Anda di halaman 1dari 23

Laporan Tutorial

Blok 12 Modul 2

DASAR PROSTODONSIA

Oleh kelompok 4 :

Anisa raudhatul husna (1711411009)


Elga handayani (1711411017)
Muhammad iqbal (1711413005)
Afifurrahman (1711412017)
Saskia alfina (1711413011)
Nadiva damara (1711411003)
Raihan ryoza (1711413001)
Muhammad ayarel disdenata (1711412005)
Dian syahira (1711411013)
Livia oktia daryulianti (1711411012)

Tutor : drg. Eni Rahmi, Sp.Pros

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2019

MODUL 2

DASAR-DASAR PROSTODONSIA

Skenario 2

“Tak mau ompong…..”

Ny. Tesa (40 tahun) datang ke tempat praktek drg. Manulang untuk dibuatkan gigi
tiruan. Selainmengalami kesulitan dalam pengunyahan dan terlihat ompong, Ny.Tesa merasa
terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Pemeriksaan intra oral menunjukan kehilangan gigi 16,
15, 21, 26, 27, 35, 36, 37, 38, 46, 47, 48. Gigi 11 dan 23 karies karies media meiodistal, 34
rotasi, 17 mesial drifting, 17, 18, 31, 32, dan 41 ekstrusi sehingga oklusi berubah. Drg. Manulang
menawarkan beberapa jenis gigi tiruan sebagai alternaif perawatan untuk kasus Ny. Tesa

Setelah mendengarkan penjelasan dan pertimbangan, akhirnya ia setuju untuk dibuatkan


gigi tiruan mahkota jembatan porcelain fused to metal di anterior RA dan gigi tiruan sebagian
lepasan berbahan akrilik untuk posterior RA dan RB. Drg. Manulang juga menerangkan
perawatan yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan kembali bidang oklusal
yang harmonis.

Bagaimana saudara menjelaskan kasus diatas?


STEP 1. TERMINOLOGI

1. Mesial drifting adalah pergeseran gigi kea rah mesial, terjadi karena kehilangan gigi di
bagian mesial
2. Rotasi adalah kelainan posisi gigi yang berputar pada sumbu panjangnya
3. Ekstrusi adalah pergerakan gigi menjauhi soketnya karna gigi antagonis hilang
4. Karies media mesio-distal adalah karies yang telah mencapai dentin pada bagian mesio
distal

STEP 2. RUMUSAN MASALAH

1. Kenapa Ny. Tesa merasa terlihat lebih tua dari usia aslinya?
2. Apa saja dampak dari kehilangan gigi?
3. Apa saja jenis-jenis dari gigi tiruan?
4. Apa pertimbangan dokter melakukan perawatan PFM dan gigi tiruan lepasan akrilik pada
kasus di skenario?
5. Apa fungsi dari gigi tiruan?
6. Apa indikasi dari gigi tiruan sebagian lepasan?
7. Apa klasifikasi gigi Ny. Tesa?
8. Apa perawatan yang dilakukan drg.Manulang untuk memperbaiki oklusi?
9. Pada skenario adanya gigi karies, rotasi, drifting, ekstrusi. Mengapa hal ini bias terjadi?
10. Apa dampak jika pemakaian gigi tiruan tidak tepat di rongga mulut?
11. Apa syarat pemilihan bahan dari pembuatan gigi tiruan?
12. Bagaimana pemeriksaan gigi prostodonsia/orang yang kehilangan gigi?

STEP 3. ANALISIS MASALAH

1. Kenapa Ny. Tesa merasa terlihat lebih tua dari usia aslinya?
Karena banyak kehilangan gigi, wajah menjadi turun, gigi posterior hilang sehingga
diisi oleh jaringan lunak dan pipi terlihat kempot, hidung dan dagu terlihat lebih
kedepan dan sulcus labio nasalis terlihat lebih dalam. Gigi anterior yang hilang dan
karies juga membuat Ny. Tesa terlihat lebih tua, kemungkinan besar Ny. Tesa
memiliki bad oral hygiene
2. Apa saja dampak dari kehilangan gigi?
a. Akibat

 Migrasi untuk daerah yang hilang


 Efek pada jaringan lunak sekitarnya
 Beban berlebihan pada jaringan periodontal
 Erupsi berlebihan/ekstrusi pada gigi lawannya
 Kehilangan gigi anterior, bibir masuk kedalam dan dagu lebih maju

b. Dampak
 Kebersihan rongga mulut
 Penampilan estetika
 Fungsi pengunyahan
 Gangguan bicara TMJ
 Seseorang terlihat lebih tua

