Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN PBL GANGGUAN TUMBUH KEMBANG

TUTOR PEMBIMBING:

dr. Zulfahmidah
Disusun oleh :
Kelompok 14
Rinang Regly Mahendra 110 2016 0024
A.Muh.Riflan Astar 110 2016 0089
Ida Putri Insani 110 2016 0122
Hetty Mariati 110 2016 0016
Herika Laksmi Safitri K 110 2016 0015
Rani Safitra Musdin 110 2016 0128
Indah Dian Larasati Husada 110 2016 0061
Hartina Burhan 110 2016 0155
Halisa Rahmasari 110 2016 0133
Ilva Sukardi 110 2016 0007
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2019
SKENARIO 1

Baso dibawa ibunya ke Puskesmas tgl 1 April 2019, untuk melanjutkan


imunisasi. Lahir tanggal 20 Januari 2018. BBL 1800 gram, PB 43 cm dan LK
28 cm. Riwayat anak lahir dengan usia gestasi 32 minggu dan segera menangis.
Dalam perawatan Baso mengalami kuning hari ke-4. Bilirubin total 9 mg/dl,
Bilirubin direk 1 mg/dl. Anak makan apa yang disajikan di rumah, ASI + Susu
Formula sampai usia 6 bulan. Buku KIA, Imunisasi 1 bulan BCG, OVP; 2 bulan
DTP, Hib, Hep.B, OVP; 3 bulan DTP, Hib, Hep.B. OVP.
Pada pemeriksaan BB 6900 gram, PB 75 cm, LK 42 cm. Pemeriksaan
perkembangan: duduk mandiri, merangkak, belum bisa berdiri dengan
pegangan, memanggil papa mama spesifik, menoleh ke sumber suara,
melambaikan tangan, memasukkan benda ke wadah. Pemeriksaan Nn. cranialis:
tak ada kelainan, refleks fisiologis dan patologik: tak ada kelainan. Anak
pertama dan oleh bibi lebih banyak dibedong.

Pertanyaan :

1. Bagaimana pertumbuhan anak usia 14 bulan sesuai skenario ?

2. Bagaimana perkembangan anak usia 14 bulan sesuai skenario ?

3. Bagaimana analisis status gizi pada anak di skenario ?

4. Jelaskan faktor resiko yg mempengaruhi pertimbuhan dan perkembangan ?

5. Jelaskan jenis imunisasi (waktu , cara pemberian , efek samping yang di


timbulkan serta tatalaksana jika terjadi efek samping tsb ) ?

6. Apa yang menyebabkan bayi kuning pada hari ke 4 ( jelaskan mekanisme ,


jenis jenis ikterus , serta tatalaksana ekterus ) ?

7. Bagaimanakan hubungan antara bayi yang sering dibedong dgn perkembangan


motorik kasar pada anak ?

8. Bagaimanakah langkah penilaian dan pemeriksaan penunjang dalam menilai


perkembangan dan pertumbuhan pada anak di skenario ?

9. Bagaimana tatalaksana dari skenario tersebut ?


1. Bagaimana pertumbuhan anak usia 14 bulan sesuai skenario ?

Jawaban :

 Teori Pertumbuhan
a. Teori Deprivasi Pertumbuhan (Konvensional)
Mendeskripsikan pertumbuhan sebagai suatu patokan yang pasti, seorang anak
telah memiliki patokan tersebut sejak lahir, yang bersifat tunggal dan ia akan tetap
berada pada kurva pertumbuhan tersebut selama hidupnya dan ia akan jatuh ke
keadaan terganggu manakala faktor lingkungannya tiak mendukung
b. Teori Homeostatik Pertumbuhan
Menjelaskan bahwa faktor genetic berperan dalam memberikan ruang
pertumbuhan potensial, suatu kawasan berspektrum luas. Faktor lingkungan
membentuk kurva pertumbuhan pada kawasan tersebut, dikontrol oleh mekanisme
homeostatik
c. Teori Potensi Pertumbuhan Optimal
Mendeskripsikan bahwa faktor genetic menyediakan batas atas kurva
pertumbuhan, yang apabila faktor lingkunagan seorang anak mendukung
pertumbuhannya akan tercapai, sebaliknya kelemahan faktor lingkungan dapat
memnyebabkan tidak tercapainya kurva pertumbuhan maksimal
 Prinsip Pertumbuhan

Menurut Sutterly Donnely (1973) terhadap 10 prinsip dasar pertumbuhan:

a. Pertumbuhan adalah kompleks, semua aspek-aspeknya berhubungan


sangat erat
b. Pertumbuhan mencakup hal-hal kuntitatif dan kualitatif
c. Pertumbuhan adalah proses yang berkesinambungan dan terjadi secara
teratur
d. Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat keteraturan arah
e. Tempo pertumbuhan tiap anak tidak sama
f. Aspek-aspek berbeda dari pertumbuhan, berkembang pada waktu dan
kecepatan berbeda
g. Kecepatan dan pola pertumbuhan dapat dimodifikasikan oleh faktor
intrinsic dan ekstrinsik
h. Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat masa-masa krisis
i. Pada suatu organism akan kecenderungan untuk mencapai potensi
perkembangan yang maksimum
j. Setiap indivisu tumbuh dengan caranya sendiri yang unik
 Periode Pertumbuhan
a. Masa Prenatal atau msa intra uterin (masa janin dalam kandungan) terbagi
atas 3 periode:
 Masa zigot (konsepsi-3 minggu)
 Masa embrio (2 – 8½ minggu)
 Masa janin/fetus (9/12 minggu-akhir kehamilan) yang terdiri atas:
o Masa fetus dini (9 minggu-trimester kedua masa intra uterin)
o Masa fetus lanjut (trimester akhir kehamilan)
b. Masa bayi (infacy) yaitu usia 0-11 bulan yang terbagi atas 2 periode:
 Masa neonatal (0-28 hari):
o Masa neonatal dini (0-7 hari)
o Masa neonatal lanjut (8-28 hari)
 Masa post (pasca) natal (29 hari -11 bulan)
c. Masa anak di bawah lima tahun (balita; 12-59 bulan)
d. Masa anak pra sekolah (60-72 bulan)
 Penialain Pertumbuhan
Ada 4 penilaian pertumbuhan fisik pada anak yaitu pengukuran
antropometri, pemeriksaan fisik (jaringan otot, lemak rambur, gigi), pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan radiologis.
Pengukuran pertumbuhan anak dapt ditentukan dengan menggunakan pembanding
ukuran tubuh tertentu pada dua titik waktu berbeda. Marshall dan Swann
mengajukannya dalam konsep yang dikenal sebagai velocity. Konsep nini secara
matematik diajukan dalam bentuk:
𝑥2−𝑥1
Growth Velocity = 𝑡2−𝑡1
Dimana x2 dan x1 adalah nilai ukur saat waktu t2 dan t1 (Gibson, 1990).
Laju pertumbuhan yang diajukan ini secara logis membutuhkan satuan
pengamatan isomorfis yang diambil dari berbagai titik pada kurun kehidupan
anak. Pada saat t1 dan t2 atau pengukuran tunggal lainnya yang dilkukan waktu
ke-n (tn), penetapan status anak membutuhkan perbandingan tertentu status
tersebut berupa perbandingan berat badan menurut umur ( untuk selanjutnya
ditulis BB/U) dan perbandingan tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U)
atau perbandingan Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
Pengukuran antropometri terdiri dari berat badan dan panjang badan sesuai
dengan cara-cara baku, beberapa kali secara berkala misalnya BB anak diukur
tanpa baju, mengukur panjang bayi dilakukan oleh 2 orang pemeriksa pada papan
pengukur (infatometer), tinggi badan anak diatas 2 tahun diukur berdiri dengan
microtoise. Baku yang dianjurkan adalah baku NCHS secara internasional untuk
anak usia 0-18 tahun yang dibedakan menurut jenis kelamin. Lingakar kepala,
lingkar lengan dan lingkar dada menggunakan pita tidak molor, tebal lipatan kulit
diukur dengan Skinfold caliper pada kulit lengan , subskapula dan daerah pinggul
untuk menilai kegemukan. Body Mass Index (BMI) telah dipakai secar luas, yaitu
berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m2). BMI mulai disosialisasikan
untuk penilaian obesitas pada anak dalam kurva persentil juga tingkat kelebihan
berat badan harus dinyatakan dengan SD dari mean BMI untuk populasi umur
tertentu.

1. Berat Badan

Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali
pada hari ke 10. berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi
umur 5 bulan, menjadi 3 kali berat badan lahir pada umur satu tahun, dan menjadi
4 kali berta badan lahir pada umur 2 tahun.

Pada masa prasekolah, kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun. Kemudian


pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai “pre-adolescent growth spurt”
(pacu tumbuh pra-adolesen) dengan rata-rata kenaikan berat badan adalah 3 – 3,5
kg/tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan “adolescent growth spurt” (pacu
tumbuh adolesesn).

Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, kalau anak mendapat
gizi yang baik, adalah berkisar antara :

- 700-1000 gram/bulan pada triwulan I.


- 500-600 gram/bulan pada triwulan II.
- 350-450 gram/bulan pada triwulan III.
- 250-350 gram/bulan pada triwulan IV.
Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman, 1992 untuk
memperkirakan berat badan anak, adalah sebagai berikut :

1. Lahir 3,25 kg.

2. 3-12 bulan Umur(bulan) + 9

3. 1-6 tahun Umur(tahun) x 2 + 8

4. 6-12 tahun Umur(tahun) x 7 – 5

Menurut data dan rumus diatas, bayi 11 bulan (pada skenario) seharusnya
memiliki berat badan 7750-9550 gram atau menurut rumus Behrman berkisar
antara 10 kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bayi pada skenario mengalami
gangguan pertumbuhan dimana berat badannya tidak sesuai dengan umurnya

2. Panjang Badan/Tinggi badan

Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Pertamabahn panjang
badan atau tinggi badan pada tahun pertama kehidupan, kalau anak mendapat gizi
yang baik adalah berkisar antara :

- 2,8-4,4 cm/bulan pada triwulan I.


