Anda di halaman 1dari 28

Critical Journal Report

MANAJEMEN KURIKULUM DI SMP


(SEKOLAH MENENGAH PERTAMA)

Disusun Oleh:
Ismanisa
8186141003
Pendidikan Kimia A 2018

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2019
JURNAL 1

Identitas Jurnal
Judul Jurnal : The Study on Adaptive Curriculum Modification of Inclusive Elementary and
Junior High School in Banjarmasin, Indonesia
Jurnal : Journal of Education and Practice
Volume : Volume 9, Nomor 21
Halaman : 21-27 halaman
Tahun : 2018
Penulis : Amka

1. Ringkasan Artikel
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kurikulum pendidikan inklusi dari beragam
aspek berdasarkan beragam kebutuhan peserta didik. Kurikulum merupakan elemen penting
dalam sistem pendidikan. Kurikulum sebagai acuan dalam melaksanakan pendidikan perlu
dikonsep secara hati-hati dengan memperhatikan pencapaian tujuan pendidikan, produktivitas,
efisiensi, dan fleksibilitas. Prinsip kurikulum penting dilakukan agar kurikulum selalu sesuai
dengan kebutuhan orang-orang yang berkepentingan dengan pendidikan. Prinsip fleksibilitas
dalam pengembangan kurikulum sangat sesuai dengan kebutuhan modifikasi kurikulum
dalam pendidikan inklusif. Itu karena siswa dari program inklusi memiliki variasi yang sangat
banyak, sesuai dengan kebutuhan khusus setiap pelajar.
Sekolah inklusi adalah sekolah yang telah menerapkan pembelajaran bersama antara
anak-anak dengan kebutuhan khusus dan usia anak secara umum untuk sekolah regular. Ini
menjadi model baru dalam konsep pendidikan. Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan
pendidikan inklusif dan telah memasukkan sekolah inklusi ke dalam peraturan, seperti
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-
Undang Menteri Nasional Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, dan Undang-
Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan UU No. 2016 tentang Penyandang
Disabilitas.
Dengan pendidikan inklusif, ini memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua
pelajar yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi
kecerdasan dan / atau bakat khusus untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Dengan demikian, tidak ada diskriminasi
terhadap siswa yang termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Anak-anak dengan autis,
hiperaktif, down syndrome atau kebutuhan lain dapat belajar bersama ke dalam kelas reguler
di setiap tingkat pendidikan. Dalam memberikan layanan pendidikan, institusi pendidikan
dilarang melihat latar belakang peserta didik baik dari segi kemampuan akademik atau
intelektual, kelemahan fisik, mentalitas atau emosi sebagai syarat masuk sekolah.
Masalah utama yang terjadi dalam manajemen sekolah inklusif adalah aspek kurikulum
yang tidak mencapai konsep pemenuhan kebutuhan varian setiap pembelajar yang
membutuhkan bantuan khusus. Maka solusinya adalah menyesuaikan kurikulum sesuai
dengan kebutuhan para pembelajar, tetapi ini tidak mudah dilakukan dalam program sekolah
inklusif karena terbatasnya pengetahuan, pendidikan, pelatihan, dan wawasan pendidik.
Dalam pembelajaran inklusif kelas reguler, kurikulum peserta didik dengan kebutuhan khusus
penting untuk mempertimbangkan beberapa prinsip, terutama pada standar kompetensi
lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator pembelajaran yang sukses.
Berdasarkan analisis problematik kurikulum pendidikan inklusif, penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dan mendiskusikan konsep kurikulum pendidikan inklusif dan untuk
menemukan konsep pengembangan kurikulum adaptif di sekolah inklusif. Penelitian ini
dilakukan di sekolah manapun menggunakan pendidikan inklusif di Banjarmasin, Kalimantan
Selatan.

2. Keunggulan
a. Kesatuan antar elemen/variabel
Dari pembahasan disetiap elemen/bagian memiliki keterkaitan hirarki yang terkait antara
komponen satu dengan lainnya, keterkaitan ini terlihat dari segi penjelasannya yang
menyeluruh yang didalamnya terkandung tentang kurikulum Sekolah inklusi yang
dimodifikasi bagi anak berkebutuhan khusus dan dan usia anak secara umum untuk sekolah
reguler melalui program pendidikan formal di Sekolah, yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua pelajar yang berkebutuhan
khusus untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan mereka.
Sistematika penyusunan kajian jurnal ini dapat dikatakan sudah baik dan sudah sesuai
dengan penulisan standar jurnal yang tepat seperti adanya pendahuluan, literature review,
metodelogi penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, serta referensi. Jurnal ini juga
memberikan penjelasan mengenai teori-teori secara terpisah tentang kurikulum pendidikan
khusus, kosep kurikulum pendidikan inklusi, serta pengembangan kurikulum adaptif di
pendidikan inklusi.
b. Originalitas temuan
Setiap teori dan konsep yang dipakai dalam penelitian menjelaskan bahwa ide dan
gagasan para peneliti yang begitu cemerlang juga mengadopsi pemikiran maju mengenai
memodifikasi kurikulum di Sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat
memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka
sehingga tidak diragukan lagi tentang keorisinilan temuannya. Pada jurnal ini juga terlampir
data-data yang akurat sehingga keoriginalitas penelitian bisa dikatakan baik dan mencukupi
standar untuk melakukan penelitian serta penelitian yang ditulis kedalam jurnal juga
dilengkapai dengan pendapat para ahli yang mendukung kegiatan penelitian tersebut.
c. Kemutakhiran
Jurnal ini diterbitkan pada tahun 2018 sehingga masih sangat mutakhir baik dari segi
materi maupun dari segi pembahasan karena menjelaskan tentang sekolah inklusi. Kita tahu
bahwa di Indonesia masih sedikit terdapat adanya sekolah inklusi ini, jadi penelitian ini sangat
menarik untuk dibaca. Serta informasi yang ada dalam jurnal masih sangat terbaru atau
berdasarkan penelitian-penelitian terbaru dan desain nya juga yang cukup bagus dan menarik.

3. Kelemahan
 Pada abstrak tidak dijelaskan latarbelakang kenapa dilakukan penelitian tersebut, tetapi
langsung ke tujuan penelitiannya. Serta pada abstrak juga tidak ada penjelasan mengenai
hasil penelitian, tetapi langsung ke kesimpulan.
 Jurnal ini terbit tahun 2018 tapi sumber referensi yang digunakan pada penelitian ini
masih banyak menggunakan referensi lebih dari 5 tahun terakhir, sehingga untuk peneliti
selanjutnya diperlukan sumber referensi yang terbarukan mengenai pendidikan inklusi.
 Berdasarkan hasil penelitian menjelaskan bahwa tidak ada sekolah inklusif dari sekolah
dasar dan sekolah menengah pertama yang ada di Banjarmasin yang mengembangkan
kurikulum adaptif dengan tingkat pencapaian yang adil, baik, dan sangat baik untuk anak
berkebutuhan khusus.
 Pembahasan pada jurnal ini hanya di bantu dengan tabel dan tidak ada gambar yang
menggambarkan hasil penelitian sehingga pembaca lebih sulit untuk dapat memahami isi
jurnalnya dengan cepat.
 Pada jurnal ini juga menjelaskan bahwa guru belum mampu mengembangkan kurikulum
adaptif yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi anak-anak dengan kebutuhan khusus
yang mengalami hambatan intelektual.
 Pada jurnal juga menjelaskan bahwa peran pemerintah daerah tidak bekerja secara
optimal dan belum mengembangkan kapasitas guru di sekolah inklusif SD dan SMP, dan
tidak dilakukan tindak lanjutnya.