3. Apa saja jenis-jenis dari gigi tiruan?

Berdasarkan jumlah gigi yang diganti

 Gigi tiruan penuh


 Gigi tiruan sebagian

Berdasarkan bias dilepas/tidak

 Gigi tiruan cekat


 Gigi tiruan lepasan

Berdasarkan bahan landasan

 Akrilik
 Kerangka logam

Berdasarkan pemasangan

 Gigi tiruan konvensional


 Gigi tiruan immediate

Secara umum
 Fixed prosthodontics (crown & bridge)
 Removable (GTP dan GTSL)
 MAXILLOFACIAL
4. Apa pertimbangan dokter melakukan perawatan PFM dan gigi tiruan lepasan akrilik pada
kasus di skenario?
Dibagian anterior digunakan PFM karna kombinasi estetik dan kuat
Dibagian posterior rahang bawah digunakan removable karna tidak mahal,
perawatannya mudah, estetik, mampu menahan beban pengunyahan
5. Apa fungsi dari gigi tiruan?
 Pemulihan fungsi estetik
 Peningkatan fungsi bicara
 Perbaikan dan peningkatan fungsi pengunyahan
 Perbaikan fungsi TMJ
 Perbaikan Oklusi
 Memperbaiki oral hygiene
 Pencegahan migrasi gigi
6. Apa indikasi dari gigi tiruan sebagian lepasan?
 Hilanngnya 1 atau lebih gigi
 Keadaan prosesus alveolaris baik
 Gigi yang tinggal memenuhi syarat sebagai gigi penyangga
 Oral hygiene dan kesehatan pasien baik
 Tidak ada penyangga posterior pada daerah gigi yang hilang
 Pasien tidak ingin giginya dipreparasi untuk GTC
7. Apa klasifikasi gigi Ny. Tesa?
Klasifikasi yang sering di pakai dalam ilmu prostodontik adalah klasifikasi keneddy.
Klasifikasi keneddy untuk Ny.Tesa adalah
Rahang Atas : klas III
Rahang Bawah : klas I
8. Apa perawatan yang dilakukan drg.Manulang untuk memperbaiki oklusi?
PERAWATAN dengan memasangkan GT cekat/lepasan kepada Ny.Tesa dan
memperbaiki gigi yang masih tersisa dengan splinting dan penambalan
9. Pada skenario adanya gigi karies, rotasi, drifting, ekstrusi. Mengapa hal ini bisa terjadi?
 Karies : OH buruk
 Drifting : gigi sebe;ah hilang
 Ekstrusi : karna gigi antagonis tidak ada
10. Apa dampak jika pemakaian gigi tiruan tidak tepat di rongga mulut?
 Peningkatan akumulasi plak
 Trauma Langsung
 Peyaluran beban kunyah
 Kerusakan pada gigi dan jaringan periodontal
 Peradangan mukosa resorpsi tulang dibawahnya
 Disfungsi otot kunyah dan wajah
11. Apa syarat pemilihan bahan dari pembuatan gigi tiruan
 Non Toksik
 Tidak mengiritasi mulut
 Tidak terpengaruhi cairan Rongga Mulut
 Biokompatibel
12. Bagaimana pemeriksaan gigi prostodonsia/orang yang kehilangan gigi?
Ekstra oral : profil wajah
Intra oral :
 Aliran saliva
 Refleks muntah
 Ukuran lidah
 Gigitan (ada/tidak ada)
 Daya kunyah
 Bruxism/tidak
Penunjang : radiografi

STEP.4 SKEMA
Ny. Tesa (4oth)

Drg. Manulang

Anamnesa Pemeriksaan Klinis

- Kesulitan P. Intra Oral : Kehilangan gigi 16,


mengunyah 15, 21, 26, 27, 35, 36, 37, 38, 46,
- Ompong 47, 48 Gigi 11, 23 karies media
- Terlihat lebih tua mesio distal 34 Rotasi, 17 mesial
drifting, 17,18,31,32,41 ekstrusi

Akibat dan dampak kehilangan Diagnosa kasus


gigi RA : klas III modifikasi
RB : klas I

Rencana perawatan

Anterior RA : PFM
Posterior RB : GTSL Akrilik

Fungsi gigi Perawatan Syarat bahan yang Jenis-jenis gigi Indikasi


tiruan oklusi digunakan tiruan

STEP. 5 LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Pemeriksaan Pada Pasien


