Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS

“KANDIDIASIS VULVOVAGINAL”

Dosen Pembimbing:

dr. Gabriel Erny Widyanti, Sp. KK, M. Kes

Disusun Oleh :

Nadia Eka Damayanti

42180236

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT KELAMIN

RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA

PERIODE 21 Januari – 16 Februari 2019

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

2019
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. LM
Usia : 34 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Kunjungan ke klinik : 22 Januari 2019

II. ANAMNESA
A. Keluhan Utama
Keputihan dan gatal di kelamin

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan dirasakan sejak 3 hari yang lalu, pasien mengatakan
keluhannya sering kambuh-kambuhan, dalam jangka waktu 6 bulan bisa
kambuh >2x. Keputihan dan gatal dirasakan terus menerus, keputihan keluar
bergumpal berwarna putih susu, dan tidak berbau. Pasien mengatakan tidak
terdapat benjolan yang abnormal pada kelamin, siklus menstruasi normal,
riwayat berhubungan seksual (+).

C. Riwayat penyakit Dahulu


Hipertensi : (-) TBC : (-)
Asma : (-) DM : (-)

D. Riwayat Operasi : Tidak ada


E. Riwayat Alergi : Tidak ada
F. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada
G. Riwayat Pengobatan : (+) untuk penyakit ISK
H. Life Style : Pasien memiliki riwayat suka memakai panty
liner dan sering membersihkan daerah
kewanitaan dengan sabun Betadine Feminine
Wash Hygiene
III. PEMERIKSAAN FISIK:
Status Generalis :
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis, E4V5M6
Status Gizi : Baik, IMT normal
Kepala : Normocephali, sianosis (-)
Leher : KGB tidak teraba, nyeri tekan (-)
Thorax : Nafas vesikular, S1 S2 reguler
Abdomen : Supel, BU (+), massa (-)
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik

Status Lokalis :
Pada inspeksi vagina dalam ditemukan discharge berwarna putih susu
menggumpal, menempel pada vulva dan dinding vagina, eritem pada labia dan
vulva, tidak terdapat benjolan, bau (-).

IV. DIAGNOSA BANDING:


o Kandidiasis Vulvovaginal
o Bakterial Vaginosis
o Trikomoniasis

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
o Pemeriksaan apusan vagina dengan KOH 10%
o Pemeriksaan pH vagina
o Kultur apusan vagina

VI. DIAGNOSA:
Kandidiasis Vulvovaginal

VII. TATALAKSANA
- R/ Flukonazole tab 150 mg no III
S 1 d d tab 1 pc (hari ke-1, ke-4 dan ke-7)

- R/ Cetirizine tab 10 mg no VII


S 1 d d tab 1 pc hs

VIII. EDUKASI
1. Menjaga kebersihan daerah kewanitaan, jaga agar tidak lembab
2. Hindari pemakaian panty liner dan sabun pembersih vagina
3. Jangan memakai celana yang terlalu ketat, baik celana dalam maupun seperti
jeans, legging
4. Mencuci celana dalam dengan bersih dan dengan air panas
5. Abstinensia seksual dengan pasangan

IX. PROGNOSIS
Baik jika menghindari faktor predisposisi dan dengan komplikasi yang minimal.
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kandidiasis vulvovaginalis atau kandidosis vulvovaginalis/ kandida vulvovaginitis
adalah infeksi vagina dan atau vulva oleh genus candida1, Dengan berbagai manifestasi
klinisnya yang bisa berlangsung akut, kronis atau episodik.2
Kandidosis vulvovaginalis rekuren adalah infeksi vagina dan atau vulva yang berulang, yang
disebabkan oleh organisme yang sama minimal 4 atau lebih episode simtomatik dalam setahun.
4,5

Kandidosis Vulvovaginalis Rekuren (KVVR) didefinisikan sebagai infeksi yang


mengalami kekambuhan 4 kali atau lebih dalam setahun. Pada umumnya infeksi disebabkan
adanya kolonisasi yang berlebihan dari spesies Candida yang sebelumnya bersifat saprofit pada
vulva dan vagina, dan jarang disebabkan karena mendapat sumber infeksi dari luar (sumber
infeksi dari tanaman, lingkungan, udara dan tanah).

