Anda di halaman 1dari 10

ASPEK ETIK DAN HUKUM DALAM

TRANSCULTURAL NURSING

Dosen: KUSMAN IBRAHIM


Untuk Memenuhi Tugas Individu pada Mata Ajar Transcultural Nursing

Oleh
ASHA GRACE SICILIA
NPM 220120180040

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2018
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengobatan komplementer merupakan suatu fenomena yang muncul saat ini diantara

banyaknya fenomena-fenomena pengobatan non konvensional yang lain, seperti pengobatan

dengan ramuan atau terapi herbal, akupunktur, dan bekam. National Centre for Complementary

and Alternative Medicine (NCCAM) mengertikan Complementary and Alternative Medicine

(CAM) sebagai sekelompok dari berbagai macam pengobatan dan perawatan kesehatan yang

terdiri dari praktisi dan pelayanannya tidak termasuk dalam pengobatan konvensional

(Lindquist,2014

Klien yang menggunakan terapi komplemeter memiliki beberapa alasan. Salah satu

alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu adanya harmoni dalam diri

dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Alasan lainnya karena klien ingin terlibat

untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan dan peningkatan kualitas hidup dibandingkan

sebelumnya. Terapi komplementer menjadi salah satu pilihan pengobatan masyarakat. Di

berbagai tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien bertanya tentang terapi komplementer

atau alternatif pada petugas kesehatan seperti dokter ataupun perawat. Hal ini terjadi karena klien

ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan pilihannya, sehingga apabila keinginan

terpenuhi akan berdampak ada kepuasan klien.

Kebutuhan masyarakat yang meningkat dan berkembangnya penelitian terhadap terapi

komplementer menjadi peluang perawat untuk berpartisipasi sesuai kebutuhan masyarakat.

Perawat dapat berperan sebagai konsultan untuk klien dalam memilih alternatif yang sesuai

ataupun membantu memberikan terapi langsung. Namun, hal ini perlu dikembangkan lebih lanjut
melalui penelitian (evidence-based practice) agar dapat dimanfaatkan sebagai terapi keperawatan

yang lebih baik dan aspek legal yang ada di pemerintahan mendukung.

1.2 Rumusan Masalah

Pelayanan kesehatan dengan terapi komplementer yang semakin berkembang saat ini

menjadi pilihan utama untuk pendamping pengobatan dalam mengatasi berbagai gejala penyakit

terutama bagi pasien yang mengalami gangguan akibat factor psikologis, berdasarkan hal

tersebut, maka apakah aspek legal yang ada di Indonesia dan praktik keperawatan komplementer

sudah dimanfaatkan masyarakat?


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hukum dan Etik Praktik Komplementer di Indonesia

1. Permenkes no. 1109 tahun 2007

Isu tentang pengobatan komplementer dan alternatif termasuk isu baru dalam dunia

kesehatan namun dalam prakteknya sudah tergolong lama. Meski tergolong isu baru, pemerintah

rupanya sudah adaptif dengan persoalan tersebut dengan membuat Peraturan Menteri Kesehatan

nomor 1109//Menkes/PER/IX/2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-

Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Dalam Permenkes tersebut disebutkan pengobatan

komplementer-alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan

efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik, yang belum diterima

dalam kedokteran konvensional.

Pengobatan komplementer dalam prakteknya bisa berupa penggabungan cara pengobatan

medis konvensional dengan non konvensional. Ada tiga jenis pengobatan komplementer yang

telah ditetapkan Departmen kesehatan yang telah diintegrasikan ke dalam pelayanan medis

konvensional yakni akupuntur, terapi hiperbarik dan terapi herbal medik. Ketiga jenis

pengobatan komplementer tersebut dilakukan oleh dokter umum berdasarkan kompetensinya dan

telah melalui pelatihan yang bersertifikasi.

Berdasarkan artikel penelitian oleh Erry (2018) yang berjudul “Kajian implementasi

kebijakan pengobatan komplementer alternatif dan dampaknya terhadap perijinan tenaga

kesehatan praktek pengobatan komplementer alternative akupuntur.” Pengobatan komplementer


alternatif sesuai Permenkes 1109 tahun 2007 diperuntukkan hanya untuk dokter dan dokter gigi,

sedangkan perawat hanya membantu dalam pelayanan. Pengobatan komplementer alternatif

termasuk diantaranya hiperbarik, akupuntur, dan herbal. Di Denpasar sebagai pengobat

komplementer alternatif adalah S1 yang berpraktek dan berpendidikan kesehatan, sedangkan

praktek perseorangan perawat bersifat membantu.

