Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

CLOSE FRAKTUR HUMERUS

A. DEFINISI
Fraktur humerus adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang
humerus yang terbagi atas :
1. Fraktur Collum Humerus
2. Fraktur Batang Humerus
3. Fraktur Suprakondiler Humerus
4. Fraktur Interkondiler Humerus

B. ETIOLOGI
Umumnya fraktur yang terjadi, dapat disebabkan beberapa keadaan berikut:
1. Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
puntir mendadak, kontraksi otot ekstrim.
2. Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki
terlalu jauh.
3. Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur
patologis.
Penyebab Fraktur adalah :
1. Kekerasan langsung: Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang
pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur
terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung: Kekerasan tidak langsung menyebabkan
patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang
patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran
vektor kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot: Patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa twisting, bending dan penekanan,
kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
Kebanyakan fraktur shaft humerus terjadi akibat trauma langsung,
meskipun fraktur spiral sepertiga tengah dari shaft kadang-kadang
dihasilkan dari aktifitas otot-otot yang kuat seperti melempar bola. Pada
fraktur humerus kontraksi otot, seperti otot-otot rotator cuff, deltoideus,
pectoralis mayor, teres mayor, latissimus dorsi, biceps, korakobrakialis dan
triceps akan mempengaruhi posisi fragmen patahan tulang yang
mengakibatkan fraktur mengalami angulasi maupun rotasi. Di bagian
posterior tengah melintas nervus Radialis langsung melingkari periostum
diafisis humerus dari proksimal ke distal sehingga mudah terganggu akibat
patah tulang humerus bagian tengah.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat. Nyeri berkurang jika fragmen
tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan
bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
2. Deformitas dapat disebabkan oleh pergeseran fragmen pada eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas
normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi
normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah
tempat fraktur.
4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba
adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen
satu dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah
beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.
6. Pada pemeriksaan harus diperhatikan keutuhan faal nervus radialis dan
arteri brakialis. Saat pemeriksaan apakah ia dapat melakukan dorsofleksi
pergelangan tangan atau ekstensi jari-jari tangan.
D. KLASIFIKASI
Berikut klasifikasi fraktur diafisis humerus menurut Ortopaedics Trauma
Association (OTA):
 Tipe A: fraktur sederhana (simple fracture)
 A1: spiral
 A2: oblik (>30°)
 A3: transversa (<30°)
 Tipe B: fraktur baji (wedge fracture)
 B1: spiral wedge
 B2: bending wedge
 B3: fragmented wedge
 Tipe C: fraktur kompleks (complex fracture)
 C1: Spiral
 C2: Segmental
 C3: Ireguler (significant comminution)
Berdasarkan arah pergeserannya, fraktur humerus dibagi menjadi;
1. Fraktur sepertiga proksimal humerus
Fraktur yang mengenai proksimal metafisis sampai insersi m. pectoralis
mayor diklasifikasikan sebagai fraktur leher humerus. Fraktur di atas
insersi pectoralis mayor menyebabkan fragmen proksimal abduksi dan
eksorotasi rotator cuff serta distal fragmen bergeser ke arah medial.
Fraktur antara insersi m. pectoralis mayor dan deltoid umumnya terlihat
adduksi pada akhir distal dari proksimal fragmen dengan pergeseran lateral
dan proksimal dari distal fragmen.
2. Fraktur sepertiga tengah dan distal humerus
Jika fraktur terjadi di distal dari insersi deltoid pada sepertiga tengah
korpus humerus, pergeseran ke medial dari fragmen distal dan abduksi dari
fragmen proksimal akan terjadi.
E. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.
Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai
denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah
putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang
nantinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur penyembuhan tulang:
1. Faktor intrinsic
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan,
elastisitas, kelelahan (fatigue fracture), dan kepadatan atau kekerasan
tulang.
2. Faktor ektrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan
fraktur.

