Anda di halaman 1dari 17

Kepemimpinan Harga Pasar Oligopoli

Disusun Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah Teori Ekonomi Mikro II


Dosen Pengampu : Emma Dwi Ratnasari, S.E., M.Si

Penyusun :
Arif Budi Astuti 1610101010
Siska Selfiana 1610101013
Fani Aprilia 1610101017
Maslakah 1610101065
Verry Fajar Arfian 1610101071
Hernimas Naufallia H 1610101094
Wahyu Shihabudin 1610101095

K1 EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TIDAR
2018
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kita semua dan hanya dengan qudrat dan iradat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan
makalah tentang “Kepemimpinan Harga Oligopoli”.

Adapun makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Mikro
Ekonomi II. Semoga dengan penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pemahaman. Demi kesempurnaannya, penulis selalu mengharapkan adanya saran dan
masukan dari berbagai pihak.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Emma Dwi Ratna Sari selaku dosen mata kuliah Teori Ekonomi Mikro II
yang telah memberikan bimbingan dan materi makalah.
2. Orang tua yang telah memberikan dorongan serta doa dan bantuan moril.
3. Serta pihak yang telah bekerja sama membantu proses pembuatan makalah.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi
penulis sendiri dan umumnya bagi semua pihak yang membacanya.

Magelang, Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii

DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii

BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2

C. Tujuan ............................................................................................................................. 2

BAB II. PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3

A. Aturan-Aturan Yang Berlaku Dalam Pasar Oligopoli .................................................... 3

B. Pertimbangan yang Digunakan Perusahaan dalam Menentukan Harga ......................... 4

C. Strategi-Strategi Perusahaan Dalam Memasarkan Produknya ....................................... 5

D. Promosi Dalam Pasar Oligopoli...................................................................................... 7

E. Metode Penetapan Harga ................................................................................................ 8

BAB III. PENUTUP ................................................................................................................ 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam memutuskan suatu harga, seorang produsen harus memulai dari
menentukan harga untuk sebuah produk yang baru sampai dengan menentukan kembali
harga dari produk yang lama. Disamping itu, seorang produsen juga harus mempunyai
strategi yang jitu dalam memasarkan produknya demi mendapatkan keuntungan dalam
pasar.
Dalam proses penentuan harga itu dibutuhkan pertimbangan yang bijaksana jika
nanti terjadi suatu perubahan dalam persaingan. Seorang produsen suatu perusahaan itu
harus mengetahui metode-metode apa yang akan dipakai pesaingnya dalam menentukan
harga, karena semua itu mempengaruhi apakah perusahaan-perusahaan tersebut
mengikuti aturan-aturan dalam industri atau bahkan menyimpang dari aturan industri
tersebut. Banyak produsen dalam suatu perusahaan untuk mendapatkan konsumen lebih
banyak cenderung memakai metode promosi atau iklan.
Metode promosi non-harga ini dipilih oleh produsen karena sangat efektif untuk
meningkatkan jumlah konsumen, juga menambah keuntungan yang besar bagi
perusahaan. Dalam metode ini seorang konsumen tidak hanya menilai dari segi harga
saja tapi juga menilai dari segi disain, mutu produk, lokasi yang strategis, dan juga
tersedianya kredit.
Pada pasar oligopoli, perubahan harga oleh salah satu anggota oligopoli itu akan
menimbulkan reaksi dari anggota-anggota yang lain, karena jika terjadi suatu perubahan
harga maka seorang penjual akan dapat kehilangan pasarnya, jadi kebanyakan
perusahaan dalam pasar oligopoli itu menghindari perubahan-perubahan harga.