Kehilangan Gigi
2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Dampak dan Akibat dari
Kehilangan Gigi
3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Klasifikasi Kehilangan Gigi
4. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Indikasi Penggunaan Gigi
Tiruan
5. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Jenis-Jenis Gigi Tiruan
6. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Perawatan Oklusi

STEP. 6 MENGUMPULKAN INFORMASI

STEP. 7 SINTESA DAN UJI INFORMASI

1. Pemeriksaan Pada Pasien Kehilangan Gigi


I. Anamnesis
- Sebab kehilangan gigi / kerusakan gigi : lubang besar / gigi goyang / benturan
Penjelasan :
 Jika sebab kehilangan gigi karena karies, kemungkinan karena pasien kurang
memperhatikan kebersihan mulut, maka pengetahuan kesehatan giginya harus
diingatkan

 Jika disebabkan gigi goyang, maka penyakit sistemik dan penyakit periodontal
harus diperhatikan

 Jika karena benturan, pencabutan terakhir perlu diketahui untuk


memperkirakan kecepatan resorbsi tulang alveolar dan pergeseran gigi atau
penyakit sistemik.

- Pencabutan terakhir :
o Pada gigi atas : depan kanan / kiri, belakang kanan / kiri
o Pada gigi bawah : depan kanan / kiri, belakang kanan / kiri
Penjelasan :
 Waktu / kapan pencabutan terakhir perlu diketahui untuk memperkirakan
kecepatam resorbsi tulang alveolar dan pergerseran gigi ataupun penyakit
sistemik

- Pemakaian gigi tiruan :pernah / tidak pernah


o Bila Pernah :
 pada rahang atas /pada rahang bawah / pada rahang atas dan
rahang bawah
 masih dipakai / tidak dipakai
 Pengalaman : Pasien yang pernah memakai gigi tiruan adaptasinya akan lebih
mudah dibandingkan pasien yang belum pernah
 Pengalaman pasien dengan gigi tiruan lamanya juga perlu dipertanyakan,
- Tujuan membuat gigi tiruan : fungsi estetik / fungsi pengunyahan / fungsi bicara

II. PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL


a) Muka: lonjong/persegi/segitiga/kombinasi
b) Profil : lurus/cembung/cekung
 Bentuk dan profil muka perlu diperiksa untuk pemilihan bentuk dan susunan
elemen gigi, dan juga digunakan sebagai pedoman untuk penetapan hubungan
rahang.
c) Pupil : sama tinggi/tidak sama tinggi
d) Tragus : sama tinggi/tidak sama tinggi
e) Hidung : simetris/asimetris; pernafasan melalui hidung: lancar/tidak
 Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan garis interpupil dan garis camper
(garis yang ditarik dari tragus ke basis hidung) pada kehilangan banyak gigi.
Garis interpupil ditentukan untuk kesejajaran dengan bidang insisal galengan
gigit anterior, sedangkan garis camper ditentukan untuk kesejajaran dengan
bidang oklusal galengan gigit posterior.
f) Bibir atas dan bibir bawah : hipotonus/normal/hipertonus
 Tonus dan tebal tipisnya bibir berhubungan dengan inklinasi labio-lingual gigi
anterior. Sedangkan panjang pendeknya bibir menetukan letak bidang insisial dan
garis tertawa.
g) Sendi rahang :
Kanan dan kiri :bunyi/tidak
Buka mulut :ada deviasi ke kanan atau kek kiri /tidak ada deviasi
Trismus : ada trismus
 Meletakan 2 atau 3 jari pada bukaan mulut pasien, Perhatikan juga apakah ada
penyimpangan gerak (deviasi), dan apakah pasien mengalami kesulitan pada
waktu membuka mulutnya (trismus).
III. PEMERIKSAAN INTRA ORAL
PEMERIKSAAN UMUM
1. Saliva
Kualitas dan kuantitas saliva mempengaruhi retensi terutama pada gigi tiruan lengkap.
2. Lidah
a. Posisi wright: Kelas I/II/III
b. Mobilitas: normal/aktif
3. Gigitan : ada/tidak ada
4. Artikulasi
5. Daya kunyah : normal/ besar
PEMERIKSAAN GIGI GELIGI DAN TULANG ALVEOLAR
1. Bentuk umum gigi/ besar gigi : Besar/normal/kecil
2. Fraktur gigi :
 pada gigi apa (tulis elemennya)
 arah fraktur : (horizontal/diagonal/vertical)
 arah garis fraktur (<1/3, 1/3, ½, 2/3, serviko insisal/serviko oklusal/ mesio
distal)
 diagnosis gigi fraktur tersebut
3. Perbandingan mahkota akar : ....... pada gigi : .....
4. Lain-lain : gigi kerucut/ mesiodens/ diastema/ impaksi/ miring/ berjejal/ labio
version/ linguo version/ hipoplasia, dst
5. Ketinggian tulang alveolar (sesuai dengan foto panoramic)
IV. PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS
Dilakukan bila dirasa perlu dan maksudnya untuk membantu dalam
menegakkan diagnose