4. Implikasi
a. Teori
Dari segi teori yang ada pada jurnal ini membahas mengenai teori dan konsep tentang
kurikulum pendidikan khususnya pendidikan di sekolah inklusi. Jurnal ini juga menjelaskan
teori yang sangat lengkap tentang pengembangan kurikulum adaptif pada pendidikan inklusif.
Sehingga jurnal ini sudah dapat digunakan sebagai sumber rujukan atau pendukung materi
bagi mahasiswa yang hendak mempelajari manajemen kurikulum di sekolah. Jurnal ini
sangat bagus karena jarang sekali orang melakukan penelitian mengenai kurikulum di sekolah
inklusi, sekolah di mana terdapat anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya jurnal ini,
diharapkan sekolah inklusi dapat melakukan modifikasi kurikulum yang sesuai dengan anak
berkebutuhan khusus supaya meraka bisa memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.
b. Terhadap program pengembangan
Program pengembangan dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kesejahteraan
terutama bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan akan membawa perubahan sikap, perilaku,
nilai-nilai pada individu, kelompok dan masyarakat. Perubahan tersebut mengantarkan orang
untuk terbuka terhadap kebutuhan-kebutuhan yang semakin bervariasi, dan memberi jalan
kearah pemenuhannya. Itulah seringkali para ahli mengatakan, bahwa pendidikan
mencetuskan harapan, oleh karena harapan itu terletak pada pendidikan. Begiru juga
pendidikan di Sekolah inklusi. Sekolah inklusi adalah sekolah yang telah menerapkan
pembelajaran bersama antara anak-anak dengan kebutuhan khusus dan usia anak secara
umum untuk sekolah regular. Manajemen kurikulum sekolah inklusif adalah aspek kurikulum
yang tidak mencapai konsep pemenuhan kebutuhan varian setiap pembelajar yang
membutuhkan bantuan khusus. Maka solusinya adalah menyesuaikan kurikulum sesuai
dengan kebutuhan para pembelajar, tetapi ini tidak mudah dilakukan dalam program sekolah
inklusif karena terbatasnya pengetahuan, pendidikan, pelatihan, dan wawasan pendidik. Maka
setiap sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif, baik di tingkat Sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah Pertama membutuhkan adaptasi seperti kurikulum duplikasi, modifikasi
kurikulum, bahan kurikulum, dan pengurangan kurikulum yang perlu dilaksanakan oleh para
guru di Indonesia.
5. Pembahasan dan analisis
Berdasarkan hasil penenlitian menjelaskan bahwa tidak ada sekolah inklusif dari sekolah
dasar dan sekolah menengah pertama yang ada di Banjarmasin yang mengembangkan
kurikulum adaptif dengan tingkat pencapaian yang adil, baik, dan sangat baik. Hal ini
menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan intelektual belum
menerima layanan pendidikan sesuai dengan potensi dan kebutuhan yang harus
dikembangkan. Selain itu, layanan pendidikan antara anak-anak dengan penghalang
intelektual dan anak-anak tanpa penghalang intelektual disajikan dengan kurikulum yang
sama. Dengan demikian, ini menggambarkan bahwa sekolah inklusif masih merupakan
sekolah atau integrasi versi terpisah. Semua ini dikarenakan peran pemerintah daerah tidak
bekerja secara optimal dan belum mengembangkan kapasitas guru di sekolah inklusif SD dan
SMP. Pelaksanaan pendidikan inklusif untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus harus
diperkuat untuk mewujudkan pendidikan bagi semua. Tujuan pendidikan inklusif adalah
menerima perbedaan karena pendidikan yang benar adalah hak untuk semua anak bangsa.
Jurnal ini sangat bagus dari segi pembahasan dan analisisnya karena pada jurnal ini sudah
sangat jelas dalam menyajikan materi mengenai manajemen kurikulum di sekolah inklusi
sehingga dapat membantu pembaca, sebagai mahasiswa dengan jurnal ini pembaca khususnya
kepala sekolah dan guru dituntut untuk lebih mengetahui dan mampu dalam memodifikasi
kurikulum yang sesuai dengan anak berkebutuhan khusus supaya meraka bisa memperoleh
pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka dan
menunjukkan kualitas pendidikan yang akan memiliki peran strategis dalam pendidikan di
Sekolah.

6. Kesimpulan
Konsep kurikulum pendidikan inklusif perlu diformulasikan secara konseptual dengan
memberikan lebih banyak kesempatan bagi guru untuk menyesuaikan kurikulum dalam
pembelajaran terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ini perlu dilakukan agar mereka
dapat memberikan materi instruksi sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan berbagai
kebutuhan. Kurikulum pendidikan inklusif diarahkan untuk mencapai standar kompetensi
lulusan yang telah disesuaikan dengan berbagai kebutuhan peserta didik.
JURNAL 2
Identitas Jurnal
Judul Jurnal : A Model of Education District Curriculum Management: Indonesia Case
Jurnal : International Journal of Current Advanced Research
Volume : Volume 6; Issue 8
Halaman : 5176-5183 halaman
Tahun : 2017
Penulis : Dinn Wahyudin