Perilaku pimpimam harga terjadi dalam struktur-struktur pasar oliopoli Yang


kolusif, dalam hal ini ada perusahaan yang dominan dan perusahaan yang tidak dominan.
Perusahaan yang dominan dinamakan sebagai pimpinan (Ieader) sedangkansatu atau
lebih perusahaan yang tdak dominan disebut sebagai pengikut (follower). Perilaku
perusahaan yang dominan akan menjadi contoh dan indicator untuk diikuti oleh
perusahaan lain untuk menghindari resiko.
Harga pada kondisi yang sempurna adalah harga yang bisa memanfaatkan sumber
daya yang ada dengan optimal, harga akan memberikan kesejahteraan yang tinggi bagi

1
konsumen dan produsen. Suatu harga yang sempurna adalah harga yang tidak terlalu
mahal bagi konsumen dan juga tidak terlalu murah bagi produsen, inilah yang disebut
harga yang
pas. Maka hanya ada satu harga yang punya ciri seperti yaitu harga yang terbentuk pada
pasar persaingan sempurna.
Kebanyakan keputusan harga itu diambil dalam lingkungan pasar yang berciri
persaingan murni ataupun monopoli. Dalam pasar persaingan tidak sempurna seorang
produsen yang menjadi leader market itu bertanggung jawab atas penetapan harga dan
dia harus mempunyai pandangan yang jelas tentang persaingan. Jika seorang produsen
telah mengetahui tujuan penetapan harga maka produsen tersebut telah siap untuk
menetapkan harga dasar suatu produk yang baru dalam pasar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja aturan-aturan yang berlaku dalam pasar oligopoly?
2. Pertimbangan-pertimbangan apa saja yang digunakan /dibuat perusahaan dalam
menentukan harga?
3. Apa strategi-strategi perusahaan dalam memasarkan produknya?
4. Banyak perusahaan yang menggunakan promosi, apakah itu efektif dalam
meningkatkan penjualan dan laba bagi perusahaan?
5. Didalam struktur pasar oligopoly terdapat market leader dan follower, apa saja
metode-metode yang digunakan market leader dalam menentukan harga?
6. Bagaimana menentukan harga yang pas bagi konsumen? Sehingga harga tersebut
bias dijangkau konsumen dan bias mendatangkan laba bagi perusahaan?

C. Tujuan
1. Mengetahui aturan- aturan dalam pasar oligopoly
2. Mengetahui Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan /dibuat perusahaan dalam
menentukan harga
3. Mengetahui strategi-strategi perusahaan dalam memasarkan produknya
4. Mengetahui keefektifan dalam meningkatkan penjualan dan laba bagi perusahaan
5. Mengetahui struktur pasar oligopoly terdapat market leader dan follower, dan
metode-metode yang digunakan market leader dalam menentukan harga
6. Mengetahui cara menentukan harga yang pas bagi konsumen Sehingga harga
tersebut bias dijangkau konsumen dan bias mendatangkan laba bagi perusahaan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Aturan-Aturan Yang Berlaku Dalam Pasar Oligopoli


