Anda di halaman 1dari 9

MODUL SKILL SEMESTER 6

“Tatalaksana Kegawatdaruratan Airway dan Breathing”

MKK Anestesiologi dan Life Support

Kontributor Modul:
dr. Buyung Hartiyo Laksono, SpAn, KNA
dr. Arie Zainul Fatoni, SpAn
dr. Rudy Vitraludyono, SpAn

PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TAHUN AJARAN 2017/2018
Overview Modul
Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari
kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pertolongan. Semakin cepat pasien ditemukan
maka semakin cepat pula pasien tersebut mendapat pertolongan sehingga terhindar dari
kecacatan atau kematian.
Kondisi kekurangan oksigen merupakan penyebab kematian yang cepat. Kondisi ini dapat
diakibatkan karena masalah sistem pernafasan ataupun bersifat sekunder akibat dari gangguan
sistem tubuh yang lain. Pasien dengan kekurangan oksigen dapat jatuh dengan cepat ke dalam
kondisi gawat darurat sehingga memerlukan pertolongan segera. Apabila terjadi kekurangan
oksigen 6-8 menit akan menyebabkan kerusakan otak permanen, lebih dari 10 menit akan
menyebabkan kematian. Dengan demikian, manajemen airway dan breathing adalah
keterampilan terpenting dari tenaga kesehatan yang dilakukan secara efektif dan efisien.
Manajemen kedaruratan airway dan breathing terdiri dari serangkaian tindakan kompleks
yang masing-masing membutuhkan penguasaan menentukan metode terbaik, memutuskan
urutan dan dosis agen farmakologis yang akan digunakan, menggunakan perangkat alat
resusitasi untuk mencapai airway dan breathing yang adekuat sambil meminimalkan
kemungkinan hypoxemia, hypercarbia dan aspirasi, mengenali ketika intervensi airway yang
direncanakan telah gagal, dan dengan cepat dan efektif memilih dan melaksanakan teknik
alternatif.
Pada pasien yang sadar penuh, patensi airway dijaga oleh tonus otot faring. Pada pasien
yang mengalami penurunan kesadaran, terjadi penurunan kemoreseptor dari otak sehingga
menyebabkan penurunan tonus otot faring. Tonus otot faring yang menurun ini menyebabkan
sumbatan jalan nafas, baik parsial maupun total. Pada pasien seperti itu lah kita perlu melakukan
pembebasan jalan nafas secepat dan setepat mungkin.
Pembebasan jalan nafas juga mutlak dilakukan pada pasien taruma. Pada pasien
trauma harus dipastikan tidak ada sumbatan jalan nafas, baik itu oleh cairan maupun oleh benda
padat. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membebaskan jalan nafas pasien yang tidak sadar
maupun pasien trauma. Head tilt dan chin lift bisa dilakukan pada pasien tidak sadar yang kita
yakini tidak ada cedera cervical. Manuver jaw thrust harus kita kerjakan pada pasien tidak sadar
dan pasien trauma yang belum pasti tidak ada cedera cervical pada dirinya.
Breathing pada pasien trauma juga harus dinilai. Pada pasien trauma, sering didapatkan
bradipneu, dyspneu bahkan apneu. Pasien yang mengalami gangguan breathing harus segera
kita berikan pertolongan. Setelah dipastikan jalan nafasnya bebas, kita harus segera menilai
frekensi dan kualitas nafasnya. Pada pasien yang hipoventilasi harus segera kita berikan bantuan
nafas. Pada pasien yang hiperventilasi harus segera kita berikan suplementasi oksigen.
Modul ini merupakan modul skill resusitasi untuk MKK Anestesiologi dan Life Support
yang diberikan pada mahasiswa program studi sarjana kedokteran semester 6. Modul ini menguji
ketrampilan mahasiswa dalam memberikan terapi yang cepat, tepat dan rasional untuk kasus-
kasus kegawatdaruratan jalan nafas (Airway) dan pernafasan (Breathing). Kasus yang diberikan
pada modul ini sudah disesuaikan dengan standar kompetensi dokter Indonesia (level 3A-3B-
4A). Modul ini terdiri kasus kegawatdaruratan berkaitan dengan sistem jalan nafas dan
pernafasan yang diajarkan dan dipraktekkan ketika waktu skill station.
Penilaian Skill
Penilaian skill tatalaksana airway dan breathing didapatkan dari nilai OSCE.

List Skill Modul Tatalaksana Airway dan Breathing


1. Skill Tatalaksana Airway
o Assesment Look Listen Feel
o Triple Manouver Airway
o Pengukuran Orofaringeal Tube
o Insersi Orofaringeal Tube
2. Skill Tatalaksana Breathing
o Assesment Look Listen Feel
o Pemberian Ventilasi Manual
Tatalaksana Airway dan Modul
Breathing

Skill 1. Tatalaksana Airway


Latar Belakang Masalah utama yang menjadi kekhawatiran pada
manajemen pasien dengan kondisi kritis adalah jalan
napas yang tidak adekuat. Obstruksi jalan nafas bagian
atas sering terjadi pada pasien yang tidak sadar
ataupun dalam sedasi. Kecepatan, ketepatan dan
efektivitas pada penatalaksanaan obstruksi jalan napas
sangatlah berpengaruh besar pada hidup dan mati
pasien, dan juga menentukan prognosa apakah akan
terjadi disabilitas pada pasien di kemudian hari.
Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu melakukan penilaian obstruksi jalan
nafas
2. Mahasiswa mampu melakukan manouver membuka
jalan nafas manual
3. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran alat
orofaringeal tube dengan tepat
4. Mahasiswa mampu melakukan insersi orofaringeal tube
Metode Ceramah
Praktek Manekin