- 1,9-2,6 cm/bulan pada trimester II.
- 1,3-1,6 cm/bulan pada trimester III.
- 1,2-1,3 cm/bulan pada trimester IV.
Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman, 1992 untuk
memperkirakan panjang badan/tinggi anak, adalah sebagai berikut :

a. Lahir 50 cm

b. Umur 1 tahun 75 cm

c. 2-12 tahun Umur(tahun) x 6 + 77

Menurut data diatas, bayi 11 bulan akan mengalami kenaikan panjang badan
sekitar 20,4-28,4 cm. Pada skenario, berat badan bayi saat lahir adalah 50 cm,
sehingga panjang badan/tinggi badan bayi sekarang adalah berkisar antara 70,4-
78,4 cm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, kenaikan panjang badan/tinggi
badan bayi pada skenario tergolong normal atau panjang badan/tinggi badan bayi
sesuai dengan umurnya.

3. Lingkar Kepala
Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm, dan besar lingkar kepala
ini lebih besar dari lingkar dada. Pada umur 6 bulan, lingkar kepala rata-ratanya
adalah 44 cm, umur 1 tahun 47 cm, 2 tahun 49 cm dan dewasa 54 cm. Jadi,
pertambahan lingkar kepala pada 6 bulan pertama ini adalah 10 cm, atau sekitar
50% dari pertambahan lingkar kepala dari lahir sampai dewasa terjadi pada 6
bulan pertama kehidupan.

Sehingga menurut data diatas, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan tulang


kepala bayi pada skenario tidak sesuai dengan umurnya.

Sumber :

1. Soetjaningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC; Jakarta


2. Moersintowarti B. Narendra dkk.2002.Tumbuh Kembang Anak dan
Remaja Edisi Pertama Tahun 2002.CV Sagung Seto:Jakarta
2. Bagaimana perkembangan anak usia 14 bulan sesuai skenario ?

Jawaban :

TAHAPAN PERKEMBANGAN DAN STIMULASI UMUR 12 - 18 BULAN

MOTORIK KASAR

TAHAPAN PERKEMBANGAN

• Berdiri sendiri tanpa berpegangan

• Berjalan mundur 5 langkah

• Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali

STIMULASI

1. Berdiri sendiri tanpa berpegangan Stimulasi yang perlu dilanjutkan.

- Bermain bola

- Berjalan sendiri

2. Berjalan mundur 5 langkah, bila anak sudah jalan tanpa berpegangan, ajari anak
cara melangkah mundur. Berikan mainan yang bisa ditarik karena anak akan
mengambil langkah mundur untuk dapat memperhatikan mainan itu.

3. Menarik mainan, bila anak sudah jalan tanpa berpeganan, berikan mainan yang
bisa ditarik ketika anak berjalan. Umumnya anak senang mainan yang bersuara.

4. Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali

5. Berjalan naik dan turun tangga. Bila anak sudah bisa merangkak naik dan
melangkah turun tangga, ajari anak cara jalan naik tangga sambll berpegang an
pada dinding atau pegangan tangga. Tetap bersama anak ketika ia melakukan hal
ini untuk pertama kalinya.
6. Berjalan sambil berjinjit. Tunjukkan kepada anak cara berjalan sambil berjinjit.
Buat agar anak mau mengikuti anda berjinjit di sekeliling ruangan. 7. Menangkap
dan melempar bola. Tunjukkan kepada anak cara melempar sebuah bola besar,
kemudian cara menangkap bola tersebut. Bila anak bisa melempar bola ukuran
besar, ajari anak melempar bola yang ukurannya lebih kecil.

GERAK HALUS

TAHAPAN PERKEMBANGAN

Menumpuk 2 kubus

STIMULASI

1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan.


• Memasukkan benda ke dalam wadah.
• Bermain dengan mainan yang mengapung di air.
• Menggambar.
• Menyusun kubus dan mainan.
• Memasukkan kubus dikotak.
2. Permainan balok.
Beli atau buat balok-balok kecil dari kayu dengan ukuran sekitar 2.5 cm x 2.5
cm. Ajari anak cara menyusun balok menumpuk ke atas tanpa
menjatuhkannya.

3. Memasukkan dan mengeluarkan benda. Ajari anak cara memasukkan benda¬


benda ke dalam wadah seperti kotak, pot bunga, botol dan lain-lain. Tunjukkan
bagaimana mengeluarkannya dari wadah. Ajak anak bermain memasukkan dan
mengeluarkan benda-benda tersebut.

4. Memasukkan benda yang satu ke benda lainnya. Sediakan mangkuk atau kotak
plastik dari berbagai ukuran. Tunjukkan kepada anak cara meletakkan mangkuk
yang ukurannya lebih kecil ke mangkuk lebih besar. Buat agar anak mau
melakukannya sendiri. Pilih benda-benda yang tidak pecah
BICARA BAHASA

TAHAPAN PERKEMBANGAN

Memanggil ayah dengan kata "papa",memanggil ibu dengan kata "mama".

STIMULASI

1. Simulasi yang perlu dilanjutkan:


• Berbicara
• menjawab pertanyaan
• Menunjuk dan menyebutkan gambar-gambar
2. Membuat suara
• Buat suara dari kaleng kue, kerincingan atau kayu pegangan sapu. ajak
anak membuat suara dari barang yang dipilihnya misal memukul-mukul
sendok ke kaleng, menggoyang-goyang kerincingan atau memukul-mukul
potongan kayu, untuk menciptakan "musik".
• Menunjuk dan menyebutkan gambar-gambar

SOSIALISASI KEMANDIRIAN TAHAPAN PERKEMBANGAN

1. Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa


mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu.

2. Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing

STIMULASI

1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan.

- Memberi rasa aman dan kasih sayang.

- Mengayun

- Menina-bobokkan
- Permainan "Ciluk-ba"

- Permainan "bersosialisasi"

2. Menirukan pekerjaan rumah tangga Ketika anda membersihkan rumah,


menyapu dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya, ajak anak untuk
menirukannya. Berikan kepadanya lap pembersih debu,sapu dan lain-lain.

3. Melepas pakaian Tunjukkan kepada anak cara melepas pakaiannya. Mula-mula


bantu anak dengan cara membukakan kancing bajunya, melepas sepatunya, atau
menarik kaus/blus meliwati kepala anak.

4. Makan sendiri. Tunjukkan kepada anak cara memegang sendok. Biarkan anak
makan sendiri dan bantu jika anak mengalami kesulitan

5. Makan sendiri. Tunjukkan kepada anak cara memegang sendok. Biarkan anak
makan sendiri dan bantu jika anak mengalami kesulitan.

6. Merawat boneka Beri anak boneka plastik atau karet yang bisa dicuci. Ajari
anak cara menggendong, memberi makan, menyayangi, meninabobokkan dan
memandikan boneka itu.

7. Sering bawa anak ke tempat-tempat umum seperti: kebun binatang, pusat


perbelanjaan, terminal bis, museum, stasiun kereta api, lapangan terbang, taman,
tempat bermain dan sebagainya. Bicarakan mengenai benda-benda yang anda
lihat.

Sumber :

Kementrian kesehatan. 2016. Pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi, dan


intervensi dini tumbuh kembang anak ditingkat pelayanan kesehatan dasar.
Halaman 42-43
3. Bagaimana analisis status gizi pada anak di skenario ?
Jawaban :

Status gizi adalah tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau
lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Status gizi optimal adalah
keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan zat gizi yang digunakan
untuk aktivitas sehari-hari. Infeksi juga ikut mempengaruhi status gizi. Masalah
kurangnya asupan zat gizi dan adanya penyakit infeksi biasanya merupakan
penyebab utama

Secara umum penilaian status gizi dapat dilihat dengan metode langsung dan tidak
langsung

1. Secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi
empat penilaian yaitu :
1.1. Antropometri Secara umum
Antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi,
maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat
gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks
antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu:
a. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. indeks
BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini
b. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan
pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tumbuh seiring
dengan pertambahan umur.
c. Berat badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan
pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.
d. Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan
otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas berkolerasi
dengan indeks BB/U maupun BB/TB.
e. Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah
kulit dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian
lengan atas, lengan bawah, di tengah garis ketiak, sisi dada, perut, paha,
tempurung lutut, dan pertengahan tungkai bawah.

Pada skenario dijabarkan seorang anak laki-laki dengan usia 14 bulan


dengan usia gestasi 32 minggu sehingga umur koreksinya 12 bulan. Dari hasil
pengukuran saat datang ke puskesmas diperoleh BB 6900 gram, PB 75 cm dan
LK 42 cm. Diketahui riwayat anak dengan BBL 1800 gram, PB 43 cm dan LK 28
cm.