a. Pasar oligopoly hanya terdiri atas sekelompok kecil perusahaan.
Dalam pasar oligopoly terdapat beberapa perusahaan raksasa yang menguasai
penjualan dan di samping itu pula terdapat beberapa perusahaan kecil. Para
perusahaan raksasa tersebut saling memengaruhi satu sama lain. Sifat ini
menyebabkan setiap perusaan harus mengambil keputusan dengan hati-hati dalam
mengubah harga, bentuk barang, corak produksi dan sebagainya. Sifat saling
memengaruhi (mutual interpendence) ini merupakan sifat khusus dari pasar
oligopoli.
b. Barang yang diproduksi adalah barang yang standar atau barang yang berbeda corak
atau bisa bersifat homogen, dan bisa juga berbeda, namun memenuhi standar
tertentu.
Barang yang diproduksi pada pasar ini ada kalanya merupakan barang yang standar
misalnya pada industry penghasil barang mentah (baja dan aluminium) dan industry
bahan baku (semen dan bahan bangunan). Selain itu pada pasar oligopoly juga
memproduksi barang yang berbeda corak. Barang yang diproduksi adalah barang
akhir seperti industry mobil, industry rokok, industry pesawat terbang, dan lain-lain.
c. Terdapat banyak pembeli di pasar
Seperti pasar persaingan sempurna, jumlah pembeli di pasar oligopoli sangat
banyak.Hanya ada beberapa perusahaan(penjual) yang menguasai pasar.
d. Adanya hambatan bagi pesaing baru.
Perusahaan yang telah lama dan memiliki pangsa pasar besar akan memainkan
peranan untuk menghambat perusahaan yang baru masuk ke dalam pasar oligopoly
tersebut.
e. Adanya saling ketergantungan antar perusahaan (produsen).
Umumnya adalah penjual-penjual (perusahaan) besar yang memiliki modal besar
saja (konglomerasi). Karena ada ketergantungan dalam perusahaan tersebut untuk
saling menunjang. Contoh: bakrie group memiliki pertambangan, property, dan
perusahaan telefon seluler (esia)
3
f. Advertensi (periklanan) sangat penting dan intensif.
Untuk menciptakan brand image, menarik market share dan mencegah pesaing baru.
Dalam pasar ini peran iklan sangat membantu peusahaan dagang karena iklan dapat
dengan mudah diterima oleh masyarakat atau calon pembeli, oleh karena itu iklan
terbukti ampuh dalam menarik perhatian calon pembeli yang ingin memilih barang-
barang , dengan mudah perusahaan membuat iklan tentang produknya dengan
keunggulan -keunggulan produknya dibanding produk perusahaan lain atau
perusahaan pesaing.
g. Sulit Dimasuki Perusahaan Baru
Dalam pasar oligopoli ini mengapa dikatakan sulit dimasuki oleh perusahaan baru,
karena image dari perusahaan yang sudah lama terbangun lebih kuat dengan pembeli
di banding perusahaan yang baru muncul yang menawarkan barang yang sama
namun pembeli atau konsumen tidak tau kualitas dari barang-barang yang dijual
perusahaan baru tersebut
h. Harga Jual Tidak Mudah Berubah
Dalam pasar oligopoli ini harga yang keluar tidak cepat naik atau turun, bisa
dikatakan harga selalu stabil dan tidak mudah berubah, mungkin saja karena
penjualan yang stabil terhadap suatu produk yang diluncurkan oleh suatu perusahaan
sudah cukup menghasilkan keuntungan, namun apa bila tiba-tiba harga naik
otomatis pembeli akan berfikir kembali untuk membeli produk ini dan bisa jadi
pembeli beralih pada produk perusahaan lainya yang menjual varian yang sama
namu harga lebih murah dengan kualitas yang hampir sama.

B. Pertimbangan yang Digunakan Perusahaan dalam Menentukan Harga


Struktur pasar oligopoli yang terdiri dari beberapa perusahaan saja membuat perilaku
suatu perusahaan akan berpengaruh secara signifikan terhadap perusahaan lain.
Akibatnya ada saling ketergantungan diantara perusahaan. Dibanding dengan pasar
persaingan tidak sempurna pasar oligopoli cenderung menunjukkan persaingan yang
lebih ketat. Pembentukan harga pada pasar oligopoli tergantung pada asumsi perilaku
para pelaku pasar. Dengan demikian, pada pasar oligopoli rawan terjadi perang harga
dianara perusahaan yang bersaing sehingga dalam batas-batas tertentu harga menjadi
tegar (rigid). Meskipun biaya mengalami kenaikan ataupun penurunan, harga tidak
berubah. Ketegaran harga ini dijelaskan oleh P. Sweezy.

