Anda di halaman 1dari 18

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

Analisis OECD Prinsip 5 dan 6


Kasus : Satyam Computer Service, India

Oleh :
Vicky Angel Putra 18401240279
Diah Sri Perwitasari 18401250289
Niken Savitri Primasari 18401250290

Program Pendidikan Profesi Akuntan


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
2019
Analisis OECD Prinsip 5 pada Kasus Satyam Computer Service

Pendahuluan
Satyam adalah salah satu perusahaan IT terbesar di India yang telah
mencatatkan perkembangan di bidang keuangan yang cukup pesat pada
periode 2008. Perusahaan ini mempunyai 50 ribu karyawan yang tersebar di
berbagai pusat pengembangan IT-nya di negara-negara Asia, Amerika, Eropa,
dan Australia. Menjadi rekanan dari 654 perusahaan global, termasuk General
Electric, Nestle, Qantas Airways, Fujitsu, dan 185 perusahaan Fortune 500 lainnya.
Sahamnya listed di India’s National Stock Exchange, The New York Stock
Exchange dan Euronext di Eropa. didirikan dan dipimpin oleh Ramalinga Raju,
lulusan MBA Ohio University dan alumnus Harvard University.
Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3
persen menjadi 2,1 milyar dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam mengatakan bahwa
revenue-nya akan meningkat sebesar 19-21 persen menjadi 2,55-2,59 milyar dolar
pada bulan Maret 2009. Melihat semua reputasinya, pantas saja jika Satyam
dinobatkan menjadi raksasa IT terbesar keempat di India.
Pada 16 Desember 2008, Satyam mengumumkan rencananya untuk
mengakuisisi controlling interest di Maytas Infrastucture dan Maytas Properties
senilai $1,6juta. Keluarga dari Ramalinga Raju, yaitu pemilik Satyam, menguasai
saham yang besar di dua perusahaan Maytas tersebut. Kekhawatiran terhadap
valuasi dari dua entitas tersebut, timing, metode pembayaran dari para direktur
independen menimbulkan penyelidikan yang lebih mendalam oleh investor
Satyam dan ahirnya terjadi pembatalan rencana akuisisi tersebut. Kejadian
tersebut kemudian diikuti dengan empat direktur independen mengundurkan diri
dan Raju mengakui atas tindakan manipulasi laporan keuangan sebesar $1juta
selama beberapa tahun terakhir.
Namun, sungguh ironis, pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba
mengatakan bahwa sekitar 1,04 milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah
palsu (jumlah itu setara dengan 94% nilai kas & bank Satyam di akhir September
2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran direksi Satyam, Ramalinga Raju
juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan bunga diterima di
muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya
(understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated
debtors).
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai
keuntungan perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih
antara keuntungan yang sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan
keuangan semakin lama semakin besar.
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai
keuntungan perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih
antara keuntungan yang sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan
keuangan semakin lama semakin besar.
Alhasil menyusul skandal fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10
Januari 2009 harga saham Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai
2% dari harga saham tertingginya di tahun 2008 sebesar 544 rupees. Satyam
adalah pemenang penghargaan the coveted Golden Peacock Award for
Corporate Governance under Risk Management and Compliance Issues di tahun
2008. Gelar itu kemudian dicabut sehubungan dengan skandal fraud yang
dihadapinya.
Satyam selama enam tahun terakhir melakukan pelaporan yang salah.
Hal ini bermula dari keinginan Ramalingga Raju untuk mendapatkan ijin
perolehan dana dari bank untuk melakukan ekspansi Satyam. Sehingga Raju
melakukan beberapa manipulasi seperti yang diungkapkan dalam surat yang
dibuat oleh Ramalingga Raju pada saat meninggalkan jabatan Chairman di
Satyam bawah ini :
a) Saldo kas dan bank sebesar 50,40 miliar adalah fiktif jika dibandingkan
dengan RS 53,61 milyar yang ditunjukkan dalam pembukuan
b) Piutang bunga fiktif sebesar RS 3,67miliar
c) Utang yang understated senilai RS 12,3 miliar untuk dana dana yang “saya”
atur
d) Piutang yang terlalu tinggi(overstated) senilai RS 4,90 miliar. (yang
ditunjukkan di pembukuan sebesar RS 26,51 miliar)
e) Untuk Q2 September, pendapatan lebih besar RS 5,88 milyar dan operating
margin yang dilaporkan senilai Rs 6,49 miliar seharusnya bernilai Rs 610 juta.
Hal ini mengakibatkan adanya saldo kas fiktif senilai Rs 5,88 miliar.