B. Epidemiologi
Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia. Pada beberapa negara kandidosis
vulvovaginalis tetap merupakan terbanyak di antara infeksi vagina terutama di daerah iklim
subtropis dan iklim tropis. Kandidosis vulvovaginalis umumnya lebih banyak pada perempuan
dengan status sosial ekonomi rendah dan masa kehamilan.
Kandidiasis vulvovaginalis terjadi pada banyak perempuan selama hidupnya, dengan
persentase sekitar 70 - 75% wanita mendapatkan setidaknya sekali infeksi KVV selama masa
hidupnya, sekitar 40-50% cenderung berulang mengalami kekambuhan atau serangan infeksi
kedua. Pada wanita dengan HIV seropositive sering ditemukan KVV yang simtomatik. Bagi
penderita HIV positif lebih sering relaps dan cenderung ditemukan candida glabrata. Di
Skandinavia prevalensi simtomatik KVV ditemukan sebanyak 13,4% di Amerika merupakan
penyebab kedua setelah bacterial vaginosis dan tiga kali lebih besar daripada trochomonas
vaginitis. 1,2
C. Etiologi
Sebagian besar penyebab KVV adalah candida albicans, Antara 85-90% ragi yang
berhasil diisolasi dari vagina adalah spesies C. albicans sedangkan penyebab yang lainnya dari
jenis candida glabrata (torulopsis glabrata). Spesies selain C.albicans yang menyebabkan
KVV sering lebih resisten terhadap terapi konvensional. Saat ini jenis kandida yang sering
ditemukan adalah candica albicans, c.glabrata, c. tropicalis dan c. parapsilosis. 80-90% dari
jamur yang diisolasi dari vagina adalah c. albicans, selanjutnya c. glabrata (10%) dan c.
tropicalis (5-10%).5,6
Candida spp adalah jamur sel tunggal, berbentuk bulat sampai oval. Jumlahnya sekitar
80 spesies dan 17 diantaranya ditemukan pada manusia. Dari semua spesies yang ditemukan
pada manusia, C.albicans-lah yang paling pathogen. Candida spp memperbanyak diri dengan
membentuk blastospora (budding cell). Blastospora akan saling bersambung dan bertambah
panjang sehingga membentuk pseudohifa. Bentuk pseudohifa lebih virulen dan invasif
daripada spora. Hal itu dikarenakan pseudohifa berukuran lebih besar sehingga lebih sulit
difagositosis oleh makrofag. Selain itu pseudohifa mempunyai titik-titik blastokonidia multipel
pada satu filamennya sehingga jumlah elemen infeksius yang ada lebih besar.
Faktor virulensi lain pada Candida adalah dinding sel. Dinding sel Candida spp
mengandung turunan mannoprotein yang bersifat imunosupresif sehingga mempertinggi
pertahanan jamur terhadap imunitas pejamu, dan proteinase aspartil yang menyebabkan
Candida spp dapat melakukan penetrasi ke lapisan mukosa. Dalam menghadapi invasi dari
Candida, tubuh mengerahkan sel fagosit untuk mengeliminasinya. Interferon (IFN)-gamma