Dari berbagai jenis indeks tersebut di atas, untuk menginterpretasikannya


dibutuhkan ambang batas. Ambang batas dapat disajikan kedalam 3 cara yaitu:

1). Persen terhadap Median


Median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi,
median sama dengan persentil 50. Nilai median dinyatakan sama dengan 100%
(untuk standar). Setelah itu dihitung persentase terhadap nilai median untuk
mendapatkan ambang batas. Contoh pemakaian cara ini adalah pada penentuan
status gizi dengan ketentuan Eid Index dengan menggunakan kurva CDC-NCHS
2000.

a). Berat badan terhadap umur dan tinggi badan terhadap umur

Pada skenario digambarkan bahwa anak laki-laki berusia koreksi 12 bulan


yang bernama Baso memiliki BB 6900 gram, PB 75 cm dan saat lahir BBL 1800
gram, PB 43 cm. Berikut ini merupakan kurva yang menggambarkan berat badan
dan tinggi badan yang sesuai dengan usia Baso yaitu 12 bulan.

Kurva CDC panjang badan terhadapumur dan tinggi badan terhadap umur
Pada kurva tersebut menggambarkan pada usia 12 bulan tinggi badan anak
yang memotong garis persentil 50 adalah 75,5 cm dan berat badan 10,2 kg.
berdasarkan data dari skenario diperoleh kurva sebagai berikut.

Kurva CDC panjang badan terhadapumur dan tinggi badan terhadap umur berdasarkan skenario

Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa baso memiliki berat


badan yang tidak sesuai dengan umurnya pada saat dibawa ke puskesmas
begitupun saat kelahirannya. Adapun tinggi badannya tetap sesuai dengan
umurnya. Untuk menentukan status gizi Baso maka data tersebut dimasukkan ke
dalam rumus berikut:

𝐵𝐵 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑇𝐵 𝑎𝑛𝑎𝑘
× 100% × 100%
𝐵𝐵 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝐶𝐷𝐶 𝑇𝐵 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝐶𝐷𝐶

6,9 75
 × 100% = 75,5 × 100%
10,2

= 67 % (Gizi buruk) = 99 % (normal)

Adapun hasil interpretasinya sebagai berikut:


>120%......... = kegemukan (obesity)
≥ 110% -120% = Gizi lebih (overweight)
≥ 90%-110% = Gizi baik (normal)
≥ 80%- 90% = Gizi sedang (mild M)
≥ 70%- 80% = Gizi kurang (moder M)
< 70 % = Gizi buruk (severe M)
Jadi status gizi Baso berdasarkan berat badannya adalah gizi buruk dan
berdasarkan tinggi badannya normal.

b). Lingkar kepala terhadap umur dan berat badan terhadap panjang
badan
Pada skenario digambarkan bahwa baso yang berusia 12 bulan diperoleh
BB 6900 gram, PB 75 cm dan LK 42 cm. Riwayat anak dengan BBL 1800 gram,
PB 43 cm dan LK 28 cm. Berikut ini urva yang menggambarka nilai normal
lingkar kepala anak terhadap umurnya dan nilai BB anak normal terhadap panjang
badannya.
Kurva CDC lingkar kepala terhadap umur dan berat badan terhadap tinggi badan
Kurva daitas menunjukkan bahwa pada usia 12 bulan jika ditarik garis ke
bawah akan memotong persentil 50 pada angka 46,1cm. hal tersebut menandakan
bahwa anak usia 12 bulan normalnya memiliki ukuran lingkar kepala 46,1 cm.
Pada kurva berat badan terhadap tinggi badan jika ditarik garis vertical dari tinggi
badan 75 cm maka akan memotong persentil 50 pada angka 10 kg. berdasarkan
skenario diperoleh kurva sebagai berikut.
Kurva CDC lingkar kepala terhadap umur dan berat badan terhadap tinggi badan berdasarkan
skenario
Berdasarkan table diperoleh lingkar kepala Baso tidak sesuai dengan
usianya. Baso mengalami mikrosefal. LK Baso hanya 42 cm. berat badan Baso
juga tidak sesuai dengan tinggi badnnya.
2). Kurva menurut WHO
Cara lain untuk menentukan ambang batas selain persen terhadap median
adalah kurva WHO. Pada kurva WHO, digunakan penyimpangan 2 SD (standar
deviasi) untuk mendefinisikan penyimpangan dalam pertumbuhan. Angka 0
menunjukkan tinggi badan atau berat badan rerata dari anak-anak untuk usianya.

a). Berat badan menurut umur


Jika data skenario disajikan dalam kurva WHO maka akan diperoleh
sebagai berikut.

Dari kurva didapatkan bahwa berat badan 6,9 kg pada anak usia 1 tahun
berada di bawah -3 yang menandakan status gizi buruk.
b). Tinggi badan menurut umur

Pada kurva tersebut menunjukkan tinggi badan Baso berada pada kisaran 2
sampai -2 yang berarti tinggi badan baso sesuai dengan usianya.

3). Standar Deviasi Unit (SDU)


Standar Deviasi Unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan
menggunakan cara ini untuk meneliti dan memantau pertumbuhan. Pengukuran
Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi Nilai
Individual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur
yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan
(NSBR). Jika hasil pengukuran lebih besar dari nilai median, maka NSBR adalah
hasil pengurangan +1 SD dengan median. Namun jika hasil pengukuran lebih
rendah dibanding median, maka NSBR adalah hasil pengurangan median dengan -
1 SD.
Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR
Berat badan baso 6,9 kg dan panjang badannya adlah 75 cm
dengan umur 12 bulan. Karena berdasarkan median pada table anak usia 12 bulan
berat baannya adalah 9,8 kg dan tingginya 75,5. Artinya BB Baso kurang
sehingga maka NSBR adalah hasil pengurangan median dengan -1 SD yaitu 8,6kg
untuk berat badan dan 73,4 untuk panjang badan.

Table Standar BB menurut umur dan TB terhadap umur


6,9−9,8 75−75,5
BB/U = TB/U =
9,8−8,6 9,8−8,6

−2,9 −2,9
= =
1,2 1,2

= -2,41 (Gizi kurang ) = -2,41 (Normal)

1.2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status
gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Hal ini dapat dilihat
pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada
organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Metode ini umumnya digunakan untuk survei klinis secara tepat (rapid
clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-
tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping
itu, digunakan untuk mengetahui tingkat gizi seseorang dengan melakukan
pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat
penyakit.
1.3 Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang
diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh.
Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah, urin, tinja dan juga
beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk
suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang
lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan
kimia faali dapat menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
1.4 Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat
perubahan struktur. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti
kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang
digunakan adalah tes adaptasi gelap.
2. Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat
dibagi menjadi tiga yaitu :
2.1. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
Pengumpulan data konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan
individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan
gizi.
2.2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data
beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan, dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang
berhubungan dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian
dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
2.3. Faktor Ekologi Malnutrisi
Merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik,
biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat
tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain.
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui
penyebab malnutrisi.

Sumber: Direktorat Gizi Masyarakat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat


Kementerian Kesehatan 2018. HASIL PEMANTAUAN STATUS GIZI (PSG)
TAHUN 2017.

4. Jelaskan faktor resiko yg mempengaruhi pertimbuhan dan perkembangan ?

Jawaban :

Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh
kembang anak, yaitu:
1. Faktor genetik.
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir
proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung di
dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas
pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat
sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya
pertumbuhan tulang. Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering
diakibatkan oleh faktor genetik. Sedangkan di negara yang sedang
berkembang, gangguan pertumbuhan selain diakibatkan oleh faktor genetik, juga
factor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang anak yang
optimal. Disamping itu, banyak penyakit keturunan yang disebabkan oleh
kelainan kromosom, seperti sindrom Down, sindrom Turner, dll.
2. Faktor lingkungan.
Lingkungan ini merupakan lingkungan “bio-fisiko-psiko-sosial” yang
mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi:
a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam
kandungan (faktor prenatal).
b. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir
(factor postnatal).
FAKTOR LINGKUNGAN PRANATAL
1. Gizi ibu pada waktu hamil.
Anak yang lahir dari ibu yang gizinya kurang dan hidup di lingkungan yang
sederhana maka akan mengalami kurang gizi dan mudah terkena infeksi dan
selanjutnya akan menghasilkan wanita dewasa yang berat dan tinggi badannya
kurang
2. Mekanis.
Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan
pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula dengan posisi janin pada
uterus dapat mengakibatkan dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi
fasialis, atau kranio tabes.
3. Toksin/zat kimia.
Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat
teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phenitoin, methadion,
obat-obat anti kanker, dan lain sebagainya dapat menyebabkan kelainan bawaan.
Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat/peminum alkohol kronis
sering melahirkan bayi berat badan lahir rendah, lahir mati, cacat, atau retardasi
mental. Keracunan logam berat pada ibu hamil, misalnya karena makan ikan yang
terkontaminasi merkuri dapat menyebabkan mikrosefali dan palsi serebralis
4. Endokrin.
Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah
somatotropin, hormon plasenta, hormon tiroid, insulin dan peptida-
peptida lainnya.Somatotropin (growth hormone) disekresi oleh kelenjar hipofisis
janin sekitar minggu ke-9. Produksinya terus meningkat sampai minggu
ke-20, selanjutnya menetap sampai lahir. Hormon plasenta (human
placental lactogen = hormon chorionic somatromammotropic), Hormon-
hormon tiroid seperti TRH (Thyroid Releasing Hormon), TSH (Thyroid
Stimulating Hormon), T3 dan T4 sudah diproduksi oleh janin sejak minggu ke-12.
Pengaturan oleh hipofisis sudah terjadi pada minggu ke-13. Kadar hormon ini
makin meningkat sampai minggu ke-24, lalu konstan. jika terdapat defisiensi
hormone tersebut, dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan susunan saraf
pusat yang dapat mengakibatkan retardasi mental. Insulin mulai diproduksi oleh
janin pada minggu ke-11, lalu meningkat sampai bulan ke-6 dan kemudian
konstan. Berfungsi untuk pertumbuhan janin melalui pengaturan keseimbangan
glukosa darah, sintesis protein janin, dan pengaruhnya pada pembesaran
sel sesudah minggu ke-30. Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes
yang hamil dan tidak mendapat pengobatan pada trimester I kehamilan, umur
ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35 tahun, defisiensi yodium pada waktu hamil.
5. Infeksi.
Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah
TORCH Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex.
Sedangkan lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin
adalah varisela, Coxsackie, Echovirus, malaria, lues, HIV, polio, campak,
listeriosis, leptospira, mikoplasma, virus influensa, dan virus hepatitis. Diduga
setiap hiperpireksia pada ibu hamil dapat merusak janin.
6. Stres
yang dialami ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin,
antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan, dll.
7. Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis,
kern ikterus, atau lahir mati.
8. Anoksia embrio.
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali
pusat, menyebabkan berat badan lahir rendah.
FAKTOR LINGKUNGAN POSTNATAL:
1. Faktor biologis (Ras/suku bangsa, Jenis kelamin, Umur, Gizi, Hormon,
Perawatan kesehatan, Kepekaan terhadap penyakit, dll).
2. Faktor fisik (Cuaca/musim, Sanitasi, Keadaan rumah, Radiasi).
3. Faktor psikososial (Stimulasi, Motivasi Belajar, Hadiah atau hukuman,
Stres, dll)
4. Faktor keluarga dan adat istiadat.