2. Dampak dan Akibat dari Kehilangan Gigi


Secara umum dampak kehilangan gigi
A. Fungsional

Kesehatan mulut yang rendah berdampak pada kehilangan gigi yang dapat
menyebabkan masalah pada pengunyahan dan pola makan sehingga mengganggu status
nutrisi. Individu yang kehilangan gigi sebagian atau seluruhnya hanya dapat memakan
makanan yang lembut sehingga nutrisi bagi tubuh menjadi terbatas.26 Populasi yang
mengalami kehilangan gigi terutama kehilangan seluruh gigi akan mengubah pola
konsumsinya, sehingga makanan yang keras dan kesat seperti buah-buahan, sayur – sayuran
dan daging yang merupakan sumber vitamin, mineral dan protein menjadi sesuatu hal yang
sulit bahkan tidak mungkin untuk dikunyah.27 Hasil penelitian Osterberg dkk (1996)
menemukan bahwa kemampuan mengunyah pada pasien yang kehilangan seluruh gigi hanya
1/ dari pasien yang memiliki gigi asli. Kekuatan gigit pada pemakai GTP hanya sekitar 20%
6
jika dibandingkan dengan subjek yang masih bergigi. Hal ini dapat menjelaskan mengapa
orang yang kehilangan gigi – geliginya mengeluhkan kesukaran dalam mengunyah makanan
yangkeras.
B. Sistemik
Dampak sistemik yang timbul akibat kehilangan gigi berupa penyakit sistemik seperti
defisiensi nutrisi, osteoporosis dan penyakit kardiovaskular (artherosclerosis). Penyebabnya
adalah status gigi yang buruk dan perubahan pola konsumsi.Kurangnya konsumsi kalsium dan
vitamin D yang berasal dari buah – buahan dan sayur – sayuran akibat kehilangan gigi dapat
meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis.Selain itu, penyakit kardiovaskular dapat
disebabkan bersatunya agen infeksius dalam bentuk atheroma dan faktor predisposisi
genetik terhadap penyakit periodontal danpenyakit
kardiovaskular. Penyebaran bakteri dari penyakit periodontal akan masuk ke sirkulasi
pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan resikosistemik.
C Fungsional
Dampak emosional adalah perasaan atau reaksi yang ditunjukkan pasien sehubungan
dengan status kehilangan seluruh gigi yang dialaminya.Kehilangan gigi dapat merubah bentuk
wajah, tinggi muka dan vertikal dimensi serta rahang yang prognasi sehingga menimbulkan
reaksi seperti merasa sedih dan depresi, kehilangan kepercayaan diri, merasa tua, perubahan
tingkah laku, merasa tidak siap untuk menerima kehilangan gigi dan tidak ingin orang lain
melihat penampilannya saat tidak memakai gigitiruan serta mengubah tingkah laku dalam
bersosialisasi. Fiske dkk (1998) menyatakan bahwa hilangnya gigi dan pemakaian gigitiruan
berdampak pada psikososial seseorang.Penelitian oleh Davis dkk (2000) menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh emosional yang signifikan sebagai konsekuensi kehilangan gigi, 45% dari
pasien kehilangan seluruh gigi di London sulit untuk menerima kehilangangigi.