Di Provinsi Jawa Tengah, implementasi Permenkes No 1109 tahun 2007 terkait pengobatan

komplementer alternatif belum ada, karena prosedur persyaratan yaitu dokumen yang belum

bisa/sulit dipenuhi dari pihak pemohon seperti pendidikan terstruktur yang berkaitan dengan atau

pelatihan yang terkait selama 3 bulan. Belum ada tenaga kesehatan yang memiliki ijin resmi

sebagai tenaga kesehatan yang praktek komplementer alternatif sesuai Permenkes tersebut.

Persyaratan tidak dapat dipenuhi karena pendidikan tenaga pelayanan pengobatan komplementer

alternatif belum ada, yang ada adalah pelatihan-pelatihan yang belum terstandar, sehingga

kompetensi dipertanyakan. Standar kompetensi harus ada dan jelas, siapa yang melakukan uji

kompetensi, namun sampai saat ini belum ada kejelasan. Persyaratan ijin, prosedur dan sistem

pelaporan dalam Permenkes no 1109 tahun 2007 belum sepenuhnya menjelaskan ketentuan

tersebut dengan jelas. SBR

TPKA berlaku selama 5 (lima) tahun sesuai berlakunya Surat Tanda Registrasi dokter atau

dokter gigi. Pada pasal 12 ayat 1 Permenkes no 1109 tahun 2007 tentang penyelenggaraan

pengobatan komplementer alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan menyebutkan tenaga

pengobatan komplementer alternatif terdiri dari dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya

yang memiliki pendidikan terstruktur dalam bidang pengobatan komplementer alternatif. Pasal

ini ditafsirkan berbeda oleh Dinas Kesehatan provinsi, sehingga implementasinya berbeda.
2. Standar pelayanan

Sekarang ini masih banyak praktek pengobatan komplementer-alternatif yang

diselenggarakan masyarakat bukan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang teregistrasi dan

beberapa diantaranya tidak berizin. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kota Makassar,

beberapa praktek pengobatan yang tidak berizin sudah ditindaki dan dilarang melakukan praktek

pengobatan demi perlindungan pada masyarakat.

Pengobatan komplementer-alternatif sesuai dengan Permenkes No. 1109/2007 dapat

dilakukan oleh rumah sakit pendidikan dan non pendidikan, rumah sakit khusus, rumah sakit

swasta hingga puskesmas, termasuk praktek perorangan dan praktek berkelompok (Pasal 10).

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat yang hendak membuka fasilitas pengobatan

komplementer-alternatif tetapi dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan yang ada

sepanjang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

Bagi penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional, telah diterbitkan Peraturan

Pemerintah Nomor 103/2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. Peraturan tersebut

dapat menjadi pegangan bagi pemerintah daerah dalam memberikan perizinan tenaga kesehatan

tradisional seperti STPT (Surat Tanda Penyehat Tradisional) yang diberi kewenangan pada

pemerintah daerah kabupaten/kota.

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi masyarakat yang hendak membuka

pengobatan komplementer - alternatif adalah Surat Izin Praktek (SIP), Surat Tanda Registrasi

(STR) dan Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif (SBR-TPKA)

dan Surat Tugas Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif (ST-TPKA). Beberapa dokumen

resmi yang disebut diatas merupakan perintah sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang

No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dimana pada Pasal 54 mengatur kewenangan
pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengawasan penyelenggaraan pelayanan

kesehatan serta dan Pasal 55 kewajiban pemerintah menetapkan standar mutu pelayanan

kesehatan yang dijabarkan secara teknis didalam Permenkes Nomor 1109/2007.

Mekanisme perizinan bagi penyelenggara pelayanan kesehatan komplementer-alternatif

adalah perangkat bagi pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan supervisi dan sarana

kontrol standar dan mutu pelayanan. Dengan tujuan untuk memastikan bahwa masyarakat yang

menggunakan jasa fasilitas kesehatan tersebut berlangsung secara aman dan nyaman. Disinilah

tugas utama Ombudsman agar pelayanan publik tidak mengakibatkan kerugian bagi masyarakat

sebagai penerima layanan.

2.2 Praktik Komplementer di Sumatera Utara

Sejak dahulu, teknik pijat sudah banyak dikenal masyarakat sebagai alternatif menjaga

kebugaran bahkan terapi pengobatan. Pola dan praktik pemijatan banyak dan cukup berkembang

di masyarakat, salah satunya adalah akupresur. Akupresur adalah salah satu terapi komplementer

yang sudah diterapkan di Puskesmas Padang bulan Sumatera Utara. Metode terapi akupresur

telah banyak diteliti salah satunya oleh Linda juwita yang meneliti terapi akupresur pada titik

perikardium 6 dalam mengatasi mual dan muntah pada kehamilan.