4
Kemudian dengan asumsi suatu perusahaan menghadapi dua permintaan, maka
pembentukan harga pada struktur pasar oligopoli akan terlihat seperti peraga berikut:

Pada peraga diatas kurva permintaan (D1) dan MR1 menggambarkan ketika harga turun.
Adapun kurva permintaan (D2) dan MR2 menggambarkan ketika harga naik. Misalkan
kondisi awal yang dihadapi oleh seorang oligopolis terjadi pada harga P1 dengan jumlah
barang Q1. Untuk meningkatkan penjualan menjadi Q2, ia menurunkan harga menjadi
P2 dengan asumsi pesaing tidak ikut menurunkan harga. Kenyataannya, pesaing juga
menurunkan harga sehingga penjualan hanya mencapai Q2. Sebaliknya jika perusahaan
menaikkan harga menjadi P3, pesaing tidak ikut menaikkan harga sehingga penjualan
berkurang menjadi Q3.

C. Strategi-Strategi Perusahaan Dalam Memasarkan Produknya


Memang tidak ada rumus umum yang cocok untuk semua perusahaan.Setiap perusahaan
harus menentukan apa yang paling cocok dengan keadaannya, yaitu: posisinya dalam
industri dan tujuan, peluang dan sumber daya perusahaan itu.
Berikut ini adalah strategi dalam persaingan pasar:
1. Strategi persaingan dasar
M porter menyebutkan 4 strategi; 3 strategi untuk menang dan 1 strategi untuk
kalah. Tiga strategi untuk menang adalah:

5
a. Kepemimpinan biaya menyeluruh, yaitu perusahaan berusaha keras agar biaya
produksi dan distribusi termurah dapat memberi harga lebih murah dari pesaing-
pesaingnya dan memperoleh pangsa pasar yang besar.
b. Diferensiasi, yaitu perusahaan memusatkan usaha untuk menghasilkan garis
produk dan program pemasaran yang sangat berbeda sehingga menjadi
pemimpin kelas dalam industri.
c. Fokus, yaitu memusatkan pada usaha ke beberapa segmen pasar daripada
seluruh pasar.
Sementara satu strateginya adalah jika salah satu strategi tidak di terapkan dari
ketiga strategi tersebut maka perusahaan akan mengalami masa yang sulit (middle of
reader).
M. Treacy dan F. Wiersima, menyarankan agar bisnis bisa memimpin pasar harus
menempuh salah satu dari tiga strategi yang disebut nilai disiplin untuk
menyerahkann nilai pelanggan superior, yaitu sebagai berikut.
a. Operasi excellence, bisnis menyediakan nilai superior dengan memimpin
industri dalam harga dan kenyamanan
b. Customer intimacy, menyediakan nilai superior dengan mensegmentasikan
pasarnya secara tepat lalu membuat produk persis seperti yang dibutuhkan
segmen pasar.
c. Produk leadership, dengan menawarkan arus kontinuproduk terbaru yang
membuat produk sendiri dan pesaing aus. Dengan tidak mempedulikan biaya
dalam harga atau ketidaknyamanan.
2. Posisi persaingan
a. Strategi pemimpin pasar
 Perluasan pasar total
 Melindungi pangsa pasar
 Perluasan pangsa pasar
b. Strategi penantang pasar
 Serangan mengepung
 Serangan gerilya
c. Strategi pengikut pasar
d. Strategi perelung pasar

6
D. Promosi Dalam Pasar Oligopoli
a. Promosi Penjualan Melalui Iklan
Di dalam perusahaan-perusahaan modem kegiatan mempersiapkan dan mernbuat
iklan adalah suatu bagian penting dari usaha untuk memasarkan hasil produksinya.