Sumber :

1. Soetjiningsih, (2010), Tumbuh Kembang Anak, Jakarta, Buku Kedokteran


Tumbuh Kembang Anak, Jakarta, EGC
2. Sujono Riyadi, (2012), Tumbuh Kembang, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
3. Cahyaningsih Sulistyo Dwi, (2011) Tumbuh Kembang Anak dan Remaja,
Jakarta, CV.Sugeng Seto.

5. Jelaskan jenis imunisasi (waktu , cara pemberian , efek samping yang di


timbulkan serta tatalaksana jika terjadi efek samping tsb ) ?
Jawaban :
1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan baik dengan
vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibodi (imunisasi pasif).
Imunisasi aktif menstimulasi sistem imun untuk membentuk antibodi dan respon
imun seluler yang melawan agen penginfeksi, sedangkan imunisasi pasif
menyediakan proteksi sementara melalui pemberian antibodi yang diproduksi
secara eksogen maupun transmisi transplasenta dari ibu ke janin.
Vaksinasi, yang merupakan imunisasi aktif, ialah suatu tindakan yang
dengan sengaja memberikan paparan antigen dari suatu patogen yang akan
menstimulasi sistem imun dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya anak
yang telah mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan oleh antigen
serupa. Antigen yang diberikan dalam vaksinasi dibuat sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan sakit, namun dapat memproduksi limfosit yang peka, antibodi,
maupun sel memori.
Imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan imunoglobulin yang berasal
dari plasma donor. Pemberian imunisasi pasif hanya memberikan kekebalan
sementara karena imunoglobulin yang diberikan akan dimetabolisme oleh tubuh.
Waktu paruh IgG adalah 28 hari, sedangkan imunoglobulin yang lain (IgM, IgA,
IgE dan IgD) memiliki waktu paruh yang lebih pendek. Oleh karena itu, imunisasi
yang rutin diberikan pada anak adalah imunisasi aktif yaitu vaksinasi.
2. Manfaat Imunisasi
Manfaat utama dari imunisasi adalah menurunkan angka kejadian penyakit,
kecacatan, maupun kematian akibat penyakit-penyakit infeksi yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Imunisasi tidak hanya memberikan perlindungan pada individu
melainkan juga pada komunitas, terutama untuk penyakit yang ditularkan melalui
manusia (person to person). Jika suatu komunitas memiliki angka cakupan
imunisasi yang tinggi, komunitas tersebut memiliki imunitas yang tinggi pula. Hal
ini berarti kemungkinan terjadinya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(vaccine-preventable disease) rendah. Dengan demikian, anak yang belum atau
tidak mendapat imunisasi karena alasan tertentu memiliki kemungkinan yang
rendah terjangkit penyakit tersebut.
Imunisasi juga bermanfaat mencegah epidemi pada generasi yang akan
datang. Cakupan imunisasi yang rendah pada generasi sekarang dapat
menyebabkan penyakit semakin meluas pada generasi yang akan datang dan
bahkan dapat menyebabkan epidemi. Sebaliknya jika cakupan imunisasi tinggi,
penyakit akan dapat dihilangkan atau dieradikasi dari dunia. Hal ini sudah
dibuktikan dengan tereradikasinya penyakit cacar (smallpox).
Selain itu, imunisasi juga menghemat biaya kesehatan. Dengan menurunnya
angka kejadian penyakit, biaya kesehatan yang digunakan untuk mengobati
penyakit- penyakit tersebut pun akan berkurang.
3. Jenis-jenis Imunisasi Dasar
1. Imunisasi Polio
Penyakit polio atau poliomyelitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh
virus polio. Penyakit ini menyerang susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan
kelumpuhan. Masa inkubasi virus biasanya 8-12 hari, tetapi dapat juga berkisar
dari 5-35 hari. Sekitar 90-95% kasus infeksi polio tidak menimbulkan gejala
ataupun kelainan.
Saat ini terdapat 2 jenis vaksin polio yaitu Oral Polio Vaccine (OPV) dan
Inactivated Polio Vaccine (IPV). Vaksin polio oral/ Oral Polio Vaccine (OPV)
berisi virus polio hidup tipe 1, 2 dan 3 yang dilemahkan (attenuated). Vaksin ini
merupakan jenis vaksin polio yang digunakan secara rutin. Virus dalam vaksin
akan masuk ke saluran pencernaan kemudian ke darah. Virus akan memicu
pembentukan antibodi sirkulasi maupun antibodi local di epitel usus.
Inactivated Polio Vaccine (IPV) berisi virus polio tipe 1, 2, dan 3 yang
diinaktivasi dengan formaldehid. Dalam vaksin ini juga terdapat neomisin,
streptomisin, dan polimiksin B. Vaksin diberikan dengan cara suntikan subkutan.
Vaksin akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosa maupun humoral)
terhadap 3 tipe virus polio, namun imunitas mukosa yang ditimbulkan lebih
rendah dari vaksin polio oral.
Di Indonesia, vaksin polio yang digunakan adalah vaksin polio oral (OPV).
Menurut rekomendasi IDAI, vaksin polio diberikan sebanyak 6 kali: saat bayi
dipulangkan dari rumah sakit atau pada kunjungan pertama (polio-0), pada usia 2
bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan, 5 tahun dan 12 tahun.
Efek samping dari vaksin atau yang biasa dikenal dengan kejadian ikutan
pasca imunisasi (KIPI) polio antara lain pusing, diare ringan, dan nyeri otot. Efek
samping yang paling ditakutkan yaitu Vaccine Associated Polio Paralytic
(VAPP). VAPP terjadi pada kira-kira 1 kasus per 1 juta dosis pertama penggunaan
OPV dan setiap 2,5 juta dosis OPV lengkap yang diberikan. Pada pemberian
OPV, virus akan bereplikasi pada usus manusia. Pada saat replikasi tersebut, dapat
terjadi mutase sehingga virus yang sudah dilemahkan kembali menjadi
neurovirulen dan dapat menyebabkan lumpuh layu akut.
Kontraindikasi pemberian vaksin polio antara lain anak dalam keadaan
penyakit akut, demam (> 38oC), muntah atau diare berat, sedang dalam
pengobatan imunosupresi oral maupun suntikan termasuk pengobatan radiasi
umum, memiliki keganasan yang berhubungan dengan retikuloendotelial dan yang
mekanisme imunologisnya terganggu, infeksi HIV, dan hipersensitif terhadap
antibiotik dalam vaksin. Anak yang kontak dengan saudara atau anggota keluarga
dengan imunosupresi juga tidak boleh diberikan vaksinasi polio.
2. Imunisasi Hepatitis B
Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada hati. Penyebabnya bermacam-
macam, salah satunya adalah virus hepatitis B yang menyebabkan penyakit
hepatitis B. Hepatitis B umumnya asimptomatik, namun seringkali menjadi
kronis. Infeksi hepatitis B juga dapat menimbulkan kanker serta sirosis hati.
Kematian akibat infeksi hepatitis B mencapai sekurang-kurangnya 1 juta/tahun.
Sampai saat ini terapi untuk hepatitis B masih kurang memuaskan sehingga upaya
pencegahan, terutama melalui imunisasi, sangat diperlukan.
Vaksin hepatitis B telah dikenal sejak tahun 1982. Vaksin ini mengandung
30-40 µg protein HBsAg (antigen virus hepatitis B). Imunisasi hepatitis B untuk
anak balita diberikan sebanyak 3 kali, yaitu segera setelah lahir, usia 1 bulan, dan
diantara usia 3-6 bulan. Imunisasi disuntikkan di paha secara intramuskular
dalam. Kejadian ikutan pasca imunisasi hepatitis B biasanya berupa reaksi lokal
yang ringan dan segera menghilang. Dapat juga timbul demam ringan selama 1-2
hari.
Efektivitas vaksin mencapai 90-95% dalam mencegah timbulnya penyakit
hepatitis B. Pertahanan akan bertahan sampai minimal 12 tahun setelah imunisasi.
3. Imunisasi BCG
Tuberkulosis merupakan penyakit yang sudah muncul sejak bertahun-tahun yang
lalu. Penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Pemberian BCG
merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit ini. Bacille Calmette-
Guerin (BCG) adalah vaksin galur Mycobacterium bovis yang dilemahkan,
sehingga didapat basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas.
Vaksin BCG pertama kali digunakan pada tahun 1921 dan merupakan salah satu
vaksin yang penggunaannya paling luas. Rata-rata sekitar 80% bayi dan anak-
anak di negara yang menggalakkan imunisasi akan mendapatkan vaksin ini.
Selain sebagai upaya pencegahan infeksi primer penyakit tuberkulosis,
vaksin BCG ini sebenarnya diberikan untuk menurunkan resiko tuberkulosis berat
seperti tuberkulosis meningitis dan tuberkulosis milier.
Vaksin BCG biasa diberikan pada umur ≤ 2 bulan. Namun dapat juga
diberikan pada umur 0-12 bulan untuk mendapat cakupan imunisasi yang lebih
