Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

Intra Uterine Growth Restriction

(IUGR)

Dokter Pembimbing:

dr. Bonar Sinaga, Sp.OG

Disusun Oleh:

Betaniasty Ariadno Daeli (18010038)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN

DEPARTEMEN OBSTETRIC GINEKOLOGI

RSUD SIDIKALANG

2019
KATA PENGANTAR

Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia, rahmat
kesehatan, dan keselamatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan laporan
kasus ini tepat pada waktu. Penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada
orang tua penulis, dokter pembimbing, para staf perawat di Rumah Sakit Umum
Sidikalang dan teman-teman yang telah mendukung dalam penulisan laporan ini.
Secara khusus kami ucapkan terima kasih kepada dr. Bonar Sinaga, Sp. OG
yang telah bersedia membimbing, dan meluangkan waktunya kepada penulis untuk
menyempurnakan dalam penyusunan dan perbaikan makalah ini hingga selesai.
Penulisan referat dengan judul Intra Uterine Growth Restriction ini bertujuan
untuk mengetahui pencapaian pembelajaran dalam kepaniteraan klinik senior di
Departemen Obstetric di Rumah Sakit Umum Sidikalang.
Penulis menyadari bahwa penyusunan refarat ini masih memiliki kekurangan
dan jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis dan
pembatasan waktu. Oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang
membangun guna menyempurnakan laporan ini. Akhir kata, penulis mengucapkan
terima kasih dan berharap agar referat ini dapat bermanfaat.

Sidikalang, April 2019

Betaniasty Ariadno Daeli


BAB I

I. PENDAHULUAN
Bayi dengan berat badan lahir rendah yang kecil masa kehamilan
sering ditandai mengalami hambatan pertumbuhan janin. Istilah retardasi
pertumbuhan janin sudah tidak terpakai, karena “retardasi” menyiratkan
fungsi mental yang abnormal, yang bukan merupakan maksud sebenarnya.
IUGR adalah gangguan pertumbuhan pada janin dan bayi baru lahir
yang meliputi semua parameter (lingkar kepala, berat badan, panjang
badan). Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan
pertumbuhan janin terhambat (PJT) seperti pseudomature, small for date,
dysmature, fetal malnutrition syndrome, chronic fetal distress, IUGR dan
small for gestational age (SGA).
Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah setiap bayi yang
berat badan lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari presentil ke-10
untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curves adalah
bayi SGA. Ini dapat terjadi pada bayi yang prematur, matur, ataupun
postmatur.
Di negara berkembang, angka kejadian PJT berkisar antara 2%-8%
pada bayi dismature, pada bayi mature 5% dan pada postmature 15%.
Sedangkan angka kejadian untuk SGA adalah 7% dan 10%-15% adalah
janin dengan PJT.
Tidak semua bayi dengan berat lahir kurang dari persentil ke-10
terhambat pertumbuhannya secara patologis, beberapa diantaranya kecil
hanya karena faktor konstitusional. Bahkan, Manning dan Hohler (1991)
serta Gardosi, dkk (1992) menyimpulkan bahwa 25-60% bayi yang secara
konvensional didiagnosis sebagai KMK sebenarnya tumbuh secara baik
jika determinan berat lahir seperti kelompok etnis ibu, paritas, berat badan
dan tinggi badan ikut dipertimbangkan.

BAB II
II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Difinisi

Menurut WHO (1969), janin yang mengalami pertumbuhan yang


terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat
standard atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.

IUGR (intrauterine growth restriction) adalah gangguan pertumbuhan


pada janin dan bayi baru lahir yang meliputi semua parameter (lingkar
kepala, berat badan, panjang badan), yang beratnya dibawah 10 persentil
untuk usia gestasionalnya. Bayi-bayi antara persentil 10 dan 90
diklasifikasikan sebagai kelompok dengan berat sesuai usia gestasional.

Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterine Growth Restriction


adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan pertumbuhan
janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan tertentu dari
usia kehamilannya.