Jenis fraktur berdasarkan kekuatan yang mengenainya:


 Kompresif: fraktur proksimal dan distal humerus
 Bending: fraktur transversa shaft humerus
 Torsional: fraktur spiral shaft humerus
 Torsional dan bending: fraktur oblik, kadang diikuti dengan fragmen
”butterfly”.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa
penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah.
 Radiologi
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis fraktur
(transversa, spiral atau kominutif) dan pergeseran lainnya dapat terbaca
jelas). Radiografi humerus AP dan lateral harus dilakukan. Sendi bahu dan
siku harus terlihat dalam foto. Radiografi humerus kontralateral dapat
membantu pada perencanaan preoperative. Kemungkinan fraktur patologis
harus diingat. CT-scan, bone-scan dan MRI jarang diindikasikan, kecuali
pada kasus dengan kemungkinan fraktur patologis. Venogram/anterogram
menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur
fraktur yang lebih kompleks.

G. PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Pada umumnya, pengobatan patah tulang shaft humerus dapat
ditangani secara tertutup karena toleransinya yang baik terhadap angulasi,
pemendekan serta rotasi fragmen patah tulang. Angulasi fragmen sampai
300 masih dapat ditoleransi, ditinjau dari segi fungsi dan kosmetik. Hanya
pada patah tulang terbuka dan non-union perlu reposisi terbuka diikuti
dengan fiksasi interna.
Dibutuhkan reduksi yang sempurna disamping imobilisasi; beban
pada lengan dengan cast biasanya cukup untuk menarik fragmen ke garis
tengah. Hanging cast dipakai dari bahu hingga pergelangan tangan dengan
siku fleksi 90° dan bagian lengan bawah digantung dengan sling disekitar
leher pasien. Cast (pembalut) dapat diganti setelah 2-3 minggu dengan
pembalut pendek (short cast) dari bahu hingga siku atau functional
polypropylene brace selama ± 6 minggu.
Pergelangan tangan dan jari-jari harus dilatih gerak sejak awal.
Latihan pendulum pada bahu dimulai dalam 1 minggu perawatan, tapi
abduksi aktif ditunda hingga fraktur mengalami union. Fraktur spiral
mengalami union sekitar 6 minggu, variasi lainnya sekitar 4-6 minggu.
Sekali mengalami union, hanya sling (gendongan) yang dibutuhkan hingga
fraktur mengalami konsolidasi.
Pengobatan non bedah kadang tidak memuaskan pasien karena
pasien harus dirawat lama. Itulah sebabnya pada patah tulang batang
humerus dilakukan operasi dan pemasangan fiksasi interna yang kokoh.
Berikut beberapa metode dan alat yang digunakan pada terapi
konservatif:
 Hanging cast
Indikasi penggunaan meliputi pergeseran shaft tengah fraktur
humerus dengan pemendekan, terutama fraktur spiral dan oblik.
Penggunaan pada fraktur transversa dan oblik pendek menunjukkan
kontraindikasi relatif karena berpotensial terjadinya gangguan dan
komplikasi pada saat penyembuhan. Pasien harus mengangkat tangan
atau setengah diangkat sepanjang waktu dengan posisi cast tetap untuk
efektivitas. Seringkali diganti dengan fuctional brace 1-2 minggu
pasca trauma. Lebih dari 96% telah dilaporkan mengalami union.
 Coaptation splint
Diberikan untuk efek reduksi pada fraktur tapi coaptation splint
memiliki stabilitas yang lebih besar dan mengalami gangguan lebih
kecil daripada hanging arm cast. Lengan bawah digantung dengan
collar dan cuff. Coaptation splint diindikasikan pada terapi akut
fraktur shaft humerus dengan pemendekan minimal dan untuk jenis
fraktur oblik pendek dan transversa yang dapat bergeser dengan
penggunaan hanging arm cast. Kerugian coaptation splint meliputi
iritasi aksilla, bulkiness dan berpotensial slippage. Splint seringkali
diganti dengan fuctional brace pada 1-2 minggu pasca trauma.
 Thoracobranchial immobilization (velpeu dressing)
Biasanya digunakan pada pasien lebih tua dan anak-anak yang tidak
dapat ditoleransi dengan metode terapi lain dan lebih nyaman jadi
pilihan. Teknik ini diindikasikan untuk pergeseran fraktur yang
minimal atau fraktur yang tidak bergeser yang tidak membutuhkan
reduksi. Latihan pasif pendulum bahu dapat dilakukan dalam 1-2
minggu pasca trauma.
 Shoulder spica cast
Teknik ini diindikasikan pada jenis fraktur yang mengharuskan
abduksi dan eksorotasi ektremitas atas. Kerugian teknik ini meliputi
kesulitan aplikasi cast, berat cast dan bulkiness, iritasi kulit,
ketidaknyamanan dan kesusahan memposisikan ektremitas atas.
 Functional bracing
Memberikan efek kompresi hidrostatik jaringan lunak dan
mempertahankan aligment fraktur ketika melakukan pergerakan pada
sendi yang berdekatan. Brace biasanya dipasang selama 1-2 minggu
pasca trauma setelah pasien diberikan hanging arm cast atau
coaptation splint dan bengkak berkurang. Kontraindikasi metode ini
meliputi cedera massif jaringan lunak, pasien yang tidak dapat
dipercaya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan asseptabilitas
reduksi. Collar dan cuff dapat digunakan untuk menopang lengan
bawah; aplikasi sling dapat menghasilkan angulasi varus (kearah
midline).
2. Tindakan operatif
Pasien kadang-kadang mengeluh hanging cast tidak nyaman,
membosankan dan frustasi. Mereka bisa merasakan fragmen bergerak dan
hal ini kadang-kadang cukup dianggap menyusahkan. Hal penting yang
perlu diingat bahwa tingkat komplikasi setelah internal fiksasi pada
humerus tinggi dan sebagian besar fraktur humerus mengalami union
tanpa tindakan operatif.
Meskipun demikian, ada beberapa indikasi untuk dilakukan
tindakan pembedahan, diantaranya:
 Cedera multiple berat
 Fraktur terbuka
 Fraktur segmental
 Fraktur ekstensi intra-artikuler yang bergeser
 Fraktur patologis
 Siku melayang (floating elbow) – pada fraktur lengan bawah
(antebrachi) dan humerus tidak stabil bersamaan
 Palsi saraf radialis (radial nerve palsy) setelah manipulasi
 Non-union