akan memblok proses transformasi dari bentuk spora menjadi hifa. Maka bisa disimpulkan,
pada seorang wanita dengan defek imunitas humoral, Candida lebih mudah membentuk diri
menjadi hifa yang lebih virulen dan mudah menimbulkan vaginitis. Kandida adalah organisme
yang dimorfik yaitu bisa ditemukan dalam 2 fase fenotipe yang berbeda di dalam tubuh
manusia. Pada umumnya blastospora (blastokonidia) adalah bentuk fenotipe yang bertanggung
jawab terhadap penyebaran atau transimisinya termasuk ketika menyebar mengikuti aliran
darah maupun ketika dalam bentuk kolonisasi asimtomatik di vagina. Sebaliknya ragi yang
sedang bertunas dan membentuk miselia adalah bentuk invasif terhadap jaringan serta sering
teridentifikasi pada kondisi yang simtomatik. 5
Terdapat bermacam-macam faktor predisposisi yang dapat membuat kondisi vagina
menjadi lingkungan yang mudah untuk tumbuhnya candida spp atau membuat kolonisasi
asimtomatik menjadi simtomatik vaginitis.
 Kehamilan
Kondisi vagina selama masa kehamilan menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap
infeksi kandida, hal ini tampak dengan ditemukannya kolonisasi candida spp yang
tinggi pada masa ini sejalan dengan tingginya simtomatik vaginitis. Keluhan ini paling
sering timbul pada usia kehamilan trimester ketiga. Bagaimana mekanisme hormon-
hormon reproduksi dapat meningkatkan kepekaan vagina terhadap infeksi kandida
masih belum jelas.
 Kontrasepsi oral
Berbagai penelitian menemukan peningkatan kolonisasi candida spp, setelah
pemakaian kontrasepsi oral yang mengandung estrogen yang tinggi. Dalam hal ini
mekanismenya juga belum diketahui, tetapi ternyata juga ditemukan sebaliknya pada
pemakaian kontrasepsi oral yang rendah estrogen tidak ditemukan peningkatan KVV.
 Diabetes Melitus
Pada penderita diabetes melitus juga ditemukan kolonisasi candida spp dalam vagina
mungkin karena peningkatan kadar glukosa dalam darah, jaringan dan urin. Akan tetapi
mekanismenya juga tidak diketahui.
 Pemakaian oral antibiotika
Simtomatik KVV seringkali timbul setelah pemakaian oral antibiotika, terutama
antibiotika yang berspektrum luas misalnya tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin dan
sefalosporin. Pemakaian antibiotika di vagina sehingga menekan daya perlindungan
yang dibuat oleh flora normal tersebut dan menyebabkan kandida tumbuh lebih subur.
Prevalensi kolonisasi candida spp meningkat dari 10% sampai 30%. Perlindungan yang
terpenting dari bakteri flora normal adalah dari Lactobacillus yang memproduksi
hidrogen peroksida. Jadi flora normal tersebut dianggap memberikan ketahanan dan
mencegah invasi serta berkembangnya candida
 Faktor-faktor lain