Peralatan 1. Manekin airway


2. Orofaringeal tube/Mayo/Guedel 3 ukuran (hijau, kuning
dan merah)

Setting Ruangan Setting standar

Tutor Tim Tutor MKK ALS


Prosedur RJPO

1. Menentukan Mahasiswa mampu menentukan kondisi kegawatdaruratan


problem obstruksi jalan nafas atas pada pasien tidak sadar
2. Teknis Membuka 1. Mahasiswa mampu melakukan triple manouver airway
Jalan Nafas (head tilt, chin lift dan jaw thrust)
2. Mahasiswa mampu melakukan insersi orofaringeal tube
dengan benar
3. Interpretasi Mahasiswa mampu melakukan pengukuran orofaringeal tube
dengan tepat

4. Monitoring dan Mahasiswa mampu melakukan penilaian patensi jalan nafas


Evaluasi (look, listen and feel) dengan benar
Referensi 1. American Heart Association. 2015. Highlight of the
2015 American Heart Association Guideline Update
for CPR and ECC.
2. Perkins, G.D., et al. 2015. Resucitation, Europian
Rescucitation Council. Elsevier.
CHECK LIST
Anestesiologi dan Life Support SKILL
”Tatalaksana Airway” 1

Nama :
NIM :
Kelompok :
Tanggal :

Skor
No Jenis Kegiatan
0 1 2
Tatalaksana Airway
1 Melakukan penilaian look, listen and feel
2 Melakukan triple manouver airway (head tilt, chin lift dan jaw
thrust)
3 Melakukan pengukuran orofaringeal tube yang sesuai
4 Melakukan insersi orofaringeal tube dengan direct tehnik
5 Melakukan penilaian look, listen and feel ulang
6 Melakukan cuci tangan setelah tindakan
TOTAL

Keterangan : 0 = tidak dikerjakan, 1 = dikerjakan tetapi kurang sesuai/benar, 2 = dikerjakan


dengan benar

Nilai Total
Nilai akhir = --------------------------------- x 100 =
Nilai Total seharusnya
Tatalaksana Airway dan Modul
Breathing

Skill 2. Tatalaksana Breathing


Latar Belakang Oksigen sangat penting bagi kehidupan. Sel-sel tubuh
memerlukan pasokan konstan O2 yang digunakan untuk
menunjang reaksi kimiawi penghasil energi, yang
menghasilkan CO2 yang harus dikeluarkan secara terus-
menerus. Kegagalan dalam oksigenasi akan
menyebabkan hipoksia yang diikuti oleh kerusakan otak,
disfungsi jantung, dan akhirnya kematian. Sedangkan
breathing sendiri adalah upaya memberikan pernapasan
atau ventilasi dalam menjamin oksigenasi yang baik.
Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu melakukan penilaian gangguan
pernafasan (breathing)
2. Mahasiswa mampu membuka jalan nafas (airway) secara
manual
3. Mahasiswa mampu melakukan nafas buatan (ventilasi)
dengan menggunakan alat BVM dengan benar

Metode Ceramah
Praktek Manekin

Peralatan 1. Manekin airway


2. BVM (ambubag)
3. Masker ketat yang sesuai ukuran manekin

Setting Ruangan Setting standar

Tutor Tim Tutor MKK ALS


Prosedur Tatalaksana Breathing

1. Menentukan Mahasiswa mampu melakukan penilaian gangguan


problem pernafasan (breathing) dengan look, listen and feel.

2. Teknis membuka 1. Mahasiswa mampu membuka jalan nafas (airway)


jalan nafas dan secara manual
memberikan 2. Mahasiswa mampu melakukan nafas buatan
bantuan nafas (ventilasi) dengan menggunakan alat BVM dengan
benar

3. Interpretasi Mahasiswa mampu menilai tanda pemberian nafas efektif

4. Monitoring dan Mahasiswa mampu melakukan penilaian ulang pernafasan (


Evaluasi look, listen and feel) dengan benar
Referensi 1. American Heart Association. 2015. Highlight of the
2015 American Heart Association Guideline Update
for CPR and ECC.
2. Perkins, G.D., et al. 2015. Resucitation, Europian
Rescucitation Council. Elsevier.
CHECK LIST
Anestesiologi dan Life Support SKILL
”Tatalaksana Breathing” 1

Nama :
NIM :
Kelompok :
Tanggal :

Skor
No Jenis Kegiatan
0 1 2
Tatalaksana Breathing
1 Melakukan penilaian look, listen and feel
2 Mahasiswa mampu membuka jalan nafas (airway) secara manual

3 Mahasiswa mampu melakukan nafas buatan (ventilasi) dengan


menggunakan alat BVM dengan benar

4 Mahasiswa mampu melakukan penilaian ulang pernafasan ( look,


listen and feel) dengan benar
5 Melakukan cuci tangan setelah tindakan
TOTAL

Keterangan : 0 = tidak dikerjakan, 1 = dikerjakan tetapi kurang sesuai/benar, 2 = dikerjakan


dengan benar

Nilai Total
Nilai akhir = --------------------------------- x 100 =
Nilai Total seharusnya