Dampak kehilangan gigi (Davenport,2000):

a. Drifting dan Tilting dari gigi asli yang masihada


Hal ini disebabkan, kehilangan kontinuitas deretan lengkung gigi dan juga kehilangan
posisi ideal gigi asli dalam menerima tekanan gigitan sewaktu terdapat gerak pengunyahan.
Struktur jaringan periodontium gigi asli tersebut menderita gangguan. Secara tidak langsung
akibat miringnya letak gigiasliakan menyulitkan pembersihan gigi, dengan demikian
menambah cepatnya karies di tempatitu.
b. OverEruption
Bila geligi asli tidak mempunyai antagonis maka gigi akan menjadi bebas bergerak ke
arah oklusal. Hal ini dapat diikuti ataupun tidak oleh pertumbuhan tulang alveolar. Pada
contoh gigi yang mengalami extruded tidak diikuti pertumbuhan tulang alveolar, dapat terjadi
kerusakan struktur periodontal. Sedangkan pada contoh gigi extruded yang diikuti
pertumbuhan tulang alveolar, akan menyebabkan kesulitan jika pasien membutuhkan gigi
tiruan penuh di kemudianhari.
c. Berkurangnya efisiensipengunyahan
Fungsi mekanis gigi asli menurun, atau hilang sama sekali. Kejadian ini dapat
diterangkan bahwa fungsi pengunyahan merupakan faktor yang sangat penting dalam
pemeliharaan kesehatanpasien.
d. PersendianTemporomandibular
Kebiasaan mengunyah yang tidak teratur, gangguan pada persendian
temporomandibular (Eccentric jaw relationship) biasanya terjadi karena hilangnya beberapa
gigi asli. Hal ini menyebabkan rasa sakit pada persendian atau pada otot-otot
yangberhubungan.
e. Tekanan yang berlebihan pada jaringanpenyangga
Jika tekanan pengunyahan dan oklusi dibebankan oleh beberapa gigi yang masih ada,
biasanya menyebabkan beban yang berlebihan, akibatnya terjadi kerusakan jaringan
periodontal disertai dengan kehilangan gigiPerubahan nadasuara
Gigi-gigi yang hilang sering menyebabkan gangguan dalam berbicara. Yang paling
nyata adalah bila gigi yang hilang adalah gigi anterior atas, maka akibatnya bicara menjadi
tidakjelas.
f. Faktor estetikaberkurang
Hilangnya gigi-gigi anterior atas akan menyebabkan faktor estetika berkurang,
menurut pandangan masyarakat modern. Salah satu alasan yang penting dalam menggunakan
gigi tiruan adalah untuk memperbaiki profil wajah.
g. Gangguan pada kesehatan mulut (OralHygiene)
Selain drifting dan tilting gigi-gigi, maka hilangnya gigi antagonis akan mencegah
abrasi dari gigi-gigi yang masih ada. Dengan demikian sisa makanan akan mudah menutup
permukaan gigi dan resiko terjadinya karies akanbertambah.
h. Atrisi
Pada beberapa kasus ditemukan bahwa membran periodontal dari gigi-gigi yang
menerima beban berlebih tidak mengalami kerusakan tetapi mengakibatkan keausan vertikal
dari permukaan gigi ketika gigi-gigi dalam keadaan sentrikoklusi.
i. Pengaruh pada jaringanlunak
Bila gigi-gigi hilang, maka ruang dalam lengkung gigi akan ditempati oleh jaringan
lunak dari pipi dan lidah. Jika keadaan ini berlanjut untuk beberapa tahun, maka pasien akan
menemukan kesulitan dalam penyesuaian, dengan pemakaian alat yang menggeser
jaringanini.
3. Klasifikasi Kehilangan Gigi

a. Klasifikasi kennedy

Kelas I Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih ada
dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral).

Gambar Klas I Kennedy Gambar Klas II Kennedy

Kelas II Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih
ada, tetapi berada hanya pada salah satu rahang saja (unilateral). Kelas III Kennedy : daerah tak
bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu
rahang saja (unilateral). Kelas IV Kennedy : darah tak bergigi terletak dibagian anterior dari
gigi-gigi yang masih ada dan melewati garis tengah rahang.

Gambar Klas III Kennedy Gambar Klas IV Kennedy

b. Klasifikasi applegate
Kelas I : daerah tak bergigi sama dengan kelas I kennedy. Keadaan ini sering dijumpai
pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi.

Kelas II : daerah tak bergigi sama seperti kelas II kennedy.Kelas III : keadaan tak bergigi
paradental dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu memberi dukungan kepada protesa
secara keseluruhan.