“It was like riding a tiger, not knowing how to get off without being eaten” -
Ramalingga Raju- Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir
– Price Waterhouse India mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi
tidak akurat dan tidak reliable karena dilakukan berdasarkan informasi yang
diperoleh dari manajemen Satyam. Institusi akuntan di India ICAI, meminta PwC
memberikan jawaban resmi dalam 21 hari terkait skandal Satyam. Ini bukan
pertama kalinya PwC tersangkut masalah di India. Pada 2005, The Reserve Bank
of India melarang PwC untuk mengaudit bank selama 8 tahun karena melakukan
audit yang tidak memadai atas non-performing asset dari Global Trust Bank. PwC
menghadapi investigasi terkait kegagalannya mengidentifikasi fraud senilai 21
juta euro di divisi air mineral grup perusahaan Greencore.

Analisis OECD Prinsip 5


1. Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas
akuntansi dan pengungkapan keuangan dan non-keuangan;
Pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar
1,04 milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara
dengan 94% nilai kas & bank Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya
yang dikirimkan ke jajaran direksi Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui
bahwa dia memalsukan nilai pendapatan bunga diterima di muka (accrued
interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya
(understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated
debtors).
Satyam mengakui bahwa mereka tidak memiliki anggota komite audit
yang ahli keuangan, sebagaimana diharuskan dalam aturan regulator pasar
model di Amerika Serikat.
Pada akhir tahun 2008 melakukan kebijakan akuisisi dengan Maytas
Properties dan Maytas Infrastructure dengan nilai akuisisi $1,6 milyar yang
dijalankan oleh anak laki-laki dari Ramalinga Raju yang merupakan kepala
dan pendiri Satyam (promoter). Hal tersebut mengindikasikan adanya
transaksi hubungan istimewa atau related party transactions (RPTs) yang
dilakukan atas hubungan keluarga. Selain itu juga terdapat indikasi lain yang
melatar belakangi tindakan fraud yang dilakukan oleh Satyam, yaitu ternyata
perusahaan tidak memiliki Dewan Independen dan walaupun Satyam
membedakan posisi CEO dan kepala Dewan, kedua posisi tersebut ternyata
diduduki oleh orang yang masih memiliki hubungan saudara dan memiliki
kepentingan utama dalam manajemen..
Salah satu direktur independen menerima kompensasi tujuh kali lebih besar
dari yang lain dan angkanya di atas harga pasar. Ternyata dia juga
melakukan pekerjaan konsultasi untuk perusahaan, sesuatu yang seharusnya
tidak boleh dilakukan oleh seorang direktur independen karena akan
menyebabkan benturan kepentingan. Data lain menyebutkan bahwa
anggota dewan Satyam kebanyakan diisi oleh keluarga dari pemegang
saham pengendali

