Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENYAKIT TUBERCULOSIS
DI PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI

DISUSUN OLEH :KELOMPOK I

YULDA YURISTIKA G1B218003


STASIA ARINOPITA G1B218005
MUNIRO G1B218007
WIDYA RIVANI G1B218010
SRIWATI G1B218021
ULBAQ SHEPTIA G1B218022
PUTRINUGRAHA W.A G1B218025
ABZALURAHMAN G1B218027

Dosen Pembimbing
Ns. Yosi Oktarina, S. Kep. M. Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019

1
PRE PLANNING
PENYAKIT TUBERCULOSIS
DI PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI

Topik/Judul kegiatan : Penyakit Tuberculosis


Hari/Tanggal : 20 April 2019
Jam : 08:00 WIB
Waktu : 30 Menit
Tempat : Klinik Lansia Puskesmas Putri Ayu
Sasaran : Lansia
Target : ±10 orang

A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Microbakterium tuberkulosa.Bakteri ini merupakan
bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk
mengobatinya.Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobakterium
tuberkulosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi
terbanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif
Mansyur, 2000).
Laporan WHO (global reports 2010), menyatakan bahwa pada tahun 2009
angka kejadian TB di seluruh dunia sebesar 9,4 juta (antara 8,9 juta hingga 9,9
juta jiwa) dan meningkat terus secara perlahan pada setiap tahunnya dan menurun
lambat seiring didapati peningkatan per kapita. Prevalensi kasus TB di seluruh
dunia sebesar 14 juta (berkisar 12 juta sampai 16 juta). Jumlah penderita TB di
Indonesia mengalami penurunan, dari peringkat ke tiga menjadi peringkat ke lima
di dunia, namun hal ini dikarenakan jumlah penderita TB di Afrika Selatan dan
Nigeria melebihi dari jumlah penderita TB di Indonesia. Estimasi prevalensi TB
di Indonesia pada semua kasus adalah sebesar 660.000 dan estimasi insidensi
berjumlah 430.000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan
61.000 kematian per tahun. Selain itu, kasus resistensi merupakan tantangan baru

2
dalam program penanggulangan TB. Pencegahan meningkatnya kasus TB yang
resistensi obat menjadi prioritas penting. (Universitas Sumatera Utara)
Semakin jelas bahwa kasus resistensi merupakan masalah besar dalam
pengobatan pada masa sekarang ini. Berdasarkan wilayah administratif di
Indonesia, Provinsi Jawa Timur menempati urutan ke 8 angka temuan kasus TBC
paru terbesar tahun 2007, meskipun belum mencapai target yang ditetapkan.
Sebaran angka temuan kasus tersebut yaitu DKI Jakarta(88,14%), Sulawesi Utara
(81,36%), Banten (74,62%), Jawa Barat (67,57%), Sumatra Utara (65,48%),
Gorontalo (62,15%), Bali (61,39%), Jawa Timur (59,83%), DI Yokyakarta
(53,23%), Sumatra Barat (51,36%) (Depkes RI, 2007). (Universitas Sumatera
Utara).
Data dari Puskemas Putri Ayu Kota Jambi, rekapitulasi penderita
tuberculosis yang datang ke Puskesmas Putri Ayu pada tahun 2018 adalah
sebanyak 67 orang dewasa dengan 15 lansia dan 1 anak-anak. Sedangkan pada
tahun 2019 di Puskesmas Putri Ayu dari bulan januari sampai bulan maret adalah
sebanyak 24 orang dewasa dan 1 anak-anak.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan
pasien atau keluarga pasien dapat menambah pengetahuan tentang
tuberculosis dan dapat berperan serta dalam mencegah terjadinya
tuberculosis.

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan
lansia dapat mengerti dan menyebutkan kembali yang dipaparkan seperti:
1. Memahami Pengertian tuberculosis
2. Memahami Klasifikasi tuberculosi
3. Memahami Penyebab tuberculosi
4. Memahami Tanda dan gejala tuberculosis
5. Memahami Penatalaksanaan tuberculosis