1. Ringkasan Artikel
Dalam konteks desentralisasi pendidikan di Indonesia, ada perbedaan antara kebijakan
manajemen kurikulum pendidikan tingkat kabupaten dan implementasi kurikulum tingkat
Desentralisasi adalah salah satu fenomena paling penting yang telah mempengaruhi
perencanaan pendidikan dalam 15 tahun terakhir di sekolah. Di Indonesia, pemerintah daerah
di tingkat kabupaten memiliki kewenangan untuk mengelola program pendidikan. Beberapa
tanggung jawabnya adalah untuk (1) mempersiapkan dan menetapkan pedoman manajemen di
taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah dan kejuruan di bawah pedoman yang
ditetapkan oleh pemerintah pusat, (2) membangun kurikulum lokal, sekolah menengah dan
sekolah kejuruan di bawah kurikulum nasional yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, (3)
menerapkan kurikulum nasional berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah, (4)
mengembangkan standar kompetensi di taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah
dan sekolah kejuruan berdasarkan kompetensi minimal yang ditetapkan oleh pemerintah
pusat, (5) pemantauan, mengontrol, dan menilai pelaksanaan pembelajaran dan manajemen
sekolah, dan (6) menetapkan pedoman penilaian hasil belajar.
Manajemen kurikulum di era otonomi menuntut lebih perlu berorientasi. Ini dilakukan
melalui analisis lingkungan eksternal dan internal. Dengan demikian, perencanaan dan
pelaksanaan manajemen kurikulum kabupaten dapat menghasilkan perubahan strategis dari
implementasi kurikulum di lingkungan sekolah. Dalam dimensi pengembangan kurikulum,
manajemen kurikulum menghormati distribusi dan ketersediaan dokumen kurikulum di
sekolah, penyebaran ide dan dokumen, memberikan bantuan profesional kepada kepala
sekolah, perencanaan sekolah dalam pelaksanaan, kualifikasi dan beban kerja guru, fasilitas
guru, pemantauan proses, dan tindak program. Manajemen sebagian besar berfokus dalam
menentukan keberhasilan tujuan kurikulum.
Kurikulum adalah produk yang dihasilkan oleh zaman peradaban dalam ukuran dimensi
waktu. Oleh karena itu, kurikulum yang dikembangkan akan sangat diwarnai oleh berbagai
faktor yang terjadi di masyarakat, baik faktor sosial dan budaya, ekonomi, politik, serta
dimensi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep pengembangan kurikulum dalam
arti sempit mencakup tiga fase, yaitu: pembangunan kurikulum (konstruksi kurikulum),
pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum); dan evaluasi kurikulum (evaluasi
kurikulum).
Kurikulum dengan pembalajaran harus dilakukan secara seimbang. Pertama, kurikulum
bersandar pada tujuan atau sasaran kurikulum yang ingin dicapai. Kedua, kurikulum yang
didasarkan pada sudut pandang berdasarkan konteks kurikulum yang digunakan. Ketiga,
kurikulum didasarkan pada titik-titik strategis pada pengembangan kurikulum yang dipilih.
Kurikulum sebagai pembelajaran individual dan kurikulum sebagai instruksi yang
diprogramkan adalah spesifikasi nyata dari sistem di mana peserta didik mengalami konten
kurikuler melalui proses pengajaran. Pada pemahaman ini, para ahli kurikulum mengacu pada
kurikulum sebagai suatu proses.
Manajemen kurikulum dapat diamati sebagai proses sistem yang berkelanjutan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Dalam dimensi manajemen kurikulum, perbedaan antara
kebijakan manajemen kurikulum tingkat kabupaten dan implementasi kurikulum tingkat
sekolah kemungkinan akan mengarah pada distorsi potensial dalam kebijakan kurikulum yang
disetujui di tingkat kabupaten dan implementasi kurikulum tingkat sekolah. Penelitian ini
membahas pengembangan model manajemen kurikulum di tingkat kabupaten untuk
meningkatkan akuntabilitas antara staf pendidikan kabupaten dan pemangku kepentingan
sekolah.
Dalam kepemimpinan dan kepala sekolah terdapat hubungan yang kuat antara dampak
kepemimpinan dan prestasi siswa. Kepala sekolah adalah kunci dalam hal mutu kurikulum
tetapi juga termasuk lingkungan sekolah secara keseluruhan dan mekanisme dukungan di
sekolah. Kepala sekolah dapat mengambil peran sebagai pemimpin dan manajer serta
pemimpin kurikulum. Untuk terus mencapai tujuan dan sasaran pendidikan dari misi, visi,
peningkatan berkelanjutan dan sasaran rencana peningkatan sekolah nasional dan lokal, perlu
untuk menciptakan kurikulum yang selaras yang mempromosikan kesuksesan untuk semua
siswa. Singkatnya, keselarasan kurikulum adalah koordinasi dari apa yang ditulis, diajarkan,
dan dinilai. Prinsip-prinsip penyelarasan kurikulum harus tercermin dalam panduan
kurikulum, sumber daya instruksional, pengembangan staf, praktik pembelajaran, penilaian
siswa, fasilitas, dan penganggaran. Ketika kurikulum selaras, ada kesesuaian baik secara
horizontal maupun vertikal.
2. Keunggulan
a. Kesatuan antar elemen/variabel
Dari pembahasan disetiap elemen/bagian memiliki keterkaitan hirarki yang terkait antara
komponen satu dengan lainnya, keterkaitan ini terlihat dari segi penjelasannya yang
menyeluruh yang didalamnya terkandung tentang model manajemen kurikulum pada distrik
pendidikan. Manajemen sebagian besar berfokus dalam menentukan keberhasilan tujuan
kurikulum. Jika manajemen lumpuh dapat dikatakan bahwa kurikulum dalam bentuk
dokumen akan menjadi rencana yang inersia. Kurikulum adalah produk yang dihasilkan oleh
zaman peradaban dalam ukuran dimensi waktu.
Sistematika penyusunan kajian jurnal ini dapat dikatakan sudah baik dan sudah sesuai
dengan penulisan standar jurnal yang tepat seperti adanya pendahuluan, metodelogi
penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, serta referensi yang saling berkesinambungan.
b. Originalitas temuan
Setiap teori dan konsep yang dipakai dalam penelitian menjelaskan bahwa ide dan
gagasan para peneliti yang begitu cemerlang juga mengadopsi pemikiran maju mengenai
implikasi untuk inovasi kurikulum dan manajemen kurikulum di sekolah sehingga tidak
diragukan lagi tentang keorisinilan temuannya. Pada jurnal ini juga terlampir data-data yang
akurat sehingga keoriginalitas penelitian bisa dikatakan baik dan mencukupi standar untuk
melakukan penelitian serta penelitian yang ditulis kedalam jurnal juga dilengkapai dengan
pendapat para ahli yang mendukung kegiatan penelitian tersebut.
c. Kemutakhiran
Jurnal ini diterbitkan pada tahun 2017 sehingga masih sangat mutakhir baik dari segi
materi maupun dari segi pembahasan karena menjelaskan tentang pengembangkn model
manajemen kurikulum pendidikan di era otonomi daerah dalam rangka meningkatkan
akuntabilitas. Masalah yang diangkat cukup mutakhir, karena pentingnya peran petugas
pendidikan kabupaten, administrator sekolah, serta guru dalam merencanakan, melaksanakan,
dan mengevaluasi kurikulum tingkat sekolah sesuai dengan lingkungan peserta didik dalam
menunjang pembelajaran di Sekolah, khususnya Sekolah Menengah Pertama. Serta informasi
yang ada dalam jurnal masih sangat terbaru atau berdasarkan penelitian-penelitian terbaru dan
desain nya juga yang cukup bagus dan menarik.

3. Kelemahan
 Pada pendahuluan jurnal ini terlalu banyak menjelaskan tentang teori sehingga membuat
pembaca kurang menarik untuk membacanya.
 Pada jurnal ini data penelitian tidak disajikan secara sistematis, tidak ada penyertaan data
hasil penelitian secara rinci yang dapat dijelaskan pada tabel dan juga tidak adanya
penggambaran grafik yang dapat menggambarkan hasil penelitian.
 Jurnal ini terbit tahun 2017 tapi sumber referensi yang digunakan pada penelitian ini
masih banyak menggunakan referensi lebih dari 5 tahun terakhir, sehingga untuk peneliti
selanjutnya diperlukan sumber referensi yang terbarukan mengenai manajemen
kurikulum.
 Model manajemen kurikulum distrik pendidikan yang dijelaskan pada jurnal ini
mengenai kebijakan manajemen kurikulum pendidikan tingkat kabupaten dan
implementasi kurikulum tingkat sekolah. Jurnal ini tidak menjelaskan untuk
implementasi kurikulum tingkat sekolah secara khusus, tetapi untuk tingkatan sekolah
secara umum.

4. Implikasi
a. Teori
Jurnal ini dapat dijadikan landasan teori pada penelitian lebih lanjut tentang Rencana
Pengembangan Model Manajemen Kurikulum (DPCMM) Distrik Pendidikan di seluruh
Indonesia. Dalam konteks desentralisasi pendidikan di Indonesia, ada perbedaan antara
kebijakan manajemen kurikulum pendidikan tingkat kabupaten dan implementasi kurikulum
tingkat sekolah. Teori yang diusulkan DPCMM adalah perencanaan kurikulum pendidikan,
pelaksanaan, dan model evaluasi dengan efek luas pada proses pembelajaran di tingkat
sekolah. Dimensinya terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan
pengendalian semua sub sistem manajemen kurikulum, termasuk struktur organisasi, sumber
daya manusia, pendanaan, transparansi, dan budaya akuntabilitas. Kurikulum sekolah tidak
hanya mencerminkan tetapi merupakan produk pada masanya. Sehingga model DPCMM
hipotetis memiliki efek positif pada rencana strategis pendidikan kabupaten, terutama dalam
melakukan perencanaan kurikulum, pelaksanaan, dan model evaluasi dengan efek besar pada
proses pembelajaran di tingkat sekolah.
b. Terhadap program pengembangan
Dinas pendidikan kabupaten telah merumuskan rencana induk dan pedoman
pelaksanaannya yang harus dilaksanakan selama program jangka 5 tahun. Namun, dalam hal
implementasinya, semua program harus diawasi dan dipantau dengan baik. Rencana
pendidikan kabupaten mencakup pedoman pendidikan, kebijakan, alokasi anggaran, program
akademik, dan kegiatan pemantauan dan evaluasi yang harus dilaksanakan di manajemen
kantor pendidikan kabupaten. Dalam kaitannya dengan perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi kurikulum, dinas kabupaten akan bertindak aktif sebagai fasilitator dan pengawas
dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat sekolah. Manajemen kurikulum tingkat pendidikan
kabupaten sangat penting dan tampaknya menempatkan prioritas tinggi pada kebutuhan siswa,
transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi. Namun, manajemen kurikulum perlu lebih
terintegrasi dan sistemik untuk dilakukan ke semua tingkat sekolah. Diharapkan bahwa
rencana strategis sektor pendidikan harus mempertimbangkan perencanaan kurikulum sekolah
dengan semangat otonomi daerah.

