Anda di halaman 1dari 3

Genus Pseudomonas sp merupakan bakteri Gram negatif bersifat fakultatif anaerob

atau aerob, berbentuk batang dengan ukuran sedang, motil (beberapa memiliki polar
flagella), katalase dan oksidasi positif dan beberapa spesies dapat menghasilkan water-
soluble pigment. Bakteri ini hidup bebas di alam sehingga dapat ditemukan di air ataupun
tanah, tetapi juga telah diisolasi dari instrumen klinis, solusi aseptis, kosmetik dan
produk medis (Ugur, 2012).
Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,6 x 2 µm.
Bakteri ini terlihat sebagai bakteri tunggal, berpasangan, dan terkadang membentuk
rantai yang pendek. P. aeruginosa termasuk bakteri gram negatif. Bakteri ini bersifat
aerob, katalase positif, oksidase positif, tidak mampu memfermentasi tetapi dapat
mengoksidasi glukosa/karbohidrat lain, tidak berspora, tidak mempunyai selubung
(sheat) dan mempunyai flagel monotrika (flagel tunggal pada kutub) sehingga selalu
bergerak. Bakteri ini dapat tumbuh di air suling dan akan tumbuh dengan baik dengan
adanya unsur N dan C. Suhu optimum untuk pertumbuhan P. aeruginosa adalah 42oC. P.
aeruginosa mudah tumbuh pada berbagai media pembiakan karena kebutuhan nutrisinya
sangat sederhana. Di laboratorium, medium paling sederhana untuk pertumbuhannya
digunakan asetat (untuk karbon) dan ammonium sulfat (untuk nitrogen) (Lee, 2010).
Saccharomyces cereviceae dikenal sebagai khamir adalah yeast sel tunggal
eukariotik berbentuk bulat atau oval atau silinder, dengan ukuran 5-10 mikrom. S
cereviceae membentuk filamen sebagai respon dari kondisi lingkungan, bersifat fakultatif
anaerob dan hidup pada daerah yang mengandung gula. S cereviceae memiliki spora
yang dibentuk didalam askus disebut askospora. Perbanyakan sel dengan cara
pertunasan. (lodder, 1990) S cereviceae memiliki manfaat atau peran dalam fermentasi
etanolis, produk utamanya adalah etanol.
PDB (potato dextrose broth) merupakan medium yang terbuat dari air rebusan
kentang dan dekstrosa. Medium ini merupakan media umum untuk menumbuhkan
berbagai jenis cendawan, baik kapang, khamir maupun jamur. Potato Dextrose broth
(PDB), dengan komposisi sebagai berikut per liter: Sebanyak 200 g kentang yang telah
dikupas dan dibersihkan kemudian diiris tipis-tipis. Kentang direbus selama 15-20 menit
dengan air steril secukupnya, kemudian disaring dengan kain. Filtrat yang dihasilkan
dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian ditambahkan 20 g dekstrosa kemudian
dimasukkan air steril hingga volumenya menjadi satu liter. Kemudian dipanaskan dan
diaduk hingga medium tampak bening. Lalu medium disterilisasi dalam autoklaf pada
suhu 121oC dan tekanan 15 psi selama 15 menit. Media yang telah disterilisasi
selanjutnya dituang ke dalam cawan Petri. (Kaewprasert, 2009).
NB (nutrient broth) adalah media umum untuk uji air dan produk dairy. Nb
merupaka media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair yang bahan dasarnya adalah
ekstrak beef dan peptone. Nb dibuat dengan melarutkan pepton dalam air akuades. Lalu
larutkan ekstrak daging dalam larutan sebelumnya. Atur ph hingga 7,0 dan beri air
destilasi. Selanjutnya sterilisasi denga autoklaf.
Spektrofotometer selain merupakan alat pengukuran kualitatif juga merupakan
alat pengukuran kuantitatif, karena jumlah sinar yang diserap oleh partikel di dalam
larutan juga tergantung pada jenis dan jumlah partikel. Prinsip penggunaan spektrum
fotometer adalah berdasarkan hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert-Beer menyatakan
bahwa setiap lapisan dengan ketebalan yang sama dari sebuah medium penyerap, akan
menyerap sejumlah fraksi yang sama dari energi radiasi yang melewatinya (Bintang,
2010).
Pada umunya semakin tinggi suhu pertumbuhan bakteri, tesistensi terhadap pemanasan
semakin tinggi. Pada tabung yang berisi medium PDB masing-masing diberi 0,1 ml
suspensi Saccharomyces, sedangkan pada tabung yang berisi medium NB masing-
masing diberi 0,1 ml suspensi Pseudomonas. Untuk setiap seri mikroba, satu tabung
digunakan sebagai kontrol dan 3 tabung lainnya dipanaskan dalam penangas air suhu 60
o
C selama 5, 10, dan 20 menit. Kemudian semua tabung diinkubasi selama 1 hari.
Setelah 1 hari diukur absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm untuk mengetahui
adanya peningkatan kekeruhan.
Dari hasil praktikum shift 1 pada kontrol, pemanasan selama 5 menit, 10 menit dan 20
menit mendapatkan nilai absorbansi untuk suspensi Saccharomyces pada ulangan 1 yaitu
0,847 Å; 0,891 Å; 1,025 Å dan 1,113 Å. Dan pada ulanga ke 2 didapatkan nilai absorbansi
sebesar 0,163; 0,100; 0,099; dan 0,166.
Sedangkan untuk suspensi Pseudomonas, nilai absorbansinya yang didapatkan pada
control shift 1, pemanasan 5 menit, pemanasan 10 menit dan pemanasan 20 menit yaitu 0,252
Å; 0,314 Å; 0,230 Å dan 0,148Å. Pada ulangan ke 2 dengan perlakuan yang sama yaitu 0,146 Å;
0,189 Å; 0,182 Å dan 0,199. Kemudian pada data shit ke 3, mendapatkan nilai sebesar 0,256 Å;
0,209 Å; 0,262 Å dan 10,172 Å.