Pemakaian pakaian dalam yang ketat atau yang terbuat dari nilon meningkatkan
kelembaban yang memudahkan pertumbuhan candida spp. Kontak dengan bahan
kimia, alergi atau reaksi hipersensitivitas mungkin dapat mengubah
lingkungan/ekosistem vagina sehingga memudahkan transformasi kolonisasi yang
asimtomatik menjadi simtomatik vaginitis. Sumber infeksi traktus gastrointestinal
sampai saat ini masih dianggap sebagai sumber utama kolonisasi kandida dalam vagina.
Walaupun peran traktus gastrointestinal dalam reinfeksi yang terjadi pada wanita yang
mengalami KVV rekuren masih kontroversial, tetapi ternyata sejalan dengan
keberadaan candida spp di dalam usus. Transmisi seksual juga dianggap mungkin dapat
menyebakan kolonisasi/infeksi candida.

Gambar 1. Kandidiasis Vulvovaginal

D. Patogenesis
Kandida di dalam tubuh manusia dapat bersifat 2 macam. Kandida sebagai saprofit
terdapat dalam tubuh manusia tanpa menimbulkan gejala apapun, baik subyektif maupun
obyektif. Dapat dijumpai di kulit, selaput lendir mulut, saluran pencernaan, saluran pernafasan,
vagina dan kuku. Kandida sebagai jamur dapat menimbulkan infeksi primer maupun sekunder
dari kelainan yang telah ada. Beberapa faktor predisposisi dapat mengubah sifat saprofit
kandida menjadi pathogen.1,3 Akan tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa kandida tidak
pernah menjadi komensal dalam vagina karena dia akan selalu menjadi patogen bila terdapat
di sana. Karena itu bila ditemukan kandida dari isolasi sekret vagina para klinisi harus
menganggap itu patogen walaupun tanpa ada keluhan dari wanita tersebut.
Kandida memasuki lumen vagina biasanya datang dari daerah perianal atau
kontaminasi dari traktus gastrointestinal. Kemudian dengan adanya berbagai
faktor predisposisi mencetuskan keadaan yang asimtomatik menjadi simtomatik. Sedang
mekanisme yang pasti perubahan kolonisasi asimtomatik menjadi simtomatik vaginitis belum
diketahui. Diduga lebih dari satu macam mekanisme yang mempengaruhinya. Invasi hifa ke
dalam epitel jaringan akan menyebabkan terjadinya proses keradangan dan akhirnya
merusakkan sel-sel epitel tersebut. Mungkin enzim protease dan enzim hidrolitik lainnya yang
memudahkan penetrasi ke dalam sel. Akhirnya penetrasi sel dan invasi ke mukossa tidak saja
oleh hifa tetapi juga oleh blastospor. Proses ini menyebabkan reaksi inflamasi pada mukosa
yang mengakibatkan pembengkakan, eritema, dan deskuamasi sel epitel vagina. Selain proses
tersebut di atas mungkin kandida menimbulkan simtom vaginitis karena reaksi
hipersensitivitas, khususnya pada wanita yang mengalami KVV rekuren yang idiopatik.
Kurang lebih 10-20% wanita yang mengalami KVV akut akan berkembang menjadi
KVV rekuren. Definisi KVVR adalah 4 atau lebih episode infeksi kandidiasis selama 12 bulan
/ 1 tahun. KVVR merupakan bentuk dari KVV komplikasi. KVV rekuren seringkali disebabkan
karena pemakaian antibiotika yang menurunkan jumlah kuman Lactobacilli dan bakteri
lainnya yang justru akan meningkatkan kolonisasi jamur 10-30%. Sedangkan transmisi seksual
dari pasangan prianya belum bisa dianggap sebagai penyebab rekurensi KVV pada wanita.
KVV rekuren sering disebabkan karena kambuh, yang bisa terjadi karena pengobatan
sebelumnya yang tidak adekuat. Hasil kultur negatif yang diambil dari wanita yang sedang
dalam interval bebas simtom akan menjadi positif lagi setelah beberapa minggu. Teori ini
dikuatkan dengan adanya fakta hasil pemetaan DNA seringkali menunjukkan galur yang sama
pada wanita dengan KVV rekuren tersebut. Abstinensia seksual selama pengobatan harus
dianjurkan untuk mengurangi iritasi traumatik dari hubungan seksual dan juga untuk
mengurangi kemungkinan transmisi jalur dari wanita ke pasangannya. Kolonisasi kandida pada
penis seringkali asimtomatik, hal ini bisa timbul 20% dari pra pasangan wanita yang
mengalami KVV rekuren.1