Pengeluaran yang dilakukan perusahaan‑perusahaan untuk pengiklanan meliputi

jumlah yang cukup besar yang adakalanya menimbulkan pertambahan yang nyata
kepada biaya produksi. Perusahaan-perusahaan melakukan kegiatan pengiklanan
untuk mencapai salah satu atau gabungan dari tiga tujuan yang dinyatakan di bawah
ini:
 Untuk memberikan informasi mengenai produk. Iklan seperti ini dilakukan
untuk memberikan penerangan kepada konsumen akan suatu produk. Iklan itu
mungkin untuk barang yang telah lama ada, atau untuk barang yang haru saja
dikembangkan. Iklan seperti ini dinamakan iklan memberi penerangan atau
information advertising.
 Untuk menekankan kualitas suatu produk secara persuasif. Iklan seperti ini
dilakukan untuk menerangkan kepada konsumen akan kualitas yang sangat baik
dari sebuah produk. Beberapa bentuk Iklan, bertujuan untuk terus menerus
mengingatkan para konsumen bahwa barang tersebut ada di pasar. Iklan seperti
ini dinamakan iklan untuk bersaing atau competitive advertising. Tanpa iklan
seperti ini, konsumen dapat berubah sikapnya dan menjadi langganan.
perusahaan lain yang menghasilkan barang yang sama yang selalu diiklankan.
 Untuk memelihara hubungan baik dengan para konsumen Iklan tersebut lebih

berbentuk memperkenalkan perusahaan tersebut mengenai, kegiatan‑kegiatan

yang dilakukannya. Iklan mengenai hasil‑hasil produksinya adalah begitu

ditekankan. Iklan ini juga dilakukan untuk menghindari larangan pengiklanan


yang dilakukan pemerintah (misalnya iklan rokok)
Dari ketiga jenis iklan ini, yang dilakukan perusahaan dalam- pasar persaingan
monopolistis adalah jenis iklan yang pertama dan iklan jenis pertama terutama
digunakan pada waktu perusahaan memperkenalkan hasil-hasil produksinya yang
baru. Sedangkan iklan jenis kedua digunakan untuk mempertahankan kedudukannya
di pasar.
b. Kebaikan Dan Keburukan Pengiklanan
7
Di dalam menilai apakah iklan memberikan manfaat kepada masyarakat, terdapat
berbagai pendapat. Segolongan, orang berkeyakinan bahwa iklan merupakan suatu
penghamburan karena biaya produksi bertambah sedangkan konsumen tidak
menerima kenikmatan tambahan dari barang yang dipromosikan melalui kegiatan
pengiklanan. Pengiklanan tidak menambah atau memperbaiki mutu suatu barang.
Segolongan lain berpendapat bahwa iklan memberikan sumbangan yang positif
kepada masyarakat karena ia dapat menurunkan biaya produksi per unit. Di samping
oleh perbedaan pendapat mengenai pengaruh iklan ke atas biaya produksi dan harga,
perbedaan pendapat mengenai kegunaan iklan dikemukakan berdasarkan beberapa
argumen lain.
c. Iklan Dan Biaya Produksi
Adakah iklan akan menaikkan atau menurunkan biaya produksi per unit? Keduanya
mungkin berlaku, dan ia tergantung kepada perubahan permintaan yang terjadi
sebagai akibat kegiatan pengiklanan yang dilancarkan. Apabila permintaan menjadi
sangat bertambah elastis, besar kemungkinan biaya produksi per unit akan menjadi
lebih rendah. Tetapi kemungkinan ini tidak banyak berlaku, dan ini berarti bahwa
pada umumnya iklan akan menimbulkan kenaikan biaya produksi. Apabila
perusahaan melakukan pengiklanan, biaya produksi menjadi lebih tinggi, dan ini

dicerminkan oleh kenaikan biaya rata‑rata . Pada waktu yang sama usaha

mempromosikan penjualan melalui iklan tersebut menyebabkan permintaan ke atas


produksi perusahaan bertambah. Apabila permintaan tersebut bertambah ,Dengan
demikian iklan telah menyebabkan jumlah barang yang dijual bertambah akan tetapi
iklan tersebut menaikkan harga . berdasarkan kepada keadaan yang baru diuraikan
segolongan hate ekonomi berpendapat bahwa iklan merupakan penghamburan
karena ia menaikkan biaya produksi tanpa membuat suatu perubahan apa pun ke atas
bentuk, berat dan mutu suatu barang.