2. Pihak Auditor Eksternal


PwC India tidak menjalankan tanggungjawabnya dengan memadai sebagai
seorang auditor. PwC India dianggap tidak melakukan audit yang memadai
atas laporan keuangan Satyam sehingga menyebabkan penyelewengan
(fraud) yang dahsyat bagi keuangan dan akuntansi, yang tidak terdekteksi
selama bertahun-tahun. Sebagai auditor yang profesional, seharusnya PwC
India yang menangani klien Satyam dapat memberikan jasa audit profesional
sebaik mungkin sesuai dengan codes of ethics dan peraturan-peraturan yang
berlaku. Auditor.
profesional seharusnya dapat memberikan jasa pemeriksaan (audit) yang
memadai sehingga hasil pemeriksaan yang tertuang dalam opini yang
diberikan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat digunakan seoptimal
mungkin bagi pembuatan keputusan oleh users dari laporan keuangan yang
telah diaudit.
PwC India dalam kasus ini cenderung menunjukkan sikap toleransi
terhadap kesalahan-kesalahan tersebut, yang berimplikasi pada
tidakindependennya PwC India dalam melakukan audit.
Namun dalam kasus ini pihak PwC India tidak menunjukkan kompetensinya
dalam mengaudit Satyam karena tidak mengungkapkan keslahan-kesalahan
yang terjadi dalam laporank euangan Satyam dalam hasil auditnya. Kasus ini
menjelaskan pula bahwa PwC India tidak memberikan jasa audit dengan
prinsip kehati-hatian. Kompetensi disini bukan hanya berarti bahwa dalam
memberikan jasa audit, auditor harus memiliki pengetahuan, wawasan dan
kompetensi yang memadai, akan tetapi juga bersikap rasional atas setiap
tindakan yang akan memiliki dampak kepada client dan pengguna (users)
laporan keuangan yang telah diaudit. Oleh karenanya, auditor juga harus
mempertimbangkan setiap risiko yang dihadapi dan yang akan terjadi ketika
auditor mengeluarkan suatu opini mengenai kondisi kewajaran kliennya.
Dalam kasus ini, seharusnya PwC India, berdasarkan prinsip kehati-hatian, telah
mempertimbangkan segala risiko yang dapat terjadi dari tindakan
memberikan opini yang tidak sesuai dengan kondisi Satyam. Namun, mereka
tidak melakukannya.

Analisis OECD Prinsip 5

1. Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas


akuntansi dan pengungkapan keuangan dan non-keuangan;
Dari prinsip kelima menerangkan bahwa keterbukaan harus meliputi, namun
tidak terbatas pada, informasi material atas: keuangan dan hasil operasi
perusahaan; tujuan perusahaan; kepemilikan saham mayoritas dan hak
suara; kebijakan renumerasi untuk dewan komisaris dan direksi, dan informasi
tentang anggota dewan komisaris, termasuk kualifikasi, proses seleksi,
perangkapan jabatan dan independensinya; transaksi dengan pihak terkait
(afiliasi); faktor-faktor risiko yang dapat diperkirakan; hal-hal penting berkaitan
dengan karyawan dan para pemangku kepentingan ( steakholder ) lainnya;
serta struktur dan kebijakan tata kelola khususnya berkaitan dengan isi dari
pedoman atau kebijakan tata kelola perusahaan dan penerapannya.
Dalam laporan keuangan tahunan (Annual Report) Mahindra Satyam sudah
mengungkapkan laporan keuangan dan non keuangan. Dengan
dilampirkannya laporan keuangan dan non keuangan sebagai berikut :
2. Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan
berkualitas dalam rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif
kepada pengurus dan pemegang saham bahwa laporan keuangan cukup
mewakili posisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam semua hal yang
material yang telah diungkapkan pada annual report diaudit oleh A.B Jani&
Partner
3. Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan
berkewajiban kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam
melakukan audit dalam hal ini A.B jani & Partner selaku auditor eksternal telah
menerbitkan laporan audit independen.
4. Media penyebaran informasi harus memberikan akses informasi yang relevan
bagi pengguna secara sama (equal), tepat waktu, dan biaya yang efisien;
dalam hal ini Mahindra Satyam sudah memberikan akses informasi yang
relevan bagi pengguna secara sama, tepat waktu, dan biaya yang efisien
melalui websitenya dalam penyebaran annual reportnya.
5. Serta kerangka tata kelola perusahaan harus mengarah dan mendorong
terciptanya ketentuan mengenai analisa atau saran dari analis, pedagang
perantara efek, pemeringkat dan pihak lainnya yang relevan dengan
keputusan investor, tidak mengandung benturan kepentingan yang material
yang mungkin mempengaruhi integritas analisa atau saran yang diberikan.

