Anda di halaman 1dari 14

I.

NOMER SAMPEL
Sampel serbuk No. 32
II. TUJUAN
a. Untuk memisahkan analit dari matriksnya pada sediaan farmasi
b. Untuk menentukan kadar analit dalam sediaan farmasi dengan
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis
III. DASAR TEORI
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari
spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi
spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika
energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai
fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan
fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih lebih dapat terseleksi
dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun
celah optis. Pada fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang
diinginkan diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai warna yang
mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu.
Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang
benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang
30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang
benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai
cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber
spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk
larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan
absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding (Khopkar
SM,1990).
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi
cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day,
2002). Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 200-
400 nm, dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-
750 nm. Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer
yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang
dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk
analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum UV-Vis sangat
berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di
dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang
gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Rohman,
2007).
Keuntungan dari spektrofotometer adalah yang pertama
penggunaannya luas, dapat digunakan untuk senyawa anorganik, organik
dan biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra lembayung atau daerah
tampak. Kedua sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi
pada jarak 10-4 sampai 10-5 M. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6
sampai 10-7 M dengan prosedur modifikasi yang pasti. Ketiga
selektivitasnya sedang sampai tinggi, jika panjang gelombang dapat
ditemukan dimana analit mengabsorpsi sendiri, persiapan pemisahan
menjadi tidak perlu. Keempat, ketelitiannya baik, kesalahan relatif pada
konsentrasi yang ditemui dengan tipe spektrofotometer UV-Vis ada pada
jarak dari 1% sampai 5%. Kesalahan tersebut dapat diperkecil hingga
beberapa puluh persen dengan perlakuan yang khusus. Dan yang terakhir
mudah, spektrofotometer mengukur dengan mudah dan kinerjanya cepat
dengan instrumen modern, daerah pembacaannya otomatis (Skoog, DA,
1996).
Tipe Instrumen Spektrofotometer
Pada umumnya terdapat dua tipe instrumen spektrofotometer,
yaitu single-beam dan double-beam.
1) Single-beam instrument
Single-beam instrument dapat digunakan untuk kuantitatif dengan
mengukur absorbansi pada panjang gelombang tunggal. Single-beam
instrument mempunyai beberapa keuntungan yaitu sederhana, harganya
murah, dan mengurangi biaya yang ada merupakan keuntungan yang
nyata. Beberapa instrumen menghasilkan single-beam instrument untuk
pengukuran sinar ultra violet dan sinar tampak. Panjang gelombang paling
rendah adalah 190 sampai 210 nm dan paling tinggi adalah 800 sampai
1000 nm (Skoog, DA, 1996).
2) Double-beam instrument
Double-beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang
190 sampai 750 nm.Double-beam instrument dimana mempunyai dua
sinar yang dibentuk oleh potongan cermin yang berbentuk V yang disebut
pemecah sinar. Sinar pertama melewati larutan blangko dan sinar kedua
secara serentak melewati sampel, mencocokkan foto detektor yang keluar
menjelaskan perbandingan yang ditetapkan secara elektronik dan
ditunjukkan oleh alat pembaca (Skoog, DA, 1996).

IV. PRINSIP

HO
O
H H
S
NH CH3

NH2 N CH3

O
COOH
Ket: Gugus auksokrom
Gugus kromofor

Amoxicillin ditentukan kadarnya dengan menggunakan metode


spektrofotometri UV-Vis karena dilihat dalam strukturnya amoksisilin
memiliki gugus kromofor dan gugus ausokrom yang menyebabkan
amoksisilin dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet. Perpindahan
radiasi ke gugus tersebut akan terbentuk nilai absorbansi dan afinitas untuk
tereksitasi dari daerah rendah ke tinggi. Metode spektrofotometri UV-Vis
dengan prinsip multipoint method yaitu dibuat larutan pengenceran
bertingkat dengan pembuatan kurva kalibrasi untuk menghasilkan
persamaan regresi linier antara konsentrasi dengan absorbansi.