Fiksasi dapat berhasil dengan;


1. Kompresi plate and screws
2. Interlocking intramedullary nail atau pin semifleksibel
3. External Fixation

Plating menjadikan reduksi dan fiksasi lebih baik dan memiliki


keuntungan tambahan bahwa tidak dapat mengganggu fungsi bahu dan
siku. Biar bagaimanapun, ini membutuhkan diseksi luas dan perlindungan
pada saraf radialis. Plating umumnya diindikasikan pada fraktur humerus
dengan kanal medulla yang kecil, fraktur proksimal dan distal shaft
humerus, fraktur humerus dengan ekstensi intraartikuler, fraktur yang
memerlukan eksplorasi untuk evaluasi dan perawatan yang berhubungan
dengan lesi neurovaskuler, serta humerus non-union.
Interlocking intramedullary nail diindikasi pada fraktur segmental
dimana penempatan plate akan memerlukan diseksi jaringan lunak, fraktur
humerus pada tulang osteopenic, serta pada fraktur humrus patologis.
Antegrade nailing terbentuk dari paku pengunci yang kaku (rigid
interlocking nail) yang dimasukkan kedalam rotator cuff dibawah control
(petunjuk) fluoroskopi. Pada cara ini, dibutuhkan diseksi minimal namun
memiliki kerugian, yaitu menyebabkan masalah pada rotator cuff pada
beberapa kasus yang berarti. Jika hal ini terjadi, atau apabila nail keluar
dan fraktur belum mengalami union, penggantian nailing dan bone grafting
mungkin diperlukan; atau dapat diganti dengan external fixator.
Retrograde nailing dengan multiple flexible rods dapat
menghindari masalah tersebut, tapi penggunaannya lebih sulit, secara luas
kurang aplikatif dan kurang aman dalam mengontrol rotasi dari sisi yang
fraktur.
External fixation mungkin merupakan pilihan terbaik pada fraktur
terbuka dan fraktur segmental energy tinggi. External fixation ini juga
prosedur penyelamatan yang paling berguna setelah intermedullary nailing
gagal. Indikasi umumnya pada fraktur humerus dengan non-union infeksi,
defek atau kehilangan tulang, dengan luka bakar, serta pada luka terbuka
dengan cedera jaringan lunak yang luas.