Kelas IV : daerah tak bergigi sama dengan kelas IV kennedy. Kelas V : daerah tak
bergigi paradental dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan atau tidak
mampu menahan gayah kunyah.Kelas VI : daerah tak bergigi paradental dengan kedua gigi
tetangga asli dapat dipakai sebagai penahan.

c. Klasifikasi Cummer
Klasifikasi pertama yang diakui secara professional. Dirancang tahun 1920 oleh Cummer
gigi tiruan diklasifikasikan berdasarkan pada posisi dari penahan langsung (direct retainer).
Diagonal : Dua penahan langsung (direct retainer) secara diagonal berlawanan dengan
penahan lainnya. Diametrik : Dua penahan langsung secara diametrik bersebrangan dengan
penahan lainnya. Unilateral : Dua atau lebih penahan langsung terhadap sisi yang sama
Multilateral : 3 terkadang 4 penahan langsung dalam hubungan triangular (kadang – kadang
guadrangular)

Diagonal GTSL diametrik GTSl Unilateral

GTSL multilateral triangular GTSL Multilateral Quadrangular

d. Klasifikasi Meuk

Dirancang pada tahun 1942, berdasarkan pada jumlah, panjang, dan posisi dari
edentulous dan jumlah serta posisi dari gigi yang masih ada.

Kelas I : Bilateral space tanpa adanya gigi posterior pada ruang tersebut.Kelas II :
Bilateral space dengan adanya gigi posterior pada salah satu ruang.Kelas III : Bilateral space
dengan adanya gigi posterior pada kedua ruang.Kelas IV : Unilateral space tanpa adanya gigi
posterior pada ruang tersebut. Lengkung lawan tidak hilang. Kelas V : Anterior space dengan
lengkung posterior pada kedua sisi tidak hilang.Kelas VI : Irregular space pada daerah lengkung
gigi yang ada dapat single atau double group
e. Klasifikasi Gadfrey

Dirancang pada tahun 1951, klasifikasi ini didasarkan pada lokasi dan ukuran dari daerah
edentulous. Kelas utama tidak memiliki modifikasi.

Kelas A : Denture base ditunjang oleh gigi, pada bagian anterior. Dapat berupa ruang 5
gigi tanpa terputus, ruang 5 gigi terputus atau ruang 4 gigi tanpa terputus.

Kelas A Kelas B

Kelas B : Denture base yang ditunjang oleh mukosa pada daerah anteriornya. Dapat
berupa ruang 6 gigi tanpa terputus, ruang 5 gigi tanpa terputus atau ruang 5 gigi terputus.

Kelas C : Denture base ditunjang oleh gigi pada bagian posterior, dapat berupa ruang 3
gigi tanpa terputus, ruang 2 gigi tanpa terputus atau ruang 2-3 gigi yang terputus.
Kelas C Kelas D

Kelas D : Denture base ditunjang oleh mukosa pada bagian posterior. Dapat berupa
ruang 4 gigi tanpa terputus atau ruang setengah atau 3 gigi tanpa teputus

f. Klasifikasi Friedman

A : AnteriorB : BoundedC : Cantilever

Gambar Tipe A Gambar Tipe B Gambar Tipe C

g. Klasifikasi Beckett dan Wilson (1957)

Tahun 1921 ditemukan, klasifikasi ini untuk mempertimbangkan jumlah yang sebanding
dengan dukungan yang diberikan oleh gigi dan jaringan lunak. (mukosa dan yang mendasari
tulang)

 Kualitas dari batasan dukungan (abutment support)


 Besarnya dukungan oklusal (occlusal support)
 Keharmonisan dari oklusi
 Kualitas dari mukosa dan ridge yang masih ada
Mereka percaya bahwa setiap upaya dapat dibuat untuk menghindari dukungan yang
hanya dari jaringan lunak.
Kelas I :Bounded Saddle : Dibatasi oleh gigi yang memiliki syarat untuk mendukung
gigi tiruan. Mukosa tidak digunakan sebagai pendukung.
Kelas II : Free End
Tooth and Tissue Borne : Didukung oleh gigi dan jaringan lunak
Tissue Borne : Didukung oleh jaringan lunak
Kelas III : Bounded Saddle
Dibatasi oleh gigi tetapi tidak memiliki syarat untuk mendukung gigi tiruan seperti pada
kelas I.

Kelas 1 kelas 2 kelas 3

h. Klasifikasi Craddock

Dirancang tahun 1954, mengklasifikasikan gigi tiruan sebagian menurut :

Kelas I : Saddle Support pada kedua sisi atau batasan gigi yang kuat

Kelas II : Kekuatan gigitan vertikal di aplikasikan sebagai penahan gigi tiruan


sebagai jaringan lunak.

Kelas III : Didukung gigi pada satu ujung dari penjangkar

Kelas I Kelas II Kelas III

J. Klasifikasi Austin dan Lidge


Ditemukan tahun 1957. Menyebutkan bahwa ada 65.000 kemungkinan kombinasi dari
gigi dan area edentulous.