Menurut Gordon(2005), pertumbuhan janin terhambat (Intrauterine


growth restriction) diartikan sebagai suatu kondisi dimana janin berukuran
lebih kecil dari standar ukuran biometri normal pada usia kehamilan.
Kadang pula istilah PJT sering diartikan sebagai kecil untuk masa
kehamilan-KMK (small for gestational age). Umumnya janin dengan PJT
memiliki taksiran berat dibawah persentil ke-10. Artinya janin memiliki
berat kurang dari 90 % dari keseluruhan janin dalam usia kehamilan yang
sama. Janin dengan PJT pada umumnya akan lahir prematur (<37 minggu)
atau dapat pula lahir cukup bulan (aterm, >37 minggu). Bila berada di
bawah presentil ke-7 maka disebut small for gestational age (SGA), di
mana bayi mempunyai berat badan kecil yang tidak menimbulkan
kematian perinatal.
Gambar 1. Bayi dengan IUGR (kiri) dan bayi dengan pertumbuhan normal
sesuai usia gestasi

Gambar 2. Persentil Berat Badan Janin sesuai dengan Usia


Kehamilan

Jadi ada dua komponen penting pada PJT yaitu:


1. Berat badan lahir di bawah presentil ke-10
2. Adanya faktor patologis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Sedangkan pada SGA ada dua komponen yang berpengaruh yaitu:
1. Berat badan lahir di bawah presentil ke-7
2. Tidak adanya proses patologis.
Ada dua bentuk PJT menurut Renfield (1975) yaitu:
1. Proportionate Fetal Growth Restriction: Janin yang menderita distress
yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu
sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan
lingkar kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya
masih di bawah gestasi yang sebenarnya.
2. Disproportionate Fetal Growth Restriction: Terjadi akibat distress
subakut. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum
janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkar kepala normal akan tetapi
berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak waste dengan tanda-
tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan
mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.

Pada bayi PJT perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang,


berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan pun
mengalami perubahan misalnya Drillen (1975) menemukan berat otak,
jantung, paru dan ginjal bertambah sedangkan berat hati, limpa, kelenjar
adrenal dan thimus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat
yang sama. Perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa
gestasinya

II.2. Pertumbuhan Normal Intrauterin

Pada masa kehamilan janin mengalami pertumbuhan tiga tahap di


dalam kandungan, yaitu:
1. Hiperplasia, yaitu: Pada 4-20 minggu kehamilan terjadi mitosis
yang sangat cepat dan peningkatan jumlah DNA.

2. Hiperplasia dan hipertrofi, yaitu: Pada 20-28 minggu aktifitas


mitosis menurun, tetapi peningkatan ukuran sel bertambah.
3. Hipertrofi, yaitu: Pada 28-40 minggu pertumbuhan sel menjadi
maksimal terutama pada minggu ke 33, penambahan jumlah
lemak, otot dan jaringan ikat tubuh.

II.3. Perkembangan PJT Intrauterin

Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh


kondisi diet rendah nutrisi terutama protein
- Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan
Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas
dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa
kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat
pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal
kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris.
Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi
hiperglikemia pada kehamilan lanjut
- Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta,
tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai
kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.
- Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi
antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada
lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan
pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan
membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses
perlambatan pertumbuhan yang irreversibel.

II.4. Epidemiologi

Prevalensi IUGR di dunia adalah 6 kali lebih tinggi di negara


berkembang, (75%) di antaranya berada di Asia. Menurut data World
Health Organisation (WHO) tahun 2013, prevalensi IUGR di
Indonesia meningkat sekitar 30-40%. Angka pasti insiden IUGR sulit
diketahui karena pencatatan tentang usia gestasi tidak tesedia di negara
yang sedang berkembang (Winkjosastro 2008)
Pencatatan prevalensi IUGR tidak ada di Indonesia.
Pemerintah, Dinas Kesehatan, maupun lembaga riset hanya
mempublikasikan angka kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR),
tanpa mengklasifikasikan usia gestasi dan diagnosa pendukungnya.
Tidak semua BBLR dikategorikan IUGR, karena beberapa bayi
prematur meskipun berat badan lahirnya
Prevalensi gangguan IUGR (Intra Uterine Growth Restriction)
atau pertumbuhan janin terhambat (PJT) sekitar 8% dari populasi
umum. Diasia terdapat 9,248 kasus PJT. Di Indonesia kasus PJT
mencapai angka 19,8% hal ini menunjukan 52% bayi lahir mati
berhubungan dengan PJT dan 10% terjadi kematian masa perinatal
sebagai konsekuensi dari PJT dan 72% terjadi kematian janin yang
tidak dapat dijelaskan berhubungan dengan PJT.