Saccharomycess merupakan khamir mesofilik, yaitu khamir yang mempunyai suhu


optimal pertumbuhan 25-400C. Sedangkan Pseudomonas merupakan bakteri psikrofilik, yaitu
bakteri yang mempunyai suhu optimum pertumbuhan 10-200C. Dilihat dari tingkat
kekeruhannya, maka dapat disimpulkan bahwa pada suhu kamar, Saccharomycess dapat
tumbuh dengan baik pada medium PDB.

Dari hasil praktikum didapatkan nilai absorbansi suspensi Saccharomyces semakin naik
dari kontrol hingga perlakuan pemanasan 5 menit hinggan menit ke 20 pada ulangan ke 1.
Sedangkan pada ulangan ke 2 nilai absorbansinya dari kontrol semakin menurun hinggan 10
menit dan meningkat pada menit ke 20. Sedangkan hasil praktikum didapatkan nilai absorbansi
suspensi Pseudomonas meningkat dari kontrol hingga perlakuan pemanasan 5 menit,
kemudian turun pada pemanasan 10 menit dan kembali turun pada perlakuan pemanasan 20
menit.

Nilai absorbansi yang besar menandakan bahwa suspensi tersebut semakin keruh.
Suspensi ini keruh karena semakin banyaknya mikroba yaitu Saccharomyces dan Pseudomonas
yang tumbuh dalam medium tersebut. Seharusnya semakin tinggi suhu perlakuan maka
semakin kecil nilai absorbansi yang berarti bahwa semakin sedikit mikrobia yang tumbuh pada
medium tersebut. Karena perlakuan suhu tinggi merupakan salah satu cara untuk
mengendalikan pertumbuhan mikrobia. Namun pada praktikum ini ada beberapa yang tidak
sesuai dengan teori tersebut. Dari data nilai absorbansi yang telah didapatkan sampel suspensi
Saccharomyces mengalami kenaikan kekeruhan di menit ke 5 dan kembali mengalami
penurunan di menit ke 10 dan 20. Namun pada sampel suspensi Pseudomonas, telah
memenuhi teori karena semakin lama pemanasan maka jumlah bakteri yang ada semakin
sedikit dan nilai kekeruhan semakin kecil. Pada sampel Saccharomyces tidak sesuai teori.
Penyimpangan yang terjadi dapat disebabkan karena suhu yang digunakan tidak tepat 60 oC dan
waktu pemanasan yang tidak tepat 5, 10, dan 20 menit, dapat juga terjadi karena adanya
kontaminan bakteri dari luar pada saat inokulasi sampel dan dikarenakan kurang telitinya
dalam pembacaan nilai absorbansi.