Kelas A : Gigi anterior hilang


A2 : Gigi anterior hilang pada kedua sisi tapi masih ada gigi diantara gigi yang hilang..
AB1 : Gigi anterior hilang pada kedua sisi (bilateral).. A1 : Gigi anterior hilang pada satu sisi
Gambar A1 Gambar A2 Gambar AB1

Kelas P : Gigi Posterior Hilang. P1 : Gigi posterior hilang pada satu sisi
(unilateral). P2 : Gigi posterior hilang pada kedua sisi, tapi masih ada sisi di antara gigi
yang Hilang. PB1 : Gigi posterior hilang pada kedua sisi (bilateral)

Gambar P1 Gambar P2 Gambar PB 1

Kelas AP : Gigi anterior dan posterior hilang. AP 1 : Gigi anterior dan posterior
pada satu sisi. AP2 : Gigi anterior dan posterior pada kedua sisi, tapi masih ada diantara sisi
yang Hilang. APB1: Gigi anterior dan posterior pada kedua sisi (bilateral)

Gambar AP1 Gambar AP2 Gambar APB1

4. Indikasi Penggunaan Gigi Tiruan


a. Fixed prostodontics (gigi tiruan cekat)
Indikasi : Daerah edentulous pendek (short span), terdapat gigi sehat sebagai
penyangga, kestabilan dan retensi GTL tidak mungkn didapat, kemauan pasien,
pasien kelainan mental, cacat fisik tidak dapat memelihara protesa lepasan.
Kontra indikasi : kehilangan tulang yang banyak akibat trauma, usia pasien<17
th>55th,kelainan periodontal gigi penyangga, long span, edentulous bilateral yang
membutuhkan stabilitas antar rahang,malformasi kangenital dimana gigi tidak dapat
memberikan dukungan yang adekuat,mental pasien yang tidak kooperatif, pasien
kelainan medis (leukemia,hipertensi dan DM),perluasan distallandasan gigi tiruan
seperti kasus klas I dan II kenedy.
b.Removable prostodontics (gigi tiruan sebagian)

Indikasi gigi tiruan sebagian lepasan adalah :


1. Hilangnya satu atau lebih sebagian gigi
2. Gigi yang tertinggal dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi pegangan
3. Keadaan processus alveolaris masih baik
4. Kesehatan umum dan kebersihan mulut pasien baik
5. Pasien mau dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan
6. Bila tidak memenuhi syarat untuk suatu gigi tiruan cekat:
a. Usia :Usia pasien masih muda, ruang pulpa masih besar, panjang mahkota klinis
masih kurang. Pasien usia lanjut dengan kesehatan umum yang buruk, karena
perawatannya memerlukan waktu yang lama
b. Panjang daerah edentulous tida memenuhi syarat Hukum Ante
c. Kehilangan tuang yang banyak pada daerah edentulous
7. Tidak ada abutment gigi posterior pada ruang edentulous(free end saddle)
8. Bila dukungan sisa gigi asli kurang sehat
9. Bila dibutuhkan stabilisasi dari lengkung yang berseberangan
10. Bila membutuhkan estetik yang lebih baik
11. Bila dibutuhkan gigi segera setelah dicabut

Kontraindikasi GTSL

1. Penderita yang tidak kooperatif, sifat tidak menghargai perawatan gigi tiruan.
2. Umur lanjut, mempertimbangkan sifat dan kondisi penderita sebaiknya dibuatkan GT
temporer.
3. penyakit sistemik (epilepsy, DM tidak terkontrol)
4. OH jelek.

5. Jenis-jenis Gigi Tiruan


a. Fixed prostodontics (gigi tiruan cekat) : cabang prostodonti yang berhubungan dengan
penggantian satu gigi atau lebih dan restorasi gigi dengan artificial substitutes yang
dipasang secara permanen di mulut pasien contohnya crown and bridge.
Kelebihan : Lebih estetik karena tidak ada kawat/logam, Nyaman karena tidak ada
landasan.
Rerugian : Teknik pembersihan rumit, Pengurangan gigi penyangga, mahal.
b. Removable prostodontics (gigi tiruan sebagian) : cabang prosthodonti mengenai
penggantian gigi dan/struktur jaringan pendukung gigi yang dapat dibuka/dilepas pasien.
Terdiri dari Gigi Tiruan Penuh dan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan.