3
6. Memahami Komplikasi tuberculosis

C. METODE
Presentasi, diskusidan tanya jawab

D. MEDIA DAN ALAT


a. Leaflet
b. Proyektor
c. Laptop

E. PENGORGANISASIAN
a. Penanggung jawab : Stasia Arinopita, S.kep
Tugas :
1) Bertanggung jawab terhadap berlangsungnya acara, sejak
perencanaan pertemuan, pelaksanaan sampai evaluasi dan pelaporan.
2) Mengkoordinasikan pertemuan
3) Menjawab pertanyaan
b. Moderator : Yulda Yuristika, S. Kep
Tugas :
1) Membuka acara
2) Memperkenalkan tim dan perannya
3) Menjelaskan tujuan pertemuan
4) Membuat kontak waktu
5) Memimpin dan menggerakkan pelaksanaan penyuluhan
6) Menenangkan audiens
7) Membuka sesi tanya jawab
8) Mengevaluasi hasil kegiatan acara
9) Menutup acara
c. Penyaji : Widya Rivani, S.kep
Tugas :
1) Menyajikan dan menjelaskan materi kepada audiens.
2) Mengevaluasi pengetahuan audiens mengenai materi penyuluhan

4
3) Menjawab pertanyaan
d. Demonstran : Ulbaq Sheptia, S.Kep
Sriwati, S.Kep
Tugas :
1) Menjawab pertanyaan
e. Observer : Muniro, S.Kep
Tugas :
1) Bertanggung jawab untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan
mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, evaluasi,
danpelaporan.
2) Mengamati proses pelaksanaan dari awal sampai akhir.
3) Membuat laporan hasil penyuluhan.
4) Menjawab pertanyaan
f. Fasilitator : Putrinugraha W.A, S.Kep
Abzalurahman, S.Kep
Tugas :
1) Memfasilitasi peserta untuk berperan aktif selama jalannya diskusi.
2) Mempertahankan audiens tetap berada di tempat
3) Menenangkan audiens
4) Menjawab pertanyaan

5
g. Setting tempat

Keterangan:
: Pembimbing lahan : Pasilitator
: Penyaji : Observer

: Moderator :Alat bantu penyuluhan


: Peserta : Penanggung jawab
: Dosen

F. RENCANA KEGIATAN

No Tahap
Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Waktu
Kegiatan
1. Pembukaan  Memberi salam 5
 Perkenalan tugas  Menjawab salam Menit
mahasiswa dan dosen  Memperhatikan
 Menjelaskan tujuan  Memperhatikan dan

6
penyuluhan mendengarkan
 Menyebutkan materi /  Memperhatikan dan
pokok bahasan yang akan mendengarkan
disampaikan
 Menjelaskan kontrak waktu

2 Penjelasan  Mengkaji pengetahuan 20


responden tentang ;  Memperhatikan dan Menit
- Pengertian mendengarkan
Tuberculosis  Mengungkapkan
- Klasifikasi pendapat (bertanya)
Tuberculosis  Memperhatikan
- Penyebab Tuberculosis
 Menjelakan tentang :
- Pengertian
Tuberculosis
- Klasifikasi
Tuberculosis
- Penyebab Tuberculosis
- Tanda dan gejala
Tuberculosis
- Penatalaksanaan
Tuberculosis
- Komplikasi
Tuberculosis
- Pencegahan
Tuberculosis
 Memberi kesempatan
untuk bertanya
 Menjawab pertanyaan.
3. Penutup  Mengevaluasi kembali  Menjawab pertanyaan 5
pengetahuan peserta Menit

7
penyuluhan  Peserta menjawab
 Mengakhiri pertemuan salam
dengan mengucapkan
terimakasih dan salam

G. EVALUASI HASIL
1. Evaluasi struktur
a. 75 % peserta mengikuti kegiatan
b. Tempat dan alat tersedia sesuai perencanaan
c. Peran dan tugas mahasiswa sesuai perencanaan

2. Evaluasi proses
a. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang direncanakan
b. Semua peserta yang hadir mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
c. Peserta berperan aktif dalam mengajukan pertanyaan dan
mengemukakan pendapat selama jalannya diskusi.
d. Tidakadapeserta yang keluar masuk selama jalannya kegiatan

3. Evaluasi hasil
a. 80 % peserta dapat menyebutkan definisiTuberculosis
b. 80 % peserta dapat menyebutkan 2 dari 3 klasifikasi Tuberculosis
c. 80 % peserta dapat menyebutkan 4 dari 9penyebab Tuberculosis
d. 80 % peserta dapat menyebutkan 3 dari 5 tanda dan gejala
Tuberculosis
e. 80 % peserta dapat menyebutkan pengobatan dan pencegahan
Tuberculosis