II.5. Etiologi

PJT merupakan hasil dari suatu kondisi ketika ada masalah


atau abnormalitas yang mencegah sel dan jaringan untuk tumbuh atau
menyebabkan ukuran sel menurun. Hal tersebut mungkin terjadi ketika
janin tidak cukup mendapat nutrisi dan oksigen yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan organ dan jaringan, atau karena
infeksi. Meskipun beberapa bayi kecil karena genetik (orang tuanya
kecil), kebanyakan PJT disebabkan oleh sebab lain.

Penyebab dari PJT dapat dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu:

1. Maternal
 Tekanan darah tinggi
 Penyakit ginjal kronik
 Diabetes Melitus
 Penyakit jantung dan pernapasan
 Malnutrisi dan anemia
 Infeksi
 Pecandu alkohol dan obat tertentu
 Perokok
2. Uterus dan Plasenta
 Penurunan aliran darah di uterus dan plasenta
 Plasenta abruption, plasenta praevia, infark plasenta (kematian
sel pada plasenta), korioangioma.
 Infeksi di jaringan ikat sekitar uterus
 Twin-to-twin transfusion syndrome
3. Janin
 Janin kembar
 Penyakit infeksi (Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat
menyebabkan PJT. Rubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah
infeksi yang sering menyebabkan PJT).
 Kelainan kongenital
 Kelainan kromosom (Kelainan kromosom seperti trisomi atau
triploidi dan kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan
dengan PJT. Trisomi 18 berkaitan dengan PJT simetris serta
polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan
sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT) .
 Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin).
Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti
kejang, rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT.

Penyebab dari PJT menurut kategori retardasi pertumbuhan simetris dan


asimetris dibedakan menjadi:

1. Simetris: Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin


yang tidak simetris, semua organ mengecil secara proporsional. Faktor yang
berkaitan dengan hal ini adalah kelainan kromosom, kelainan organ
(terutama jantung), infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Other Agents
<Coxsackie virus, Listeria), Rubella, Cytomegalovirus, Herpes
simplex/Hepatitis B/HIV, Syphilis), kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil,
dan wanita hamil yang merokok. Faktor-faktor lainnya:

a. Pertambahan berat maternal yang jelek


b. Infeksi janin
c. Malformasi kongenital
d. Kelainan kromosom
e. Sindrom Dwarf
2. Asimetris: Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian
lebih lama dibandingkan gangguan pertumbuhan janin simetris. Beberapa
organ lebih terpengaruh dibandingkan yang lain, lingkar perut adalah bagian
tubuh yang terganggu untuk pertama kali, kelainan panjang tulang paha
umumnya terpengaruhi belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal
juga berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak
efisiennya) plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk
diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan dalam
kehamilan. Faktor-faktor lainnya:

a. Penyakit vaskuler

b. Penyakit ginjal kronis

c. Hipoksia kronis

d. Anemia maternal

e. Abnormalitas plasenta dan tali pusat

f. Janin multipel

g. Kehamilan postterm

h. Kehamilan ekstrauteri
3. Kombinasi Simetris dan Asimetris (Intermediate):

a. Obat-obat teratogenik: Narkotika, tembakau, alkohol, beberapa preparat


antikonvulsan.