5. Pembahasan dan analisis


Rencana Pengembangan Model Manajemen Kurikulum (DPCMM) adalah perencanaan
kurikulum distrik, implementasi, dan model evaluasi dengan memiliki efek pada proses
pembelajaran di tingkat sekolah. Dimensinya akan dikembangkan dan terdiri dari
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian semua sub sistem manajemen
kurikulum. Ini termasuk struktur organisasi, sumber daya manusia, pendanaan, transparansi,
budaya akuntabilitas, dan partisipasi dari semua pemangku kepentingan. Pada dasarnya,
model ini memiliki tiga tahap utama: persiapan dan membangun komitmen, penilaian
kapasitas, dan rencana pengembangan manajemen pendidikan kabupaten.
Pernyataan di atas menegaskan bahwa perubahan dalam sistem pendidikan, termasuk
kurikulum yang diadopsi, itu adalah hal yang umum, tak terelakkan sebagai bentuk kurikulum
merespon tantangan zaman, karena pada dasarnya kurikulum yang diadopsi adalah cerminan
dari masyarakat produk zamannya . Kurikulum sekolah tidak hanya mencerminkan tetapi
merupakan produk pada masanya. Ini berarti model DPCMM hipotetis memiliki efek positif
pada rencana strategis pendidikan kabupaten, terutama dalam melakukan perencanaan
kurikulum, pelaksanaan, dan model evaluasi dengan efek besar pada proses pembelajaran di
tingkat sekolah.
Jurnal ini sangat bagus dari segi pembahasan dan analisisnya karena pada jurnal ini sudah
sangat jelas dalam menyajikan materi mengenai kebijakan manajemen kurikulum pendidikan
tingkat kabupaten dan implementasi kurikulum tingkat sekolah, sebagai mahasiswa dengan
jurnal ini pembaca khususnya pemerintah tingkat kabupaten, kepala sekolah dan guru dituntut
untuk lebih mengetahui dan mampu dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
kurikulum tingkat sekolah yang sesuai dengan lingkungan anak supaya meraka bisa
memperoleh pendidikan yang berkualitas, karena peran kepala sekolah dalam mengarahkan
suatu sekolah itu sangat penting untuk kemajuan sekolah tersebut. Sehingga dapat
menunjukkan kualitas pendidikan yang akan memiliki peran strategis dalam pendidikan di
Sekolah.

6. Kesimpulan
Pengembangan manajemen kurikulum kabupaten sangat penting dan dapat
dipertimbangkan untuk pembangunan sebagai bagian integral dari rancangan dan pelaksanaan
Rencana Strategis Pendidikan Kabupaten. Ini dikembangkan untuk meningkatkan
akuntabilitas petugas pendidikan dan administrator sekolah dan guru dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum tingkat sekolah. Rencana Pengembangan Model
Manajemen Kurikulum (DPCMM) di tingkat kabupaten di Indonesia memiliki efek positif
pada rencana strategis kabupaten. Ini adalah perencanaan kurikulum distrik, implementasi,
dan model evaluasi yang memiliki dampak pada proses pembelajaran di tingkat sekolah.
Dimensinya terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian
semua sub sistem manajemen kurikulum, termasuk struktur organisasi, sumber daya manusia,
pendanaan, transparansi, dan budaya akuntabilitas.
Model manajemen kurikulum kabupaten terdiri dari tiga tahap utama: (a) Mempersiapkan
dan Mengembangkan Komitmen, termasuk beberapa kegiatan utama seperti komitmen
kepemimpinan kantor pendidikan, penilaian kinerja dan citra publik yang populer, dan
pengguna layanan survei kepuasan; (b) Penilaian Kapasitas, yang meliputi identifikasi fungsi
manajemen kurikulum, dan penilaian kapasitas fungsi manajemen kurikulum; (c) Rencana
Pengembangan Model Manajemen Kurikulum (DPCMM), yang terdiri dari rencana perbaikan
program, dan mengembangkan model manajemen kurikulum hipotetis akhir. Implikasinya
adalah bahwa manajemen kurikulum tingkat kabupaten di Indonesia sangat penting dan
tampaknya menempatkan prioritas tinggi pada kebutuhan siswa, transparansi, akuntabilitas,
dan partisipasi.
JURNAL 3
Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Effects of Active Learning for Curriculum Management: with Focus on the
“Courses of Study” of Japan
Jurnal : International Journal of Knowledge Engineering
Volume : Vol. 2, No. 2
Halaman : 77-84 halaman
Tahun : 2016
Penulis : Hiroki Yoshida

1. Ringkasan Artikel
Untuk mengatasi perubahan struktural masyarakat, sistem Sekolah di Jepang dituntut
untuk mengenali signifikansi tujuan pembelajaran seperti kompetensi sosial, pemikiran kritis,
berbagi pengetahuan, dan teknik kerja sama. Ada tiga kategori kompetensi kunci yang penting
untuk anak-anak dalam masyarakat berbasis pengetahuan, yaitu menggunakan alat interaktif,
berinteraksi dalam kelompok sosial yang heterogen, dan bertindak secara mandiri. Oleh
karena itu, metode pembelajaran yang memerlukan interaksi aktif dan promotif di antara para
siswa seperti pembelajaran aktif sedang dilaksanakan di sekolah-sekolah Jepang pada semua
tingkatan, baik dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Pembelajaran aktif didefinisikan
sebagai metode instruksional yang melibatkan siswa dalam melakukan berbagai hal dan
memikirkan hal-hal yang mereka lakukan. Elemen inti dari pembelajaran aktif adalah
aktivitas siswa dan keterlibatannya dalam proses pembelajaran.
Sekolah dasar dan menengah di Jepang mengembangkan kurikulum sekolah dan
pelajaran di kelas berdasarkan pedoman pendidikan nasional “Program Studi” yang
ditetapkan dalam peraturan untuk Penegakan Undang-Undang Pendidikan Sekolah (1947).
Program Studi untuk setiap mata pelajaran di Jepang yaitu bahasa Jepang, ilmu sosial,
matematika, sains, musik, pendidikan jasmani, seni dan kerajinan, ekonomi rumah tangga,
dan pelajaran lainnya. Di mana Ilmu Sosial membentuk inti dari "Program Studi" dengan
tujuan mengajar siswa tentang kehidupan masyarakat, dan mempromosikan keterampilan
sosial dan sikap mereka untuk beradaptasi dengan masyarakat di sekitar mereka..
UU Pendidikan Sekolah di Jepang mengharuskan sekolah dasar sampai menengah untuk
mengembangkan kemampuan dasar siswa, untuk mempromosikan keterampilan berpikir
mereka, keterampilan membuat keputusan, keterampilan berekspresi, dan untuk
mempromosikan sikap positif terhadap pembelajaran. Maka untuk menumbuhkan “semangat
hidup” siswa harus dengan menyeimbangkan pencapaian pengetahuan dasar dan keterampilan
dengan keterampilan berpikir, keterampilan membuat keputusan, dan keterampilan
berekspresi, dan tubuh yang sehat untuk hidup dalam masyarakat yang berubah sangat cepat.
Guru harus meningkatkan motivasi siswa untuk belajar secara aktif, sikap untuk
menghormati keragaman, kemampuan kepemimpinan, kerja tim, dan komunikasi untuk
bekerja secara kooperatif dengan yang lain. Maka sekolah harus meninjau dan merevisi, tidak
hanya tujuan dan isi pendidikan tetapi juga metode dan lingkungan pendidikan untuk
meningkatkan kualitas atau kemampuan seperti yang diinginkan. Secara khusus, pembelajaran
aktif dapat diterapkan karena pembelajaran aktif merupakan metode pembelajaran di mana
siswa belajar secara aktif dan kooperatif untuk menemukan dan memecahkan masalah dalam
masyarakat dan kehidupan sehari-hari.
Untuk menerapkan itu semua, kepala sekolah dan guru harus paham tentang "Program
studi" dan kurikulum sekolah mereka, dan untuk dapat mempromosikan pemahaman dan
keterampilan mereka dalam pengembangan kurikulum dan manajemen kurikulum.
Manajemen kurikulum yang efektif di setiap sekolah dapat dilakukan melalui proses
perencanaan, penerapan, penilaian, dan peningkatan kurikulum dengan melakukan
pembelajaran aktif oleh setiap guru.