8
MATERI PENYULUHAN PENCEGAHAN PENULARAN TBC
2.1.1 Pengertian
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit granulomatosa kronis menular
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini biasanya
mengenai paru, tetapi dapat menyerang semua organ atau jaringan tubuh,
misalnya pada lymph node, pleura dan area osteoartikular.Biasanya pada bagian
tengah granuloma tuberkel mengalami nekrosis perkijuan (Depkes RI, 2002).
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes RI,
2007).
Tuberkulosis yang menyerang organ selain paru (kelenjar limfe, kulit, otak,
tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra paru. Mycobacterium
tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6
mikron, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh
karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman tuberkulosis cepat
mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di
tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini
dapat dormant atau tertidur lama dalam beberapa tahun.

2.1.2 Etiologi
Penyebab tuberkolosis adalah Mycobacterium tuberkolosis.Basil ini tidak
berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari, dan sinar
ultraviolet.Ada dua macam mikrobakteria tuberkolosis yaitu tipe human dan tipe
bovin. Basil tipe bovin berada dalam susu sapi yang menderita mastitis
tuberkolosis usus. Basil tipe human bisa berada di bercak ludah (droplet) di udara
yang berasal dari penderita TBC terbuka dan orang yang rentan terinfeksi TBC ini
bila menghirup bercak ini.Perjalanan TBC setelah infeksi melalui udara.Kuman
TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup
beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.Dalam jaringan tubuh kuman ini
dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. (Wim de Jong et al. 2005).

9
a. Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman
TBC.Percikan dahak yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga
dapat melewati sistem pertahanan mukosilierbronkus, dan terus berjalan
sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat
kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri di
paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan
membawa kuman TBC ke kelenjar limfe disekitar hilus paru dan ini
disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai
pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu.Adanya infeksi
dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari
negatif menjadi positif.Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari
banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh
(imunitasseluler).Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat
menghentikan perkembangan kuman TBC. Meskipun demikian ada
beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant
(tidur). Kadang-kadang daya tubuh tidak mampu menghentikan
perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang
bersangkutan akan menjadi penderita TBC.
b. Tuberkulosis Pasca Primer
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau
tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun
akibat terinfeksi HIV atau status gizi buruk.Ciri khas dari tuberkulosis
pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas
atau efusi pleura. (Barbara, C.L. 1996. Perawatan Medikal Bedah)

2.1.3 Cara Penularan TBC


Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikobakterium Tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk dan
pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa.
Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang

10
biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang
rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening.
Bakteri penyebab TBC ini menyebar ke udara saat penderita TBC batuk,
bersin atau pun berbicara melalui droplet atau lendir penderita. Lalu, orang yang
menghirup bakteri tersebut pun dapat terinfeksi bakteri penyebab TBC tersebut.
Hal tersebutlah yang menjadi satu-satunya cara penyebaran dan penularan dari
bakteri TBC, sedangkan banyak orang mengira berbagai hal lainnya juga dapat
menjadi penyebab tertularnya penyakit TBC, padahal berbagai hal tersebut
sebenarnya tidak berpengaruh dalam hal penularan gejala batuk TBC. Hal apa saja
yang sering dianggap sebagai cara penularan dari TBC, namun padahal tidak? Ini
dia:
a. Berjabat tangan dengan penderita TBC.
b. Berbagi makanan atau minuman dengan orang yang menderita TBC.
c. Berciuman.
d. Menyentuh bagian toilet atau wastafel.
e. Memakai sikat gigi bersama.
Daya tahan tubuh juga merupakan salah satu faktor yang bepengaruh dalam
hal penulanaran TBC, kemampuan untuk melawan infeksi adalah kemampuan
pertahanan tubuh untuk mengatasi organisme yang menyerang. Berikut adalah
faktor-faktor orang terkena TBC daya tahan tubuh yang kurang:

a. Gizi Buruk
Terdapat bukti sangat jelas bahwa kelaparan atau gizi buruk mengurangi
daya tahan terhadap penyakit ini. Faktor ini sangat penting pada
masyarakat miskin, baik pada orang dewasa maupun pada
anak.Kompleks kemiskinan seluruhnya ini lebih memudahkan TB
berkembang menjadi penyakit.Namun anak dengan status gizi yang
baik tampaknya mampu mencegah penyebaran penyakit tersebut di dalam
paru itu sendiri.
b. Orang Berusia Lanjut atau Bayi Pengidap Infeksi HIV/AIDS
Pengaruh infeksi HIV/AIDS mengakibatkan kerusakan luas sistem daya
tahan tubuh, sehingga jika terjadi infeksi seperti tuberculosis maka yang
bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan

11
kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah
penderita TBC akan meningkat, dengan demikian penularan TBC di
masyarakat akan meningkat pula. Oleh karena itu, pada penderita TBC
wajib dilakukan skrining HIV atau pemeriksaan HIV.