Analisis Prinsip 6 OECD

Related Party Transaction dan Satyam

Akuisisi yang dilakukan Satyam adalah transaksi berelasi yang salah.


Transaksi berelasi ini memiliki dugaan adanya scenario di baliknya.

Keputusan untuk mengakuisisi dua perusahaan yang jelas berbeda core


bisnisnya dengan Satyam adalah keanehan pertama. Maytas Infra bergerak di
bidang konstruksi, sedangkan Maytas Properties bergerak di bidang property.
Dengan nilai akuisisi senilai 1,6 billion rupee, di mana Satyam akan mengakuisi
Maytas Infra sebanyak 100% dan Maytas Properties sebanyak 51%, transaksi ini
terlihat seperti transaksi yang merugikan, karena banyaknya uang yang
diinvestasikan kepada core bisnis yang tidak berhubungan, atau keputusan
melakukan unrelated diversification yang cukup aneh.

Maytas Infra dan Maytas Properties diketahui adalah milik keluarga


Ramalangga Raju, selaku CEO dari Satyam. Dengan begitu, controlling
shareholders Satyam dan Maytas adalah orang yang sama. Dengan transaksi ini,
keluarga Raju akan mendapatkan uang sebanyak 570 juta dollar. Karena
mereka memiliki 35% saham mereka di Maytas Infra, dan 36% saham mereka di
Maytas Properties.

Keputusan pengakuisisian ini dengan anehnya dapat melewati persetujuan


dari board Satyam. Keputusan ini juga diambil tanpa mengambil suara dari
pemilik
saham minoritas, dengan alasan karena hal ini tidak terdapat dalam peraturan.
Hal ini dapat mengindikasi adanya transaksi berelasi yang disalah gunakan. Hal
ini dapat disimpulkan dari sifat-sifat transaksi berikut ini :

a Tidak memberikan pemberitahuan kepada pemilik saham minoritas


b Transaksi berjumlah material
c Transaksi beresiko tinggi karena mengakuisisi perusahaan yang berbeda
core bisnsisnya dengan Satyam

Pemberitahuan kepada pemilik saham minoritas merupakan suatu


kewajiban, agar pemilik saham dapat mengetahui apakah transaksi berelasi ini
sudah benar atau belum. Transaksi berelasi ini pada kenyataanya memiliki nilai
yang sangat tinggi, valuasi terhadap saham Maytas jauh lebih tinggi
dibandingkan nilai saham Maytas yang sebenarnya.

Pengumuman akan pengakusisian saham oleh Satyam ini mengakibatkan


nilai saham Satyam turun 55% dari nilai yang sebelumnya. Hal ini yang
mengakibatkan pembatalan pengakusisian sehari berikutnya.

Pengakuisisian ini ternyata adalah satu kejadian di balik kecurangan yang


dilakukan Satyam. Dugaan ini dapat dibilang benar, mengingat bahwa setelah
pengakuan, ternyata Satyam memiliki gap besar yaitu 1,6 billion rupee, antara
laporan keuangan dan kondisi keuangan Satyam yang sebenarnya.
Penyalahgunaan transaksi berelasi ini ternyata untuk menutupi dan mengalihkan
kas sebanyak 1,6 billion rupee dari buku Satyam ke Maytas, sehingga perbedaan
nilai buku yang telah ditutupi selama bertahun-‐tahun dapat ditutupi sekali lagi.