b. Malnutrisi berat

II.6. Manifestasi klinis

Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus,


pucat, dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dan layu
dibanding pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul
sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel. Hal ini
terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup
untuk perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena
infeksi. Meski pada sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan
bisa diakibatkan karena faktor genetik (kedua orangtua kecil), kebanyakan
kasus PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK) dikarenakan karena faktor-
faktor lain. Beberapa diantaranya sbb:
PJT dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan. PJT yang muncul
sangat dini sering berhubungan dengan kelainan kromosom dan penyakit
ibu. Sementara, PJT yang muncul terlambat (>32 minggu) biasanya
berhubungan dengan problem lain. Pada kasus PJT, pertumbuhan seluruh
tubuh dan organ janin menjadi terbatas. Ketika aliran darah ke plasenta
tidak cukup, janin akan menerima hanya sejumlah kecil oksigen, ini dapat
berakibat denyut jantung janin menjadi abnormal, dan janin berisiko tinggi
mengalami kematian. Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT akan
mengalami keadaan berikut :

 Penurunan level oksigenasi


 Nilai APGAR rendah (suatu penilaian untuk menolong identifikasi
adaptasi bayi segera setelah lahir)
 Aspirasi mekonium (tertelannya faeces/tinja bayi pertama di dalam
kandungan) yang dapat berakibat sindrom gawat nafas
 Hipoglikemi (kadar gula rendah)
 Kesulitan mempertahankan suhu tubuh janin
 Polisitemia (kebanyakan sel darah merah)

II.7. Diagnosis

Faktor Ibu

Ibu hamil dengan penyakit hipertensi, penyakit ginjal, kardiopulmonal dan


pada kehamilan ganda.

Tinggi Fundus Uteri

Cara ini sangat mudah, murah, aman, dan baik untuk diagnosa pada
kehamilan kecil. Caranya dengan menggunakan pita pengukur yang di
letakkan dari simpisis pubis sampai bagian teratas fundus uteri. Bila pada
pengukuran di dapat panjang fundus uteri 2 (dua) atau 3 (tiga) sentimeter
di bawah ukuran normal untuk masa kehamilan itu maka kita dapat
mencurigai bahwa janin tersebut mengalami hambatan pertumbuhan. Cara
ini tidak dapat diterapkan pada kehamilan multipel, hidramnion, janin
letak lintang.

USG Fetomaternal

Pada USG yang diukur adalah diameter biparietal atau cephalometry angka
kebenarannya mencapai 43-100%. Bila pada USG ditemukan cephalometry
yang tidak normal maka dapat kita sebut sebagai asimetris PJT. Selain itu
dengan lingkar perut kita dapat mendeteksi apakah ada pembesaran organ
intra abdomen atau tidak, khususnya pembesaran hati.

Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan antara ukuran
lingkar kepala dengan lingkar perut (HC/AC) untuk mendeteksi adanya
asimetris PJT.

Pada USG kita juga dapat mengetahui volume cairan amnion,


oligohidramnion biasanya sangat spesifik pada asimetris PJT dan biasanya ini
menunjukkan adanya penurunan aliran darah ke ginjal.

Setiap ibu hamil memiliki patokan kenaikan berat badan. Misalnya, bagi ibu
yang memiliki berta badan normal, kenaikannya sampai usia kehamilan 9
bulan adalah antara 12,5 kg-18 kg, sedangkan bagi yang tergolong kurus,
kenaikan sebaiknya antara 16 kg-20 kg. Sementara, jika Anda termasuk
gemuk, maka pertambahannya antara 6 kg–11,5 kg. Bagi ibu hamil yang
tergolong obesitas, maka kenaikan bobotnya sebaiknya kurang dari 6 kg.
Untuk memantau berat badan, terdapat parameter yang disebut dengan indeks
massa tubuh (IMT). Patokannya, bila :

IMT 20 – 24 = normal IMT 25 – 29 = kegemukan (overweight) IMT lebih


dari 30 = obesitas IMT kurang dari 18 = terlalu keras

Jadi, jika IMT Anda 20-24, maka kenaikan bobot tubuh selama
kehamilan antara 12,5 kg-18 kg, dan seterusnya. Umumnya, kenaikan pada
trimester awal sekitar 1 kg/bulan. Sedangkan, pada trimester akhir
pertambahan bobot bisa sekitar 2 kg/bulan(9).

Doppler Velocimetry
Dengan menggunakan Doppler kita dapat mengetahui adanya bunyi end-
diastolik yang tidak normal pada arteri umbilicalis, ini menandakan bahwa
adanya PJT.