luas. Vaksin BCG sebaiknya diberikan pada anak dengan tes mantoux negative.
Vaksin ini diberikan pada daerah deltoid kanan sehingga apabila terjadi
limfadenitis (aksila) mudah terdeteksi. Untuk menjaga kualitasnya, vaksin ini
harus disimpan pada suhu 2-8 derajat celcius dan tidak boleh terkena matahari.
Efek proteksi dari BCG timbul 8-12 minggu setelah penyuntikan dengan
presentasi proteksi bervariasi. BCG ulangan tidak dianjurkan oleh karena
manfaatnya diragukan mengingat efektivitas perlindungan hanya 40%, 70% kasus
TB berat ternyata mempunyai parut BCG, kasus dewasa dengan BTA + di
Indonesia cukup tinggi walaupun sudah mendapat pada masa anak-anak.
Efek samping penyuntikan BCG secara intradermal akan menimbulkan
ulkus lokal yang superficial 3 minggu setelah penyuntikan. Ulkus yang pada
akhirnya akan meninggalkan parut dengan diameter 4-8 mm akan sembuh dalam
waktu 2-3 bulan. Ukuran ulkus yang terbentuk tergantung pada dosis yang
diberikan. Komplikasi yang sering terjadi antara lain eritema nodosum, iritis,
lupus vulgaris dan osteomielitis.
Kontraindikasi pemberian vaksin BCG antara lain: reaksi uji tuberkulin
>5mm, sedang menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi infeksi HIV,
imunokompromais akibat kortikostroid, dll, gizi buruk, sedang menderita demam
tinggi, menderita infeksi kulit yang luas, pernah sakit TB dan kehamilan.
4. Imunisasi DPT
Vaksin DPT mengandung toksoid difteri, vaksin pertussis dan toksoid tetanus.
Dengan demikian vaksin ini memberi perlindungan terhadap 3 penyakit sekaligus,
yaitu difteri, pertusis dan tetanus. Penyakit difteri dan tetanus disebabkan oleh
toksin dari bakteri. Oleh karena itu, dalam upaya pencegahannya (imunisasi)
hanya diberikan toksoid yaitu toksin bakteri yang dimodifikasi sehingga tidak
bersifat toksik namun dapat menstimulasi pembentukan anti-toksin. Sementara
penyakit pertusis, walaupun juga melibatkan toksin dalam patogenesisnya,
memiliki antigen-antigen lain yang berperan dalam timbulnya gejala penyakit,
sehingga upaya pencegahannya diberikan dalam bentuk vaksin.
Difteri merupakan suatu penyakit akut yang disebabkan oleh toksin dari
kuman Corynebacterium diphteriae. Anak dapat terinfeksi kuman difteria pada
nasofaringnya. Gejala yang timbul antara lain: sakit tenggorokan dan demam.
Kemudian akan timbul kelemahan dan sesak napas akibat obstruksi pada saluran
napas sehingga perlu dilakukan intubasi atau trakeotomi. Dapat pula timbul
komplikasi berupa miokarditis, neuritis, trombositopenia dan proteinuria.
Pertusis atau batuk rejan atau batuk seratus hari disebabkan oleh bakteri
Bordetella pertussis. Sebelum ditemukannya vaksin pertusis, penyakit ini
merupakan penyakit tersering yang menyerang anak-anak dan merupakan
penyebab utama kematian. Kuman Bordetella pertussis akan menghasilkan
beberapa antigen, yaitu toksin pertusis, filamen hemaglutinin, aglutinogen
fimbriae, adenil siklase, endotoksin, dan sitotoksin trakea. Gejala utama pada
pertusis yaitu terjadinya batuk paroksismal tanpa inspirasi yang diakhiri dengan
bunyi whoop. Serangan batuk sedemikian berat sehingga dapat menyebabkan
pasien muntah, sianosis, lemas dan kejang.
Tetanus merupakan penyakit akut yang disebabkan toksin dari bakteri
Clostridium tetani. Seseorang dapat terinfeksi tetanus apabila terdapat luka yang
memungkinkan bakteri ini hidup di sekitar luka tersebut dan memproduksi
toksinnya. Toksin tersebut selanjutnya akan menempel pada saraf di sekitar
daerah luka dan mempengaruhi pelepasan neurotransmitter inhibitor yang
berakibat kontraksi serta spastisitas otot yang tidak terkontrol, kejang-kejang dan
gangguan saraf otonom. Kematian dapat terjadi akibat gangguan pada mekanisme
pernapasan.
Vaksin DPT dibedakan menjadi 2, yaitu DTwP dan DtaP berdasarkan
perbedaan pada vaksin Tetanus. DTwP (Difteri Tetanus whole cell Pertusis)
mengandung suspensi kuman B. Pertussis yang telah mati, sedangkan DTaP
(Difteri Tetanus acellular Pertusis) tidak mengandung seluruh komponen kuman
B. Pertussis melainkan hanya beberapa komponen yang berguna dalam
patogenesis dan memicu pembentukan antibodi. Vaksin DTaP mempunyai efek
samping yang lebih ringan dibandingkan vaksin DTwP.
Vaksin DPT diberikan saat anak berumur 2, 4 dan 6 bulan, setelah itu
dilanjutkan dengan pemberian vaksin kembali saat anak berumur 18 bulan, 5
tahun dan 12 tahun.
5. Imunisasi Campak
Campak merupakan penyakit menular dan bersifat akut yang disebabkan oleh
virus campak. Penyakit ini menular lewat udara melalui sistem pernafasan dan
biasanya virus tersebut akan berkembang biak pada sel-sel di bagian belakang
kerongkongan maupun pada sel di paru-paru dan menyebabkan gejala-gejala
seperti demam, malaise, kemerahan pada mata, radang saluran nafas bagian atas
serta timbul bintik kemerahan yang dimulai dari batas rambut di belakang telinga,
kemudian berangsur-angsur menyebar di daerah wajah, leher, tangan dan seluruh
badan. Cara penularan penyakit ini dapat melalui droplet penderita campak pada
stadium awal yang mengandung paramyxovirus dan kontak langsung dengan
penderita maupun benda-benda yang terkontaminasi paramyxovirus.
Untuk mencegah tertularnya penyakit campak maka seseorang perlu
diberikan vaksin campak, yang sebenarnya adalah strain dari virus campak yang
telah dilemahkan. Vaksin campak mulai digunakan pada tahun 1963 dan
dikembangkan lagi pada tahun 1968. Kombinasi vaksin campak-gondongan-
rubella (MMR) dimulai diterapkan pada tahun 1971 dan pada tahun 2005 telah
dikembangkan lagi kombinasi vaksin campak-gondongan-rubella-varicella
(MMRV).
Pemberian vaksin campak dianjurkan 2 kali untuk mengurangi
kemungkinan terkena campak, pemberian pertama memberikan 95-98% imunitas
terhadap campak dan diberikan pada umur 12-15 bulan. Pemberian kedua
memberikan 99% imunitas terhadap campak dan dapat diberikan kapan saja
asalkan berjarak lebih dari 4 minggu dari pemberian pertama, pada anak-anak
biasanya diberikan saat anak berumur 4-6 tahun. Imunisasi campak dilakukan
dengan menggunakan alat suntik sekali pakai untuk menghindari penularan
penyakit seperti HIV/AIDS dan Hepatitis B, dengan cara disuntikkan secara
subkutan maupun intramuskular.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dapat terjadi setelah
pemberian vaksin campak antara lain demam > 39,5oC, ruam, emsefalitis, dan
ensefalopati pasca imunisasi. Reaksi KIPI ini telah menurun sejak digunakannya
vaksin campak yang dilemahkan.
Vaksin campak tidak boleh diberikan pada orang yang sedang mengalami
demam tinggi, dalam pengobatan imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi,
sedang dalam pengobatan dengan imunoglobulin atau bahan-bahan komponen
darah.

Sumber :
1. Departemen Kesehatan RI, 2000, Pedoman Operasional Pelayanan
Imunisasi, Jakarta
2. Abednego, H.M. Strategi dan Pengembangan Program Imunisasi di
Indonesia Menjelang Abad 21, Balai Penerbit FK UI, Jakarta

6. Apa yang menyebabkan bayi kuning pada hari ke 4 ( jelaskan mekanisme ,


jenis jenis ikterus , serta tatalaksana ekterus ) ?
Jawaban :

Metabolisme bilirubin pada janin dan neonatus

Pada likuor amnion yang normal dapat ditemukan bilirubin pada


kehamilan 12 minggu, kemudian menghilang pada kehamilan 36-37 minggu.
Pada inkompatibilitas darah Rh, kadar bilirubin dalam cairan amnion dapat
dipakai untuk menduga beratnya hemolisis. Peningkatan bilirubin amnion juga
terdapat pada obstruksi usus fetus.Bagaimana bilirubin sampai ke likuor
amnion belum diketahui dengan jelas, tetapi kemungkinan besar melalui
mukosa saluran nafas dan saluran cerna. Produksi bilirubin pada fetus dan
neonatus diduga sama besarnya tetapi kesanggupan hepar mengambil bilirubin
dari sirkulasi sangat terbatas. Demikian pula kesanggupannya untuk
mengkonjugasi.Dengan demikian hampir semua bilirubin pada janin dalam
bentuk bilirubin indirek dan mudah melalui plasenta ke sirkulasi ibu dan
diekskresi oleh hepar ibunya.Dalam keadaan fisiologis tanpa gejala pada
hampir semua neonatus dapat terjadi akumulasi bilirubin indirek sampai 2
mg%. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan fetus mengolah bilirubin
berlanjut pada masa neonatus.