V. MONOGRAFI
Amoxicillin
 C16H19N3O5S
 BM : 365,4
 Struktur
H2N O O

HN N
OH

H
S

HO
amoxicillin

 Pemerian : serbuk hablur, putih, praktis tidak berbau


 Kelarutan : sukar larut dalam air dan dalam methanol, tidak larut
dalam karbon tetraklorida dan dalam kloroform (FI ed V hal : 113)
 Kelarutan amoxicillin dalam florey
 Ultraviolet spectrum

VI. ALAT DAN BAHAN

Spektrofotometer UV-Vis, kuvet,labu ukur,pipet mikron,pipet


tetes,beaker glass, sentrifugator,vortex, tabung sentrifugasi,plat
tetes,corong,sampel, etanol 95%,plastik wrap.

VII. PROSEDUR

1. Penetapan Panjang Gelombang Maksimum

50 mg Amoxicillin

- Dilarutkan dalam 100 mL etanol

- Dibaca absorbansi pada λ = 274 nm

Hasil

2. Pembuatan Kurva Baku Kadar Amoxicillin

Data Absorbansi & Kadar Amoxicillin

- Dikalibrasi dengan regresi linier 100 ppm,150


ppm,200 ppm,250 ppm dan 300 ppm
- Sehingga blanko adalah etanol
- Dibuat kurva kalibrasi
Hasil

3. Pengukuran Kadar Amoxicillin


-

Serbuk Amoxicillin
Amoxicillin
- Ditimbang 252,23 mg
- Dilarutkan dengan etanol
- Dikocok selama 10 menit dengan vortex
20000 rpm
- Disentrifugasi, diambil supernatannya

filtrat
Residu dibuang
- diencerkan dengan
etanol sampai tanda
batas
- Diukur absorbansi
pada λ maks
- Etanol→ blanko
- Dilarutkan replikasi 3
x
- Dihitung kadarnya
Hasil
VIII. DATA HASIL PENGAMATAN

1. Penimbangan Bahan
Formula tablet amoxicillin (Handbook of pharmaceutical manufacturing
formulation,2007)
Amoxicillin (871 mcg/mg activity)a 250 mg
Cellulose microcrystalline NC (Avicel PH 101) 28.50
Povidone K 29–32 20.00

Alcohol 190 proof, approximately qs


Magnesium stearate 3.50

A = 0,4
B = 1 cm
Є = 1400

A = є.b.c
0,4 = 1400 . 1 . c
0,4
c = 1400
c = 0,000285 M

𝑔 g
M = 𝐵𝑀𝑋𝑉 = 365,4x0,1

g = 0,000285 x 365,4 x 0,1


g = 0,0104 g / 10,44 mg/ 100 mL

1000 𝑚𝐿
ppm = 𝑥 10,44 𝑚𝑔
100 𝑚𝐿
ppm = 104

misalkan faktor pengenceran 20x

104,44 x 20 = 2.088 ppm


100 𝑚𝐿
𝑥 2.088 𝑚𝑔 = 208,8 𝑚𝑔
1000 𝑚𝐿
208,8 𝑚𝑔
Penimbangan bahan = 𝑥 302 𝑚𝑔 = 252,23 mg
250 𝑚𝑔

2. Pengenceran amoxicillin baku

50 mg dalam 100mL etanol = 500 ppm


Kurva baku = 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm, 300 ppm

*Pengenceran 300 ppm


V1 X ppm 1 = V2 X ppm 2
V1 X 500 ppm = 10 mL x 300 ppm
3000
V1 = 500
V1 = 6 mL
*Pengenceran 250 ppm
V1 X ppm 1 = V2 X ppm 2
V1 X 500 ppm = 10 mL x 250 ppm
2500
V1 = 500
V1 = 5 mL

*Pengenceran 200 ppm


V1 X ppm 1 = V2 X ppm 2
V1 X 500 ppm = 10 mL x 200 ppm
2000
V1 = 500
V1 = 4 mL

*Pengenceran 150 ppm


V1 X ppm 1 = V2 X ppm 2
V1 X 500 ppm = 10 mL x 150 ppm
1500
V1 =
500
V1 = 3 mL

*Pengenceran 100 ppm


V1 X ppm 1 = V2 X ppm 2
V1 X 500 ppm = 10 mL x 150 ppm
1000
V1 = 500
V1 = 2 mL

PPM Abs
100 0,251
150 0,384
200 0,514
250 0,613
300 0,767
KURVA KALIBRASI AMOXICILLIN DALAM
PELARUT ETANOL
0.9
y = 0.0025x + 0.0014
0.8 R² = 0.9967
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 50 100 150 200 250 300 350

