Anda di halaman 1dari 13

1

BAB II

TINJAUAN TEORI

II.1 Pengertian

Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) ialah

suatu badan yang dibentuk disuatu perusahaan untuk membantu

melaksanakan dan menangani usaha-usaha keselamatan dan kesehatan kerja

yang keanggotaannya terdiri dari unsur pengusaha dan tenaga kerja.

Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah suatu badan yang

dibentuk baik di Pusat dan Wilayah-wilayah untuk memberikan saran dan

perimbangan kepada pemerintah tentang usaha-usaha keselamatan dan

kesehatan kerja.

Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah pejabat

Depnaker yang mempunyai keahlian khusus di bidang keselamatan dan

kesehatan kerja dan diberi wewenang untuk mengawasi langsung terhadap

ditaatinya UU No. 1 tahun 1970 dan peraturan-peraturan lainnya yang

berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah tenaga teknis

berkeahlian khusus dari luar Depnaker yang diberi wewenang oleh Menteri

Tenaga Kerja untuk melaksanakan sebagian dari tugas-tugas pengawasan

keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.

7
2

II.2 Tujuan Pembentukan dan Pelaksanaan P2K3

Usaha keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mempunyai

tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu :

a. Perlindungan terhadap tenaga kerja yang berada ditempat kerja

agar selalu terjamin keselamatan dan kesehatannya sehingga dapat

diwujudkan peningkatkan produksi dan produktivitas kerja.

b. Perlindungan setiap orang lainnya yang berada ditempat kerja agar

selalu dalam keadaan selamat dan sehat.

c. Perlindungan terhadap bahan dan peralatan produksi agar dapat

dipakai dan digunakan secara aman dan efisien.

Sedangkan secara khusus antara lain :

a. Mencegah dan atau mengurangi kecelakaan, kebakaran, peledakan

dan penyakit akibat kerja.

b. Mengamankan mesin, instalasi, pesawat, alat kerja, bahan baku dan

bahan hasil produksi.

c. Menciptakan lingkungan dan tempat kerja yang aman, nyaman,

sehat dan penyesuaian antara pekerja dengan manuasi atau manusia

dengan pekerjaan.
3

II.3 Dasar hukum

Sebagai dasar hukum pembentukan, susunan, dan tugas Panitia

Pembina Keselamatan dan Kesehatan kerja ialah Undang-undang

No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 10 ayat (1), (2) dengan

peraturan pelaksanaannya yaitu :

1. Keputusan Menteri Tenaga kerja No. KEP-125/MEN/82 tentang

Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Dewan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wilayah dan Panitia Pembina

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang disempurnakan dengan

Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-155/MEN/84.


2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-04/MEN/87 tentang

Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Tata Cara

Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja.

II.4 Pembentukan

II.4.1 Syarat Pembentukan

1. Setiap tempat kerja dengan kriteria tertentu, pengusaha atau

pengurus wajib membentuk P2K3.

Kriteria dimaksud ialah :

- Tempat kerja dimana dipekerjakan 50 (lima puluh) orang

atau lebih.

- Tempat kerja/perusahaan dimana dipekerjakan kurang dari

50

(lima puluh) orang dengan tingkat bahaya sangat besar.


4

- Kelompok tempat kerja (centra industri kecil) dimana

dipekerjakan kurang dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja

untuk anggota kelompok tempat kerja/perusahaan.

2. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja

dibentuk oleh pengusaha atau pengurus dan disahkan oleh

Menteri tenaga Kerja atau pejabat yang ditunjuknya.

II.4.2 Syarat Keanggotaan

1. Keanggotaan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan

Kerja terdiri atas unsur pengusaha dan tenaga kerja yang

susunannya terdiri dari atas ketua, sekretaris dan anggota.

2. Sekretaris Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan

Kerja ialah Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja yg sudah

mendapatkan penujukan dari Menteri atau Petugas Keselamatan

dan Kesehatan Kerja di perusahaan.