Pada masa janin hal ini diselesaikan oleh hepar ibunya, tetapi pada masa
neonatus hal ini berakibat penumpukan bilirubin dan disertai gejala ikterus.
Pada bayi baru lahir karena fungsi hepar belum matang atau bila terdapat
ganggua n dalam fungsi hepar akibat hipoksia, asidosis atau bila terdapat
kekurangan enzim glukoronil transferase atau kekurangan glukosa, kadar
bilirubin indirek dalam darah dapat meninggi. Bilirubin indirek yang terikat
pada albumin sangat tergantung pada kadar albumin dalam serum. Pada bayi
kurang bulan biasanya kadar albuminnya rendah sehingga dapat dimengerti bila
kadar bilirubin indek yang bebas itu dapat meningkat dan sangat berbahaya
karena bilirubin indirek yang bebas inilah yang dapat melekat pada sel otak.
Inilah yang menjadi dasar pencegahan ‘kernicterus’ dengan pemberian albumin
atau plasma. Bila kadar bilirubin indirek mencapai 20 mg% pada umumnya
kapasitas maksimal pengikatan bilirubin oleh neonatus yang mempunyai kadar
albumin normal telah tercapai

Ikterus Fisiologis

Dalam keadaan normal, kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat adalah
sebesar 1-3 mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5
mg/dl/24 jam; dengan demikian ikterus baru terlihat pada hari ke 2-3, biasanya
mencapai puncaknya antara hari ke 2-4, dengan kadar 5-6 mg/dl untuk
selanjutnya menurun sampai kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl antara lain ke
5-7 kehidupan. Ikterus akibat perubahan ini dinamakan ikterus “fisiologis” dan
diduga sebagai akibat hancurnya sel darah merah janin yang disertai
pembatasan sementara pada konjugasi dan ekskresi bilirubin oleh hati.

Diantara bayi-bayi prematur, kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau


sedikit lebih lambat daripada pada bayi aterm, tetapi berlangsung lebih lama,
pada umumnya mengakibatkan kadar yang lebih tinggi, puncaknya dicapai
antara hari ke 4-7, pola yang akan diperlihatkan bergantung pada waktu yang
diperlukan oleh bayi preterm mencapai pematangan mekanisme metabolisme
ekskresi bilirubin. Kadar puncak sebesar 8-12 mg/dl tidak dicapai sebelum hari
ke 5-7 dan kadang-kadang ikterus ditemukan setelah hari ke-10.

Diagnosis ikterus fisiologik pada bayi aterm atau preterm, dapat


ditegakkan dengan menyingkirkan penyebab ikterus berdasarkan anamnesis
dan penemuan klinik dan laboratorium. Pada umumnya untuk menentukan
penyebab ikterus jika :

1. Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan Bilirubin serum meningkat


dengan kecepatan lebih besar dari 5 mg/dl/24 jam.
2. Kadar bilirubin serum lebih besar dari 12 mg/dl pada bayi aterm dan lebih
besar dari 14 mg/dl pada bayi preterm.
3. Ikterus persisten sampai melewati minggu pertama kehidupan,
4. Bilirubin direk lebih besar dari 1 mg/dl.

Ikterus Patologis

Ikterus patologis mungkin merupakan petunjuk penting untuk diagnosis


awal dari banyak penyakit neonatus. Ikterus patologis dalam 36 jam pertama
kehidupan biasanya disebabkan oleh kelebihan produksi bilirubin, karena
klirens bilirubin yang lambat jarang menyebabkan peningkatan konsentrasi
diatas 10 mg/dl pada umur ini. Jadi, ikterus neonatorum dini biasanya
disebabkan oleh penyakit hemolitik.

Ikterus patologik dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu:

a) Ikterus Prahepatik
Karena produksi bilirubin yang meningkat yang terjadi pada hemolisis sel darah
merah. Peningkatan pembentukan bilirubin dapat disebabkan oleh: Kelainan sel
darah merah. Infeksi seperti malaria, sepsis. Toksin yang berasal dari luar tubuh
seperti: obat – obatan, maupun yang berasal dari dalam tubuh seperti yang
terjadi pada reaksi transfusi dan eritroblastosis fetalis.

b) Ikterus Pascahepatik
Bendungan pada saluran empedu akan menyebabkan peninggian bilirubin
konjugasi yang larut dalam air. Akibatnya bilirubin mengalami akan mengalami
regurgitasi kembali kedalam sel hati dan terus memasuki peredaran darah,
masuk ke ginjal dan di eksresikan oleh ginjal sehingga ditemukan bilirubin
dalam urin. Sebaliknya karena ada bendungan pengeluaran bilirubin kedalam
saluran pencernaan berkurang sehingga tinja akan berwarna dempul karena
tidak mengandung sterkobilin.

c) Ikterus Hepatoseluler
Kerusakan sel hati menyebabkan konjugasi bilirubin terganggu sehingga
bilirubin direk akan meningkat dan juga menyebabkan bendungan di dalam hati
sehingga bilirubin darah akan mengadakan regurgitasi ke dalam sel hati yang
kemudian menyebabkan peninggian kadar bilirubin konjugasi di dalam aliran
darah. Kerusakan sel hati terjadi pada keadaan: hepatitis, sirosis hepatic, tumor,
bahan kimia, dll.

Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat
disebabkan oleh beberapa faktor.Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum
dapat dibagi :

1. Produksi yang berlebihan


Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya pada
hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas darah Rh, AB0, golongan
darah lain, defisiensi enzim G-6-PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan
sepsis.

2. Gangguan dalam proses “uptake” dan konjugasi hepar.


Gangguan ini dapat disebabkan oleh bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat
asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil
transferase (sindrom criggler-Najjar). Penyebab lain yaitu defisiensi protein.
Protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel
hepar

3. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar.Ikatan
bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat,
sulfafurazole.Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilir
ub in indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.

4. Gangguan dalam ekskresi


Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar
hepar.Kelainan diluar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi
dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain
Ikterus yang berhubungan dengan pemberian air susu ibu. Diperkirakan 1 dari
setiap 200 bayi aterm, yang menyusu, memperlihatkan peningkatan bilir ub in
tak terkonjugasi yang cukup berarti antara hari ke 4-7 kehidupan, mencapai
konsentrasi maksimal sebesar 10-27 mg/dl, selama minggu ke 3. Jika mereka
terus disusui, hiperbilirubinemia secara berangsur-angsur akan menurun dan
kemudian akan menetap selama 3-10 minggu dengan kadar yang lebih rendah.
Jika mereka dihentikan menyusu, kadar bilirubin serum akan menurun dengan
cepat, biasanya kadar normal dicapai dalam beberapa hari.

Penghentian menyusu selama 2-4 hari, bilirubin serum akan menurun


dengan cepat, setelah itu mereka dapat menyusu kembali, tanpa disertai
timbulnya kembali hiperbilirubinemia dengan kadar tinggi, seperti sebelumnya.
Bayi ini tidak memperlihatkan tanda kesakitan lain dan kernikterus tidak pernah
-pregnan-3bdilaporkan. Susu yang berasal dari beberapa ibu mengandung 5 -
diol dan asam lemak rantai panjang, tak-teresterifikasi, yang Ba, 2a secara
kompetitif menghambat aktivitas konjugasi glukoronil transferase, pada kira-
kira 70% bayi yang disusuinya. Pada ibu lainnya, susu yang mereka hasilkan
mengandung lipase yang mungkin bertanggung jawab atas terjadinya ikterus.
Sindroma ini harus dibedakan dari hubungan yang sering diakui, tetapi kurang
didokumentasika n, antara hiperbilirubinemia tak-terkonjugasi, yang diperberat
yang terdapat dalam minggu pertama kehidupan dan menyusu pada ibu.

Patofisiologi

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan.


Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban
bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila
terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia,memendeknyaumur
eritrosit janin/bayi, meningkatnyabilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya
peningkatan sirkulasi enterohepatik. Gangguan ambilan bilirubin plasma juga
dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi
apabila kadar protein Y berkurang atau pada keadaan proten Y dan protein Z
terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan
anoksia/hipoksia. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin
adalah apabila ditemuka n gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukoranil
transferase) atau bayi yang menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita
hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatik.

Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini
memungkinkan terjadinya.

efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar
darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau
ensefalopati biliaris. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada susunan saraf
pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20
mg/dl. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya
tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan
neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar daerah otak apabila
pada bayi terdapat keadaan imaturitas, berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia,
hipoglikemia, dan kelainan susunan saraf pusat yang terjadi karena trauma atau
infeksi.