E. Metode Penetapan Harga


1. Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Metode ini lebih mengedepankan aspek permintaan konsumen, atau situasi pasar, dari
aspek yang umum dipakai yaitu biaya.

8
Beberapa hal yang menjadi alasan penggunaan metode adalah, daya beli, jenis segmen
yang dilayani, posisi produk di pasar, manfaat atau benefit produk, serta tingkat potensial
pasar.
Beberapa metode penetapan harga jual berbasis permintaan adalah :
a. Skimming Pricing
Yaitu membuat penetapan harga produk yang cukup tinggi di masa perkenalan atau
pertumbuhan awal dari produk, kemudian menurunkan harga tersebut ketika tingkat
persaingan mulai naik, atau pasar sudah mulai turun daya tarik-nya.
Atau kadang diterapkan dengan dasar melayani segmen yang lebih menarik dan
potensial terlebih dahulu (daya beli tinggi), jika sudah mulai jenuh, maka akan
merambah ke pasar dengan daya beli dibawahnya atau yang price sensitif
b. Penetration Pricing
Menerapkan penetapan harga produk rendah di awal produk dipasarkan, dengan
harapan tercapai volume penjualan yang tinggi sehingga perusahaan bisa mencapai
skala ekonomis dalam waktu yang singkat, dan penetrasi ini membentuk barrier
bagi pesaing untuk masuk dalam pasar ini.
c. Prestige Pricing
Menerapkan tingkat harga yang tinggi, relatif tinggi dengan harapan konsumen yang
sangat peduli dengan status akan tertarik dengan produk tersebut.
Konsep dasar dari penetapan harga pretige ini adalah, harga dapat digunakan untuk
ukuran kualitas dari barang dan jasa, di mana jika harga diturunkan atau dinaikan
sampai dengan tingkat tertentu, maka ketertarikan konsumen akan menurun juga.
d. Price Lining
Menerapkan metode penetapan harga jual lebih dari satu atau beberapa macam harga
(biasanya maksimal 3 macam) untuk jenis barang yang sama, yang didasarkan pada
atribut tertentu, misal warna tertentu, dimana warna tersebut memang lagi trending,
atau model dengan fitur tertentu dimana fitur tersebut ternyata banyak diminati
konsumen.
2. Penetapan Harga Berbasis Biaya
Metode ini menetapkan harga produk dengan memperhitungkan semua biaya produksi,
operasional dan biaya pemasaran serta tingkat laba yang diharapkan.
Metode yang berbasis biaya lebih mengutamakan aspek penawaran daripada
aspek permintaan.

9
a. Standart Mark-up Pricing
Dalam standard mark-up harga, (penetapan harga standard mark-up) maka penetapan
harga produk ditentukan dengan jalan menambahkan persentase tertentu dari biaya
yang terjadi.
Dalam metode ini, persentase yang ditambahkan cukup bervariasi, dan biasanya
dalam satu mata rantai distribusi akan ada penambahan yang semakin kebawah
semakin besar.
Misal persentase mark-up distributor 10%, kemudian di saluran bawahnya, agen atau
grosir 15%, baru kemudian ditambahkan lagi 25% untuk retailer.
Kemudian tingkat per putaran juga menjadi dasar dalam menentukan besaran
persentase nya, semakin tinggi tingkat perputarannya, maka semakin kecil
persentasenya.
b. Cost Plus Mark-Up
Pada strategi cost plus mark-up, maka penetapan harga produk ditentukan dengan cara
menambahkan prosentase tertentu terhadap biaya produksi, atau biaya yang muncul
sehubungan dengan keberadaan produk tersebut.
Metode ini banyak diterapkan pada produk-produk yang sifatnya project, misal
pembangunan gedung, jembatan atau project pengadaan kendaraan, pesawat dan lain-
lain.
Dalam metode cost plus, ada 2 macam, yaitu percentage of cost pricing, atau
sejumlah prosentase tertentu dari nilai barang. Misal nilai sebuah gedung adalah 2
miliar, fee untuk tenaga pengawas konstruksi sebesar 5%, maka harga gedung
berubah menjadi 2,1 miliar (plus 100 jt untuk komisi pengawas).
Yang kedua adalah fixed fee pricing, pada metode ini pembuat, atau produsen akan
mendapatkan ganti rugi sejumlah yang dikeluarkan, dan mendapat sejumlah fee
tertentu seperti yang sudah disepakati, jadi besar fee tidak dipengaruhi nilai harga
barang.
3. Penetapan Harga Berbasis Persaingan
a. Customary Pricing
Pada metode customary pricing, penetapan harga produk ditentukan oleh faktor
tradisi, saluran distribusi yang terstandarisasi, atau faktor-faktor lain yang dijadikan
pegangan oleh pedagang.

