
 Menyimpan aturan-aturan kebajikan, sehingga menambah rasa taqwa kita
kepada Allah

15
DAFTAR PUSTAKA

Zainab Al-Ghazali, Menuju Kebangkitan Baru, Gema Insani Press Jakarta,


1995

H. Djarnawi Hadikukusam, “Ijtihad”, dalam Amrullah Achmad dkk.


(Editor), Persepektif Ketegangan Kreatif dalam Islam, PLP2M Yogyakarta,
1985

Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Maarif Bandung, 1989

Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pustaka Bandung, 1978

Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Jakarta : CV. Toha Putra


Semarang, 1987)

Abudin Nata, Studi Islam Komprehensif , (Jakarta)

Mahmud Syaltout, Al-Islam Aqidah wa Syari’ah, (Mesir : Dar al-Qalam, 1966),

16