Manifestasi Klinis

Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dengan cahaya sinar


matahari. Bayi baru lahir (BBL) tampak kuning apabila kadar bilirubin
serumnya kira-kira 6 mg/dl atau 100 mikro mol/L (1 mg mg/dl = 17,1 mikro
mol/L). salah satu cara pemeriksaan derajat kuning pada BBL secara klinis,
sederhana dan mudah adalah dengan penilaian menurut Kramer (1969).
Caranya dengan jari telunjuk ditekankan pada tempat- tempat yang tulangnya
menonjol seperti tulang hidung, dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan
akan tampak pucat atau kuning. Penilaian kadar bilirubin pada masing- masing
tempat tersebut disesuaikan dengan tabel yang telah diperkirakan kadar
bilirubinnya.

Penyebab bayi tampak kuning

Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling


sering ditemukan pada bayi baru lahir.Bayi dengan hiperbilirubinemia tampak
kuning akibat akumulasi pigmen bilirubin yang berwarna kuning pada sklera
dan kulit.

Pada janin ekskresi bilirubin dari darah dilakukan oleh plasenta, tapi
setelah lahir diambil alih oleh hati.Hati bekerja keras untuk mengeluarkan
bilirub in, walaupun begitu jumlah bilirubin yang tersisa masih menumpuk
dalam tubuh. Oleh karena jumlah bilirubin berwarna kuning maka jumlah
bilirubin yang berlebihan dapat memberi warna pada kulit, sklera, dan jaringan
tubuh yang lain.

Hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar


bilirubin dalam darah >5 mg/dl yang secara klinis ditandai oleh adanya ikter us
dengan faktor penyebab fisiologik dan non fisiologik.

Ikterus fisiologis berlangsung (> 24 jam) 3-5 hari, menurun serta


menghilang pada hari ke 7. Sedangkan ikterus non fisiologis/patologis
berlangsung 24 jam pertama setelah kelahiran.

Faktor yang menyebabkan hiperbilirubinemia:

1. Peningkatan produksi bilirubin


- peningkatan jumlah sel darah merah
- penurunan umur sel darah merah
- peningkatan early bilirubin
- peningkatan aktivitas β-glukoronidase
2. Peningkatan resirkulasi melalui entero-hepatic shunt
- tidak adanya flora bakteri
- pengeluaran mekonium yang terlambat
- defisiensi protein karier
- penurunan aktifitas UDPGT
3. penurunan klirens bilirubin
- penurunan klirens dari plasma
- penurunan metabolisme hati
Hiperbilirubinemia yang menyebabkan bayi tampak kuning bergantung pada :

1. kadar bilirubin bebas dalam darah


2. lamanya peninggian kadar bilirubin dalam darah
3. afinitas jaringan: jaringan lemak lebih tinggi afinitasnya terhadap bilir ub in
bebas karena bilirubin bebas larut dalam lemak
4. permebilitas jaringan terhadap bilirubin
Jadi kesimpulannya bayi tampak kuning pada wajah dan dadanya diakibatkan
oleh karena peninggian bilirubin bebas yang lama dan juga karena bilirubin
bebas afinitasnya terhadap jaringan lemak tinggi, dan jaringan lemak yang
tinggi biasa terdapat pada wajah dan dada.

Sumber :

1. prawirohardjo, Sarwono. 2016. Ilmu Kebidanan. Edisi Keempat. Jakarta


: P.T. Bina Pustaka
2. Sudigdo dkk. 2004. Tatalaksana Ikterus Neonatorum. Jakarta: HTA
Indonesia
3. Mansjoer, A dkk. 2016. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI
4. American Academy of Pediatrics. 2004. Clinical Practice Guideline.
Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of
gestation. Pediatrics 114:297-316.
7. Bagaimanakan hubungan antara bayi yang sering dibedong dgn
perkembangan motorik kasar pada anak ?
Jawaban :
Perkembangan motorik pada bayi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah budaya. Budaya di Indonesia yang masih berkembang sampai saat
ini adalah pemberian bedong pada bayi. Selama ini bedong sudah menjadi tradisi
di masyarakat kita, khususnya di Jawa. Bedong sudah diberikan sejak bayi baru
lahir. Saat masih janin, gerak nafas dominan berada didaerah perut dan setelah
lahir gerak nafas dominan masih di perut. Lama–kelamaan gerak nafas dominan
akan berada di rongga dada. Pemakaian bedong apalagi yang terlalu ketat akan
membuat bayi tidak nyaman dalam bernafas.
Pemakaian bedong juga bisa menyebabkan peredaran darah terganggu
karena kerja jantung dalam memompa darah menjadi lebih berat, sehingga bayi
sering merasa sakit disekitar paru atau jalan nafas. Akibat penekanan pada tubuh,
bedong juga dapat menghambat perkembangan motorik karena tangan dan kaki
bayi tidak mendapat kesempatan untuk bergerak bebas pemberian bedong tidak
ada hubungannya dengan pembentukan kaki. Sejak didalam kandungan, tidak ada
ruangan cukup untuk bayi meluruskan kaki. Bentuk kaki bayi pada saat
dikandungan dalam posisi tertekuk dan pada saat lahir, namun seiring dengan
waktu petumbuhan dan perkembangannya akan menyesuaikan menjadi lurus.

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2011). Kumpulan Tips Pediatrik.
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia

8. Bagaimanakah langkah-langkah penilaian dan pemeriksaan penunjang


dalam menilai perkembangan dan pertumbuhan pada anak pada skenario !

Jawaban :

Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk.


menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan
anak prasekolah.

ANAMNESIS :
1. Nama orang tua :-
2. Nama anak : Baso
3. Umur anak :14 bulan,
4. Tanggal Lahir : 20 Januari 2018
5. Agama :-
6. Alamat :-
7. Bangsa Suku :-
8. Tanggal ke puskesmas : 1 April 2019
9. Keluhan utama : Datang untuk melanjutkan imunisasi
10. Riwayat kelahiran : lahir dengan usia gestasi 32 minggu dan segera
menangis, dalam perawatan Baso mengalami kuning pada hari ke-4, BBL
1800 gr, PB 43 cm dan LK 28 cm.
11. Riwayat penyakit sebelumnya :-
12. Riwayat penyakit keluarga :-
PEMERIKSAAN FISIS
Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga
kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:
a. Deteksi dini gangguan pertumbuhan, yaitu menentukan status gizi anak
apakah gemuk, normal, kurus dan sangat kurus, pendek, atau sangat pendek,
makrosefali atau mikrosefali.
b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui
gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat,
gangguan daya dengar.
c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui
adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas.
Untuk pemantauan pertumbuhan dengan menggunakan berat badan menurut
umur dilaksanakan secara rutin di posyandu setiap bulan. Apabila ditemukan anak
dengan berat badan tidak naik dua kali berturut-turut atau anak dengan berat
badan di bawah garis merah, kader merujuk ke petugas kesehatan untuk dilakukan
konfirmasi dengan menggunakan indikator berat badan menurut panjang
badan/tinggi badan. Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal
deteksi dini tumbuh kembang balita. Pengukuran dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan atau non kesehatan terlatih. Untuk penilaian BB/TB hanya dilakukan
oleh tenaga kesehatan.
A. Penimbangan Berat Badan (BB):
a. Menggunakan timbangan bayi.
1) Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun
atau selama anak masih bisa berbaring/duduk tenang.
2) Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang.
3) Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0.
4) Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaus kaki, sarung tangan.
5) Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan.
6) Lihat jarum timbangan sampai berhenti.
7) Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan.
8) Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengahtengah antara gerakan jarum ke kanan dan kekiri.
b. Menggunakan timbangan dacin
1) Pastikan dacin masih layak digunakan, perikasa dan letakkan banul geser
pada angka nol. Jika ujung kedua paku dacin tidak dalam posisi lurus, maka
timbangan tidak layak digunakan dan harus dikalibrasi.
2) Masukan Balita ke dalam sarung timbang dengan pakaian seminimal
mungkin dan geser bandul sampai jarum tegak lurus.
3) Baca berat badan Balita dengan melihat angka di ujung bandul geser.
4) Catat hasil penimbangan dengan benar
5) Kembalikan bandul ke angka nol dan keluarkan Balita dari sarung timbang.

Di dapatkan berat badan anak : 6900 gram

B. Pengukuran Panjang Badan (PB) atau Tinggi Badan (TB):

a. Pengukuran Panjang Badan untuk anak 0 - 24 bulan

Cara mengukur dengan posisi berbaring:

1) Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang.


2) Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar.
3) Kepala bayi menempel pada pembatas angka
4) Petugas 1 : kedua tangan memegang kepala bayi agar tetap menempel pada
pembatas angka 0 (pembatas kepala).
5) Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus, tangan kanan
menekan batas kaki ke telapak kaki.
6) Petugas 2 membaca angka di tepi diluar pengukur.
7) Jika Anak umur 0 - 24 bulan diukur berdiri, maka hasil pengukurannya
dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm.