2.1.4 Tanda Dan Gejala


Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi 2, yaitu gejala umum dan gejala
khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat.Gambaran secara klinis
tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk
menegakkan diagnosa secara klinik. (Depkes RI, 2007)
b. Gejala Sistemik/Utama
1) Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama,
biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam.
2) Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat
hilang timbul.
3) Penurunan nafsu makan dan berat badan.
4) Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan
darah).
5) Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
c. Gejala Khusus
1) Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-
paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar,
akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang
disertai sesak.
2) Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru),
dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
3) Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi
tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan
bermuara pada kulit diatasnya, pada muara ini akan keluar
cairan nanah.

12
4) Pada anak–anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus
otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak),
gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran
dan kejang – kejang. (Barbara, C.L. 1996. Perawatan Medikal
Bedah)

2.1.5 Klasifikasi
Ada beberapa klasifikasi Tb paru yaitu menurut Depkes (2007) yaitu :

a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:


1. Tuberkulosis paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang
menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput
paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ
tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung
(pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
b. Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat
pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe pasien yaitu:
1. Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2. Kasus kambuh (relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya
pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh
tetapi kambuh lagi.
3. Kasus setelah putus berobat (default ) Adalah pasien yang telah berobat
dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
4. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan
dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima
atau lebih selama pengobatan.
5. Kasus lain Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas,
dalam kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan
(Depkes RI, 2006)

13
2.1.6 Patofisiologi
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi
sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil.Gumpalan basil yang besar cenderung
tertahan di hidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan
penyakit.Setelah berada di ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus
atas paru-paru atau di bagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan.Leukosit polimorfonuklear tampak di
daerah tersebut dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme
ini. Sesudah hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag.
Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala
peneumonia akut. Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya,
sehingga tidak ada sisa atau proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus
difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui
getah bening menuju kelenjar getah bening regional. (Dannenberg, 1981
dikutip dalam Price, 1995).
Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian
bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh
limposit.Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.Nekrosis pada bagian sentral
menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut nekrosis
kaseosa.Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di
sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon
yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan
parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi
tuberkel.
Lesi primer paru dinamakan fokus ghon dan gabungan terserangnya
kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon.
Respon lain yang dapat terjadi di daerah nekrosis adalah pencairan di mana
bahan cair lepas ke dalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkel
yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan
trakeobronkhial. Proses ini dapat terulang lagi ke bagian paru lain atau
terbawa ke bagian laring, telinga tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat
menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut

14
fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan
tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan pembatasan bronkus
rongga.Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir
melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan
dan lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas.
Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau membentuk
lagi hubungan dengan bronkus sehingga menjadi peradangan aktif.Penyakit
dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang
lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah
kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada organ lain. Jenis penyebaran ini
disebut limfohematogen yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran
hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan
tuberkulosis milier.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah
sehingga banyak organisme yang masuk ke dalam sistem vaskuler dan
tersebar ke organ-organ lainnya. (Barbara, C.L. 1996. Perawatan Medikal
Bedah)

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik


a. Pemeriksaan Lab
1) Anemia bila penyakit berjalan menahun.
2) Leukosit ringan dengan predominasi limfosit.
3) LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut
kembali normal pada tahap penyembuhan.
4) GDA : normal tergantung lokasi.
b. Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum)
1) Kultur sputum : (+) mikrobakterium tbc pada tahap aktif penyakit
2) Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk
usapan cairan darah) (+), untuk basil asam-cepat.
3) Test mantox reaksi intradermal antigen menunjukkan infeksi masa
lalu dan adanya antibody tetapi tidak secara berarti menunjukkan
penyakit aktif. Reaksi bermakan pada pasien yang secara klinik
sakit berarti TB aktif tidak dapat ditularkan micobakterium.