10
Kadang untuk mempertahankan harganya, pedagang atau produsen akan mengubah
ukuran kemasan, atau menyesuaikan isinya.
Contoh barang yang banyak menggunakan metode penetapan harga jual secara
customary pricing adalah, beras, gula, tepung.
b. Market Pricing
Metode penetapan harga jual secara market pricing ini muncul karena anggapan
bahwa cukup sulit untuk melakukan identifikasi struktur pembentuk harga yang
berlaku di pasar atau yang ditetapkan pesaing untuk jenis produk atau kategori
produk tertentu, sehingga produsen / perusahaan akan melakukan penetapan harga
yang subyektif.
Dengan metode ini akan muncul 3 macam penetapan harga produk, yaitu :
 Above market pricing, di mana harga ditetapkan diatas harga rata-rata yang
terjadi di pasar. Metode penetapan harga jual ini akan cocok diterapkan pada
produk-produk yang memiliki prestige atau produk yang dihasilkan oleh
perusahaan yang sudah punya nama besar.
 At market pricing, berarti harga ditetapkan sama atau mendekati harga yang
berlaku di pasar. Pada metode ini perusahaan tidak terlalu menghitung biaya
pada struktur harga, tetapi perusahaan menganggap harga yang terjadi di pasar
adalah harga yang sudah ditetapkan sekian perusahaan yang lebih dulu masuk di
industri tersebut.
 Terakhir adalah below market pricing, di mana harga ditetapkan dibawah
harga pasar. Pada metode penetapan harga jual below market pricing ini
perusahaan biasanya memang memiliki resources di sana, seperti memiliki
saluran distribusi sendiri. Atau perusahaan distribusi yang membuat privat label,
sehingga memiliki kemampuan untuk menciptakan produk dengan harga sangat
kompetitif.
c. Loss Leader Pricing
Pada metode penetapan harga Loss leader pricing ini, harga ditetapkan dengan harga
dibawah total cost-nya, atau jual rugi. Sebenarnya perusahaan memiliki maksud
khusus dengan metode penetapan harga jual yang “tampak rugi” ini.
Biasanya strategi penetapan harga Loss leader pricing ini adalah bagian dari
strategi perusahaan untuk mendapatkan share produk yang besar, untuk medapatkan

11
konsumen yang lebih besar dan lebih cepat, jadi strategi ini bersifat sementara,
sampai dengan di mana target program / strategi perusahaan telah tercapai.