2. Keunggulan
a. Kesatuan antar elemen/variabel
Pada jurnal ini, penulis mampu menyajikan materi secara berurutan dan sistematis seperti
adanya pendahuluan, penejelasan teori, metodelogi penelitian, hasil dan pembahasan,
kesimpulan, serta referensi. Judul jurnal ini cukup spesifik dan menunjukkan inti dari
penelitian hanya dengan membaca judulnya. Jurnal ini memiliki keterkaitan materi dan isi
jurnal yang sesuai. Pemaparan isi jurnal yang cukup sistematis dimulai dari latar belakang
penelitian yang didukung oleh pendapat para ahli tentang pentingnya melakukan
pembelajaran aktif pada manajemen kurikulum di setiap proses pembelajaran oleh guru
terhadap peserta didiknya, menuliskan kerangka berisikan teori yang mendukung terhadap
penelitian yang dilakukan. Jurnal ini juga memberikan penjelasan mengenai teori-teori secara
terpisah tentang program studi sebagai panduan pendidikan nasional untuk pendidikan dasar
dan menengah, pembelajaran aktif, dan manajemen kurikulum di Jepang.
b. Originalitas temuan
Teori yang dipaparkan di dalam jurnal juga didukung dengan hasil penelitian yang
relevan sehingga memiliki data yang lebih akurat. Maka keoriginalitas penelitian bisa
dikatakan baik dan mencukupi standar untuk melakukan penelitian. Penelitian yang ditulis ke
dalam jurnal juga dilengkapi dengan pendapat para ahli yang mendukung kegiatan penelitian
tersebut.
c. Kemutakhiran
Kemuhtahiran Penelitian yang dilakukan mengangkat masalah yang terbaru dan akan
selalu dikembangkan pada setiap zamannya. Kemutakhiran masalah-masalah yang ada dalam
jurnal tersebut menjelaskan dimana sangat diperlukannya pembelajaran aktif di sekolah
untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar dan dari beberapa penjelasan
permasalahan yang ada pada jurnal tersebut dapat menjadikan titik acuan dalam mengelola
kurikulum sekolah supaya selama proses pembelajaran para guru menerapkan pembelajaran
aktif kepada peserta didik di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah.

3. Kelemahan
 Penelitian ini dilakukan untuk guru pre-service untuk pendidikan dasar dan menengah
yang ada di Jepang, bukan di Sekolah yang ada di Indonesia.
 Pada pendahuluan menjelaskan banyak tentang teori dari pembalaran aktif dan
manajemen kurikulum di Jepang.
 Jurnal ini menjelaskan bahwa studi Sosial membentuk inti dari "Program Studi" dengan
tujuan mengajar siswa tentang kehidupan masyarakat dan mempromosikan keterampilan
sosial dan sikap mereka untuk beradaptasi dengan masyarakat. Padahal masih banyak
program studi yang diajarkan di Jepang tersebut.
 Pada jurnal masih ada menggunakan bahasa jepang, sehingga bagi pembaca Indonesia
sulit untuk memahami maksud yang di sampaikan oleh peneliti. Sebaiknya di ganti
menggunakan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris.
 Jurnal ini terbit tahun 2016 tapi sumber referensi yang digunakan pada penelitian ini
masih banyak menggunakan referensi lebih dari 5 tahun terakhir, sehingga untuk peneliti
selanjutnya diperlukan sumber referensi yang terbarukan mengenai pembelajaran aktif
dalam manajemen kurikulum.
 Pembelajaran aktif yang digunakan pada penelitian ini hanya metode jigsaw, di mana
metode jigsaw merupakan metode sederhana dalam pembelajaran secara berkelompok.
4. Implikasi
a. Teori
Jurnal ini dapat dijadikan landasan teori dan sumber rujukan pada penelitian lebih lanjut
tentang penerapan pembelajaran aktif untuk manajemen kurikulum di Indonesia.
Pembelajaran aktif dalam manajemen kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah sangat
efektif diterapkan di setiap sekolah dengan menyelaraskan proses perencanaan, pelaksanaan,
penilaian, dan peningkatan kurikulum. Pembelajaran aktif yang dijelaskan di penelitian ini
adalah metode jigsaw. Metode jigsaw ini merupakan metode belajar secara berkelompok.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif meningkatkan pengetahuan
dan pemahaman pembelajar tentang manajemen kurikulum, dan meningkatkan kemampuan
peserta didik untuk mengelola kurikulum. Mereka juga dapat memahami pentingnya belajar
secara kooperatif dan belajar secara individual. Dengan adanya temuan penelitian ini, guru-
guru pre-service diperlukan untuk menerapkan pengalaman belajar aktif, memahami, dan
merancang kurikulum dan pelajaran untuk pembelajaran aktif, yang mana membutuhkan
aktivitas siswa dan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Sehingga, akibatnya
dapat mengarah pada peningkatan kualitas pembelajaran aktif di sekolah dasar dan menengah.
b. Terhadap program pengembangan
Jurnal ini dapat digunakan dalam program pengembangan pembelajaran aktif pada
manajemen kurikulum untuk SMP, tidak hanya di Jepang tetapi di Indonesia juga bisa
diterapkan khususnya dibidang pendidikan, dengan jurnal ini kepala sekolah dan guru dapat
berimprovisasi dalam menerapkan metode dan model pembelajaran aktif dalam proses belajar
yang lebih efektif. Pembelajaran aktif ini lebih dominan pembelajaran secara berkelompok,
sehingga siswa akan lebih mengerti dan lebih menyenangkan dalam proses belajarnya. Hal ini
akan berdampak positif pada kualitas siswa yang baik untuk pembangunan Indonesia
kedepannya. Sehingga, akibatnya dapat mengarah pada peningkatan kualitas pembelajaran
aktif di sekolah dasar dan menengah.

5. Pembahasan dan analisis


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi efek pembelajaran aktif pada
guru pre-service terhadap pemahaman dan keterampilan manajemen kurikulum. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar aktif dalam kelompok kecil meningkatkan
pemahaman mereka dalam manajemen kurikulum dari minggu ke minggu. Hal ini
menunjukkan bahwa jika pembelajar belajar secara aktif dan kooperatif, mereka dapat
meningkatkan pemahaman pada elemen dan fitur manajemen kurikulum. Ini berarti bahwa
berbagai perspektif, dan refleksi pada setiap peserta ‟bekerja meningkatkan peserta‟
pemahaman tentang fitur kurikulum.
Keterampilan manajemen kurikulum menunjukkan bahwa peserta didik yang belajar aktif
dalam kelompok kecil meningkatkan kinerja mereka dalam manajemen kurikulum dari
minggu ke minggu. Hal ini menunjukkan bahwa jika siswa belajar secara aktif dan kooperatif,
mereka dapat memahami apa yang penting dalam mengelola kurikulum. Selain itu, hasil
evaluasi menunjukkan bahwa peserta meningkatkan keterampilan mereka dalam menganalisis
kurikulum dan dapat mengatur presentasi.
Jurnal ini memberikan informasi mengenai pespektif pendidikan lingkungan dalam
kurikulum 2013. Pembahasan pada jurnal ini dapat dipahami dengan mudah. Pada jurnal ini
data penelitian tidak disajikan secara sistematis, tidak ada penyertaan data hasil penelitian.
Pembahasan juga dilakukan dengan sangat singkat dan tidak rinci. Tetapi kemutakhiran
masalah dalam jurnal ini disusun berdasarkan masalah yang sedang menjadi pembicaraan
hangat saat ini sehingga membuat jurnal ini menjadi menarik minat dan perhatian pembaca.
Kesatuan antar elemen juga disusun dengan baik sehingga membuat pembaca mudah
memahami isi jurnal ini, dan originalitas temuan baik walaupun masih terdapat beberapa
kekurangan.

6. Kesimpulan
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman pembelajar tentang manajemen kurikulum, dan meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk mengelola kurikulum. Hasil menunjukkan bahwa belajar
dalam kelompok kecil dengan berbagai perspektif memberikan pandangan yang valid tentang
apa yang penting dalam kurikulum yang mereka kelola. Hasil juga menunjukkan bahwa
pembelajaran aktif memiliki efek positif pada sikap peserta didik terhadap pembelajaran aktif.
Melalui pembelajaran aktif, peserta sangat menyenangkan dan mereka dapat fokus untuk
belajar. Mereka juga dapat memahami pentingnya belajar secara kooperatif dan belajar secara
individual.
Dengan adanya temuan penelitian ini, guru-guru pre-service diperlukan untuk
menerapkan pengalaman belajar aktif, memahami, dan merancang kurikulum dan pelajaran
untuk pembelajaran aktif, yang mana membutuhkan aktivitas siswa dan keterlibatan mereka
dalam proses pembelajaran. Sehingga, akibatnya dapat mengarah pada peningkatan kualitas
pembelajaran aktif di sekolah dasar dan menengah.
JURNAL 4
Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Management Of Curriculum 2013 Mathematic Learning Evaluation In Junior
High School
Jurnal : International Journal of Education
Volume : Volume 7, Nomor 3
Halaman : 164-174 halaman
Tahun : 2015
Penulis : Sutama, Sabar Narimo, & Samino