Gigitiruan Penuh Gigitiruan penuh (GTP) adalah gigitiruan yang menggantikan


seluruh gigi – geligi yang hilang dan jaringan pendukungnya di rahang atas dan
rahang bawah. Tujuan pembuatan GTP adalah untuk memenuhi kebutuhan estetik,
fonetik, dukungan oklusal, untuk pengunyahan, kenyamanan dan kesehatan jaringan
pendukung. Hal – hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan GTP yaitu:

o Dukungan terhadap gigitiruan diberikan oleh tulang (rahang bawah dan


rahang atas) dan jaringan yang menutupinya.
o Stabilitas : Kontak yang rapat antara basis gigitiruan dengan mukosa, besar
dan bentuk daerah pendukung, bentuk permukaan yang dipoles, serta lokasi
dan susunan anasir gigitiruan yang mempengaruhi kestabilan gigitiruan.
o Retensi
GTSL dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan beberapa hal, yaitu :
1. Berdasarkan jaringan pendukungnya
 GT dukungan mukosa, yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan dari
jaringan mukosa.
 GT dukungan gigi, yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan dari gigi asli.
 GT dukungan mukosa dan gigi, yaitu gigi tiruan yang mendapat dukungan dari
mukosa dari gigi asli.
2.Berdasarkan saat pemasangannya :

 Immediate prothesa, dipasang segera setelah pencabutan


 Conventional prothesa, dibuat setelah gigi lama dicabut

3.Berdasarkan ada tidaknya wing

 Open face denture, tanpa wing pada bagian bukal dan labial, biasanya untuk
anterior.
 Close face denture, memakai wing pada bagian bukal, biasanya untuk posterior.

4.Pembagian gigi tiruan sebagian berdasarkan bahan yang digunakan menurut Soelarko
dan Wachijati (1980) adalah :

 Frame denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang terdiri dari kerangka
logam tuang dan bagian sadel terdiri dari akrilik serta elemen gigi tiruan.
 Acrylic denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang basisnya terdiri dari
akrilik serta elemen gigi tiruan.
 Vulkanite denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang terdiri dari karet yang
dikeraskan sebagai basis gigi tiruan serta elemen gigi tiruan.

c. Maxillofacial Prosthetic : penggantian sistem stomatognatik atau struktur wajah yang


rusak karena penyakit/luka/bawaan ataupun akibat bedah.

6. Perawatan Oklusi
Syarat Oklusi Yang Baik
 Hubungan molar : cusp mesiobukal dari gigi M1 rahang atas berada di groove
antara cusp mesiobukal dan cusp bukal tengah dari gigi M1 rahang bawah.
Cusp distobukal dari M1 rahang atas berkontak dengan cusp mesiobukal dari
gigi M2 rahang bawah
 Setiap gigi rahang atas kontak dengan 2 gigirahang bawah
 Geligi, Fungsi Otot Kunyah, TMJ Normal
 Gigi mempunyai titik kontak yang baik dengangeligi sekitarnya
 Lengkung geligi rahang atas sesuai denganrahang bawah (RA > RB)
 Besar rahang dan gigi seimbang
Untuk menciptakan oklusi normal
a. Tindakan yang berhubungan dengan perawatan bedah: mencakup jaringan keras
dan lunak
 Pencabutan
 Penyingkiran sisa akar
 Bedah periodontal
b. Perawatan jaringan pendukung : menghilangkan kalkulus, pocket perio,
memperbaiki tambalan, menghilangkan gangguan okludi
Untuk memperbaiki ketidakstabilan oklusi perlu perawatan pra prosthodontic seperti
pembuatan splin oklusal sebagai salah satu metode perawatan gangguan sendi
temporomandibula yang tepat dan efektif
DAFTAR PUSTAKA

1. Arifin M., Rahardjo W., Roselani. 2000. Diktat Prostodonsia: Ilmu Gigi Tiruan Cekat (Teori
dan Klinik). Departemen Prostodonsia Faklutas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
2. Bakar, Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta: Quan’um Sinergis Media.
3. Barclay CW, Walmsley AD. 2001. Fixed and removable prosthodontics. 2nd ed. Tottenham:
Churchill livingstone;
4. Gunadi, Haryanto. A; Burhan, Lusiana A.; Suryatenggara, Freddy. 1995. Ilmu Geligi Tiruan
Sebagian Lepasan Jilid 1. Jakarta: Hipokrates. Pp : 112-116
5. Nallaswamy D. 2003. Textbook of Prosthodontics. New Delhi: Jaypee Brothers Medical
Publishers.

Anda mungkin juga menyukai