4. Penetapan Harga Berbasis Laba


Adanya peningkatan dalam permintaan atau penurunan dalam biaya total akan
memperluas tingkat operasi yang menguntungkan dan meningkatkan laba.
Pada metode penetapan harga berbasis laba, perusahaan berusaha menetapkan harga
berdasar keseimbangan antara pendapatan dan biaya.
a. Target Profit Pricing
Pada metode ini perusahaan menetapkan besaran laba tahunan yang diharapkan,
kemudian dihitung berapa harga yang harus ditetapkan untuk jumlah unit penjualan
tertentu agar laba tersebut dapat tercapai.
b. Target Return On Sales Pricing
Dalam metode ini, perusahaan akan menetapkan tingkat harga tertentu yang dapat
menghasilkan laba dalam prosentase tertentu terhadap volume penjualan. Metode ini
banyak di gunakan oleh perusahaan perdagangan, terutama jaringan-jaringan
supermarket.
Demikian bahasan mengenai bagaimana membuat penetapan harga produk,
sebenarnya dalam menetapkan harga memang banyak hal yang harus diperhatikan, hal
ini sangat tergantung dengan tujuan dari perusahaan itu sendiri.

Selain 5 faktor diatas, juga ada faktor lain yang ikut menentukan hasil akhir dari
penetapan harga itu, yaitu pemberian diskon, allowance dan penyesuaian.
Seringkali penerapan diskon, allowance dan penyesuaian adalah bagian dari strategi
penetapan harga dari perusahaan tersebut.
a. Diskon berkaitan dengan potongan harga yang diberikan sebagai reward atas
aktivitas tertentu, seperti kuantitas pembelian, musiman atau event khusus dan
metode / syarat pembayaran tertentu seperti cash.
b. Allowance ini mirip diskon, tetapi penerapannya pada kondisi yang khusus, seperti
trade-in, promosi khusus, atau cuci gudang.
c. Penyesuaian ini berkaitan dengan kondisi geografis titik penjualan barang dengan
tempat produksi barang, dimana nilai penyesuaian biasanya didasarkan pada biaya
yang muncul karena transportasi, seperti freight cost.

12
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan analisis diatas dapatlah disimpulkan bahwa dalam pasar oligopoli
dimana perusahaan-perusahaan tidak melakukan kesepakatan diantara mereka, tingkat harga
adalah bersifat rigid, yaitu bersifat sukar mengalami perubahan. Ia cenderung untuk tetap
berada pada tingkat harga yang telah ditetapkan pada permulaannya. Dan kemungkinan
mengurangi persaingan dan memperoleh untung yang tidak normal ini menimbulkan akibat
yang kurang menguntungkan. Apabila terjadi perang harga dalam pasar oligopoli maka
konsumenlah yang akan diuntungkan, sebaliknya jika produsen-produsen melakukan
kerjasama maka konsumen yang akan dirugikan. Pasar oligopoli setiap perusahaan
memposisikan dirinya sebagai bagian yang terkait dengan permainan pasar. Dimana
keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga
semua usaha promosi, iklan pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya
dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka. Kelebihan dan
kekurangan pasar oligopoli adalah adanya efisiensi dalam menjalankan kegiatan produksi,
dan Persaingan di antara perusahaan akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam hal
harga dan kualitas barang. dibutuhkan investasi dan modal yang besar untuk memasuki pasar,
karena adanya skala ekonomis yang telah diciptakan perusahaan sehingga sulit bagi pesaing
baru untuk masuk ke dalam pasar, apabila terdapat perusahaan yang memiliki hak paten atas
sebuah produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan lain untuk memproduksi barang
sejenis, perusahaan yang telah memiliki pelanggan setia akan menyulitkan perusahaan lain
untuk menyainginya, adanya hambatan jangka panjang seperti pemberian hak waralaba oleh
pemerintah sehingga perusahaan lain tidak bisa memasuki pasar, adanya kemungkinan
terjadinya kolusi antara perusahaan di pasar yang dapat membentuk monopoli atau kartel
yang merugikan masyarakat. Dalam pasar persaingan harga oligopoli terdapat berbagai
macam penentuan harga: Penetapan Harga Berbasis Permintaan, Penetapan Harga Berbasis
Biaya, Penetapan Harga Berbasis Persaingan, Penetapan Harga Berbasis Laba.
13
14