3. Ketua P2K3 ialah Pimpinan Perusahaan atau salah satu

Pimpinan Perusahaan yang ditunjuk (khusus untuk kelompok

perusahaan/centra industri).

4. Jumlah dan susunan Panitia Pembina Keselamatan dan

Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut :

- Perusahaan yang mempunyai tenaga kerja 100 (seratus)

orang atau lebih, jumlah anggota sekurang-kurangnya 12

(dua belas) orang terdiri dari 6 (enam) orang mewakili

pengusaha/pimpinan perusahaan dan 6 (enam) orang


5

mewakili tenaga kerja.

- Pengusaha yang mempunyai tenaga kerja 50 (lima puluh)

orang sampai 100 (seratus) orang, jumlah anggota

sekurangkurangnya 6 (enam) orang terdiri dari 3 (tiga) orang

mewakili pengusaha/pimpinan perusahaan dan 3 (tiga) orang

mewakili tenaga kerja.

- Perusahaan yang mempunyai tenaga kerja 50 (lima puluh),

dengan tingkat risiko bahaya sangat berat jumlah anggota

sekurang-kurangnya 6 (enam) orang terdiri dari 3 (tiga) orang

mewakili pengusaha/pimpinan perusahaan dan 3 (tiga) orang

mewakili tenaga kerja.

- Kelompok perrusahaan yang mempunyai tenaga kerja

kurang 50 (lima puluh) untuk setiap anggota kelompok,

jumlah anggota sekurang-kurangnya 6 (enam) orang terdiri

dari 3 (tiga) orang mewakili pengusaha/pimpinan perusahaan

dan 3 (tiga) orang mewakili tenaga kerja.

II.5 Struktur Organisasi

1. Bentuk organisasi dan kepengurusan

Suatu organisasi P2K3 dapat mempunyai banyak variasi tergantung pada

besarnya, jenisnya bidang, bentuknya kegiatan dari perusahaan dan

sebagainya. Kepengurusan dari pada organisasi P2K3 terdiri dari


6

seorang Ketua, Wakil Ketua, seorang atau lebih Sekretaris dan beberapa

anggota yang terdiri dari unsur pengusaha dan pekerja.

- Ketua dijabat oleh salah seorang Pimpinan Perusahaan

(Presdir/Direktur) yang mempunyai kewenangan dalam menetapkan

kebijaksanaan di perusahaan.

- Sekretaris dijabat oleh ahli K3/Petugas K3 (Safety Officer) atau

calon yang dipersiapkan untuk menjadi Petugas K3.

- Para anggota terdiri dari wakil unit-unit kerja yang ada dalam

perusahaan dan telah memahami permasalahan K3. (akan mendapat

pelatihan khusus dari Depnaker)

2. Tugas-tugas Pengurus P2K3

Tugas-tugas Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan anggota-anggota harus

diuraikan secara jelas dalam pembagian tugas (Job Description) sebagai

berikut :

a.Ketua

- Memimpin semua rapat pleno P2K3 atau menunjuk

anggota untuk memimpin rapat pleno.

- Menentukan langkah, policy demi tercapainya pelaksanaan

program-program P2K3.

- Mempertanggung jawabkan pelaksanaan K3 di perusahaan

kepada Depnaker melalui perusahaan.

- Mempertanggung jawabkan program-program

P2K3 dan pelaksanaannya kepada Direksi.


7

- Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program-

program K3 di perusahaan.

b.Wakil Ketua

Sebagai wakil dari ketua dalam melaksanakan tugas-tugasnya dalam

hal ketua berhalangan.

c.Sekretaris

- Membuat undangan rapat dan membuat notulennya.

- Mengelola administrasi surat-surat P2K3.

- Mencatat data-data yang berhubungan dengan K3.

- Memberikan bantuan/saran-saran yang diperlukan oleh

seksi-seksi, demi suksesnya program-program K3.