H. KOMPLIKASI
 Komplikasi Awal
 Cedera vaskuler
Jika ada tanda-tanda insufisiensi vaskuler pada ekstremitas,
kerusakan arteri brakhialis harus disingkirkan. Angiografi akan
memperlihatkan tingkat cedera. Hal ini merupakan kegawatdaruratan,
yang memerlukan eksplorasi dan perbaikan langsung ataupun cangkok
(grafting) vaskuler. Pada keadan ini internal fixation dianjurkan.
 Cedera saraf
Radial nerve palsy (wrist drop dan paralisis otot-otot ekstensor
metacarpophalangeal) dapat terjadi pada fraktur shaft humerus,
terutama fraktur oblik pada sepertiga tengah dan distal tulang
humerus. Pada cedera yang tertutup, saraf ini sangat jarang terpotong,
jadi tidak diperlukan operasi segera.
Pergelangan tangan dan telapak tangan harus secara teratur
digerakkan dari pergerakan pasif putaran penuh hingga
mempertahankan (preserve) pergerakan sendi sampai saraf pulih. Jika
tidak ada tanda-tanda perbaikkan dalam 12 minggu, saraf harus
dieksplorasi. Pada lesi komplit, jahitan saraf kadang tidak
memuaskan, tetapi fungsi dapat kembali dengan baik dengan
pemindahan tendon.
Jika fungsi saraf masih ada sebelum manipulasi lalu kemudian
cacat setelah dilakukan manipulasi, hal ini dapat diasumsikan bahwa
saraf sudah mengalami robekan dan dibutuhkan operasi eksplorasi.
 Infeksi
Infeksi luka pasca trauma sering menyebabkan osteitis kronik.
Osteitis tidak mencegah fraktur mengalami union, namun union akan
berjalan lambat dan kejadian fraktur berulang meningkat. Jika ada
tanda-tanda infeksi akut dan pembentukan pus, jaringan lunak
disekitar fraktur harus dibuka dan didrainase. Pilihan antibiotic harus
disesuaikan dengan hasil sensitivitas bakteri.
External fixation sangat berguna pada kasus ini, namun jika
intramedullary nail sudah terlanjur digunakan dan terfiksasi stabil, nail
tidak perlu dilepas.
 Komplikasi Lanjut
 Delayed Union and Non-Union
Fraktur transversa kadang membutuhkan waktu beberapa bulan
untuk menyambung kembali, terutama jika traksi digunakan
berlebihan (penggunaan hanging cast jangan terlalu berat).
Penggunaan teknik yang sederhana mungkin dapat menyelesaikan
masalah, sejauh ada tanda-tanda pembentukkan kalus (callus) cukup
baik dengan penanganan tanpa operasi, tetapi ingat untuk tetap
membiarkan bahu tetap bergerak. Tingkat non-union dengan
pengobatan konservatif pada fraktur energi rendah kurang dari 3%.
Fraktur energi tinggi segmental dan fraktur terbuka lebih cenderung
mengalami baik delayed union dan non-union.
Intermedullary nailing menyebabkan delayed union, tetapi jika
fiksasi rigid dapat dipertahankan tingkat non-union dapat tetap
dibawah 10%.
 Joint stiffness
Joint stiffness sering terjadi. Hal ini dapat dikurangi dengan
aktivitas lebih awal, namun fraktur transversa (dimana abduksi bahu
nyeri disarankan) dapat membatasi pergerakan bahu untuk beberapa
minggu.
Tambahan, pada anak-anak, fraktur humerus jarang terjadi. Pada
anak-anak di bawah 3 tahun kemungkinan kekerasan pada anak perlu
difikirkan. Fraktur dirawat dengan bandage sederhana pada lengan
hingga ke badan untuk 2-3 minggu. Pada anak yang lebih tua
memerlukan plaster splint pendek.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Anamnesis. Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan . Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantung pada tahap
ini.
1) Identitas klien, meliputi nama, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
asuransi, golongan darah, nomor registrasi, tanggal dan jam masuk rumah