3. Absorbansi larutan baku dan sampel

Larutan Baku Larutan Sampel


λ = 274nm λ = 274nm
blanko = 0 blanko = 0
300 ppm = 0,767 replikasi 1 = 0,348
250 ppm = 0,613 2 = 0,343
200 ppm = 0,514 3= 0,342
150 ppm = 0,384
100 ppm = 0,251
a = 0,0014
b = 0,0025
r2 = 0,996

4. Kadar amoxicillin

y = bϰ + a

1  0,348 = 0,0025ϰ – 0,0014


0,3466
ϰ = 0,0025
ϰ = 138,64 ppm
138,64 𝑚𝑔 𝑥
ϰ 100 𝑚𝐿
1000 𝑚𝐿

13864
X= 1000 = 13,864 mg = 0,0138 g
0,0138 𝑔
% kadar = ϰ 100 % = 5,4718 %
0,2522 𝑔

2  0,343 = 0,0025ϰ – 0,0014


0,3416
ϰ = 0,0025
ϰ = 136,64 ppm

136,64 𝑚𝑔 𝑥
ϰ 100 𝑚𝐿
1000 𝑚𝐿

13664
X= 1000 = 13,664 mg = 0,0137 g

0,0137 𝑔
% kadar = ϰ 100 % = 5,4322 %
0,2522 𝑔

3  0,342 = 0,0025ϰ – 0,0014


0,3406
ϰ = 0,0025
ϰ = 136,24 ppm

136,24 𝑚𝑔 𝑥
ϰ 100 𝑚𝐿
1000 𝑚𝐿

13624
X= 1000 = 13,624 mg = 0,0136 g

0,0136 𝑔
% kadar = ϰ 100 % = 5,4020 %
0,2522 𝑔
IX. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini mengenai penetapan kadar amoxicillin dalam


sediaan farmasi dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis.
Dimana tujuan dari praktikum ini untuk memisahkan analit dari matriksnya
pada sediaan farmasi dengan cara isolasi. Dan untuk menentukan kadar analit
dalam sediaan farmasi dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-
Vis. Analit yang akan kita tentukan kadarnya yakni amoxicillin dengan
nomor sampel 32, dimana analit amoxicillin ini dalam bentuk serbuk
berwarna putih.
Amoxicillin adalah antibiotika yang termasuk ke dalam golongan
penisilin. Pemerian amoxicillin ini memiliki bentuk serbuk hablur, putih,
praktis tidak berbau. Dan memiliki kelarutan yakni sukar larut dalam air dan
dalam metanol, tidak larut dalam karbon tetraklorida dan dalam kloroform
pada literatur dan ada juga yang menyebutkan bahwa amoxicillin larut dalam
etanol, aseton, dan dioxane. Sehingga pada isolasi sampel menggunakan
pelarut etanol, amoxicillin yang kami dapat dalam bentuk serbuk sehingga
pada isolasi menggunakan gliserin terlebih dahulu agar menurunkan tegangan
permukaannya sehingga sampel mudah larut ketika dilarutkan dengan
menggunakan etanol karena umumnya sediaan farmasi dalam bentuk serbuk
mengandung talkum, talkum sendiri tidak larut apapun sehingga harus
menggunakan gliserin agar menurunkan tegangan permukaannya dan
kemudian di vortex agar terjadi momentum kemudian di sentrifugasi agar
memisahkan analit dari matriksnya dan untuk uji kualitatif amoxicillin ini
menggunakan larutan fehling A dan B akan terbentuk hijau-coklat. Pada
penetapan kadar amoxicillin dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri
UV-Vis karena amoxicillin memiliki gugus kromofor dan gugus auksokrom
yang menyebabkan amoxicillin dapat menyerap radiasi pada daerah
ultraviolet. Perpindahan radiasi ke gugus tersebut akan terbentuk nilai
absorbansi dan afinitas untuk tereksitasi dari daerah rendah ke tinggi.
Berikut merupakan struktur amoxicillin dengan gugus kromofor dan
auksokrom:
HO
O
H H
S
NH CH3