1. Ringkasan Artikel
Perubahan kurikulum nasional sebelumnya menjadi kurikulum 2013 (kurikulum progresif
yang diterapkan sejak tahun akademik 2013/2014) merupakan upaya pemerintah untuk
mengembangkan pendidikan di Indonesia agar tidak tertinggal dari negara lain. Salah satu
penekanan pada kurikulum 2013 adalah evaluasi otentik. Evaluasi otentik adalah bentuk
evaluasi sikap kinerja siswa secara komprehensif dalam situasi nyata. Kurikulum 2013
menekankan perubahan dalam melakukan evaluasi, yaitu evaluasi melalui tes pengukuran
(mengukur pengetahuan berdasarkan hasil saja) menjadi evaluasi otentik (mengukur
kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil).
Untuk menerapkan kurikulum 2013 segera, guru harus berfokus pada manajemen
pembelajaran berdasarkan kebutuhannya, yaitu mengembangkan kurikulum berbasis pelajaran
2013. Pendekatan ilmiah dan tekanan pada evaluasi otentik pada pembelajaran matematika
Kurikulum 2013 akan merangsang pengetahuan siswa dalam merespon lingkungan. Lesson
study adalah suatu model dalam membentuk guru profesional dengan mempelajari
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip kolegialitas saling
belajar untuk membangun komunitas belajar. Hal ini sesuai dengan prinsip penerapan
kurikulum 2013 yaitu siswa harus mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, dan
mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri dengan bebas, dinamis, dan
menyenangkan.
Secara umum, penelitian tahun pertama ditujukan untuk mendeskripsikan manajemen
kurikulum pembelajaran matematika 2013 yang dilakukan oleh guru-guru SMP di Salatiga
Jawa Tengah. Dalam artikel ini, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen
kurikulum pembelajaran matematika 2013 pada aspek: 1) afektif, 2) kognitif, dan 3)
psikomotor yang dilakukan oleh guru SMP di Salatiga Jawa Tengah.
2. Keunggulan
a. Kesatuan antar elemen/variabel
Pada jurnal ini, penulis mampu menyajikan materi secara berurutan dan sistematis. Pada
jurnal ini, penulis menguraikan materi dari dasar yaitu perubahan kurikulum, kemudian
evaluasi manajemen kurikulum dan dilanjutkan dengan evaluasi otentik. Jurnal ini
menjelaskan tentang manajemen kurikulum pada bagian evaluasi khususnya pada mata
pelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama. Dari pendahuluan sampai pembahasan
jurnal ini memeiliki keterkaitan yang hirarki atau yang saling berkesinambungan karena
menjelaskan tentang evaluasi manajemen kurikulum tersebut. Sistematika penyusunan kajian
jurnal ini dapat dikatakan sudah baik dan sudah sesuai dengan penulisan standar jurnal yang
tepat. Jurnal juga didisain dengan metode penelitan yang bervariasi dan menjelaskan hasil
penelitiannya secara lengkap.
b. Originalitas temuan
Pada jurnal ini, terlampir data-data yang akurat sehingga keoriginalitas penelitian bisa
dikatakan baik dan mencukupi standar untuk melakukan penelitian. Serta penelitian yang
ditulis kedalam jurnal juga dilengkapai dengan pendapat para ahli yang mendukung kegiatan
penelitian tersebut.
c. Kemutakhiran
Pada jurnal ini telah disajikan tentang evaluasi otentik manajemen kurikulum pada aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah
Pertama, teori ini masih sangat dapat dilakukan pada zaman sekarang yang menunjukkan
bahwa evaluasi otentik adalah bentuk evaluasi sikap kinerja siswa secara komprehensif dalam
situasi nyata. Di mana kurikulum 2013 menekankan perubahan dalam melakukan evaluasi,
yaitu evaluasi melalui tes pengukuran (mengukur pengetahuan berdasarkan hasil saja)
menjadi evaluasi otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
berdasarkan proses dan hasil).
Kemutakhiran jurnal ini dapat dilihat dari kajian yang mendukung evaluasi manajemen
kurikulum sesuai kurikulum 2013 dan sumber yang digunakan berdasarkan tahun terbitnya
adalah 2013, 2014 yang berarti terbaru meskipun terdapat bahan bacaan jurnal dari tahun
2007 dan tahun 2008 , 2009, 2010, atau 2011.

3. Kelemahan
 Pada abstrak tidak menjelaskan latarbelakang dilakukannya penelitian tersebut tetapi
langsung ke tujuan penelitian.
 Jurnal ini menjelaskan bahwa dalam memberikan tugas, sebagian besar guru belum
terprogram, berarti pertanyaan belum dipilih berdasarkan tingkat kesulitan, esensi, dan
manfaatnya di masa depan. Untuk menentukannya, dalam mengajar guru harus mengacu
pada standar penguasaan siswa. Guru harus memasukkan arahan dalam memecahkan
pertanyaan sehingga siswa dapat melakukan tugasnya sendiri. Selanjutnya, siswa
mendapat umpan balik dan evaluasi.
 Pembahasan dalam jurnal ini menjelaskan tentang penilaian otentik, di mana harus
mencerminkan masalah dunia nyata, bukan hanya dunia sekolah, dengan menggunakan
berbagai cara dan kriteria holistik (seluruh kompetensi mencerminkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap). Penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui
oleh siswa, tetapi juga lebih menekankan untuk mengukur apa yang dapat dilakukan oleh
siswa.
 Pada jurnal ini data penelitian tidak disajikan secara sistematis, tidak ada penyertaan data
hasil penelitian secara rinci yang dapat dijelaskan pada tabel dan juga tidak adanya
penggambaran grafik yang dapat menggambarkan hasil penelitian.
 Penelitian hanya dilakukan sekali, seharusnya dalam mengevaluasi kurikulum harus
dilakukan secara keseluruhan dan bertahap, dan tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu
yang singkat.
 Jurnal ini terbit pada tahun 2015 sehingga sudah terbit selama 3 tahun dari sekarang,
sehingga diperlukan penelitian terbarukan mengenai manajemen kurikulum dalam bidang
evaluasi di Sekolah Menengah Pertama.
 Berdasarkan hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa pada evaluasi afektif belum
optimal, pada aspek kognitif pernyataannya kurang spesifik untuk anak SMP, dan aspek
psikomotorik cenderung dilakukan secara berkelompok, maka hasil penelitian ini belum
sempurna sehingga diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar lebih memaksimalkan lagi
hasil penelitiannya mengenai evaluasi manajemen kurikilum tersebut.

4. Implikasi
a. Teori
Jurnal ini dapat digunakan mahasiswa sebagai bahan rujukan atau pendukung materi
dalam mata kuliah Manajemen Kurikilum karena dilengkapi dengan penjelasan tentang
manajemen kurikulum dan evaluasinya. Jurnal ini sangat bagus sehingga dengan membaca
jurnal ini kita dapat menggunakan jurnal ini sebagai pedoman untuk meningkatkan
keterampilan evaluasi bagi guru sekolah pertama baik evaluasi kognitif, afektif, dan
psikomotorik dalam pembelajaran matematika khususnya kepada peserta didik nantinya.
Dengan demikian semakin banyak guru yang kreatif yang mampu untuk merencanakan
evaluasi yang cocok untuk peserta didiknya sehingga akan semakin maju pula pembangunan
di Indonesia khususnya pada bidang pendidikan.
b. Terhadap program pengembangan
Jurnal ini dapat digunakan dalam program pengembangan manajemen kurikulum untuk
SMP di Indonesia khususnya dibidang pendidikan, dengan jurnal ini kepala sekolah dan guru
dapat berimprovisasi dalam menerapkan metode dan model evaluasi belajar yang lebih
efektif. Sehingga siswa akan lebih mengerti dan lebih menyenangkan dalam belajar. Hal ini
akan berdampak positif pada kualitas siswa yang baik untuk pembangunan Indonesia
kedepannya.