sakit (MRS) dan diagnose medis.
Pada umumnya, keluhan utama pada kasus fraktur humerus adalah nyeri
yang bersifat menusuk. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap
mengenai nyeri klien, perawat dapat menggunakan metode PQRST.
 Provoking Incedent : Hal yang menjadi faktor presipitas nyeri
adalah trauma pada lengan atas.
 Quality Of Plain: Klien yang merasakan nyeri yang menusuk.
 Region, Radiation, Relief: Nyeri terjadi dilengan atas. Nyeri dapat
redah dengan imobilitas atau istirahat. Nyeri tidak dapat menjalar
atau menyebar.
 Severity (Scale) of Plain: secara subjektif, klien merasakan nyeri
dengan skala 2-4 pada rentang 0-4.
 Time : Berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah
buruk pada malam hari atau siang hari.
2) Riwayat penyakit sekarang. pengumpaln data dilakukan untuk menentukan
penyebab fraktur yang nantinya membantu dalam membuat rencana
tindakan terhadap klien. Pengkajian yang di dapat adalah adanya riwayat
trauma pada lengan. klien datang dengan lengan yang sakit tergantung
tidak berdaya pada sis tubuh dan di sangga oleh lengan yang sehat.
3) Riwayat penyakit dahulu. pada pengkajian ini, perawat dapat menemukan
kemungkinan penyebab fraktur dan mendapat petunjuk berapa lama tulang
tersebut akan menyambung. Penyakit- penyakit tertentu, seperti kanker
tulang dan penyakit paget, menyebabkan fanktor patologis sehingga tulang
sulit menyambung.
4) Riwayat penyakit keluarga. penyakit keluarga yang berhubungan dengan
penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang terjadi pada beberapa
keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik.
5) Riwayat penyakit psikososial spiritual. kaji respon emosi klien terhadap
penyakit yang dideritanya, peran klien dalam keluarga dan masyarakat ,
serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
keluarga maupun dalamk masyarakat. Dalam tahap pengkajian, perawat
juga perlu mengetahui pola-pola fungsi kesehatan sebagai berikut.
6) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat. Pada kasus fraktur, klien
biasanya merasa takut akan mengalami kecacatan pada dirinya. Oleh
karena itu, klien harus menjalanin penatalaksanaan kesehatan untuk
membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, juga dilaksanakan
pengkajian yang meliputi kebiasaan hidup klien, seperti penggunaan obat
steroid yang dapat menganggu metabolisme kalsium, pengonsumsian
alcohol yang dapat menganggu keseimbangan klien, dan apakah klien
melakukan olahgara atau tidak.
7) Pola hubungan dan peran. Klien akan kehilangan peran dalam keluarga
dan masyarakat karena klien harus menjalani rawat inap.
8) Pola persepsi dan konsep diri. Dampak yang timbul pada klien fraktur
adalah timbulnya ketakutan akan kecacatan akibat fraktur, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan gangguan
citra diri.
9) Pola sensori dan kognitif. Pada klien fraktur, daya rabanya berkurang
terutama pada bagian distal fraktur, sedangkan pada indra yang lain dan
kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu, juga timbul nyeri
akibat fraktur.
10) Pola penanggulangan stes. Pada klien fraktur timbul rasa cemas akan
keadaan dirinya, yaitu ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi
tubuhnya. Mekanisme koping yang ditembuh klien dapat tidak efektif.
11) Pola tata nilai dan keyakinan. klien fraktur tidak dapat melaksanakan
ibadah dengan baik, terutama frekuensi dan konsentrasi dalam beribadah.
Hal ini dapat disebabkan oleh nyeri dan keterbatasan gerak klien.