E. Manifestasi Klinis
Keluhan yang paling sering pada KVV adalah rasa gatal pada daerah vulva dan adanya
duh tubuh. Sifat duh tubuh bervariasi dari yang cair seperti air sampai tebal dan homogen
dengan noda seperti keju. Kadang-kadang sekret tampak seperti susu yang disertai gumpalan-
gumpalan putih sehingga tampak seperti susu basi/pecah dan tidak berbau. Akan tetapi lebih
sering sekret hanya minimal saja. Keluhan klasik yang lainnya adalah rasa kering pada liang
vagina, rasa terbakar pada vulva, dispareunia dan disuria. Jadi sebenarnya, tidak ada keluhan
yang benar-benar spesifik untuk KVV.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan pembengkakan pada labia dan vulva,
juga dapat ditemukan lesi papulopustular di sekitarnya. Serviks tampak normal sedangkan
mukosa vagina tampak kemerahan.9 Bila ditemukan keluhan dan tanda-tanda vaginitis serta
pH vagina < 4,5 dapat diduga adanya infeksi kandida, sedangkan bila pH vagina > 5
kemungkinan adalah vaginitis karena bakterial vaginosis, trikhomonas vaginitis atau ada
infeksi campuran.
Berdasarkan gambaran klinis, hasil pemeriksaan mikrobiologis penyebab, faktor
hospes (host) dan respons terhadap pengobatan, kandidiasis vulvovaginalis dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.1
1. Kandidiasis vulvovaginalis tanpa komplikasi dengan kriteria:
a. Episode gejala sporadis atau infrequent.
b. Gejala ringan sampai sedang.
c. Infeksi oleh Candida albicans.
d. Terjadi pada perempuan normal, tidak hamil non immunocompromised.
2. Kandidiasis vulvovaginalis dengan komplikasi dengan kriteria:
a. Episode gejala rekuren ( >4 kali pertahun).
b. Ditemukan gejala yang berat.
c. Infeksi oleh spesies non-albicans.
d. Terjadi pada perempuan abnormal (diabetes yang tidak terkontrol, imunosupresan
atau perempuan hamil)

Gambar 2. Discharge putih menggumpal tampak pada vulva

Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis klinis KVV dibuat berdasarkan keluhan penderita, pemeriksaan klinis,
pemeriksaan laboratorium berupa sediaan basah maupun gram dan pemeriksaan biakan jamur,
selain itu juga pemeriksaan pH cairan vagina. Biakan jamur dari cairan vagina mempunyai
nilai konfirmasi terhadap basil pemeriksaan mikroskopik yang negatif (false negative cases)
yang sering ditemukan pada KVV kronik dan untuk mengidentifikasi spesies non-candida
albicans. Sejak spesies ini sering ditemukan pada sejumlah KVV kronik dan sering timbul
resistensi terhadap flukonazol maka identifikasi jamur dengan kultur menjadi lebih penting.
Biakan jamur mempunyai nilai kepekaan yang tinggi sampai 90% sedangkan pemeriksaan
sediaan basah dengan KOH 10% kepekaannya hanya 40%. Swab sebaiknya diambil dari sekret
vagina dan dari dinding lateral vagina. Pemeriksaan gram tidak terlalu sensitif tetapi bisa sangat
menolong untuk pemeriksaan yang cepat. Pseudohifa ragi dan miselia memberi reaksi gram
positif.
Metode pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendiagnosis adanya infeksi vulvovaginal,
salah satunya adalah dengan pemeriksaan langsung dengan menggunakan aglutinasi lateks dan
metode kultur dengan menggunakan media biakan yang konvensional. Deteksi sel-sel ragi atau
hifa dengan pewarnaan gram dari hapusan vagina dan hapusan serviks papaniculau juga sensitif
untuk mendeteksi adanya infeksi pada vagina. Hapusan vagina yang diambil diberi larutan
KOH 10-20% dan dipulas dengan pewarnaan Gram atau PAS. Dengan pemeriksaan langsung
terlihat sel budding yang khas, pseudohifa dan kadang-kadang hifa sejati. Bila cairan yang
keluar jelas berasal dari vagina, maka diagnosis dapat pula dibuat berdasarkan pH dan
pemeriksaan mikroskopis sekret vagina. Bila pH kurang dari 4,5 menunjukkan bahwa infeksi
tersebut disebabkan oleh mikroorganisme lain atau bakteri.
Pembiakan dapat dilakukan dengan media kultur Sabouraud Dextrose Agar (SDA) tanpa
sikloheksimid, dengan antibiotika kloramphenikol ditambahkan pada media. Kolonisasi jamur
akan tumbuh dalam 24-48 jam pada suhu 20-35oC. Koloni yang tumbuh berbentuk bulat, tepi
seperti lensa bikonveks, basah dan berwarna krem. Dengan media Cornmeal-Tween 80 atau
Nickerson Polysacharide Trypan Blue pada suhu 25oC, biakan akan tumbuh dalam 3 hari.