5. Pembahasan dan analisis


Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengelolaan kurikulum 2013 evaluasi
pembelajaran matematika pada aspek: 1) afektif, 2) kognitif, dan 3) psikomotor yang
dilakukan oleh guru di SMP Negeri Salatiga Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa 1) Manajemen evaluasi pembelajaran matematika pada aspek kognitif terdiri dari sikap
spiritual dan sosial. Evaluasi pada aspek afektif dilakukan melalui observasi, jurnal guru,
evaluasi diri, dan evaluasi rekan, tetapi tidak semuanya optimal. 2) Manajemen evaluasi
pembelajaran matematika pada aspek kognitif dilakukan dengan tes tertulis, lisan, tugas;
tetapi pertanyaannya kurang menantang. Artinya masalah yang diberikan dalam proses
evaluasi, final, dan tugas tidak berorientasi pada tingkat kesulitan tinggi, penting, dan
bermanfaat di masa depan. 3) Manajemen evaluasi pembelajaran matematika pada aspek
psycomotor dilakukan oleh evaluasi kinerja, proyek, dan portofolio. Evaluasi pada aspek
psikomotor cenderung dilakukan secara berkelompok.
Evaluasi yang dapat memantau perkembangan kemampuan siswa dan menunjukkan
kualitas pendidikan akan memiliki peran strategis dalam yayasan bangsa. Dengan demikian,
kita perlu mengembangkan penilaian aspek sikap sosial sesuai harapan. Pada penelitian ini
formulir tugas yang diberikan oleh guru matematika di lokasi penelitian sekolah perlu
dikembangkan. Dalam memberikan tugas, sebagian besar guru belum terprogram, berarti
pertanyaan belum dipilih berdasarkan tingkat kesulitan, esensi, dan manfaatnya di masa
depan. Untuk menentukannya, dalam mengajar, guru harus mengacu pada standar penguasaan
siswa. Guru harus memasukkan arahan dalam memecahkan pertanyaan sehingga siswa dapat
melakukan tugasnya sendiri. Selanjutnya, siswa mendapat umpan balik dan evaluasi.
Jurnal ini sangat bagus dari segi pembahasan dan analisisnya karena pada jurnal ini
sudah sangat jelas dalam menyajikan materi mengenai evaluasi manajemen kurikulum
sehingga dapat membantu pembaca, sebagai mahasiswa dengan jurnal ini pembaca khususnya
calon guru dituntut untuk lebih mengetahui dan mampu dalam merencanakan evaluasi yang
dapat memantau perkembangan kemampuan siswa dan menunjukkan kualitas pendidikan
yang akan memiliki peran strategis dalam pendidikan di Sekolah.

6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen evaluasi
pembelajaran matematika pada aspek afektif terdiri dari sikap spiritual dan sosial. Evaluasi
pada aspek afektif dapat dilakukan melalui observasi, jurnal guru, evaluasi diri, dan evaluasi
teman sebaya, tetapi tidak semuanya sudah optimal. Manajemen evaluasi pembelajaran
matematika pada aspek kognitif dapat dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan tugas; tetapi
pertanyaannya kurang menantang. Manajemen evaluasi pembelajaran matematika pada aspek
psikomotor dapat dilakukan melalui evaluasi kinerja, proyek, dan portofolio. Evaluasi aspek
psikomotor cenderung dilakukan secara berkelompok. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian
hasil belajar perlu dilakukan secara komprehensif dan kontinuitas sehingga dapat
merepresentasikan perkembangan siswa secara akurat.
Jurnal ini mengenai Manajemen Kurikulum 2013 Evaluasi Pembelajaran Matematika di
Sekolah Menengah Pertama sangat bermanfaat untuk pembaca dan untuk sebagai sumber
bahan belajar. Penulis dapat membuat pembaca tertarik untuk membaca jurnalnya karena isi
dari jurnal tersebut sudah sangat jelas, padat, dan ringkas sehingga kita mudah menarik inti
sari dari setiap pembahasan yang ada.
JURNAL 5
Identitas Jurnal
Judul Jurnal : The Perspective of Curriculum in Indonesia on Environmental Education
Jurnal : International Journal of Research Studies in Education
Volume : Volume 4, Number 1
Halaman : 77-83 halaman
Tahun : 2015
Penulis : Prihantoro, C. Rudy

1. Ringkasan Artikel
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia,
kurikulum harus disusun secara strategis dan diformulasikan ke dalam program-program
tertentu karena kurikulum merupakan isu penting dan kurikulum adalah bagian dari program
pendidikan. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan ajar dan metode yang digunakan untuk memandu organisasi pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan utama pengembangan kurikulum adalah untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dan bukan hanya untuk menghasilkan bahan ajar.
Kurikulum tidak hanya memperhatikan perkembangan masa kini tetapi juga mengarahkan
perhatian ke masa depan. Tujuan pendidikan sekolah lebih luas dan kompleks karena selalu
sesuai dengan perubahan yang dibutuhkan. Kurikulum harus selalu diperbarui sejalan dengan
perubahan agar tetap relevan dengan masyarakat yang berubah.
Pengembangan kurikulum di Indonesia, sejak 1945 telah berubah beberapa kali, yaitu
pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, dan 2013. Pengembangan
kurikulum dapat dipetakan menjadi enam periode, yaitu: (1) Kurikulum 1975; (2) Kurikulum
1986; (3) Kurikulum 1994; (4) Kurikulum 2004; (5) kurikulum berbasis sekolah (SBC) yang
mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, dan (6) Kurikulum 2013.
Secara umum, Kurikulum 2013 berisi empat elemen perubahan, yaitu (1) standar
kompetensi lulusan, (2) standar isi, (3) standar proses pembelajaran, dan (4) standar penilaian.
Dari ke empat elemen perubahan tersebut, benang merah dalam kurikulum 2013 yang dapat
digunakan untuk pengembangan kurikulum adalah standar proses pembelajaran. Standar
proses pembelajaran yang pada awalnya difokuskan pada eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi pada kurikulum berbasis sekolah (SBC) diubah untuk mengamati,
mempertanyakan, memproses, menyajikan, meringkas, dan membuat.
Pendidikan adalah investasi berharga yang ditanam untuk mencapai martabat bangsa.
Melalui lembaga pendidikan seseorang akan mendapatkan berbagai pengetahuan dan sains
serta keterampilan yang akan berguna setelah mereka belajar sepanjang pengalaman
hidupnya. Salah satu upaya untuk membentuk pembelajar agar peka terhadap lingkungan
adalah pendidikan lingkungan. Pendidikan lingkungan diharapkan dapat mengubah perilaku
dan pola pandangan publik menuju hubungan positif dengan isu-isu lingkungan dan
menumbuhkan kecintaan pada lingkungan sejak dini.
Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti
perkembangan anak, pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan kebutuhan dan
pekerjaan masyarakat dan sebagainya. Perencanaan kurikulum harus mencakup beberapa
aspek termasuk tujuan, bahan, sumber daya, kegiatan belajar dan evaluasi sebagai dasar untuk
membangun kurikulum. Salah satu hal yang penting dalam pengembangan kurikulum adalah
penyampaian isi mengenai masalah lingkungan dengan memasukkan isu-isu lingkungan ke
hampir semua mata pelajaran, baik itu di pendidikan dasar maupun menengah (umum
menengah dan kejuruan).

2. Keunggulan
a. Kesatuan antar elemen/variabel
Dari pembahasan disetiap elemen/bagian memiliki keterkaitan yang hirarki, karena setiap
paragraf baru pada jurnal ini menjadi penjelas lebih lanjut paragraf sebelumnya, dan point
selanjutnya melengkapi point-point sebelumnya. Pada paragraf awal membahas tentang
kurikulum kemudian lebih dikhususkan dibahas tentang pendidikan lingkungan pada paragraf
setelahnya, lalu dijelaskan teori tentang kurikulum, sejarah pengembangan kurikulum di
Indonesia dan perspektif pendidikan lingkungan dalam kurikulum di Indonesia, setelah itu
dirincikan metode penelitian yang akan digunakan dan hasil dari penelitian.
b. Originalitas temuan
Pada jurnal ini ada terlampir data yang akurat sehingga keoriginalitas penelitian bisa
dikatakan baik dan mencukupi standar untuk melakukan penelitian. Penelitian yang ditulis
kedalam jurnal juga dilengkapai dengan pendapat para ahli yang mendukung kegiatan
penelitian tersebut.
c. Kemutakhiran
Setelah membaca jurnal ini, dapat disimpulkan bahwa jurnal sudah cukup mutakhir
karena pemabahasan dalam jurnal sangat jelas dan kekinian yaitu membahas tentang
perspektif kurikulum di Indonesia tentang pendidikan lingkungan. Data ini sangat bermanfaat
untuk penelitian selanjutnya, dan menjadi bahan rujukan bagi pendidikan di daerah seluruh
Indonesia. Penilitian yang dilakukan mengangkat masalah yang terbaru dan akan selalu
dikembangkan pada setiap zamannya. Oleh karena itu, masalah yang uji oleh peneliti tersebut
muktahir dan terbaru untuk dikaji pada zaman sekarang.