Satyam mengakui bahwa aksi pengakuisisian ini adalah aksinya yang


terakhir untuk menutupi fraud yang sudah ia lakukan selama hampir 6 tahun.
Kronologi Kasus Satyam
1. Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3
persen menjadi 2,1 milyar dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam mengatakan
bahwa revenue-nya akan meningkat sebesar 19-21 persen menjadi 2,55-
2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009. Melihat semua reputasinya,
pantas saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT terbesar keempat
di India.
2. Pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar
1,04 milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara
dengan 94% nilai kas & bank Satyam di akhir September 2008). Dalam
suratnya yang dikirimkan ke jajaran direksi Satyam, Ramalinga Raju juga
mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan bunga diterima di
muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang
seharusnya (understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang
(overstated debtors).Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan
menggelembungkan nilai keuntungan perusahaan. Setelah dilakukan
selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang sebenarnya dan
yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar.
3. Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir – Price
Waterhouse India mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi
tidak akurat dan tidak reliable karena dilakukan berdasarkan informasi
yang diperoleh dari manajemen Satyam. Institusi akuntan di India ICAI,
meminta PwC memberikan jawaban resmi dalam 21 hari terkait skandal
Satyam.
4. Satyam selama enam tahun terakhir melakukan pelaporan yang salah. Hal
ini bermula dari keinginan Ramalingga Raju untuk mendapatkan ijin
perolehan dana dari bank untuk melakukan ekspansi Satyam. Sehingga
Raju melakukan beberapa manipulasi, seperti dijelaskan di bawah ini:
a Saldo kas dan bank sebesar 50,40 miliar adalah fiktif jika
dibandingkan dengan RS 53,61 milyar dalam pembukuan
b Piutang bunga fiktif sebesar RS 3,67 miliar

11
c Utang yang understated senilai RS 12,3 miliar
d Piutang yang terlalu tinggi(overstated) senilai RS 4,90 miliar.
e Untuk Q2 September, pendapatan lebih besar RS 5,88 milyar dan
operating margin yang dilaporkan senilai Rs 6,49 miliar seharusnya
bernilai Rs 610 juta. Hal ini mengakibatkan adanya saldo kas fiktif
senilai Rs 5,88 miliar.
Menyusul skandal fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10 Januari
2009 harga saham Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai 2%
dari harga saham tertingginya di tahun 2008 sebesar 544 rupees.

TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI


Kerangka kerja corporate governance harus memastikan pedoman
strategis perusahaan, monitoring yang efektif terhadap manajemen oleh
dewan, serta akuntabilitas dewan terhadap perusahaan dan pemegang
saham.Setahun sebelum munculnya skandal tersebut, Satyam memenangkan
penghargaan Golden Peacock untuk kesempurnaan dalam corporate
governance dari World Council for Corporate Governance. Dewan tersebut
kemudian membatalkan penghargaan dan mengeluhkan kegagalan
perusahaan Satyam untuk mengungkap fakta-fakta materi sebenarnya.
Namun, reporter Business Week Beverly Behan menulis bahwa dewan Satyam
jelas-jelas mencemooh praktik-praktik corporate governance yang baik. Para
wartawan dapat mengetahui dengan menelaah komposisi dewan bahwa
dewan direksi Satyam kurang memiliki keahlian ekonomi, hampir sama sekali
tidak independen dan gagal untuk memenuhi syarat manajemen yang
independen dimana hal ini berlawanan dengan praktik-praktik corporate
governance yang baik. Seperti yang diperlihatkan kasus Satyam,
penghargaan bisnis yang mengesankan dan laporan tahunan yang
mengkilap bukanlah jaminan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut
beroperasi secara legal dan penuh etika.
Banyak bisnis keluarga yang menunjuk dewan keluarga untuk
menyelaraskan kepentingan mereka dan bertindak sebagai penghubung

12
utama antara keluarga, dewan dan manajemen senior. Dewan juga
mengajukan kandidat untuk keanggotaan dewan dan membuat rancangan
kebijakan atas hal-hal seperti mempekerjakan keluarga, kompensasi dan
kepemilikan saham. Kemandirian Dewan merupakan isu utama dalam
kelanjutan skandal Satyam Computer Systems Ltd. di India.

Laporan Business Week menghitung sinyal-sinyal masalah yang tidak


terdeteksi pada kasus Satyam sebagai berikut:
1. Dewan di Satyam memiliki enam direktur non-manajemen, tetapi empat
diantaranya akademisi dan satu adalah seorang mantan sekretaris kabinet
pada pemerintahan. Hanya satu anggota dewan yang sebelumnya
pernah menjabat eksekutif puncak di suatu perusahaan teknologi.
2. Perusahaan tersebut tidak memiliki pakar keuangan pada komite
auditnya.
3. Meskipun Satyam membedakan posisi CEO dan kepala dewan, dua posisi
tersebut diduduki oleh bersaudara yang memiliki kepentingan utama
dalam perusahaan dan anggota manajemen.
4. Dewan tidak memiliki kepemimpinan dewan independen.