NH2 N CH3

O
COOH
Ket: Gugus auksokrom
Gugus kromofor
Pada literatur, amoxicillin dengan kelarutan dalam etanol memiliki
panjang gelombang maksimal sebesar 274 nm dengan nilai absorptivitas
molar sebesar 1400. Metode penetapan kadar amoxicillin ini menggunakan
metode multipoint method dimana dengan membuat berbagai konsentrasi
standar yang mencakup seluruh konsentrasi analit. Plot standar yang
dihasilkan, selanjutnya digunakan untuk menghitung konsentrasi analit dalam
sampel.
Pada pembuatan larutan baku standar dibuat 5 konsentrasi yang berbeda
diantaranya 300 ppm; 250 ppm; 200 ppm; 150 ppm; 100 ppm dari hasil
pengukuran diperoleh absorbansinya secara berturut-turut adalah 0,767;
0,631; 0,514; 0,384; 0,251. Sehingga didapatkan nilai a sebesar 0,0014 , b
sebesar 0,0025 dan r2 sebesar 0,9967 dan persamaan regresi linier nya yakni y
= 0,0025x + 0,0014. Kemudian dapat dihitung kadar analit dalam sampel.
Sampel amoxicillin yang kami timbang sebanyak 0,2522 gram dan setelah
diisolasi didapatkan larutan sampel amoxicillin sebanyak 100 mL. Kami
melakukan penetapan kadar analit dengan menggunakan spektrofotometri
UV-Vis sebanyak 3 kali yang dibaca pada panjang gelombang 274 nm,
dimana absorbansi sampel yang diperoleh secara beruturut-turut diantaranya
0,348 ; 0,343 ; 0,342 sehingga absorbansi yang didapatkan sudah sesuai yakni
berada pada rentang 0,2 – 0,8. Pada absorbansi sampel yang diperoleh secara
berturut-turut dengan nilai 0,348 didapatkan persentase kadar amoxicillin
sebesar 5,4718% ; nilai absorbansi 0,343 mengandung analit sebesar 5,4322%
; nilai absorbansi 0,342 mengandung analit sebesar 5,4020%.

X. KESIMPULAN
Maka dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar amoxicillin pada sampel
nomor 32 dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis yang
dibaca pada panjang gelombang 274 nm menggunakan pelarut etanol
didapatkan persentase kadar amoxicillin dengan berat sampel yang ditimbang
sebanyak 0,2522 gram dan diperoleh absorbansinya secara berturut-turut
yakni absorbansi 0,348 mengandung amoxicillin sebesar 5,4718% ;
absorbansi 0,343 mengandung amoxicillin sebesar 5,4322% ; absorbansi
0,342 mengandung amoxicillin sebesar 5,4020%.

XI. DAFTAR PUSTAKA

Moffat, A.C., Osselton, M.D.,Widdop, B., 2011, Clarke’s Analysis of Drugs and
Poisons Fourth Edition, Pharmaceutical Press, London.
Day, R A, dan Underwood, A L. 2002. Analsis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam,
Erlangga, Jakarta
Florey, K., 1986, Analitical Profiles of Drugs Substance, vol. 15, Academic Press
Inc, New York
Abdul Rohman. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, (2014), Farmakope Indonesia edisi V.
Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas
Indonesia. Jakarta.
Skoog, D.A., D.M. West, dan F.J. Holler. 1996. Fundamental of Analytical
chemistry. 7th ed. Sauders College Publishing.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS FARMASI 2
PENETAPAN KADAR AMOKSISILIN DALAM SEDIAAN SERBUK
DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

Nama / NIM : Kintan Sri Komala D. (31116173)


Mediana (31116175)
Ridha Ishmania S.S. (31116184)

Kelas / Kelompok : Farmasi 3D / 5

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2019