- Membuat laporan ke departemen-departemen yang

bersangkutan mengenai adanya tindakan tidak aman (unsafe act)

dan kondisi tidak aman (unsafe condition) di tempat kerja.

d.Anggota

- Melaksanakan program-program dan bertanggung jawab

hasil pelaksanaan yang telah ditetapkan sesuai dengan lingkup

kerja/bagian/seksi masing-masing.

- Melaporkan kepada ketua atas kegiatan yang dilaksanakan.

- Memberikan masukan dan usulan program perlindungan dll


8

II.6 Program Kerja Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)

1. Identifikasi masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

2. Pendidikan dan pelatihan.

3. Sidang-sidang.

4. Rekomendasi.

5. Audit.

II.7 Peran dan Fungsi Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)

1. Peran pokok Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(P2K3) sebagai badan pertimbangan di tempat kerja ialah memberikan

saran dan pertimbangan baik diminta maupun tidak kepada

pengusaha/pengurus tempat kerja yang bersangkutan mengenai masalah-

masalah keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Fungsi Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) ialah

menghimpun dan mengolah segala data dan atau permasalahan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja yang

bersangkutan, serta mendorong ditingkatkannya penyuluhan,

pengawasan, latihan dan penelitian Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

II.8 Penyelenggaraan Pertemuan P2K3

Secara efektif P2K3 dapat mengadakan pertemuan atau sidang rutin

sekurang-kurangnya adalah 3 bulan sekali. P2K3 mungkin dapat

memutuskan untuk mengadakan pertemuan lebih sering, dan di sebagian

besar tempat kerja, P2K3 mengadakan pertemuan setiap bulan agar mereka
9

lebih mampu menangani isu-isu K3 di tempat kerja, menyusun rencana,

menerapkan dan memantau program-programnya secara efektif. Suatu hal

yang sangat penting adalah bagaimana selalu menjaga antusia dan

komitment seluruh pengurus dan anggota P2K3.

Pertemuan/sidang-sidang secara reguler akan dapat membantu dan

dengan menetapkan tanggal khusus pertemuan (seperti; senin pertama atau

sabtu pertama setiap bulan), sehingga memudahkan seluruh anggota untuk

mengingat dan menghadiri pertemuan serta dapat menyesuaikan dengan

aktivitas kerja lainnya. Namun demikian, pertemuan dapat ditunda apabila

sekurang-kurangnya separuh anggota menghendaki dengan berbagai alasan

dan kepentingan perusahaan. Frekuensi pertemuan mungkin tergantung dari

berbagai faktor antara lain:

a. Volume pekerjaan yang harus diselesaikan oleh P2K3;

b. Ukuran tempat kerja atau area yang harus ditangani oleh P2K3;

c. Jenis pekerjaan yang dilakukan;

d. Potensi bahaya dan tingkat resiko yang ada di tempat kerja atau

area yang harus ditanganinya;

e. Adanya perubahan proses operasi di tempat kerja;

f. Pembelian peralatan baru atau pengenalan sistem kerja baru dan;

g. Pengenalan atau sosialisasi peraturan perundangan baru yang

relevan.

Di samping pertemuan/sidang rutin, P2K3 dapat mengadakan sidang

khusus terutama bila menghadapi hal-hal yang bersifat mendadak, seperti


10

setelah terjadi kecelakaan kerja atau kerugian-kerugian yang diakibatkan

oleh proses kerja. Dalam sidang sebaiknya dibicarakan materi-materi yang

menyangkut permasalah K3 di tempat kerja atau masalah-masalah lain yang

relevan dengan peningkatan kinerja K3 seperti:

a. Membahas hasil evaluasi program kerja yang telah dilaksanakan;

b. Menyusun rekomendasi tentang cara pencegahan dan pengendalian

potensi bahaya yang ditemukan;

c. Menyusun program pelatihan K3 bagi karyawan perusahaan;

d. Mereview efektifitas sarana pengendalian resiko yang telah

dilaksanakan;

e. Hal-hal lain yang relevan, seperti merencanakan untuk

memperingati bulan K3 di perusahaan.