Penerapan Prinsip VI OECD PT Satyam Computer Service (Mahindra Satyam)


pada tahun 2012
Merger Mahindra Satyam dengan Tech Mahindra mungkin tertunda
semua karena masalah hukum, dan ambiguitas lebih yurisdiksi antara
menyelidiki lembaga dan pemerintah. Merger telah tertunda karena dua
kasus pajak yang tertunda dengan Pajak Penghasilan mengklaim lebih 27
miliar untuk keduanya. Tech Mahindra mengumumkan merger dengan
Mahindra Satyam pada 21 Maret 2012, setelah dewan kedua perusahaan
memberi persetujuan. Kedua perusahaan telah menerima lampu hijau untuk
merger dari Bursa Efek Bombay dan Bursa Efek Nasional. Komisi Persaingan
India (CCI) menyetujui merger dari Mahindra Satyam dan perusahaan lain

13
dengan Tech Mahindra. Mahindra Satyam akan mengadakan pertemuan
tahunan umum (RUPS) pada tanggal 8 Juni 2012 untuk mempertimbangkan
usulan untuk menggabungkan perusahaan dengan Tech Mahindra. Ini
adalah wajib bagi perusahaan untuk mendapatkan anggukan RUPS untuk
pergi ke depan dengan merger. Kedua perusahaan telah menerima lampu
hijau untuk merger dari Bursa Efek Bombay dan Bursa Efek Nasional.

Pada 11 Juni 2013, Pengadilan Tinggi Andhra Pradesh memberikan


persetujuan untuk penggabungan Mahindra Satyam dengan Tech Mahindra,
setelah Bombay pengadilan tinggi sudah memberikan persetujuannya. Vineet
Nayyar mengatakan bahwa persetujuan teknis dari Panitera Perusahaan
(RoC) di Andhra Pradesh dan Maharashtra yang diperlukan yang akan
dilakukan dalam dua sampai empat minggu, dan dalam waktu 8 minggu,
badan yang baru bergabung akan berada di tempat. Sebuah bagan
organisasi baru ini juga akan berlaku dipimpin oleh Anand Mahindra sebagai
Ketua, Vineet Nayyar sebagai Wakil Ketua dan C. P. Gurnani sebagai CEO
dan Managing Director. Tech Mahindra pada 25 Juni 2013 mengumumkan
selesainya merger Mahindra Satyam dengan dirinya sendiri untuk
menciptakan terbesar kelima perusahaan jasa software bangsa dengan
omset Rp 2,7 miliar. Tech Mahindra mendapat persetujuan dari registrasi
perusahaan untuk merger di akhir malam pukul 11.45 (WIB) pada 24 Juni 2013.
5 Juli 2013 telah tanggal saham Satyam akan ditukarkan saham Tech
Mahindra yang ditentukan disetujui oleh kedua papan. Mahindra Satyam
(Satyam Computer Services), diskors dari perdagangan dengan efek dari 4 Juli
2013, setelah penggabungan usaha dengan Tech Mahindra. Tech Mahindra
selesai share swap dan dialokasikan sahamnya kepada pemegang saham
Satyam Computer Services pada 12 Juli 2013. Bursa saham telah diberikan
persetujuan mereka untuk perdagangan saham baru berlaku 12 Juli 2013.
Pada tanggal 24 Juli 2013, bangku divisi dari Pengadilan Tinggi Andhra
Pradesh mengakui petisi yang diajukan oleh Ekadanta Greenfields dan
Saptaswara Agro Pertanian swasta terbatas menantang Mahindra Satyam-