Gambar 3. Candida albicans pada pemeriksaan mikroskopis


F. Diagnosa Banding
Diagnosis banding kandidiasis vulvovaginalis ini adalah termasuk trikomoniasis dan
vaginosis bakterial yang dapat dibedakan dengan mudah melalui pemeriksaan perkiraan pH
dan secara mikroskopis, meskipun infeksi campuran kadang-kadang terjadi. Lebih sulit
memisahkan jika penderita kandidiasis vulvovaginalis dengan hasil mikroskop negatif, dan pH
vagina normal.
1. Trikomoniasis
Merupakan penyakit infeksi saluran urogenital bagian bawah pada wanita maupun pria,
dimana wanita lebih banyak menderita dan dapat bersifat akut atau kronik. Disebabkan
oleh protozoa Trichomonas vaginalis dan penularannya biasanya melalui hubungan
seksual. Gejala klinis yang tampak pada wanita adalah sekret banyak dan encer, warna
kekuningan, berbusa dan berbau tidak enak, jarang terdapat lesi kulit, ulserasi, perdarahan
pungtata pada serviks (strawberry cervix) dan gejala pada laki-laki merupakan secret
uretra mukoid atau mukopurulen, urin biasa jernih kadang ada benang-benang halus.

Gambar 4. Strawberry appearance pada serviks, khas pada trikomoniasis

1. Bakterial vaginosis
Suatu sindrom adkibat pergantian Lactobacillus spp yang merupakan flora normal vagina
dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi. Biasa ditemukan pada wanita yang
memiliki aktivitas seksual tinggi (50%), 90% laki-laki yang menjadi mitra seksual
mengandung G. vaginalis dalam tubuhnya tetapi tidak menimbulkan gejala. Gejala klinis
yaitu rasa gatal dan terbakar pada alat kelamin, sekret encer, tipis, homogen, warna putih
atau keabu-abuan serta berbau amis, tidak ditemui inflamasi pada vagina dan vulva. Pada
pemeriksaan mikroskopis dapat ditemukan clue cell yang khas
Gambar 5. Discharge pada bacterial vaginosis

A. Penatalaksanaan
Saat ini telah banyak tersedia obat-obat antimikosis untuk pemakaian secara topikal
maupun oral sistemik untuk terapi KVV akut maupun kronik. Kecenderungan saat ini adalah
pemakaian regimen antimikosis oral maupun lokal jangka pendek dengan dosis tinggi.
Antimikosis untuk pemakaian lokal/topikal tersedia dalam berbagai bentuk, misalnya krim,
lotion, vaginal tablet dan suppositoria. Tidak ada indikasi khusus dalam pemilihan bentuk obat
topikal. Untuk itu perlu ditawarkan dan dibicarakan dengan penderita sebelum memilih bentuk
yang lebih nyaman untuk penderita. Untuk keradangan pada vulva yang ekstensi mungkin lebih
baik dipilih aplikasi lokal bentuk krim.

Regimen untuk terapi KVV (CDC - 2015 Sexually Transmitted Diseases Treatment
Guidelines)
Nama Obat Medikasi