3. Kelemahan
 Pada abstrak terlalu banyak menjelaskan latarbelakang dilakukannya penelitian tersebut,
tetapi tujuan dari penelitian tidak dicantumkan di abstrak.
 Pada jurnal ini data penelitian tidak disajikan secara sistematis, tidak ada penyertaan data
hasil penelitian secara rinci yang dapat dijelaskan pada tabel dan juga tidak adanya
penggambaran grafik yang dapat menggambarkan hasil penelitian.
 Jurnal ini terbit tahun 2015 tapi sumber referensi yang digunakan pada penelitian ini
masih banyak menggunakan referensi lebih dari 5 tahun terakhir, sehingga untuk peneliti
selanjutnya diperlukan sumber referensi yang terbarukan mengenai perspektif kurikulum
di Indonesia tentang pendidikan lingkungan.
 Pada jurnal ini menjelaskan bahwa ada masalah terkait rendahnya partisipasi masyarakat
untuk berpartisipasi dalam pendidikan lingkungan karena kurangnya pemahaman tentang
masalah pendidikan lingkungan yang ada.
 Hasil dari penelitian ini menjelaskan perspektif pendidikan lingkungan pada kurikulum di
Indonesia secara umum pada tingkatan SD, SMP dan SMA, seharusnya dijelaskan secara
khusus sesuai dengan masing-masing tingkatannya.

4. Implikasi
a. Teori
Teori yang di sampaikan di dalam jurnal ini cukup lengkap yang membahas tentang
perspektif pendidikan lingkungan dalam kurikulum 2013 di Indonesia. Di dalam jurnal
dijelaskan tentang pengertian kurikulum, sejarah pengembangan kurikulum di Indonesia sejak
tahun 1945 dari kurikulum 1975 sampai kurikulum 2013 serta perspektif pendidikan
lingkungan dalam kurikulum di Indonesia. Di kurikulum 2013 juga dijelaskan elemen
perubahannya berdasarkan standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses
pembelajaran, dan standar penilaian. Penjelasan teori tentang perspektif pendidikan
lingkungan dalam kurikulum di Indonesia juga dijelaskan, sehingga bagi para pembaca dapat
dengan mudah dalam memahami isi dari jurnal ini. Semua ini dapat diwujudkan dengan
pendidikan lingkungan yang diajarkan mulai dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah
melalui proses pembelajaran melalui pengamatan, pertanyaan, pemrosesan, penyajian,
rangkuman, dan penciptaan.
b. Terhadap program pengembangan
Penelitian ini membahas tentang pengembangan kurikulum yang baru yaitu kurikulum
2013. Perspektif pendidikan lingkungan dalam kurikulum 2013 dikemas dengan harapan
bahwa peserta didik memperoleh kesadaran dan kepekaan, mendapatkan berbagai
pengalaman dan pemahaman dasar tentang lingkungan, serta membentuk karakter untuk
mendapatkan serangkaian nilai-nilai lingkungan perasaan sensitif di tingkat pendidikan dasar
hingga pendidikan menengah. Dengan demikian, siswa diharapkan untuk mengambil bagian
secara aktif dalam memecahkan masalah dan perlindungan lingkungan dengan memiliki
karakter yang sopan. Sejalan dengan hal tersebut, juga akan sangat berpengaruh besar bagi
program pembangunan di Indonesia yaitu membantu pengembangan kurikulum yang ada di
Indonesia menjadi lebih baik lagi.

5. Pembahasan dan analisis


Temuan penelitian ini berfokus pada perspektif pendidikan lingkungan dalam kurikulum
2013 di Indonesia.
 Pada tingkat dasar, penyampaian masalah lingkungan adalah melalui metode
pembelajaran integratif tematik dan terintegrasi yang menggabungkan 9 tema pelajaran
seperti Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Sosial (IPS), Seni Budaya dan Kerajinan Tangan, dan
Pendidikan Jasmani. Dari 9 tema pelajaran yang telah ditetapkan, materi pembelajaran
disajikan melalui cerita-cerita menarik, di mana siswa diajak untuk melakukan kegiatan
berdasarkan tema dan teks bacaan. Selain itu, peserta didik diajak untuk membuat
kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan seperti itu tidak disampaikan secara
lisan tetapi harus dilakukan sehingga mereka dapat membangun pribadi yang baik dengan
karakter mulia.
 Selanjutnya, pada tingkat SMP dan SMA, struktur kurikulum menggambarkan
konseptualisasi isi kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. Distribusi isi materi dalam
satu semester atau satu tahun; beban belajar untuk setiap mata pelajaran dalam seminggu
untuk setiap pelajar. Subjek adalah unit organisasi terkecil dari kompetensi dasar. Untuk
kurikulum di tingkat sekolah menengah, organisasi Kompetensi Dasar dilakukan dengan
mempertimbangkan kesinambungan antara kelas dan keselarasan antara pelajaran yang
terkait dengan Kompetensi Inti. Selanjutnya, kompetensi dasar diatur berdasarkan
pengelompokan mata pelajaran yang harus diikuti oleh semua siswa dan mata pelajaran
sesuai dengan bakat, minat mereka. Di tingkat sekolah menengah kemampuan siswa telah
difokuskan pada spesialisasi dalam Ilmu Alam (IPA) atau Ilmu Sosial (IPS).
Setiap pengantar buku kursus yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia menyebutkan bahwa kurikulum 2013 dirancang untuk
memperkuat kompetensi peserta didik dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara
keseluruhan. Integritas tersebut menjadi dasar untuk perumusan kompetensi dasar di setiap
mata pelajaran, sehingga kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran termasuk kompetensi
dasar sikap, kompetensi dasar pengetahuan, dan kompetensi dasar keterampilan. Semua
subjek dirancang untuk mengikuti formulasi tersebut.
Pembelajaran lingkungan hidup terintegrasi dalam mata pelajaran lain. Semua ini dapat
diwujudkan dengan pendidikan lingkungan yang diajarkan mulai dari pendidikan dasar
hingga sekolah menengah melalui proses pembelajaran melalui pengamatan, pertanyaan,
pemrosesan, penyajian, rangkuman, dan penciptaan.

6. Kesimpulan
Perspektif pendidikan lingkungan dalam kurikulum 2013 di Indonesia dikemas dengan
harapan bahwa peserta didik memperoleh kesadaran dan kepekaan, mendapatkan berbagai
pengalaman dan pemahaman dasar tentang lingkungan, serta membentuk karakter untuk
mendapatkan serangkaian nilai-nilai lingkungan perasaan sensitif di tingkat pendidikan dasar
hingga pendidikan menengah. Dengan demikian, siswa diharapkan untuk mengambil bagian
secara aktif dalam memecahkan masalah dan perlindungan lingkungan dengan memiliki
karakter yang sopan.
DAFTAR PUSTAKA

Amka. (2018). The Study on Adaptive Curriculum Modification of Inclusive Elementary and
Junior High School in Banjarmasin, Indonesia. Journal of Education and Practice,
9(21), 21-27.
Prihantoro, C. R. (2015). The Perspective of Curriculum in Indonesia on Environmental
Education. International Journal of Research Studies in Education, 4(1), 77-83.
Sutama, S., Narimo, S., & Samino, S. (2015). Management Of Curriculum 2013 Mathematic
Learning Evaluation In Junior High School. International Journal of Education, 7(3),
164-174.
Wahyudin, D. (2017). A Model of Education District Curriculum Management: Indonesia
Case. International Journal of Current Advanced Research, 6(8), 5176-5183.
Yoshida, H. (2016). Effects of Active Learning for Curriculum Management: With Focus on
the “Courses of Study” of Japan. International Journal of Knowledge Engineering,
2(2), 77-84.