14
Tech Mahindra rangka merger. Dengan diberikan oleh hakim tunggal dari
pengadilan pada bulan Juni, memungkinkan merger dan menolak keberatan
yang diajukan oleh beberapa parties. Setelah mengakui permohonan,
bangku terdiri NV Ramana dan Vilas V. Afzulpurkar diposting soal untuk 26
Agustus 2013.
Secara lebih rinci, prinsip tanggung jawab dewan ini dapat diuraikan
menjadi enam sub prinsip, sebagai berikut:
A. Anggota dewan harus bertindak berdasarkan informasi yang jelas,
dengan itikad yang baik, berdasarkan due diligence dan kehati-hatian,
serta demi kepentingan perusahaan dan pemegang saham.
Perusahaan memiliki 114.783 pemegang saham pada tanggal 31 Maret
2013. saluran utama komunikasi kepada pemegang saham adalah
melalui laporan tahunan yang meliputi antara lain, laporan Direksi,
laporan Corporate Governance dan triwulanan dan tahunan hasil
keuangan yang telah diaudit.
B. Keputusan dewan dapat mempengaruhi suatu kelompok pemegang
saham secara berbeda dengan kelompok pemegang saham lain,
maka dewan harus memperlakukan seluruh pemegang saham secara
adil.
Para pemegang saham dari kedua Tech Mahindra dan Mahindra
Satyam telah dengan suara bulat menyetujui skema penggabungan
dan penggabungan Satyam Computer Services Ltd, Venturbay
Konsultan, C & S Sistem Teknologi, Canvas M Technologies dan
Mahindra Logisoft Solusi Bisnis dengan Tech Mahindra. Ketua Mahindra
Satyam, Vineet Nayyar mengatakan pada tanggal 2 Agustus 2012,
bahwa merger dengan Tech Mahindra berada di tahap akhir
mendapatkan persetujuan dari Andhra Pradesh dan Maharashtra
Pengadilan Tinggi.
C. Dewan harus menerapkan standar etika yang tinggi dan
memperhatikan kepentingan para pemangku kepentingan.

15
Pada annual report Tech Mahindra 2012-2013 dinyatakan bahwa Tata
Kelola Perusahaan merupakan seperangkat pedoman untuk
membantu seluruh tanggung jawab untuk semua pemangku
kepentingan. Ini adalah kode sukarela disiplin diri untuk memastikan
bahwa Perseroan mematuhi standar etika tertinggi. Sejalan dengan
filosofi ini, Perusahaan ini telah mengikuti praktik Tata Kelola Perusahaan
yang sehat dan telah melaporkan hal yang sama dalam laporan
tahunan bahkan sebelum Perusahaan tercatat di Bursa Efek pada
bulan Agustus.
D. Dewan harus memenuhi fungsi kunci tertentu sebagai berikut:
1) Menelaah dan mengarahkan strategi perusahaan, rencana utama,
kebijakan mengenai resiko, anggaran tahunan, dan rencana usaha,
menetapkan sasaran kinerja, memonitor penerapan dan kinerja
perusahaan serta memantau belanja modal yang besar, akuisisi dan
divestasi.
2) Memonitor efektifitas praktik tata kelola perusahaan serta membuat
perubahan-perubahan yang diperlukan.
3) Menyeleksi, memberikan kompensasi, memonitor serta bila perlu
mengganti pejabat eksekutif serta mengawasi perencanaan
penggantian pejabat.
4) Menyesuaikan remunerasi eksekutif kunci dan dewan dengan
kepentingan jangka panjang dari perusahaan dan pemegang
saham.
5) Memastikan proses nominasi dan pemilihan dewan secara
transparan dan formal.
6) Memonitor dan mengelola potensi benturan kepentingan dari
manajemen, anggota Dewan serta pemegang saham, termasuk
penyalahgunaan aset perusahaan dan penyelewengan dalam
transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
7) Memastikan integritas sistem pelaporan akuntasi dan keuangan
perusahaan, termasuk audit independen, serta memastikan bahwa