Dalam setiap pertemuan/sidang-sidang P2K3 dapat mengundang

para supervisor atau kepala unit kerja yang berkaitan dengan masalah yang

sedang dibicarakan. Hal ini penting, agar para tenaga kerja dapat

mengetahui dan mengikuti seluruh kegiatan yang diprogramkan oleh

panitia.

II.9 Efektifitas Kinerja P2K3

Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan agar organisasi P2K3

dapat berjalan dan berfungsi secara efektif:

a. Para perwakilan yang duduk dalam organisasi P2K3 harus betul-

betul mengerti tentang kondisi yang ada di dalam tempat kerja. Hal ini
11

dapat mengurangi kebingungan tentang prosedur kerja dan pengaturan

K3 di tempat kerja.

b. P2K3 memerlukan dukungan dari manajemen untuk dapat bekerja

secara efektif. Dukungan yang diperlukan antara lain berupa:

1) Penyediaan informasi mengenai tempat kerja dan proses-prosesnya; 2)

Penyediaan waktu dan fasilitas untuk menyelenggarakanpertemuan;

3) Menganjurkan para anggota P2K3 untuk mengikuti training K3; 4)

Penyediaan data statistik, laporan dan bahan referensi yang diperlukan;

5) Pengesahan aktivitas-aktivitas P2K3, dll.

c. Panitia harus mengadakan pertemuan secara reguler. Frekuensi

pertemuan mungkin sebulan sekali, tiga bulan sekali atau tergantung

kebutuhan.

d. P2K3 harus mempunyai suatu kejelasan tujuan yang dimengerti

oleh seluruh anggotanya.

e. P2K3 harus mempunyai agenda yang tersusun untuk setiap

pertemuan, sehingga program yang direncanakan dapat dilaksanakan

dengana baik.

Setiap anggota P2K3 harus mempunyai kesempatan yang sama untuk

menyumbangkan hal-hal yang diagendakan.

f. Suatu hal yang sangat penting adalah bahwa salah satu senior

manajer harus duduk di dalam kepengurusan, sehingga setiap keputusan

dapat segera diambil.


12

g. Efektivitas kerja P2K3 sangat ditentukan oleh kemampuan

personel yang terlatih baik dari sisi manajemen maupun dari sisi pekerja.

Dengan demikian, pemahaman tentang isu-isu K3 sangat vital dan

dipahami oleh kedua belah pihak.

h. Peran dari ahli K3 di dalam P2K3 adalah sebagai penasehat atau

pemberi saran, sehingga harus berada pada posisi yang netral, tetapi

memberikan saran teknis dan informasi lainnnya yang diperlukan untuk

kepentingan organisasi.

i. Perwakilan pekerja yang duduk didalam keanggotaan P2K3 harus

dipilih oleh para pekerja dan mencerminkan keberadaan berbagai serikat

pekerja yang ada di tempat kerja.

j. Kehadiran secara reguler oleh seluruh anggota P2K3 merupakan

hal yang penting, dan tidak hanya untuk membangun hubungan di dalam

organisasi, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa anggota melihat K3

sebagai suatu prioritas. Kehadiran secara reguler dari anggota juga dapat

membantu mengembangkan kerjasama didalam penyelesaian masalah-

masalah K3 yang dihadapi.

II.10 Pelaporan Kegiatan P2K3

Atas operasioanal kegiatan P2K3, maka ketua P2K3 harus membuat

dan menyampaikan laporan secara reguler baik kepada pemerintah maupun

kepada pimpinan perusahaan yang bersangkutan. Laporan kegiatan P2K3

kepada pemerintah disampaiakan kepada Kepala Dinas atau kepala Kantor


13

yang membidangi ketenagakerjaan kabupaten atau kota setempat dalam

bentuk laporan triwulan dan ditembuskan kepada Kepala Dinas Tenaga

Kerja Provinsi dan Dewan K3 Provinsi. Sedangkan laporan kepada

pimpinan perusahaan yang bersangkutan dibuat dan disampaikan setiap

setelah diselenggarakan pertemuan baik pertemuan rutin maupun pertemuan

khusus.