Pemeriksaan Laboratorium

 Pemeriksaan gula darah, bila ada indikasi diabetes mellitus


 Screening penyakit infeksi, waspada infeksi TORCH, Syphilis
 Pengukuran kadar enzim transaminase, waspada Hepatitis B dan C

II.8. Penatalaksanaan
Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali
pasien-pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin
kecil. Langkah kedua adalah membedakan janin PJT atau malnutrisi
dengan janin yang kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah
menciptakan metode adekuat untuk pengawasan janin pada pasien-
pasien PJT dan melakukan persalinan di bawah kondisi optimal.

Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk


mengandung janin kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci
seperti hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu dan riwayat mengandung
bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu diperlukan
pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi
untuk menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian
ukuran-ukuran yang didapatkan pada pemeriksaan tersebut
disesuaikan dengan usia gestasinya. Pertumbuhan janin yang
suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut mengandung janin
PJT.

Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi


yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah
cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu.
Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :
1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah
segera dilahirkan
2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada
janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis
(pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan
pemeriksaan darah janin dianjurkan
a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan
kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus
dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Tirah baring dengan posisi
miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu
dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,
Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam
beberapa kasus IUGR Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan
maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin
termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta
pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu
b. Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya
dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila
penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi harus
diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan
alkohol, maka semuanya harus dihentikan
c. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin
prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk
mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan
apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care
segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian
distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena
umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang
diperparah dengan proses melahirkan
3. Kondisi bayi. Janin dengan PJT memiliki risiko untuk hipoksia perinatal
(kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi mekonium
(terhisap cairan mekonium). PJT yang parah dapat mengakibatkan
hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia (gula darah berkurang).
Pada umumnya PJT simetris dalam jangka waktu lama dapat
mengakibatkan pertumbuhan bayi yang terlambat setelah dilahirkan,
dimana janin dengan PJT asimetris lebih dapat “catch-up” pertumbuhan
setelah dilahirkan.

II.9. Pencegahan

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga,


faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk
mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang
ibu hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi
tinggi; tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik;
mengurangi stress; berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang
cukup. Suplementasi dari protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga
baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia serta pencegahan dan
tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi
harus baik

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah PJT pada janin untuk
setiap ibu hamil sebagai berikut :
1. Usahakan hidup sehat.
Konsumsilah makanan bergizi seimbang. Untuk kuantitas, makanlah
seperti biasa ditambah ekstra 300 kalori/hari.
2. Hindari stress selama kehamilan.
Stress merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi.
3. Hindari makanan obat-obatan yang tidak dianjurkan selama kehamilan.
Setiap akan mengkonsumsi obat, pastikan sepengetahuan/resep dokter
kandungan.
4. Olah raga teratur.
Olah raga (senam hamil) dapat membuat tubuh bugar, dan mampu
memberi keseimbangan oksigenasi, maupun berat badan.
5. Hindari alkohol, rokok, dan narkoba.
6. Periksakan kehamilan secara rutin.
Pada saat kehamilan, pemeriksaan rutin sangat penting dilakukan agar
kondisi ibu dan janin dapat selalu terpantau. Termasuk, jika ada
kondisi PJT, dapat diketahui sedini mungkin. Setiap ibu hamil
dianjurkan melakukan pemeriksaan setiap 4 minggu sampai dengan
usia kehamilan 28 minggu. Kemudian, dari minggu ke 28-36,
pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap 2 minggu sekali. Selanjutnya,
lakukan pemeriksaan setiap 1 minggu sampai dengan usia kelahiran
atau 40 minggu. Semakin besar usia kehamilan, semakin mungkin
pula terjadi hambatan atau gangguan. Jadi, pemeriksaan harus
dilakukan lebih sering seiring dengan bertambahnya usia kehamilan

II.10. Komplikasi

Komplikasi pada PJT dapat terjadi pada janin dan ibu :


1. Janin
Antenatal : gagal nafas dan kematian janin
Intranatal : hipoksia dan asidosis
Setelah lahir :
a. Langsung:
Asfiksia