Clotrimazole 1% cream 5 g intravaginally daily for 7–14 days

Clotrimazole 2% cream 5 g intravaginally daily for 3 days

Miconazole 2% cream 5 g intravaginally daily for 7 days

Miconazole 4% cream 5 g intravaginally daily for 3 days

Miconazole 100 mg vaginal suppository, one suppository daily for 7 days

Miconazole 200 mg vaginal suppository, one suppository for 3 days

Miconazole 1,200 mg vaginal suppository, one suppository for 1 day


Tioconazole 6.5% ointment 5 g intravaginally in a single application

Butoconazole 2% cream (single dose bioadhesive product), 5 g intravaginally in a


single application

Terconazole 0.4% cream 5 g intravaginally daily for 7 days

Terconazole 0.8% cream 5 g intravaginally daily for 3 days

Terconazole 80 mg vaginal suppository, one suppository daily for 3 days

Fluconazole 150 mg orally in a single dose

Studi yang membandingkan pengobatan oral jangka pendek dengan terapi lokal
menunjukkan efektifitas yang sama. Pasien pada umumnya akan memilih terapi oral jangka
pendek daripada pengobatan topikal. Dosis total pemberian obat antimikosis peroral lebih
penting daripada lamanya pemberian terapi pada penderita KVV. Dapat juga diberikan terapi
kombinasi antara topikal dan peroral yang bukan sistemik dengan maksud untuk
mengeliminasi kandida intestinal. Hasilnya lebih baik yang kombinasi dan juga angka
kekambuhannya lebih rendah pada yang memakai terapi kombinasi
Pada KVV rekuren yang penting dilakukan sebagai terapi adalah :
- Mengurangi faktor predisposisi
Langkah yang terpenting dalam penanganan KVV yang rekuren adalah
mengevaluasi dengan hati-hati semua faktor predisposisi yang mungkin ada
pada penderita KVV tersebut, kemudian mengendalikan atau
menghilangkannya. Faktor tersebut misalnya: menghentikan pemakaian
berulang antibiotika spektrum luas, menyingkirkan atau mengendalikan
gangguan/perubahan hormonal yang mungkin ada, menghentikan pemakaian
kontrasepsi yang mengandung estrogen tinggi, mengendalikan diabetes melitus.
Selain itu juga menghindari pemakaian pakaian yang ketat, pemakaian obat
pencuci vagina, iritasi oleh karena tisu kebersihan, pemakaian air yang berkadar
klorin tinggi seperti pada kolam renang. Serta jangan lupa mempertimbangkan
kemungkinan adanya infeksi HIV.
- Terapi supresif
Untuk pengobatan KVV rekuren dapat digunakan terapi dengan jangka waktu
yang lebih lama (contoh : 7-14 hari untuk terapi topikal atau 100mg, 150mg,
200mg dosis oral flukonazol setiap 3 hari dengan total 3 dosis [hari ke-1, ke-4
dan ke-7]) untuk mecoba remisi sebelum memulai regimen awal antifungal.
Regimen awal antifungal yang digunakan adalah flukonazol oral (100mg,
150mg atau 200mg) setiap minggu selama 6 bulan. Jika regimen ini tidak sesuai,
antifungal topikal dapat diberikan. Terapi supresif merupakan terapi yang
efektif untuk mengurangi kejadian rekurensi. Namun, 30-50% wanita akan
rekuren apabila terapi awal diberikan tidak tuntas.

G. Prognosis
Kandidiasis Vulvovaginal merupakan penyakit yang dapat sembuh, umumnya ringan
tergantung berat ringannya faktor predisposisi dan komplikasi yang ada.
Daftar Pustaka

1. Central Disease Control. Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines. 2002.


Morb and Mort Weekly Report 2002 ; 51 : RR-6
2. The CDC 2015 Guidelines For The Treatment Of Sexually Tramsmitted Diseases :
Implication For Women’s Health Care. Journal of Midwifery and Women’s Health.
2015
3. World Health Organization. Guidelines For The Management Of Sexulally Transmitted
Infections 2003.
4. Association For Genitournary Medicine. National Guideline On The Management
Of Vulvovaginal Candidiasis 2002
5. Murtiasiuti ,L Dwi. Candidiasis Vulvovaginalis. Dalam : Buku Ajar Infeksi Menular
Seksual. Editor : Jusuf Barakbah, Hans Lumintang, Sunarko Martodihadjo. Surabaya :
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 2008 : 56-63
6. Kuswadji, L et al. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Editor : Adhi Djuanda.
Edisi ke-4. Jakarta: FKUI 2007 : 106-109