15
4) Pemeriksaan histologik/kultur jaringan (termasuk pembersihan
gaster, urin menurun, cairan serebrospinal biopsy (+), untuk
mycobacterium tuberculosis.
c. Pemeriksaan radiologi
Foto thorak : infiltrasi lesi awal pada area paru atas simpanan kalsium lesi
sembuh primer/efusi cairan perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat
termasuk rongga akan fibrosa.
d. Pemeriksaan fungsi paru
Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara
residu; kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap
infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan peny. pleural.
(Barbara, C.L. 1996. Perawatan Medikal Bedah)

2.1.8 Penatalaksanaan/Pengobatan
Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Mikobakteri merupakan kuman tahan
asam yang sifatnya berbeda dengan kuman lain karena tumbuhnya sangat lambat
dan cepat sekali timbul resistensi bila terpajan dengan satu obat. Umumnya
antibiotika bekerja lebih aktif terhadap kuman yang cepat membelah
dibandingkan dengan kuman yang lambat membelah. Sifat lambat membelah
yang dimiliki mikobakteri merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
perkembangan penemuan obat antimikobakteri baru jauh lebih sulit dan lambat
dibandingkan antibakteri lain.

Panduan penyiapan paket perorangan obat anti TB (OAT) kombinasi dosis


tetap (KDT) : Panduan obat TB OAT berikut hanya untuk pasien dewasa, dimana
pada awal pengobatan diberikan terapi obat selama 2 bulan obat yang diminum
setiap hari dan untuk tahap selanjutnya selama pengabatan bulan ke 3 sampai
dengan bulan ke 6 diberikan terapi obat yang harus diminum 3 kali dalam
seminggu.
Berikut adalah tabel paket peroranagan obat anti TB (OAT) kombinasi dosis tetap
(KDT)

16
2.1.9 Komplikasi
a. Pneumonia (radang parenkim paru).
b. Efusi pleura (cairan yang keluar ke dalam rongga pleura).
c. Pneumotorak (adanya udara dan gas dalam rongga selaput dada).
d. Empiema.
e. Lasingitis.
f. Menjalar ke orang lain (spt, usus).
Komplikasi lanjut :

a. Obstruksi jalan nafas SOPT (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis).


b. Kerusakan parenkim berat SOPT / fibrosis paru.
c. Amiloi dosis.
d. Karsinoma paru.
e. Sindrom Gagal Nafas (Dewasa (ARDS)).

2.1.10 Mencegah Penularan TBC


Ingat bahwa di Indonesia, penyakit TBC masih merupakan penyakit
epidemiologi, sehingga jumlah penderita TBC masih sangat banyak dan
berpotensi untuk terus menularkan bakteri TBC. Agar kita dapat tehindar dari
penyakit TBC, maka kita dapat melakukan hal-hal berikut:
a. Imunisasi BCG; imunisasi BCG biasanya didapat ketika bayi. Jika Anda
memiliki bayi, maka berikanlah imunisasi dasar lengkap agar si bayi juga
mendapatkan imunisasi BCG.
b. Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera
mendapatkan pengobatan sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang
lebih berat dan menjadi sumber penularan bakteri TBC.
c. Bagi penderita tidak meludah sembarangan. Pada dasarnya penularan
bakteri TBC berasal dari dahak penderita TBC. Walaupun dahak dari
penderita TBC sudah mengering, tetap berpotensi menyebarkan bakteri
TBC melalui udara.
d. Tidak melakukan kontak udara dengan penderita. Bagi Anda yang masih
sehat, sebaiknya membatasi interaksi dengan orang yang menderita TBC

17
atau Anda dapat menggunakan alat pelindung diri (masker) ketika Anda
harus kontak dengan mereka.
e. Minum obat pencegah dan hidup secara sehat.
f. Rumah harus memiliki ventilasi udara yang baik, sehingga sinar matahari
pagi dapat masuk ke dalam rumah.
g. Menutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak
meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan
tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan
untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran

18
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, dkk., ( 2000 ), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medica


Aesculpalus, FKUI, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Nasional


PenanggulanganTuberkulosis. Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Protokol Surveilans HIV


diantara pasien TB di Indonesia. Jakarta : Depkes RI, UGM, Asia Link,
KNCV.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2:cetakan II, Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.

Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan


Medikal Bedah. EGC: Jakarta.

Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 2. Jakarta : EGC, 20
04. pp.519-37

Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses


keperawatan): Bandung.

Price, Sylvia. A, Lorraine, M. Wilson. (1995). Buku 1 Patofisiologi “Konsep


Klinis Proses-Proses Penyakit”, edisi : 4. Jakarta : EGC.

19