Hipoglikemi
Aspirasi mekonium
DIC

Hipotermi

Perdarahan pada paru


Polisitemia

Hiperviskositas sindrom
Gangguan gastrointestinal
b. Tidak langsung
Pada simetris PJT keterlambatan perkembangan dimulai dari lambat
dari sejak kelahiran, sedangkan asimetris PJT dimulai sejak bayi
lahir di mana terdapat kegagalan neurologi dan intelektualitas. Tapi
prognosis terburuk ialah PJT yang disebabkan oleh infeksi
kongenital dan kelainan kromosom.
2. Ibu
Preeklampsi

Penyakit jantung
Malnutrisi

II.11. Prognosis

Pada kasus-kasus PJT yang sangat parah dapat berakibat janin lahir
mati (stillbirth) atau jika bertahan hidup dapat memiliki efek buruk jangka
panjang dalam masa kanak-kanak nantinya. Kasus-kasus PJT dapat
muncul, sekalipun Sang ibu dalam kondisi sehat, meskipun, faktor-faktor
kekurangan nutrisi dan perokok adalah yang paling sering. Menghindari
cara hidup berisiko tinggi, makan makanan bergizi, dan lakukan kontrol
kehamilan (prenatal care) secara teratur dapat menekan risiko munculnya
PJT. Perkiraan saat ini mengindikasikan bahwa sekitar 65% wanita pada
negara sedang berkembang paling sedikit memiliki kontrol 1 kali selama
kehamilan pada dokter, bidan, atau perawat
Pada kasus PJT bayi lahir dengan asphyxia, meconium aspiration,
hipoglikemi, hipotermi, polisitemi yang semua hal ini menyebabkan
kelainan neurologi baik pada bayi cukup bulan atau kurang bulan.
Resiko kematian pada kehamilan kurang bulan akibat PJT lebih tinggi
daripada kehamilan cukup bulan. Kematian terutama diakibatkan oleh
infeksi virus, kelainan kromosom, penyakit ibu, insufisiensi plasenta, atau
akibat faktor lingkungan dan sosial ekonomi.

BAB III
KESIMPULAN
1. Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) ialah janin dengan berat badan di bawah
presentil ke-10 pada standard intrauterine growth chart of low birth weight
untuk masa kehamilan, dan mengacu kepada suatu kondisi dimana janin tidak
dapat mencapai ukuran genetik yang optimal. Artinya janin memiliki berat
kurang dari 90 % dari keseluruhan janin dalam usia kehamilan yang sama.
2. Di negara berkembang angka PJT kejadian berkisar antara 2%-8% pada bayi
dismature, pada bayi mature 5% dan pada postmature 15%.
3. Penyebab dari PJT dapat dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu maternal, uterus
plasenta dan janin.
4. Diagnosis PJT dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang dengan USG fetomaternal dan dopler .
5. Prognosis kasus-kasus PJT yang sangat parah dapat berakibat janin lahir mati
(stillbirth) atau jika bertahan hidup dapat memiliki efek buruk jangka panjang
dalam masa kanak-kanak nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham, Garry F, Norman F. Gant, dkk. Obstetri Williams. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005
2. Hall & Guyton. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta :
EGC

3. Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilisasi, Perkumpulan Obstetri


dan Ginekologi Indonesia. Konsensus Tata Laksana Perdarahan Uterus
Abnormal Karena Efek Samping Kontrasepsi. Jakarta : HIFERI 2011

4. Wikojosastro H, Abdul Bari Saifuddin, Triatmojo Rachimhadhi. Dalam: Buku


Ajar Ilmu Kebidanan, edisi ke 5. Jakarta; Balai Penerbit FKUI. 1999: 781-83.

5. Resnik R. High Risk Pregnancy. In: Emedicine journal obstetrics and


gynekology. Volume 99. No: 3. Maret 2003.

6. University of Texas Southwestern Medical Centre at Dallas. 2003:743-760

7. Konar H. In : D. C Dutta Text Book of Obstetrics Including Perinatology and


Contraception. Edisi ke-4. 1998:496-501