b. Pemeriksaan Fisik. ada dua macam pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan


umum (status general) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan
setempat (local).
1) Keadaan umum : keadaan baik dan buruknya klien. tanda – tanda yang
perlu dicatat adalah sebagai berikut.
 Kesadaran klien : Apatis, spoor, koma, gelisa, compos mentis
yang bergantung pada keadaan klien.
 Kesakitan, Keadaan penyakit : akut, kronis, ringan, sedang,
berat dan pada kasus frakltur biasanya akut.
 Tanda- tanda vital tidak normal karena ada ganguan local, baik
fungsi maupun bentuk.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut yang berhubungan dengan pergerakan fragmen tulang, kompresi
saraf, cedera neuromuscular, trauma jaringan, dan reflex spasme otot
sekunder.
b. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
tulang, nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang.
c. Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya port de entrée luka
operasi pada lengan atas..

3. Rencana Keperawatan
a. Dx: Nyeri akut yang berhubungan dengan pergerakan fragmen tulang,
kompresi saraf, cedera neuromuscular, trauma jaringan, dan reflex spasme
otot sekunder.
Tujuan: nyeri berkurang, hilang, atau teratasi
Kriteria hasil: secara subjektif, klien melaporkan nyeri berkurang atau
dapat diatasi, mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
mengurangi nyeri. Klien tidak gelisah. Skalanyeri 0-1 atau teratasi.
Intervensi:
1) Kaji nyeri denganskala 0-4.
2) Atur posisi imobilisasi pada lengan atas.
3) Bantu klien dalam mengidentifikasi factor pencetus.
4) Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri
nonfarmakologi dan noninvasife.
5) Ajarkan relaksasi: tenik untuk menurunkan ketegangan otot rangka
yang dapat mengurangi intensitas nyeri. Tingkatkan relaksasi masase.
6) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
7) Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi
yang nyaman, misalnya waktu tidur, belakang tubuh klien dipasang
bantal kecil.
8) Tingkatkan pengetahuan tentang sebab-sebab nyeri dan hubungkan
dengan berapa lama nyeri akan berlangsung.
9) Pantau keadaan pemasangan gips.
10) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic.
.
b. Dx: Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan diskontinuitas
jaringan tulang, nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang.
Tujuan: klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan
kemampuannya.
Kriteria hasil: klien dapat ikut seta dalam program latihan, tidak
mengalami kontraktur sendi, kekuatan otot bertambah, dan klien
menunjukan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
Intervensi:
1) Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan.
Kaji secara teratur fungsi motorik.
2) Atur posisi imobilisasi pada lengan atas. atas.
3) Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang
tidak sakit.
pernapasan.
4) Bantu klien melakukan ROM dan perawatan diri sesuai toleransi.
5) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk melatih fisik klien..

c. Dx: Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya port de entrée
luka operasi pada lengan atas.
Tujuan: infeksi tidak terjadi selama perawatan.
Kriteria hasil: klien mengenal factor risiko, mengenal tindakan
pencegahan/mengurangi factor risiko infeksi, dan
menunjukan/mendemonstrasikan teknik-teknik untuk meningkatkan
lingkungan yang aman.
Intervensi:
1) Kaji dan monitor luka operasi setiap hari..
2) Lakukan perawatan luka secara steril.
3) Pantau/batasi kunjungan.
4) Bantu perawatan diri dan keterbatasan aktivitas sesuai toleransi. Bantu
program latihan.
6) Berikan antibiotic sesuai indikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. Fraktur Patah Tulang (online). 2009.


(http://perawatpskiatri.blogspot.com/search/label).

Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Widya
Medika: Jakarta.

Bernard Bloch. 1996. Fraktur dan Dislokasi. Yayasan essentica Medica :


Yogyakarta p. 1028-1030

Elis Harorld, 2006, Part 3: Upper Limb, The Bones and Joint of the Upper Limbs;
In: Clinical Anatomy Eleventh Edition (e-book); Blackwell Publishing; Oxford
University; p 169-170

Hermansyah, MD; Fraktur Shaft Humerus (.ppt) (online) 2009.


(http://www.google.com//fraktur-shaft-humerus-hermansyah-MD.pdf.)

Holmes E.J and Misra R.R; 2004; Humerus fracture – Shaft fracture In: AZ of
Emergency Radiology (e-book); UK; Cambridge University Press; p

Kenneth J, dkk. 2002. Fractures Of The Shaft Of The Humerus In Chapter 43:
Orthopedic; In: Handbook of Fracture second edition. Wolters Klunser Company :
New York.

King Maurice; 1987; Fracture of the Shaft of the Humerus In: Primary Surgery
Volume Two: Trauma; Oxford University Press; UK; p. 233-235

Mansjoer A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Medika Aesculapius


FKUI : Jakarta

Rasjad C.2007. Pengantar Bedah Ortopedi. PT. Yarsef Watampone : Jakarta. Hal
380-395.

Santoso M.W.A, Alimsardjono H dan Subagjo; 2002; Anatomi Bagian I, Penerbit


Laboratorium Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga;
Surabaya

Wim de Jong & Sjamsuhidajat R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi ke 2 .EGC :
Jakarta.110-111.
PATHWAY CLOSE FRAKTUR HUMERUS