16
sistem pengendalian yang tepat telah diterapkan, khususnya
mengenai sistem manajemen resiko, pengendalian keuangan dan
operasional, serta kesesuaian dengan peraturan perundangan serta
standard-standard yang berlaku.
8) Mengawasi proses keterbukaan dan komunikasi.
Terkait pada sub prinsip (d) bahwa Dewan sudah memenuhi
beberapa fungsi-fungsi yang ada, dimana pada:
Remunerasi untuk Direktur Non-Eksekutif: Direktur Non-Eksekutif
Perusahaan berhak untuk komisi dan biaya sebenarnya untuk
menghadiri Dewan / pertemuan komite. Direktur Non-Eksekutif layak
dibayar komisi upto maksimum 1% dari ts profi bersih Perusahaan,
Cally sebagai spesifik dihitung untuk tujuan ini. Sebuah komisi dari
19,63 Juta telah disediakan sebagai hutang dengan Direktur Non-
Eksekutif memenuhi syarat dalam rekening tahun yang dilaporkan.
Komisi mengatakan akan dibayar setelah persetujuan dari para
anggota dalam Rapat Umum Tahunan. Rincian opsi saham tersebut
sampai tanggal dengan Direktur Non-Eksekutif dan komisi dari `22
Juta (tersedia dalam rekening untuk tahun yang berakhir.
Remunerasi yang dibayarkan kepada Direktur Executive Vice
Chairman & Managing untuk tahun yang berakhir 31 Maret 2013:
Remunerasi untuk Executive Vice Chairman & Managing Director
adalah fi xed oleh Komite Kompensasi & Nominasi.
E. Dewan harus dapat melaksanakan penilaian yang obyektif dan
independen dalam melakukan pengurusan perusahaan.
1. Direksi harus mempertimbangkan menepatkn dalam jumlah yang
memadai non eksekutif mampu melakukan penilaian independen
untuk tugas-tugas dimana ada anggot berpotensi konflik
kepentingan
2. Ketika komite dewan diterapkan, mandate mereka, komposisi dan
prosedur kerja harus didefinisikan dengan baik dan diungkapkan
oleh pengurus

17
3. Anggota dewan harus mampu berkomitmen efektif terhadap
tanggung jawab mereka.
Dalam melaksanakan penilaian yang obyektif dan Independen,
anggota dewan melakukan Agenda Rapat Dewan yang berisi semua
informasi yang diperlukan / dokumen yang tersedia untuk Dewan di
maju untuk membantu Dewan menjalankan tanggung jawabnya
secara efektif dan mengambil keputusan yang tepat. Dalam beberapa
kasus, dokumen diajukan pada pertemuan dan manajer yang
bersangkutan juga membuat presentasi kepada Dewan atau Komite.
Dewan memenuhi setidaknya empat kali dalam setahun dan
kesenjangan maksimum antara dua pertemuan tidak lebih dari empat
bulan. Selama tahun 2012-13, lima pertemuan Dewan Direksi diadakan
pada tanggal 23 Juni 2012, 9 Agustus 2012, 10 Agustus 2012, 5 November
2012 dan 6 Februari 2013.
F. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya, anggota dewan
komisaris harus memiliki akses terhadap informasi yang akurat, relevan
dan tepat waktu.
Perusahaan ini memiliki Kebijakan Whistle Blower di tempat. Dalam hal
kebijakan ini, semua karyawan didorong untuk melaporkan contoh perilaku
yang tidak etis, penipuan, pelanggaran Kode Perilaku Perusahaan atau
perilaku setiap yang mungkin sebaliknya pantas dan berbahaya bagi
Perusahaan. Kebijakan ini menyediakan mekanisme bagi karyawan untuk
meningkatkan kekhawatiran bahwa berhubungan dengan pelanggaran
Kode Etik, Akuntansi, Pengendalian Internal, Audit Matters dan berlaku
nasional dan hukum internasional termasuk hukum aturan / regulasi dan
peraturan. Kebijakan ini telah dikomunikasikan kepada semua karyawan dan
telah diposting di Intranet Perseroan untuk akses siap. Fasilitas nomor telepon
yang ditunjuk juga telah diberikan kepada karyawan untuk menginformasikan
keprihatinan mereka melalui telepon

18

Anda mungkin juga menyukai