Akupresur atau yang biasa dikenal dengan terapi totok/tusuk jari adalah salah satu cara

untuk fisiotherapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik-titik tertentu pada

tubuh. Terapi akupresur merupakan pengembangan dari ilmu akupuntur, sehingga pada

prinsipnya metode therapy akupresur sama dengan akupuntur, yang menbedakannya terapi

akupresur tidak menggunakan jarum dalam proses pengobatannya. Akupresur berguna untuk

mengurangi ataupu mengobati berbagai jenis penyakit dan nyeri serta mengurangi ketegangan

dan kelelahan. Proses pengobatan dengan teknik akupresur menitik beratkan pada titik-titik saraf
tubuh. Dikedua telapak tangan dan kaki kita terdapat titik akupresur untuk jantung, paru-paru,

ginjal, mata, hati, kelenjar tiroid, pangkreas, sinus dan otak (Fengge, 2012)

Jenis terapi akupresur yang tersedia di puskesmas padang bulan diantaranya

adalah akupresur untuk anak (asma, batuk, pilek, perut kembung, gangguan nafsu makan, dan

mengompol); akupresur untuk wanita (mengatasi nyeri haid/dismenore, ASI tidak lancar);

akupresur untuk mengatasi nyeri kepala sebelah (migraine); akupresur untuk meringankan nyeri

otot (myalgia); akupresur untuk atasi nyeri gigi, nyeri lutut, mual, susah buang air besar

(konstipasi), susah tidur (insomnia), serta pemulihan stamina sehabis sakit. Layanan kolaborasi

kesehatan yang terintegrasi di Puskesmas Padang Bulan ini menjadi bukti bahwa antara

pengobatan medis konvensional dengan konsep pengobatan berbasis tradisi dapat saling

melengkapi. Untuk itu, pembinaan dan pengawasan terhadap pengobatan tradisional akupresur

sangat diperlukan guna meningkatkan mutu pelayanan.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perijinan tenaga

kesehatan dalam pengobatan komplementer alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan yang

diatur dalam Permenkes no. 1109/Menkes/Per/X/2007 ditafsirkan berbeda oleh Dinas Kesehatan

Provinsi. Di sebagian provinsi bahkan belum terimplementasikan. Selain itu, Permenkes No.

1109/Menkes/Per/X/2007 pasal 12 ayat 1 tentang persyaratan pendidikan terstruktur juga

ditafsirkan berbeda oleh Dinas Kesehatan Provinsi. Organisasi profesi dan rekomendasi profesi

yang dimaksud dalam Permenkes no 1109 tahun 2007 pasal 13 masih belum jelas.

Masyarakat Indonesia sudah mengenal adanya terapi akupresur yang telah berkembang

lama. Kenyataannya klien yang berobat di berbagai jenjang pelayanan kesehatan tidak hanya

menggunakan pengobatan konvensional (dokter) tetapi secara mandiri memadukan terapi

tersebut yang dikenal dengan terapi komplementer. Perkembangan terapi komplementer atau

alternatif sudah luas, termasuk didalamnya orang yang terlibat dalam memberi pengobatan

karena banyaknya profesional kesehatan dan terapis selain dokter umum yang terlibat dalam

terapi komplementer. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan melalui

penelitian-penelitian yang dapat memfasilitasi terapi komplementer agar menjadi lebih dapat

dipertanggungjawabkan. Untuk itu, pembinaan dan pengawasan terhadap pengobatan tradisional

akupresur sangat diperlukan guna meningkatkan mutu pelayanan.


DAFTAR PUSTAKA
Erry, Susyanty, L. A., Raharni, Sasanti, H. R. (2016). Kajian Implementasi Kebijakan
Pengobatan Komplementer Alternatif Dan Dampaknya Terhadap Perijinan Tenaga
Kesehatan Praktek Pengobatan Komplementer Alternatif Akupuntur. Buletin Penelitian
Sistem Kesehatan – Vol. 17 No. 3: 275–284

Snyder. M., Lindquist. R,. (2002). Complementary Alternative Therapies In Nursing. 4th Ed.
New York: Springer Publishing Company, Inc.

Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. (2004). Clinical nursing skills: Basic to advanced skills.
New Jersey: Pearson Prentice Hall.
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20161104/0718729/akupresur-dan-fisioterapi-
puskesmas-padang-bulan-medan-layanan-kesehatan-kolaborasi-cukup-digemari/