Dari hasil pengukuran didapatkan panjang badan : 75 cm

Gambar 1

C. Pengukuran Tinggi Badan untuk anak 24 - 72 Bulan


a. Cara mengukur dengan posisi berdiri:
1) Anak tidak memakai sandal atau sepatu.
2) Berdiri tegak menghadap kedepan.
3) Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur.
4) Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun.
5) Baca angka pada batas tersebut.
6) Jika anak umur diatas 24 bulan diukur telentang, maka hasil pengukurannya
dikoreksi dengan mengurangkan 0,7 cm.
Gambar 2

b. Penggunaan Tabel BB/TB (Kepmenkes No: 1195/Menkes/SK/XII/2010):


1) Ukur tinggi/panjang dan timbang berat badan anak, sesuai cara di atas.
2) Lihat kolom Tinggi/Panjang Badan anak yang sesuai dengan
hasilpengukuran.
3) Pilih kolom Berat Badan untuk laki-laki (kiri) atau perempuan (kanan)
sesuai jenis kelamin anak, cari angka berat badan yang terdekat dengan
berat badan anak.
4) Dari angka berat badan tersebut, lihat bagian atas kolom untuk mengetahui
angka Standar Deviasi (SD).
c. Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA)
Tujuan untuk mengetahui lingkaran kepala anak dalam batas normal atau diluar
batas normal.
a) Jadwal pengukuran disesuaikan dengan umur anak. Umur 0 - 11 bulan,
pengukuran dilakukan setiap tiga bulan. Pada anak yang lebih besar, umur
12 – 72 bulan, pengukuran dilakukan setiap enam bulan. Pengukuran dan
penilaian lingkar kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

Cara mengukur lingkaran kepala:

1) Alat pengukur dilingkaran pada kepala anak melewati dahi, diatas alis mata,
diatas kedua telinga, dan bagian belakang kepala yang menonjol, tarik agak
kencang.
2) Baca angka pda pertemuan dengan angka.
3) Tanyakan tanggal lahir bayi/anak, hitung umur bayi/anak.
4) Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkaran kepala menurut umur dan
jenis kelamin anak.
5) Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran
sekarang.

Gambar 3

Hasil pemeriksaan didapatkan lingkar kepala : 42 cm

Interpretasi;

a. Jika ukuran lingkaran kepala anak berada di dalam “jalur hijau” maka
lingkaran kepala anak normal.
b. Bila ukuran lingkaran kepala anak berada di luar “jalur hijau” maka
lngkaran kepala anak tidak normal.
c. Lingkaran kepala anak tidak normal ada 2 (dua) yaitu makrosefal bila
berada diatas “jalur hijau” dan mikrosefal bila berada dibawah “jalur hijau”

Intervensi:

Bila ditemukan makrosefal maupun mikrosefal segera dirujuk ke rumah sakit.


KUESIONER PRA SKRINING PERKEMBANGAN (KPSP) PADA ANAK UMUR
12-15 BULAN
Alat dan bahan yang dibutuhkan:
- Kubus
- Kismis
TAHAPAN PERKEMBANGAN DAN STIMULASI UMUR 12 - 18 BULAN

GERAK KASAR

TAHAPAN PERKEMBANGAN
- Mengangkat badannya pada posisi berdiri

- Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan pada kursi/meja

- Dapat berjalan dengan dituntun

STIMULASI

Stimulasi yang perlu dilanjutkan:

- Merangkak

- Berdiri

- Berjalan sambil berpegangan

- Berjalan dengan bantuan

GERAK HALUS

TAHAPAN PERKEMBANGAN

• Memasukkan benda ke mulut

• Menggenggam erat pensil

STIMULASI PERKEMBANGAN

1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan:

• Memasukkan benda ke dalam wadah

• Bermain dengan mainan yang mengapung di air

2. Menyusun balok/kotak.

Ajari bayi menyusun beberapa balok/kotak besar. Balok/kotak dapat dibuat dari
karton atau potongan-potongan kayu bekas. Benda lain yang bisa dipakai
adalah beberapa kaleng kecil (kosong) atau mainan anak berbentuk
kubus/balok.

3. Menggambar

Letakkan krayon /pensil berwarna d an kertas di meja. Ajak bayi "menggambar"


dengan krayon atau pinsil warna. Kegiatan menggambar ini dapat
dilakukan bersamaan dengan anda mengerjakan tugas rumah tangga.

4. Bermain di dapur.

Biarkan bayi bermain di dapur ketika anda sedang memasak. Pilih lokasi yang
jauh dari kompor dan letakkan sebuah kotak tempat menyimpan mainan
alat memasak dari plastik atau benda-benda yang ada di dapur seperti
gelas, mangkuk, sendok, tutup gelas dari plastik.

BICARA BAHASA

TAHAPAN PERKEMBANGAN

• Mengulang/menirukan bunyi yang didengar

• Menyebut 2 - 3 suku kata yang sama tanpa arti

• Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan

STIMULASI

1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan:

a. Berbicara

b. Menjawab pertanyaan

c. Menyebutkan nama, gambar-gambar di buku/majalah

2. Menirukan kata-kata
Setiap hari bicara kepada bayi. Sebutkan kata-kata yang telah diketahui artinya,
seperti: minum susu,mandi, tidur, kue, makan, kucing dll. Buat agar bayi
mau menirukan kata-kata tersebut. Bila bayi mau mengatakan, puji ia,
kemudian sebutkan kata itu lagi dan buat agar ia mau mengulanginya.

3. Berbicara dengan boneka

Beli sebuah boneka atau buat boneka mainan dari sarung tangan atau kaos kaki
yang digambari dengan pena menyerupai bentuk wajah. Berpura-pura
bahwa boneka itu yang berbicara kepada bayi dan buat agar bayi mau
berbicara kembali dengan boneka itu.

4. Bersenandung dan bernyanyi

Nyanyikan lagu dan bacakan syair anak kepada bayi sesering mungkin.

SOSIALISASI KEMANDIRIAN

TAHAPAN PERKEMBANGAN

1. Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan

2. Senang diajak bermain CILUK BA

3. Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal

4. Mengeksporasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja.

STIMULASI

1. Ajari bayi untuk mengambil sendiri mainan yang letaknya agak jauh
dengan cara meraih, menarik ataupun mendorong badannya supaya dekat
dengan mainan tersebut. Letakkan mainan yang bertali agak jauh, ajari
bayi cara menarik tali untuk mendapatkan mainan tersebut. Simpan
mainan bertali tersebut jika anada tidak dapat mengawasi bayi.
2. Pegang saputangan/kain atau kertas untuk menutupi wajah anda dari
pandangan bayi, kemudian singkirkan penutup wajah dari hadapan bayi
dan katakan " CILUK BA" ketika bayi dapat melihat wajah anda kembali
3. Ajak bayi bermain dengan orang lain dan ketika anggota keluarga lain
pergi, lambaikan tangan ke bayi sambil berkata "da….daaag", bantu bayi
membalas lambaian
4. Permainan "bersosialisasi" dengan lingkungan

Dari hasil pemeriksaan perkembangan :

1. Pemeriksaan gerak kasar : anak dapat duduk mandiri, merangkak, dan


belum bisa berdiri dengan pegangan
2. Bicara Bahasa : memanggil papa mama spesifik, menoleh kesumber suara.
3. Gerak halus : sudag bisa memasukkan benda ke wadah

PEMERIKSAAN PENUNJANG :

Berikut beberapa tes yang mungkin perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis
keterlambatan tumbuh kembang anak Anda:

– Tes pendengaran

– Tes kemampuan bicara dan bahasa

– Tes penglihatan

– Tes darah

– Tes genetik

– Tes kromosom

– MRI scan untuk mencari kelainan pada sistem saraf dan otak

– Tes neurologis seperti elektro encephalogram (EEG), yang merekam aktivitas


gelombang otak listrik
Sumber :

Kementrian kesehatan RI. 2016. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan


Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar :
Bakti Husada
9. Bagaimana tatalaksana dari skenario tersebut ?

Jawaban :

Untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan terutama otak yang


optimal,anak-anak perlu:

 Mendapat ASI Eksklusif yang cukup : ASI Eksklusif adalah pemberian


hanya ASI saja kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 bulan tanpa diberikan
makanan dan minuman lain, kecuali obat, vitamin dan mineral. Menurut
Lancet (2010) yang dikutip oleh Depkes RI (2013), pemberian ASI

Eksklusif dapat menurunkan angka kematian bayi sebesar 13% dan dapat
menurunkan prevalensi balita pendek.

 Makanan yang bergizi : Gizi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap proses pertumbuhan anak. Sebelum lahir, anak tergantung pada zat
gizi yang terdapat dalam darah ibu. Setelah lahir, anak tergantung pada
tersedianya bahan makanan dan kemampuan saluran cerna. Hasil penelitian
tentang pertumbuhan anak Indonesia menunjukkan bahwa kegagalan
pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia 6-18 bulan. Penyebab gagal
tumbuh tersebut adalah keadaan gizi ibu selama hamil, pola makan bayi
yang salah, dan penyakit infeksi.
 Kebersihan Anak
 Kebersihan Lingkungan : Hindari dari polusi rokok, Kebrsihan Bak Mandi,
dan usahakan Anak tidur pake kelambu terutama daerah endemik malaria
 Imunisasi sesuai yang dianjurkan
 Diawasi hati-hati jangan sampai jatuh, kejedug, tenggelam, dan sejenisnya
 Penggunaan obat bila sakit harus seijin dokter
 Hindari Dehidrasi Pada anak

 Jika sakit tidak membaik > 2 hari segera bawa ke RS untuk mencegah
penyakit yang berat seperti meningitis
 Pantau terus lingkar kepala anak (2 cm tiap 3 bulan pertama, 1 cm tiap 3
bulan kedua, dan 0,5 cm tiap 6 bulan berikutnya)
 Komunikasi dan kehangatan interaksi anak orang tua harus dipelihara
 Pengasuh anak sebaiknya sehat dan terlatih jika anak terpaksa diasuh orang
lain karena ibu bekerja

Sumber :
1. Dr. Kartika Ratna Pertiwi, Pencegahan Dan Penanggulangan Anak
Dengankelainan Tumbuh Kembang, Universitas Negeri Yogyakarta,
Yogyakarta, Halaman 1-6
2. Buku KIA ( Kesehatan Ibu Anak ) Tahun 2016 Katalog Dalam Terbitan.
Kementerian Kesehatan RI Indonesia. dan JICA (Japan International
Cooperation Agency),